Anda di halaman 1dari 24

POLIOMIELITIS

Definisi
Penyakit kelumpuhan akut yang menular, yang
disebabkan infeksi virus polio

kelumpuhan akibat kerusakan motor neuron pada


cornu anterior dan batang otak akibat infeksi virus
Epidemiolgi
Sudah dikenal sejak Mesir Kuno
Tahun 2010, hanya 4 negara
endemik polio (Afganistan, India,
Nigeria, dan Pakistan)
Tahun 2017 terjadi outbreak di
Syria dan Republik Demokratik
Kongo
Epidemiologi
Indonesia pernah mengalami KLB tahun 2005 di
Sukabumi
Tahun 2014 Indonesia dinyatakan bebas polio oleh
WHO
Etiologi
Poliovirus
TIPE 1 (Brunhilde) plg luas & ganas
TIPE 2 (Lansing) menyebabkan kasus yang sporadis
TIPE 3 (Leon) paling ringan

Tidak memiliki antigen yang sama


Masa inkubasi 7-10 hari
Kadang-kadang masa inkubasi antara 3-35 hari
Patogenesis
Masuk melalui orofaring
Berkembang biak dalam traktus digestivus, KGB
regional dan RES, dapat menimbulkan
perkembangan virus, reaksi tubuh membentuk
antibodi spesifik.
Lesi neuron terjadi pada
Medula spinalis (kornu anterior), medula oblongata (nukleus
vestibular, nukleus saraf kranial, dan formatio retikularis)
serebellum, otak tengah (substansia nigra), Talamus dan
hipotalamus, Palidum, Korteks serebri bagian motorik
Kerusakan saraf berupa nekrosis pada neuron dengan
adanya kromatolisis, neuronophagia atau terjadi
kematian sel cara cepat dengan pembengkakan
nukleus, koagulasi, Nissl Bodys, disentrigasi sitoplasma
Manifestasi Klinis
inapparent infection
abortif/minor illness
poliomielitis nonparalitik (meningitis aseptik)
poliomyelitis paralitik
Penegakan Diagnosis
Klinis (musim, geografis, paparan, masa inkubasi,
manifestasi)
Pemeriksaan penunjang
Isolasi virus (feses, tenggorokan, urin, LCS)
Serologis

Cairan serebrospinal (PMN 50-200, protein meningkat)

radiologi
Diagnosis Banding
Poliomielitis paralitik
Guillain-Barre Syndrome
Botulisme
Herpes Zoster kranialis paralitik

Poliomielitis non paralitik


Meningitis aseptik
Meningitis bakterial dengan pengobatan parsial
Tatalaksana
Suportif
Pemberian antipiretik/analgetik bila terdapat keluhan demam,
nyeri kepala, atau nyeri otot
Ventilasi mekanik seringkali diperlukan pada pasien paralisis
bulbar
Trakeostomi dilakukan pada pasien yang membutuhkan dukungan
ventilasi mekanik jangka panjang
Rehabilitasi medis diperlukan pada kondisi paralisis untuk
mencegah terjadinya dekubitus, pneumonia akibat berbaring
lama, serta latihan aktif serta pasif untuk mencegah kontraktur
Komplikasi
Kelumpuhan, tersering ekstremitas
Toxic nefrosis

Pneumonia aspirasi, atelectasis, bronchitis


Prognosis
Tergantung beratnya penyakit
Pada bentuk paralitik (pemulihan perlu 18-24 bulan)
tergantung pada bagian yang terkena.
Tipe bulber prognosisnya buruk
Kematian disebabkan kegagalan pernafasan atau
infeksi sekunder pada jalan nafas
Mortalitas dan tingkat kecacatan lebih besar sesudah
umur pubertas
Pencegahan
Isi Vaksin Oral Polio Vaccine (OPV): virus hidup yang dilemahkan yang mengandung virus polio
strain 1,2,3 (strain Sabin) yang menimbulkan imunitas humoral dan lokal di mukosa
usus
Inactivated Polio Vaccine (IPV): virus polio inaktif 3 strain yang menghasilkan
imunitas humoral saja min 1x pemberian
Jadwal IDAI: 0,2,3, dan 4 bulan dan diberi ulangan pada umur 18 bulan dan 5 tahun.

Dosis OPV: 2 tetes (0,1 mL) per oral


IPV: 0,5 mL secara intramuskuler
Tempat IPV: vastus lateralis quadriceps femoris atau otot deltoid
KI Reaksi alergi berat pada komponen vaksin atau setelah dosis sebelumnya
KIPI OPV: Vaccine assosiated paralytic poliomyelitis (VAPP)
IPV: kadang timbul reaksi lokal ringan dan sementara
18 Vaksin berbentuk cairan dengan kemasan 1cc atau 2 cc dalam
flacon, pipet
Pemberian secara oral sebanyak 2 tetes (0,1ml)
Vaksin polio diberikan 4 kali, interval 4 - 6 minggu
Imunisasi ulangan, 1 tahun berikutnya, SD kelas I, VI
Anak diare gangguan penyerapan vaksin
Vaccine assosiated paralytic poliomyelitis

Kemungkinan:
1. VAPP: insidensi VAPP bervariasi, tergantung dari dosis keberapa,
setengah dari kasus VAPP terjadi pada anak dg congenital immune-
deficiency.
2. Co-incidental polio, VPL mungkin saja masih beredar ditempat tsb,
jadi kelumpuhan terjadi krn infeksi VPL sebelum imunisasi.
3. Provocation polio, penyuntikan DTP atau obat lain dapat
mencetuskan kelumpuhan pada extrimitas yg disuntik, krn itu
dianjurkan suntikan lain sebaiknya jangan dekat waktu NID.
Vaccine Derived Polio Viruses (VDPV)

1. OPV-like virus =Sabin-like virus, dimana sekuens VP1 memiliki


persamaan >99% dibanding dg strain Sabin

2. VDPV (Vaccine Derived Polio Viruses), persamaan sekuens VP1 < 99%,
besarnya perubahan genetik menunjukkan lamanya replikasi.
VDPV dibagi menjadi:
iVDPV = VDPV berasal dari pasien immune-deficiency,
beberapa isolat memiliki 90% persamaan dg strain OPV
Didunia sampai 2002 terdapat 18 chronic excretor.
Tidak pernah menyebar luas kemasyarakat.

cVDPV = VDPV dengan bukti sirkulasi;memiliki sifat VPL, yaitu


neurovirulen dan transmissable
Faktor risiko penyebaran VDPV

Sanitasi dan hygiene perorangan yang buruk

Cakupan imunisasi OPV yang rendah sehingga terjadi


akumulasi orang-orang yang tidak/belum kebal terhadap
polio
Polio vaksin dapat menimbulkan outbreaks setelah
mengalami back mutation (cVDVP)

Alternatif penghentian imunisasi polio :


Stop OPV
IPV saja
Gabungan OPV-IPV
Memberikan mOPV yang paling bisa menyebabkan KLB
TERIMA KASIH