Anda di halaman 1dari 8

Institute for Development of Economics and

Finance (INDEF) menyebutkan ada beberapa


alasan pasokan kedelai di Indonesia selalu
kurang dan mengakibatkan impor terus dibuka.
Enny Sri Hartati, Peneliti INDEF, mengatakan
alasan pertama karena luas wilayah dalam
mengembangkan kedelai masih minim
dibandingkan negara lain.
Dari data litbang Kadin Indonesia pada 2013,
Indonesia hanya mampu memproduksi kedelai
1,3 ton per hektare. Angka ini memang relatif
lebih rendah dibandingkan produksi di
Amerika Serikat yang mencapai 2,7 ton per
hektare.
Tidak hanya itu, tidak adanya kebijakan yang
fokus untuk meningkatkan produksi dalam
negeri, merupakan kebijakan yang tidak
sinkron bagi para petani dalam negeri, sebab
kebijakan tersebut justru membuka keran
impor di saat para petani memanen hasil
tanamnya.
Saat ini, kedelai impor Amerika masih menjadi
satu-satunya kedelai andalan yang biasa
digunakan perajin di Indonesia untuk membuat
tahu dan tempe. Namun, ketika harga kedelai
impor naik menyebabkan seluruh perajin
menjerit, bahkan tak sedikit yang gulung tikar.
Selama ini, para perajin saat ini lebih
memilih menggunakan kedelai impor
ketimbang kedelai lokal karena selain
banyak dijumpai di pasaran, kualitas
kedelai impor lebih baik untuk diolah
menjadi tahu dan tempe.
Menurunnya minat masyarakat menanam
kedelai dan kualitas kedelai yang buruk,
harusnya menjadi pekerjaan rumah
pemerintah. Dengan demikian, para
perajin tahu dan tempe tak selamanya
tergantung pada produk impor.