Anda di halaman 1dari 33

SEJARAH & PENDEKATAN

EKOLOGI PANGAN & GIZI

SUSILOWATI, S.KM., M.KM


1. Definisi ekologi berdasarkan
beberapa definisi yang ada;
2. Perkembangan kehidupan
masyarakat primitif, saat peradaban
muncul hingga terjadinya
pertumbuhan penduduk dan
perkembangan teknologi;
3. Perkembangan ilmu biologi terkait
ekologi;
4. Perkembangan ilmu gizi dan
kaitannya dengan ekologi;
5. Pengertian ekologi pangan dan gizi
berdasarkan interaksi manuisa
dengan lingkungan fisik untuk
memenuhi kebutuhan pangan;
6. Kaitan ekologi dengan gizi
masyarakat;
7. Beberapa kesepahaman
internasional terkait lingkungan
hidup, pangan-gizi dan kesehatan;
8. Ekologi pangan dan gizi berdasarkan
pendekatan sinekologi, autekologi,
ekosisitem dan holistik.
1. Definisi Ekologi

Secara etimologi
Ekologi berasal dari Bahasa Latin, yaitu oikos dan logos
Soemarwoto (1997) menyatakan bahwa oikos berasal dari Bahasa
Yunani yang artinya rumah dan logos yang artinya ilmu

Secara harfiah
ekologi diartikan sebagai ilmu tentang makhluk hidup dalam
rumahnya atau ilmu tentang rumah tangga makhluk hidup
Soerjani (1987) menegaskan bahwa ekologi adalah ilmu tentang
hubungan timbal-balik antara makhluk hidup dengan sesamanya dan
dengan benda-benda mati di sekitarnya.

Secara terminologi
ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari hubungan antara
organisme (makhluk hidup) dengan alam sekitarnya
EKOLOGI berkaitan dengan berbagai ilmu pengetahuan atau
merupakan sintesa dari berbagai ilmu pengetahuan seperti
Botani
Geologi
ilmu tanah
Meteorologi
matematika dan sebagainya

Begitu luasnya ruang lingkup ilmu ini sehingga kadang-kadang orang


mengambil sebagian saja, tetapi dasarnya sama sesuai dengan
kebutuhan
Misal: ekologi hutan, ekologi manusia, ekologi hewan, ekologi laut,
ekologi pesisir dan lain-lain
Ernest Haeckel, ahli biologi Jerman(1969)

Memulai bidang sosiologi >> adanya


hubungan antara makhluk hidup di suatu
tempat dengan lingkungannya
Kehidupan kolektif mahluk hidup memiliki
hubungan bukan secara kebetulan, tetapi
berlangsung berdasarkan kaidah
keseimbangan alamiah yang bersifat saling
menguntungkan (mutual relationship)
EKOLOGI
Ilmu dasar untuk memahami dan menyelidiki
alam bekerja
eksistensi kehidupan makhluk hidup dalam sistem
kehidupannya
tentang kelangsungan hidup dalam habitatnya
cara mencukupi kebutuhannya
bentuk-bentuk interaksi dengan komponen dan spesies lain
tentang adaptasi dan toleransi terhadap perubahan yang
terjadi
tentang pertumbuhan dan perkembangbiakan yang
berlangsung secara alami dalam sebuah ekosistem
Setiap makhluk hidup
dikelilingi bahan-bahan dan kekuatan-kekuatan yang membentuk
lingkungannya dimana ia memperoleh kebutuhan-kebutuhan untuk hidup,
tumbuh dan berkembang biak.

Lingkungan merupakan sumber energi, materi dan informasi serta tempat


untuk membuang kotoran dan limbah lainnya.

Makhluk hidup bergantung pada lingkungannya, ia harus beradaptasi, dapat


mengalami perubahan, tingkah laku dan karakter berdasarkan pengaruh
lingkungan. Sebaliknya, tempat tinggal dapat dipengaruhi oleh makhluk yang
menghuninya.

