Anda di halaman 1dari 44

Senyawa Koordinasi (Kompleks)

Sumber:
Effendy, 2007. Perspektif Baru KIMIA KOORDINASI JILID 1. Malang: Bayumedia
Lee, JD. 1991. Concise Inorganic Chemistry Fourth Edition I; Chapman & Hall, London.
Pembahasan:
Garam rangkap dan Garam kompleks
Teori Werner
Bilangan Atom Efektif
Ikatan pada Senyawa Koordinasi
Teori Ikatan Valensi (VBT)
Teori Medan Kristal (CFT)
Teori Orbital Molekul (MOT)
Pendahuluan
Secara umum: senyawa yang pembentukannya
melibatkan pembentukan ikatan kovalen
koordinasi dianggap sebagai senyawa
koordinasi.
Dalam konteks lebih khusus: senyawa
koordinasi adalah senyawa yang
pembentukannya melibatkan pembentukan
ikatan kavalen koordinasi antara ion logam
atom logam dengan atom nonlogam.

Effendy.Persperktif Baru Kimia Koordinasi Jilid 1 , hal 2


Garam Rangkap dan Garam Kompleks
Ada dua tipe senyawa yang terbentuk jika ada dua atau lebih senyawa yang
stabil bereaksi, yaitu:
Golongan yang kehilangan identitasnya dalam larutan (garam rangkap)
Golongan yang mempertahankan identitasnya dalam larutan (garam
kompleks)

Contoh:
KCl + MgCl2 + 6H2O KCl.MgCl2.6H2O (carnallite)
KSO4 + Al(SO4)3 + 24H2O KSO4.Al(SO4)3.24H2O (potassium
alum)
Keduanya merupakan garam rangkap. Ketika dilarutkan ke dalam
air akan mengion menjadi K+, Mg2+ , Cl- Al3+ dan SO42-

CuSO4 + 4NH3 + H2O CuSO4.4NH3.H2O (tetrammine copper (II)


sulphate monhydrate)
Fe(CN)2 + 4KCN Fe(CN)2.4KCN (potassium ferrocyanide)
Kedua senyawa diatas dilarutkan, mereka tidak membentuk ionnya
melainkan tetap berupa ion kompleknya. Ion cuproammonium
[Cu(H2O)2(NH3)4]2+ dan ion ferrocyanide [Fe(CN)6]4-
Teori Koordinasi Werner
Mengapa garam yang Werner memperlakukan larutan dari
stabil seperti CoCl3 seri senyawa kompleks dengan
bereaksi dengan NH3 penambahan perak nitrat berlebih:
untuk menghasilkan
CoCl3.6NH3 + Ag+ berlebih 3 AgCl (s)
beberapa senyawa:
CoCl3.5NH3 + Ag+ berlebih 2 AgCl (s)
CoCl3.6NH3 , CoCl3.4NH3 + Ag+ berlebih 1 AgCl (s)
CoCl3.5NH3, dan
CoCl3.4NH3 ?
Bagaimana strukturnya?

Kompleks Warna Nama


CoCl3.6NH3 Kuning Luteo
CoCl3.5NH3 Ungu Purpureo
CoCl3.4NH3 Hijau Praseo
CoCl3.4NH3 Violet Violeo
Teori Koordinasi Werner
Werner menyimpulkan bahwa logam di senyawa kompleks
menunjukkan dua jenis valensi yang berbeda, yaitu:
Valensi Primer. Bersifat tidak berarah (nondirectional).
Valensi primer merupakan jumlah muatan pada ion
kompleks.
Valensi sekunder. Bersifat berarah (directional), sehingga
ion kompleks memiliki bentuk tertentu. Jumlah valensi
sekunder sama dengan jumlah atom ligan yang terkoordinasi
dengan logam yang lebih dikenal dengan bilangan koordinasi.

