Anda di halaman 1dari 29

PERBEDAAN DAN HUBUNGAN ANTARA

ETIKA, MORAL DAN HUKUM


OLEH :

Ayu Haryani P S 20170115073


Erik Kurniawan 20170115046
Fathul Jannah 20170115021
Fiorrieta Veglyani M 20170115071
Hafid Syahputra 20170115016
Nanda Nur Nisa 20170115031
Novita Sari 20170115075
Rahmadiah Fitri 20170115082
Ruth Sonya N S 20170115107
Siti Alita Yasmi 20170115108
Yeni Panjaitan 20170115102
ETIKA
Definisi
Etika adalah suatu ilmu yang membahas perbuatan baik dan
buruk manusia sejauh yang dapat dipahami oleh pikiran
manusia. Dan etika profesi terdapat suatu kesadaran yang
kuat untuk mengindahkan etika profesi pada saat mereka
ingin memberikan jasa keahlian profesi kepada masyarakat
yang memerlukan.
Pengertian etika dalam kamus umum Bahasa Indonesia,
etika diartikan ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak
(moral).
Etika adalah refleksi dari apa yang disebut dengan self
control, karena segala sesuatunya dibuat dan diterapkan
dari dan untuk kepentingan kelompok social (profesi) itu
sendiri.
Pembagian Etika
Etika umum: etika yang membahas tentang kondisi-kondisi dasar
bagaimana manusia itu bertindak secara etis. Etika inilah yang
dijadikan dasar dan pegangan manusia untuk bertindak dan
digunakan sebagai tolok ukur penilaian baik buruknya suatu tindakan.
Etika khusus: penerapan moral dasar dalam bidang kehidupan yang
khusus misalnya olah raga, bisnis, atau profesi tertentu. Dari sinilah
nanti akan lahir etika bisnis dan etika profesi (wartawan, dokter,
hakim, pustakawan, dan lainnya).
Jenis jenis etika profesi secara umum:
Etika filosofis: etika yang dipandang dari sudut filsafat.
Etika teologis: etika yang mengajarkan hal-hal yang baik dan buruk
berdasarkan ajaran-ajaran agama.
Etika sosiologis: etika sebagai alat mencapai keamanan, keselamatan,
dan kesejahteraan hidup bermasyarakat.
Etika Diskriptif dan Etika Normatif: dalam kaitan dengan nilai dan
norma yang digumuli dalam etika
Prinsip-Prinsip Etika Profesi
Prinsip Tanggung Jawab
Terhadap Pekerjaan dan Hasilnya
Bertanggung jawab atas dampak profesinya terhadap
kehidupan dan kepentingan orang lain khususnya
kepentingan orang yang dilayaninya
Prinsip Keadilan
Dituntut untuk tidak merugikan hak dan kepentingan
pihak tertentu
Tidak melakukan diskriminasi terhadap siapapun
Prinsip Otonomi
Diberikan kebebasan dalam menjalankan profesinya
Otonomi harus disertai dengan tanggung jawab dan
profesionalitas
Prinsip Integritas Moral
Punya komitmen untuk menjaga nama baik profesi dan
kepentingan orang lain
Peran Etika dalam Profesi

Menjadi landasan dalam pergaulan baik itu


dengan masyarakat umum atau dengan anggota
kelompoknya (masyarakat professional)
Seorang profesional yang melanggar kode etik
profesinya, akan berdampak buruk bukan
hanya kepada dirinya sendiri tetapi juga kepada
profesinya. Sehingga perlu diberikan sanksi
Sanki akan diberikan kepada pelanggar kode
etik profesi berupa sanksi moral dan sanksi
dikeluarkan dari organisasi.
MORAL
Definisi
Secara umum: tindakan manusia yang sesuai dengan
ide-ide yang diterima umum, yaitu berkaitan dengan
makna yang baik dan wajar.
secara ekplisit: hal-hal yang berhubungan dengan
proses sosialisasi individu tanpa moral manusia tidak
bisa melakukan proses sosialisasi.
Jadi, moral adalah nilai atau norma norma tentang
baik dan buruk, benar atau salah, etis dan tidak etis
yang dijadikan sebagai pegangan seseorang atau
sekelompok orang tertentu untuk mengatur tingkah
lakunya didalam lingkungan sosial.
Perbedaan Etika dan Moral
Etik Moral

Etika menyangkut perbuatan manusia Moral tidak terbatas pada cara melakukan
sebuah perbuatan, moral memberi norma
tentang perbuatan itu sendiri.

