Anda di halaman 1dari 70

GAMBARAN PERIODONTITIS KRONIS PADA PASIEN ASMA

YANG MENGGUNAKAN INHALER BETA-2 AGONIS DAN


ATAU KOMBINASI KORTIKOSTEROID DI POLIKLINIK
PARU RSUD MEURAXA BANDA ACEH

Pembimbing 1 : drg. Sunnati, Sp.Perio


Pembimbing 2 : Viona Diansari, S.Si, M.Si
Penguji 1 : drg. Dewi Saputri, Sp.Perio
Penguji 2 : Afrina, S.Ked, M.Si
BAB 1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
ASMA Peradangan Kronis

Bronkokonstriksi
dan menghasilkan
lendir (mucus)

Sulit bernapas
lanjutan

Saluran Pernapasan

Hiperesponsif

Batuk

Sesak
lanjutan

ASMA

Faktor Faktor
Genetik Lingkungan
Lanjutan

Menurut Global Initiative for Asthma


(GINA) :
Asma diderita 300 juta orang
diseluruh dunia (pada semua usia) &
45,7 juta orang di Asia Tenggara.
Diperkirakan 2025 bertambah 100
juta orang lagi.
Lanjutan

RISKESDAS Nasional 2013 :


Prevalensi asma di Indonesia 4,5%
sedangkan di Aceh 4%

Prevalensi asma meningkat seiring bertambahnya usia dan


mulai menurun pada kelompok umur 45 tahun
Tingkat keparahan Asma Modalitas Perawatan :
Beta 2-agonis, kortikosteroid
(oral / inhaler), antihistamin,
penstabil sel mast

Perawatan asma memiliki dua tujuan utama :


Mengontrol serta mengurangi peradangan saluran pernapasan
Membuka kembali saluran pernapasan.

Lanjutan
Lanjutan
Kontinuitas anatomi antara paru-paru dan rongga mulut membuat
kedua reservoir berpotensi dari patogen pernapasan.

Status asma bersamaan dengan penggunaan


obat inhaler dapat mengakibatkan: peningkatan
insidensi karies gigi, penyakit periodontal,
halitosis, perubahan pada laju aliran saliva dan
pH, xerostomia, kandidiasis orofaring, mulut
terbakar, geographic tongue, dermatitis
perioral, dan angina bullosa hemorragica
Penyakit periodontal diketahui sebagai penyakit
peradangan dengan dengan suatu reaksi plak
bakterial yang mengakibatkan peradangan kronis,
perdarahan gingiva, peningkatan kedalaman poket,
dan akhirnya, kehilangan tulang alveolar.

Salah satu penyakit periodontal yang sering terjadi


adalah periodontitis. Periodontitis adalah
peradangan pada jaringan periodontal yang ditandai
dengan kehilangan perlekatan jaringan ikat dan
kehilangan tulang alveolar.

Lanjutan
Lanjutan

Beberapa penelitian yang membahas tentang


hubungan penyakit periodontal dan asma dilaporkan
memiliki hasil yang bervariasi.

Stenson (2011), Shashikiran


(2007), Yaghobee (2007), dan
McDeera (1998) : penderita
asma memiliki kesehatan
periodontal yang lebih buruk
dibandingkan kelompok kontrol.
Lanjutan

Eloot (2004) dan Shulman (2003) :


Tidak menemukan adanya perbedaan
prevalensi dari penyakit periodontal pada
penderita asma
Berdasarkan latar belakang tersebut,
peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian mengenai gambaran
periodontitis pada pasien asma yang
menggunakan inhaler beta-2 agonis
dan atau kombinasi kortikosteroid di
Poliklinik Paru RSUD Meuraxa Banda
Aceh
Rumusan Masalah

Bagaimana gambaran periodontitis kronis pada


pasien asma yang mengggunakan inhaler beta-2
agonis dan atau kombinasi kortikosteroid di
Poliklinik Paru RSUD Meuraxa Banda Aceh
Tujuan Penelitian

Melihat gambaran periodontitis kronis pada


pasien asma yang menggunakan inhaler beta-2
agonis dan atau kombinasi kortikosteroid di
Poliklinik Paru di RSUD Meuraxa Banda Aceh
Lanjutan
Tujuan Khusus
o Untuk mengetahui gambaran karakteristik Beta-2 agonis dan atau
kombinasi kortikosteroid terhadap periodontitis kronis pada pasien
asma pengguna inhaler Beta-2 agonis dan atau kombinasi
kortikosteroid.

