Anda di halaman 1dari 82

PLENO MODUL 2

OLEH:
KELOMPOK 12B
Anggota:
Fetriza Helfia Sari
Fajar Octovan
Regi Alfajrin Putra
Wulan DwiYulistia
Suci Aidhil Fitria
Ivonne Olivia
WindaYulistiawati
Muhammad Arief Saputra
Skenario
Skenario 2 : Sekali Infeksi Tetap Infeksi
Meli, 20 tahun saat ini masih kuliah di salah satu universitas dikotanya. Tiap
bulan dia selalu datang ke puskesmas untuk mendapatkan obat. Meli mengalami
infeksi tulang yang sampai saat ini belum sembuh juga. Dari tulang tibianya keluar
cairan yang selalu membasahi kassa balutannya. Dokter mendiagnosis Meli
mengalami osteomielitis.
Setahun yang lalu Meli pernah mengalami bengkak di lutut, dan didiagnosis
sebagai suatu penyakit autoimun. Ketika itu diperiksa Rh factor (RF) dan ACPA.
Rencana akan diberikan DMARDs tapi hasilnya tidak signifikan. Bengkak
bertambah besar, keluarga merasa tidak puas dengan pengobatan RS dan dibawa ke
tempat pengobatan alternatif dengan pemijatan. Setelah beberapa kali dipijat,
bengkaknya pecah dan mengeluarkan nanah. Meli dibawa ke puskesmas, awalnya
diberikan antibiotika, namun setelah beberapa bulan tidak menunjukkan hasil yang
baik, akhirnya dirujuk ke RS untuk mendapatkan pemeriksaan dan terapi lebih
lanjut.
Di RS, Meli menjalani beberapa rangkaian pemeriksaan laboratorium dan
pencitraan. Hasil laboratorium menunjukkan LED dan CRP meningkat, hasil X-ray
cruris didapatkansequester dan involucrum. Dokter merencanakan tindakan operasi
terhadap Meli. Bagaimanaandamenerangkanapa yang terjadipada Meli?
Step 1 (klarifikasi terminologi)
1. Osteomielitis
Adalah infeksi tulang yang disebabkan oleh mikroorganisme yang
masuk ke tubuh, bisa penyebab primer dari luka atau trauma serta
idiopatik, dan bisa juga sekunder dari penyebaran hematogen. Untuk
derajat ada akut, subakut dan kronik.
2. Rh factor (RF)
Antibodi spesifik yang muncul dalam pemeriksaan darah penderita
reumathoid artriits.
3. ACPA (anti-citrullinated protein andibody)
Suatu jenis autoantibodi spesifik yang muncul selama peradangan pada
penderita reumathoid artritis.
4. DMARDs (disease modyfing anti reumathic drugs)
Adalah tatalaksana awal yang diberikan pada penderita RA yang
bertujuan untuk menghambat dan meredakan gejala RA serta
mencegah kerusakan permanen pada persendian dan jaringan lainnya.
5. X-ray Cruris
x-ray yang dilakukan pada regio tungkai bawah, meliputi tulang tibia
dan fibula.
6. Sequester
Segmen tulang yang mengalami nekrosis karena luka istemik akibat
peradangan.
7. Involucrum
Adalah lapisan pertumbuhan tulang baru yang terstimulasi akibat
adanya nekorosis pada bagian tulang yang lain.
8. CRP
Protein yang dihasilkan oleh hati terutama saat terjadi inflamasi yang
bersifat akut.
9. LED
Adalah pemeriksaan lab yang bertujuan untuk mengetahui kecepatan
darah mengendap pada plasma, dihitung dengan satuan mm/jam.
Step 2 (rumusan masalah)
1. Apakah ada hubungan usia dan jenis kelamin pada keluhan yang
dialami oleh Meli?
2. Apakah penyebab infeksi tulang yang terjadi pada Meli?
3. Mengapa infeksi tulangnya tidak kunjung sembuh?