3 Cl bertindak sebagai valensi primer 2 Cl bertindak sebagai valensi primer


6 NH3 bertindak sebagai valensi sekunder 5 NH3 dan 1 Cl bertindak sebagai valensi sekunder
Teori Koordinasi Werner
Berdasarkan pengamatan tersebut, Werner merumuskan
pernyataan umum:
Senyawa M(NH3)5X3
Dimana, [M = Cr, Co; X= Cl, Br, dll]
berasal dari M(NH3)6X3 yang kehilangan satu molekul amonia

Postulat Werner : pada deretan senyawa kobalt dengan bilangan


koordinasi sejumlah 6, dan ketika molekul amonia disubtitusi
dengan ion klorida maka ion klorida akan lebih cenderung
berikatan kovalen daripada berlaku sebagai ion klorida bebas.
Teori Koordinasi Werner
Kontribusi kedua Werner yang penting adalah berhasil
menetapkan struktur geometris.
Werner menggunakan metode yang pada jaman
dahulu disebut isomer counting, yang
Teori koordinasi Warner
merupakan teori yang
menjelaskan struktur benzena tersubtitusi.
Werner berpostulat bahwa enam ligan pada
kompleks sepereti [Co(NH3)6] 3+ ada pada
paling berhasil dalam
beberapa jenis simetri dimana setiap kelompok
menjelaskan struktur dan
NH3 berada sama jauhnya dengan atom pusat isomerisme senyawa-
kobalt. Terdapat tiga kemungkinan struktur yang senyawa koordinasi.
dipikirkan oleh Werner; heksagonal planar,
prisma trigonal, dan oktahedral. Werner
Kelemahan : Teori
kemudian membandingkan jumlah isomer yang
koordinasi Werner tidak
ditemukan secara eksperimen (observasi)
dengan kemungkinan bentuk struktur secara
menjelaskan bagaimana
teoritis. Gambar 2. Tiga kemungkinan pembentukan ikatan
bentuk geometri untuk bilangan antara atom pusat dengan
koordinasi enam ligan-ligan yang ada
Bilangan Atom Efektif
Sidgwick mengajukan gagasan tentang kaidah
bilangan atom efektif (effective atomic number rule
= EAN Rule)

Contoh:
potasium hexacynoferrate (II) K4[Fe(CN)6]
membentuk potasium ferrocyanide [Fe(CN)6]4-
Elektron valensi Fe = 26
Elektron valensi Fe2+ = 24
Ligan CN menyumbangkan 2 elektron
Maka,
EAN [Fe(CN)6]4- = [24 + (6 x 2)] = 36 sesuai gas
mulia Kr
Bilangan Atom Efektif
Beberapa contoh EAN lain terdapat pada tabel berikut
ini:

Kelemahan kaidah EAN adalah diperolehnya fakta


bahwa banyak kompleks yang bersifat stabil meski tidak
memenuhi kaidah (oktet Lewis)
Ikatan pada Senyawa Koordinasi
Teori Ikatan Valensi (VBT)
VBT : pembentukan kompleks melibatkan reaksi antara basa
lewis (ligan) dengan asam lewis (atom pusat) secara kovalen
koordinasi menggunakan orbital hibridisasi yang sesuai.
Asumsi dari teori ikatan valensi:
1. Ion logam harus menyediakan jumlah orbital yang sama dengan bilangan
koordinasinya untuk menyesuaikan elektron-elektron dari ligan
2. Ion logam menggunakan orbital hibrida s, p, dan d untuk menerima elektron
dari ligan
3. Pembentukan ikatan oleh donasi elektron dari orbital dxy, dyz, dan dz2
atom logam, tertuju dari aksis ke arah atom ligan yang memiliki orbital d
kosong.
4. Aturan Hund diaplikasikan pada elektron dalam orbital nonbonding,
kehadiran elektron yang tidak berpasangan pada kompleks menyebabkan
paramagnetisme.
Teori Ikatan Valensi (VBT)
Jika dalam hibridisasi orbital d Hibridisasi Struktur
yang dilibatkan adalah orbital sp Linear
d yang berada di luar kulit dari
sp2 Segitiga sama sisi
orbital s dan p yang
sp3 Tetrahedral
berhibridisasi, maka kompleks
yang terbentuk disebut sebagai dsp2 Bujursangkar
kompleks orbital luar, atau dsp2 atau sp3d Trigonal
bipiramid
outer orbital complex.
d2sp3 atau sp3d2 Oktahedral
Sebaliknya, jika dalam
hibridisasi yang dilibatkan
adalah orbital d di dalam kulit
orbital s dan p yang
berhibridisasi, maka kompleks
tersebut dinamakan kompleks
orbital dalam atau inner
orbital complex.
Teori Ikatan Valensi (VBT)
Pembentukan senyawa kompleks tanpa melibatkan
proses eksitasi
Contoh: [Ag(CN)2]- ,
diamagnetik.

