Anda di halaman 1dari 111

Part II

Komposisi magma
Pelelehan sebagian (partial melting) batuanasal pelelehan
batuan asal disebabkan oleh tiga hal:
1) Pemanasan,
2) Masuknya air pada suhu dibawah pelelehan kering,
3) Penekanan kembali batuan dibawah suhu awal pelelehan.
Magma merupakan material yang mobil (mudah berpindah),
sehingga sangat mudah lepas dari sumbernya.
Perubahan komposisi magma Perubahan komposisi magma
Perubahan difusional, terjadi pada sisa magma di
Dalam kamar magma. Misalnya, pengkayaan
alkali-feldspar pada bagian atas suatu pluton
terjadi akibat difusi alkali ion(K+, Na+).
Kristalisasi sebagian (fractional crystallization) sehingga
diferensiasi magma
Percampuran magma (magmamixing)
Asimilasi, masuknya material asing sehingga berpengaruh pada
komposisi
Kristalisasi magma Kristalisasi magma
Alasan magma mengalami pemadatan: hilangnya panas
dan/atau hilangnya fase cair.
Kristalisasi sebagian atau kristalisasi terjadi bertahap
(sequenceof crystallization), misalnya pembentukan tekstur porfiri
diawali oleh pertumbuhan fenokris,dan terakhir massa dasar.
Urutan kristalisasi mineral pada batuan beku dapat dilihat
pada gambar berikut:
Suhu dan tekanan Suhu dan tekanan
Mineral-mineral magmatik mempunyai variasi suhu
pembentukannya.
Ada duafaktor yang berpengaruh terhadap ketergantungan
suhu:
(1) levelsuhu, dan
(2) laju pendinginan mineral.
Awal pengkristalan sistemgranitik kering memiliki suhurelatif
lebih tinggi,membentuk sanidin atau anortoklas, sedangkan pada
granitik basah, suhu lebih rendah, membentuk ortoklas.
Dalam geologi, kristalografi merupakan salah satu ilmu paling
dasar yang harus dikuasai untuk selanjutnya bisa menguasai
mineralogi.
Hal pertama yang harus dikuasai adalah ke tujuh sistem kistal
utama, untuk variasi dan kelas-kelasnya, bisa dipelajari
kemudian.
Fase cair ke padat : kristalisasi suatu lelehan atau cairan
sering terjadi pada skala luas dibawah kondisi alam
maupun industri. Pada fase ini cairan atau lelehan dasar
pembentuk kristal akan membeku atau memadat dan
membentuk kristal. Biasanya dipengaruhi oleh perubahan
suhu lingkungan.
Fase gas ke padat (sublimasi) : kristal dibentuk langsung
dari uap tanpa melalui fase cair. Bentuk kristal biasanya
berukuran kecil dan kadang-kadang berbentuk rangka
(skeletal form). Pada fase ini, kristal yang terbentuk
adalah hasil sublimasi gas-gas yang memadat karena
perubahan lingkungan. Umumnya gas-gas tersebut adalah
hasil dari aktifitas vulkanis atau dari gunung api dan
membeku karena perubahan temperature.
Fase padat ke padat : proses ini dapat terjadi pada
agregat kristal dibawah pengaruh tekanan dan
temperatur (deformasi). Yang berubah adalah struktur
kristalnya, sedangkan susunan unsur kimia tetap
(rekristalisasi). Fase ini hanya mengubah kristal yang
sudah terbentuk sebelumnya karena terkena tekanan
dan temperatur yang berubah secara signifikan.
Sehingga kristal tersebut akan berubah bentuk dan
unsur-unsur fisiknya. Namun, komposisi dan unsur
kimianya tidak berubah karena tidak adanya faktor
lain yang terlibat kecuali tekanan dan temperatur.
Kristalografi adalah sains eksperimental yang bertujuan
menentukan susunan atom dalam zat padat.
Dahulu istilah ini digunakan untuk studi ilmiah kristal.
Kata "kristalografi" berasal dari kata bahasa Yunani crystallon
= tetesan dingin/beku, dengan makna meluas kepada semua
padatan transparan pada derajat tertentu, dan graphein =
menulis.
