Anda di halaman 1dari 34

Ileus Obstruksi

& Peritonitis
Anugraheni Putri Sujiwa
Ileus Obstruktif

Keadaan isi lumen saluran cerna tidak bisa disalurkan ke


distal atau anus karena sumbatan/hambatan yang
disebabkan kelainan dalam lumen usus, dinding usus atau
luar usus yang menekan, atau kelainan vaskularisasi pada
suatu segmen usus yang menyebabkan nekrose segmen
usus tersebut.
Klasifikasi
Berdasarkan Sumbatan

penyumbatan mekanis di dalam


lumen usus tanpa gangguan
Simple pembuluh darah, antara lain karena
Obstruction atresia usus dan neoplasma

penyumbatan di dalam lumen usus


disertai oklusi pembuluh darah
Obstruksi seperti hernia strangulasi, intususepsi,
Strangulasi adhesi, dan volvulus
Klasifikasi
Berdasarkan Letak Sumbatan

Mengenai usus halus


Obstruksi
letak tinggi

Mengenai usus besar


Obstruksi
letak rendah
Etiologi

1. Perlengketan/Adhesi

Adhesi adalah pita-pita jaringan fibrosa yang


sering menyebabkan obstruksi usus halus pasca bedah
setelah operasi abdomen, yang dapat terjadi setiap
waktu setelah minggu kedua pasca bedah.
Adhesi dapat berupa perlengketan yang bentuk
tunggal maupun multiple (perlengketan yang lebih dari
satu) yang setempat maupun luas. Pada operasi,
perlengketan dilepaskan dan pita dipotong agar
pasase usus pulih kembali.
Etiologi

2. Hernia Inkarserata
Adanya suatu defek pada dinding rongga perut
dan tekanan intraabdominal tinggi, alat tubuh dapat
terdorong keluar melalui defek tsb.
Jika liang hernia besar dan usus tidak dapat
masuk lagi disebut incarcerata. Pada keadaan ini
terjadi bendungan pembuluh-pembuluh darah yang
disebut dengan strangulasi.
Akibat gangguan sirkulasi darah akan terjadi
kematian jaringan setempat yang disebut infark.
Hernia yang menunjukkan strangulasi pembuluh darah
dan tanda-tanda incarcerata akan menimbulkan
gejala ileus.
Etiologi

3. Pankreas Anulare

Pankreas anulare merupakan kelainan


kongenital yang jarang ditemukan yang dapat
menyebabkan obstruksi usus halus di bagian
duodenum.
Penyakit ini disebabkan oleh kelainan pada
perkembangan bakal pankreas sehingga tonjolan
dorsal dan ventral melingkari duodenum bagian kedua
akibat tidak lengkapnya pergeseran bagian ventral.
Etiologi

4. Invaginasi
Yaitu bagian oral (proksimal) usus menerobos
masuk ke dalam rongga bagian anal (distal) seperti
suatu teleskop.
Mesentrium mengandung pembuluh darah ikut
tertarik dan pembuluh darah terjepit hingga terjadi
gejala-gejala ileus. Pada anak disebabkan ketidak
seimbangan kontraksi otot usus-usus, adanya jaringan
limfoid yang berlebihan dan antiperistaltik kolon
melawan peristaltik ileum.
Pada dewasa disebabkan adanya dinding
tumor yang menonjol / bertangkai (polip) dan oleh
gerakan peristaltik didorong ke bagian distal dan
dalam gerakan ini dinding usus ikut tertarik.
Etiologi

5. Volvulus

Volvulus di usus halus agak jarang ditemukan.


Disebut pula dengan torsi dan merupakan pemutaran
usus dengan mesenterium sebagai poros.
Volvulus dapat disebabkan oleh mesentrium
yang terlalu panjang, yang merupakan kelainan
kongenital pada usus halus, pada obstisipasi yang
menahun, dan hernia inkarcerata,
Akibat volvulus terjadi gejala-gejala strangulasi
pembuluh darah dengan infark dan gejala-gejala ileus.
Etiologi

6. Atresia Usus

Gangguan pasase usus kongenital dapat


berbentuk stenosis dan atresia, yang disebabkan oleh
kegagalan rekanalisasi pada waktu janin berusia 6-7
minggu.
Kelainan bawaan dapat disebabkan oleh
gangguan aliran darah lokal pada sebagian dinding
usus akibat desakan, invaginasi, volvulus, jepitan, atau
perforasi usus masa janin. Daerah usus yang tersering
mengalaminya adalah usus halus. Stenosis dapat juga
terjadi karena penekanan, misalnya oleh pankreas
anulare dan dapat berupa atresia.
Etiologi

