Anda di halaman 1dari 20

Oleh :

Kelompok 7
Menurut beberapa pandangan para ahli :

SLE merupakan suatu penyakit jaringan ikat dimana


terjadi peradangan kronis yang bisa mengenai
persendian, ginjal, kulit, selaput mukosa, dan bahkan
dinding pembuluh darah. (William, 2012)
Lupus eritematosus sistemik (SLE) adalah penyakit
autoimun di mana organ, jaringan, dan sel mengalami
kerusakan yang dimediasi oleh autoantibodi
pengikat jaringan dan kompleks imun. (Kasper, 2005)
Masih belum didapatkan data pasti mengenai
prevalensi SLE di Indonesia. Prevalensi SLE di dunia
kelihatannya lebih sering ditemukan di Cina, di Asia
Tenggara, dan di antara keturunan kulit hitam di
Karibia namun jarang ditemukan pada keturunan
kulit hitam di Afrika. SLE jarang terjadi pada usia
prepubertas namun sering dimulai pada usia dekade
kedua dan ketiga.
SLE berkembang pada wanita usia produktif
sekitar sepuluh kali lipat daripada pria dengan usia
yang sama. Perbandingan wanita dan pria adalah 8:1.
Penyakit SLE terjadi akibat terganggunya regulasi
kekebalan yang menyebabkan peningkatan antibody
yang berlebihan. Sistem imun tubuh kehilangan
kemampuan untuk membedakan antigen dan sel
jaringan tubuh sendiri.
Sampai saat ini penyebab SLE belum diketahui.
Diduga faktor genetik, infeksi dan lingkungan ikut
berperan pada patofisiologi SLE.
1. Faktor Genetik
2. Faktor Lingkungan
3. Faktor Hormon
4. Sistem Imunitas
5. Obat-obatan
6. Infeksi
7. Stress
Faktor Genetik
Faktor keturunan mempunyai risiko yang
meningkat untuk penderita SLE, dan hingga 20% pada
kerabat tingkat pertama yang secara klinis tidak
terkena dapat menunjukkan autoantibody. Faktor
genetik memegang peranan pada banyak penderita
lupus dengan resiko yang meningkat pada saudara
kandung dan kembar monozigot.
Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan sangat berperan sebagai
pemicu Lupus, misalnya : infeksi, stress,
makanan, antibiotik, serta cahaya ultraviolet
(matahari). Sinar matahari memiliki banyak ekstrogen
sehingga mempermudah terjadinya reaksi
autoimmune.
Faktor Hormon
Meningkatnya gejala penyakit ini pada masa
sebelum menstruasi atau selama kehamilan
mendukung keyakinan bahwa hormon (terutama
estrogen) mungkin berperan dalam timbulnya
penyakit ini.
1. Discoid Lupus - organ tubuh yang terkena hanya
bagian kulit.
Dapat dikenali dari ruam yang muncul dimuka, leher, dan
kulit kepala, ruam di sekujur tubuh, berwarna kemerahan,
bersisik, kadang gatal.
2. Drug Induced Lupus yang timbul akibat efek
samping obat.
Lupus jenis ini baru muncul setelah odapus menggunakan
jenis obat tertentu dalam jangka waktu yang panjang. Salah
satu obatnya yaitu hydralazine (untuk mengobati darah
tinggi)
3. Sistemik Lupus Erythematosus
Lupus ini lebih berat dibandingkan discoid lupus, karena
gejalanya menyerang banyak organ tubuh atau system
tubuh pasien lupus.
Menurut American Collage of Rheumatology (ARC) ada 11
kriteria SLE dan jika terdapat 4 kriteria maka diagnose SLE dapat
ditegakkan.
Ruam malar
Ruam discoid
Fotosensifitas
Ulserasi dimulut atau nasofaring
Arthritis
Serositis: yaitu pleuritis atau perikarditis
Kelainan ginjal, yaitu proteinuria persisten >0,5 gr/hari, atau adalah
silinder sel
Kelainan neurologic, yaitu kejang-kejang atau psikosis
Kelainan hematologic, yaitu anemia hemolitik atau lekopenia atau
limfopenia atau trombositopenia
Kelainan immunologic yaitu sel SLE positif atau anti DNA positif, atau
anti Sm positif atau tes serologic untuk sifilis yang positif palsu
Antibody antinuclear
Kecurigaan akan penyakit SLE bila dijumpai 2 atau lebih
keterlibatan organ, seperti:

Gender wanita pada rentang usia produktif


Gejala konstitusional: kelelahan, demam (tanpa bukti infeksi)
dan penurunan berat badan
Musculoskeletal: nyeri otot (myalgia), nyeri sendi (atralgia),
miositis
Kulit: ruam kupu-kupu (butterfly atau malar rsh),
fotosensitivitas, SLEi membran mukosa, alopesia, fenomena
raynaud, purpura, urtikaria, vaskulitis
Paru-paru: pleurisy, hipertensi pulmonal, SLEi parenkhim
parenkhim
Jantung: pericarditis, miokarditis, endokarditis
Ginjal: hematuria, protenuria, cetakan, sindrom nefrotik
Gastrointestinal: mual, muntah, nyeri abdomen
Retikulo-endo organomegali (limfadenopati, splenomegali,
hepatomegali)
Hematologi: anemia, leucopenia, dan trombositopenia
Neuroprikiatri: psikosis, kejang, sindroma otak organic, mielitis
transfersa, neuropati cranial dan perifer
Pemeriksaan antibodi
Pemeriksaan laboratorium untuk menentukan adanya
penyakit SLE
Pemeriksaan antibodi.
Antibodi Prev Antigen yang Clinical Utility
alen dikenali
si
Antinuclear 98% Multiple nuclear Pemeriksaan skrinning terbaik ; hasil
antibodies negative berulang menyingkirkan SLE
(ANA)

Anti-dsDNA 70% DNA (double Jumlah yang tinggi spesifik untuk SLE dan
stranded) pada beberapa pasien berhubungan
dengan aktivitas penyakit, nephritis, dan
vasculitis
Anti-Sm 25% Kompleks protein Spesifik untuk SLE; tidak ada korelasi
pada 6 jenis U1 klinis; kebanyakan pasien juga memiliki
RNA RNP; umum pada African American dan
Asia disbanding Kaukasia

Anti-RNP 40% Kompleks protein Tidak spesifik untuk SLE: jumlah besar
pada U1 RNA berkaitan dengan gejala yang overlap
dengan gejala rematik termasuk SLE
Pemeriksaan laboratorium untuk menentukan adanya
penyakit SLE
Edukasi dan Konseling
Program Rehabilitas
Terapi Medikasi (NSAID ( Non Steroid Anti-
Inflamation Drugs) , Kortikosteroid, Antimalaria,
Immunosupresan)
A. Pengkajian
a) Identitas Klien
b) Riwayat Kesehatan
c) Pemeriksaan Fisik
d) Pemeriksaan Penunjang
B. Analisis Data
1. Kerusakan Integritas Kulit
2. Nyeri Akut
3. Resiko Infeksi
4. Gangguan Citra Tubuh
5. Keletihan
C. Rencana Asuhan Keperawatan

1. Kerusakan Integritas Kulit


NOC : Tissue Integrity: Skin & Mucous Membranes
NIC : Skin Surveillance & Skin Care : Topical Treatments

2. Nyeri Akut
NOC : Pain Control
NIC : Pain Management

3. Resiko Infeksi
NOC : Immune Status
NIC : Kontrol Infeksi

4. Gangguan Citra Tubuh


NOC : Body Image & Self Esteem
NIC : Body Image Enhancement & Self Esteem Enhancement
Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Nanan,Nuraeny. 2008. Tinjauan Pustaka: Lupus
Erimatosus. Universitas Padjajaran Bandung.
Nurarif, Amin Huda & Hardhi Kusuma. 2015. Aplikasi
Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan
Nanda Nic-Noc, Ed. Revisi Jilid 1. Jogjakarta:
MediAction
Setyohadi B. 2003. Penatalaksanaan lupus eritematosus
sistemik.Universitas sumatera utara : Temu lmiah
Rematologi,154-8.