Kristalografi adalah ilmu yang mempelajari tentang
penjabaran kristal meliputi : sifat-sifat kristal pada umumnya,
susunan atomnya (internal structure) dan sistem kristal.
Kristal sendiri adalah zat padat yang mempunyai susunan atom
/ molekul yang teratur atau bangun polyeder (bidang banyak)
yang teratur dan dibatasi bidang-bidang datar yang tertentu
jumlahnya.
Kristal adalah bahan padat homogen, biasanya anisotrop dan
tembus cahaya serta mengikuti hukum-hukum ilmu pasti sehingga
susunan bidang-bidangnya memenuhi hukum geometri; Jumlah
dan kedudukan bidang kristalnya selalu tertentu dan teratur.
Kristal berhubungan dengan bagaimana bentuk mineral yang
ada di permukaan bumi.
Jadi urutannya, Kristal membentuk mineral, mineral membentuk
batuan.
Baik monomineralik (batuan hanya dibentuk oleh 1 macam
mineral) maupun polimineralik (batuan dibentuk oleh
banyak/bermacam-macam mineral)
Bila ditinjau dan telaah lebih dalam mengenai pengertian kristal, mengandung
pengertian sebagai berikut :
1. Bahan padat homogen, biasanya anisotrop dan tembus cahaya :
tidak termasuk didalamnya cair dan gas
tidak dapat diuraikan kesenyawa lain yang lebih sederhana oleh proses
fisika
terbentuknya oleh proses alam
2. Mengikuti hukum-hukum ilmu pasti sehingga susunan bidang-bidangnya
mengikuti hukum geometri :
jumlah bidang suatu kristal selalu tetap
macam atau model bentuk dari suatu bidang kristal selalu tetap
sifat keteraturannya tercermin pada bentuk luar dari kristal yang tetap.
Apabila unsur penyusunnya tersusun secara tidak teratur dan tidak mengikuti
hukum-hukum diatas, atau susunan kimianya teratur tetapi tidak dibentuk oleh
proses alam (dibentuk secara laboratorium), maka zat atau bahan tersebut
bukan disebut sebagai kristal.
1. Sumbu Kristalografi
Sumbu Kristalografi adalah suatu garis yang dimuat melalui
pusat kristal.
2. Parameter dan Parametral ratio
Untuk mengetahui posisi bidang kristal, ialah dengan cara
mencari perpotongan antara bidang kristal tersebut dengan
sumbu-sumbu kristalografi yang disebut parameter.
3. Penentuan System Kristalografi
Didasarkan pada letak/posisi dan panjang kristalografi,
disamping itu pula dapat ditambahkan tergantung pada
jumlah sumbuh kristalografi dan nilai sumbu C ( vertical axis
atau principle axis ).
Kristal mineral dibagi menjadi menjadi tujuh sistem Kristal,
dimana pembagian tersebut didasarkan atas:

Jumlah sumbu Kristal ( 3 atau 4 sumbu)


Letak sumbu Kristal terhadap sumbu yang lain (tegak lurus atau
tidak)
Besarnya parameter (panjang) masing-masing sumbu
Nilai (simetri) sumbu c atau sumbu vertical
Ciri:
a. Panjang sumbu a=b=c (karena
ketiga sumbu sama panjang
sehingga bisa juga diganti
dengan a1=a2=a3).
b. Ketiga sumbu saling tegak lurus
(Sumbu : = = = 90)
c. Memiliki 3 sumbu
Sistem kristal : Reguler
Jumlah unsur simetrik : 3L4 4L36 6L2 9PC
Klas simetri : Hexoctahedral
(hm) :4 3 2
m m
(Sc) : Oh
Nama dan simbol bentuk : Hexahedron {100}
Octahedron {111}
Contoh mineral : Emas (Au)
Emas (Au)
Perak / Silver (Ag)
Tembaga (Cu)
Platina (Pt)
Magnetite (Fe3O4) & Fluorite (CaF2)
Galena (PbS)
Pirit (FeS2)
Tampak ada striasi (garis-garis) yang jelas di permukaannya
Halit (NaCl) & Diamond / Intan (C)
Mineral-mineral tersebut ada yang hanya
mempunyai 1 unsur penyusun saja seperti Au,
Ag, Pt, dan C.
