Anda di halaman 1dari 20

KELOMPOK 1

OTITIS MEDIA
1.EKA PUSPITA 11.DIANA MUZDALIFAH
2.TRILISANI SOLEHA 12.DHINI DWI UTAMI
3.WIDYA ASTUTI 13.KIKI KARMAYANTI DANIL
4.LITA PUSPITA 14.ANUGRAH NUR RISTINOVIT
5.DINA KHARISMA 15.HANI ULFA MASFUFAH
6.ARISTA APRIYANTI 16.ASTRI FATMASARI
7.RATIH IRWANI 17.DEWITA SARI
8.REZA KURNIA AHYAN 18.ANITA RAHMAN
9.OLGA SUSANA WIKU
10.DEWA AYU EMBAS.S
OTITIS AKUT

MEDIA DGN EFUSI


TIPE OTITIS MEDIA
OTITIS MEDIA KRONIS

TERAPI NONFARMAKOLOGI
PENDEKATAN UMUM
PENGOBATAN
TERAPI FARMAKOLOGIS
OTITIS MEDIA
TERAPI ANTIMIKROBA
PENGOBATAN ACETAMINOPHEN
AMOKSISILIN

PERAWATAN & PEMANTAUAN


MONITORING
PASIEN
Otitis media adalah radang telinga tengah
Ada tiga tipe otitis media : otitis media akut, otitis media
dengan efusi, dan otitis media kronis. Ketiganya dibedakan
dengan :
1) Tanda infeksi akut
2) Bukti radang telinga tengah
3) Adanya cairan di telinga tengah

Otitis media
Joseph T. Dipiro, et al., Pharmacotherapy Handbook, 9ed., 2012
Menurut WHO penderita penyakit otitis media akut
menyumbang 28.000 kematian dan sekitar 2 juta orang
yang menderita otitis media akut. Lebih dari 90% kasus
melanda beberapa negara seperti wilayah Asia Tenggara
dan Pasifik Barat, Afrika dan beberapa etnis minoritas di
Pasifik. Otitis media akut jarang terjadi di Amerika, Eropa,
Timur Tengah dan Australia.

http://www.who.int/pbd/publications/Chronicsuppurativeot
itis_media.pdf
Epidemiologi dan Etilogi
Otitis media paling banyak terjadi pada anak-anak usia 6 bulan sampai 2 tahun, tetapi
dapat terjadi pada semua kelompok umur termasuk dewasa. Pada anak usia 12 bulan, 75%
mengalami setidaknya sekali otitis media dan lebih dari 20% mengalami infeksi berulang.
Terdapat 13 juta resep antibiotik yang ditulis tiap tahun di Amerika untuk otitis media.
Banyak faktor resiko yang mempengaruhi otitis media pada anak dan dapat
dihubungkan dengan resistensi antibiotik. Bakteri sering terdapat pada cairan telinga tengah
anak dengan otitis media akut tapi virus juga mempunyai peran dominan.
Streptococus pneuomoniae bertanggung jawab pada 25-50% kasus otitis media akut.
Hemophilus influenzeae dan Moraxella catarrhalis bertanggung jawab pada 15-30% dan 3-5%
kasus.
Data terbaru menyebutkan bahwa mikroba pada otitis media akut dapat diperoleh dari
vaksin dari pneuomococus terkonjugasi, sedangkan bakteri yang jarang menyebabkan otitis
media akut meliputi Streptococus pirogenes, Stapilococus aureus dan Pseudomonas
aerugenosa.
Beberapa virus seperti virus pernafasan, influenza, rinovirus, adenovirus ditemukan
pada cairan telingah tengah dengan atau tanpa bakteri pada lebih dari setengah kasus otitis
media akut. Kurangnya perbaikan dengan terapi antibiotik lebih sering menyebabkan infeksi
virus dan inflamasi subsekuen dibandingkan resistensi antibiotik.
Resistensi bakteri secara signifikan mepengaruhi guideline terapi pada otitis media
akut. Resistensi Streptococus pneuomoniae terhadap penisilin mencangkup resistensi sedang
(KHM antara 0,1-1 g/mL) dan tinggi (KHM 2 g/
Faktor Resiko Otitis media

