Anda di halaman 1dari 35

KONDISI DAN EVALUASI

PENGELOLAAN LIMBAH
MEDIS FASYANKES DI
Click to edit Master text styles
PROVINSI RIAU

BADAN LINGKUNGAN HIDUP PROVINSI RIAU


I. Dasar Hukum
Undang-Undang
Click to edit MasterNomor : 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan.
text styles

Peraturan Pemerintah Nomor : 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah B3.

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor : 1204 Tahun 2004 tentang Sanitasi Lingkungan Rumah Sakit.

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 2/2008 tentang Pemanfaatan Limbah B3.

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 18/2009 tentang Tata Cara Perizinan Pengelolaan Limbah B3

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor LH Nomor 30/2009 tentang Tata Laksana Perizinan dan

Pengawasan Pengelolaan Limbah B3 dan Pengawasan Pemulihan Akibat Pencemaran Limbah B3.

Peraturan Menteri Lingkunmgan Hidup dan Kehutanan Nomor 56 Tahun 2015 tentang Tata Cara dan Persyaratan

Teknis Pengelolaan Limbah B3 dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan


Lanjutan .
Keputusan
Click Kepala text
to edit Master Bapedal
styles Nomor : 01/BAPEDAL/09/1995 tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis
Penyimpanan dan Pengumpulan Limbah B3.

Keputusan Kepala Bapedal Nomor : 02/BAPEDAL/09/1995 tentang Dokumen limbah B3.

Keputusan Kepala Bapedal Nomor : 03/BAPEDAL/09/1995 tentang Persyaratan teknis pengolahan limbah B3.

Keputusan Kepala Bapedal Nomor : 04/BAPEDAL/09/1995 tentang Tata Cara Penimbunan Hasil Pengolahan,
Persyaratan Lokasi Bekas Pengolahan dan Lokasi Penimbunan Limbah B3.

Keputusan Kepala Bapedal Nomor : 05/BAPEDAL/09/1995 tentang Simbol dan Label.

Keputusan Kepala Bapedal Nomor : 68/BAPEDAL/05/1994 tentang Tata Cara Memperoleh Izin Pengelolaan
Limbah B3.

Keputusan Kepala Bapedal Nomor : 02/BAPEDAL/01/1998 tentang Tata Laksana Pengawasan Pengelolaan
Limbah B3.
II. Definisi LB3
Definisi
Click Limbah
to edit Master text Bahan
styles Berbahaya dan Beracun( LB3) menurut Peraturan Pemerintah
Nomor 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun,
adalah :

Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, disingkat limbah B3 adalah sisa suatu
usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun
yang karena sifat dan/atau konsentrasinya dan/atau jumlahnya, baik secara
langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusakkan
lingkungan hidup, dan/atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan,
kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain.
Lanjutan.
Berdasarkan
Click Peraturan
to edit Master text styles Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 56 Tahun 2015
tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Pengelolaan Limbah B3 dari Fasilitas Pelayanan
Kesehatan, Limbah B3 tersebut meliputi :
Dengan Karakteristik Infeksius
Benda Tajam
Patalogis
Bahan Kimia Kadaluarasa, tumpahan atau sisa kemasan
Radioaktif
Farmasi
Sitotoksik
III. PENGELOLAAN LIMBAH B3

Click to edit Master text styles


IV. Evaluasi Hasil Pengawasan
Click to edit Master text styles
Berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan pembinaan dan pengawasan terhadap
kegiatan Rumah Sakit di Provinsi Riau Tahun 2015 tingkat ketaatan dan atau
kepatuhan pihak pengelola rumah sakit ditinjau dari beberapa aspek :

1) Aspek Ketaatan dalam Pelaksanaan Dokumen Lingkungan

2) Aspek Ketaatan dalam Pengendalian Pencemaran Air

3) Aspek Ketaatan dalam Pengendalian Pencemaran Udara

4) Aspek Ketaatan dalam Pengelolaan Limbah B3 dan Non B3


1. Aspek Ketaatan dalam Pelaksanaan Dokumen
Lingkungan

ClickKepatuhan
to edit Masterpihak pengelola
text styles rumah sakit dalam hal dokumen lingkungan ditinjau
dari 2 (dua) aspek yaitu ;

