Anda di halaman 1dari 85

PAJAK PERTAMBAHAN NILAI

DAN PAJAK PENJUALAN ATAS


BARANG MEWAH
UNDANG-UNDANG NOMO 8
TAHUN 1983 SEBAGAIMANA
TELAH DIUBAH TERAKHIR
DENGAN UNDANG-UNDANG
NOMOR 42 TAHUN 2009

Diedit kembali oleh :


Bambang Sumantri

1
PENGERTIAN UMUM
PAJAK PERTAMBAHAN NILAI
(PPN)

PPN ADALAH
PAJAK ATAS KONSUMSI
BARANG ATAU JASA

DI DALAM DAERAH
PABEAN
OLEH

- ORANG PRIBADI; ATAU OLEH


- BADAN;

2
CIRI KHAS PPN

1. PENGENAAN PPN DILAKSANAKAN


BERDASARKAN SISTEM FAKTUR
2. SETIAP TERJADINYA PENYERAHAN
BKP / JKP, WAJIB DIBUATKAN
FAKTUR PAJAK

FAKTUR PAJAK
MERUPAKAN
BUKTI PUNGUTAN PPN

FAKTUR PAJAK FAKTUR PAJAK


BAGI PENJUAL BAGI PEMBELI
MERUPAKAN BUKTI MERUPAKAN BUKTI
PAJAK KELUARAN PAJAK MASUKAN

3
DAERAH PABEAN
Ps. 1 angka 1

WILAYAH RI YANG DI DALAMNYA


BERLAKU UU YANG MENGATUR
MENGENAI KEPABEANAN

MELIPUTI WILAYAH

DARAT
DAN
RUANG UDARA
DI ATASNYA
PERAIRAN

TEMPAT-TEMPAT TERTENTU
DI ZONA EKONOMI EKSKLUSIF

LANDAS KONTINEN

4
BARANG
Ps. 1 angka 2

BARANG ADALAH

BARANG BARANG
BERWUJUD TIDAK BERWUJUD

BARANG
BERGERAK CONTOH :
HAK ATAS MEREK
DAGANG
HAK PATEN
BARANG HAK CIPTA
TIDAK BERGERAK

5
BARANG KENA PAJAK
(BKP)
Ps. 1 angka 3

ADALAH

BARANG

YANG DIKENAKAN PAJAK


BERDASARKAN UU PPN

6
PENYERAHAN
BKP
Ps. 1 angka 4

PENYERAHAN BARANG KENA PAJAK


ADALAH :
SETIAP KEGIATAN PENYERAHAN
BARANG KENA PAJAK

7
JASA
Ps. 1 angka 5

SETIAP KEGIATAN PELAYANAN


BERDASARKAN
SUATU PERIKATAN/PERBUATAN HUKUM
YANG
MENYEBABKAN

- SUATU BARANG;
- FASILITAS;
- KEMUDAHAN;
- HAK

TERSEDIA UNTUK DIPAKAI

TERMASUK

JASA YG DILAKUKAN UNTUK MENGHASILKAN


BARANG KARENA PESANAN ATAU PERMINTAAN
DGN BAHAN & ATAS PETUNJUK DARI PEMESAN

8
JASA KENA PAJAK
(JKP)
Ps. 1 angka 6

JASA

YANG DIKENAKAN
PAJAK BERDASARKAN
UU PPN

9
PENYERAHAN
JASA KENA PAJAK
Ps. 1 angka 7

SETIAP KEGIATAN
PEMBERIAN
JASA KENA PAJAK

10
PEMANFAATAN JKP DAN BKP
TIDAK BERWUJUD
DARI LUAR DAERAH PABEAN
Ps. 1 angka 8 & 10

ADALAH :

SETIAP KEGIATAN PEMANFAATAN


JKP DARI LUAR DAERAH PABEAN
DI DALAM DAERAH PABEAN
Ps. 1 angka 8

SETIAP KEGIATAN PEMANFAATAN


BKP TIDAK BERWUJUD DARI LUAR
DAERAH PABEAN KARENA SUATU
PERJANJIAN DI DALAM DAERAH
PABEAN
Ps. 1 angka 10

11
IMPOR, EKSPOR DAN
PERDAGANGAN
Ps. 1 angka 9, 11, 12

ADALAH SETIAP KEGIATAN


MEMASUKKAN BARANG
IMPOR DARI LUAR DAERAH
( Ps. 1 angka 9 )
PABEAN KE DLM DAERAH
PABEAN

ADALAH SETIAP KEGIATAN

EKSPOR MENGELUARKAN BARANG


( Ps. 1 angka 11) DARI DLM DAERAH PABEAN
KE LUAR DAERAH PABEAN

ADALAH KEGIATAN USAHA


MEMBELI & MENJUAL BRG,
TERMASUK KEGIATAN
PERDAGANGAN
( Ps. 1 angka 12) TUKAR MENUKAR BRG
TANPA MENGUBAH
BENTUK ATAU SIFATNYA

12
BADAN
Ps. 1 angka 13

SEKUMPULAN ORANG DAN ATAU


MODAL YANG MERUPAKAN KESATUAN

BAIK YANG MELAKUKAN USAHA MAUPUN


YANG TIDAK MELAKUKAN USAHA

MELIPUTI :
PERSEROAN TERBATAS;
PERSEROAN KOMANDITER;
PERSEROAN LAINNYA;
BUMN / BUMD;
FIRMA, KONGSI; KOPERASI; DANA PENSIUN;
PERSEKUTUAN; PERKUMPULAN; YAYASAN;
ORGANISASI MASSA; ORGANISASI SOSPOL DAN
ORGANISASI LAIN; LEMBAGA; DAN BENTUK
BADAN LAINNYA;
TERMASUK KONTRAK INVESTASI KOLEKTIF DAN
BUT

13
PENGUSAHA
Ps. 1 angka 14

ORANG PRIBADI BADAN

DALAM KEGIATAN USAHA ATAU


PEKERJAANNYA

- MENGHASILKAN BARANG;
- MENGIMPOR BARANG;
- MENGEKSPOR BARANG;
- MELAKUKAN USAHA PERDAGANGAN;
- MEMANFAATKAN BARANG TIDAK
BERWUJUD DARI LUAR DAERAH PABEAN;
- MELAKUKAN USAHA JASA, TERMASUK
MENGEKSPOR JASA;
- MEMANFAATKAN JASA DARI LUAR
DAERAH PABEAN