Berdasarkan asas
energetika, tingkat energi
kompleks ini paling rendah
pada posisi linear. Fakta
eksperimen membuktkan
hal tersebut, dan bahwa
kompleks bersifat
diamagnetik. Sehingga
struktur hibridisasinya
adalah sp
Teori Ikatan Valensi (VBT)
Pembentukan senyawa kompleks tanpa melibatkan
proses eksitasi

Contoh: [FeF6]3-, paramagnetik.


Teori Ikatan Valensi (VBT)
Pembentukan senyawa kompleks dengan melibatkan
proses eksitasi

Contoh: [Ni(CN)4]2-
Berdasarkan asas
energetika, tingkat
energi kompleks ini
paling rendah pada
posisi tetrahedral.
Fakta eksperimen
membuktkan hal
tersebut, dan bahwa
kompleks bersifat
diamagnetik.
Sehingga struktur
hibridisasinya
adalah dsp2
Teori Ikatan Valensi (VBT)
Pembentukan senyawa kompleks dengan melibatkan
proses eksitasi
[Fe(CN)6]3-; fakta eksperimen menunujukkan
bahwa kompleks memiliki bentuk geometris
octahedral dan paramagnetik
Teori Ikatan Valensi (VBT)

Modifikasi Pauling VBT


Prinsip Netralitas
kompleks akan [Be(H2O)4]2+ [Be(H2O)6]2+ [Al(H2O)6]2+ [Al(NH)3]2+
paling stabil ketika Be = -0.08 Be = -1.12 Al = -0.12 Al = -1.08
elektronegativitas 4O = -0.24 6O = -0.36 6O = -0.36 6N = 1.20
ligan akhirnya
8H = 2.32 12H = 3.48 12 H = 3.48 18 H = 2.88
membuat logam
mencapai muatan Total = + 2.00 Total = +2.00 Total = +3.00 Total = +3.00
total yang
cenderung netral.
Lebih stabil Lebih stabil
Inilah yang disebut
prinsip netralitas
Teori Ikatan Valensi (VBT)

Modifikasi Pauling VBT


Backbonding
densitas elektron pada logam dikurangi melalui ikatan balik
atau resonansi yang melibatkan pendonoran orbital d dari
ion logam pada ligan.

penggunaan orbital p murni dari karbon (C) untuk


menerima elektron d dari logam, yang menyebabkan orbital
p atom karbon (C) ini tidak lagi dapat menyediakan ikatan
phi dengan atom oksigen. Sehingga, orde ikatan dari C-O
menurun sedangkan orde ikatan Ni-C meningkat.
Teori Ikatan Valensi (VBT)
Kelemahan:
Tidak dapat memprediksi apakah kompleks dengan BK 4 akan
tetrahedral ataukah planar
Tidak dapat menjelaskan mengapa kompleks Co3+ (d7)
mempromosikan sebuah elektron dari d menuju ke p tetapi mudah
lepas ketika reaksi kimia (reduktor yang kuat). Akan tetapi, Cu (III)
justru merupakan oksidator yang kuat
Studi resonansi spin elektron menunjukkan bahwa pada Cu(II),
elektron tidak berada di level 4p
Teori ikatan valensi tidak memprediksi beberapa distorsi pada
kompleks padahal faktanya semua kompleks Cu(II) dan Ti(III) adalah
terdistorsi
Teori ikatan valensi mengabaikan keadaan tereksitasi pada kompleks
Teori ikatan valensi tidak mencoba menjelaskan terjadinya warna
pada kompleks
Teori ikatan valensi tidak memberikan detail informasi mengenai sifat
magnet pada kompleks
Ikatan pada Senyawa Koordinasi
Teori Medan Kristal (CFT)
Dalam Teori Medan Kristal, berlaku beberapa
anggapan berikut :
Ligan dianggap sebagai suatu titik muatan
Tidak ada interaksi antara orbital logam dengan
orbital ligan
Orbital d dari logam kesemuanya terdegenerasi dan Kelima orbital d tidak identik, dan
memiliki energi yang sama, akan tetapi, jika dapat dibagi menjadi dua kelompok;
orbital t2g dan eg.
terbentuk kompleks, maka akan terjadi pemecahan
Orbital-orbital t2g dxy; dxz; dan
tingkat energi orbital d tersebut akibat adanya
dyz memiliki bentuk yang sama
tolakan dari elektron pada ligan, pemecahan dan memiliki orientasi arah di
tingkat energi orbital d ini tergantung orientasi antara sumbu x, y, dan z.