Untuk selanjutnya, mineral-mineral tersebut
disebut dengan mineral unsur bebas, karena
tidak berikatan dengan unsur lain dan bisa
berdiri sendiri.
Dalam perkembangannya, sistem kristal isometrik
mempunyai lima kelas utama dengan bentuknya
yang merupakan perkembangan dari bentuk
dasarnya. Kelima kelas utama tersebut adalah:
1. Tetartoidal
2. Diploidal
3. Hextetrahedral
4. Gyroidal
5. Hexoctahedral
Ciri:
1. Panjang sumbu a1=a2c
2. Sumbu c bisa lebih panjang (columnar), atau lebih pendek
(stout) dari sumbu a1 atau a2
3. Sumbu a1, a2 dan a3 saling tegak lurus ( = = = 90)
4. Memiliki 3 sumbu
Kalkopirit (CuFeS2)
Zircon (ZrSiO4)
Pirolusit (MnO2)
Scheelite (CaWo4)
Wulfenite (PbMoO4)
Sistem kristal Tetragonal pun mempunyai 7 kelas :
1. Disphenoidal
2. Pyramidal
3. Dipyramidal
4. Scalenohedral
5. Ditetragonal pyramidal
6. Trapezohedral
7. Ditetragonal dipyramidal
Ciri:
a. Panjang sumbu abc
b. Sumbu a = sb. Brachy, sumbu b=
Sb. Macro, Sumbu c= Sb.basal
c. Sumbu a, b, dan c saling tegak
lurus ( = = = 90)
d. Sumbu a terpendek dan sumbu b
terpanjang
e. Mempunyai 3 sumbu
Belerang (Sulphur, S) - mineral unsur bebas
Anhidrit (CaSO4)
Kalkosit (Cu2S)
Markasit (FeS2)
Aragonit (CaCO3)
Barit (BaSO4)
Sistem kristal orthorombik mempunyai 3
kelas yaitu:
1. Dypiramidal
2. Disphenoidal
3. Pyramidal
Ciri:
a. Panjang sumbu a1=a2=a3c
b. Saling tegak lurus (sb. A1, a2, a3
saling tegak lurus terhadap sumbu c)
c. Sb. C dapat lebih panjang /
pendek dari sb.a
d. Mempunyai 6 bidang Kristal
e. Mempunyai 4 sumbu
= = = 120
Arsenopirit (FeAsS)
Dolomite [CaMg(CO3)2]
Apatite [CaF(PO4)3]
Vanadinite [Pb5Cl(PO4)3]
Kuarsa (SiO2)
Sistem kristal Heksagonal mempunyai 7 kelas
yaitu:
1. Trigonal Dypiramidal
2. Pyramidal
3. Dypiramidal
4. Ditrigonal Dypiramidal
5. Dihexagonal pyramidal
6. Trapezohedral
7. Dihexagonal Dypiramidal
Meskipun namanya TRIgonal, namun sistem Kristal ini
mempunyai 4 sumbu Kristal (jangan terjebak)
Ciri: sama persis dengan sistem hexagonal, hanya pada sistem
ini membentuk bentuk Kristal berupa segitiga, dimana diantara
2 sumbu mendatar dibuat satu garis.
Sumbu : = = = 120
Panjang Sumbu : a = b = d c
Beberapa ahli memasukkan sistem ini ke dalam sistem
heksagonal.
Demikian pula cara penggambarannya juga sama.
Perbedaannya bila pada trigonal setelah terbentuk
bidang dasar, yang berbentuk segienam kemudian
dibuat segitiga dengan menghubungkan dua titik
sudut yang melewati satu titik sudutnya.
