Anda di halaman 1dari 27

Oleh:

Eko Setyo Herwanto


201710401011017

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2017
Hipertensi dalam kehamilan
hipertensi yang terjadi saat kehamilan
berlangsung.
Tekanan darah sekurang-kurangnya
140 mmHg sistolik atau 90 mmHg
diastolik
Preeklampsia-
Hipertensi Kronik
eklampsia

Hipertensi kronik
dengan Hipertensi
superimposed gestasional
preeklampsia
Hipertensi Kronik
hipertensi yang terjadi sebelum kehamilan atau
terdeteksi pada usia kehamilan < 20 minggu.

Hipertensi gestasional
hipertensi yang terjadi pada usia kehamilan 20
minggu tanpa disertai gangguan atau disfungsi
organ termasuk proteinuria.
Hipertensi kronik dengan superimposed
preeklampsia
Hipertensi kronis superimposed preeklamsi
merupakan hipetensi kronis diikuti proteinuri yang
baru terjadi pada usia 20 minggu
Preeklamsia
timbulnya hipertensi, proteinuria atau gangguan fungsi
organ akibat kehamilan, pada umur kehamilan lebih
dari 20 minggu atau segera setelah persalinan

Eklamsia
kelainan akut pada wanita hamil, dalam persalinan
atau nifas yang ditandai dengan timbulnya kejang atau
koma yang sebelumnya menunjukkan gejala-gejala
preeklampsia.
Kematian ibu berkisar antara
9,8% - 25,5%,

Kematian bayi sebesar 42,2% -


48,9%,

kematian ibu dan bayi di negara-


negara maju lebih kecil ANC
Penyebab masih belum diketahui secara pasti

Faktor risiko yang mendasari

Nullipara
Kehamilan ganda
Obesitas
Riwayat keluarga preeklampsia dan eklampsia
Riwayat preeklampsia pada kehamilan sebelumnya
Diabetes mellitus gestasional
trombofilia
hipertensi atau penyakit ginjal
Insiden
Negara maju 4-5 kasus per 10.000 kelahiran hidup. Pada
negara berkembang 6-10 kasus per 10.000 kelahiran hidup.

Angka kematian ibu 0%-4%. meningkat karena komplikasi


Penyebab terbanyak karena perdarahan intraserebral dan oedem
paru

Kematian perinatal10%-28% Penyebab terbanyak karena


prematuritas, pertumbuhan janin terhambat, dan meningkatnya
karena solutio plasenta.

Sekitar 75% eklampsi terjadi antepartum dan 25% terjadi pada


postpartum.

Hampir semua kasus ( 95% ) eklampsi antepartum terjadi pada


terjadi trisemester ketiga.

angka kejadian rata-rata sebanyak 6% dari seluruh kehamilan dan


12 % pada kehamilan primigravida
Manifestasi klinis
Tekanan darah
Proteinuria
Nyeri kepala
Nyeri epigastrium
Gangguan penglihatan
Preeklamsia/preeklamsia tanpa gejala berat :
Tekanan darah >140 / 90 mmHg pada
kehamilan > 20 minggu.
Proteinuria kuantitatif (Esbach) 300 mg /
24 jam, atau dipstick +1.
Preeklampsia berat :
Tekanan darah >160 / 110 mmHg.

Proteinuria kuantitatif (Esbach) 300 mg / 24 jam,


atau dipstick +1.
Trombosit < 100.000 / mm3.
Gangguan ginjal: kreatinin >1,1 mg/dl
Gangguan liver: peningkatan serum transaminase
>2 kali normal dan atau nyeri di daerah epigastrium
Edema paru

Tanda dan gejala neurologis: Sakit kepala dan


gangguan penglihatan (tanda empending eklamsia)
Gangguan pertumbuhan janin: IUGR,
oligohidramnion, absent or reversed end diastolic
velocity (ARDV)
Problem Pre-Eclampsia Severe Pre-
Eclampsia
Blood Pressure >140/90 >160/110