o Untuk mengetahui gambaran karakteristik dosis tunggal Beta-2


agonis terhadap periodontitis kronis pada pasien asma pengguna
inhaler Beta-2 agonis dan atau kombinasi kortikosteroid.

o Untuk mengetahui gambaran karakteristik dosis kombinasi Beta-2


agonis dan kortikosteroid terhadap periodontitis kronis pada pasien
asma pengguna inhaler Beta-2 agonis dan atau kombinasi
kortikosteroid.
Lanjutan
Tujuan Khusus
Untuk mengetahui gambaran karakteristik alat bantu inhalasi
terhadap periodontitis kronis pada pasien asma pengguna inhaler
Beta-2 agonis dan atau kombinasi kortikosteroid.

Untuk mengetahui gambaran karakteristik jenis kelamin terhadap


periodontitis kronis pada pasien asma pengguna inhaler Beta-2
agonis dan atau kombinasi kortikosteroid.

Untuk mengetahui gambaran karakteristik usia terhadap periodontitis


kronis pada pasien asma pengguna inhaler Beta-2 agonis dan atau
kombinasi kortikosteroid.
Manfaat Penelitian
Bagi Peneliti
Menambah ilmu pengetahuan dan
wawasan peneliti dalam bidang kedokteran
gigi (khususnya periodontologi) tentang
gambaran periodontitis kronis pada pasien
asma yang menggunakan inhaler beta-2
agonis dan atau kombinasi kortikosteroid
di RSUD Meuraxa Banda Aceh.
lanjutan

Bagi Institusi

Dapat digunakan sebagai informasi dan menambah


literatur kepustakaan mengenai efek penggunaan
inhaler pada penderita asma dan juga dapat
dijadikan sebagai acuan untuk penelitian
selanjutnya
lanjutan

Bagi Subjek Penelitian

Memberikan pengetahuan dan


informasi bahwa pengguaan inhaler
pada penderita asma dapat berdampak
pada kesehatan gigi dan mulut
lanjutan

Bagi Masyarakat

Memberi informasi mengenai efek penggunaan inhaler


Beta-2 agonis dan atau kombinasi kortikosteroid pada
penderita asma dan kaitannya dengan kesehatan gigi
dan mulut
BAB 2
Tinjauan Pustaka
Kerangka Teori
Asma
Plak

Bronkokonstriksi
Kalkulus

Edema saluran nafas


Merokok
Diabetes melitus
Remodeling saluran napas
Stress
Obesitas
Inhaler Beta-2
Sosioekonomi
Inhaler Beta-2
Agonis Agonis dan atau
kombinasi
kortikosteroid

Periodontitis Kronis
Short Acting Long Acting
Beta-2 agonist Beta-2 agonist
(SABA) (LABA)
Kehilangan perlekatan

Penurunan saliva
Pembentukan poket
Dehidrasi mukosa

Mouth breathing Kehilangan tulang alveolar


BAB 3
Kerangka
Konsep
Kerangka Konsep
Variabel Penelitian

Pasien asma pengguna inhaler Perodontitis kronis


beta-2 agonis dan atau
kombinasi kortikosteroid

Beta-2 agonis dan atau kombinasi kortikosteroid


Dosis tunggal beta-2 agonis
Dosis kombinasi beta-2 agonis dan kortikosteroid
Alat bantu inhalasi
Jenis kelamin
Usia
Identifikasi Variabel Penelitian dan Defenisi Operasional

NO Varibel Definisi Cara Ukur Alat Satuan Skala


Operasional Ukur

1. Beta-2 Satu atau Observasi Rekam 1. Short Nominal


agonis dan gabungan dari rekam medik Acting
atau beberapa obat medik Beta-2
kombinasi yang pasien agonists
kortiko- diresepkan (SABA)
steroid untuk 2. Long Acting
manajemen Beta-2
asma agonists
digunakan (LABA)
dengan teknik 3. Kombinasi
inhalasi. Beta-2
agonis dan
kortiko
steroid
lLanjutan

NO Varibel Definisi Cara Ukur Alat Satuan Skala


Operasional Ukur
2 Dosis Takaran obat Beta-2 Observasi Rekam Dosis perhari: Ordinal
Tunggal agonis menimbulkan rekam medik medik 1. <50 g
Beta-2 efek farmakologi tepat pasien 2. 50-100 g
agonis dan aman (Dosis Beta-2 3. >100 g
agonis perhari tanpa
ditambahkan
kortikosteroid).

