Anda di halaman 1dari 46

ILMU PENYAKIT MATA

PEMERIKSAAN OFTALMOLOGI

PARAMITA ARDIYANTI
G4A015177
PEMERIKSAAN SEGMEN
ANTERIOR
1) Orbita

Raba rima orbita : nilai adakah krepitasi.


2) Bola mata : Hirschberg test (kedudukan bola
mata, dengan melihat reflex kornea)
Cara :
senter di depan pasien pada
jarak 30 cm
Pasien diminta untuk melihat
senter
lihat jatuhnya pantulan sinar
senter di kornea pasien
Penilaian reflex sinar :

0 : di tengan pupil
15 : di margo iris

30 : di corpus iris
45 : di iris root/ tepi pupil
Gerakan Bola Mata
Cara :
Pasien diminta untuk melihat dan mengikuti gerakan senter
Letakkan senter di depan pasien geser ke arah lateral,
superolateral, superior, superomedial, medial, inferomedial,
inferior, inferolateral
Nilai apabila ada hambatan gerak
3) Palpebra
Cara :
Senter di depan pasien
Pasien diminta membuka dan menutup mata
nilai
Pasien melihat ke depan, pemeriksa di depan

Inspeksi :
lagoftalmos : kelopak yang tidak dapat
menutup sempurna
ptosis : kelopak sukar terangkat
Edem
entropion : terbalik ke dalam tepi jaringan
ektropion : terbalik ke luar tepi jaringan
Palpasi : masa, perabaan hangat, nyeri tekan
4) SILIA
Cara :
Senter di depan pasien
Pasien melihat ke depan,
pemeriksaan di depan
Inspeksi: arah tumbuh silia,
barisan silia, krusta,
skuama, ulkus di dasar
silia
trikiasis : silia tumbuh salah arah
madarosis: silia rontok
distikiasis : tumbuhnya baris bulu
mata ganda pada satu kelopak
5) (a) CONJUNGTIVA PALPEBRA SUPERIOR

CARA :
Senter di depan pasien
Pasien melirik ke bawah, pemeriksa di depan
Letakkan telunjuk pada sulcus palpebral superior
Letakkan ibu jari pada orifisium kelenjar meibom
Geser palpebral superior dengan jari telunjuk ke inferior
Eversi palpebral superior sehingga konjungtiva palpebral
superior dan konjungtiva forniks superior terpapar
Inspeksi :
papil hipertrofi : berbentuk poligonal dan
tersusun berdekatan, permukaan datar, terdapat
pada konjungtivitis vernal
sikatriks : pada trakoma arah sikatriks sejajar
dengan margo palpebra massa (line of artl)
hiperemis
5) (b) CONJUNGTIVA PALPEBRA INFERIOR
Cara :
Senter di depan pasien
Pasien melirik ke atas, pemeriksa di
depan
Tarik palpebral inferior ke bawah
sehingga konjungtiva palpebral
inferior dan konjungtiva forniks
inferior terpapar
Inspeksi : folikel (penimbunan cairan
dan sel limfoid di bawah
konjungtiva), massa, hiperemis,
secret
5) (c) CONJUNGTIVA BULBI
Cara :
Senter di depan pasien
Pasien melihat ke depan, pemeriksa di depan
Inspeksi :
injeksi konjungtiva : melebarnya arteri konjungtiva posterior
injeksi siliar : melebarnya pembuluh perikorneal atau arteri siliar
anterior
Pterigium : proliferasi dengan vaskularisasi pada konjungtiva yang
berbentuk segitiga
degenerasi hialin
flikten : sel radang dengan neovaskularisasi pada kornea
bitot spot
Palpasi: gerakan palpebra inferior untuk
mengetahui perlekatan massa ke sklera
6) KORNEA
CARA :
Senter di depan pasien 0
Pasien melihat ke depan, pemeriksa di depan
Inspeksi :
Infiltrate : tertimbunnya sel radang pada kornea sehingga
warnanya menjadi keruh
Erosi : lepasnya epitel kornea superfisial
Ulkus : hilangnya sebagian permukaan kornea akibat
kematian jaringan kornea pada infeksi ataupun alergi
Neovaskularisasi
arcus senilis : cincin berwarna putih abu-abu di lingkaran
luar
KORNEA
Lampu senter pada arah 45
Pasien melihat ke depan