1) Kepemilikan dan pengesahan dokumen lingkungan,


2) Pelaksanaan pelaporan terhadap pengelolaan dan
pemantauan lingkungan.
Lanjutan
Kepatuhan dari 11 (sebelas) Rumah Sakit untuk evaluasi dokumen lingkungan :
Click
No.to edit Master text
Namastyles
Rumah Sakit Pemilikan Dokumen Pelaporan
Ada Tidak Ada Ada Tidak Ada
1 RSUD. Rokan Hulu Ada -- -- Tdk Ada
2 RSUD. Mandau Ada -- -- Tdk Ada
3 RSUD. Bangkinang Ada* -- -- Tdk Ada
4 RSUD. Kabupaten Siak Ada* -- -- Tdk Ada
5 RSUD. Puri Husada Ada -- -- Tdk Ada
6 RS. Syafira Ada -- -- Tdk Ada
7 RSUD. Arifin Achmad Ada -- Ada --
8 RS. Amalia Medika Ada -- -- Tdk Ada
9 RSUD. Rokan Hilir Ada -- -- Tdk Ada
10 RSUD. Kuantan Singingi Ada -- -- Tdk Ada
11 RS. Pertamina Dumai Ada -- -- Tdk Ada
Lanjutan
Persentase
Click Tingkat
ketaatan dan kepatuhan pengelola rumah sakit
to edit Master text styles

terhadap kepemilikan dokumen dan penyampaian laporan pelaksanaan


dokumen lingkungan dari 11 unit jumlah rumah sakit yang dilakukan
pembinaan dan pengawasan selama tahun 2015 adalah :

Pemilikan Dokumen Pelaporan


Taat Tidak Taat Taat Tidak Taat
81,8 % 18,2 % 9,1% 90,9 %
2. Aspek Ketaatan dalam Pengendalian
Pencemaran Air
Tingkat
Click ketaatan
to edit Master dan atau kepatuhan pihak pengelola kegiatan rumah sakit dalam
text styles
hal pengendalian pencemaran air ditinjau dari 3 (tiga) aspek, yaitu ;

a) Aspek kepemilikan Izin Pembuangan Limbah Cair (IPLC),

b) Aspek pemenuhan ketentuan teknis yang meliputi ;

c) Penyampaian laporan tentang catatan debit harian dan kadar parameter Baku
Mutu Limbah Cair sekurang-kurangnya tiga bulan sekali kepada Gubernur
melalui BLH Provinsi, Walikota/Bupati melalui BLH Kota/kabupaten.
Lanjutan
Tingkat ketaatan dan atau kepatuhan dari 11 rumah sakit untuk evaluasi pengendalian
Click to edit Master text styles
pencemaran air dapat dijelaskan pada tabel berikut :

No. Nama Rumah Sakit Pemilikan Izin Pemenuhan Pelaporan


(IPLC) Ketentuan Teknis
Ada Belum Ya Tidak Ada Tdk Ada
1 RSUD. Rokan Hulu -- Belum -- Tidak -- Tdk Ada
2 RSUD. Mandau -- Belum -- Tidak -- Tdk Ada
3 RSUD. Bangkinang -- Belum -- Tidak -- Tdk Ada
4 RSUD. Kabupaten Siak -- Belum -- Tidak -- Tdk Ada
5 RSUD. Puri Husada Ada -- Tidak -- Tdk Ada
6 RS. Syafira Ada -- -- Tidak Ada --
7 RSUD. Arifin Achmad Ada -- -- Tidak Ada --
8 RS. Amalia Medika -- Belum -- Tidak -- Tdk Ada
9 RSUD. Rokan Hilir -- Belum -- Tidak -- Tdk Ada
10 RSUD. Kuantan Singingi -- Belum -- Tidak -- Tdk Ada
11 RS. Pertamina Dumai Ada -- -- Tidak -- Tdk Ada
Lanjutan.
Persentase
to
Click edit Mastertingkat ketaatan dan kepatuhan dalam pengendalian pencemaran air dari
text styles
11 unit jumlah rumah sakit yang dilakukan pembinaan dan pengawasan selama
tahun 2015 adalah sebagai berikut ;