3 Dosis Takaran obat Beta-2 Observasi Rekam Dosis perhari: Ordinal


kombinasi agonis dan kombinasi rekam medik medik 1. <400 g
Beta-2 kortikosteroid yang pasien 2. 400-800 g
agonis dan menimbulkan efek 3. >800 g
kortiko- farmakologi tepat dan
steroid aman (Dosis Beta-2
agonis perhari
ditambahkan
kortikosteroid)
lLanjutan

NO Varibel Definisi Cara Ukur Alat Satuan Skala


Operasional Ukur
4. Alat bantu Alat yang digunakan Observasi Rekam 1. Metered Dose Nominal
inhalasi untuk menghantarkan rekam medik medik Inhaler (MDI)
obat kedalam rongga pasien 2. Dry Powder
mulut. Inhaler (DPI)
3. Nebulizer

5. Periodon- Penyakit pada jaringan Pemeriksaan Prob Menurut WHO: Ordinal


titis kronis pendukung gigi, diawali poket perio- <3 mm = tidak ada
dengan munculnya periodontal dontal Periodontitis
3-4 mm = periodontitis
peradangan pada
ringan
gingiva dan ditandai 4-5 mm = periodontitis
dengan terbentuknya sedang
poket, kehilangan >5 mm = periodontitis
perlekatan jaringan ikat berat
dan kegoyangan gigi
lLanjutan

NO Varibel Definisi Cara Ukur Alat Satuan Skala


Operasional Ukur
6. Jenis Perbedaan antara Observasi Rekam 1. Laki-laki Nominal
Kelamin perempuan dan laki- rekam medik medik 2. Perempuan
laki secara biologis pasien

7. Usia Lama waktu hidup Observasi Rekam 1. 30-34 tahun Nominal


sejak dilahirkan rekam medik medik 2. 35-49 tahun
pasien 3. 50-64 tahun
4. 65 tahun
BAB 4
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian:

Penelitian deskriptif (penelitian


noneksperimental) dengan desain
cross sectional
Waktu dan Tempat Penelitian:

Penelitian dilakukan pada bulan Maret 2017


di Poliklinik Paru RSUD Meuraxa Banda Aceh
Populasi dan Subjek Penelitian

Populasi
Seluruh pasien asma di poli paru
RSUD Meuraxa Banda Aceh

Subjek
Pasien asma pengguna inhaler Beta-2
agonis dan atau kombinasi
kortikosteroid yang memenuhi kriteria
inklusi
Kriteria Inklusi

Penderita asma yang telah didiagnosis oleh


dokter Spesialis Paru RSUD Meuraxa Banda
Aceh

Menggunakan obat inhaler beta-2 agonis


dan atau kombinasi kortikosteroid

Usia 30 tahun

Kooperatif selama penelitian


Kriteria Eksklusi

Tidak memiliki gigi-geligi rahang atas


dan rahang bawah (full edentulous)

Memiliki riwayat hemofilia


Alat dan Bahan Penelitian

Alat
Prob periodontal (prob UNC-15)
Pinset gigi
Sonde halfmoon
Kaca mulut no. 4
Nierbekken
Alat tulis
Senter
Kursi
lanjutan

Bahan
Masker
Sarung tangan
Alkohol 70%
Larutan antiseptik
Kapas
Air mineral
Gelas plastik
Tisu
Informed Consent
Lembar seleksi subjek
Lembar kuisioner
Formulir pemeriksaan
Jenis Data
Data yang diambil pada penelitian ini bersumber dari data
sekunder, yaitu data yang diperoleh dari rekam medik di
RSUD Meuraxa, selanjutnya dilakukan pemeriksaan
langsung terhadap pasien untuk melihat periodontitis
kronis
Seleksi Subjek Penelitian

Pemeriksaan Klinis
lanjutan

Seleksi subjek
Observasi rekam medik di poliklinik
paru RSUD Meuraxa.
Dilanjutkan dengan wawancara pada
subjek (yang memenuhi kriteria inklusi)
Mengisi lembar identitas subjek
penelitian
lanjutan

