Anda di halaman 1dari 29

Bagian / SMF Ilmu Penyakit THT

Rumah Sakit Umum Provinsi Nusa Tenggara Barat


Fakultas Kedokteran Universitas Mataram

Pembimbing:
dr. Markus Rambu, Sp.THT-KL

Disusun Oleh:
Melinda Eka Susilarini(H1A 010 035)

1
PENDAHULUAN
Hidung kaya dengan pembuluh darah.
Rongga depan: anyaman (pleksus Kiesselbach)
Rongga belakang: cabang pembuluh darah yang cukup
besar antara lain dari arteri sphenopalatina
Epistaksis: perdarahan yang keluar dari lubang
hidung, rongga hidung dan nasofaring.
kelainan lokal
Sistemik
bukan suatu penyakit, hampir 90 % dapat berhenti
sendiri
Refferat 2
PENDAHULUAN
Epistaksis sering timbul spontan/trauma
Kelainan lokal: trauma,kelainan anatomi,kelainan
pembuluh darah,infeksi lokal, benda
asing,tumor,pengaruh udara lingkungan
Kelainan sistemik: penyakit kardiovaskuler,kelainan
darah,infeksi sistemik, perubahan tekanan atmosfir,
kelainan hormonal dan kelainan kongenital.

Refferat 3
Anatomi
Hidung luar dari atas ke Kerangka tulang terdiri dari:
bawah: tulang hidung (os nasal)
1.pangkal hidung prosesus frontalis os maksila
(bridge) prosesus nasalis os frontal

2.batang hidung
(dorsum) kerangka tulang rawan:
sepasang kartilago nasalis
3.puncak hidung (tip)
lateralis superior
4.ala nasi sepasang kartilago nasalis
5. kolumela lateralis inferior (alar
6.lubang hidung (nares mayor)
anterior) tepi anterior kartilago
septum.

Refferat 4
Refferat 5
Rongga hidung dipisahkan septumkavum nasi kanan
dan kiri
PINTU DEPAN: nares anterior, PINTU BELAKANG: nares
posterior (koana)
Pembentuk Septum:tulang dan tulang rawan
Tulang: 1.lamina prependikularis, 2.vomer, 3.krista nasalis os
maksila dan 4.krista nasalis os palatina
Tulang rawannya: 1.kartilago septum (lamina kuadrangularis)
dan 2.kolumela.
Pada dinding lateral terdapat 4 konka: konka inferior,
konka media, konka superior, konka suprema (rudimenter)
Refferat 6
Refferat 7
VASKULARISASI
Bagian atas rongga hidung: A. karotis interna a.
oftalmika a. etmoidalis anterior & posterior
Bagian bawah rongga hidung: A. maksilaris interna
a. palatina mayor & a. sfenopalatina
Bagian depan hidung: a. fasialis
Bagian depan septum: Anastomosis a.
sfenopalatina, a. palatina mayor, a. labialis superior, a.
etmoidalis anterior pleksus kiesselbach

Refferat 8
Fisiologi
Fungsi Respirasi: humidifikasi, Suhu, penyaringan
(reflek bersin)
Fungsi Penghidu: : mukosa olfaktorius
Fungsi Fonetik: kualitas suara (rhinolalia)
Refleks Nasal

Refferat 9
Definisi
Epistaksis adalah perdarahan akut yang berasal dari
lubang hidung, rongga hidung atau nasofaring dan
mencemaskan penderita serta para klinisi. Epistaksis
bukan suatu penyakit, melainkan gejala dari suatu
kelainan yang mana hampir 90 % dapat berhenti
sendiri.

Refferat 10
Epidemiologi
terbanyak pada usia 2-10 tahun dan 50-80 tahun,
sering pada musim dingin dan kering
Di Amerika Serikat: 1 dari 7 penduduk
Laki-laki = wanita
Epistaksis bagian anterior sangat umum dijumpai
pada anak dan dewasa muda, sementara epistaksis
posterior sering pada orang tua dengan riwayat
penyakit hipertensi atau arteriosklerosis