Inspeksi : keratic presipitat (endapan sil radang di dataran belakang


atau endotel kornea)
CARA :
Lampu senter dari arah 90
Pasien melihat ke depan, pemeriksa dari samping

Inspeksi : morfologi kornea: keratoconus


Senter 0 di depan pasien
Pasien melihat ke depan, pemeriksa di
depan
Inspeksi : darah, hipopion
(penimbunan sel radang di bagian bawah
COA), massa

Normalnya mata cukup dalam dan


jernih.
senter di temporal pasien
pasien melihat ke depan
pemeriksa menilai dari depan
Inspeksi : Iris tersenteri semua
COA dalam
COA

Senter 45 di depan pasien


Pasien melihat ke depan,
pemeriksa menilai dari
temporal
Inspeksi : tyndal effect (COA
keruh akibat penimbunan sel
radang atau bahan darah lainnya)
8) IRIS
cara :
Senter di depan pasien
Pasien melihat ke depan, pemeriksa di depan
Inspeksi : warna, kripte, sinekia (menempelnya iris dengan
kornea), nodul iris, neovaskularisasi
9) PUPIL

Normalnya pupil mata kiri dan kanan sama lebarnya dan


letaknya simetris di tengah. Lebar pupil + 3 mm.
Pemeriksaan ada 2 cara :
Refleks pupil langsung (Unconsensual) Respon pupil
langsung di nilai ketika diberikan cahaya yang terang , pupil
akan konstriksi ( mengecil ).
Refleks pupil tidak langsung (consensual ) Dinilai bila
cahaya diberikan pada salah satu mata , maka fellow eye
akan memberikan respon yang sama.
10) LENSA

Normalnya jernih
CARA :
Senter di depan pasien 0
Pasien melihat ke depan, pemeriksa di
depan
Inspeksi : kekeruhan, pigmen iris