arah orbital logam dengan arah datangnya ligan Orbital-orbital eg dx2-y2 dan dz2
memiliki bentuk yang berbeda
dan terletak di sepanjang
sumbu.
Bentuk orbital d
Orbital dxy, dxz, dan dyz disebut
dengan orbital t2g
Orbital dx2-y2 dan dz2 disebut
dengan orbital eg
Perbedaan tingkat energi
diantara dua kelompok orbital
dinyatakan dengan 10Dq atau
0.
P (pair energy) adalah energi
pemasangan spin elektron
Tingkat energi rata-rata 5
orbital d disebut barycenter
Energi yang terlibat pada
penstabilan suatu kompleks
disebut dengan energi
penstabilan medan kristal
(CFSE, Crystal Field
Stabilization Energy)
Teori Medan Ligan (CFT)
Kompleks Oktahedral
Pada kompleks oktahedral, logam
berada di pusat oktahedron dengan
ligan di setiap sudutnya.

Akibatnya terjadi splitting, yakni


kenaikan tingkat energi orbital t2g
lebih tinggi dibanding kenaikan tingkat
energi orbital eg
Teori Medan Ligan (CFT)
Sifat Magnetik Kompleks Oktahedral
Besarnya harga 0 Contoh:
ditentukan oleh jenis ligan [Fe(H2O)6]3+ dan [Fe(CN)6]3- paramagnetik
yang terikat dengan logam
pusat.
Untuk ligan medan lemah
(weak field ligand),
perbedaan selisih energi
antara orbital t2g dan eg
yang terjadi dalam splitting
sangat kecil, dengan
demikian elektron-elektron
akan mengisi kelima orbital
tanpa berpasangan terlebih
dahulu. Kompleks dengan Medan kuat Medan lemah
ligan medan lemah Ion kompleks Ion kompleks
semacam ini disebut dengan spin rendah dengan spin tinggi
sebagai kompleks spin
tinggi (high spin complex).
Teori Medan Ligan (CFT)
Sifat Magnetik Kompleks Oktahedral
Pada kompleks oktahedral, kompleks dengan atom yang sama dapat
berada pada medan kuat dan medan lemah sehingga memiliki sifat
magnetik yang berbeda

Contoh atom pusat Co3+:


[CoF6]3- dan [Co(NH3)6]3+

Medan lemah, Medan kuat,


paramagnetik diamagnetik
Teori Medan Ligan (CFT)
Distorsi pada Kompleks Oktahedral
Jika elektron-elektron d dari logam
tersusun/terdistribusi secara sistematis, maka
elektron-elektron tersebut akan memberikan
tolakan yang setara pada keenam ligan, sehingga
kompleks merupakan suatu oktahedral sempurna.
Akan tetapi jika elektron d terdistribusi secara tidak
merata dalam orbital (memiliki penataan yang
asimetris), maka ada ligan yang mengalami gaya
tolak yang lebih besar dibandingkan ligan yang
lainnya. Dengan demikian struktur kompleks
menjadi terdistorsi.
Teori Medan Ligan (CFT)
Distorsi Tetragonal pada Kompleks Oktahedral
Distorsi Jahn Teller
Apabila dua ligan searah
dengan sumbu z dijauhkan
atau didekatkan terhadap
atom pusat maka kompleks
yang ada dikatakan
mengalami distorsi tetragonal.
Distorsi ini disebut distorsi
tetragonal karena tidak
mengubah luas bujur sangkar
atau tetragonal pada sumbu x
dan sumbu y.
Teori Medan Ligan (CFT)
Distorsi Tetragonal pada Kompleks Oktahedral

perpanjangan pada sumbu z

perpanjangan pada sumbu x dan y

Gambar (a) Elongasi tetragonal yang terjadi pada


suatu kompleks oktahedral. Dua ligan pada sumbu z
menjauhi atom pusat. Disebut juga z-out
Gambar (b) Kompresi tetragonal. Dua ligan pada
sumbu z mendekati atom pusat. Disebut juga z-in
Teori Medan Ligan (CFT)
Kompleks Tetrahedral
Z
Pada kompleks tetrahedral, empat
ligan mendekati atom pusat melalui
pojok-pojok kubus.
X Interaksi ligan dengan orbital e lebih
Y Y
kuat dibanding dengan orbital t2

E (t)

