Anda di halaman 1dari 14

INTERAKSI OBAT

SEWAKTU
TRANSPORT
DESTI HANDAYANI
IIN PUTRIANI

KELOMPOK
KADEK HARDIKA K.
NELI JUNIARSIH
NILA AULIA SARI
NOLA AYUNINGTIAS

2
INTERAKSI OBAT ?

Interaksi obat dapat di definisikan sebagai


modifikasi efek suatu obat akibat obat lain yang
diberikan pada awalnya atau diberikan bersamaan
atau bila dua atau lebih obat berinteraksi
sedemikian rupa sehingga keefektifan atau
toksisitas suatu obat berubah.
Pada dasarnya Interaksi Obat dapat digolongkan
menjadi 3 macam, yaitu :

Interaksi Farmasetik
Interaksi ini adalah interaksi fisiko-kimia yang terjadi pada saat
obat diformulasikan /disiapkan sebelum obat digunakan oleh
penderita.Misalnya interaksi antara obat dan larutan infus IV yang
dicampur bersamaan dapat menyebabkan pecahnya emulsi atau
terjadi pengendapan.

Interaksi Farmakokinetika
Interaksi ini adalah akibat perubahan-perubahan
yang terjadi pada absorbsi, metabolisme, distribusi dan
ekskresi suatu obat oleh obat lain.

Interaksi Farmakodinamik.
Interaksi ini terjadi bila suatu obat secara langsung
merubah aksi molekuler atau kerja fisiologis obat
lain.
Interaksi obat sewaktu
transport
Tahap Distribusi
Distribusi
obat

Distribusi obat adalah distribusi


obat kedarah dan beberapa
jaringan tubuh (misalnya
lemak,otot, dan jaringan otak) dan
proporsi relatif obat didalam
jaringan.
Setelah obat di
absorpsi

Obat akan bersirkulasi


dengan cepat ke
seluruh tubuh

Saat darah bersirkulasi, obat


bergerak dari aliran dan
masuk ke jaringan-jaringan
tubuh
Interaksi obat
sewaktu transport
( proses distribusi )
A.Transport obat didalam aliran darah
Pengikatan bahan kimia endogen pada protein darah (serum) merupakan suatu
proses fisik yang normal yang melarutkan dan mengikat hormon serta metabolit
sehingga melepaskannya secara perlahan-lahan`dan konsisten pada tempat-tempat
reseptor dan ekskresi. Proses ini juga berperan mengangkut obat yang relatif tidak
larut di dalam cairan tubuh pada Ph 7,4 (pH fisiologis). Obat-obat ini diangkut di
dalam aliran darah ke berbagai tempat yakni tempat aksi (reseptor), tempat
metabolisme (hati), dan tempat ekskresi (ginjal), sebagai kompleks yang lemah yang
terikat pada protein plasma.

Pengikatan obat dapat terjadi pada beberapa tempat selain aliran


darah, seperti jaringan penghubung, adiposa,ruang antar sel,dan lain-
lain. Obat yang berikat ini berperan sebagai cadangan dan bila obat
bebas telah termetabolisme, terakumulasi dalam jaringan lain atau
tereskresi, maka tambahan atau pasokan obat berasal dari pelepasan
ikatan tersebut. Dengan demikian terjadi peroses kesetimbangan
dinamik yang terus menerus dengan bagian obat yang tetap berbeda
dalam keadaan bebas.
B. Interaksi dalam ikatan protein plasma

Banyak obat terikat pada protein plasma, obat yang bersifat


asam terutama pada albumin, sedangkan obat yang bersifat basa
pada asam 1-glikoprotein. Oleh karna jumlah protein plasma
terbatas, maka terjadi kompetisi antara obat-obat yang besifat
basa untuk berikatan dengan protein yang sama. Tergantung dari
kadar obat dan afinitasnya terhadap protein plasma, maka suatu
obat dapat di geser dari ikatannya dengan protein plasma oleh
obat lain, dan peningkatan kadar obat bebas menimbulkan
peningkatan efek farmakologinya.
Contoh interaksi obat
sewaktu transport
dalam darah
Warfarin fenilbutazon kedua obat ini terikat kuat pada protein plasma. Namun,
fenilbutazon memiliki afinitas yang lebih besar, sehingga mampu menggeser warfarin
dan meningkatkan jumlah atau kadar warfarin dan meningkatkan jumlah atau kadar
warfarin bebas.dalam keadaan ini aktivitas antikoagulan meningkat .perdarahan
pemberian warfarin dengan fenilbutazon diberikan dengan interval waktu.

Warfarin kloralhidrat metabolit utama dari kloralhidrat, yaitu asam


trikloroasetat sangat kuat terikat pada protein plasma, sehingga dapat mendesak
warfarin dari ikatan protein. Antikoagulan meningkat pemberian warfarin
dengan kloralhidrat di berikan dengan interval waktu.

Fenitoin asam valporat asam valporat mendesak fenitoin dari


ikatan protein plasma. Efek fenitoin meningkat terjadi reaksi
samping.

Digoxsin Diclofenak sodium meningkat bioavailabilitas digoxsin


kadar obat dalam darah meningkat

Rimfampicin antasida, opiat, dan obat antikolinergik menurunkan bioavailabilitas


rifampicin kadar obat dalam darah menurun rifampicin diberikan beberapa jam
sebelum sediaan tersebut.
Prinsip interaksi
obat sewaktu
transport dalam
darah
Interaksi obat sewaktu transport dalam darah
di dalam darah senyawa obat berinteraksi
dengan protein plasma. Senyawa yang asam
akan berikatan dengan albumin dan yang basa
akan berikatan dengan 1-glikoprotein. Jika 2
obat atau lebih diberikan maka dalam darah
akan bersaing untuk berikatan dengan protein
plasma, sehingga proses distribusi terganggu
(terjadi peningkatan salah satu distribusi obat
kejaringan)