1. infeksi virus saluran 10.GERD


pernapasan atau musim dingin 11. Faktor genetic
2. Etnis Amerika atau Inuit 12. Kurang asupan ASI
3. Kehadiran hari perawata 13.Sumbing langit-langit mulut
4. Sosial ekonomi rendah 14. Diagnosis pada usia muda
5.Saudara
6.Penggunaan dot
7.Jenis kelamin Laki-laki
8. Alergi
9.Perokok aktif dan pasif
Patofisiologi
Berbagai faktor berperan pada perkembangan otitis media
akut. Infeksi virus pada nasopharing merusak fungsi tabung
eustachius dan menyebabkan infeksi mukosal, kerusakan
pembersihan mukosiliar dan memicu proliferasi dan infeksi bakteri.
Anak- anak memiliki kecenderungan mengalami otitis media akut
disebabkan oleh tabung eustachius yang lebih pendek, lebih lembek
dan lebih lebar dibandingkan dewasa yang menyebabkan
berkurangnya fungsi drainase dan perlindungan terhadap masuknya
bakteri pada telinga tengah. Tanda dan gejala klinis dari otitis media
akut merupakan hasil dari respon imun sel host dan kerusakan sel
yang disebabkan oleh mediator inflamasi seperti tumor nekrosis
faktor dan interleukin yang dihasilkan oleh bakteri.
1. Terapi antimikroba digunakan untuk mengobati otitis media,
namun persentase yang tinggi pada anak-anak hanya
mengurangi gejalanya saja. Penggunaan antibiotik
mengurangi durasi gejala sekitar 1 hari. pada anak 6 bulan
sampai 2 tahun jika gejala tidak parah tidak perlu
menggunakan antibiotik, karena mengurangi efek samping
antibiotik dan meminimalkan resistensi bakteri.
2. Acetaminophen atau agen antiinflamasi nonsteroid, seperti
ibuprofen, dapat digunakan untuk menghilangkan rasa sakit
di otitis media akut.
3. Amoksisilin adalah obat pilihan untuk otitis media akut dosis
tinggi amoksisilin (80 sampai 90 mg / kg / hari) dianjurkan

Pengobatan atau Treatment Otitis media


Marie Chrisholm-burn, et al. Pharmacotherapy: Priciple and Practice 4th. 2016
ALGORITMA TERAPI

Marie Chrisholm-burn,
et al. Pharmacotherapy:
Priciple and Practice 4th.
2016
Marie Chrisholm-burn., et
al, Pharmacotherpy;
principle and practice, 4th,
2016
Lanjutan...
Jika terjadi kegagalan pengobatan dengan amoksisilin, agen harus dipilih dengan aktivitas melawan
penghambat H.-laktamase H. influenzae dan M. catarrhalis, serta S. pneumoniae yang resistan
terhadap obat, seperti amoxicillin-clavulanate dosis tinggi (disarankan) atau cefuroxime , cefdinir,
cefpodoxime, cefprozil, atau ceftriaxone intramuskular.

Pada anak-anak berusia minimal 6 tahun yang memiliki otitis media akut ringan sampai sedang,
antibiotik 5 sampai 7 hari dapat digunakan. Beberapa ahli telah berspekulasi bahwa pasien dapat
diobati sesedikit 3 sampai 5 hari tapi pengobatan singkat tidak disarankan pada anak di bawah usia 2
tahun.

Pasien dengan otitis media akut harus dievaluasi ulang setelah 3 hari, dengan kebanyakan anak tidak
bergejala pada 7 hari.

Otitis media rekuren didefinisikan setidaknya tiga episode dalam 6 bulan atau setidaknya empat
episode dalam 12 bulan. Infeksi berulang menjadi perhatian karena pasien berusia di bawah 3 tahun
berisiko tinggi menderita gangguan pendengaran dan bahasa dan ketidakmampuan belajar. Data dari
penelitian umumnya tidak mendukung profilaksis.
Joseph T. Dipiro, et al., Pharmacotherapy Handbook, 9ed., 2012
NONFARMAKOLOGIS TERAPI
1.komunikasi yang baik ada antara dokter dan
orang tua / pengasuh
2.pendekatan nondrug lain termasuk penggunaan
panas eksternal atau dingin untuk mengurangi
rasa sakit
3.Tympanostomy Tabung yang paling berguna
untuk pasien dengan penyakit berulang ata OME
kronis dengan gangguan pendengaran.
4.Adenoidectomy mungkin diperlukan untuk anak-
anak dengan sumbatan hidung yang kronis, tapi
tonsilektomi jarang diindikasikan.