Misalnya makhluk hidup itu membuang kotoran, cairan dan gas atau bangkai
yang membentuk perubahan komposisi kimia lingkungan, baik bersifat
merusak ataupun membangun.
2. Perkembangan Kehidupan Masyarakat
terkait Ekologi
Masyarakat berkembang melalui beberapa masa perkembangan kehidupan.
Pertama, masa berburu, meramu dan mengumpulkan makanan (food
gathering)
Kedua, masa bercocok tanam (food producing) dan beternak
Ketiga, masa pertanian
Keempat, masa perundagian
Memasuki masa sejarah (dimana orang sudah mulai mengenal tulisan),
ilmu pengetahuan dan teknologi terus berkembang

Ekologi berkembang menjadi cabang ilmu untuk


mendukung kehidupan manusia.

Pakar biologi memikirkan konsep, prinsip dan hukum dalam kehidupan


(keanekaragaman hayati, toleransi, seleksi, suksesi dan adaptasi) yang
menjadi bahasan dalam ekologi.
3. Perkembangan Ilmu Biologi
terkait Ekologi
Setiap organisme didalam habitatnya selalu dipengaruhi oleh
berbagai hal di sekelilingnya
Setiap faktor yang berpengaruh terhadap kehidupan organisme
tersebut disebut faktor lingkungan
Lingkungan mempunyai dimensi ruang dan waktu, yang berarti
kondisi lingkungan tidak mungkin seragam baik dalam arti ruang
maupun waktu
Kondisi lingkungan akan berubah sejalan dengan perubahan ruang,
dan akan berubah pula sejalan dengan waktu

Organisme hidup akan bereaksi terhadap variasi lingkungan ini,


sehingga hubungan nyata antara lingkungan dan organisme hidup
ini akan membentuk komunitas dan ekosistem tertentu, baik
berdasarkan ruang maupun waktu
Ada dua hukum yang berkenaan dengan faktor lingkungan sebagai faktor
pembatas bagi organisme:

Hukum Minimum Liebig (1840)


menyatakan bahwa pertumbuhan dan distribusi suatu spesies tergantung
suatu faktor lingkungan yang paling kritis

Hukum Toleransi Shelford (1910)


Hukum ini menyatakan bahwa untuk setiap faktor lingkungan suatu janis
organisme mempunyai suatu kondisi minimum dan maksimum yang
mampu diterimanya, diantara kedua harga ekstrim tersebut merupakan
kisaran toleransi dan di dalamnya terdapat sebuah kondisi yang optimum.
Dengan demikian setiap organisme hanya mampu hidup pada tempat-
tempat tertentu saja, yaitu tempat yang cocok yang dapat diterimanya.
Diluar daerah tersebut organisme tidak dapat bertahan hidup dan disebut
daerah yang tidak toleran
Meskipun Hukum Minimum Liebig dan Hukum Toleran
shelford pada dasarnya benar namun hukum ini masih
terlalu kaku >> kedua hukum tersebut digabungkan
menjadi konsep faktor pembatas

bahwa besar populasi dan penyebaran suatu jenis makhluk


hidup dapat dikendalikan dengan faktor yang melampaui
batas toleransi maksimum atau minimum dan mendekati
batas toleransi >> maka populasi atau makhluk hidup itu
akan berada dalam keadaan tertekan (stress) >> sehingga
apabila melampaui batas itu yaitu lebih rendah dari batas
toleransi minimum atau lebih tinggi dari batas toleransi
maksimum, maka makhluk hidup itu akan mati dan
populasinya akan punah dari sistem tersebut
Charles Robert Darwin, naturalis dan ahli geologi
Inggris, teori evolusi
Menetapkan bahwa semua spesies dari kehidupan
telah diturunkan dari waktu ke waktu dari nenek
moyang bersama