4. Mengapa dari tulang tibianya keluar cairan yang selalu
membasahi kassa balutannya?
5. Mengapa Meli didiangnosis dengan Osteomielitis?
6. Megapa dokter mendiagnosis bengkak yang mucul pada lutut
meli sebagai seuatu oenyakit autoimun?
7. Apakah ada hubungan penyakit yang lalu dengan penyakit yang
sekarang?
8. Mengapa oemberian DMARDs hasilnya tidak signifikan?
9. Mengapa bengkaknya bertmbah besar?
10. Mengapa setelah dipijat bengkaknya pecah dan mengeluarkan
nanah?
11. Mengapa setelah diberikan antibiotik tidak memberikan
perbaikan?
12. Apa pemeriksaan dan terapi lebih lanjut yang dilakukan?
13. Apa interpretasi dari hasil Lab dan x-ray?
14. Mengapa dilakukan tindakan operasi dan apa indikasinya?
Step 3 (hipotesa)
1. Apakah ada hubungan usia dan jenis kelamin pada keluhan yang dialami oleh
Meli?
Jawab: Untuk jenis kelamin, osteomielitis lebih banyak diderita oleh oleh
laki-laki dengan perbandingan antara laki-laki dan perempuan 2:1. Mungkin
berhubungan dengan higienisitas yang kurang dan juga aktivitas laki-laki yang
lebih memungkinkan untuk terjadinya suatu trauma ataupun luka.
Sedangkan untuk usia, pada anak-anak lebih banyak dijumpai osteomielitis
yang bersifat sekunder, yaitu yang bersifat hematogen yang biasanya mengenai
tulang tibia atauoyn fibula. Hal tersebut terjadi karena metafisis pada ank-
anak yang memiliki vaskularisasi yang banyak, hal tersebut bisa menjadi
faktor predisposisi untuk oenyebaran osteomelitis yang lebih parah.
Pada orang dewasa, jenis osteolielitis yang sering terjadi lebih disebabkan
oleh trauma ataupun postoperasi , dan biasanya mengenai tulang vertebrae
ataupun tulang pelvis.
2. Apakah penyebab infeksi tulang yang terjadi pada Meli?
jawab:
Etiologi utama dari osteomielitis adalah adanya infeksi yang disebabkan
oleh Staphylococcus aureus. Sedangkan untuk etiologi lainnya adalah:
Iatrogenik
Luka ataupun trauma yang memungkinkan bakteri masuk secara
langsung
Imunocompromised
Infeksi jaringan lunak sekitar tulang yang menyebar ke bagian tulang,
contohnya ulkus dekubitus.
Untuk derajat penyakit:
Akut, biasanya terjadi pada anak-anak, menyebar melalui hematogen
dan terjadi selama 2 minggu.
Subakut, berlangsung sekitar 1-2 bulan.
Kronik, berlangsung lebih dari 2 bulan.
3. Mengapa infeksi tulangnya tidak kunjung sembuh?
Jawab:
Scara klinis, jika terjadi infeksi di tulang, penyembuhannya akan lebih
susah, hal tersebut terjadi karena:
Sirkulasi yang kurang.
Tulang tibia merupakan tulang yang sangat peka, jika terjadi respon
inflamasi yang berlebihan maka akan membuat sitokin proinflamasi
akan lebih banyak muncu dan bengkaknya akan semakin bertambah.
Jika terjadi peningkatan tekanan di dalam tulang, maka akan
menyebabkan terjadinya gangguan pada sirkulasi, yang pada akhirnya
akan menyebabkan nekrosis pada tulangnya. Jika bengkak tidak
kunjung kempes maka akan terstimulasi oembentukan tulang baru.
Karena kerusakan pembuluh darah akibat infeksi, menyebabkan obat-
obatan yang digunakan tidak sampai ke tulang yang mengalami
kerusakan.
4. Mengapa dari tulang tibianya keluar cairan yang selalu membasahi kassa balutannya?

