Anda di halaman 1dari 21

1.

Estetik Filsafat
2. Estetik Ilmiah
3. Estetik Psikologis, Estetik Eksperimental
dan Estetik Matematis
4. Estetik dan Kritik Seni
5. Keindahan sebagai Nilai Estetis
Estetik merupakan merupakan cabang filsafat,
yang sampai abad ke 18 disebut dengan :
1. Filsafat Keindahan
2. Filsafat Citarasa
3. Filsafat Seni
4. Filsafat Kritik
Batasan ruang lingkup estetik yang diberikan oleh
para filsuf dan sarjana banyak ragamnya, tapi
pada umumnya yang diterima estetik adalah
yang membicarakan keindahan
Persoalan Keindahan terkait dengan persoalan:
1. objektifitas : apakah keindahan itu memang
terdapat pada suatu benda
2. Subjektifitas : apakah keindahan itu hanya
merupakan perasaan dalam diri seseorang yang
melihat suatu benda tertentu
Dengan perkembangan ilmu pengetahuan, termasuk
seni, keindahan dari alam tidak lagi menjadi pusat
perhatian orang. Persoalan tentang keindahan hanya
dihubungkan dengan seni saja.
Louis Kattsoff : cabang filsafat yang bertalian dengan
batasan, rakitan, dan peranan dari keindahan
khususnya dalam seni, disebut estetik.
Pada abad ke 19 pembahasan secara filsafat terhadap
keindahan tidak lagi memuaskan.
Hal ini disebabkan karena pengertian keindahan dirasakan
terlampau terbatas, atau terlampau kabur, kalau hanya
berupa pengertian abstrak yang tidak mempunyai landasan
sesuatu yang kongkrit.
Oleh karena itu, sebagian sarjana lebih menyukai sesuatu
gejala yang nyata dan melembaga dalam masyarakat
sebagai sasaran estetik yang dipelajari secara empiris dan
ilmiah.
Penelaahan dengan metode perbandingan dan analisa
teoritis serta penyatu paduan secara kritis menghasilkan
sekelompok pengetahuan ilmiah yang dianggap tidka dapat
tertampung oleh estetik sebagai filsafat tentang keindahan.
Dari sudut lain orang mempelajari pula persoalan
tentang pengalaman estetik secara empiris. Yang
mempelajari seni dengan pendekatan ini adalah para
ahli psikologi dengan menggunakan metode ilmu
tersebut. Salah seorang pelopor ilmu ini adalah Gustav
Theodor Fechner ahli fisika, psikologi, antropologi
dan seorang filsuf dari Jerman (1801 1887).
Dengan menerapkan metode eksperimental seperti
dalam psikologi, Fechner berusaha menemukan
kaidah-kaidah atau dalil-dalil mengapa orang
menghargai sesuatu hal indah yang tertentu dan tidak
atau kurang menyukai yang lainnya.
Sasaran yang diselidikinya bukanlah sesuatu keseluruhan
karya seni, melainkan komponen-komponen yang paling
dasar terutama bentuk-bentuk dan sifat-sifat yang dapat
diserap pancaindera seperti bangun-bangun geometri
(garis, segi tiga, empat persegi, lingkaran) warna, nada, dan
berbagai kombinasi dari unsur-unsur seni itu.
Pendapat-pendapat perseorangan itu dicatat dan
kemudian diolah dengan perhitungan statistik sehingga
diperoleh :
1. Unsur-unsur bagaimana umumnya disukai kebanyakan
orang dalam penyerapan, berikut pilihannya.
2. Faktor apa yang mempengaruhi pilihan kebanyakan
orang itu.
Penggunaan metode kuantitatif dalam estetik
berupa pengukuran dan penghitungan untuk
menentukan ukuran estetis yang dapat
menyatakan besarnya nilai keindahan atau kadar
perasaan estetis.
Hasil perumusan ukuran estetis itu diusahakan
penuangannya dalam rumus-rumus berupa suatu
persamaan (estetik matematis)
Estetik ini misalnya mencoba menghitung ukuran
estetis dari berbagai bangunan segi banyak untuk
menentukan bentuk-bentuk bagaimana yang
menimbulkan perasaan puas.