Kalsit (CaCo3)
(Yellow Calcite)
Amethyst (SiO2)
Korundum (Al2O3)
Ruby
Tourmaline
Sistem Kristal Trigonal mempunyai 5 kelas yaitu:
1. Pyramidal
2. Rhombohedral
3. Ditrigonal Pyramidal
4. Trapezohedral
5. Hexagonal Scalenohedral
Mempunyai 1 sumbu yang miring dari 3 sb yang dimilikinya.
(Mono=satu, klin=miring)
Meskipun sb.c tidak tegak lurus terhadap sumbu b, tapi karena
sumbu a tegak lurus thdp sb.b, maka sistem Kristal ini masih tetap
disebut tegak lurus ( = = 90 , 90)
abc
Ciri:
a. Panjang sumbu abc
b. Sumbu a tegak lurus thdp sb.b
c. Sumbu c tidak tegak lurus thdp sb b
d. Sumbu a=sb. Clino, sb.b=sumbu ortho,
sb.c=sb.basal
e. Mempunyai 3 sumbu
Biotit [K(Mg,Fe)3AlSi3O10(F,OH)2 ]
Muskovit KAl2(AlSi3O10)(F,OH)2, or (KF)2(Al2O3)3(SiO2)6(H2O)
Hornblende
Gipsum
Aegirin
Sistem Kristal Monoklin mempunyai 3 kelas
yaitu:
1. Domatic
2. Prismatic
3. Sphenoidal
(Tri=tiga, klin=miring)=semua sumbu miring
Ciri:
a. Panjang sumbu abc
b. Sumbu a, b, c tidak saling tegak lurus
c. Sb. a,b,c slg berpotongan membentuk sudut miring tidak sama
besar
d. Sb.a=Sb.Clino, Sb.b=sb.ortho, Sb.c=sb.basal
e. Mempunyai 3 sumbu Kristal
Sistem ini mempunyai tiga sumbu yang satu dengan lainnya tidak
saling tegak lurus. Demikian juga panjang masing-masing sumbu
tidak sama.
Sumbu : 90
Panjang Sumbu Satuan : a b c

CONTOH MINERAL:
- Plagioklas
- Rodokrosit
Selain bentuk dasar tersebut, sistem kristal triklin mempunyai 2 kelas
yaitu:
1. Pedial
2. Pinacoidal
Sumbu kristalografi adalah suatu garis lurus yang dibuat
melalui pusat kristal. Dimana kristal mempunyai bentuk 3
dimensi, yaitu panjang, lebar, dan tebal atau tinggi, Tetapi
dalam penggambarannya dibuat 2 dimensi sehingga
digunakan proyeksi orthogonal.
Sudut kristalografi adalah sudut yang di bentuk oleh
perpotongan sumbu- sumbu kristalografi pada titik potong
(pusat kristal).
Tujuh prinsip letak bidang kristal terhadap susunan salib sumbu
kristal:
: sudut yang dibentuk antara sumbu b dan sumbu c
: sudut yang dibentuk a
Suatu kristal mengandung beberapa bidang atom,
bidang-bidang ini mempengaruhi sifat dan perilaku
material, sehingga bermanfaat untuk
mengidentifikasi berbagai bidang dalam kristal.
Bidang kisi kristal yang paling mudah dikenali
adalah bidang pembatas sel satuan, tetapi terdapat
pula banyak bidang lain.
Masing-masing diberi tanda (010), (110), dan (111),
dimana bilangan dalam tanda kurung (hkl) disebut
Indeks miller
1. Sumbu simetri
Sumbu semetri adalah suatu garis lurus yang dibuat melalui pusat
kristal, dimana apabila kristal tersebut diputar 360 dengan garis
tersebut sebagai sumbu perputaran, maka pada kedudukan-
kedudukan tersebut akan menunjukan kenampakan-kenampakan
yang sama dengan semula.
2. Bidang simetri
Bidang simetri adalah bidang yang melalui pusat kristal dan
membelah kristal menjadi dua bagian yang sama, dimana bagian
yang satu merupakan pencerminan dati bagian belahan yang
lain.
3. Pusat simetri
Pusat simetri adalah titik dalam kristal dimana melaluinya dapat ditulis
garis sedemikian rupa, sehingga pada sisi yang satu dengan yang lain
pada jarak yang sama tetdapat wajah yang sama (tepi, sudut, bidang
kristal, dsb).