Logam pusat

Akibatnya terjadi splitting,


Ligan

dimana kenaikan tingkat energi


Struktur kompleks tetrahedral orbital eg lebih tinggi dibanding
sebagai suatu kubus kenaikan tingkat energi orbital
t2g
Teori Medan Ligan (CFT)
Kompleks Tetrahedral
Karena interaksi tidak langsung antara empat ligan dengan orbital-
orbital d atom pusat menyebabkan medan tetrahedral yang
dihasilkan merupakan medan lemah.
Contoh:
[FeCl4]2-

Ion [FeCl4]2-
berbentuk tetrahedral.
Sifat paramagnetik
Teori Medan Ligan (CFT)

Kompleks Bujur Sangkar

Kompleks bujur sangkar


dapat dianggap sebagai
turunan dari kompleks
oktahedral. Kompleks ini
terjadi apabila 2 buah
ligan yang posisinya
berlawanan sepanjang
sumbu z dijauhkan dari
atom pusat sampai jarak
tak berhingga.
Kompleks bujur sangkar

semua orbital atom pusat yang mengandung komponen z yaitu


orbital-orbital dxz, dyz, dan dz2 tingkat energinya berkurang atau
mengalami penstabilan, relatif bila dibandingkan dengan tingkat
energi pada medan oktahedral. Sebaliknya, orbital-orbital yang tidak
memiliki komponen z yaitu orbital dxy dan dx2-y2 tingkat energinya
bertambah atau mengalami pentidakstabilan
pada umumnya kompleks bujur sangkar memiliki medan kuat
sehingga pemisahan energi dz2 dengan dx2-y2 adalah besar dan
mengakibatkan kompleks spin rendah (low spin).
Teori Medan Ligan (CFT)
Kompleks Bujur Sangkar

Contoh:
Kompleks [Ni(CN)4]2-
Kompleks ini memiliki atom pusat
Ni2+ dengan konfigurasi elektron
Ni2+ = [Ar] 3d8. Kompleks ini
berwarna kuning, memiliki
struktur bujursangkar, bersifat
diamagnetik.
Pada pengisian elektron ke
orbital-orbital d, elektron kelima
tidak ditempatkan pada orbital
dx2-y2 karena harga 10Dq>P. Sifat
diamagnetik adalah karena semua
elektron pada orbital
berpasangan.
Teori Medan Ligan (CFT)
Energi Penstabilan Medan Kristal
Pada simetri oktahedral bila elektron mengisi orbital t2g akan terjadi
penstabilan dan bila mengisi orbital eg akan terjadi pentidakstabilan.
Pentidakstabilan juga terjadi bila elektron-elektron dipasangkan pada suatu
orbital.
Energi yang terlibat pada penstabilan suatu kompleks disebut energi
penstabilan medan kristal (Crystal Field Stabilization Energy = CFSE).
Teori Medan Ligan (CFT)
Fakta adanya Energi Penstabilan Medan Kristal
Jari-jari atom pusat
Jika tidak ada CFSE yang
menyebabkan pemisahan
orbital d, maka jari-jari ion
logam transisi akan turun
perlahan-lahan dengan
meningkatnya muatan inti
efektif (z). Namun, karena pada
kompleks terjadi pemisahan
orbital d (menjadi t2g dan eg)
maka jari-jari ion logam akan
mengalami kenaikan atau
penurunan bergantung pada
penambahan elektron di
orbital t2g ataukah di orbital eg.
Teori Medan Ligan (CFT)
Fakta adanya Energi Penstabilan Medan Kristal
Entalpi hidrasi
Di dalam larutam dengan
pelarut air, ion-ion logam
transisi deret pertama dapat
dianggap membentuk ion
kompleks aqua dengan
geometri oktahedral.
M2+ + 6H2O [M(H2O)6]2+
hydrasi < 0
Semakin negatif harga
Hidrasi, maka semakin
stabil kompleks yang
dibentuk (semakin pendek
jari-jari ion logam)
Teori Medan Ligan (CFT)
Fakta adanya Energi Penstabilan Medan Kristal
Kestabilan kompleks dengan atom pusat memiliki biloks tertentu
Kestabilan kompleks Situasinya adalah berbeda jika ligannya
dapat ditinjau dari harga merupakan ligan yang lebih kuat
potensial reduksinya. dibandingkan air, karena akan oksidasi
Dalam larutan Co (III) Co2+ menjadi Co3+ menjadi lebih mudah.
adalah tidak stabil jika
direduksi menjadi Co
(II). Meskipun ada
beberapa energi yang
terlibat, hal ini dapat
dianggap karena
tingginya energi ionisasi
ke-3. Ion Co (II) tidak
dapat dioksidasi menjadi
Co (III) karena harga
potensial reaksinya yang
negatif.
Teori Medan Ligan (CFT)
Fakta adanya Energi Penstabilan Medan Kristal
Mengapa ligan yang lebih kuat dapat menstabilkan
kompleks Co3+ daripada Co2+?
Faktanya:
Aspek Medan Medan
Hal ini ditinjau dari nilai lemah kuat
CFSE Konfigura t2g5 eg2 t2g6 eg1
Pada medan lemah, si Co2+
kompleks Co2+ adalah Konfigura t2g4 eg2 t2g6 eg0
lebih stabil dibandingkan si Co3+
kompleks Co3+ Nilai -8Dq + -1,8Dq +
CFSE 2P; 3P;
Pada medan kuat, -4Dq + P -2,4Dq +
kompleks Co3+ adalah 3P
lebih stabil dibandingkan
kompleks Co2+
Teori Medan Ligan (CFT)
Faktor faktor yang mempengaruhi kekuatan medan kristal