Kritik seni adalah suatu kegiatan yang ditujukan pada
katay seni tertentu (paling banyak pada sekumpulan
karya seni yang tergolong dalam style yang sama,
misalnya sejumlah patung yang dibuat oleh seorang
seniman dalam masa tertentu), jadi hasil kritik seni
tidak bisa berlaku umum untuk karya-karya seni
lainnya dari orang yang sama, apalagi dari seniman
yang berbeda.
Tujuan dari kritik seni adalah : memperbesar
pemahaman, meningkatkan apresiasi atau membuka
nata dari publik terhadap sesuatu yang bermutu yang
mungkin terluput dari pengematan mereka.
Untuk itu diperlukan pengetahuan filsafat seni dan
cabang-cabang estetik lainnya.
Nilai sering dipakai sebagai suatu kata benda abstrak
yang berarti keberhargaan (worth) atau kebaikan
(goodness).
Dictionary of Sociology and Related Sciences : Nilai
(value) adalah kemampuan yang dipercayai ada pada
sesuatu benda untuk memuaskan suatu keinginan
manusia. Sifat dari suatu benda yang menyebabkannya
menarik minat seseorang atau suatu golongan. Nilai
adalah semata-mata suatu realita psikologis yang
harus dibedakan secara tegas dari kegunaannya,
karena terdapat dalam jiwa manusia dan bukan pada
bendanya itu sendiri.
Nilai Objektif dan Nilai Subjektif
Nilai Perseorangan dan Nilai
Kemasyarakatan
Nilai Ekstrinsik dan Nilai Intrinsik
Nilai Positif dan Nilai Negatif
Nilai Ekstrinsik : sifat baik atau bernilai dari sesuatu
benda sebagai suatu alat atau sarana untuk sesuatu
yang lain, atau sering juga disebut instrumental
(contributory) value, atau nilai yang bersifat alat atau
membantu
Nilai Instrinsik : sifat baik atau bernilai dalam dirinya
atau sebagai suatu tujuan ataupun demi kepentingan
sendiri dari benda yang bersangkutan. Atau sering juga
disebut consummatory value (nilai yang telah lengkap
atau mencapai tujuan yang dikehendaki. Umumnya
diakui sebagai nilai instrinsik itu adalah kebenaran,
kebaikan dan keindahan.
Pembedaan ini menunjukkan kepada Nilai Positif adalah sesuatu
yang baik atau bernilai dan Nilai Negatif sebagai lawannya, dan
sering juga disebut sebagai disvalue (tiada bernilai)
Nilai estetis selain terdiri dari keindahan sebagai nilai yang
positif kini dianggap pula meliputi nilai yang negatif (ugliness).
Kejelekan tidaklah berarti kekosongan atau kurangnya ciri-ciri
yang membuat sesuatu benda disebut indah, melainkan
menunjukkan pada ciri-ciri yang nyata-nyata bertentangan
sepenuhnya dengan kualitas yang indah itu.
Keindahan dan Kejelekan sebagai nilai estetis yang positif dan
yang negatif menjadi sasaran penelaahan dari estetik filsafat.
Dan nilai estetis pada umumnya kini diartikan sebagai
kemampuan dari suatu benda untuk menimbulkan suatu
pengalaman estetis.
Salah satu persoalan pokok dari Teori
Keindahan ialah mengenai sifat dasar
keindahan, apakah keindahan merupakan
sesuatu yang ada pada benda indah ataukah
hanya terdapat dalam alam pikiran orang
yang mengamati benda tersebut?
Maka muncullah dua kelompok :
1. Teori keindahan objektif
2. Teori keindahan subjektif
Teori Keindahan objektif berpendapat bahwa
keindahan atau ciri-ciri yang menciptakan nilai
estetis adalah sifat (kualitas) yang memang
telah melekat pada benda indah yang
bersangkutan, terlepas dari orang yang
mengamatinya.
Teori Subjetif menyatakan bahwa ciri-ciri yang
menciptakan keindahan pada sesuatu benda
sesungguhnya tidak ada. Yang ada hanya
tanggapan perasaan dalam diri seseorang
yang mengamati sesuatu benda.
