Anda di halaman 1dari 28

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIZAR, MATARAM

SEMESTER V TA. 2013 / 2014


MODUL :PENELITIAN KESEHATAN
KULIAH :VARIASI BERAT-RINGANNYA
PENYAKIT INFEKSI
DOSEN : dr. INDRADJID, MS
HARI/TANGGAL : JANUARI 2014
SASARAN PEMBELAJARAN
I. KONSEP NORMAL
II. KONSEP SEHAT SAKIT
III. PENYEBAB PENYAKIT
IV. VARIASI BERAT RINGANNYA PENYAKIT INFEKSI
KONSEP KEADAAN NORMAL

A. Setiap parameter pengukuran yang diterapkan pada satu indvidu atau


sekelompok individu akan memiliki nilai rata-rata yang dianggap normal.
Nilai rata-rata untuk tinggi, berat badan dan tekanan darah diperoleh dari
mengamati banyak individu yang juga memiliki sejumlah variasi.

B. Variasi nilai-nilai normal terjadi karena beberapa hal :


Perbedaan genetik
Perbedaan pengalaman hidup dan interaksinya dengan
lingkungan
Perbedaan parameter fisiologis karena pengendalian fungsi
mekanisme tubuh yang dipengaruhi waktu, asupan makanan,
aktivitas, dsb.
Perbedaan metode / alat ukur yang digunakan.
Pembacaan tunggal / sesaat adanya peningkatan tekanan
darah atau glukosa darah tidak selalu berarti seseorang
menderita hipertensi atau diabetes. Hal ini mengharuskan
kita menilai dalam konteks dari individu secara keseluruhan.
Perbedaan kebudayaan, perbedaan populasi.

C. Kumpulan nilai-nilai normal akan didefinisikan menjadi keadaan sehat,


misal SEHAT menurut WHO :
Sehat adalah keadaan sempurna baik fisik, mental, maupun
sosial dan tidak hanya terbatas pada bebas dari penyakit dan
kecacatan (Soekidjo Notoatmodjo).
Sehat fisik terwujud apabila seseorang tidak merasa sakit,
semua organ dan sistem tubuh normal atau tidak ada
gangguan fungsi tubuh.
Sehat sosial : seseorang mampu berhubungan dengan orang/
kelompok lain secara baik, berinteraksi, saling menghargai
dan toleransi.
Sehat mental (jiwa), mencakup pikiran, emosional dan
spiritual.
- Pikiran sehat, mampu berpikir logis (masuk akal) atau
berpikir secara runtut.
- Emosional yang sehat tercermin dari kemampuan
seseorang mengekspresikan emosinya secara wajar =
rasa takut, gembira, khawatir, sedih dsb.
Sehat mental (jiwa) mencakup pikiran, emosional dan
spiritual.
- Pikiran sehat, mampu berpikir logis (masuk akal) atau
berpikir secara runtut.
- Emosional yang sehat tercermin dari kemampuan
seseorang mengekspresikan emosinya secara wajar =
rasa takut, gembira, khawatir, sedih dsb.
- Spiritual yang sehat tercermin dari cara seseorang dalam
mengekspresikan rasa syukur, pujian`atau penyembahan
terhadap Sang Pencipta Alam / Allah Yang Maha Kuasa
sesuai dengan norma masyarakat.
KONSEP TENTANG PENYAKIT

Penyakit adalah adanya perubahan dalam individu yang


menyebabkan parameter kesehatan mereka berubah diluar batas
normal. Tolok ukur biologis dalam individu adalah penyesuaian
pengaruh lingkungan eksternal dalam rangka mempertahankan
lingkungan internal yang tetap (seimbang). Persepsi subyektif
seseorang tentang penyakit dihubungkan dengan kegagalan dari
kemampuan untuk melakukan kegiatan sehari-hari dengan nyaman
(ada keluhan subyektif).
Faktor-faktor yang berpengaruh,
a. Faktor Ekstrinsik penyakit pada manusia antara lain :
agen infeksi, trauma mekanis, bahan kimia beracun,
radiasi, suhu yang ekstrim, masalah gizi dan stres psikologik.
Faktor ekstrinsik ini akan mempengaruhi mekanisme respon
instrinsik dari individu untuk timbulnya suatu penyakit.
b. Faktor Instrinsik Penyakit
- Banyak sifat dari individu yang merupakan faktor instrinsik penyakit,
karena sifat-sifat tersebut mempunyai dampak yang penting pada
perubahan berbagai keadaan pada individu, misal umur, jenis
kelamin dan kelainan-kelainan yang didapatkan dari perjalanan
penyakit sebelumnya adalah faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan
dari patogenesis penyakit.