Pemilikan Izin (IPLC) Pemenuhan Pelaporan


Ketentuan Teknis
Taat Tidak Taat Taat Tidak Taat Taat Tidak Taat

36,4 % 63,6% 0% 100 % 18,2 % 81,8 %


3. Aspek Ketaatan Dalam Pengendalian
Pencemaran Udara
Tingkat
to
Click ketaatan
edit Master text styles dan atau kepatuhan pihak pengelola kegiatan rumah
sakit dalam hal pengendalian pencemaran udara ditinjau dari 3 (tiga)
aspek, yaitu ;

1) Inventarisasi terhadap sumber emisi yang ada.

2) Aspek pemenuhan ketentuan teknis

3) Menyampaikan laporan tentang hasil pengukuran emisi dari sumber


emisi kepada Gubernur melalui BLH Provinsi, Walikota/Bupati melalui
BLH Kota/kabupaten
Lanjutan
Adapun tingkat ketaatan dan atau kepatuhan dari 11 rumah sakit untuk evaluasi
Click to edit Master pencemaran
pengendalian text styles udara dapat dijelaskan pada tabel berikut :
No. Nama Rumah Sakit Inventarisasi Pemenuhan Pelaporan
Sumber Emisi Ketentuan Teknis
Sudah Belum Ya Tidak Ada Tidak Ada
1 RSUD. Rokan Hulu Sudah -- -- Tidak -- Tdk Ada
2 RSUD. Mandau Sudah -- -- Tidak -- Tdk Ada
3 RSUD. Bangkinang Sudah -- -- Tidak -- Tdk Ada
4 RSUD. Kabupaten Siak Sudah -- -- Tidak -- Tdk Ada
5 RSUD. Puri Husada Sudah -- -- Tidak -- Tdk Ada
6 RS. Syafira Sudah -- -- Tidak -- Tdk Ada
7 RSUD. Arifin Achmad Sudah -- Ya -- -- Tdk Ada
8 RS. Amalia Medika Sudah -- -- Tidak -- Tdk Ada
9 RSUD. Rokan Hilir Sudah -- -- Tidak -- Tdk Ada
10 RSUD. Kuantan Singingi Sudah -- -- Tidak -- Tdk Ada
11 RS. Pertamina Dumai Sudah -- -- Tidak -- Tdk Ada
Lanjutan
Persentase
Click tingkat
to edit Master text ketaatan
styles dan kepatuhan dalam pengendalian pencemaran udara
dari 11 unit jumlah rumah sakit yang dilakukan pembinaan dan pengawasan selama
tahun 2015 adalah sebagai berikut :

Melakukan Pemenuhan Pelaporan


Inventarisasi Ketentuan Teknis
Sumber Emisi
Sudah Belum Ya Tidak Ada Tidak
Ada
100 % 0% 9,1 % 90,9 % 0% 100 %
4. Aspek Ketaatan dalam Pengelolaan LB3 dan
Non LB3
Click to edit rumah
Kegiatan Master text
sakitstyles
di Provinsi Riau Tahun 2015 tingkat ketaatan dan atau kepatuhan pihak
pengelola kegiatan rumah sakit dalam hal pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
dapat ditinjau dari 3 (tiga) aspek, yaitu ;