jawab: Saat terjadinya inflamasi:


Inflamasi peningkatan tekanan pada tulang penurunan aliran darah ke tulang

Terperangkap di invoucrum Nekrosis tulang

Jaringan mati

Pertumbuhan tulang terhenti

Saluran havers Menyebar ke periosteum

Periosteum terangkat Stimulasi pembentukan tulang baru

Abses subperiosteum Involucrum

Mengenai jaringan lunak sekitar (selulitis)

Keluar ke kulit melalui kloaka
5. Mengapa Meli didiangnosis dengan Osteomielitis?
Jawab:
a. manifestasi klinis
look: deformitas pada kai, dan adanya pus yang keluar
feels: nyeri tekan
move: gangguan pergerakan pada kaki
malaise, anoreksia
b. penunjang:
laboratorium, kultur, aspirasi biakan kuman
x-ray, usg, CT-scan, MRI.
6. Megapa dokter mendiagnosis bengkak yang mucul pada lutut meli
sebagai seuatu penyakit autoimun?
Jawab:

Penyakit autoimun pada tulang contohnya adalah Reumathoid Artritis.


Etiloginya idiopatik.
Faktor resiko seperti genetik, yaitu adanya lokus HLLAGB-1
Untuk patogenesis, jika ada faktor predisposisi dari luar seperti adanya
infrksi dan itambahn dengan faktor genetik maka akan menyebakan
inflamasi di daerah Synovialnya, selanjutnya akan terjadi hipertropi dan
penebalan, yang menyebabkan aliran darah terhambat dan
menyebabkan nekrosis pada tulang. Ada juga yang mengaitkan dengan
aktivitas dr IL-1 yang berlebihan.
Dokter mengira penyakit yang dialami Meli adalah RA karena
sebelumnya MEli tidak mengalami trauma dan ditemukannya
pembengkakan di daerah sendi. RA diketahui lebihn banyk terjadi pada
perempuan daripada laki-laki dengan usia insidensi pada usia 20
tahunan.
7. Apakah ada hubungan penyakit yang lalu dengan penyakit yang sekarang?
Jawab:
Sebenarnya penyakit sekarang merupakan gejala kronik dari penyakitnya yang
dahulu, namun karena dahulu penyakitnya salah diagnosis menyebabkan
penyakitnya berkembang menjadi penyakit yang kronik.

8. Mengapa oemberian DMARDs hasilnya tidak signifikan?


Jawab:
Karena DMARDs diberikan sebagai tatalaksana awal pada penyakit
autoimun yaitu RA. Seharusnya jika diagnosis benar dan tatalaksana
yang diberikan sudah benar makan kadar ACPA dan RF pada Meli akan
mengalami penurunan. Namun karena dari awala diagnosis dokternya
sudah salah, maka tatalaksana yang diberikan juga salah, sehingga tidak
meberikan perbaikan apapun.
9. Mengapa bengkaknya bertmbah besar?
Jawab:
Bengkak yang bertambah besar diakibatkan karena tatalaksana yang tidak
benar, tatalaksana yang tidak adequat sehingga menyebabkan
penyakitnya menjadi terus proggressive.
10. Mengapa setelah dipijat bengkaknya pecah dan mengeluarkan nanah?
Jawab:
Bengkak yang pecag setelah dipijat terjadi karena adanya penekanan
pada bagian yang mengalami infalasi, sehingga menyebabkan pus yang
telah terakumulasi akan keluar melalui kloaka ke bagian luar.
11. Mengapa setelah diberikan antibiotik tidak memberikan perbaikan?
Jawab:
Pemberian antibotik yang tidak menimbulkan perbaikan bisa disebakan
karena antibiotik yang diberikan tidak tepat, salah diagnosis, ataupun
karena derajat penyakitnya sudah kronik, sudah terjadi kerusakan
pembuluh darah, hingga menyebakan obat0obatan tersebut tidak
mencapai dari organ targetnya. Bisa juga disebabkan ketidakpatuhan
pasien dalam meminum obat.