4. Penentuan klas simetri
Pentuanan pusat simetri didasarkan pada jumlah unsur-unsur simetri
yang dikandung pada kristal tersebut. Dalam kristalografi terdapat 32
klas simetri.
Ada beberapa cara untuk menentukan klas simetri dari suatu kristal,
antara lain menurut:
- Herman Mauguin
- Schoenflies
a. Bidang
Bidang khayal yang membagi Kristal menjadi dua bagian
yang sama. Satu bagian merupakan pencerminan dari
bagian yang lain.
Digolongkan menjadi 2, yaitu bidang simetri aksial
adalah bidang simetri yang melewati 2 sumbu Kristal. Bdg
simetri aksial vertical apabila bdg simetri tsb melewati
seluruh bagian dari sb. c, sedangkan bidang simetri aksial
horizontal terjadi apabila bdg tsb memotong tegak lurus
terhadap sumbu c.
Sedangkan yang kedua yaitu bidang simetri intermedier
tjd apabila bdg simetri tsb hanya melewati 1 sumbu Kristal
saja, atau sering disebut dengan bdg simetri diagonal.
b. Sumbu simetri
Adalah garis khayal yamg melewati pusat Kristal, dan bila Kristal
diputar satu putaran penuh akan didapatkan beberapa kali
kenampakan yang sama. Dibedakan menjadi 2:
1. Gire
Sb. putar biasa dan cara mendapatkan nilai simetrinya adalah
dengan memutar poros sumbu tersebut sebanyak 1 putaran penuh
(360 derajat). Ada 2 kenampakan sama= digire, 4=tetragire,
6=hexagire.
2. Giroid
Sb. simetri yang cara mendapatkan nilai simetrinya dengan
memutar sejauh 1 putaran penuh dan memproyeksikannya pada
bidang yang tegak lurus sb tsb.bernilai 4=tetragiroid,
6=hexagiroid
c. Pusat simetri
Suatu Kristal dikatakan mempunyai pusat simetri
jika dapat dibuat garis bayangan melalui titik
pada permukaan Kristal menembus pusat Kristal
dan akan menjumpai titik yang lain pada
permukaan yang lain dengan jarak yang sama
dari pusat Kristal.
Yang dimaksud dengan bentuk atau form adalah semua bidang
kristal yang mempunyai letak relatif sama terhadap bidang-
bidang simetri atau simbu-sumbu simetri.
Selanjutnya bentuk kristal dapat dibedakan menjadi bentuk
dasar, bentuk kombinasi yang terdiri dari dua atau lebih
bentuk-bentuk dasar dan bentuk kembar yang terdiri dari dua
atau lebih bentuk-bentuk dasar yang sama atau bentuk-bentuk
kombinasi yang sama.
Suatu kristal disebut berbentuk dasar bila semua bidang kristal
yang ada mempunyai indeks bidang yang sama.
Perkecualian pada prisma-prisma dimana bidang-bidang
tegak lurus sumbu c, yaitu bidang basis tidak diperhitungkan.
Jika panjang sumbu Kristal sama, maka dapat dinamakan
sama.
Contoh: sistem isometric dimana ketiga sumbu sama panjang,
maka ketiga sumbu dapat dinamakan sumbu a1, sb.a2,
ataupun sumbu a3.
Dinamakan sama (huruf a), hanya diberi nomor 1, 2, 3 untuk
pembeda.
Tapi jika panjang sumbu berbeda, misal orthorombik, maka
harus diberi nama yang berbeda (Sumbu a, sb.b, sb.c)
Bentuk Kristal yang ada di permukaan bumi tidak selalu
sempurna dan simetris, tetapi tergantung juga factor-faktor
penyebabnya akan membentuknya seperti apa.
Contoh: mineral kalsit tidak selalu ditemukan dalam bentuk
trigonal, tetapi dapat juga ditemukan dalam bentuk
hexagonal.
Tidak semua mineral dpt ditemukan dalam dua bentuk Kristal
yang beda.
Contoh: halit akan selalu ditemukan dalam bentuk isometric.