Refferat 11
ETIOLOGI
Kelainan lokal dalam hidung :
Trauma hidung : mengorek hidung, benturan ringan,
bersin, mengeluarjan ingus terlalu keras, pukulan, jatuh/
kecelakaan, benda asing, trauma pembedahan, spina
kelainan pembuluh darah : penyebab kongenital dimana
pembuluh darah lebih lebar, tipis, jaringan ikat dan sel-selnya
lebih sedikit
infeksi lokal : rhinitis, sinusitis (oleh jamur, TB, lupus,
sifilis, atau lepra)
tumor : hemangioma, angiofibroma (epistaksis lebih berat),
karsinoma

Refferat 12
ETIOLOGI
Kelainan sistemik : Penggunaan antikoagulan
(misalnya aspirin, fenilbutason), Penyakit hati,
Diabetes mellitus, Hipertensi, infeksi DBD, tifoid,
influenza, dan morbili, perubahan hormonal saat
hamil atau menopause

Refferat 13
ETIOLOGI
Penyakit kardiovaskular : hipertensi (hebat dan
berakibat fatal), arterosklerosis, nefritis, sirosis hepatik,
atau diabetes mellitus
kelainan pembuluh darah : leukemia, trombositopenia,
hemophilia, anemia
Kelainan congenital : telangiektasis hemoragik herediter
(Von Willenbrand disease)
pengaruh udara lingkungan : di tempat yang cuacanya
dingin atau kering atau zat-zat kimia dalam industri

Refferat 14
PATOFISIOLOGI
orang yang berusia menengah dan lanjut
perubahan progresif dari otot pembuluh darah tunika
media menjadi jaringan kolagen gagalnya kontraksi
pembuluh darah karena hilangnya otot tunika media
perdarahan
orang yang lebih muda memperlihatkan area yang
tipis dan lemah (disebabkan oleh iskemia lokal atau
trauma)

Refferat 15
Refferat 16
ANAMNESIS
Riwayat perdarahan sebelumnya
Lokasi perdarahan
Apakah darah terutama mengalir ke dalam
tenggorokan (ke posterior) ataukah keluar dari hidung
depan (anterior) bila pasien duduk tegak?
Lama perdarahan dan frekuensinya
Kecenderungan perdarahan

Refferat 17
PEMERIKSAAN FISIK
perhatikan keadaan umum, nadi, pernapasan, serta
tekanan darah. Bila terdapat kelainan, diatasi terlebih
dahulu dengan memberikan IV line. Begitu juga
apabila ditemukan gangguan jalan nafas, sumbatan
dihilangkan
Jika memungkinkan dicari sumber perdarahan,
setidaknya dilihat asalnya, apakah dari anterior atau
posterior

Refferat 18
PENATALAKSANAAN
menghentikan perdarahan,
mencegah komplikasi
mencegah berulangnya epistaksis

Refferat 19
Penatalaksanaan Pasien datang

Duduk/berbaring dg batal di punggung, bila syok pasang IV line

Cari sumber perdahan (suctioning)

Tampon kapas adrenalin 1:10.000 +lidokain / pantokain 2% (biarkan 3-5 menit)

Perkirakan jumlah dan kecepatan perdarahan

Periksa Hct, Hb, TD (atasi syok), cek PTT/APTT

Pertimbangkan tranfusi bila diperlukan

Refferat 20
EPISTAKSIS ANTERIOR
1. Kauterisasi
2. Tampon anterior

Refferat 21
EPISTAKSIS POSTERIOR
1. Tampon Posterior
2. Tampon Balon
3. Ligasi Arteri spesifik
1. A. karotis interna
2. A. maksilaris interna
3. A. etmoidalis
4. A. sfenopalatina
5. Angiografi & embolisasi

Refferat 22
Refferat 23
Refferat 24
KOMPLIKASI
Aspirasi darah
Hipotensi & hipoksia
Infeksi
rinosinusitis, otitis media
Hemotimpanum
bloody tears
laserasi palatum molle atau sudut bibir (akibat
gesekan benang)

Refferat 25
Prognosis
90% kasus epistaksis anterior dapat berhenti sendiri.
Pada pasien hipertensi dengan/tanpa arteriosklerosis,
biasanya perdarahan hebat, sering kambuh dan
prognosisnya buruk.

Refferat 26
TERIMAKASIH

Refferat 27
Ligasi Arteri maksila

Refferat 28
Ligasi Arteri Etmoidalis
Refferat 29