Pemeriksaan Klinis
Pemeriksaan poket periodontal dengan
menggunakan prob periodontal dan kaca mulut,
dengan cara memasukkan prob periodontal
kedalam sulkus gingiva.
Pemeriksaan pada 6 gigi indeks yang telah
ditentukan (gigi 16, 21, 24, 36, 41, 44)
Dilakukan pencatatan data dari hasil pemeriksaan
klinis setiap subjek penelitian pada formulir
pemeriksaan.
Manajemen dan Analisis Data
Data dikumpulkan melalui pemeriksaan klinis pada
subjek penelitian.
Sistem pencatatan diolah dan di analisis secara deskriptif
untuk melihat gambaran periodontitis kronis pada pasien
asma pengguna inhaler beta-2 agonis dan atau kombinasi
kortikosteroid.
Data disusun menjadi suatu distribusi frekuensi dan
disajikan dalam bentuk tabel
Mendapat izin dari Badan Etik Penelitian Fakultas
Kedokteran Gigi Universitas Syiah Kuala.

Mendapat izin dari RSUD Meruraxa Banda Aceh.

Mendapatkan persetujuan dan pengisian informed


consent oleh subjek penelitian.
Izin penelitian dari Badan Komite Etik FKG Unsyiah

Surat izin penelitian dari FKG Unsyiah

Surat izin penelitian dari RSUD Meuraxa Banda Aceh

Subjek Penelitian

Kriteria inklusi Kriteria ekslusi

Alur Wawancara Diberikan

penelitian Informed consent


informasi untuk
menjaga kesehatan
gigi dan mulut

Pemeriksaan klinis

Pengumpulan data

Pengolahan data

Analisis data

Laporan hasil
BAB 5
HASIL PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan pada
tanggal 14-31 Maret 2017 di
Poliklinik Paru Rumah Sakit Umum
Daerah (RSUD) Meuraxa Banda Aceh.

Jumlah pasien asma selama penelitian adalah


20 orang dengan 3 orang pasien dieksklusi
yang terdiri dari 1 orang pasien tanpa gigi-
geligi rahang atas dan rahang bawah dan 2
orang berusia dibawah 30 tahun.

Maka pada penelitian ini didapatkan


17 subjek penelitian yang memenuhi
kriteria inklusi penelitian
1 Karakteristik Subjek Penelitian
Jumlah Persentase
Variabel
Subjek (%)
Beta-2 agonis dan atau Kombinasi
Kortikosteroid
Short Acting Beta-2 agonists (SABA) 0 0
Long Acting Beta-2 agonists (LABA) 0 0
Kombinasi Beta-2 agonis dan kortikosteroid 17 100

Dosis Tunggal Beta-2 Agonis (g)


<50 2 11,8
50-100 12 70,6
>100 3 17,6

Dosis Kombinasi Beta-2 Agonis dan


Kortikosteroid (g)
<400 7 41,1
400-800 10 58,9
>800 0 0
Lanjutan

Karakteristik Subjek Penelitian

Jumlah Persentase
Variabel
Subjek (%)
Alat Bantu Inhalasi
Metered Dose Inhaler (MDI) 10 58,9
Dry Powder Inhaler (DPI) 7 41,1
Nebulizer 0 0

Jenis Kelamin
Laki-laki 10 58,9
Perempuan 7 41,1

Usia (Tahun)
30-34 2 11,8
35-49 2 11,8
50-64 6 35,3
65 7 41,1
2

Periodontitis Kronis dan Tidak Periodontitis

Jumlah Persentase
Periodontitis
Subjek (%)
Periodontitis 15 88,2
Tidak Periodontitis 2 11,8
3

Periodontitis Kronis

Jumlah Persentase
Periodontitis Kronis
Subjek (%)
Periodontitis Ringan 9 60
Periodontitis Sedang 5 33,3
Periodontitis Parah 1 6,7
4

Periodontitis Kronis dan Beta-2 Agonis dan atau Kombinasi Kortikosteroid

Beta-2 agonis Jumlah Periodontitis Kronis


dan atau
Subjek Ringan Sedang Parah
kombinasi
kortikosteroid N (%) N (%) N (%)
Short Acting Beta-2
0 0 0 0 0 0 0
agonists (SABA)

Long Acting Beta-2


0 0 0 0 0 0 0
agonists (LABA)
Kombinasi Beta-2
Agonis dan 15 9 60 5 33,3 1 6,7
Kortikosteroid
5

