Anda di halaman 1dari 23

PRESENTASI KASUS:

MOLLUSCUM CONTAGIOSUM
DAN DERMATITIS KONTAK
ALERGI

RABIUL PRIYANTONO
IDENTITAS PASIEN
Nama : An. I
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 12 tahun
Agama : Islam
Suku : Melayu
Alamat : Jl. 28 oktober, Siantan Hulu
Pekerjaan : Pelajar
ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan pada tanggal: 22 Oktober 2013
pukul : 10.25

Keluhan utama :
Gatal di kedua tangan dan kaki serta terdapat
benjolan-benjolan kecil di ketiak kanan dan kiri

Riwayat penyakit sekarang :


Pasien datang ke poli penyakit kulit dan kelamin
diantar oleh ibunya. Pasien datang dengan keluhan
gatal di kedua tangan sejak 2 hari yang lalu dan
terasa panas di daerah yang gatal. Selain itu pasien
juga mengeluhkan terdapat benjolan-bejolan kecil di
daerah ketiak kanan dan kiri sejak 2 tahun yang lalu.
Riwayat penyakit dahulu :
Riwayat penyakit yang sama dahulu disangkal
Riwayat asma, alergi makanan, dan alergi obat
disangkal
Riwayat penyakit kulit lainnya disangkal

Riwayat penyakit keluarga :


Tidak terdapat keluhan yang sama di
keluarga
Riwayat kebiasaan/lingkungan :
Pasien mandi dengan air PDAM

Riwayat sosial ekonomi :


Pasien merupakan seorang anak dari orang
tua yang bekerja sebagai pekerja swasta dan
ibu rumah tangga
Regio palmar dan plantar manus dekstra dan
sinistra:
Tampak eritema dengan papul milier
Regio aksila dekstra dan sinistra:
Tampak papul berwarna seperti kulit, diskrit,
multipel dan berbatas tegas
Regio suprapubik:
Tampak papul yang berumbilikasi dengan dasar
eritem
DIAGNOSIS BANDING
Dermatitis kontak alergi
Dermatitis kontak iritan

Molluscum Contagiosum

Veruka vulgaris
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Patch test
Pemeriksaan mikroskopis
DIAGNOSIS
Dermatitis Kontak Alergi
Molluscum Contagiosum
TATALAKSANA
Non Medikamentosa
Istirahat yang cukup
Menghindari faktor penyebab
Mejaga kebersihan badan
Medikamentosa
Dermatitis Kontak Alergi:
Kortikosteroid oral (prednisone 30 mg/hari)
Kortikosteroid topikal

Molluscum Contagiosum:
Kuretase
Bedah beku (cryosurgery)

Mengeluarkan badan molluscum dengan menusuk papul,


kemudian diberikan salep antibiotik
PROGNOSIS
Ad vitam : bonam
Ad functionam : bonam
Ad sanactionam : dubia ad bonam
Dermatitis kontak alergi ditegakkan
berdasarkan anamnesis yaitu pasien
mengeluhkan gatal sejak 2 hari yang lalu
disertai rasa panas
DKA gatal dan kemudian nyeri, DKI rasa
sakit, rasa seperti terbakar dan rasa perih
DKA muncul agak lama 12-72 jam setelah
pajanan, DKI muncul beberapa jam setelah
pajanan
DKA eritema dan papul, DKI eritema,
vesikel, erosi dan krusta
DKA: dermatitis atau peradangan pada kulit
yang disebabkan oleh bahan/substansi yang
menempel pada kulit yang menimbulkan reaksi
alergi melalui proses sensitisasi
Terjadinya DKA melalui dua fase yaitu fase
sensitisasi dan fase elisitasi
Uji tempel untuk membedakan DKA dan DKI
Uji tempel ini dibuka setelah dua hari dan
selama uji ini dilakukan pasien dilarang mandi
sekurang-kurangnya 48 jam
Dilakukan pada:
keadaan dermatitis pasien yang sudah tenang
(sembuh) angry back atau excited skin
satu minggu setelah pemakaian kortikosteroid
sistemik dihentikan
Pembacaan pertama 15-30 menit setelah dilepas,
pembacaan kedua dilakukan pada hari ke-3
sampai ke-7 setelah aplikasi
Respons alergi +/- ke + atau ++ bahkan ke +++
(reaksi tipe crescendo)
Respons iritan cenderung menurun (reaksi tipe
decrescendo)
Pengobatan DKA pemberian kortikosteroid
sistemik yaitu prednisone 30 mg/hari dan
dilanjutkan dengan kortikosteroid topikal
Molluscum contagiosum ditegakkan berdasarkan
anamnesis dan pemeriksaan fisik yang telah
dilakukan yaitu terdapat papul dan nodul
multipel di daerah aksila yang berwarna seperti
warna kulit disekitarnya
Veruka vulgaris papul yang muncul biasanya
berwarna abu-abu
Molluscum contagiosum biasanya terdapat pada
daerah aksila, antekubiti, fosa poplitea dan
lipatan kruris, veruka vulgaris biasanya terdapat
di ekstremitas ekstensor.
Pada molluscum contagiosum biasanya terdapat
badan inklusi (molluscum bodies) di dalam
epidermis sedangkan pada veruka vulgaris
gambaran histopatologinya berupa papiloma
Molluscum contagiosum reseksi papul-papul
tersebut bisa menggunakan elektrokauterisasi
atau cryosurgery
TERIMAKASIH