Dalam publikasi bersama dengan Alfred Russel Wallace


memperkenalkan teori seleksi alam

Darwin menerbitkan teori evolusi dalam buku tahun


1859-nya On the Origin of Species,
Gambar
Spesies burung Finch yang berbeda telah
beradaptasi dengan jenis makanan yang
berbeda
Runtuhnya Teori Evolusi

Sejak langkah pertamanya, teori evolusi telah gagal. Buktinya,


evolusionis tidak mampu menjelaskan proses pembentukan satu
protein pun. Baik hukum probabilitas maupun hukum fisika dan
kimia tidak memberikan peluang sama sekali bagi pembentukan
kehidupan secara kebetulan.

Bila satu protein saja tidak dapat terbentuk secara kebetulan,


apakah masuk akal jika jutaan protein menyatukan diri membentuk
sel, lalu milyaran sel secara kebetulan pula menyatukan diri
membentuk organ-organ hidup, lalu membentuk ikan, kemudian
ikan beralih ke darat, menjadi reptil, dan akhirnya menjadi burung?
Begitukah cara jutaan spesies di bumi terbentuk?
Sekitar tahun 1900, ekologi menjadi acuan ilmu-ilmu lainnya yang wajib
diketahui karena dapat dapat menerangkan permasalahan kehidupan
manusia dan mencari jalan menuju hidup layak

Setelah 1968, timbul kesadaran lingkungan di seluruh dunia


hemat dalam penggunaan sumber daya
hemat energi
mengurangi pencemaran tanah, air dan udara yang merupakan masalah
lingkungan sedunia (globalisasi lingkungan)
gerakan sadar lingkungan

maka setiap orang mulai memikirkan masalah pencemaran, rusaknya daerah-


daerah alami, hutan, pantai, meningkatnya perkembangan penduduk yang
berdampak pada masalah pangan, penggunaan energi, kenaikan suhu akibat efek
gas rumah kaca, menipisnya lapisan ozon dan sebagainya.

Ekologi tetumbuhan dan hewan mulai dikembangkan sebagai dua


disiplin yang terpisah dalam tahun 1870-an

Baru sekitar tahun 1920, Robert E. Park, profesor sosiologi


Universitas Chicago, The Chicago School of Human Ecology.

Berfokus pada interaksi antara masyarakat dan lingkungan, ekologi


manusia merupakan upaya untuk menangani secara holistik dengan
fenomena organisasi manusia. Seiring waktu, teori telah mencapai
luar batas-batas sosiologi, menggambar pada temuan ekonomi,
ilmu politik, antropologi dan bioekologi untuk memahami hubungan
manusia dengan lingkungan mereka. Pada tahun 1950, Amos A.
Hawley sosiolog Amerika Serikat menjadi orang pertama yang
menerapkan konsep dan pendekatan ekologi dalam sosiologi
melalui buku yang ditulisnya Human Ecology.
4. Perkembangan
Ilmu Gizi Terkait Ekologi
Beberapa Istilah dalam Ilmu Gizi

Zat Gizi (nutrient) adalah ikatan kimia yang diperlukan tubuh untuk melakukan fungsinya,
yaitu menghasilkan energi, membangun dan memelihara jaringan serta mengatur proses-proses
kehidupan.

Makanan adalah bahan selain obat yang mengandung zat gizi atau unsur/ikatan kimia yang
dapat diubah menjadi zat gizi oleh tubuh yang berguna jika dikonsumsi.

Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan,
kehutanan, perikanan, peternakan, perairan, dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang
diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan
tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lainnya yang digunakan dalam proses
penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan makanan atau minuman.

Bahan Makanan adalah makanan dalam keadaan mentah.