Periodontitis Kronis dan Dosis Tunggal Beta-2 Agonis

Dosis Beta-2 agonis Jumlah Periodontitis Kronis


(g) Subjek Ringan Sedang Parah
N (%) N (%) N (%)
<50 2 2 100 0 0 0 0
50-100 10 5 50 4 40 1 10
>100 3 2 66,7 1 33,3 0 0
6

Periodontitis Kronis dan Dosis Kombinasi Beta-2


Agonis dan Kortikosteroid

Periodontitis Kronis
Dosis Kombinasi
Jumlah
Beta-2 agonis dan Ringan Sedang Parah
Kortikosteroid (g) Subjek
N (%) N (%) N (%)

<400 5 3 60 2 40 0 0

400-800 10 6 60 3 30 1 10

>800 0 0 0 0 0 0 0
7
Periodontitis Kronis dan Alat Bantu Inhalasi

Periodontitis Kronis

Alat Bantu Inhalasi Jumlah Subjek Ringan Sedang Parah

N (%) N (%) N (%)

Metered Dose Inhaler


9 5 55,6 3 33,3 1 11,1
(MDI)
Dry Powder Inhaler
6 4 66,7 2 33,3 0 0
(DPI)

Nebulizer 0 0 0 0 0 0 0
8
Periodontitis Kronis dan Jenis Kelamin

Periodontitis Kronis

Jumlah
Jenis Kelamin Ringan Sedang Parah
Subjek

N (%) N (%) N (%)

Laki-laki 9 7 77,8 1 11,1 1 11,1

Perempuan 6 2 33,3 4 66,7 0 0


9
Periodontitis Kronis dan
Usia

Periodontitis Kronis
Jumlah
Usia (Tahun) Ringan Sedang Parah
Subjek
N (%) N (%) N (%)

30-34 0 0 0 0 0 0 0

35-49 2 2 100 0 0 0 0

50-64 6 3 50 3 50 0 0

65 7 4 57,1 2 28,6 1 14,3


BAB 6
PEMBAHASAN
Periodontitis merupakan salah satu penyakit
periodontal yang sering terjadi

Periodontitis kronis didefinisikan sebagai


suatu penyakit infeksi yang mengakibatkan
peradangan pada jaringan pendukung gigi,
kehilangan perlekatan yang progresif, dan
kehilangan tulang, dan ditandai dengan
terbentuknya poket dan atau resesi gingiva.

Periodontitis kronis dapat terjadi pada semua


usia, tetapi paling sering terjadi pada orang
dewasa
Penelitian dilaksanakan Maret 2017 di Poli Paru RSUD Meuraxa

Seleksi subjek : 17 pasien asma menggunakan obat inhaler

10 orang laki-laki dan 7 orang perempuan

Wawancara subjek penelitian : data personal dan riwayat medis

pemeriksaan klinis >>> pemeriksaan poket periodontal


Pasien asma yang menggunakan obat-obatan
inhaler kombinasi beta-2 agonis dan
kortikosteroid mengalami periodontitis 88,2%

periodontitis paling banyak pada


periodontitis ringan yaitu 60%

sesuai dengan penelitian Stenson (2011), Shashikiran (2007),


Yaghobee (2007), dan McDeera (1998) : pasien asma memiliki
kesehatan periodontal yang buruk

Penderita asma kesulitan bernapas melalui hidung dan bernapas


dari mulut dapat menyebabkan dehidrasi mukosa oral dan
berkontribusi untuk terjadinya periodontitis
dosis tunggal beta-2 agonis yang paling banyak
digunakan adalah 50-100 g

dosis kombinasi beta-2 agonis dan kortikosteroid


paling banyak dipakai adalah 400-800 g

Periodontitis

penggunaan obat inhaler yang mengakibatkan penurunan laju aliran


dan volume saliva

Penggunaan kortikosteroid berpengaruh terhadap penurunan


kepadatan mineral tulang

indeks kalkulus pada pasien asma biasanya lebih tinggi >>>


berkaitan dengan peningkatan kadar kalsium dan fosfor dalam
saliva
alat bantu inhalasi paling banyak digunakan : Metered Dose Inhaler
(MDI) dengan 55,6% diantaranya mengalami periodontitis ringan

alat bantu inhalasi Dry Powder Inhaler (DPI) penggunanya


lebih sedikit, dengan periodontitis ringan 66,7%

berkaitan dengan cara penggunaan melalui rongga


mulut & dapat mengakibatkan obat terdeposit secara lokal
di sekitar orofaring.
Sisa obat yang tertinggal pengaruhi aliran saliva dan
konsentrasi sekretori Imunoglobulin A (sIgA)
peningkatan konsentrasi Imunoglobulin E (IgE)
Subjek laki-laki lebih banyak dibandingkan
subjek perempuan dengan 77,8% diantaranya
mengalami periodontitis ringan .

