Anda di halaman 1dari 20

Asuhan Fisioterapi

Stase Pediatri pada ASD (Autism


Spectrum Disorder)
Oleh
Atikah Hanun
32 / J130170141
Autism Spectrum Disorder (ASD)
Definisi
Gangguan perkembangan yang ditandai dengan penurunan komunikasi
sosial / interaksi sosial serta diikuti dengan gerakan yang berulang
ulang dan stereotip. (Marko, 2015)

Kriteria ASD (DSM V, 2015)


Penurunan Komunikasi sosial dan interaksi sosial
Pola / kebiasaaan / aktivitas berulang
Muncul pada masa awal perkembangan
Ketidakmampuan melakukan aktivitas secara sosial dan fungsional
Global developmental delay
1% penduduk dunia
adalah populasi ASD (CDC,
2014)
Epidemiologi

Level ASD
8 per 1000 penduduk
Indonesia (WHO, 2014) (DSM V)

Sosial
Perbandingan 4 : 1 antara Komunikasi dan
anak laki laki dengan
perempuan. Perilaku
berulang

Memerlukan Memerlukan
Memerlukan
bantuan yang bantuan yang
bantuan
sangat besar besar
Faktor genetik Imunological Gastrointestinal Infeksi Virus Perinatal Metabolisme

Autism Spectrum Disorder (ASD)

Cerebellum Sistem Limbik Brainstem Basal Ganglia Korteks Serebri Neurochemical

Low purkinje Pembesaran Struktur Ekor Abnormal Serotonin,


dan sel granula pada brainstem nukleus neural dopamin,
pada hemisfer Amygdala lebih kecil lebih besar migration norefineprin
otak

Kesulitan Korteks
trasisi dari Prilaku prefrontal
Gangguan Gangguan satu aktivitas Inattensi,
stereotip
komunikasi, interaksi sosial ke aktivitas Korteks frontal hiperaktif,
emosi, atensi, lainnya. dan temporal impulsif,
dan respon kecil dan kurang dan
motorik padat infleksibel.
Disfungsi
vestibular
dan sensori Ketidakmampuan
Autism Spectrum Disorder in Children, Marcel membedakan
Dekker, 2004 informasi sensoris
Status Klinis Pasien

Identitas Pasien
No. RM :
Nama : An. F
Umur : 8.5 tahun
Jenis Kelamin : Laki laki
Alamat : Sragen
Agama : Islam
Pemeriksaan Subjektif
1. Body Chart 2. Keluhan Utama dan RPS

Forward Head Anak belum mampu berkomunikasi 2 arah


Hiperkifosis

Anak tidak bisa duduk diam

Anak sangat aktif dan sering


Flat Foot
kabur dari rumah
4. Riwayat Penyakit Dahulu

Pre- Ibu sering mengalami


morning sickness selama
natal trimester I

3. Riwayat Keluarga
Ibu melahirkan secara
Tidak ada anggota keluarga
Peri-natal normal
Cukup bulan
pasien yang mengalami
sakit seperti pasien
Sering kejang usia 1- 6
tahun
Usia 1 tahun mulai
merangkak
Post-natal Usia 3.5 tahun mulai
berjalan
Usia 7 tahun mulai bicara
Pemeriksaan Objektif
1. Inspeksi
Inspeksi Statis
Kontak mata belum baik
Hiperkifosis thorakal
Forward Head Position
Flat foot
Wajah kurang ekspresif

