Anda di halaman 1dari 24

EKSTRAKSI

KELOMPOK 6
DEVI RACHMAWATI 2443015159
LUQYANA ZULFA 2443015144
Rizka Ayu Avinda 2443015157
Pengertian Ekstraksi

Kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehingga terpisah


dari bahan yang tidak dapat larut dengan menggunakan pelarut cair.
Dengan mengetahui senyawa aktif yang dikandung simplisia akan
mempermudah pemilihan pelarut dan cara ekstraksi yang tepat. ( Ditjen
POM, 2000)
Cara dingin

Ektraksi dengan
pelarut

Cara panas

Destilasi uap Ekstraksi


Ekstraksi
berkesinambungan

Superkritikal
karbondioksida
Cara ekstraksi
lainnya

Ekstraksi ultrasonik

Ekstraksi energi listrik


Cara dingin
Meserasi

Meserasi adalah peroses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan


pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada
temperature ruangan (kamar) (Ditjen POM,2000)

Perkolasi
Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai
sempurna yang umumnya dilakukan pada temperature ruangan. Proses
terdiri dari tahap pengembangan bahan, tahap maserasi antara, tahap
perkolasi sebenarnya (penetesan/penampungan) ekstrak, terus menerus
sampai diperoleh ekstrak (perkolat) yang jumlahnya 1-5 kali bahan. (Ditjen
POM, 2000)
Cara panas
Refluks
Ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya, selama waktu
tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan adanya
pendingin balik. Umumnya dilakukan pengulangan proses pada residu
pertama sampa 3 5x sehingga dapat termasuk proses ekstraksi sempurna.
(Ditjen POM, 2000)
Soxhlet
Ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru yang umumnya dilakukan
dengan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinu dengan jumlah pelarut
relatif konstan dengan adanya pendingin balik.
(Ditjen POM, 2000)
Dekok
Infus pada waktu yang lebih lama 30C dan temperatur sampai titik didih air.
(Ditjen POM, 2000)
Soxhlet Refluks
Digesti
Ekstraksi maserasi kinetik (dengan pengadukan kontinu) pada temperatut
yang lebih tinggi dari temperatur ruangan (kamar), yaitu secara umum
dilakukan pada temperatur 40 50C.
(Ditjen POM, 2000)

Infus
Ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur penangas air (bejana infus
tercelup dalam penangas air mendidih, temperatur terukur 96 - 98C) selama
waktu tertentu (15 20 menit).
(Ditjen POM, 2000)
Berdasarkan Fasanya ekstraksi
dikelompokan menjadi 2 :
1. ekstraksi cair-cair

Ekstraksi cair-cair dilakukan untuk mendapatkan suatu senyawa dalam campuran


berfasa cair dengan pelarut lain yang fasanya juga cair juga. Prinsip dasar
pemisahan ini adalah pemisahan senyawa yang memiliki perbedaan kelarutan
pada dua pelarut yang berbeda . Alat yang digunakan adalah corong pisah.

2. ekstraksi padat cair

ekstraksi padat cair dilakukan bila ingin memisahkan suatu komponen dalam
suatu padatan dengan menggunakan suatu pelarut cair. Alat yang digunakan
adalah ekstraktor soxhlet. Misalnya untuk mengekstraksi minyak non-atsiri
faktor yang mempengaruhi ekstraksi:

1. ukuran partikel
2. jenis zat pelarut
3. suhu
4. pengadukan
Hal hal yang harus diperhatikan

1. Sifat fisika kimia senyawa aktif (alkaloid, flavonoid, tanin, saponin,


glikosida, minyak atsiri, antrakuinon, steroid/triterpenoid)
2. Pemilihan pelarut
3. Pemilihan metode ekstraksi

(V Seidel, 2006)
Pemilihan pelarut

Pelarut yang digunakan tidak toksik.


Pelarut sesuai dengan tingkat kepolaran senyawa aktif (mengikuti prinsip
like dissolves like).
- Pelarut non polar digunakan untuk senyawa yang bersifat lipofilik (ex:
beberapa terpenoid, alkaloid, kumarin, sterol).
- Pelarut dengan polaritas yang medium digunakan untuk mengekstraksi
senyawa yang mengandung polaritas intermediate (ex: beberapa alkaloid
dan flavonoid).
- Pelarut polar digunakan untuk senyawa yang bersifat hidrofilik (ex:
flavonoid, glikosida, tanin, dan beberapa alkaloid).
(V Seidel, 2006)
Keuntungan dan Kerugian

1. Maserasi
Keuntungan:
Lebih praktis, pelarut yang digunakan lebih sedikit, dan tidak memerlukan
pemanasan.
Kerugian:
Waktu yang dibutuhkan relatif lama.