Jenis kelamin ialah salah satu faktor resiko


pada asma (prevalensi pada laki-laki
sedikit lebih tinggi dari perempuan).
Laki-laki umumnya memiliki kesehatan
rongga mulut yang lebih buruk dari
perempuan (indeks plak dan kalkulus pada
laki-laki lebih tinggi).
Namun, perbedaan jenis kelamin pada
prevalensi dan keparahan periodontitis
lebih berkaitan dengan praktek
pencegahan daripada faktor genetik.
berdasarkan usia subjek penelitian, kelompok usia 65 tahun adalah
yang paling banyak dibandingkan kelompok usia lain

57,1% dari kelompok tersebut


mengalami periodontitis ringan

Berhubungan dengan proses penuaan yang terjadi seiring


bertambahnya usia (baik pada sel-sel jaringan periodontal
maupun sel-sel pernapasan)

Riwayat medis, daya tahan tubuh, nutrisi, kebiasaaan


merokok, faktor genetik, pemakaian obat tertentu,
kesehatan mental, dan faktor sosio-ekonomi juga dapat
memodifikasi hubungan penyakit periodontal dan usia.
BAB 7
KESIMPULAN
DAN SARAN
KESIMPULAN

Pasien asma paling banyak mengalami periodontitis kronis


sebesar 88,2%.

Subjek penelitian yang mengalami periodontitis paling


banyak pada periodontitis ringan sebesar 60%.

Subjek penelitian yang menggunakan dosis tunggal beta-2


agonis paling banyak mengalami periodontitis ringan dan
dosis 50-100 g adalah yang paling sering dipakai.

Subjek penelitian yang menggunakan dosis kombinasi beta-


2 agonis dan kortikosteroid paling banyak dengan
periodontitis ringan dan dosis 400-800 g adalah yang
paling sering dipakai.
Lanjutan

KESIMPULAN

Subjek penelitian paling banyak menggunakan alat bantu


inhalasi jenis Metered Dose Inhaler (MDI) dengan 55,6%
mengalami periodontitis ringan.

Subjek penelitian yang berjenis kelamin laki-laki lebih


banyak dibandingkan subjek penelitian perempuan, dan
paling banyak mengalami periodontitis ringan.

Subjek penelitian yang berusia 65 tahun paling banyak


mengalami periodontitis ringan
SARAN

Disarankan untuk dapat dilakukan penelitian lebih lanjut dengan


jumlah subjek yang lebih besar mengenai gambaran periodontitis
kronis pada pasien asma yang menggunakan inhaler beta-2 agonis
dan atau kombinasi kortikosteroid di Poliklinik Paru pada rumah
sakit lainnya agar dapat dijadikan pembanding dengan hasil yang
didapatkan di Poliklinik Paru RSUD Meuraxa Banda Aceh.

Disarankan untuk dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai


hubungan antar variabel sehingga hasil yang didapatkan bisa
menambah informasi mengenai faktor-faktor yang berperan
terhadap periodontitis kronis pada pasien asma yang menggunakan
inhaler beta-2 agonis dan atau kombinasi kortikosteroid
Lanjutan
* SARAN *
Disarankan untuk dilakukan penelitian lebih lanjut dengan melakukan
pemeriksaan plak, kalkulus, dan perdarahan gingiva serta faktor sistemik
lain sehingga hasil yang didapatkan bisa menambah informasi mengenai
faktor-faktor yang berperan terhadap periodontitis kronis pada pasien
asma yang menggunakan inhaler beta-2 agonis dan atau kombinasi
kortikosteroid.

Diharapkan adanya sosialisasi oleh pihak rumah sakit mengenai


pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut pada pasien asma yang
menggunakan inhaler beta-2 agonis dan atau kombinasi kortikosteroid.

Diharapkan adanya sosialisasi dari Poliklinik Paru RSUD Meuraxa Banda


Aceh kepada pasien asma agar berkumur setelah menggunakan obat-
obatan inhaler beta-2 agonis dan atau kombinasi kortikosteroid.