Senter 45 pasien
Pasien melihat ke depan, pemeriksa di
depan
Inspeksi: Irish shadow
Pemeriksaan segmen
posterior
Yang sering funduskopi dan reflex fundus.
Menggunakan alat oftalmoskop, yaitu suatu teknik
pemeriksaan yang digunakan untuk melihat adanya kelainan
pada fundus okuli.
Pada pemeriksaan ini cahaya yang berasal dari alat
oftalmoskop akan memberikan reflex pada fundus dan akan
tampak gambaran yang ada.
Oftalmoskopi dibedakan dalam oftalmoskopi langsung dan
tidak langsung.
1) Oftalmoskopi langsung
Memberikan gambaran normal/ tdk terbalik
pada fundus okuli, lapang pandang lebih
sempit
pemeriksa memfokuskan pada retina itu
sendiri.
CARA :
Dilakukan di kamar gelap, pasien duduk dan
dokter berdiri di sebelah mata yang diperiksa.
Mata kanan diperiksa dengan mata kanan dan
sebaliknya.
Jarak mata pemeriksa dan pasien adalah 30
cm.
Setelah terlihat refleks merah pada pupil maka
oftalmoskop didekatkan hingga 2-3cm dari
mata pasien.
2) Oftalmoskopi tak langsung.
Memberikan bayangan
terbalik, kecil,dan lapangan
penglihatan luas di dalam
fundus okuli.
yang dilihat adalah
"bayangan" retina yang
dibentuk oleh "lensa
kondensasi" di tangan.
Jarak periksa 50 cm atau
sejarak panjang lengan.
Selain oftalmoskop tak
langsung, gunakan lensa 15-
20 dioptri, letakkan 10 cm
dari mata sehingga letak
fundus berada di titik api
lensa.
a) pemeriksaan fundus reflex
CARA :
Mata penderita ditetesi midriasil
0,5%
Pasien berada dalam ruangan gelap
Pemeriksa berjarak 30 cm dari pasien
Menggunakan ophtalmoskop
Menilai warna merah jingga
Penilaian
Bila didapatkan bercak kesuraman (hitam), pasien
diminta untuk melirik ke kanan dan kiri.
Nilai:
Bercak kesuraman bergerak searah gerakan bola mata
: kekeruhan di kapsul anterior lensa kristalina
Bercak kesuraman bergerak berlawanan arah dgn
gerakan bola mata : kekeruhan di kapsul posterior
lensa kristalina
Bercak kesuraman tidak bergerak atau menetap :
kekeruhan di nukleus lensa kristalina
Bercak kesuraman bergerak tidak beraturan :
kekeruhan di corpus vitreous
b) Cara pemeriksaan funduskopi
Tetes midriasil 0,5%
Pasien berada dalam ruangan
gelap
Jari tengah berada di procesus
maksilaris pasien
Jari telunjuk berada di pemutar
kekuatan lensa oftalmoskop
Ibu jari berada di pemutar
kekuatan cahaya
Mata kanan diperiksa dengan
mata kanan dan sebaliknya
Pemeriksaan
Fokuskan pandangan pada
retina yang nampak
Ikuti pembuluh darah yang
ada ke yang lebih besar
Setelah ditemukan papil N II
warnanya lebih kuning
Arahkan cahaya
oftalmoskop ke temporal
sebanyak 2-3 DD
Lihat zona avaskuler
Di sentralnya terdapat
pantulan cahaya reflek
fovea
PENILAIAN
Papil N II :
bentuk
batas
warna
cup/disc ratio
oedema
prominensia
Macula
eksudat
perdarahan
reflek fovea
a. Pemeriksaan Aparatus lakrimal
Tujuan : menilai patensi sistem
lakrimasi dan melokalisir sumbatan
Cara:
1. Anestesi topical
2. Conical probe dilatasi punctum
3. Sist. Lakrimasi di bilas dgn larutan
garam fisiologis hangat melalui kanul
tumpul
Interpretasi :
1. Tdk ada sumbatan larutan mengalir
bebas ke hidung (pasien merasa asin)
2. Sumbatan bilasan refluks via
punctum

1) Uji Anel
2) Uji rasa

TUJUAN : ketahui fungsi


Tujuan : menilai produksi (kuantitas) dari
ekskresi lakrimal komponen air pada sekret air mata
Cara:
Cara : 1. Letakan kertas lakmus di sakus
Satu tetes larutan sakarin konjungtiva (1/3 temporal dari palpebra
inferior)
diteteskan pada 2. Dpt jg diberi anestesi lokal
konjungtiva, bila pasien Interpretasi :
Slm 5 mnt lakmus berubah jd biru sepanjang
merasa manis setelah 5 min 15 mm (perubahan warna akibat sifat basa
air mata, abnormal bila di bawah 5 mm.
menit berarti system
ekskresi air mata baik.
b. Pemeriksaan kornea
1) Uji Fluoresein
Tujuan : untuk melihat adanya defek epitel kornea
Cara :
pasien melirik ke atas
letakkan fluorecein strip ke forniks inferior
pasien diminta untuk berkedip
lepas fluorecein strip
periksa dengan sinar cobalt blue
Hasil :
Defek kornea akan terlihat berwarna hijau, akibat pada
setiap defek kornea, maka bagian tersebut akan bersifat
basa dan memberikan warna hijau pada kornea.