12. Apa pemeriksaan dan terapi lebih lanjut yang dilakukan?


Jawab:
Untuk pemeriksaan lanjutan:
Lab : LED, CRP, dan CBC, bisa juga kultur bakteri
Radiologi : X ray cruris, MRI, CT-Scan dan juga USG.
13. Apa interpretasi dari hasil Lab dan x-ray?
Jawab:
Untuk hasil lab:
LED yang meningkat disebabkan karena infeksi menyebabkan
terjadinya leukositosis yang akan menambah kekentalan darah,
sehingga waktu yang dibutuhkan darah untuk mengendap akan lebih
lama. Dan juga aktivasi dari fibrinogen sehingga menyebabkan
eritrositnya bersambung-sambung, beratnya akan meningkat sehingga
LED meningkat.
CRP meingkat terjadi karena infeksi berulang yang terjadi.
Pada X-ray cruris terlihat adanya sequester, yaitu tulang yang
mengalami nekrosis karena rusaknya pembluh darah sehingga nutirisi
tidak tersalurkan dan menyebabkan kematian jaringan. Sedangkan
involucrum adalah gambaran tulang baru yang muncul karena adanya
tulang yang mengalami nekrosis.
14. Mengapa dilakukan tindakan operasi dan apa indikasinya?
Jawab:
Indikasi tindakan operasi:
Ditemukan sequester
Abses yang keluar ke permukaan kulit
Kecurigaan keganasan
Tidakan bedah yang bisa dilakukan seperti draunase bedah dan
dbridement jadingan yang sudah mati.
Learning Objective
1. Osteomielitis
2. Arthtritis
3. Selulitis
4. Abses
5. Reumathoid arthtritis
OSTEOMIELITIS
Proses inflamasi akut atau kronis dari tulang dan
struktur sekunder tulang akibat dari infeksi
organisme piogenik
Etiologi : Stafilokokus aureus

> Anak : Hematogen Dewasa : Trauma langsung


Hematogen

Staph. aureus Infeksi Inflamasi


Inokulasi Langsung
Edema
F. Predisposisi :
hiperemi
Nutrisi
Higienis Pus
F. Imunitas
Virulensi kuman
Port de entree
tek. intraosseus

Periosteum
Involucrum membentuk jr. baru gg. sirkulasi

Kronis Nekrosis tulang Trombosis

komplikasi
Abses
Sequester
Tulang,selulitis,
sepsis, fraktur
LOOK FEEL MOVE
Pus Nyeri tekan gg. Mobilitas akibat
Deformitas pembengkakan
Luka sendi atau infeksi
sendi
Tanda inflamasi

Sistemik : malaise, demam, penurunan BB, kelemahan fisik


LAB KULTUR RADIOLOGI
Leukosit Untuk Sequester
LED menentukan Involucrum
CRP mikroba penyebab Cloaca
TATALAKSANA
Analgetik
Pemberian cairan Intravena
Bidai, hindari aktivitas fisik berat
Antibiotik sesuai hasil kultur (3-6 mg)
Drainase bedah
Komplikasi
Abses tulang
Abses Paravertebral
Bakterimia/sepsis
Fraktur
Lepasnya implan prostetik
Selulitis
Selulitis
Definisi
Selulitis adalah peradangan akut
terutama menyerang jaringan
dermis dan subkutis.
Etiologi:
Streptococcus beta hemolitikus grup
A
Staphylococcus aureus
Pada anak usia di bawah 2 tahun
dapat disebabkan oleh
Haemophilus influenza tipe b
Epidemiologi
tersering pada usia di bawah 3 tahun dan usia dekade keempat
dan kelima
LK > PR
Terjadi peningkatan resiko selulitis seiring meningkatnya usia
Faktor Resiko
trauma lokal (robekan kulit),
luka terbuka di kulit
gangguan pembuluh vena maupun pembuluh getah bening.
Faktor Predisposisi
kaheksia,
diabetes melitus,
malnutrisi,
disgamaglobulinemia,
alkoholisme,
higiene yang jelek.
immunocompromised
umumnya terjadi akibat komplikasi suatu luka atau ulkus atau
lesi kulit yang lain,
Patogenesis
Gejala Klinis
gejala sistemik: demam, menggigil,
dan malaise
Daerah yg terkena: eritema,
hangat,nyeri dan pembengkakan.
Lesi tampak merah gelap, tidak
berbatas tegas
pembesaran kelenjar getah bening
regional dan limfangitis ascenden
Gejala dan tanda Selulitis

