Anda di halaman 1dari 19

Oleh :

AKHMAD MAHYUNI, MPH., MM.


SUB POKOK BAHASAN

1. Latar belakang
2. Pengertian dan konsep gender
3. Bias gender
4. Analisis berpresfektif gender di
komunitas
Tujuan Pembelajaran

Tujuan Umum :
Pada akhir sesi, mahasiswa memahami tentang konsep
dan metode analisis berpresfektif gender di komunitas.
Tujuan Khusus :
Pada akhir sesi, mahasiswa mampu menjelaskan :
1. Latar belakang
2. Pengertian dan konsep gender
3. Bias gender
4. Analisis berpresfektif gender di komunitas
1. Latar Belakang
Di banyak budaya tradisional, perempuan
ditempatkan pada posisi yang dilirik
setelah kelompok laki-laki.
Fungsi dan peran yang diemban
perempuan dalam mayarakat tersebut
secara tidak sadar biasanya
dikonstruksikan oleh budaya setempat
sebagai warga negara kelas dua.
Hingga saat ini masih ditengarai terjadi
ketidaksejajaran peran antara laki-laki dan
perempuan, yang sebenarnya lebih didasarkan
pada kelaziman budaya setempat
Pada kehidupan keseharian, konstruksi budaya
memiliki kontribusi yang kuat dalam
memposisikan peran laki-laki - perempuan.
Banyaknya ketidaksetaraan ini pada akhirnya
memunculkan gerakan feminis yang menggugat
dominasi laki-laki atas perempuan.
Kerancuan dalam mempersepsi perbedaan seks
dalam kontek sosial budaya dan status, serta
peran yang melakat pada laki-laki perempuan
pada akhirnya menumbuhsuburkan banyak
asumsi yang memposisikan perempuan sebagai
sub-ordinat laki-laki.
Ketimpangan relasi laki-laki-perempuan ini
muncul dalam anggapan, laki-laki memiliki sifat
misalnya assertif, aktif, rasional, lebih kuat,
dinamis, agresif, pencari nafkah utama,
bergerak di sektor publik dan kurang tekun.
Sementara itu di lain sisi, perempuan
diposisikan tidak assertif, pasif, emosional,
lemah, statis, tidak agresif, penerima
nafkah, bergerak di sektor domestik,
tekun, dll.
Dalam banyak situasi tersebut di atas,
mendorong digunakannya analisis gender
dalam mencandra banyak persoalan yang
menyangkut ketidakadilan sosial, terutama
yang menimpa kaum perempuan
2. Pengertian dan konsep
Gender
Konsep gender berbeda dengan sex.
Sex merujuk pada perbedaan jenis
kelamin yang pada akhirnya menjadikan
perbedaan kodrati antara laki-laki dan
perempuan, berdasar pada jenis kelamin
yang dimilikinya, sifat biologis, berlaku
universal dan tidak dapat diubah.
Gender menurut Echols dan Shadily,
(1976), dimaknai sebagai jenis kelamin.
Menurut Faqih, (1999) gender adalah
sifat yang melekat pada laki-laki dan
perempuan yang dikonstruksi secara sosial
maupun kultural.
Dengan begitu tampak jelas bahwa
pelbagai pembedaan tersebut tidak hanya
mengacu pada perbedaan biologis, tetapi
juga mencakup nilai-nilai sosial budaya.
Nilai-nilai tersebut menentukan peranan
perempuan dan laki-laki dalam kehidupan
pribadi dan dalam setiap bidang masyarakat
(Kantor Men. UPW, 1997).
Secara sederhana dapat dinyatakan bahwa
gender adalah perbedaan fungsi dan peran laki-
laki dan perempuan karena konstruksi sosial,
dan bukan sekadar jenis kelaminnya.
Dengan sendirinya gender dapat berubah dari
waktu ke waktu sesuai kontruksi masyarakat
yang bersangkutan tentang posisi peran laki-laki
dan perempuan.
3. Bias Gender

Banyak kasus-kasus di masyarakat yang


mentengarai terjadinya bias gender, baik dalam
situasi pendidikan, organisasi sosial,
kemasyarakatan dan politik, struktur pelaku
ekonomi dan apresiasi pekerjaan.
Hal yang sama juga terjadi dalam pendekatan
pembangunan yang dilaksankan, yang jika
dicandra secara cermat betapa perempuan
kerap dalam posisi obyek penyerta
pembangunan.
Rasionalitas atas itu semua menjadikan
maraknya dilakukan pendekatan dan
perlunya melakukan posisi ulang atas
perempuan dalam pembangunan.
Sugiah (1995), menyimpulkan bahwa di
dalam masyarakat selalu ada mekanisme
yang mendukung konstruksi sosial budaya
gender. Beberapa kecenderungan di
masyarakat dan keluarga yang
menyebabkan terjadinya gender adalah
pemposisian peran anak laki-laki dan anak
perempuan yang berbeda, baik dalam
status, peran yang melekat ataupun hak-
hak yang sebanarnya merupakan hak
universal.
4. Analisis Berpresfektif
Gender di Komunitas
Adanya konsep gender yang kerap
merugikan posisi kaum perempuan
mendorong hadirnya analisis yang lebih
sesuai dengan situasi tersebut.
Analisis gender di komunitas merupakan
analisis yang digunakan untuk
menganalisis posisi, dan relasi perempuan
laki-laki dalam masyarakat, untuk
mengidentifikasi potensi, dan kebutuhan
spesifik mereka masing-masing.
Adapun yang menjadi tugas utama analisis
jender adalah memaknai, fenomena-fenomena
yang terkait dengan relasi perempuan laki-laki
dalam konsep budaya, serta implikasinya dalam
aspek kehidupan lainnya.
Dalam kasus penelitian berperspektif gender,
maka analisis ini menduduki peran yang sangat
strategis.
Bahwa penelitian berprespektif gender bukan
sekadar penelitian yang menjadikan wanita
sebagai obyek penelitian, tetapi yang
menganalisis relasi antara laki-laki dan
perempuan pada situasi sosial dan budaya yang
ada.
Dalam analisisnya, Fakih (1999) mencatat
beberapa hal yang menyebabkan terjadinya
penolakan penggunaan analasis tersebut. :
1. Mempertanyakan status perempauan identik
dengan menggugat konsep-konsep yang telah
mapan.
2. Adanya kesalahpahaman tentang mengapa
permasalahan kaum perempuan dipersoalkan?
3. Diskursus tentang relasi laki-laki
perempuan pada dasarnya membahas
hubungan kekuasaan yang sangat
pribadi, yang melibatkan pribadi masing-
masing serta menyangkut "hal-hal
khusus" yang dinikmati oleh setiap
individu.
SEMOGA KITA SEMUA SELALU SEHAT WAL AFIAT