14
PENGUSAHA KENA PAJAK
(PKP)
Ps. 1 angka 15

PENGUSAHA

YANG MELAKUKAN
PENYERAHAN BKP/JKP

YANG DIKENAI PAJAK BERDASARKAN


UU PPN

15
MENGHASILKAN
Ps. 1 angka 16

A. KEGIATAN MENGOLAH MENJADI


MELALUI PROSES BARANG
BARU
MENGUBAH BENTUK
ATAU SIFAT SUATU
BARANG DARI BENTUK
MEMPUNYAI
ASLINYA DAYA GUNA
BARU

B. KEGIATAN MENGOLAH SUMBER DAYA


ALAM

C. MENYURUH ORANG PRIBADI ATAU


BADAN LAIN MELAKUKAN KEGIATAN
TERSEBUT PADA HURUF A DAN B DI ATAS

16
DASAR PENGENAAN PAJAK
(DPP)
Ps. 1 angka 17

HARGA JUAL

PENGGANTIAN YANG DIPAKAI


SEBAGAI DASAR
UNTUK
NILAI IMPOR MENGHITUNG
PAJAK YANG
TERUTANG

NILAI EKSPOR

NILAI LAIN

17
HARGA JUAL
Ps. 1 angka 18

NILAI BERUPA UANG

TERMASUK

SEMUA BIAYA
YG DIMINTA ATAU SEHARUSNYA DIMINTA
OLEH PENJUAL

KARENA PENYERAHAN BKP

TIDAK
TERMASUK

PPN YG DIPUNGUT MENURUT UU PPN


& POTONGAN HARGA YG DICANTUMKAN DLM
FAKTUR PAJAK

18
PENGGANTIAN
Ps. 1 angka 19

NILAI BERUPA UANG TERMASUK SEMUA BIAYA


YG DIMINTA ATAU SEHARUSNYA DIMINTA
OLEH PEMBERI JASA

KARENA PENYERAHAN JKP, EKSPOR JKP ATAU EKSPOR


BKP TIDAK BERWUJUD

TIDAK
TERMASUK

PPN YG DIPUNGUT MENURUT UU PPN & POTONGAN


HARGA YG DICANTUMKAN DLM FAKTUR PAJAK

ATAU
NILAI BERUPA UANG YANG DIBAYAR ATAU
SEHARUSNYA DIBAYAR OLEH PENERIMA JASA
KARENA PEMANFAATAN JKP DAN/ATAU PENERIMA
MANFAAT BKP TIDAK BERWUJUD DARI LUAR
DAERAH PABEAN
19
NILAI IMPOR
Ps. 1 angka 20

NILAI BERUPA UANG

YANG MENJADI DASAR PENGHITUNGAN


BEA MASUK DITAMBAH PUNGUTAN
LAINNYA YG DIKENAKAN PAJAK BERDASARKAN
KETENTUAN DLM PERUNDANG-UNDANGAN
KEPABEANAN DAN CUKAI

UNTUK IMPOR BKP

TIDAK
TERMASUK

PAJAK YG DIPUNGUT MENURUT UU PPN

20
PEMBELI DAN
PENERIMA JASA
Ps. 1 angka 21 & 22

ORANG PRIBADI BADAN

YANG MENERIMA ATAU


SEHARUSNYA MENERIMA
PENYERAHAN BKP/JKP

&

YANG MEMBAYAR ATAU


SEHARUSNYA MEMBAYAR
HARGA BKP ATAU PENGGANTIAN
ATAS JKP TSB.

21
FAKTUR PAJAK
Ps. 1 angka 23

BUKTI PUNGUTAN PAJAK YG


DIBUAT OLEH PKP

YANG MELAKUKAN
PENYERAHAN

BKP JKP

22
PAJAK MASUKAN
Ps. 1 angka 24

PPN YG SEHARUSNYA SUDAH


DIBAYAR OLEH PKP

KARENA

PEROLEHAN BKP

PEROLEHAN JKP

PEMANFAATAN BKP D
TIDAK BERWUJUD A LUAR
R DAERAH
I PABEAN
PEMANFAATAN JKP

IMPOR BKP

23
PAJAK KELUARAN
Ps. 1 angka 25

PPN YANG TERUTANG YANG WAJIB


DIPUNGUT OLEH PKP
YANG

MELAKUKAN

PENYERAHAN BKP / JKP, EKSPOR


BKP BERWUJUD, EKSPOR BKP TIDAK
BERWUJUD, DAN/ATAU EKSPOR JKP

24
NILAI EKSPOR
Ps. 1 angka 26

NILAI BERUPA UANG

TERMASUK

SEMUA BIAYA YANG DIMINTA


ATAU SEHARUSNYA DIMINTA

OLEH

EKSPORTIR

25
PEMUNGUT PPN
Ps. 1 angka 27

- BENDAHARAWAN PEMERINTAH;
- BADAN;
- INSTANSI PEMERINTAH.

YANG DITUNJUK OLEH MENTERI KEUANGAN

UNTUK

MEMUNGUT
PAJAK YG TERUTANG
OLEH PKP ATAS
MENYETOR PENYERAHAN BKP/
JKP KEPADA
PEMUNGUT PPN
MELAPORKAN

26
EKSPOR BKP TIDAK BERWUJUD
Ps. 1 angka 28

SETIAP KEGIATAN PEMANFAATAN


BKP TIDAK BERWUJUD

DARI

DALAM DAERAH PABEAN

DI

LUAR DAERAH PABEAN

27
EKSPOR JKP
Ps. 1 angka 29

SETIAP KEGIATAN
PENYERAHAN JKP

KE

LUAR DAERAH PABEAN

28
TERMASUK DALAM
PENGERTIAN PENYERAHAN BKP
Ps. 1 A ayat (1)

ADALAH :

PENYERAHAN HAK ATAS BKP KARENA SUATU


PERJANJIAN, MIS : JUAL BELI, TUKAR MENUKAR, JUAL BELI
DENGAN ANGSURAN

PENGALIHAN BKP OLEH KARENA SUATU PERJANJIAN


SEWA BELI, DAN/ ATAU PERJANJIAN LEASING

PENYERAHAN BKP KEPADA PEDAGANG PERANTARA


(KOMISIONER), ATAU MELALUI JURU LELANG

PEMAKAIAN SENDIRI DAN/ATAU PEMBERIAN CUMA-CUMA


ATAS BKP

BKP BERUPA PERSEDIAAN DAN/ATAU AKTIVA YG MENURUT


TUJUAN SEMULA TIDAK UNTUK DIPERJUAL BELIKAN YG
MASIH TERSISA PADA SAAT PEMBUBARAN PERUSAHAAN

PENYERAHAN BKP DARI PUSAT KE CABANG ATAU


SEBALIKNYA DAN/ATAU PENYERAHAN BKP ANTAR CABANG

PENYERAHAN BKP SECARA KONSINYASI

PENYERAHAN BKP OLEH PKP DALAM RANGKA PERJANJIAN


PEMBIAYAAN SYARIAH, YANG PENYERAHANNYA DIANGGAP
LANGSUNG DARI PKP KEPADA PIHAK YANG MEMBUTUHKAN
BKP

29
TIDAK TERMASUK DALAM
PENGERTIAN PENYERAHAN BKP
Ps.1 A ayat (2)

ADALAH :

PENYERAHAN BKP KEPADA MAKELAR


SEBAGAIMANA DIMAKSUD DLM KUHD

PENYERAHAN BKP UNTUK JAMINAN


UTANG PIUTANG

PENYERAHAN BKP DARI PUSAT KE CABANG


ATAU SEBALIKNYA & PENYERAHAN ANTAR
CABANG, DALAM HAL PKP MELAKUKAN
PEMUSATAN TEMPAT TERUTANG PPN
PENGALIHAN BKP DALAM RANGKA
PENGGABUNGAN, PELEBURAN, PEMEKARAN,
PEMECAHAN, DAN PENGAMBILALIHAN USAHA
DENGAN SYARAT PIHAK YANG MENGALIHKAN
DAN YANG MENERIMA BKP ADALAH PKP
BKP BERUPA AKTIVA YANG MENURUT TUJUAN
SEMULA TIDAK UNTUK DIPERJUALBELIKAN YANG
MASIH TERSISA PADA SAAT PEMBUBARAN
PERUSAHAAN YANG PAJAK MASUKAN ATAS
PEROLEHANNYA TIDAK DAPAT DIKREDITKAN SBG
MANA DIMAKSUD PADAL 9 AYAT (8) HURUF B DAN C