Etika menunjukkan cara yang tepat artinya Moral menyangkut masalah apakah sebuah
cara yang diharapkan serta ditentukan perbuatan boleh dilakukan atau tidak boleh
dalam sebuah kalangan tertentu. dilakukan.

Etika hanya berlaku untuk pergaulan. Moral selalu berlaku walaupun tidak ada
orang lain.

Etika bersifat relatif. Yang dianggap tidak Moral bersifat absolut. Perintah seperti
sopan dalam sebuah kebudayaan, dapat jangan berbohong , jangan mencuri
saja dianggap sopan dalam kebudayaan merupakan prinsip moral yang tidak dapat
lain. ditawar-tawar.
Hubungan Etika dan Moral
Etika adalah bagaimana mengetahuinya (knowing),
sedangkan moralitas adalah bagaimana
melakukannya (doing).
Hubungan keduanya adalah bahwa etika mencoba
memberikan kriteria rasional bagi orang untuk
menentukan keputusan atau bertindak dengan
suatu cara diantara pilihan cara yang lain.
Seseorang yang selalu mematuhi etika, maka orang
tadi dikatakan bermoral atau moralnya baik.
Sebaliknya seseorang yang selalu atau sering
melanggar etika, dikatakan moralnya buruk atau
amoral. Jadi antara etika dengan moral
hubungannya sangat erat.
HUKUM
DEFINISI
Hukum: himpunan peraturan-peraturan yang dibuat oleh
penguasa negara atau pemerintah secara resmi melalui
lembaga atau intuisi hukum untuk mengatur tingkah laku
manusia dalam bermasyarakat, bersifat memaksa, dan memiliki
sanksi yang harus dipenuhi oleh masyarakat.
Definisi Hukum dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997):
peraturan atau adat, yang secara resmi dianggap mengikat
dan dikukuhkan oleh penguasa, pemerintah atau otoritas.
undang-undang, peraturan dan sebagainya untuk mengatur
kehidupan masyarakat.
patokan (kaidah, ketentuan).
keputusan (pertimbangan) yang ditentukan oleh hakim
dalam pengadilan, vonis.
Persamaan antara Etika dan Hukum
Berfungsi sebagai sarana atau alat untuk
mengatur tata tertib dalam masyarakat.
Mempelajari dan menjadikan tingkah laku
manusia sebagai obyeknya.
Memberikan batas ruang gerak hak
wewenang seseorang dalam pergaulan hidup
supaya tak saling merugikan.
Sumbernya dari pemikiran dan pengalaman.
Menggugah kesadaran manusiawi.
PERBEDAAN MORAL DAN HUKUM
MORAL HUKUM
Tujuan moral adalah Tujuan hukum adalah
menyempurnakan manusia ketertiban masyarakat.
sebagai individu
Moral bersifat otonom Hukum sebagai peraturan
tentang perilaku yang bersifat
heteronom (objektif).
Moral hanya membebani Hukum mempunyai dua daya
manusia dengan kewajiban kerja: memberi hak dan
semata-mata bersifat normatif. kewajiban yang bersifat
normative dan atributif.
Moral (kesusilaan) menuntut Hukum menuntut legalitas:
moralitas: yang dituntut yang dituntut adalah
adalah perbuatan yang pelaksanaan.
didorong oleh rasa wajib.
Hubungan Etika dan Hukum