CARA :
Periksa dengan sinar cobalt blue
Pasien diminta untuk berkedip
NILAI :
NILAI ALIRAN HUMOUR AQUOS
DARI FISTULA
3) Keratometer
Keratometer alat terkalibrasi pengukur
radius kelengkungan kornea dua
meridian terpisah 90o.
Kornea yang tidak bulat sempurna kedua
radiusnya akan berbeda, disebut
astigmatisme, ditetapkan dengan
mengukur perbedaan antara kedua radius
lengkung kornea.
Pengukuran keratometer digunakan pada
penyesuaian lensa kontak dan
perhitungan daya lensa intraokular
sebelum operasi katarak.
4) Uji sensibilitas kornea

Fungsi : untuk fungsi trigeminus kornea


CARA :
Menggunakan kapas pilin basah
Menempelkan kapas pilin pada kornea yang
normal

PENILAIAN :
Menilai reflek berkedip pada mata pasien,
rasa sakit dan mata berair.
Bila ada reflex tersebut berarti fungsi
trigeminus dan fasial baik.
5) Papan
plasido
Fungsi : untuk melihat lengkung kornea, melalui lubang di
tengah plasidoskop dilihat gambaran bayangan plasido pada
kornea, normal bayangannya berupa lingkaran konsentris dan
bila:
Lingkaran konsentris berarti permukaan kornea licin dan
irregular
Lingkaran lonjong berarti adanya astigmatisme kornea
Garis lingkran tidak beraturan berarti astigmatisme irregular
akibat adanya infiltrate ataupun parut kornea.
Kurang tegas mungkin akibat edem kornea keruh
c. Pemeriksaan RETINA
1) Elektroretinografi

Mengukur respons listrik


retina terhadap : kilatan
cahaya, flash electroretinogram
(ERG) atau terhadap stimulus
pembalikan checkerboard,
pattern ERG (PERG). Berguna
untuk menilai kerusakan luas
pada retina.
d. Pemeriksaan retina dan
macula
d. Pemeriksaan retina dan macula
1) Amsler grid/Uji kisi-kisi Amsler
Penderita melihat kartu Amsler, bila pasien melihat kelainan
bentuk garis maka terdapat kelainan makula. Uji ini berguna
untuk melihat skotoma pada lapang pandangan dan dokumentasi
metamorfopsia.
Kisi-kisi Amsler yang memakai sinar X pada sebuah kotak dapat
dipakai untuk meramalkan penglihatan pasca bedah katarak.
2) Uji Ishihara
(untuk buta warna)

Untuk mengetahui defek penglihatan warna dengan angka atau


pola pada kartu berbagai warna. Penderita kelainan penglihatan
warna dapat melihat sebagian atau tidak sama sekali gambaran
yang diperlihatkan.
Gangguan buta merah dan hijau = atrofi saraf optic, optic
neropati toksik
Gangguan kuning = neuropati iskemia, glaucoma dengan atrofi
optic (juga pada pasien retinopati hipertensif, retinopati
diabetes dan degenerasi makula senil).
3) Uji proyeksi sinar

Pada pasien yang berada di ruang gelap diminta melihat jauh,


kemudian diberikan sinar sentolop pada meridian berbeda,
kemudian disuruh menyatakan arah datangnya sinar,
maka dapat secara kasar dikatakan keadaan retina perifer pasien
adalah normal.
4) Uji defek aferen pupil (pupil maarcus gunn)
Tujuan : untuk mengetahui fungsi makula dan saraf optic
Cara :
Pemeriksaan di kamar gelap.
Penyinaran pada mata kemudian sentolop dipindahkan ke mata
yang lain dengan cepat.
Interpretasi :
Pupil ukuran tidak berubah, fungsi penglihatan kedua mata
sama baik atau saraf optik dan makula normal
Pupil yang disinari terakhir miosis (mengecil), fungsi
makula dan saraf optik mata pertama kurang dibanding
terakhir.
Pupil yang disinari terakhir midriasis (membesar), fungsi
mata terakhir kurang dibanding mata pertama.
Bila makula kedua mata rusak pupil akan sama-sama madriasis.
5) Uji diskriminasi 2 sinar (uji untuk fungsi makula)