30
HUBUNGAN ISTIMEWA
Ps. 2 ayat (1)

DALAM HAL HARGA


JUAL/PENGGANTIAN LEBIH RENDAH
DARI HARGA PASAR WAJAR KARENA
PENGARUH HUBUNGAN ISTIMEWA

MAKA

HARGA JUAL ATAU PENGGANTIAN


SEBAGAI DPP DIHITUNG ATAS DASAR
HARGA PASAR WAJAR

PADA SAAT PENYERAHAN BKP/JKP


DILAKUKAN

31
HUBUNGAN ISTIMEWA DIANGGAP
ADA DALAM HAL
Ps. 2 ayat (2)

HARGA JUAL ATAU PENGGANTIAN


YANG MENJADI DASAR PENGENAAN PAJAK
DITEKAN LEBIH RENDAH DARI
HARGA PASAR WAJAR

YANG DISEBABKAN OLEH :

1. FAKTOR KEPEMILIKAN ATAU PENYERTAAN


LANGSUNG ATAU TIDAK LANGSUNG SEBESAR
25% ATAU LEBIH PADA PENGUSAHA LAINNYA,
ATAU HUBUNGAN ANTARA PENGUSAHA
DENGAN PENYERTAAN 25% ATAU LEBIH

2. FAKTOR PENGUASAAN MELALUI MANAJEMEN


ATAU PENGGUNAAN TEKNOLOGI

3. FAKTOR HUBUNGAN KELUARGA, SEDARAH DAN


SEMENDA DALAM GARIS KETURUNAN LURUS
SATU DERAJAT DAN KESAMPING SATU DERAJAT

32
CONTOH FAKTOR
KEPEMILIKAN / PENYERTAAN
(DALAM HUBUNGAN ISTIMEWA)

PENYERTAAN
LANGSUNG (PL) PT D
PT A
> 25 %

P
> 50 %
L P
T
L
P
T PT B
L P
T
L
P
> 50 %
L

PT C

PTL = PENYERTAAN TIDAK LANGSUNG

33
CONTOH FAKTOR
PENGUASAAN MANAJEMEN
DAN TEKNOLOGI
(DALAM HUBUNGAN ISTIMEWA)

APABILA LEBIH DARI SATU ATAU


BEBERAPA PERUSAHAAN BERADA DI
BAWAH PENGUASAAN PENGUSAHA
YANG SAMA DALAM BIDANG
MANAGEMEN DAN TEKNOLOGI, MAKA
DIANGGAP ADA HUBUNGAN ISTIMEWA

CONTOH :
- PT. A SELAKU PERUSAHAAN REAL
ESTAT MENEMPATKAN TENAGA AHLI
PEMASARANNYA PADA PT. B YANG
JUGA PERUSAHAAN REAL ESTAT.
- ANTARA PT. A DENGAN PT. B
DIANGGAP TELAH TERJADI
HUBUNGAN ISTIMEWA

34
CONTOH FAKTOR
HUBUNGAN KELUARGA
(DALAM HUBUNGAN ISTIMEWA)

SEDARAH SEMENDA

AYAH
MERTUA
+
PKP
IBU

10 KE ATAS 10 KE ATAS
10 10
SAUDARA KE KE
SAM PKP + ISTRI SAM IPAR PKP
KANDUNG PING PING

10 KE BAWAH 10 KE BAWAH

ANAK ANAK
KANDUNG TIRI PKP

SEDARAH SEMENDA

35
KEWAJIBAN PENGUSAHA
MELAPORKAN USAHANYA UNTUK
DIKUKUHKAN SEBAGAI PKP
Ps. 3 A ayat (1), (1a) dan (2)

PENGUSAHA YANG MELAKUKAN :


PENYERAHAN BKP
PENYERAHAN JKP
EKSPOR BKP BERWUJUD
EKSPOR BKP TIDAK BERWUJUD

EKSPOR JKP

KECUALI PENGUSAHA KECIL YANG BATASANNYA


DITETAPKAN MENKEU (68/PMK.03/2010)

WAJIB

MELAPORKAN USAHANYA UNTUK


DIKUKUHKAN SEBAGAI PKP

MEMUNGUT

MENYETORKAN
PPN DAN PPN
BM TERUTANG
MELAPORKAN

36
KEWAJIBAN ORANG PRIBADI ATAU BADAN
YANG MEMANFAATKAN BKP TIDAK
BERWUJUD DAN JKP
DARI LUAR DAERAH PABEAN
Ps. 3A ayat (3)

ORANG PRIBADI ATAU BADAN YANG


MEMANFAATKAN :
- BARANG KENA PAJAK TIDAK BERWUJUD DARI
LUAR DAERAH PABEAN;
- JASA KENA PAJAK DARI LUAR DAERH PABEAN

W
A MEMUNGUT
J PPN
I
YG
MENYETOR, DAN TERUTANG
B

MELAPORKAN

PENGHITUNGAN & TATA CARANYA


DIATUR DENGAN PERATURAN
MENTERI KEUANGAN (40/PMK.03/2010)

37
OBJEK PAJAK
Ps. 4

PPN DIKENAKAN ATAS

PENYERAHAN BKP ATAU JKP


DI DALAM DAERAH PABEAN OLEH
PENGUSAHA

IMPOR BKP

PEMANFAATAN BKP TIDAK BERWUJUD


ATAU JKP DARI LUAR DAERAH PABEAN
DI DALAM DAERAH PABEAN

EKSPOR BKP BERWUJUD OLEH PKP

EKSPOR BKP TAK BERWUJUD OLEH PKP

EKSPOR JKP OLEH PKP

38
BATASAN KEGIATAN DAN JENIS JKP YANG
EKSPORNYA DIKENAI PPN
Ps. 4 ayat (2)

BATASAN DAN JENIS JASA KENA


PAJAK YANG ATAS EKSPORNYA
DIKENAI PPN

DIATUR DENGAN
PERATURAN MENTERI KEUANGAN

70/PMK.03/2010

39
SYARAT SUATU PENYERAHAN
UNTUK DAPAT DIKENAKAN PPN
Penjelasan Ps. 4 huruf a dan c.

PPN DIKENAKAN ATAS


PENYERAHAN BARANG DAN JASA

APABILA

BARANG BERWUJUD DAN JASA YG


DISERAHKAN ADALAH BKP ATAU JKP;

BARANG TIDAK BERWUJUD YANG


DISERAHKAN ADALAH BKP TIDAK
BERWUJUD;

PENYERAHAN DILAKUKAN DI DALAM


DAERAH PABEAN;

PENYERAHAN DILAKUKAN DALAM RANGKA


KEGIATAN USAHA ATAU PEKERJAAN
PENGUSAHA

40
JENIS BARANG YANG TIDAK
DIKENAI PPN
Ps. 4 A ayat (2)

JENIS BARANG YANG TIDAK DIKENAI PPN


DIDASARKAN ATAS KELOMPOK BARANG SBB :

BARANG HASIL PERTAMBANGAN ATAU HASIL


PENGEBORAN YANG DIAMBIL LANGSUNG DARI
SUMBERNYA

BARANG-BARANG KEBUTUHAN POKOK YANG


SANGAT DIBUTUHKAN OLEH RAKYAT BANYAK

MAKANAN DAN MINUMAN YG DISAJIKAN DI HOTEL,


RESTORAN , RUMAH MAKAN, WARUNG DAN
SEJENISNYA, BAIK YANG DIKONSUMSI DI TEMPAT ATAU
TIDAK, TERMASUK MAKANAN DAN MINUMAN YANG
DISERAHKAN OLEH USAHA KATERING

