Anda di halaman 1dari 19

ASSALAMUALAIKUM Wr. Wb.

CHOLELITHIASIS

KELOMPOK 10
NAMA: 1. MUHSONATUL KHASIFAH
2. RIZKA RHASMI A.
3. SUCI AMALIA
4. VINI SILVIA INDAH
DEFINISI
Cholelithiasis atau batu empedu adalah timbunan
kristal di dalam kandung empedu atau di dalam
saluran empedu atau Kedua-duanya.
Batu kandung empedu merupakan gabungan
beberapa unsur dari cairan empedu yang
mengendap dan membentuk suatu material mirip
batu di dalam kandung empedu atau saluran
empedu.
Komponen Utama Dari Cairan Empedu Adalah
Bilirubin, garam empedu, fosfolipid dan kolesterol.
ETIOLOGI

1. Mengkonsumsi makanan tinggi lemak dan tinggi


kolesterol.
2. Obesitas dan overweight atau kegemukan.
3. Menurunkan berat badan secara drastis.
4. Memiliki kebiasaan tidak makan (skip meal), kecuali
dalam kondisi berpuasa, karena tubuh sudah diprogram
untuk tidak akan mencerna makanan.
5. Merokok dan terpapar asap rokok orang lain. Zat dalam
asap rokok dapat merusak fungsi sistem biliaris manusia.
6. Wanita usia 40 tahun ke atas, terutama yang pernah
hamil, yang menggunakan pil KB, dan yang menggunakan
terapi hormon.
7. Menggunakan terapi penurun cholesterol dalam waktu
yang panjang
TANDA DAN GEJALA

GEJALA AKUT GEJALA KRONIS

Epigastrium kanan terasa Biasanya tak tampak


nyeri dan spasme gambaran pada abdomen
Usaha inspirasi dalam waktu Kadang terdapat nyeri di
diraba pada kwadran kanan kwadran kanan atas
atas
Kandung empedu membesar
dan nyeri
Ikterus ringan
GEJALA UMUM

Rasa nyeri (kolik empedu) tempat : abdomen bagian atas (mid


epigastrium), sifat : terpusat di epigastrium menyebar kea rah scapula
kanan
Mual dan muntah
Febris (38,5C)
Nausea dan muntah
Intoleransidengan makanan berlemak
Flatulensi
Eruktasi (bersendawa)
Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan Sinar-X Abdomen


Ultrasonografi (USG)
Pemeriksaan pencitraan Radionuklida atau
koleskintografi
ERCP (Endoscopic Retrograde
CholangioPancreatography
Kolangiografi Transhepatik Perkutan
MRCP (Magnetic Resonance
Cholangiopancreatography)
PENATALAKSAAN

Penatalaksanaan pasien dengan kolesistitis


tergantung pada derajat keparahan serta ada
tidaknya komplikasi yang menyertai. Kasus yang
tanpa disertai komplikasi seringkali dapat berobat
jalan saja namun pada kasus yang disertai
komplikasi harus dengan terapi pembedahan. Pada
pasien yang tidak stabil, drainase perkutaneus
kolesistostomi transhepatik dapat sangat membantu.
Antibiotik dapat diberikan untuk mengatasi infeksi.
Terapi awal dan pemberian Antibiotik

Terapi awal dan pemberian Antibiotik Untuk


kolesistitis akut, terapi awal meliputi:
pengistirahatan usus (bowel rest), hidrasi intravena,
koreksi elektrolit, analgesia, dan antibiotik
intravena.
Terapi konservatif untuk kolesistitis tanpa komplikasi

Pasien dapat dirawat jalan pada kasus kolesititis


tanpa komplikasi dengan memberikan terapi
antibiotik, analgesik dan kontrol untuk follow up.
Kriteria pasien yang dapat di rawat jalan adalah :
Tidak demam (afebris) dengan tanda vital yang stabil.
Tidak ada bukti adanya obstruksi berdasarkan hasil
lab.
Tidak ada masalah medis lain, usia lanjut, kehamilan
serta masalah immunocompromised.
Analgesia yang adekuat.
Pasien memiliki sarana dan akses transportasi yang
mudah ke sarana kesehatan.
Kolesistektomi

Kolesistektomi laparoskopi merupakan terapi bedah


standar untuk kolesistitis. Kolesistektomi dini yang
dilakukan dalam 72 jam setelah pasien masuk rumah
sakit, memberikan keuntungan dari sisi medis
maupun sosioekonomi.

Pada pasien yang hamil, kolesistektomi laparoskopi


dinyatakan aman untuk semua umur kehamilan
namun paling aman pada trimester kedua.
Drainase perkutaneus

Untuk pasien yang kontraindikasi/berisiko tinggi


terhadap prosedur bedah, maka terapi Drainase
perkutaneus kolesistostomi transhepatik (yang
dipandu USG) merupakan pilihan terapi definitif
dikombinasikan dengan pemberian antibiotik.
Terapi Endoskopik

Beberapa prosedur endoskopik untuk kolesistitis :

Endoscopic retrograde cholangiopancreatography (ERCP).


Terapi ini dapat memvisualisasikan anatomi sekaligus dapat
menyingkirkan batu empedu pada duktus biliaris komunis.

Endoscopic ultrasound-guided transmural cholecystostomy.


Penelitian menunjukkan bahwa terapi ini aman sebagai terapi
awal, interim maupun definitif untuk pasien dengan kolesistitis
akut berat yang berisiko tinggi terhadap prosedur
kolesistektomi.
DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Potensial gangguan keseimbangan cairan sehubungan dengan :


Kehilangan cairan dari nasogatric
Muntah
Gangguan koagulasi darah: protrombin menurun, waktu beku lama.

2. Pola nafas tidak efektif sehubungan dengan nyeri, kerusakan otot,


kelemahan/kelelahanditandai dengan :
Takipneu
Perubahan pernafasan
Penurunan vital kapasitas
Pernafasan tambahan
Batuk terus menerus
3. Potensial kekurangan cairan sehubungan dengan :
Kehilangan cairan dari nasogastrik
Muntah
Pembatasan intake
Gangguan koagulasi, contoh: protrombon menurun,
waktu beku lama

4. Penurunan integritas kulit/jaringan sehubungan


dengan:
Pemasangan drainase T tube
Perubahan metabolisme
Pengaruh bahan kimia (empedu)
5. Kurangnya pengetahuan tentang prognosa dan
kebutuhan pengobatan, sehubungan dengan :
Menanyakan kembali tentang informasi
Mis interpretasi informasi
Belum/tidak kenal dengan sumber informasi
INTERVENSI

Monitor intake & output, drainase dari T-tube, dan luka operasi
timbang BB secara periodik
Monitor tanda vital, kaji membran mukosa, turgor kulit, nadi
perifer
Observasi tanda perdarahan contoh hemate-mesis ptekie, ekimosis
Gunakan jarum injeksi yang kecil dan tekan bekas tusukan dalam
waktu yang lama
Gunakan sikat gigi yang lembut

KOLABORASI:
Monitor hasil pemeriksaan Hb, elektrolit, protrombin. Clotingtime
dan bleeding time
Berikan cairan intravena. Produksi darah sesuai dengan indikasi
Berikan cairan elektrolit
Beri vitamin K(IV)
THANK YOU