Di ruang gelap 2 sinar dipegang berdekatan jarak 60 cm di


depan mata pasien, tanya apakah pasien melihat kedua lampu
itu terpisah, bila tidak terpisah maka perlahan-lahan kedua
lampu itu dijauhkan satu terhadap lainnya.
Jarak antera kedua lampu pada keadaan dimana pasien dapat
menyatakan kedua lampu terpisah diukur, bila :
Jarak antara kedua lampu 12,5 cm atau kurang maka tajam
penglihatannya adalah 1/300 1/tak terhingga
Jarak kedua lampu 7,5 cm, berarti tajam penglihatan pasca bedah akan
5/100 1/60
Jarak lampu 5 cm, tajam penglihatan akan lebih baik dari 5/100.
Uji ini sekarang dianggap kurang memadai.
6) Uji Maddox rod

Filter Maddox rod merah ditaruh di depan mata yang akan


diperiksa. Kemudian disinari sentolop jarak 30 cm, penderita
melihat sentolop melalui Moddox rod (merah), akan terlihat :
Pada makula normal bayangan sinar lurus merah
Pada fungsi makula terganggu sinar garis merah Maddox rod akan
terlihat terpotong
Pada skotoma sentral bila Maddox rod diputar pada beberapa
meridian akan terlihat adanya skotoma sentral.
Uji ini berguna untuk mengetahui fungsi makula, yang dipakai
2 dekade terakhir ini.
a. Uji Konfrontasi
erita duduk berhadapan pemeriksa jarak sekitar 1 meter. Mata
an pasien dengan mata kiri pemeriksa saling bertatap. Benda
n jarak sama digeser perlahan dari perifer lapang pandangan
tengah. Bila pasien melihat pada saat bersamaan dengan
pemeriksa maka lapang pandangan pasien normal. Syarat
meriksaan ini adalah lapang pandangan pemeriksa normal.
b Kampimeter
Disebut juga uji tangent screen. Pasien duduk 2 meter dari tabir
kain hitam layar (screen Bjerrum) berfiksasi dengan satu mata
pada titik tengah. Obyek digeser perlahan dari tepi ke arah
titik tengah. Dicari batas-batas pada seluruh lapangan saat
benda mulai terlihat, didapatkan pemetaan dari lubang
pandangan pasien.
Dengan cara ini dapat ditemukan defek lapang pandangan dan
adanya skotoma.
c. Perimeter

Berbentuk setengah bola dengan jari-jari 30 cm, pada pusat


parabola mata penderita diletakkan untuk diperiksa. Mata
berfiksasi pada bagian sentral parabola perimeter. Obyek
digeser perlahan-lahan dari tepi ke arah titik tengah. Dicari
batas-batas pada seluruh lapangan pada saat mana benda mulai
terlihat.
Batas lapang pandangan perifer 90 derajat temporal, 70 derajat
inferior, 60 derajat nasal, dan 50 derajat superior.
a. Tonometri digital
Cara :
Pasien diminta untuk melirik kebawah
Jari tengah kanan dan kiri pemeriksa diletakkan di atas alis sebelah nasal dan temporal
Jari telunjuk kanan dan kiri pemeriksa dilektakkan di atas palpebral superior
Jari telunjuk kanan menekan palpebral
Jari telunjuk kiri merasakan fluktuasi
Interpretasi :
T(DIG) N: seperti menekan ujung hidung
T(DIG) N+: seperti menekan lidah dibalik pipi
T(DIG) N++:seperti menekan dahi
T(DIG) N-: seperti menekan hipotenar
b. Tonometri Schiotz
TUJUAN : Pengukuran tekanan
bola mata dinilai dengan teknik
melihat daya tekan alat pada
kornea. Digunakan skala Schiotz.
Cara :
Pasien ditidurkan ditetesi
anestesi pantokain 0.5%
Tonometer Schiotz diletakkan di
atas kornea (mata yang lainnya
berfiksasi pada satu titik di langit-
langit kamar periksa)
c. Gonioskopi

Pemeriksaan ini dilakukan dengan meletakkan lensa sudut


(goniolens) di dataran depan kornea setelah diberikan lokal
anestesi. Lensa ini dapat digunakan untuk melihat sekeliling
sudut bilik mata dengan memutarnya 360 derajat.