UANG, EMAS BATANGAN, DAN


SURAT-SURAT BERHARGA

41
JENIS JASA YANG TIDAK
DIKENAI PPN
Ps. 4 A ayat (3)

JASA PELAYANAN KESEHATAN MEDIS

JASA PELAYANAN SOSIAL

JASA PENGIRIMAN SURAT DENGAN PERANGKO

JASA KEUANGAN JASA ASURANSI

JASA KEAGAMAAN JASA PENDIDIKAN

JASA KESENIAN DAN HIBURAN

JASA PENYIARAN YANG TIDAK BERSIFAT IKLAN

JASA ANGKUTAN UMUM DI DARAT DAN DI AIR SERTA JASA


ANGKUTAN UDARA DALAM NEGERI YANG MENJADI BAGIAN
YANG TIDAK TERPISAHKAN DARI JASA ANGKUTAN USARA
LUAR NEGERI
JASA TENAGA KERJA JASA PERHOTELAN

JASA YANG DISEDIAKAN OLEH PEMERINTAH DALAM RANGKA


MENJALANKAN PEMERINTAHAN SECARA UMUM

JASA PENYEDIAAN TEMPAT PARKIR

JASA TELEPON UMUM DENGAN MENGGUNAKAN UANG LOGAM

JASA PENGIRIMAN UANG DENGAN WESEL POS

JASA BOGA ATAU KATERING

42
OBYEK PPn BM
Ps. 5 ayat (1), (2)

Ps. 5 (1)
PPn BM
DIKENAKAN ATAS

PENYERAHAN BKP YANG IMPOR BKP YANG


TERGOLONG MEWAH TERGOLONG MEWAH

OLEH PENGUSAHA YANG


MENGHASILKAN BKP
YANG TERGOLONG MEWAH

DALAM DAERAH PABEAN

DALAM KEGIATAN USAHA


ATAU PEKERJAAN PENGUSAHA

PPn BM DIKENAKAN HANYA SATU KALI PADA WAKTU


PENYERAHAN BKP YANG TRGOLONG MEWAH OLEH PKP
YANG MENGHASILKAN BARANG MEWAH ATAU PADA
WAKTU IMPOR
Ps. 5 (2)

43
DASAR PERTIMBANGAN
PENGENAAN PPn BM
Penjelasan Ps. 5 (1)

ATAS PENYERAHAN BKP YANG TERGOLONG


MEWAH OLEH PRODUSEN ATAU ATAS IMPOR
BKP YANG TERGOLONG MEWAH, DI SAMPING
DIKENAKAN PPN, JUGA DIKENAKAN PPn BM
DENGAN PERTIMBANGAN

PERLU KESEIMBANGAN PEMBEBANAN PAJAK


ANTARA KONSUMEN YANG BERPENGHASILAN
RENDAH DENGAN KONSUMEN YANG
BERPENGHASILAN TINGGI

PERLU ADANYA PENGENDALIAN POLA


KONSUMSI ATAS BKP YANG TERGOLONG
MEWAH

PERLU ADANYA PERLINDUNGAN TERHADAP


PRODUSEN KECIL ATAU TRADISIONAL

PERLU UNTUK MENGAMANKAN PENERIMAAN


NEGARA

44
BARANG KENA PAJAK YANG
TERGOLONG MEWAH
Penjelasan Ps. 5 (1)

YANG DIMAKSUD DENGAN BKP YANG


TERGOLONG MEWAH AADALAH :

BARANG YANG BUKAN MERUPAKAN BARANG


KEBUTUHAN POKOK

BARANG YANG DIKONSUMSI OLEH


MASYARAKAT TERTENTU

BARANG YANG PADA UMUMNYA DIKONSUMSI


OLEH MASYARAKAT BERPENGHASILAN TINGGI

BARANG YANG DIKONSUMSI UNTUK


MENUNJUKKAN STATUS

45
TERMASUK PENGERTIAN
MENGHASILKAN
Penjelasan Ps. 5 (1)

ADALAH KEGIATAN

MERAKIT = MENGGABUNGKAN BAGIAN-BAGIAN


LEPAS DARI SUATU BARANG MENJADI BARANG
SETENGAH JADI ATAU BARANG JADI, SEPERTI
MERAKIT MOBIL, BRG ELEKTRONIK, PERABOT
RUMAH TANGGA, DSB.

MEMASAK = MENGOLAH BARANG DENGAN CARA


MEMANASKAN BAIK DICAMPUR BAHAN LAIN ATAU
TIDAK

MENCAMPUR = MEMPERSATUKAN DUA ATAU LEBIH UNSUR


(ZAT) UNTUK MENGHASILKAN SATU ATAU LEBIH BARANG
LAIN

MENGEMAS = MENEMPATKAN SUATU BARANG KE DALAM


SUATU BENDA YANG MELINDUNGINYA DARI KERUSAKAN
DAN ATAU UNTUK MENINGKATKAN PEMASARANNYA

MEMBOTOLKAN = MEMASUKKAN MINUMAN ATAU BENDA


CAIR KE DALAM BOTOL YANG DITUTUP MENURUT CARA
TERTENTU

46
PENYERAHAN BKP/JKP YANG
DIKEMBALIKAN/DIBATALKAN
Ps. 5A ayat (1), (2) & (3)

PPN ATAU PPn BM atas :

PENYERAHAN BKP PENYERAHAN JKP


YANG DIKEMBALIKAN YANG DIBATALKAN

SELURUHNYA
ATAU SEBAGIAN

DAPAT DIKURANGKAN dari :

PPN ATAU PPnBM PPN YANG


YANG TERUTANG TERUTANG
DALAM MASA PAJAK DALAM MASA PAJAK
TERJADINYA TERJADINYA
PENGEMBALIAN PEMBATALAN

TATACARA PENGURANGAN PPN/PPnBM DIATUR


DENGAN PERATURAN MENKEU (65/PMK.03/2010)

47
TARIF PPN & PPn BM
Ps. 7 & Ps. 8

10 % DENGAN PP
TARIF
PPN TARIF PPN DAPAT DIUBAH
(Ps. 7)

ATAS
EKSPOR SERENDAH-2 SETINGGI-2
BKP/JKP 0% NYA 5 % NYA 15 %

PALING RENDAH
10%

TARIF
PALING TINGGI
PPn BM 200 %
(Ps. 8)

ATAS EKSPOR BKP


YG TERGOLONG MEWAH
0%

48
KELOMPOK & JENIS BKP
YANG TERGOLONG MEWAH YANG
DIKENAKAN PPn BM
Ps. 8 ayat 3 dan 4

DENGAN PERATURAN
PEMERINTAH DIATUR KELOMPOK
BKP YG TERGOLONG MEWAH
YANG DIKENAKAN PPn BM

JENIS BARANG YANG


DIKENAKAN PPn BM ATAS
BKP YANG TERGOLONG MEWAH
DIATUR DENGAN PERATURAN
MENTERI KEUANGAN

49
CARA MENGHITUNG PPN
YANG TERUTANG
Ps. 8A

PPN TERUTANG

TARIF PPN X DPP

DPP MELIPUTI :
* HARGA JUAL
* PENGGANTIAN
* NILAI IMPOR
* NILAI EKSPOR
* NILAI LAIN
KETENTUAN MENGENAI NILAI LAIN DIATUR
DENGAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN
(75/PMK.03/2010)