Inspeksi Dinamis
Clumsiness terutama pada
saat duduk, berjalan, dan
melakukan aktivitas permainan.
4. Tes Kognitif, intrapersonal,
dan interpersonal
Kognitif
3. Palpasi Atensi : -
Teraba spasme pada otot- Emosi : Labil
otot leher dan punggung Komunikasi : -
Motivasi : -
Spasme pada oral motor
Intrapersonal
Pasien sedikit sulit diajak
terapi
Interpersonal
Pasien belum mampu bekerja
sama dengan FT
Pemeriksaan Khusus
1. One leg standing test 3. DSM V
Tidak mampu Mencocokan kriteria-
mempertahankan posisi <30 kriteria yang ada dengan
detik = Ada gangguan konidisi terkini anak.
keseimbangan Dilihat dari aspek interaksi
sosial dan komunikasi.
2. Tes Fungsional
Kesulitan melakukan
aktivitas sehari-hari secara
mandiri
Diagnosa Fisioterapi
a. Impairment b. Functional Limitation
Belum dapat berkomunikasi 2 Anak belum mampu
arah
Kontak mata belum konsisten melakukan aktivitas sehari-
Masih terdapat refleks primitif hari secara mandiri
seperti babinski, Grasp tangan
dan kaki, dan blinking. Bicara
Hipersensitif pada visual , taktil, Belajar
dan auditori
Motor planning belum maksimal,
kurangnya body awareness
c. Participation Restriction
Spasme pada otot-otot punggung
dan leher Bermain
Spasme pada oral motor
Hiperaktif
Sekolah
Program Fisioterapi
Jangka Pendek Jangka Panjang
Memperbaiki kontak mata Memperbaiki motor
Menata refleks primitif planning dan body
Munurunkan sensitifitas awareness
pada visual, taktil, dan Berkomunikasi 2 arah
auditori
Melakukan ADL secara
Menurunkan spasme pada mandiri
otot-otot punggung dan
leher Bermain dan berinteraksi
Menurunkan spasme pada dengan lingkungan
oral motor
Intervensi Fisioterapi
1. Neurosenso
Membuka gerbang sensoris 4. Brain gym
agar mudah distimulasi
Mengkoordinasi antara otak
serta memberikan efek
kanan dan otak kiri,
rileksasi pada tubuh
2. Koreksi Postur 5. Blocking
Mensingkronisasi audio visual
Memperbaiki postur dan
dengan cara mengurangi
mencegah terjadinya
rangsangan dari luar.
penambahan kurva kifosis
3. MNRI
Menata refleks primitif,
mengontrol prilaku,
meningkatkan koordinasi
dan self awareness
Progress with Neurosensorimotor
Reflex Integration for Children with
Autism Spectrum Disorder
Journal of Neurology and Psycology
Svetlana Masgutova, et al. 2016.
Abstrak

Masgutova Neurosensorimotor
Ditujukan untuk membantu Pada saat assesmen refleks
Reflex Integration (MNRI)
sistem neuro-senso-motor pada anak ASD, ditemukan
dipilih untuk memfasilitasi
sebagai tanda kematangan sekitar 83.33% (25/30)
neurodevelopment pada anak
fungsi otak. penyimpangan pola refleks
ASD.

Ada kemajuan signifikan


Setelah diberikan MNRI terhadap anak ASD yaitu pada
terjadi penurunan yang Perkembangan level refleks,
signifikan sebesar 63.33%. koordinasi kontrrol postural,
(p>0.05) sensitifitas taktil, body
awareness, dan kontrol prilaku.
Introduksi
MNRI (Masgutova Neurosensorimotor
Subcortical brain Reflex Integration)

Refleks patologis pada anak ASD


Extrapiramidal
nervous system
Fasilitasi neurodevelopment yang
ditujukan kepada sirkuit refleks
Neurosensorimotor
Integration Kematangan sistem neurosensorimotor
Processing

Input
Respon
sensoris
Postur Metode :
Comparative Analysis

Kematangan Neurosensorimotor
refleks Research
(Anak dengan ASD)
Kontrol
Gerakan
gerak

MNRI Selain MNRI

Kontak mata
Stereotip
buruk

n = 72 n= 484
Ketidakmampuan (4 19 tahun) (4 19 tahun)
Hiper atau hipo
mengimitasi dan
sensitif taktil atau
mengikuti
auditori
instruksi

ASD
Subjek penelitian Durasi penelitian MNRI program

Social development Total durasi treatment 9 Integrasi neurotaktil


delays hari Integrasi
Speech and 4 hari latihan intens neurostruktural refleks
communication deficit 1 hari istirahat Dinamis dan
Kebiasaan atau prilaku 4 hari latihan repatterning postural
berulang (kebiasaan refleks
abnormal) Integrasi refleks auditori
Integrasi senso motor visual
Setelah intens training
dan pola refleks buruk Integrasi refleks oral
lakukan 3x/minggu
Motor planning buruk fasial
7 detik denga repetisi 3-
Keterlambatan proses 4kali (kedua sisi) Perkembangan
intelektual kemampuan
proprioseptif/vestibular
dan kognitif
Integrasi refleks seumur
hidup
Hasil Kesimpulan
Kelompok perlakuan 1 MNRI meningkatkan
menggunakan metode kemampuan kognitif terutama
selain MNRI menunjukan pada integrasi sensomotor,
hasil yang tidak signifikan prilaku, emosi, self awareness,
bicara dan bahasa.
Kelompok perlakuan 2
Dalam penatalaksanaannya
dengan menggunakan
MNRI akan lebih optimal jika
metode MNRI di kombinasi dengan metode
menunjukan hasil yang lain dilihat dari segi edukasi
signifikan (ABA, TEACCH,CBT, dll)
TERIMAKASIH