- Diatas segalanya, keadaan genetik merupakan bagian esensial


dari penyebab penyakit, karena mekanisme fisiologis kehidupan sehari-
hari dan cara memberikan respon terhadap cedera / faktor ekstrinsik,
semuanya ditentukan oleh informasi genetik yang terkumpul pada saat
konsepsi.
c. Interaksi antara Faktor Ekstrinsik dan
Faktor Instrinsik : suatu spektrum.
Dengan memperhatikan keseimbangan relatif antara keturunan dan
lingkungan sebagai penyebab timbulnyapenyakit, terdapat spektrum
yang lebar. Pada ujung yang satu terdapat penyakit-penyakit yang
terutama ditentukan oleh beberapa agen lingkungan terlepas dari latar
belakang keturunan, sedangkan pada ujung yang lain adalah
sebaliknya. Sebagian besar penyakit pada manusia berada di antara
kedua ujung spektrum ini dan kedua faktor tersebut saling
mempengaruhsecara bermakna.
PERKEMBANGAN PENYAKIT

A. Etiologi, adalah penetapan sebab atau alasan dari suatu fenomena.


Etiologi penyakit : identifikasi faktor-faktor yang menimbulkan penyakit
tertentu.
Contoh : basil tuberkulosis adalah agen etiologi dari penyakit
tbc (tuberkulosis)
Tetapi hal ini tidaklah cukup, perlu diperhatikan spektrum interaksi faktor
ekstrinsik dan faktor instrinsik.
B. Patogenesis penyakit : perkembangan atau evolusi penyakit.
Patogenesis tuberkulosis akan menunjukkan mekanisme
dengan jalan mana basil tuberkulosis akhirnya mengakibatkan
kelainan pada jaringan dan organ. Mekanisme ini akan
mengkaitkan proliferasi dan penyebaran basil-basil
tuberkulosis dengan respon peradangan, pertahanan
imunologis, pengrusakan sel dan jaringan dan pada taraf
kerusakan jaringan tertentu akan terkait dengan manifestasi
klinis penyakit yang jelas.
Dalam penilaian diagnostik penderita dan pengobatannya,
penting diingat adalah konsep riwayat alamiah dan derajat
variasi diantara berbagai penyakit.
- beberapa penyakit mempunyai onset yang cepat, ada
pula yang lama onset penyakitnya
- beberapa penyakit bersifat sembuh sendiri, yang lain
menjadi kronik dan beberapa penyakit dapat sembuh dan
kambuh secara berulang.
C. Manifestasi Penyakit
Stadium sub klinis = belum ada gangguan fungsi, proses
penyakit sebenarnya sudah dimulai
Gejala subyektif = perasaan subyektif yang dikeluhkan
penderita (mual, pusing, sakit pinggang)
Tanda penyakit = gangguan obyektif yang dapat di
identifikasi (demam, kulit merah, tumor)
Lesi = perubahan struktur karena perkembangan
penyakit (dapat makroskopis atau mikroskopis)
Komplikasi = proses baru atau proses terpisah karena
perubahan akibat penyakit dasarnya
(pneumonia akibat infeksi virus campak pada kulit).
II. KONSEP SEHAT SAKIT
A. KONSEP SAKIT
Perubahan status sehat ke status sakit berkaitan dengan adanya keterpaparan
yang dialami dan kerentanan tubuh manusia dalam menghadapi keterpaparan itu.
Untuk menderita sakit, seorang harus mengalami keterpaparan dan rentan / peka
terhadap keterpaparan itu. Konsep ini sekaligus memberikan gambaran bahwa
untuk mencegah penyakit dapat dilakukan dengan dua cara utama :
menghindari keterpaparan, misalnya memberikan desinfektan dan
Menurunkan kerentanan, misalnya dengan meningkatkan daya tahan tubuh
dengan imunisasi.
B. DIAGNOSIS SAKIT
Cara Diagnosis
Diagnosis adalah upaya untuk menegakkan atau mengetahui jenis penyakit
yang diderita oleh seseorang. Untuk menentukan adanya penyakit dapat
dilakukan diagnosis dengan cara :
1. Anamnesis berkaitan dengan keluhan berupa gejala (simptom) yang
dirasakan oleh penderita pasien. Di sini informasi berdasarkan hasil
observasi subjektif pasien terhadap dirinya.
2. Tanda (sign) berupa hasil pengamatan dokter atau pemeriksa kesehatan
yang boleh dikatakan merupakan suatu observasi objektif yang dilakukan
terhadap penderita.
3. Test (pemeriksaan) berupa pemeriksaan dengan mempergunakan alat-alat
laboratorium atau teknik pemeriksaan lainnya seperti rontgen, atau ECG.
Untuk menegakkan diagnosis suatu penyakit ketiga prosedur ini dianggap sebagai
suatu prosedur lengkap untuk mencapai suatu diagnosis pasti. Namun tidaklah
mudah untuk harus melakukan ketiganya dalam menegakkan diagnosis karena :
1.Memerlukan waktu yang lama.
2.Faktor biaya yang mahal.
3.Adanya penyakit yang tidak harus memerukan ketiga prosedur.
4.Adanya subjektivitas dan kelemahan dari masing-masing cara.
Untuk suatu kegiatan atau penelitian epidemiologi, melakukan ketiganya sangat
sulit dan hampir jarang dilakukan. Terlebih sebagaimana perlu diketahui, bahwa
epidemilogi umumnya merupakan penelitian observasional, berdasarkan
anamnesis/wawancara dengan penderita/masyarakat. Namun tidak dapat
disangkal bahwa wawancara itu mempunyai kemungkinan subjektivitas.
Sebagai perbandingan bagaimana melakukan diagnosis, pada pasien perorangan
dibandingkan dengan kesakitan pada kominiti, dapat dibuat sebagai berikut :