50
CONTOH CARA MENGHITUNG
PPN YANG TERUTANG
Penjelasan Ps. 8 ayat (1)

1. PENJUALAN TUNAI BKP OLEH PKP A

- HARGA JUAL = Rp. 25.000.000


- PPN TERUTANG 10% X Rp 25.000.000 = Rp. 2.500.000
PPN Rp. 2.500.000 MERUPAKAN :
* PAJAK KELUARAN YG DIPUNGUT OLEH PKP A

2. PENYERAHAN JKP OLEH PKP B


- NILAI PENGGANTIAN = Rp. 20.000.000
- PPN TERUTANG 10 % X Rp. 20.000.000 = Rp. 2.000.000
PPN Rp. 2.000.000 MERUPAKAN :
* PAJAK KELUARAN YG DIPUNGUT OLEH PKP B

3. IMPOR BKP
- NILAI IMPOR = Rp.15.000000
- PPN TERUTANG 10 % X Rp.15.000.000 = Rp. 1.500.000
PPN Rp. 1.500.000 DIPUNGUT MELALUI DJBC,

4. EKSPOR BKP OLEH PKP D


- NILAI EKSPOR = Rp.10.000000
- PPN TERUTANG 0 % X Rp.10.000.000 = Rp. 0
PPN Rp. 0 MERUPAKAN PAJAK KELUARAN BAGI PKP D

51
PENGKREDITAN PAJAK MASUKAN
Ps. 9 ayat (2), (2a), (2b) (3), (4), (4a)

PM DIKREDITKAN DG PK
DALAM MASA PAJAK YG SAMA
Ps. 9 (2)

PK > PM PK < PM

SELISIH DIKOMPENSASI KE
SELISIH DISETOR MASA PAJAK BERIKUTNYA
OLEH PKP dan DAPAT DIRESTITUSI
Ps. 9 (3) PADA AKHIR TAHUN BUKU
Ps. 9 (4) & (4a)

Bagi PKP yg belum berproduksi dan


belum melakukan penyerahan, PM atas
barang modal dapat dikreditkan
Ps. 9 ayat (2a)

PM yang dikreditkan harus menggunakan


Faktur Pajak yang memenuhi persyaratan
sesuai Ps 13 ayat (5) dan Ps 13 ayat (9).
Ps. 9 ayat (2b)
52
PENGEMBALIAN SETIAP MASA PAJAK
Ps. 9 ayat (4b)

MENYIMPANG DARI KETENTUAN PASAL 9


AYAT (4) DAN (4A), PERMOHONAN
PENGEMBALIAN PADA SETIAP MASA PAJAK
DAPAT DILAKUKAN OLEH :

PKP YANG MELAKUKAN EKSPOR


BKP BERWUJUD
PKP YANG MELAKUKAN
PENYERAHAN BKP/JKP KEPADA
PEMUNGUT PPN
PKP YANG MELAKUKAN
PENYERAHAN BKP/JKP YANG PPN
NYA TIDAK DIPUNGUT
PKP YANG MELAKUKAN EKSPOR
BKP TIDAK BERWUJUD
PKP YANG MELAKUKAN EKSPOR
JKP
PKP DALAM TAHAP BELUM
BERPRODUKSI SESUAI PASAL 9
AYAT (2A)
53
PENGEMBALIAN UNTUK PKP
BERISIKO RENDAH
Ps. 9 ayat (4c), (4d), (4e), (4f)

PENGEMBALIAN KEPADA PKP SELAIN PKP


DALAM TAHAP BELUM BERPRODUKSI

BERKRITERIA SEBAGAI DIATUR DG


PERATURAN
PKP BERISIKO RENDAH
MENKEU
(71/PMK.03/2010)
DILAKUKAN
DENGAN

PENGEMBALIAN PENDAHULUAN KELEBIHAN


PAJAK SESUAI PASAL 17C UU KUP

DIRJEN PAJAK DAPAT MELAKUKAN


PEMERIKSAAN DAN MENERBITKAN SKP
SETELAH MELAKUKAN PENGEMBALIAN
PENDAHULUAN

JIKA DITERBITKAN SKPKB, KEKURANGAN


PAJAK DITAMBAH SANKSI BUNGA PASAL
13 AYAT (2) UU KUP
54
PENGKREDITAN PAJAK MASUKAN DLM
SUATU MASA PAJAK DALAM HAL PKP
MELAKUKAN PENYERAHAN YANG
TERUTANG PAJAK DAN PENYERAHAN
YANG TIDAK TERUTANG PAJAK
Ps. 9 ayat (5), (6)

DLM HAL PENYERAHAN

TERUTANG PAJAK TIDAK


TERUTANG PAJAK
PM = TIDAK DPT
DIKREDITKAN

PM DAPAT DIKETAHUI PM TIDAK DAPAT


DG PASTI DARI DIKETAHUI
PEMBUKUAN DENGAN PASTI

PM YG TERKAIT PM YG DAPAT
DG PENYERAHAN YANG DIKREDITKAN DIHITUNG
TERUTANG PPN DG PEDOMAN YG
DAPAT DIKREDITKAN DIATUR DENGAN
PERATURAN MENKEU
(78/PMK.03/2010)

55
CONTOH PENGKREDITAN PM DLM SUATU MASA
PAJAK DLM HAL PKP MELAKUKAN PENYERAHAN
YG TERUTANG PAJAK DAN PENYERAHAN YG TIDAK
TERUTANG PAJAK
Penjelasan Ps. 9 ayat (5)

DALAM HAL PENYERAHAN TERUTANG PAJAK,


PM DAPAT DIKETAHUI DENGAN PASTI DARI
PEMBUKUAN PKP

PM YG DPT DIKREDITKAN ADALAH PM YG


BERKENAAN DG PENYERAHAN YG TERUTANG PPN

CONTOH :
PKP MELAKUKAN BEBERAPA MACAM PENYERAHAN :
a. PENYERAHAN TERUTANG PPN = Rp. 25.000.000
PAJAK KELUARAN = Rp. 2.500.000
b. PENYERAHAN TDK DIKENAKAN PPN = Rp. 5.000.000
c. PENYERAHAN DIBEBASKAN DARI PPN = Rp. 5.000.000
PAJAK MASUKAN YG DIBAYAR ATAS PEROLEHAN :
BKP/JKP TERUTANG PPN = Rp. 1.500.000
BKP/JKP TDK DIKENAKAN PPN = Rp. 300.000
BKP/JKP DIBEBASKAN DARI PPN = Rp. 500.000
PM YG DPT DIKREDITKAN DGN PK Rp. 2.500.000
HANYA SEBESAR Rp. 1.500.000

56
CONTOH PENGKREDITAN PM DLM SUATU MASA
PAJAK DLM HAL PKP MELAKUKAN PENYERAHAN
YG TERUTANG PAJAK DAN PENYERAHAN YG
TIDAK TERUTANG PAJAK
Penjelasan Ps. 9 ayat (6)