1. Muatan Atom Pusat 2. Jumlah ligan dan


Bertambahnya muatan geometri dari
atom pusat akan kompleks
menyebabkan gaya Semakin banyak
elektrostatik antara jumlah ligan yang
atompusat dan ligan-
ligan menjadi semakin terikat pada atom pusat
kuat sehingga ligan lebih maka medan kristal
tertarik ke atom pusat yang timbul semakin
pula kuat dan harga 10Dq
peningkatan muatan akan semakin besar
atom pusat dari 2+ pula. Misalnya, 10Dq
menjadi 3+ akan oktahedral adalah 2x
meningkatkan kekuatan Dq tetrahedral. Secara
medan kristal atau harga umum dapat dianggap
10Dq sebesar 50%. bahwa td = 4/9 o
Teori Medan Ligan (CFT)
Faktor faktor yang mempengaruhi kekuatan medan kristal
3. Jenis ligan 4. Jenis ion pusat
Fajan dan Tsuchida Dalam satu golongan
berhasil membuat ion bermuatan sama,
urutan relatif kekuatan kekuatan medan
beberapa ligan bertambah seiring
berdasarkan meningkatnya interaksi
kemampuannya untuk ion pusat dengan ligan
menyebabkan Selain itu, besarnya
pemecahan tingkat 10Dq sebanding
energi, yaitu: I-< Br- < dengan muatan ionik
S < SCN < Cl <N , F
2- - - 3- -
atom pusat, sehingga
< urea, OH <ox , O
- 2- 2-
pada jenis logam yang
C2O4 < H2O < NCS <
2- -
sama, ion Ru3+ akan
py < NH3 < en < bipy < memiliki harga 10Dq
o-phen < NO < CN
2- -
lebih besar daripada
<CO ion Ru2+
Teori Medan Ligan (CFT)

Kelemahan CFT:
Medan yang ditimbulkan oleh ligan negatif seharusnya
lebih kuat dibandingkan dengan medan yang
ditimbulkan oleh ligan netral.
Ligan yang memiliki momen dipol lebih besar
seharusnya menimbulkan medan yang lebih kuat
dibandingkan dengan ligan yang momen dipolnya lebih
kecil.
Senyawa kompleks dengan atom pusat memiliki
bilangan oksidasi nol dan ligan netral seperti [Ni(CO)4]
seharusnya tidak mungkin terbentuk karena tidak terjadi
interaksi elektrostatis antara atom pusat dengan ligan-
ligan. Dalam kenyataannya senyawa tersebut dapat
terbentuk dan bersifat stabil.
Ikatan pada Senyawa Koordinasi
Teori Orbital Molekul (MOT)
Teori orbital molekul merupakan teori yang paling
lengkap karena menyangkut baik interaksi
elektrostatik maupun interaksi kovalen.
MOT
Kompleks Oktahedral
[Co(NH3)6]3+
Fakta eksperimen menunjukkan bahwa ion
kompleks [Co(NH3)6]3+ memiliki bentuk oktahedral
dan bersifat diamagnetik.
MOT
Kompleks Oktahedral
[CoF6]3-
Fakta eksperimen menunjukkan bahwa ion
kompleks [CoF6]3- memiliki bentuk oktahedral dan
bersifat paramagnetik