Teori perimbangan tentang keindahan dari
bangsa Yunani dulu dipahami pual dalam arti
yang lebih terbatas, yakni secara kuantitatif
yang diungkapkan dengan angka-angka.
Misalnya bentuk empat persegi dan elipse
yang masing-masing mempunyai proposi 3 : 5,
akan memberikan perimbangan yang
menyenangkan secara visual.
Benda estetik : benda alam atau karya manusia yang
mengandung nilai estetik.
Nilai estetik : nilai yang mengandung kapasitas untuk
menimbulkan tanggapan estetik.
Pengalaman estetik : merupakan tanggapan nilai
estetik yang timbul dalam mengamati benda tertentu.
Dahulu orang menumpukan pembahasan tentang
sifat-sifat yang menjadi kualitas benda estetik, tetapi
sekarang orang juga mengkaji kualitas pengalaman
estetik itu, sperti dorongan batin, suasana kalbum
proses pengkhayalan dan pencerapan, yang menjadi
syarat untuk terciptanya atau dinikmatinya karay seni.
Menikmati sesuatu perkara yang indah, misalnya
mendengar musik, menonton film yang
mengasyikan, melihat pemandangan yang
mempesonakan, merupakan pengalaman estetik.
Tentang pengalaman estetik itu bermacam-
macam pendapat ahli :
Corak pengalaman estetik : ialah penyeimbangan
dorongan-dorongan hati, karena menikmati
karya seni.
Keselarasan dinamis perenungan yang
menyenangkan, dalam mana orang mempunyai
perasaan-perasaan yang seimbang dan tenang
Menjadi satunya si pengamat dengan karya seni yang
dilihatnya, tak merasa akan dirinya sendiri sendiri
(pendapat ini berhubungan dengan pandangan mistik)
Pengamatan yang sifatnya tidak berkepentingan, yaitu
terhadap benda estetik tanpa tujuan apapun, selain
dari pada perbuatan pengamatan itu sendiri, jadi
pengamatan demi pengamatan sendiri tidak untuk
maksud yang lebih jauh. Misalnya : Hakim MTQ
mendengar bacaan Quran yang dilagukan dengan
mkasud memberikan kepada tajwid, suara dll, artinya
orang itu mendengarkan bacaan al-Quran untuk
penilaian. Sikap ini tidak menimbulkan pengalaman
estetikm karena ia berkepentingan untuk mencapai
sesuatu maksud.
Pengalaman estetik tidak timbul dengan sendirinya
dan tidak mudah dipertahankan. Untuk mendapatkan
pengalaman itu, orang harus menumpahakn
perhatiannya terpusat dan kesadaran indera yang
penuh pada benda estetik yang diamati, dengan
berbagai sifat dalam benda itu, tanpa
menghubungkannya dengan perkara-perkara lain di
luarnya.
Ada beberapa perkara yang menghambat atau
mengganggu timbulnya pengalaman estetik, yaitu :
yang perkara-perkara yang berasal dari pengamat dan
perkara-perkara yang berasal dari benda estetik itu
sendiri.
1. Perkara-perkara yang berasal dari diri si pengamat, adalah
hambatan yang berupa sikap praktis, sikap ilmiah dan
melibatkan diri. Apabila suatu karya seni dipengaruhi oleh
kegunaan benda itu, kajian tenatnga benda itu atau
menanggapi hubungan diri dengan benda estetik itu, maka
terhambat atau terganggulah timbulnya pengalaman estetik.
2. Perkara-perkara yang berasal dari benda estetik itu sendiri,
seperti kesenadaan (monoton) dan kekacauan (confusion)
kalau diperdabat pada benda, adalah sifat-sifat itu
menghambat timbulnya pengalaman estetik. Lawan daripada
kesenadaan adalah keragaman (variety) dan lawan dari
kekacauan adalah kesatuan (unity), dapat menimbulkan
pengalaman estetik.
Pengulangan-pengulangan yang senada dalam karya seni
tidak menarik minat orang karena itu harus ada keragaman.
Tapi keragaman itu harus diikat oleh kesatuan tema, tanpa
itu keragaman memberikan suasana kacau.