DALAM HAL PENYERAHAN TERUTANG PAJAK,


PM TIDAK DAPAT DIKETAHUI DENGAN PASTI

PM YG DAPAT DIKREDITKAN DIHITUNG DG PEDOMAN


YG DITETAPKAN OLEH MENTERI KEUANGAN

CONTOH :
PKP MELAKUKAN DUA MACAM PENYERAHAN :
a. PENYERAHAN TERUTANG PPN = Rp. 35.000.000
PAJAK KELUARAN = Rp. 3.500.000
b. PENYERAHAN TDK TERUTANG PPN = Rp. 15.000.000
PM YG DIBAYAR ATAS PEROLEHAN BKP/JKP YG
BERKAITAN DENGAN SELURUH PENYERAHAN =
Rp. 2.500.000, SEDANGKAN PM ATAS PENYERAHAN
YG TERUTANG PPN TIDAK DIKETAHUI DGN PASTI.
PM SEBESAR Rp. 2.500.000 TDK SELURUHNYA DPT
DIKREDITKAN DG PK SEBESAR Rp. 3.500.000
BESARNYA PM YG DPT DIKREDITKAN DIHITUNG DG
PEDOMAN YG DIATUR PERATURAN MENTERI
KEUANGAN
57
PENGUSAHA KENA PAJAK YANG GAGAL
BERPRODUKSI
Ps. 9 ayat (6a) dan (6b)

BAGI PKP YG BELUM BERPRODUKSI DAN BELUM


MELAKUKAN PENYERAHAN, PM ATAS BARANG
MODAL DAPAT DIKREDITKAN
PS. 9 AYAT (2a)

TELAH DIBERIKAN PENGEMBALIAN

GAGAL BERPRODUKSI

PM YG TELAH DIKREDITKAN WAJIB DIBAYAR


KEMBALI
PALING LAMA DALAM JK WAKTU 3 TAHUN
SEJAK MASA PAJAK PENGKREDITAN PAJAK
MASUKAN DIMULAI

KETENTUAN MENGENAI PENENTUAN WAKTU,


PENGHITUNGAN, DAN TATA CARA PEMBAYARAN
KEMBALI DIATUR DENGAN ATAU BERDASARKAN
PERATURAN MENTERI KEUANGAN
(81/PMK.03/2010)

58
PEDOMAN PENGHITUNGAN PENGKREDITAN
PAJAK MASUKAN
Ps. 9 ayat (7), (7a), (7b)

BESARNYA PAJAK MASUKAN


YANG DAPAT DIKREDITKAN

OLEH

PKP YANG PEREDARAN


PKP YANG MELAKUKAN
USAHANYA DALAM 1
KEGIATAN USAHA
TAHUN TIDAK MELEBIHI
TERTENTU
JUMLAH TERTENTU

DAPAT
DIHITUNG DIHITUNG
DENGAN DENGAN

PEDOMAN PENGHITUNGAN PENGKREDITAN


PAJAK MASUKAN

KETENTUAN MENGENAI PEREDARAN USAHA,


KEGIATAN USAHA TERTENTU, DAN PEDOMAN
PENGHITUNGAN PENGKEDITAN PAJAK MASUKAN
DIATUR DENGAN ATAU BERDASARKAN PERATURAN
MENTERI KEUANGAN (74/PMK.03/2009 &
79/PMK.03/2010)
59
PENGKREDITAN PM TIDAK DAPAT
DIBERLAKUKAN
Ps. 9 ayat (8)
BAGI

PENGELUARAN UNTUK :

PEROLEHAN BKP/JKP SEBELUM PENGUSAHA DIKUKUHKAN


SEBAGAI PKP

PEROLEHAN BKP/JKP YG TDK MEMPUNYAI HUBUNGAN


LANGSUNG DG KEGIATAN USAHA

PEROLEHAN & PEMELIHARAAN KENDARAAN BERMOTOR


SEDAN DAN STATION WAGON
KECUALI MERUPAKAN BARANG DAGANGAN ATAU DISEWAKAN
PEMANFAATAN BKP TDK BERWUJUD ATAU PEMANFAATAN
JKP DARI LUAR DAERAH PABEAN SEBELUM PENGUSAHA
DIKUKUHKAN SEBAGAI PKP
PEROLEHAN BKP/JKP YANG FAKTUR PAJAKNYA TIDAK
MEMENUHI KETENTUAN PASAL 13 AYAT (5) ATAU AYAT (9) ATAU
TIDAK MENCANTUMKAN NAMA, ALAMAT, NPWP PEMBELI
BKP/PENERIMA JKP
PEMANFAATAN BKP TDK BERWUJUD ATAU PEMANFAATAN JKP
DARI LUAR DAERAH PABEAN YG FAKTUR PAJAKNYA TDK
MEMENUHI KETENTUAN PASAL 13 (6)
PEROLEHAN BKP/JKP YG PM-NYA DITAGIH DG PENERBITAN
KETETAPAN PAJAK
PEROLEHAN BKP/JKP YG PM-NYA TDK DILAPORKAN
DLM SPT MASA PPN YG DIKETEMUKAN PADA WAKTU
DILAKUKAN PEMERIKSAAN

PEROLEHAN BKP SELAIN BARANG MODAL ATAU JKP SEBELUM


PENGUSAHA BERPRODUKSI

60
PM YANG DAPAT DIKREDITKAN
TETAPI BELUM DIKREDITKAN DG PK
PADA MASA PAJAK YG SAMA
Ps. 9 ayat (9)

DAPAT DIKREDITKAN
PADA MASA PAJAK
BERIKUTNYA

SEPANJANG PM TSB. BELUM DIBEBANKAN


SBG BIAYA ATAU BELUM DIKAPITALISASIKAN
DGN HARGA PEROLEHAN BKP/JKP YBS.
& BELUM DILAKUKAN PEMERIKSAAN

SELAMBAT-LAMBATNYA
TIGA BULAN SETELAH APABILA JANGKA
BERAKHIRNYA WAKTU
MASA PAJAK TSB. DILAMPAUI

PENGKREDITAN PM DAPAT DILAKUKAN


MELALUI PEMBETULAN SPT MASA PPN YBS

61
KETENTUAN MENGENAI
PENGHITUNGAN DAN TATA CARA
PENGEMBALIAN KELEBIHAN PAJAK
MASUKAN
PS. 9 AYAT (13)

PASAL 9 PENGEMBALIAN PADA AKHIR


AYAT (4a) TAHUN PAJAK
PASAL 9 PENGEMBALIAN SETIAP MASA
AYAT (4b) PAJAK
PASAL 9 PENGEMBALIAN PENDAHULUAN
AYAT (4c) UTK PKP BERISIKO RENDAH

DIATUR DENGAN ATAU BERDASARKAN


PERATURAN MENTERI KEUANGAN
(72/PMK.03/2010)

62
PENGALIHAN BKP DALAM RANGKA
PENGGABUNGAN, PELEBURAN,
PEMEKARAN, PEMECAHAN, DAN
PENGAMBILALIHAN USAHA
PS. 9 AYAT (14)

PAJAK MASUKAN ATAS BKP YANG DIALIHKAN

YANG BELUM DIKREDITKAN OLEH PKP YANG


MENGALIHKAN

DAPAT DIKREDITKAN OLEH PKP YANG


MENERIMA PENGALIHAN

SEPANJANG FAKTUR PAJAKNYA DITERIMA


SETELAH TERJADINYA PENGALIHAN DAN
PAJAK MASUKAN TERSEBUT BELUM
DIBEBANKAN SEBAGAI BIAYA ATAU
DIKAPITALISASI.