Gejala prodormal Demam, malaise, nyeri sendi dan menggigil

Daerah predileksi Ekstremitas atas dan bawah, wajah, badan dan genitalia

Makula eritematous Eritema cerah

Tepi Batas tidak tegas

Penonjolan Tidak terlalu menonjol

Vesikel atau bula Biasanya disertai dengan vesikel atau bula

Edema Edema

Hangat Tidak terlalu hangat

Fluktuasi Fluktuasi
Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan darah lengkap:
leukositosis pada selulitis penyerta penyakit berat,
leukopenia bisa ditemukan pada toxin-mediated cellulitis.
ESR dan C-reactive protein (CRP) meningkat terutama
penyakit yang membutuhkan perawatan rumah sakit dalam
waktu lama.
Diagnosis Banding
Deep thrombophlebitis,
dermatitits statis,
dermatitis kontak,
giant urticaria,
insect bite (respons hipersensitifitas),
erupsi obat,
eritema nodosum,
eritema migran (Lyme borreliosis),
perivascular herpes zooster,
acute Gout,
Wells syndrome (selulitis eosinofilik),
carcinoma erysipeloides.
Tatalaksana
penisilin prokain G 600.000-2.000.000 IU IM selama 6 hari
atau secara oral dengan penisilin V 500 mg setiap 6 jam,
selama 10-14 hari.
selulitis karena H. Influenza diberikan Ampicilin untuk
anak (3 bulan sampai 12 tahun) 100-200 mg/kg/d (150-300
mg),
>12 tahun seperti dosis dewasa.
alergi terhadap penisilin, sebagai alternatif digunakan
eritromisin (dewasa: 250-500 gram peroral; anak-anak: 30-50
mg/kgbb/hari) tiap 6 jam selama 10 hari.
klindamisin (dewasa 300-450 mg/hari PO; anak-anak 16-20
mg/kgbb/hari)
Terapi
Analgetik
Kompres jika tidak ada discharge
Gerak-gerakkan bagian yg sakit
Naikan bagian yg sakit
Hindari menggarut
Bagian luka ditutup dengan kasa steril
Jika ada discharge diswab
Operasi: jika ada abses dan perpindahan
Komplikasi
gangren,
metastasis,
abses
sepsis yang berat
Abses
Definisi
Abses merupakan suatu penyakit infeksi
yang ditandai oleh adanya lobang yang
berisi nanah (pus) dalam jaringan yang sakit
hasil dari reaksi pertahanan tubuh terhadap
benda asing.
Etiologi
Staphylococcus aureus (25-50% kasus)
Bakteri anaerob
Di B.C. MRSA 25% dari infeksi Staphylococcus aureus
Faktor Predisposisi
DM
Immunocompromised
Selulitis
Seborrhea
Trauma: operasi, gigitan hewan, luka, luka bakar, penggunaan
obat suntikan, mencabut rambut
Obesitas
Gesekan yg berlebihan
Higiene yg jelek
Patofisiologi
proses inflamasi bakteri mengaktifkan sistem
kekebalan tubuh
Darah mengalir ke daerah meningkat
Suhu daerah meningkat karena meningkatnya pasokan
darah panas
akibat akumulasi air, darah, dan cairan lainnya
membengkak
merah.
iritasi dari pembengkakan dan aktivitas kimia sakit
jaringan mulai berubah menjadi cair, dan bentuk-
bentuk abses.
Isi abses juga dapat bocor ke sirkulasi umum:
menggigil, demam, sakit, dan ketidaknyamanan
umum
Gejala klinis
Bengkak Hangat saat disentuh
Kulit yang menonjol Ada pus
Sakit Jaringan yg mengeras
Kemerahan
Nyeri tekan
Diagnosis
Anamnesis dan pemeriksaan fisik
Swab discharge untuk kultur dan tes sensitivity
Cek gula darah (komplikasi DM)
Tatalaksana
Tujuan:
Mengatasi infeksi
Mencegah komplikasi
Kompres hangat dengan saline selaam 15 menit
Tutup bagian yg terbuka dengan kasa steril
Aspirasi abses
Abses besar insisi
Buang benda asing jika ditemukan
Higiene diperbaiki
Kontrol gula darah
ARTHRITIS RHEUMATOID
Definisi