Antara etika dengan hukum terjalin hubungan erat,
karena lapangan pembahasan keduanya sama-sama
berkisar pada masalah perbuatan manusia, mengatur
perbuatan manusia demi terwujudnya keserasian,
keselarasan, kebahagiaan.
Hukum memberikan putusan hukumnya perbuatan,
maka etika memberikan penilaian baik atau buruknya.
Putusan hukum ialah menetapkan boleh tidaknya
perbuatan itu dilakukan dengan diiringi sanksi-sanksi apa
yang bakal diterima oleh pelaku. Penilaian etika apakah
perbuatan itu baik dikerjakan yang bakal mengantarkan
manusia kepada kebahagiaan, dan menilai apakah itu
buruk yang bakal mengantarkan seseorang kepada
kehinaan dan penderitaan.
Hubungan Etika, Moral dan Hukum
Etika, moral dan hukum saling berhubungan yaitu bahwa
pelanggaran etika dan moral bisa saja menyentuh wilayah
hukum dan akan mendapatkan sanksi hukum. Namun pada
kondisi lain, bisa saja pelanggaran etika hanya mendapat
sanksi sosial dari masyarakat karena pelanggaran tersebut
tidak menyentuh wilayah hukum positif yang berlaku.
KODE ETIK APOTEKER INDONESIA
(Hasil Kongres Nasional XVIII-2009)
KODE ETIK APOTEKER INDONESIA
(Hasil Kongres Nasional XVIII-2009)
KODE ETIK APOTEKER INDONESIA
(Hasil Kongres Nasional XVIII-2009)
KODE ETIK APOTEKER INDONESIA
(Hasil Kongres Nasional XVIII-2009)
KODE ETIK APOTEKER INDONESIA
(Hasil Kongres Nasional XVIII-2009)
KODE ETIK APOTEKER INDONESIA
(Hasil Kongres Nasional XVIII-2009)
KODE ETIK APOTEKER INDONESIA
(Hasil Kongres Nasional XVIII-2009)
CONTOH PELANGGARAN ETIKA PROFESI APOTEKER
DI APOTEK :
1. Dokter menulis resep dengan kode, dan resep tersebut hanya bisa
ditebus di apotek yang ditunjuk dokter.
2. PSA menjual psikotropika dan pada saat membuat laporan bekerja
sama dengandokter untuk membuatkan resep.
3. Krim malam, krim pagi buatan apotek sendiri, tidak diketahui
formulanya.
Contoh kasus :
Apoteker M bekerja sebagai salah satu staf pengajar di salah satu PT
Farmasi di propinsi Y. Saat ini Apoteker M juga tercatat masih
sebagai APA di salah satu apotek di propinsi yang berbeda. alasan
yang diungkapkan oleh Apoteker M belum melepas apotek tersebut
karena ingin membantu PSA yang belum sanggup membayar penuh 2
Apoteker jika stand by semua karena kondisi apotek yang omzetnya
masih rendah. Selama ini pekerjaan kefarmasian di apotek tersebut
dilakukan oleh Aping dan AA.
Lanjutan
Permasalahan:
Apoteker Y bekerja sebagai tenaga kerja di suatu perusahaan farmasi di
Jakarta dan sebagai pemilik apotek di daerah bantul dan sekaligus sebagai
apoteker pengelola apotek tersebut
Apotek tidak memiliki apoteker, yang terlihat di apotek tersebut hanya
ada 1 tenaga yang memberikan pelayanan sekaligus sebagai kasir di apotek
tersebut
Apotek melayani secara bebas obat-obat keras tanpa resep dokter.