63
CARA MENGHITUNG PPn BM
YANG TERUTANG
Ps. 10 ayat (1), (2), (3)

PPn BM YANG TERUTANG


DIHITUNG DENGAN CARA :
TARIF PPn BM X DPP
Ps. 10 (1)

PPn BM YANG SUDAH DIBAYAR


TIDAK DAPAT DIKREDITKAN
DG PPN ATAU PPn BM
YANG TELAH DIPUNGUT
Ps. 10 (2)

UNTUK BKP YG TERGOLONG MEWAH


YG DIEKSPOR , PPn BM YG DIBAYAR
PADA WAKTU PEROLEHAN BKP TSB
DAPAT DIMINTA KEMBALI
Ps. 10 (3)

64
SAAT TERUTANGNYA PAJAK
Ps. 11 ayat (1), (2), (4)

TERJADI PADA SAAT :

PENYERAHAN BKP/JKP

IMPOR BKP

PEMANFAATAN BKP TDK BERWUJUD / JKP


11 (1)
DARI LUAR DAERAH PABEAN DI DALAM
DAERAH PABEAN
EKSPOR BKP BERWUJUD, BKP TDK
BERWUJUD DAN JKP
SAAT PEMBAYARAN APABILA PEMBAYARAN
11 (2) DITERIMA SEBELUM :

PEMANFAATAN BKP TDK


PENYERAHAN BERWUJUD/JKP DARI LUAR
BKP / JKP DAERAH PABEAN DI DALAM
DAERAH PABEAN

11 (4) SAAT LAIN YG DITETAPKAN OLEH DIRJEN PAJAK


(PER-8/PJ/2010)

65
TEMPAT TERUTANGNYA PAJAK
Ps. 12 ayat (1), (3), (4)

PEMANFAATAN
BKP TDK BERWUJUD/
PKP IMPOR JKP DARI LUAR
DAERAH PABEAN

TEMPAT TINGGAL,
TEMPAT TEMPAT TINGGAL/
KEDUDUKAN, TEMPAT BKP TEMPAT
TEMPAT KEGIATAN DIMASUKKAN KEDUDUKAN/
USAHA DAN DIPUNGUT TEMPAT KEGIATAN
DILAKUKAN, MELALUI DJBC USAHA DARI
TEMPAT LAIN ORANG PRIBADI/
YANG DIATUR BADAN YG
DENGAN PER MEMANFAATKAN
DIRJEN PAJAK BKP TDK BERUJUD/
(PER-4/PJ/2010) JKP DARI LUAR
DAERAH PABEAN
TERSEBUT
Ps. 12 (1) Ps. 12 (3) Ps. 12 (4)

66
PEMUSATAN TEMPAT
TERUTANGNYA PAJAK
Ps. 12 ayat (2)

ATAS PEMBERITAHUAN SECARA


TERTULIS DARI PENGUSAHA
KENA PAJAK

DIREKTUR JENDERAL PAJAK


DAPAT MENETAPKAN 1 (SATU)
TEMPAT ATAU LEBIH SEBAGAI
TEMPAT PAJAK TERUTANG

PER DIRJEN NO. PER-19/PJ/2010


TENTANG PENETAPAN SATU
TEMPAT ATAU LEBIH SEBAGAI
TEMPAT PPN TERUTANG

67
KEWAJIBAN MEMBUAT
FAKTUR PAJAK
Ps. 13 ayat (1), (3)

PKP WAJIB MEMBUAT FAKTUR PAJAK UNTUK


SETIAP :
PENYERAHAN BKP/JKP
PENYERAHAN EKS PS 16D
EKSPOR BKP BERWUJUD
EKSPOR BKP TDK BERWUJUD
EKSPOR JKP
Ps. 13 ayat (1)

MENYIMPANG DARI
KETENTUAN TSB.

PKP DAPAT MEMBUAT SATU FAKTUR PAJAK


(FAKTUR PAJAK GABUNGAN) MELIPUTI
SELURUH PENYERAHAN YG DILAKUKAN
KEPADA PEMBELI BKP/JKP YG SAMA
SELAMA 1 BULAN KALENDER
Ps. 13 ayat (2)

68
SAAT PEMBUATAN
FAKTUR PAJAK
Ps. 13 ayat (1a), (2a)

FAKTUR PAJAK HARUS DIBUAT PADA :

SAAT PENYERAHAN BKP / JKP

SAAT PENERIMAAN PEMBAYARAN DALAM


HAL PENERIMAAN PEMBAYARAN TERJADI
SEBELUM PENYERAHAN BKP / JKP

SAAT PENERIMAAN PEMBAYARAN TERMIN


DALAM HAL PENYERAHAN SEBAGIAN
TAHAP PEKERJAAN

SAAT LAIN YANG DIATUR DENGAN


PERATURAN MENKEU

FAKTUR PAJAK GABUNGAN HARUS DIBUAT


PALING LAMA PADA AKHIR BULAN
PENYERAHAN

69
KETERANGAN DALAM FAKTUR PAJAK
Ps. 13 ayat (5), (9)

PALING SEDIKIT MEMUAT :

NAMA, ALAMAT, NPW YANG MENYERAHKAN BKP/JKP

NAMA, ALAMAT, NPWP PEMBELI BKP / PENERIMA JKP

JENIS BARANG/JASA, JUMLAH HARGA JUAL


ATAU PENGGANTIAN & POTONGAN HARGA

PPN YG DIPUNGUT

PPn BM YG DIPUNGUT

KODE, NO. SERI & TGL. PEMBUATAN FAKTUR PAJAK

NAMA & TANDA TANGAN YG BERHAK


MENANDATANGANI FAKTUR PAJAK

FAKTUR PAJAK HARUS MEMENUHI PERSYARATAN FORMAL


DAN MATERIAL
PS. 13 AYAT (9)

FAKTUR PAJAK YANG TIDAK DIISI SESUAI KETENTUAN


MENGAKIBATKAN PPN YANG TERCANTUM TIDAK BISA
DIKREDITKAN
PENJELASAN PS. 13 AYAT (5)
70
DOKUMEN-DOKUMEN TERTENTU YG
KEDUDUKANNYA DIPERSAMAKAN DENGAN
FAKTUR PAJAK STANDAR
Ps. 13 ayat (6), (9)

DIREKTUR JENDERAL PAJAK DAPAT


MENETAPKAN DOKUMEN TERTENTU
YANG KEDUDUKANNYA
DIPERSAMAKAN DENGAN FAKTUR
PAJAK (Peraturan Dirjen Pajak Nomor
10/PJ/2010 )

FAKTUR PAJAK HARUS MEMENUHI


PERSYARATAN FORMAL DAN
MATERIAL
PS. 13 AYAT (9)

71
TATACARA PEMBUATAN DAN PEMBETULAN
ATAU PENGGANTIAN FAKTUR PAJAK
Ps. 13 ayat (8)

KETENTUAN LEBIH LANJUT


MENGENAI TATA CARA PEMBUATAN
DAN TATA CARA PEMBETULAN ATAU
PENGGANTIAN FAKTUR PAJAK
DIATUR DENGAN PERATURAN
MENTERI KEUANGAN

PERATURAN MENTERI KEUANGAN


NOMOR 38/PMK.04/2010

72
LARANGAN MEMBUAT
FAKTUR PAJAK
Ps. 14 ayat (1), (2)

ORANG PRIBADI / BADAN YG


TIDAK DIKUKUHKAN SEBAGAI PKP

DILARANG MEMBUAT
FAKTUR PAJAK

DLM HAL FAKTUR


PAJAK TELAH DIBUAT

PAJAK YG TERCANTUM
DLM FAKTUR PAJAK

HARUS DISETORKAN

KE

KAS NEGARA

73
JATUH TEMPO PENYETORAN
DAN PELAPORAN
Ps. 15A ayat (1), (2)

JATUH TEMPO JATUH TEMPO


PENYETORAN PELAPORAN

APABILA DALAM SUATU SPT MASA PPN


MASA PAJAK, PAJAK
KELUARAN LEBIH DISAMPAIKAN
BESAR DARIPADA PALING LAMA AKHIR
PAJAK MASUKAN, BULAN BERIKUTNYA
SELISIHNYA HARUS SETELAH
DISETOR OLEH PKP (PS.
9 AYAT (3)) BERAKHIRNYA MASA
PAJAK