1) Perizinan.
2) Pemenuhan ketentuan teknis, Identifikasi, Pencatatan dan Pengelolaan
lanjutan LB3
3) Pelaporan tentang pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.
Lanjutan
ClickAdapun tingkat
to edit Master text ketaatan
styles dan atau kepatuhan dari 11 rumah sakit untuk evaluasi
pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun dapat dijelaskan pada tabel berikut :
No. Nama Rumah Sakit Perizinan TPS B3 Izin Pengoperasian Pemenuhan Pelaporan
Incenerator Ketentuan Teknis
Ada Tdk Ada Tdk Ya Tdk Ada Tidak Ada
1 RSUD. Rokan Hulu -- Tidak -- Tidak -- Tidak -- Tdk Ada
2 RSUD. Mandau -- Tidak -- Tidak -- Tidak -- Tdk Ada
3 RSUD. Bangkinang -- Tidak -- Tidak -- Tidak -- Tdk Ada
4 RSUD. Kabupaten Siak -- Tidak -- Tidak -- Tidak -- Tdk Ada
5 RSUD. Puri Husada -- Tidak -- Tidak -- Tidak -- Tdk Ada
6 RS. Syafira Ada -- -- Tidak -- Tidak -- Tdk Ada
7 RSUD. Arifin Achmad -- Tidak -- Tidak -- Tidak -- Tdk Ada
8 RS. Amalia Medika -- Tidak -- Tidak -- Tidak -- Tdk Ada
9 RSUD. Rokan Hilir -- Tidak -- Tidak -- Tidak -- Tdk Ada
10 RSUD. Kuansing -- Tidak -- Tidak -- Tidak -- Tdk Ada
11 RS. Pertamina Dumai Ada -- Ada -- -- Tidak -- Tdk Ada
Lanjutan
ClickPersentase
to edit Master text styles
tingkat ketaatan dan kepatuhan dalam pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya
dan Beracun dari 11 unit jumlah rumah sakit yang dilakukan pembinaan dan pengawasan
selama tahun 2015 adalah sebagai berikut :

Perizinan TPS Izin Pemenuhan Pelaporan


B3 Pengoperasian Ketentuan
Incenerator Teknis
Ada Tidak Ada Tidak Ya Tidak Ada Tidak Ada

18,2% 81,8 % 9,1 % 90,9 % 0% 100 % 0% 100 %


Lanjutan
Limbah Non B3
Click to edit Master text styles

Kegiatan rumah sakit di Provinsi Riau Tahun 2015 tingkat ketaatan dan atau kepatuhan pihak
pengelola kegiatan rumah sakit dalam hal pengelolaan Limbah Padat (Domestik) dapat
ditinjau dari 3 (tiga) aspek, yaitu ;

1) Mempunyai komitmen dalam, yang meliputi :

a. Pengelolaan limbah padat/sampah yang dihasilkan.

b. Tersedianya sarana dan prasarana pengelolaan limbah padat di lokasi kegiatan.

1) Penerapan program 3R (Reduce, Reuse dan Recycle).

2) Pelaporan tentang pengelolaan Limbah Padat (Domestik).


Lanjutan
ClickTingkat ketaatan
to edit Master text styles dan atau kepatuhan dari 11 rumah sakit untuk
evaluasi pengelolaan Limbah padat (domestik) dapat dijelaskan pada
tabel berikut :
No. Nama Rumah Sakit Komitmen Penerapan Program 3R Pengelolaan Lanjutan
Ada Tidak Sudah Belum Ada Tidak Ada
1 RSUD. Rokan Hulu Ada -- -- Belum Ada --
2 RSUD. Mandau Ada -- -- Belum Ada --
3 RSUD. Bangkinang Ada -- -- Belum Ada --
4 RSUD. Kabupaten Siak Ada -- -- Belum Ada --
5 RSUD. Puri Husada Ada -- -- Belum Ada --
6 RS. Syafira Ada -- -- Belum Ada --
7 RSUD. Arifin Achmad Ada -- Sudah -- Ada --
8 RS. Amalia Medika Ada -- -- Belum Ada --
9 RSUD. Rokan Hilir Ada -- -- Belum Ada --
10 RSUD. Kuantan Singingi Ada -- -- Belum Ada --
11 RS. Pertamina Dumai Ada -- -- Belum Ada --
LANJUTAN
ClickPersentase
to edit Master tingkat
text styles ketaatan dan kepatuhan dalam pengelolaan Limbah Padat

(Domestik) dari 11 unit jumlah rumah sakit yang dilakukan pembinaan dan
pengawasan selama tahun 2015 adalah sebagai berikut ;