Artritis Reumatoid (AR) merupakan suatu penyakit autoimun


yang mengakibatkan peradangan dalam waktu lama pada sendi.

Penyakit ini menyerang terutama persendian dan anggota


gerak. Penyakit ini menimbulkan rasa nyeri dan kaku pada sistem
muskuloskeletal yang terdiri dari sendi, tulang, otot, dan jaringan
ikat. Sifatnya progresif, simetris, dan cenderung kronik.
ETIOLOGI
Rheumatoid faktor : Antibodi yang tidak biasa dari
Immunoglobin IgM atau IgG.

RA berhubungan dengan Human Leukocyte Antigen (HLA)


DRw4

Genetik

Hormonal

Virus

Stress fisik dan emosional

Bakteri
Patofisiologi
RA berasal dari ketidakberaturan humoral dan
pertemuan komponen sel dengan sistem imun.

Imunoglobulin dapat mengaktifkan sistem -


complemen, yang menguatkan respon imun dengan
meningkatkan kemotaksis, pagositosis dan melepaskan
limpokin oleh sel mononuklear itu kemudian
dihadirkan ke T-Limposit.
Patofisiologi
Faktor necrosis tumor (TNF) dan interleukin-1 (IL-1)

merupakan proinflamasi sitokin penting dalam permulaan


dan kelanjutan dari peradangan.