Status Gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat
gizi. Status gizi dibedakan menjadi status gizi buruk, kurang, baik dan lebih.
Pada awalnya ilmu gizi hanya dihubungkan dengan
kesehatan tubuh, yaitu untuk menyediakan energi,
membangun, memelihara jaringan tubuh dan mengatur
proses-proses kehidupan di dalam tubuh. Penelitian ilmu
gizi mempelajari hubungan antara makanan dan minuman
terhadap kesehatan dan penyakit, khususnya dalam
menentukan diit yang optimal

Sejak Abad ke-20, dimana ilmu gizi berkembang menjadi


ilmu yang bersifat interdisiplin, berkembanglah ilmu
pangan dan gizi. Di sini, ekologi dan pengelolaan lingkungan
hidup menjadi ilmu yang strategis untuk menjamin
pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi manusia secara
berkelanjutan.
Gambar.
Ruang lingkup ilmu gizi berdasarkan Komisi Pangan dan
Gizi Amerika Serikat tahun 1995
5. Pengertian
Ekologi Pangan dan Gizi

EKOLOGI PANGAN DAN GIZI:

Kajian ekologi manusia yang memusatkan


perhatian pada hubungan timbal balik antar manusia (baik
individu maupun kelompok) maupun
antara manusia dengan lingkungan
dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan-gizi untuk hidup
sehat dan produktif sehingga
tercapai kualitas hidup manusia dan
sumber daya alam-lingkungan (SDA-L) secara berkelanjutan
Gambar.
Interaksi Manusia dengan Lingkungan Fisik untuk
Memenuhi Kebutuhan Pangan
6. Kaitan Ekologi dengan Gizi Masyarakat

Gizi pada manusia selalu merupakan masalah ekologi yang


berhubungan dengan faktor ekologi masyarakat berupa
fisik, biologis, sosial dan budaya lingkungan termasuk
kendala ekonomi dan prioritas politik.

Pelto (1980) mengemukakan model ekologi gizi masyarakat,


dimana perilaku makan ditentukan oleh gaya hidup selain
pengaruh sistem produksi dan distribusi pangan serta
sistem sosial ekonomi. Adapun gaya hidup tersebut
merupakan hasil pengaruh beragam fak-tor yaitu
pendapatan, pekerjaan, pendidikan, etnik, tempat tinggal,
agama, pengetahuan kesehatan dan gizi serta karakteristik
fisiologis.
Kebiasaan makan terbentuk sebagai akibat proses sosialisasi yang
diperoleh dari lingkungannya meliputi aspek kognitif, afektif dan
psikomotorik.
Kebiasaan makan yang ada pada masyarakat antara satu dengan
daerah lain dapat berbeda, mungkin pangan tertentu dikonsumsi
oleh suatu masyarakat, tetapi pada masyarakat yang lain bisa saja
pangan tersebut tidak dikonsumsi >> bisa diakibatkan dari unsur-
unsur budaya yang ada pada masyarakat itu sendiri.

Kebiasaan makan bukan bawaan sejak lahir, tetapi merupakan hasil


belajar yang dimulai dari sejak masa kanak-kanak.
Selain oleh unsur budaya yang ada pada masyarakat, terbentuknya
kebiasaan makan juga dipengaruhi oleh faktor-faktor yang lain.
7. Perhatian Internasional terhadap
Kaitan Lingkungan Hidup, Pangan-Gizi & Kesehatan

Sejak tahun 1950-an masalah lingkungan mendapat perhatian serius, tidak saja
dari kalangan ilmuwan, tetapi juga politisi maupun masyarakat umum.