2. Perkolasi
Keuntungan:
Tidak diperlukan proses tambahan untuk memisahkan padatan dengan
ekstrak.
Kerugian :
Jumlah pelarut yang dibutuhkan cukup banyak, proses memerlukan waktu
yang cukup lama, dan tidak meratanya kontak antara padatan dengan
pelarut.
Keuntungan dan Kerugian

1. Refluks
Keuntungan:
Padatan yang memiliki tekstur kasar dan tahan terhadap pemanasan langsung
dapat diekstrak dengan metode ini.
Kerugian:
Membutuhkan jumlah pelarut yang banyak.
2. Soxhlet
Keuntungan:
proses ekstraksi berlangsung secara kontinu, memerlukan waktu ekstraksi yang
lebih sebentar dan jumlah pelarut yang lebih sedikit bila dibandingkandengan
metode maserasi atau perkolasi.
Kerugian:
dapatmenyebabkan rusaknya solute atau komponen lainnya yang tidak tahan
panas karenapemanasan ekstrak yang dilakukan secara terus menerus
Keuntungan dan Kerugian

Infusa
Keuntungan:
Peralatan sederhana dan mudah dipakai, biaya murah, dapat menyari
simplisia dengan pelarut air dalam waktu singkat.
Sari yang dihasilkan tidak stabil dan mudah tercemar oleh bakteri dan
kapang.
ALKALOID
Metode : Ekstraksi dengan cara dingin (maserasi dan perkolasi)

Alasan : Dilihat dari sifat fisika-kimia alkaloid yaitu:


1. Alkaloid larut dalam senyawa polar, yaitu alkohol dan sedikit
larut dalam air.
(Doughari, 2012)
2. Alkaloid dapat terdekomposisi oleh panas kecuali, kafein.
(El-Sakka, 2010)
FLAVONOID
Metode : Ekstraksi dengan cara dingin (maserasi dan perkolasi)

Alasan : Dilihat dari sifat fisika-kimia flavonoid, yaitu:


1. Senyawa poli hidroksi atau gugus hidroksil yang bersifat polar,
sehingga dapat larut dalam pelarut polar.
(Doughari, 2012)
2. Senyawa flavonoid mudah teroksidasi pada suhu yang tinggi.
(Wiyono,dkk. 2012)
GLIKOSIDA
Metode : Ekstraksi dengan cara dingin (maserasi dan perkolasi)

Alasan : Dilihat dari sifat fisika-kimia glikosida, yaitu:


1. Glikosida larut dalam air dan tidak larut dalam
pelarut organik. Beberapa glikosida larut dalam alkohol.
2. Jembatan glikosida yang menghubungkan glikon dan
aglikon sangat mudah terurai oleh pengaruh asam basa, enzim,
air, dan panas. Bila kadar asam/basa semakin dekat atau bila
semakin panas lingkungannya, maka glikosida akan cepat
terhidrolis.

(Rahayu dan astuti, 2008)


TANIN
Metode : Ekstraksi dengan cara panas (Dekok, Infusa, Refluks, Digesti)

Alasan : Dilihat dari sifat fisika-kimia tanin, yaitu:


1. Umumnya tannin dapat larut dalam air. Kelarutannya besar
dan akan meningkat apabila dilarutkan dalam air panas. Begitu
juga tannin akan larut dalam pelarut organik seperti metanol,
etanol, aseton dan pelarut organik lainnya.
2. Tannin akan terurai menjadi pyrogallol, pyrocatechol dan
phloroglucinol bila dipanaskan sampai suhu 210F-215F (98,89C-
101,67C).
(Ismarani, 2012)
SAPONIN
Metode : Ekstraksi dengan cara panas (Dekok, Infusa, Refluks, Digesti)

Alasan : Dilihat dari sifat fisika-kimia tanin, yaitu:


1. Saponin larut dalam alkohol dan air, tetapi tidak larut
dalam pelarut non polar, seperti benzen dan n-heksan.
(Doughari, 2012)
2. Saponin bersifat stabil terhadap pemanasan.
(Hutahayan dkk, 2009)
STEROID

Metode : Ekstraksi dengan cara panas (Dekok, Infusa, Refluks, Digesti)

Alasan : Dilihat dari sifat fisika-kimia glikosida, yaitu:


1. Umumnya larut dalam lemak/non polar.

(Harborne, 1973)
TRITERPENOID
Metode : Ekstraksi dengan cara panas (Dekok, Infusa, Refluks, Digesti)

Alasan : Dilihat dari sifat fisika-kimia glikosida, yaitu:

1. Umumnya larut dalam lemak/non polar.


2. Biasanya menggunakan pelarut eter/kloroform.

(Harborne, 1973)
3. Triterpenoid memiliki titik 205C

(Hutahayan dkk, 2009)


TERIMA KASIH
DAFTAR PUSTAKA

Ditjen POM. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Cetakan
pertama. Jakarta: DEPKES RI.
Harborne, J.B. 1973. Phytochemical Methods. New York: Chapman And Hall, Inc.
Seidel, V. 2006. Initial and Bulk Extraction. Natural Products Isolation, 2nd ed. Pp: 27-
37.
Wiyono, W.I. Koirewoa, Y.A. Fatimawali. 2012. Isolasi dan Identifikasi Senyawa
Flavonoid dalam Daun Beluntas.
Hutahayan, D.R.S. Sitanggang, A.F. Thoha, M.Y. 2009. Pengaruh pelarut isopropil
alkohol 75% dan etanol 75% terhadap ekstraksi saponin dari biji teh dengan
variabel waktu dan temperatur. Jurnal tehknik kimia, no.3, vol.16.
Doughari, J.H. 2012. Phytochemical Extraction Methods, Basic Structure And Mode
Of Action As Potensial Chemotherapeutic Agents
Ismarani. 2012. Potensi Senyawa Tannin Dalam Menunjang Produksi Ramah
Lingkungan