Pelanggaran UU dan Etika.


Permenkes 918/Menkes/Per/X/1993
Permenkes 922/Menkes/Per/X/1993
Setiap Apoteker harus senantiasa menjalankan profesinya sesuai
kompetensi Apoteker Indonesia.
Di dalam menjalankan tugasnya setiap Apoteker harus menjauhkan diri
dari usaha mencari keuntungan diri semata bertentangan dengan martabat
dan tradisi luhur kefarmasian (Kode Etik pasal 5).
CONTOH PELANGGARAN ETIKA PROFESI APOTEKER

DI PUSKESMAS ATAU KLINIK :


Yang menyerahkan obat kepada pasien bukan apoteker,
melainkan bidan, mantri, perawat, karena puskesmas
tidak memiliki apoteker.
DI RUMAH SAKIT :
Apoteker membuat suatu obat yang isinya campuran dari
beberapa obat (oplosan).
DI INDUSTRI :
Klaim, saling mengklaim suatu produk melanggar
etika.
Kebohongan publik menginfokan tentang khasiat
suatu obat yang tidak benar
CONTOH PELANGGARAN ETIKA PROFESI APOTEKER
Contoh kasus:
Bernice Bond, seorang pasien berusia 90 tahun di salah satu rumah
sakit, diresepkan hanya satu tablet methotrexate setiap minggu.
Namun, seorang apoteker, Alexander Wilson memberikannya satu
blister sehingga Bond mengonsumsi tujuh tablet dalam satu
minggu. Wilson kemudian menemukan ada kesalahan ketika
asisten apoteker meletakkan 1,5 tablet methotrexate di tempat
penyimpanan obat untuk dosis harian. Meskipun ia telah meminta
asisten apoteker untuk mengeluarkan tablet kelebihannya, ia tidak
memeriksa kembali obat yang diberikan. Tiga minggu kemudian,
pasien mengeluhkan infeksi parah dan meninggal pada bulan Juni
tahun lalu.
Permasalahan:
Apoteker salah memberikan resep methotrexate yang seharusnya
di konsumsi satu tablet dalam seminggu dan tidak memeriksa
kembali apakah resep tersebut sesuai atau tidak
Lanjutan
Pelanggaran Etika:

Peraturan Menteri Kesehatan nomor 922/Menkes/Per/X/1993

Pelanggaran undang-undang:
Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan
Konsumen

Kode Etik Apoteker


Pasal 7
Seorang Apoteker harus menjadi sumber informasi sesuai dengan profesinya

PP 51 TAHUN 2009 TTG PEKERJAAN KEFARMASIAN


Pasal 3
Pekerjaan Kefarmasian dilakukan berdasarkan pada nilai ilmiah, keadilan,
kemanusiaan, keseimbangan, dan perlindungan serta keselamatan pasien atau
masyarakat yang berkaitandengan Sediaan Farmasi yang memenuhi standar
dan persyaratan keamanan, mutu, dan kemanfaatan

Pasal 21
(2) Penyerahan dan pelayanan obat berdasarkan resep dokter dilaksanakan
oleh Apoteker
SANKSI PELANGGARAN ETIKA PROFESI APOTEKER
Setiap pelanggaran apotek terhadap ketentuan yang berlaku dapat
dikenakan sanksi, baik sanksi administratif maupun sanksi pidana.
Sanksi administratif yang diberikan menurut Keputusan Menteri
Kesehatan RI No.1332/MENKES/SK/X/2002 dan Permenkes
No.922/MENKES/PER/X/1993 adalah :
1. Peringatan secara tertulis kepada APA secara 3 kali berturut-turut
dengan tenggang waktu masing-masing 2 bulan.
2. Pembekuan izin apotek untuk jangka waktu selama-lamanya 6
bulan sejak dikeluarkannya penetapan pembekuan izin apotek.
Keputusan pencabutan SIA disampaikan langsung oleh Kepala
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan tembusan kepada
Menteri Kesehatan dan Kepala Dinas Kesehatan Propinsi
setempat.
Pembekuan izin apotek tersebut dapat dicairkan kembali apabila
apotek tersebut dapat membuktikan bahwa seluruh persyaratan yang
ditentukan dalam keputusan Menteri Kesehatan RI dan Permenkes
tersebut telah dipenuhi.
SANKSI PELANGGARAN ETIKA PROFESI APOTEKER

3. Sanksi pidana berupa denda maupun hukuman penjara


diberikan bila terdapat pelanggaran terhadap:
a. Undang-Undang Obat Keras (St.1937 No.541).
b. Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan.
c. Undang-Undang No. 35 tahun 2009 tentang
Narkotika.
d. Undang-Undang No. 5 tahun 1997 tentang
Psikotropika
Kesimpulan
Etika, moral dan hukum
Mempunyai tujuan sosial yang sama yakni
menghendaki agar manusia melakukan perbuatan
yang baik dan benar.
Oleh karena itu, mempelajari etika akan
menyiapkan mahasiswa farmasi untuk mengenali
situasi-situasi yang sulit dan melaluinya dengan cara
yang benar sesuai prinsip dan rasional. Etika juga
penting dalam hubungan apoteker dengan
masyarakat dan kolega mereka dan dalam
melakukan penelitian maupun pelayanan kesehatan.
SEKIAN
&
TERIMA KASIH