Kesadaran manusia akan masalah lingkungan hidup semakin meluas yaitu dengan
diadakannya Konferensi PBB tentang lingkungan hidup manusia di Stockholm,
Swedia tanggal 5-16 Juni 1972.
Konferensi ini merupakan perwujudan kepedulian bangsa-bangsa di dunia akan
masalah lingkungan hidup dan merupakan komitmen prima bagi tanggung jawab
setiap warga negara untuk memformulasikannya dalam setiap kebijaksanaan
pengelolaan lingkungan hidup.
Hasil dari konferensi ini adalah: (1) Deklarasi tentang Lingkungan Hidup Manusia,
terdiri atas mukadimah (Preamble) dan 26 prinsip dalam Stockholm Declaration;
(2) Rencana Aksi Lingkungan Hidup Manusia (Action Plan) yang terdiri dari 109
rekomendasi. Deklarasi dan rekomendasi dari konferensi ini dapat dikelompokkan
menjadi lima bidang utama yaitu pemukiman, pengelolaan sumber daya alam,
pencemaran, pendidikaan dan pembangunan. Deklarasi Stockholm juga
menyerukan agar bangsa-bangsa di dunia mempunyai kesepakatan untuk
melindungi kelestarian dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup bagi
kehidupan manusia.
Pada tahun 1987, World Commision on Environment and
Development (WCED) menyerukan perhatian pada masalah besar
dan tantangan yang dihadapi pertanian dunia jika kebutuhan
pangan saat ini dan mendatang harus terpenuhi serta perlunya
suatu pendekatan baru untuk pengembangan pertanian.

Lingkungan hidup dunia yang semakin baik yang menjadi harapan


Konferensi Stockholm ternyata tidak terwujud. Kerusakan
lingkungan global semakin parah. Oleh karena itu, masyarakat
global memperbaharui kembali tekadnya untuk menanggulangi
kerusakan lingkungan global dengan mengadakan KTT Bumi di Rio
de Jeneiro pada bulan Juni 1992 dengan tema Pembangunan
Berkelanjutan (Sustainable Development). KTT ini kita kenal dengan
United Nations Conference on Environment and Development
(UNCED).
Dalam UNCED disegarkan kembali suatu pengertian bersama bahwa
pembangunan berkelanjutan harus memenuhi kebutuhan sekarang dan
generasi mendatang. Untuk mencapai hal tersebut dalam setiap proses
pembangunan harus memadukan 3 aspek sekaligus, yaitu ekonomi,
ekologi dan sosial budaya. Secara garis besar ada 5 hal pokok yang
dihasilkan oleh KTT Bumi di Rio de Jeneiro, yaitu:
Deklarasi Rio tentang lingkungan dan pembangunan. Deklarasi ini berisikan 27
prinsip dasar yang menekankan keterkaitan antara pembangunan dan
lingkungan serta pengembangan kemitraan global baru yang adil.
Konvensi tentang perubahan iklim, diperlukan payung hukum guna menangani
masalah pemanasan global dan perubahan iklim.
Konvensi tentang keanekaragaman hayati, diperlukan payung hukum untuk
mencegah merosotnya keanekaragaman hayati.
Prinsip pengelolaan hutan, hutan mempunyai multifungsi: sosial, ekonomi,
ekologi, kultural dan spiritual untuk generasi. Hutan untuk penyerapan CO2
serta untuk perlindungan keanekaragaman hayati dan pengelolaan daerah
aliran sungai.
Agenda 21, menyusun program aksi untuk terwujudnya
pembangunan berkelanjutan untuk saat ini dan abad ke-21:
biogeofisik, sosial ekonomi budaya, kelembagaan dan LSM.