7. Askariasis

Obstruksi umumnya disebabkan oleh suatu gumpalan


padat yang terdiri dari sisa makanan dan puluhan ekor
cacing yang mati akibat pemberian obat cacing.
Etiologi

8. Tumor

Tumor usus halus agak jarang menyebabkan


obstruksi usus, kecuali jika ia menimbulkan invaginasi.
Tumor usus halus dapat menimbulkan
komplikasi, pendarahan, dan obstruksi. Obstruksi dapat
disebabkan oleh tumornya sendiri ataupun secara
tidak langsung oleh invaginasi.
Peritonitis

Peritonitis adalah peradangan yang disebabkan


oleh infeksi pada selaput organ perut (peritonieum).
Peritonitis merupakan suatu kegawatdaruratan
yang biasanya disertai dengan bakteremia atau sepsis.
Peritonieum adalah selaput tipis dan jernih yang
membungkus organ perut dan dinding perut sebelah
dalam. Lokasi peritonitis bisa terlokalisir atau difuse, riwayat
akut atau kronik dan patogenesis disebabkan oleh infeksi
atau aseptik.
Peritonitis primer (Spontaneus)

Disebabkan oleh invasi hematogen dari


organ peritoneal yang langsung dari
rongga peritoneum. Penyebab paling sering
dari peritonitis primer adalah spontaneous
bacterial peritonitis.
(SBP) akibat penyakit hepar kronis. Kira-kira
10-30% pasien dengan sirosis hepatis
dengan ascites akan berkembang menjadi
peritonitis bakterial.
Peritonitis Sekunder

Penyebab peritonitis sekunder paling sering


adalah perforasi appendicitis,perforasi
gaster dan penyakit ulkus duodenale,
perforasi kolon (palingsering kolon sigmoid)
akibat divertikulitis, volvulus, kanker
sertastrangulasi usus halus
Peritonitis Tertier

Peritonitis yang mendapat terapi tidak


adekuat, superinfeksi kuman, danakibat
tindakan operasi sebelumnyaSedangkan
infeksi intraabdomen biasanya dibagi
menjadi generalized (peritonitis) dan
localized abses intra abdomen)
Ileus Obstruksi Peritonitis

- Nyeri perut kolik Manifestasi Klinis - Demam >38.0oC


- Muntah - Mual dan muntah
- Konstipasi - Nyeri perut hebat
- Kembung terlokalisir /
- Sulit buang angin generalisata
- Facies Hipocrates :
ekspresi yang
tampak gelisah,
pandangan
kosong, mata
cowong, kedua
telinga dingin, dan
muka yang tampak
pucat.
Ileus Obstruktif Pemeriksaan Fisik Peritonitis

- Distensi - Distensi perut


- Darm countour Inspeksi - Pernafasan dada cepat dan
- Darm steifung dangkal

- Bising usus - Bising usus sampai hilang


- Borborygmi sound Auskultasi
- Metallic sound

- Nyeri tekan
- Distended - Nyeri tekan lepas
Palpasi
- Defans muskular

- Hipertimpani
- Hipertimpani Perkusi
- Redup hepar hilang

- Ampula recti kolaps


- Terdapat massa Rectal Touche - Ampula recti melompong
(tumor)
Ileus obstruksi Peritonitis

Pemeriksaan Penunjang

Dalam batas normal Darah Rutin Leukosit >10.000


- Supine:preperitoneal fat
menghilang, psoas line
menghilang, dan kekaburan
pada cavum abdomen
- Dilatasi usus - Sit : free air subdiafragma
- Step leader sign / berbentuk bulan sabit
Foto Polos
Air fluid level (LLD) (semilunar shadow)
Abdomen
- Coil spring sign - LLD : free air intra peritoneal
3 Posisi
- Herringbone sign pada daerah perut yang
paling tinggi. Letaknya
antara hati dengan dinding
abdomen atau antara
pelvis dengan dinding
abdomen.
Obstruksi Mekanis
Sederhana (Ileus Ileus Paralitik Pseudo-obstruksi
Obstruktif)
Nyeri keram
Nyeri abdominal
Nyeri keram abdominal, abdominal,
ringan, perut
konstipasi, obstipasi, konstipasi,
Keluhan kembung, mual,
mual, muntah, dan obstipasi, mual,
muntah, obstipasi,
anoreksia muntah, dan
dan konstipasi
anoreksia
Borborygmi,
timpani, terdapat
Borborygmi, bunyi
gelombang
Hasil peristaltic meningkat Bising usus senyap,
peristaltik dengan
Pemeriksaan dengan bising usus nada distensi, dan
bising usus hipo
Fisik tinggi, distensi, nyeri timpani
atau hiperaktif,
terlokalisir.
distensi dan nyeri
terlokalisir