Komitmen Penerapan Pengelolaan


Program 3R Lanjutan
Ada Tidak Sudah Belum Ada Tidak Ada
100 % 0% 9,1 % 90,9 % 100 % 0%
PERSENTASI KETAATAN SECARA KESELURUHAN
UNTUK RUMAH SAKIT TAHUN 2015
Click to edit Master text styles
Perbandingan Ketaatan Tahun 2014 dan 2015
Click to edit Master text styles
v. Sanksi Menurut UU No.32 Tahun 2009
Berdasarkan
Click to edit MasterUU
textNo.32
Tahun 2009 Menteri/Gubernur/Bupati/Walikota wajib
styles

menjatuhkan sanksi kepada penanggung jawab kegiatan apabila terjadi


pelanggaran terhadap izin lingkungan dan pengelolaan lingkungan. Sanksi
yang dijatuhkan berupa sanksi administrasi. Sanksi administrasi berupa :
(Pasal 76 ayat 1 dan 2, Pasal 78, pasal 80 ).
1. Teguran Tertulis
2. Paksaaan Pemerintah
3. Pembekuan Izin Lingkungan
4. Pencabutan Izin Lingkungan
Lanjutan
Click to edit Master
Berdasarkan UU No. text
32styles
Tahun 2009 Pasal 80 Ayat 1 bahwa yang merupakan sanksi adminsitrasi
paksaan pemerintah berupa :
Penghentian Sementara Kegiatan Produksi

Pemindahan Sarana Produksi


Penutupan Saluran Buangan Air Limbah atau Emisi
Pembongkaran

Penyitaan terhadap barang atau alat yang berpotensi menimbulkan pelanggaran


Penghentian Sementara Seluruh Kegiatan
Tindakan lain yang bertujuan untuk menghentikan pelanggaran dan tindakan memulihkan fungsi
lingkungan hidup
Lanjutan.
Selain
Click to edit sanksi administrasi
Master text styles yang diberikan kepada penanggung jawab
kegiatan, juga diberikan sanksi pidana dengan denda maksimal 3 Milyar
Rupiah dan hukuman penjara maksimal 3 (tiga) tahun (Pasal 98 ayat 1,
pasal 99, pasal 102 dan pasal 103).
Pada Pasal 102 dan 103 UU No.32 Tahun 2009 bagi penghasil limbah B3
yang tidak melakukan pengelolaan limbah B3 tanpa izin dan tidak
melakukan pengelolaan limbah B3 maka penghasil dapat dikenakan sanksi
pidana dengan denda maksimal 3 milyar dan hukuman kurungan
maksimal 3 (tiga) tahun.
VI. Saran dan Rekomendasi Untuk Rumah Sakit
Click to edit Master text styles
o Untuk segera berkonsultasi dengan pemerintah kabupaten/kota melalui Badan
Lingkungan Hidup kabupaten/kota dalam upaya menerbitkan dokumen
lingkungan sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 3 ayat (1 dan 2) Peraturan
Pemerintah Nomor : 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan.

o Bagi pengelola rumah sakit yang telah memiliki dokumen lingkungan, untuk
segera melaksanakan seluruh ketentuan tentang pengelolaan dan pemantauan
lingkungan dan menyampaikan laporan pelaksanaan pengelolaan dan
pemantauan lingkungan tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Lanjutan
Mengurus
o Click izin pembuangan
to edit Master text styles limbah cair kepada pemerintah kabupaten/kota dimana lokasi
kegiatan berada sebagaimana ketentuan dalam Pasal 40 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor :
82 Tahun 2001 : Setiap usaha dan kegiatan yang akan membuang air limbah ke air atau sumber
air wajib mendapatkan izin tertulis dari Bupati/ Walikota

o Memenuhi segala ketentuan teknis yang dipersyaratkan, seperti pemenuhan baku mutu
sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor : 05 Tahun 2014 tentang
Baku Mutu Air Limbah.

o Menyampaian laporan tentang hasil pengukuran kualitas limbah cair, debit limbah harian yang
dibuang ke lingkungan dan beban pencemaran yang disampaikan kepada bupati/walikota dan
tembusan kepada gubernur dan menteri lingkungan hidup.
Lanjutan
Click to edit Master
o Melakukan text styles
seluruh ketentuan teknis yang dipersyaratkan, seperti melengkapi cerobong genset dan
incinerator dengan lobang sampling dan menetapkan titik koordinat pada lobang sampling cerobong
genset dan incinerator tersebut sebagaimana ketentuan dalam Kep. Men. LH Nomor : 205 Tahun 1996.