Pendekatan umum untuk Pengobatan


MONITORING
Perawatan dan Pemantauan Pasien
1. Kaji tanda dan gejala pasien. Apakah mereka konsisten? dengan otitis media
akut?
2. Kaji ulang informasi diagnostik untuk mengetahui apakah infeksi akut hadir
Adalah semua tiga kriteria diagnostik hadir?
Adalah Metode yang tepat digunakan untuk diagnosis (pneumatik otoscopy)?
3. Apakah pasien memerlukan terapi antibiotik atau observasi pilihan yang tepat
4. Dapatkan riwayat pengobatan lengkap, termasuk resep obat-obatan, obat-
obatan terlarang, dan alami produk penggunaan, serta alergi dan merugikan
efek.
5. Tentukan obat apa yang harus digunakan untuk rasa sakit, jika menyajikan.

Marie Chrisholm-burn., et al, Pharmacotherpy; principle and practice, 4th, 2016


6. Jika berlaku, tentukan antibiotik mana yang akan digunakan dan
Durasi terapi.
7. Kembangkan rencana untuk menilai efektivitas yang dipilih terapi
dan tindakan yang harus dilakukan jika pasien melakukannya tidak
membaik atau memburuk.
8. Berikan edukasi kepada pasien
Apa yang diharapkan dari obat yang diresepkan, termasuk potensi
efek samping
Menghindari antihistamin dan dekongestan
Tanda-tanda kegagalan pengobatan
9. Tekankan pentingnya kepatuhan terhadap terapi, termasuk masalah
resistensi antibiotik
10. Tentukan kebutuhan akan influenza dan pneumokokus Vaksinasi.
11. Mendidik keluarga mengenai faktor risiko otitis media.

Marie Chrisholm-burn., et al, Pharmacotherpy; principle and practice, 4th, 2016


EVALUASI HASIL
Perbaikan tanda dan gejala (yaitu, sakit, demam, dan peradangan membran timpani)
harus terbukti dengan 72 jam terapi. Anak-anak dapat tampak lebih buruk secara
klinis selama 24 jam pengobatan pertama namun sering stabil pada hari kedua
pengobatan dengan defensif dan perbaikan pola makan dan tidur.
Jika perbaikan klinis tidak terlihat, atau jika pasien memburuk, evaluasi ulang harus
dilakukan untuk menentukan diagnosis dan pengobatan yang tepat.
Konsultasikan pasien dan perawat tentang Efek samping antibiotik yang umum terjadi
seperti ruam, diare, dan muntah yang dapat memicu perhatian medis tambahan.
Adanya efusi telinga tengah dengan tidak adanya gejala bukan merupakan indikator
kegagalan pengobatan. Anak yang telah lengkap terapi dan jika tidak sehat harus
dievaluasi kembali setelah 3 bulan untuk adanya efusi yang memerlukan evaluasi
pendengaran.
Anak usia prasekolah dan muda mungkin perlu pemeriksaan ulang 3 sampai 6 minggu
setelah terapi karena ucapan dan gangguan pendengaran lebih sulit untuk dinilai pada
kelompok usia ini.

Marie Chrisholm-burn., et al, Pharmacotherpy; principle and practice, 4th, 2016


Daftar Pustaka
Marie Chrisholm-burn, et al. Pharmacotherapy:
Priciple and Practice 4th. 2016

Joseph T. Dipiro, et al., Pharmacotherapy


Handbook, 9ed., 2012
Kasus
Seorang anak 4 tahun dibawa ke klinik dengan keluhan
demam, nyeri telinga, dan rewel setiap malam sejak 3 hari
yang lalu. Pasien sudah mendapat parasetamol tapi belum
sembuh juga. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya
inflamasi dan kemerahan pada telinga bagian dalam,
terdapat cairan bening. Pasien memiliki riwayat alergi
terhadap penisilin. Pasien didiagnosis otitis media.
REKOMENDASI TERAPI
Antibiotik yang direkomendasikan pada pasien tersebut didasarkan
pada jenis alergi yang dialami oleh pasien yaitu tipe 1 atau non tipe
1, sehingga perlu dikonfirmasikan kembali kepada pasien tentang
reaksi yang dialami saat menkonsumsi penisilin atau dapat juga
dilakukan tes alergi terlebih dahulu.
Jika pasien memiliki alergi penisilin tipe 1 atau non tipe 1, pilihan
terapi antibiotik yakni dari golongan makrolida contohnya
azitromicin.
Untuk pasien anak-anak lebih direkomendasikan menggunakan
azitromicin karena efek sampingnya lebih ringan daripada
clindamicin yang memiliki efek samping diare.
Penaganganan otitis media sebaiknya disertai obat simptomatik
untuk mengurangi gejala. Jika parasetamol tidak juga mengurangi
rasa sakit maka dapat menggunakan anti-inflamasi non steroid
contohnya ibuprofen untuk menurunkan demam dan menghilangkan
rasa sakitnya.

REKOMENDASI TERAPI