Proteinuria 1+ (300 mg/24 2+ (1000 mg/24


hours) hours)
Epigasrtium pain - +

Headache - +

Visual Disturbance - +

Elevation of Liver Enzymes - +

Decreased Platelets - +

Elevated Creatinine - +
Tujuan pengobatan
Mencegah terjadinya eklampsi.
Anak harus lahir dengan kemungkinan hidup
besar
Meminimalkan trauma persalinan
Mencegah hipertensi yang menetap
Preeklapmsia/preeklamsia tanpa gejala berat
Istirahat
Pengobatan simtomatis suportif
Monitor kesejahteraan janin/kontrol rutin
Lab: DL/UL/RFT/LFT
Terminasi jika usia >37minggu
MRS
Magnesium sulfat (MgSO4)
Pemberian antihipertensi
Terminasi kehamilan jika usia kandungan
34 minggu (usia 34 minggu kondisi
janin dan maternal stabil perawatan
konservatif hingga 34 minggu)
Persalinan direkomendasikan secara
pervaginam/perabdominan sesuai indikasi
Pemberian kortikosteroid (usia kehamilan
34 minggu)
Preeklamsia dengan gejala berat
MRS, evaluasi gejala, DJJ< cek lab 34 minggu
Stabilisasi, pemberian MgSO4 profilaksis
Antihipertensi jika TD 160/110

< 34 minggu

Jika didapatkan:
Eklamsia Jika usia kehamilan > 24
Edema paru minggu, janin hidup: Terminasi
DIC Berikan pematangan paru kehamilan setelah
HT berat, tidak terkontrol (dosis tidak harus selalu stabilisasi
Gawat janin lengkap) tanpa menunda
Solusio plasenta Ya terminasi
IUFD
Janin tidak viabel

Tidak

Jika didapatkan:
Gejala persisten
Sindrom HELLP Jika usia kehamilan > 24
Pertumbuhan janin terhambat minggu: pematangan paru
Severe oligohidramnion (inj. Dexametason IM 2x6
Reversed end diastolic flow Ya mg atau betametason IM
KPP atau inpartu 1x12 mg) 2x24 jam
Gangguan renal berat

Tidak

Perawatan konservatif:
Evaluasi di kamar bersalin selama 24-48 jam
Rawat inap hingga terminasi Usia kehamilan 34 minggu
Stop MgSO4 profilaksis (1x24 jam) KPP atau inpartu
Penberian anti HT jika TD 160/110 Perburukan maternal fetal
Pematangan paru 2x24 jam
Evaluasi maternal-fetal secara berkala
Target penurunan MAP 20%
Obat golongan ACE inhibitor (ACEI) seperti captopril dan angiotensin type 1 receptor
blocker seperti valsartan dikontraindikasikan pada ibu hamil
MgSO4
Dapat diulang 2g iv (1g/menit)
Obat Dosis awal Dosis rumatan
Diazepam 5-10 mg iv 1-2 menit
maksial 30 mg

Fenitoin 1-1,5g IV lebih dari 1 250-500mg setiap 10-


jam (tergantung berat 12 jam oral/IV
badan)

Chlormethiazole 40-100ml dari 0.8% 60ml/jam IV infuse


lebih dari 20 menit
preeklampsia:
Hipertensi kronis
Hipertensi gestasional
CKD

Eklamsia:
Epilepsi
Kejangan karena obat anastesia
Koma karena sebab lain : perdarahan otak, meningitis,
ensefalitis.
KOMPLIKASI Komplikasi terberat kematian pada ibu dan janin.

Solutio plasenta, terjadi pada ibu yang menderita


hipertensi
Hipofibrinogenemia, dianjurkan pemeriksaan fibrinogen
secara berkala.
Nekrosis hati, akibat vasospasmus arteriol umum.

Sindroma HELLP, yaitu hemolisis,elevated liver enzymes


dan low platelet.
Kelainan ginjal

DIC.

Prematuritas, dismaturitas, kematian janin intra uterine


Preeklampsia diperkirakan menyumbangkan
kematian maternal sebesar 14%
Kematian maternal akibat preeklampsia
umumnya diakibatkan oleh karena :
Disfungsi sel endotel sistemik
Vasospasme yang menyebabkan kegagalan organ
Komplikasi susunan saraf pusat
Komplikasi pada ginjal
Gangguan koagulasi
Solusio plasenta
Kemungkinan preeklampsia berulang lagi di
kehamilan yang berikut adalah 10%
Apabila wanita tersebut mengalami
preeklampsia dengan komplikasi, maka
kemungkinan untuk berulang di kehamilan
berikutnya lebih besar