Perorangan komuniti
Anamnesis Interview
Sign (tanda) Observasi lapangan
Uji / tes Intervensi / eksperimen
Mengingat sulitnya menegakkan diagnosis baik dengan satu atau ketiga cara
yang diperlukan, dalam melakukan suatu pengamatan atau penelitian
epidemiologi perlu untuk membuat Kriteria Diagnosis atau Kriteria Objektif.
Dalam mengamati suatu masyarakat, tidaklah mudah untuk mengetahui
status kesehatannya. Selain kesulitan diagnosis status sakit, informasi atau
data yang dipakai mempunyai keterbatasan-keterabatasan untuk mampu
memotret keadaan sebenarnya yang terjadi.

Defnisi Kasus.
Kasus adalah mereka yang menderita suatu penyakit atau masalah. Upaya
diagnosis adalah upaya mendefinisikan kasus menentukan jenis penyakit.
Mengapa perlu untuk melakukan diagnosis? Untuk klinikus, penentuan
diagnosis berarti langkah untuk mengetahui etiologi penyakit untuk
selanjutnya dipakai guna mengarahkan pengobatan. Kalau diagnosis adalah
malaria maka etiologi adalah plasmodium dan pengobatan adalah anti
malaria.
Untuk epidemiologi, definisi kasus berarti perumusan masalah untuk
dijadikan mencari penyebabnya dalam upaya untuk mendapatkan strategi
pencegahan. Untuk sebuah penelitian epidemiologi klinik mendefinisikan
kasus adalah suatu keharusan karena kasus adalah salah satu variabel
penting penelitian.
Pendefinisian kasus dimaksudkan untuk :
1. Mengetahui luaran (outcome; variabel dependen) dari penelitian
2. Untuk membandingkan batasan kasus yang digunakan dengan batasan
kasus dalam penelitian-penelitian sebelumnya.
Untuk mendefinisikan kasus diperlukan kriteria diagnosis. Hasil suatu
kriteria objektif adalah :
1. Pemisahan sakit dan sehat
2. Status mungkin (possible), barangkali (probable) dan jelas (definitive) sakit.
3. Status sakit ringan, sedang atau berat
4. Kategori tingkat penyakit; tingkat I, II, III dan seterusnya.
sebagai contoh dalam diagnosis malaria maka kemungkinan dapat
dikembangkan tiga jenis diagnosis malaria, yakni possible probable, dan
definitive malaria :
Jika ada fever, sakit kepala dan pegal disebut possble malaria
Jika ada respon terhadap pemberian terapi anti-malaria, disebut probable
malaria.
Jika hasil pemeriksaan blood slide positif, disebut definitive malaria.
III.PENYEBAB PENYAKIT
A. HUBUNGAN PENYEBAB DAN PENYAKIT
Dalam epidemiologi, penyebab penyakit perlu diketahui dengan maksud
untuk mengetahui proses terjadinya dan untuk berupaya mencegah
bereaksinya faktor penyebab itu. Dilihat dari segi epidemiologi, kejadian
penyakit umumnya berkaitan dengan sejumlah penyebab. Sementara itu
penyebab dapat juga menyebabkan beberapa penyakit.
Beberapa faktor yang berkaitan dengan terjadinya suatu penyakit dapat
diciptakan suatu model yang disebut jaringan kausal (web of causation).
Karena bentuknya seperti jaringan sarang laba-laba jaringan ini disebut juga
jaringan kausal laba-laba.
Contoh : Hubungan antara faktor-faktor dengan infark myocard.
Jariangan kausal yang rumit ini tentu mengakibatkan sulitnya untuk
menegakkan penyebab utama atau penyebab langsung. Karena mempunayi
beberapa kemungkinan penyebabnya berarti masalah itu dapat diserang dari
berbagai arah. Jika satu serangan gagal, arah serangan lain mungkin berhasil
dan memberikan keberhasilan memutuskan sarang laba-laba sang penyakit.
B. MODEL HUBUNGAN KAUSAL
Hubungan antara faktor kausal dan penyakit dapat mempunayi beberapa
bentuk :
1. Single Cause/Single Effect Model
2. Multiple Cause/Multiple Effect Model
Untuk sekedar melihat contoh dari model multi kausal pada beberapa
penyakit yang menjadi penyebab utama kematian di Amerika Serikat di tahun
1977.
Dikemukakan bahwa penyakit jantung adalah penyebab utama kematian
dengan faktor-faktor kausal yang meliputi merokok, hipertensi, peninggian
kadar kolesterol, kurang eksersise, diabetes, stres, dan riwayat keluarga.
C. FAKTOR AGENT PENYAKIT
Dalam rantai epidemiologi suatu penyakit, faktor agent yang dpat meliputi
faktor-faktor berikut :
1. Faktor biologis seperti :
a. Bakteri pada penyakit tuberkulosis dan sifilis.
b. Protozoa sebagai agent penyakit amebiasis dan malaria
c. Fungi sebagai penyebab histoplasmosis
d. Virus sebagai agent campak, mumps dan polio.
2. Faktor fisik : seperti radiasi, trauma
3. Faktor kimiawi seperti asbes, cobal
4. Faktor sosial seperti perilaku dan gaya hidup.
Dalam menyebabkan terjadinya penyakit faktor agent ini bisa sendiri-
sendiri bahkan sering bersama faktor agent lainnya menimbulkan gangguan
patologis pada organ tubuh manusia yang berlanjut dengan terjadi penyakit
tertentu.