Proyeksi orthogonal adalah salah satu metode proyeksi yang
digunakan untuk mempermudah penggambaran. Proyeksi
orthogonal ini dapat diaplikasikan hampir pada semua
penggambaran yang berdasarkan hukum-hukum geometri.
Pada proyeksi orthogonal, cara penggambaran adalah
dengan menggambarkan atau membuat persilangan sumbu.
Yaitu dengan menggambar sumbu a, b, c dan seterusnya
dengan menggunakan sudut-sudut persilangan atau
perpotongan tertentu.
Pada akhirnya akan membentuk gambar tiga dimensi dari
garis-garis sumbu tersebut dan membentuk bidang-bidang
muka kristal.
Jumlah unsur simetri adalah notasi-notasi yang digunakan untuk
menjelaskan nilai-nilai yang ada dalam sebuah kristal, nilai
sumbu-sumbunya, jumlah bidang simetrinya, serta titik pusat
dari kristal tersebut.
Dengan menentukan nilai jumlah unsur simetri, kita akan dapat
mengetahui dimensi-dimensi yang ada dalam kristal tersebut,
yang selanjutnya akan menjadi patokan dalam
penggambarannya.
Unsur simetri yang diamati adalah sumbu, bidang, dan pusat
simetri.
Pada posisi kristal dengan salah satu sumbu utamanya, lakukan
pengamatan terhadap nilai sumbu simetri yang ada.
Pengamatan dapat dilakukan dengan cara memutar kristal
dengan poros pada sumbu utamanya.
Perhatikan keterdapatan sumbu simetri tambahan, jika ada
tentukan jumlah serta nilainya. Menentukan nilainya sama
dengan pada sumbu utama.
Amati keterdapatan bidang simetri pada setiap pasangan
sumbu simetri yang ada pada kristal.
Amati bentuk kristal terhadap susunan persilangan sumbunya,
kemudian tentukan ada tidaknya titik pusat kristal.
Jumlahkan semua sumbu dan bidang simetri (yang bernilai
sama) yang ada.
Ada 2 simbolisasi yang sering digunakan
atau yang dikenal secara umum (simbol
Internasional), yaitu :
Herman-Mauguin dan
Schoenflish.
Simbol Herman-Mauguin adalah simbol yang
menerangkan ada atau tidaknya bidang simetri
dalam suatu kristal yang tegak lurus terhadap
sumbu-sumbu utama dalam kristal tersebut.
Hal ini dapat dilakukan dengan mengamati
sumbu dan bidang yang ada pada kristal
tersebut.
Pemberian simbol Herman-Mauguin ini akan
berbeda pada masing-masing kristal, demikian
pula pada setiap Sistem Kristal.
Bagian I : menerangkan nilai sumbu a (Sb a, b,
c), mungkin bernilai 4 atau 2 dan ada tidaknya
bidang simetri yang tegak lurus sumbu a
tersebut.
Bagian ini dinotasikan dengan :
Angka menunjukan nilai sumbu dan hutuf m
menunjukan adanya bidang simetri yang tegak
lurus sumbu a tersebut.
Bagian II : menerangkan sumbu simetri bernilai
3. apakah sumbu simetri yang bernilai 3 itu,
juga bernilai 6 atau hanya bernilai 3 saja.
Maka bagian II selalu di tulis: 3 atau 3
Bagian III : menerangkan ada tidaknya sumbu
simetri intermediet (diagonal) bernilai 2 dan
ada tidaknya bidang simetri diagonal yang
tegak lurus terhadap sumbu diagonal tersebut.
Bagian ini di notasikan: 2/m , 2 , m atau tidak
ada.
Bagian I : menerangkan nila sumbu c, mungkin bernilai 4 atau tidak bernilai dan ada
tidaknya bidang simetri yang tegak lurus sumbu c.
Bagian ini di notasikan: 4 , 4 , 4
m
Bagian II: menerangkan ada tidaknya sumbu lateral dan ada tidaknya bidang simetri
yang tegak lurus yterhadap sumbu lateral tersebut.