PENYETORAN
PALING LAMA AKHIR
BULAN BERIKUTNYA
DAN SEBELUM SPT
MASA PPN
DISAMPAIKAN

74
PENYERAHAN BKP / JKP
KEPADA PEMUNGUT PPN
Ps. 16 A (Ketentuan Khusus)

ATAS PENYERAHAN BKP / JKP KEPADA


PEMUNGUT PPN

PPN YANG TERUTANG

WAJIB
WAJIB

DIPUNGUT
O
L
DISETOR E
PEMUNGUT
H PPN
DILAPORKAN

TATA CARA PEMUNGUTAN, PENYETORAN


DAN PELAPORAN PPN YANG TERUTANG
DIATUR DGN KEP. MENTERI KEUANGAN
(73/PMK.03/2010)

75
TIDAK DIPUNGUT ATAU
DIBEBASKAN DARI PENGENAAN PPN
Ps. 16 B ayat (1) (Ketentuan Khusus)

DIATUR DENGAN PERATURAN PEMERINTAH

PAJAK TERUTANG TIDAK DIPUNGUT DIBEBASKAN DARI


SEBAGIAN/SELURUHNYA, UNTUK PENGENAAN PAJAK UNTUK
SEMENTARA/SELAMANYA SEMENTARA/ SELAMANYA

UNTUK

KEGIATAN DI KAWASAN TERTENTU ATAU


TEMPAT TERTENTU
DI DALAM DAERAH PABEAN

PENYERAHAN BKP / JKP TERTENTU

IMPOR BKP TERTENTU

PEMANFAATAN BKP TDK BERWUJUD TERTENTU


DARI LUAR DAERAH PABEAN
DI DLM DAERAH PABEAN

PEMANFAATAN JKP TERTENTU DARI LUAR


DAERAH PABEAN DI DLM DAERAH PABEAN

76
PM ATAS PPN TERUTANG
TIDAK DIPUNGUT
Ps. 16 B ayat (2) (Ketentuan Khusus)

PAJAK MASUKAN YANG DIBAYAR


UNTUK PEROLEHAN BKP/JKP

YANG ATAS PENYERAHANNYA


TIDAK DIPUNGUT PPN

DAPAT DIKREDITKAN

77
PM ATAS PPN DIBEBASKAN
Ps. 16 B ayat (3)
(Ketentuan Khusus)

PAJAK MASUKAN YANG DIBAYAR


UNTUK PEROLEHAN BKP/JKP

YANG ATAS PENYERAHANNYA


DIBEBASKAN DARI PENGENAAN PPN

TIDAK DAPAT DIKREDITKAN

KARENA

FASILITAS PEMBEBASAN
PENGENAAN PPN, MENGAKIBATKAN
TIDAK ADANYA PAJAK KELUARAN

78
PPN ATAS KEGIATAN
MEMBANGUN SENDIRI
Ps. 16 C (Ketentuan Khusus)

ORANG PRIBADI BADAN

MEMBANGUN SENDIRI

DILAKUKAN TIDAK DALAM KEGIATAN


USAHA ATAU PEKERJAANNYA

HASILNYA DIGUNAKAN SENDIRI


ATAU DIGUNAKAN PIHAK LAIN

DIKENAKAN PPN

BATASAN DAN TATACARANYA DIATUR KEPUTUSAN


MENTERI KEUANGAN (39/PMK.03/2010)

79
PENYERAHAN BKP BERUPA
AKTIVA OLEH PKP
YG MENURUT TUJUAN SEMULA
AKTIVA TSB. TDK UNTUK
DIPERJUAL BELIKAN OLEH PKP
Ps. 16 D (Ketentuan Khusus)

DIKENAKAN PPN

KECUALI

PENYERAHAN AKTIVA YANG


PAJAK MASUKANNYA TIDAK
DAPAT DIKREDITKAN
SEBAGAIMANA DIMAKSUD
DALAM PASAL 9 AYAT (8)
HURUF B DAN HURUF C.

80
RESTITUSI PPN & PPnBM OLEH
ORANG PRIBADI PEMEGANG
PASPOR LUAR NEGERI
Ps. 16 E ayat (1), (3) (Ketentuan Khusus)

PPN DAN PPnBM YANG SUDAH DIBAYAR


ATAS PEMBELIAN BKP

YANG DIBAWA KE LUAR DAERAH PABEAN

OLEH ORANG PRIBADI PEMEGANG


PASPOR LUAR NEGERI

DAPAT DIMINTA KEMBALI

DILAKUKAN PADA SAAT MENINGGALKAN


INDONESIA DAN DISAMPAIKAN KEPADA
DIRJEN PAJAK MELALUI KANTOR DJP DI
BANDAR UDARA YANG DITETAPKAN OLEH
MENTERI KEUANGAN (141/KMK.03/2010)
81
RESTITUSI PPN & PPnBM OLEH
ORANG PRIBADI PEMEGANG
PASPOR LUAR NEGERI
Ps. 16 E ayat (2), (4) (Ketentuan Khusus)

PERSYARATAN YG DOKUMEN YG HARUS


HARUS DIPENUHI DITUNJUKKAN
NILAI PPN MINIMAL PASPOR
Rp500.000 DAN DAPAT
DISESUAIKAN DG BOARDING PASS
PERATURAN PEMERINTAH
UNTUK
PEMBELIAN BKP
DILAKUKAN DALAM JK KEBERANGKATAN
WAKTU 1 BULAN SEBELUM KE LUAR DAERAH
KEBERANGKATAN
FP HRS MEMENUHI
PABEAN
KETENTUAN PS. 13 AYAT (5) FAKTUR PAJAK
KECUALI KOLOM NPWP
DAN ALAMAT PEMBELI DIISI
DG NOMOR PASPOR DAN
ALAMAT LENGKAP DI
NEGARA YANG
MENERBITKAN PASPOR
ATAS PENJUALAN KPD OP
BERPASPOR LN YG TIDAK
MEMPUNYAI NPWP

82
RESTITUSI PPN & PPnBM OLEH
ORANG PRIBADI PEMEGANG
PASPOR LUAR NEGERI
Ps. 16 E ayat (5) (Ketentuan Khusus)

KETENTUAN MENGENAI TATA CARA


PENGAJUAN DAN PENYELESAIAN
PERMINTAAN KEMBALI PPN DAN
PPnBM OLEH ORANG PRIBADI
PEMEGANG PASPOR LUAR NEGERI
DIATUR DENGAN ATAU
BERDASARKAN PERATURAN MENTERI
KEUANGAN
(76/PMK.03/2010)

83
TANGGUNG JAWAB
RENTENG
Ps. 16F (Ketentuan khusus)

PEMBELI BKP/
PENERIMA JKP

BERTANGGUNG JAWAB
SECARA RENTENG ATAS
PEMBAYARAN PAJAK

SEPANJANG

TIDAK DAPAT MENUNJUKKAN BUKTI BAHWA


PAJAK TELAH DIBAYAR

84
TERIMA KASIH

koreksi dan saran dapat


disampaikan ke :
bambangsuman3@gmail.com

85