Bow-shaped loops in Dilatasi usus kecil


Dilatasi usus besar
ladder patern, terdapat dan usus besar
Gambaran terisolasi dengan
gambaran gas kolon dengan
Foto Polos peningkatan
yang terperangkap di peningkatan
diafragma
bagian distal dari lesi, diafragma
Golongan Antibiotik
Antibiotika golongan aminoglikosid, bekerja dengan menghambat sintesis protein dari bakteri.

Antibiotika golongan sefalosforin, bekerja dengan menghambat sintesis peptidoglikan


serta mengaktifkan enzim autolisis pada dinding sel bakteri.

Antibiotika golongan klorampenikol, bekerja dengan menghambat sintesis protein


dari bakteri.

Antibiotika golongan makrolida, bekerja dengan menghambat sintesis protein dari


bakteri.

Antibiotika golongan penisilin, bekerja dengan menghambat sintesis peptidoglikan.

Antibiotika golongan kuinolon, bekerja dengan menghambat satu atau lebih enzim
topoisomerase yang bersifat esensial untuk replikasi dan transkripsi DNA bakteri.

Antibiotika golongan tetrasiklin, bekerja dengan menghambat sintesis protein dari bakteri.
Infeksi Anaerob
Metronidazole
Chloramphenicol
Imipenem / meropenem
Betalactam/betalactam-inhibitor combin.
Clindamycin
Antistaph. penicillins
Cefoxitin
Antibiotik Spektrum Luas
Sulfonamid (Trimetropim), Flurokuinolon
(Ciprofloxacin), ampisilin, amoxicilin,
sefalosforin, kloramfenikol, tetrasiklin,
dan rifampisin
Infeksi bakteri gram (-)

Gram (+)
Eritromisin, klindamisin, kanamisin

Gram (-)
Cefixime, Cefotaxime, Ceftriaxon,
Gentamisin, Tobramisin,
Streptomicin, Neomicin,
Kanamisin dan Amikasin
Aktivitas
No. Nama Generasi Cara Pemberian
Antimikroba
1. Cefadroxil 1 Oral

2. Cefalexin 1 Oral Aktif terhadap kuman


gram positif dengan
keunggulan dari
3. Cefazolin 1 IV dan IM Penisilin aktivitas nya
terhadap bakteri
4. Cephalotin 1 IV dan IM penghasil Penisilinase

5. Cephradin 1 Oral IV dan IM

6. Cefaclor 2 Oral

7. Cefamandol 2 IV dan IM Kurang aktif terhadap


bakteri gram postif
dibandingkan dengan
8. Cefmetazol 2 IV dan IM generasi pertama,
tetapi lebih aktif
terhadap kuman gram
9. Cefoperazon 2 IV dan IM negatif; misalnya
H.influenza, Pr. Mirabilis,
E.coli, dan Klebsiella
10. Cefprozil 2 Oral

11. Cefuroxim 2 IV dan IM


12. Cefditoren 3 Oral

13. Cefixim 3 Oral Golongan ini


umumnya kurang
14. Cefotaxim 3 IV dan IM efektif
dibandingkan
dengan generasi
15. Cefotiam 2 IV dan IM pertama terhadap
kuman gram positif,
tetapi jauh lebih
16. Cefpodoxim 3 Oral efektif terhadap
Enterobacteriaceae
17. Ceftazidim 3 IV dan IM , termasuk strain
penghasil
Penisilinase.
18. Ceftizoxim 3 IV dan IM

19. Ceftriaxon 3 IV dan IM

20. Cefepim 4 Oral IV dan IM Hampir sama


dengan generasi
ketiga
21. Cefpirom 4 Oral IV dan IM