Dokumen Agenda 21 global dianggap sebagai suatu hasil yang


paling penting dalam KTT Bumi ini, yang berisi aksi-aksi dimana
setiap pemerintah, organisasi internasional, sektor swasta dan
masyarakat luas dapat melakukan perubahan-perubahan yang
diperlukan bagi pembangunan social ekonominya. Adapun 7 aspek
yang ditekankan dalam Agenda 21 global adalah: (1) kerjasama
internasional; (2) pengentasan kemiskinan; (3) perubahan pola
konsumsi; (4) pengendalian kependudukan; (5) perlindungan dan
peningkatan kesehatan; (6) peningkatan pemukiman secara
berkelanjutan; dan (7) pemaduan lingkungan dalam pengambilan
keputusan untuk pembangunan.
Keamanan pangan menjadi hal yang sangat penting di dalam
ketahanan pangan, karena dapat berpengaruh langsung maupun
tidak langsung terhadap kualitas sumber daya manusia. Mengingat
pentingnya keamanan pangan tersebut maka FAO/WHO
International Conference On Nutrition (Deklarasi Roma) tahun 1992
telah mendeklarasikan bahwa memperoleh makanan yang cukup,
bergizi, dan aman adalah hak setiap manusia. Demikian juga halnya
hasil dari Word Food Summit tahun 1996 di Roma WHO dan FAO
sepakat bahwa keamanan pangan (food safety) merupakan salah
satu komponen dari ketahanan pangan (food scurity).

Pada tahun 1993, Nutrition in a Sustainable Environment menjadi


isu dalam International Congress of Nutrition di Adelaide. Isu ini
diangkat atas dasar pemikiran bahwa gizi salah (malnutrition)
disebabkan oleh kemiskinan, ketidakseimbangan sosial, rendahnya
pendidikan dan keterbatasan daya dukung lingkungan.
8. Ekologi pangan dan gizi berdasarkan pendekatan
sinekologi, autekologi, ekosisitem dan holistik.

Ekologi mempelajari rumah tangga mahluk hidup (oikos), istilah yang


digunakan oleh Ernst Haeckel sejak tahun 1869.

Dalam ekologi, dikenal istilah sinekologi, yaitu studi yang mempelajari


lebih dari satu jenis organisme sebagai satu kesatuan dalam suatu
lingkungan, misalnya ekologi pedesaan, ekologi perairan tawar, ekologi
lautan dan ekologi daratan dimana terdapat berbagai jenis tumbuhan dan
hewan, juga manusia.

Selain itu, dikenal juga istilah autekologi, yaitu studi ekologi yang
memusatkan perhatian pada hubungan timbal-balik satu jenis makhluk
hidup dengan lingkungannya, misalnya ekologi tumbuhan, ekologi hewan,
dan tentu saja ekologi manusia dimana di dalamnya dapat dipelajari
tentang ekologi pangan dan gizi.

Istilah ekosistem pertama kali dipakai oleh Tansley pada tahun 1935
Dalam pendekatan ekosistem, ekologi merupakan studi keterkaitan antara
organisme dengan lingkungannya, baik lingkungan abiotik maupun biotik
Lingkungan abiotik terdiri dari atmosfer, cahaya, air, tanah dan unsur
mineral
Perlu diketahui apa yang dimaksud dengan organisme. Ini penting karena
pada hakikatnya organisme dibangun dari sistem-sistem biologik yang
berjenjang sejak dari molekul-molekul biologi yang paling rendah
meningkat ke organel-organel subseluler, sel-sel, jaringan-jaringan, organ-
organ, sistem-sistem organ, organisme-organisme, populasi, komunitas,
dan ekosistem
Interaksi yang terjadi pada setiap jenjang sistem biologik dengan
lingkungannya tidak boleh diabaikan, karena hasil interaksi jenjang
biologik sebelumnya akan mempengaruhi proses interaksi jenjang
selanjutnya.
Dalam pendekatan holistik (pendekatan menyeluruh dari
suatu sistem yang utuh), mempelajari ekologi berarti harus
mengenal bagian-bagian atau komponen-komponen dalam
sistem dan bagaimana bagian atau komponen yang ada itu
terkait satu dengan yang lain, baik langsung maupun tidak
langsung

Contoh, manusia memerlukan zat gizi untuk hidup >>


Kekurangan dan kelebihan gizi dalam setiap daur kehidupan
menyebabkan masalah gizi di masyarakat. Masalah gizi >>
dapat dilihat dengan pendekatan sistem pangan dan gizi
(meliputi subsistem produksi, subsistem pengolahan,
subsistem distribusi, dan subsistem kesehatan dan gizi)
END