Bagian ini di notasikan: 2 , 2, m atau tidak ada.
m
Bagian III: menerangkan ada tidaknya sumbu simetri intermediet dan ada tidaknya
bidang simetri yang tegak lurus terhadap sumbu inetrmediet tersebut.
Bagian ini di notasikan: 2 , 2 , m atau tidak ada.
m
Bagian I: menerangkan nilai sumbu c (mungkin 6, 6, 6, 3, 3) dan
ada tidaknya bidang simetri horisontal yang tegak lurus sumbu c tersebut.
Bagian ini di notasikan : 6, 6, 6, 3, 3
Bagian II: menerangkan sumbu lateral (sumbu a, b, d) dan ada tidaknya
bidang simetri vertikal yang tegak lurus.
Bagian ini di notasikan: 2 , 2 , m atau tidak ada.
m
Bagian III: menerangkan ada tiaknya sumbu simetri intarmediet dan ada
tidaknya bidang simetri yang tegak lurus terhadap sumbu intermediet tersebut.
Bagian ini di notasikan: 2 , 2, m atau tidak ada.
m
Bagian I: menerangkan nilai sumbu c (mungkin 6, 6, 6, 3, 3) dan
ada tidaknya bidang simetri horisontal yang tegak lurus sumbu c
tersebut.
Bagian ini di notasikan : 6, 6, 6, 3, 3
Bagian II: menerangkan sumbu lateral (sumbu a, b, d) dan ada
tidaknya bidang simetri vertikal yang tegak lurus.
Bagian ini di notasikan: 2 , 2 , m atau tidak ada.
m
Bagian III: menerangkan ada tiaknya sumbu simetri intarmediet
dan ada tidaknya bidang simetri yang tegak lurus terhadap
sumbu intermediet tersebut.
Bagian ini di notasikan: 2 , 2, m atau tidak ada.
m
Bagian I: menerangkan nilai sumbu a dan ada tiaknya bidang
yang tegak lurus terhadap sumbu a tersebut
Dinotasikan: 2 , 2 , m
m
Bagian II: menerangkan ada tidaknya nilai sumbu b dan ada
tidaknya bidang simetri yang tegak lurus terhadap sumbu b
tersebut.
Bagian ini di notasikan: 2 , 2, m
m
Bagian III: menerangkan nilai sumbu c dan ada tidaknya bidang
simetri yang tegak lurus terhadap sumbu tersebut.
Di notasikan: 2 , 2
m
Hanya ada satu bagian, yaitu
menerangkan nilai sumbu b dan
ada tidaknya bidang simetri yang
tegak lurus sumbu b tersebut.
Untuk sistem ini hanya mempunyai dua kelas simetri
yang menerangkan keterdapatan pusat simetri
kristal.
Mempunyai titik simetri (klas pinacoidal 1)
Tidak mempunyai unsur simetri (klas assymetric1)
Keseluruhan bagian tersebut diatas harus
diselidiki ada tidaknya bidang simetri
yang tegak lurus terhadap sumbu yang
dianalisa.
Jika ada, maka penulisan nilai sumbu
diikuti dengan huruf m (bidang simetri)
dibawahnya. Kecuali untuk sumbu yang
bernilai satu ditulis dengan m saja.
Contoh penulisan simbol dalam pendeskripsian
kristal :
6/m : Sumbu simetri bernilai 6 dan
terhadapnya terdapat bidang simetri yang
tegak lurus.
6 : Sumbu simetri bernilai 3, namun tidak ada
bidang simetri yang tegak lurus terhadapnya.
m : Sumbu simetri bernilai 1 atau tidak bernilai
dan terhadapnya terdapat bidang simetri yang
tegak lurus.
Simbolisasi Scoenflish digunakan untuk
menandai atau memberi simbol pada unsur-
unsur simetri suatu kristal.
Seperti sumbu-sumbu dan bidang-bidang
simetri.
Simbolisasi Schoenflish akan menerangkan
unsur-unsur tersebut dengan menggunakan
huruf-huruf dan angka yang masing-masing
akan berbeda pada setiap kristal.