o Selanjutnya dalam hal pengukuran emisi dari sumber tidak bergerak seperti emisi dari genset harus
mengacu kepada Kep. Men. LH No. 13 Tahun 2009, sedangkan untuk sumber emisi dari Incenerator harus
mengacu kepada Tabel 3 Baku Mutu Emisi Udara Untuk Incenerator Kepdal 03 Tahun 1995 Tentang
Persyaratan Teknis Pengelolaan Limbah B3 .

o Segera menyampaian laporan tentang hasil pengukuran kualitas emisi gas buang dari sumber emisi yang
ada disampaikan kepada bupati/walikota dan tembusan kepada gubernur dan menteri lingkungan hidup.
Lanjutan
Melakukan
oClick inventarisasi
to edit Master dan mengelola terhadap seluruh limbah medis yang dihasilkan sesuai
text styles
dengan ketentuan dalam Permen. Kesehatan Nomor : 1204 Tahun. 2004.

o Tetap melakukan pengelolaan lanjutan limbah medis yang dihasilkan dengan cara dilakukan sendiri
dengan metode Thermal (dibakar)/incenerator atau menyerahkan kepada pihak III .

o Menyampaikan pelaporan terhadap data pengelolaan limbah medis yang dihasilkan kepada pihak
terkait.

o Setiap pengelolan rumah sakit harus membangun tempat penyimpanan sementara limbah B3 di
lokasi kegiatan dan mengurus izin tempat penyimpanan sementara kepada pemeritah
kabupaten/kota setempat hal ini sebagaimana ketentuan dalam Pasal 12 ayat (1, 2 dan 3) Peraturan
Pemerintah Nomor : 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.
Lanjutan
Click to edit Master text styles
o Dalam pengolahan limbah medis secara thermal/incenerator maka pengoperasian incenerator
wajib memiliki izin kementerian lingkungan sebagaimana diatur dala Peraturan Menteri
Lingkungan Hidup Nomor : 18 Tahun 2009.

o Bagi kegiatan rumah sakit yang tidak mempunyai alat pengolahan limbah medis secara thermal
(incenerator) wajib menyerahkan kepada pihak III yang telah memiliki izin.

o Dalam pengelolaan/penyimpanan limbah B3 di TPS Limbah B3 wajib membuat neraca limbah B3


yang dihasilkan dan yang diserahkan kepada pihak III dan melakukan upaya pengurangan
limbah B3 yang dihasilkan.
Lanjutan
Click to edit Master text styles
o Dalam pengelolaan/penyimpanan limbah B3 di TPS Limbah B3 wajib memenuhi ketentuan teknis
yang dipersyaratkan dan mengacu kepada Keputusan Kepala Bapedal Nomor : 01 Tahun 1995
tentang Tatacara Penyimpanan dan Pengumpulan Limbah B3 dan Peraturan Menteri Lingkungan
Hidup Nomor : 14 Tahun 2013 tentang Simbol dan Label Limbah B3.

o Pihak pengelola rumah sakit wajib menyampaikan laporan pengelolaan limbah B3 yang
dihasilkan per triwulan, laporan disampaikan kepada instansi yang mengeluarkan izin dan
tembusannya disampaikan kepada walikot/bupati, gubernur dan menteri lingkungan hidup.
VII.SARAN DAN REKOMENDASI UNTUK
PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA
o Melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan ketentuan perizinan yang diberikan kepada
Click to edit Master text styles
pengelola kegiatan rumah sakit sehingga didapatkan informasi tentang tingkat ketaatan atau
kepatuhannya.

o Meningkatkan pembinaan dan pengawasan terhadap usaha kegiatan rumah sakit sesuai
dengan ketentuan yang ada.

o Memberikan teguran atau sanksi terhadap usaha kegiatan rumah sakit berdasarkan hasil
pembinaan dan pengawasan yang telah dilaksanakan oleh BLH Provinsi Riau tahun 2015.

o Tetap berkoordinasi dengan BLH Provinsi Riau dalam pelaksanaan pemberian teguran atau
sanksi kepada pihak pengelola rumah sakit yang belum melaksanakan pengelolaan
lingkungannya.
Click to edit Master text styles

TERIMA KASIH..