Pengaktifan sel T menghasilkan sitotoksin, yang mana

mengarahkan racun ke jaringan-jaringan dan sitokin,


yang merangsang pengaktifan lebih lanjut pada proses
peradangan dan menarik sel kedaerah peradanagn.
Patofisiologi
Pengaktifan sel B menghasilkan sel plasma, yang
mana jenis antibodi tersebut, di kombinasi dengan
pelengkap, hasil diakumulasikan oleh
polimorfonuklear leukosit (PMNs).
Zat vasoaktif (histamin, kinins, prostaglandin)
dilepaskan pada tempat peradangan, meningkatkan
aliran darah dan permeabilitas vaskular.
Peradangan kronik dari jaringan sinovial yang
melapisi kapsul sendi dihasilkan di jaringan
proliferasi (pembentukan pannus).
PATOFISIOLOGI
Serangan pertama karakteristiknya berupa
SINOVITIS (inflamasi pada jaringan sinovial
sendi)
Sinovium menebal Hiperemisis
Akumulasi cairan dalam ruang sendi
Pannus
Pannus : granulasi jaringan vasculer, berisi sel
inflamasi yang mengikis Articular Cartilage dan
pada akhirnya merusak tulang adhesi
jaringan ikat kepadatan tulang hilang
Ostheoporisis
Patogenesis
Patofisiologi
Stadium
Manifestasi Klinis
Inflamasi sendi, bursa, dan sarung tendo yang
menyebabkan :
nyeri,
bengkak,
dan kekakuan sendi.
Serangan biasanya hilang timbul, setiap serangan
disertai dengan gejala dan tanda sistemik berupa :
demam,
malaise, cepat lelah,
dan penurunan berat badan.
Biasanya RA timbul simetrik
Diagnosa
Kriteria berdasarkan asosiasi Amerika untuk klasifikasi dari
RA- refisi 1987:
1. Kaku sendi pagi paling sedikit 1 jam
2. Artritis 3 atau lebih area sendi secara terus menerus min.
6 bulan
3. Artritis sendi tangan dan sekitarnya
4. Artritis simetris
5. Nodul rematoid
6. Faktor rematoid
7. Perubahan radiologis
Kriteria diagnosis
Pemeriksaan penunjang
LED : meningkat
CRP : meningkat
Darah lengkap : anemia, trombositosis
Fungsi ginjal : bisa terganggu
Fungsi hati : ALT, GT meningkat,
hipoalbumionemia
Asam urat : normal
Urin lengkap : proteinuria ringan
Reumatoid faktor : 70% kasus positif
Anti CCP
ANA : positif pada 30% kasus dgn RF +
Pengobatan
a) Pengobatan Nonfarmakologi
Istirahat yang cukup, penurunan berat badan jika
obesitas, terapi fisik dan menggunakan alat bantu
yang mungkin memperbaiki gejala dan membantu
memperbaiki fungsi sendi.
prosedur bedah seperti tenosinofektomi, perbaikan
tendon dan penggantian sendi.
b) Pengobatan farmakologi
Menggunakan Golongan inflamasi non steroid (NSAIDs) .
- Digunakan sebagai terapi utama untuk pengobatan
rematik artritis sedang.
- Menghambat sintesis prostaglandin.
- Cyclooxygenase-2
c) Pengobatan kombinasi antirematik (DMARDs)
- tidak digunakan pada penderita stadium 4
- kombinasi 2 atau lebih DMARDs mungkin akan efektif
jika pengobatan 1 jenis DMARD tidak berhasil, tapi ini
tergantung dengan manfaat dan toksisitas.
Methotrexate
menghambat produksi sitokin dan biosintesis purin.
- Toksisitas: saluran pencernaan,
trombositopenia, leukopenia, pergerkan enzim
dan kadang sirosis hati, fibrosis pneumonitis.
Tatalaksana
Artritis
Definisi
Artritis adalah peradangan pada satu atau lebih persendian,
yang disertai dengan rasa sakit, kebengkakan, kekakuan, dan
keterbatasan bergerak.
Penyebab
Artrhitis dapat terjadi akibat infeksi maupun tanpa infeksi.
Pelepasan mediator inflamasi dari leukosit,
kondrosit,menyebabkan kehilangan proteoglikan dan matriks
ektraselular kartilago, sehingga terjadi kerusakan tulang.
Kerusakan dan hilangnya kolagen dan kondrosit dapat
menyebabkan perubahan yang tidak dapat kembali.
Terdapat lebih dari 100 bentuk artritis .Bentuk yang paling
umum, yakni osteartritis disebabkan oleh trauma pada
persendian, infeksi pada persendian, atau usia.Artitis lainnya
yaitu artritis reumatoid, artritis psoriatik. Artritis sepsis
disebabkan oleh infeksi pada sendi.
Gejala klinis
Gejala klinis yang disebabkan artritis adalah adanya rasa
sakit,panas, dan pembengkakan pada persendian lutut (gejala
panca radang).Terasa adanya fluktuasi, sakit dan panas,
kemerahan; secara umum penderita menjadi demam jika
sakit sudah menjadi sepsis, frekuensi nadi dan napas frekuen,
pincang yang hebat bahkan kadang sampai penderita tidak
dapat berdiri
Penanggulangan
Tak hanya penyembuhan dengan medis, terapi fisik,
pergantian pola hidup ( termasuk latihan fisik serta
mengontrol berat badan ), diet juga memainkan fungsi
penting didalam penyembuhan arthritis atau sakit sendi.
Suplemen merupakan obat terbaik pula.