Berbeda dengan Herman-Mauguin yang
pemberian simbolnya berbeda-beda
pada masing-masing sistemnya, pada
Schoenflish yang berbeda hanya pada
sistem Isometrik.
Sedangkan system-sistem yang lainnya
sama cara penentuan simbolnya.
Simbolisasi yang dilakukan hanya terdiri dari 2 bagian:

Bagian 1 : Menerangkan nilai sumbu c, apakah bernilai


2 atau 4.
Bila bernilai 4, maka dinotasikan dengan huruf O
(Octaheder)
Bila bernilai 2, maka dinotasikan dengan huruf T
(Tetraheder)
Bagian 2 : Menerangkan keterdapatan bidang simetri.
Jika mempunyai bidang simetri horizontal, vertical dan
diagonal. Maka diberi notasi huruf h.
Jika mempunyai bidang simetri horizontal dan vertical.
Maka diberi notasi huruf h.
Jika mempunyai bidang simetri vertical dan diagonal.
Maka diberi notasi huruf v.
Jika hanya mempunyai bidang simetri diagonal. Maka
diberi notasi huruf d.
Simbolisasi Schoenflish yang dilakukan terdiri dari 3
bagian:

Bagian 1 : Menerangkan nilai sumbu lateral atau sumbu


tambahan, ada 2 kemungkinan :
Kalau bernilai 2, maka dinotasikan dengan huruf D
(Diedrish)
Kalau tidak bernilai, maka dinotasikan dengan huruf
C (Cyklich)
Bagian 2 : Menerangkan nilai dari sumbu c.
Penulisan dilakukan denganmenuliskan nilai
angka nilai sumbu c tersebut didepan huruf D
atau C (dari bagian 1) dan ditulis agak
kebawah.
Bagian 3 : Menerangkan keterdapatan bidang simetri.
Penulisan dilakukan denganmenuliskan huruf yang sesuai
sejajar dengan huruf dari bagian 1.
Jika mempunyai bidang simetri horizontal, vertical dan
diagonal. Maka dinotasikan dengan huruf h.
Jika mempunyai bidang simetri horizontal dan vertical.
Maka dinotasikan dengan huruf h.
Jika mempunyai bidang simetri vertical dan diagonal.
Maka dinotasikan dengan huruf v.
Jika hanya mempunyai bidang simetri diagonal saja.
Maka dinotasikan dengan huruf d.
Indeks Miller dan Weiss pada kristalografi
menunjukkan adanya perpotongan sumbu-
sumbu utama oleh bidang-bidang atau sisi-sisi
sebuah kristal.
Nilai-nilai pada indeks ini dapat ditentukan
dengan menentukan salah satu bidang atau sisi
kristal dan memperhatikan apakah sisi atau
bidang tersebut memotong sumbu-sumbu utama
(a, b dan c) pada kristal tersebut.
Penilaian dilakukan dengan mengamati berapa
nilai dari perpotongan sumbu yang dilalui oleh
sisi atau bidang tersebut.
Tergantung dari titik dimana sisi atau bidang
tersebut memotong sumbu-sumbu kristal.
Indeks Miller dan Weiss tidak jauh berbeda,
yaitu tentang perpotongan sisi atau bidang
dengan sumbu simetri kristal. Yang berbeda
hanyalah pada penentuan nilai indeks.
Bila pada Miller nilai perpotongan yang telah
didapat sebelumnya dijadikan penyebut,
dengan dengan nilai pembilang sama dengan
satu. Maka pada Weiss nilai perpotongan
tersebut menjadi pembilang dengan nilai
penyebut sama dengan satu.
Untuk indeks Weiss, memungkinkan untuk
mendapat nilai indeks tidak terbatas, yaitu jika
sisi atau bidang tidak memotong sumbu (nilai
perpotongan sumbu sama dengan nol).
Indeks Miller-Weiss ini juga disebut sebagai
ancer bentuk. Hal ini adalah karena indeks ini
juga akan mencerminkan bagaimana bentuk
sisi-sisi dan bidang-bidang yang ada pada
kristal terhadap sumbu-sumbu utama kristalnya.