Anda di halaman 1dari 10

KONSEP IMUNOLOGI TERKAIT

HIV/AIDS DAN PATOFISIOLOGI VIRUS


HIV/AIDS


CORNELIA STEFANI
FRANSISKA MEGAWATY
ROBY HIDAYATULLAH
UMMU ATHIYAH
WIRSANDO
Latar Belakang

Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) pertama kali dikenal
pada tahun 1981 di Amerika Serikat dan disebabkan oleh human
immunodeficiency virus (HIV). AIDS adalah suatu kumpulan gejala
penyakit kerusakan system kekebalan tubuh, bukan penyakit bawaan
tetapi diddapat dari hasil penularan.
Secara fisiologis HIV menyerang sisitem kekebalan tubuh
penderitanya. Jika ditambah dengan stress psikososial-spiritual yang
berkepanjangan pada pasien terinfeksi HIV, maka akan mempercepat
terjadinya AIDS, bahkan meningkatkan angka kematian.
Definisi

Menurut Green. CW (2007). HIV merupakan singkatan dari Human
Immunnedeficiency Virus. Disebut human (manusia) karena virus ini hanya dapat
menginfeksi manusia, immuno-deficiency karena efek virus ini adalah melemahkan
kamampuan sistem kekebalan tubuh untuk melawan segala penyakit yang menyerang
tubuh, termasuk golongan virus karena salah satu karakteristiknya adalah tidak mampu
memproduksi diri sendiri, melainkan memanfaatkan sel-sel tubuh.
AIDS singkatan dari Acquired Immuno Defeciency Syndrome. Acquired berarti
diperoleh karena orang hanya menderita bila terinfeksi HIV dari orang lain yang sudah
terinfeksi. Immuno berarti sistem kekebalan tubuh, Defeciency berarti kekurangan
yang menyebabkan rusaknya sistem kekebalan tubuh dan Syndrome berarti kumpulan
gejala atau tanda yang sering muncul bersama tetapi mungkin disebabkan oleh satu
penyakit atau mungkin juga tidak yang sebelum penyebabnya infeksi HIV ditemukan.
Jadi AIDS adalah kumpulan gejala akibat kekurangan atau kelemahan system
kekebalan tubuh yang disebabkan oleh virus yang disebut HIV (Gallant. J 2010).
PATOFISIOLOGI

HIV termasuk kelompok retrovirus, virus yang mempunyai enzim
(protein) yang dapat merubah RNA, materi genetiknya, menjadi DNA.
Kelompok retrovirus karena kelompok ini membalik urutan normal yaitu
DNA diubah (replikasi) menjadi RNA. Setelah menginfeksi RNA HIV
berubah menjadi DNA oleh enzim yang ada dalam virus HIV yang dapat
mengubah RNA virus menjadi (reversetranscriptas) sehingga dapat
disisipkan ke dalam DNA sel-sel manusia. DNA itu kemudian dapat
digunakan untuk membuat virus baru (virion), yang menginfeksi sel-sel
baru, atau tetap tersembunyi dalam sel-sel yang hidup panjang, atau
tempat penyimpanan, seperti limfosit sel-sel CD4 (Sel T-Pembantu) yang
istirahat sebagai target paling penting dalam penyerangan virus ini.
LANJUTAN

Sel CD4 adalah salah satu tipe dari sel darah putih yang bertanggungjawab untuk
mengendalikan atau mencegah infeksi oleh banyak virus yang lain, bakteri jamur dan


parasit dan juga beberapa jenis kanker. Kemampuan HIV untuk tetap tersembunyi
dalam DNA dari sel-sel manusia yang hidup lama, tetap ada seumur hidup membuat
infeksi menyebabkan kerusakan sel-sel CD4 dan dalam waktu panjang jumlah sel-sel
CD4 menurun menjadi masalah yang sulit untuk ditangani bahkan dengan pengobatan
efektif. (Gallant, 2010).

Apabila sudah banyak sel T4 yang hancur, terjadi gangguan imunitas selular, daya
kekebalan penderita menjadi terganggu/cacat sehingga kuman yang tadinya tidak
berbahaya atau dapat dihancurkan oleh tubuh sendiri (infeksi oportunistik) akan
berkembang lebih leluasa dan menimbulkan penyakit yang serius yang pada akhirnya
penyakit ini dapat menyebabkan kematian. Apabila sudah masuk ke dalam darah, HIV
dapat merangsang pembentukan antibody dalam sekitar 3-8 minggu setelah terinfeksi
pada periode sejak seseorang kemasukan HIV sampai terbentuk antibody disebut
periode jendela (Window Period). Periode jendela ini sangat perlu diketahui oleh
karena sebelum antibody terbentuk di dalam tubuh, HIV sudah ada di dalam darah
penderita dan keadaan ini juga sudah dapat menularkan kepada orang lain. (Yayasan
Pelita Ilmu, 2012).
LANJUTAN

Virus menempel pada limfosit yang memiliki suatu reseptor protein yang
disebut CD4, yang terdapat di selaput bagian luar. CD4 adalah sebuah marker atau

penanda yang berada di permukaan sel-sel darah putih manusia, terutama sel-sel
limfosit.Sel-sel yang memiliki reseptor CD4 biasanya disebut sel CD4+ atau
limfosit T penolong. Limfosit T penolong berfungsi mengaktifkan dan mengatur
sel-sel lainnya pada sistem kekebalan (misalnya limfosit B, makrofag dan limfosit
T sitotoksik), yang kesemuanya membantu menghancurkan sel-sel ganas dan
organisme asing. Infeksi HIV menyebabkan hancurnya limfosit T penolong,
sehingga terjadi kelemahan sistem tubuh dalam melindungi dirinya terhadap
infeksi dan kanker.
Infeksi HIV juga menyebabkan gangguan pada fungsi limfosit B (limfosit yang
menghasilkan antibodi) dan seringkali menyebabkan produksi antibodi yang
berlebihan. Antibodi ini terutama ditujukan untuk melawan HIV dan infeksi yang
dialami penderita, tetapi antibodi ini tidak banyak membantu dalam melawan
berbagai infeksi oportunistik pada AIDS. Pada saat yang bersamaan, penghancuran
limfosit CD4+ oleh virus menyebabkan berkurangnya kemampuan sistem
kekebalan tubuh dalam mengenali organisme dan sasaran baru yang harus
diserang.
TANDA DAN GEJALA

1. Panas lebih dari 1 bulan
2. Batuk-batuk
3. Sariawan dan nyeri menelan
4. Badan menjadi kurus sekali
5. Diare
6. Sesak napas
7. Pembesaran kelenjar getah bening
8. Kesadaran menurun
9. Penurunan ketajaman penglihatan
10. Bercak ungu kehitaman di kulit
Manifestasi Klinis

Stadium
Keempat

Stadium
Ketiga

Stadium Stadium
Pertama Kedua
Tahapan Perubahan HIV
Menjadi AIDS

FASE FAS
I E II

FAS FAS
E III E IV
TERIMA KASIH