IV. VARIASI BERAT RINGANNYA PENYAKIT INFEKSI


Infeksi akan memberikan efek yang bervariasi pada host :
Tanpa gejala (inpparent)
Gejala ringan
Gejala sedang
Gejala berat fatal.
Berat-ringannya penyakit bukan saja tergantung dari kuman penyebab, tetapi
juga reaksi dari host merupakan faktor penentu
Dalam satu genus yang sama tetapi berbeda tipe, juga akan menimbulkan
efek berbeda, misalnya dari berbagai tipe streptokokus hemolitikus, hanya
tipe A yang menimbulkan penyakit pada manusia
Bila suatu agent penyakit infeksi menyebabkan banyak infeksi tanpa gejala
(inapparent), maka hal ini dikenal sebagai fenomena gunung es (iceberg
phenomena), misalnya penyakit Tbc, dengan tes tuberkulin akan nampak
banyak yang positip, artinya mereka telah pernah kena infeksi dimasa lalu
dan jumlahnya jauh lebih besar dibanding yang menunnjukkan gejala klinis
penyakit Tbc. Sebagian besar infeksi oleh mikroorganisme mengikuti
fenomena gunung es ini, misal :
Kholera 1 banding 5
Demam Berdarah Dengue
Dll.
Infeksi oleh beberapa mikroorganisme lain, mempunyai gambaran lebih
banyak yang nampak gejala klinisnya dibanding tanpa gejala, misal :
Morbili
Rabies hampir 100% berakhir fatal.
Inapparent infection hanya bisa didiagnosa dengan alat bantu uji diagnostik :
Rectal swab dan pembiakan kuman
Tes antibodi : hepatitis.
Konsekuensi :
A. Dalam hubungan untuk menurunkan angka prevalensiinsidensi. Hal ini
sangat sulit karena tidak mengeluh / nampak sakit tetapi potensial
menularkan. Solusi survai epidemiologi.
B. Dalam hubungan dengan data epidemiologis di Yankes.
Hampir semua penduduk sakit tanpa gejala tentu tidak akan mencari
pelayanan kesehatan karena merasa tidak sakit, demikian pula yang sakit
ringan akan mengobati sendiri penyakitnya.
Dengan demikian yang akan mendatangi pelayanan kesehatan hanya yang
sakit sedang dan berat (fatal) akan berpengaruh pada data perencanaan
program pelayanan karena bias
Ketepatan data diagnosa di unit yankes juga kurang tepat bila tidak dibantu
alat tes diagnosis.
APLIKASI EPIDEMIOLOGI
EPIDEMIOLOGI
Mempelajari masalah kesehatan pada
Kelompok manusia

Frekwensi Penyebaran Faktor 2 pengaruh


Kegiatan pokok Pengelompokan : Disusun langkah2 :
-Menemukan - -Rumuskan
masalah Ciri2manusia(who) Hipotesa
kesehatan -Tempat (where) -Uji hipotesa
-Mengukur - Waktu (when) -Tarik kesimpulan
masalah sebab akibat
kesehatan

EPID. EPID. ANALITIK


DISKRIPTIF
PENELITIAN EPID- PENELITIAN EPID-ANALITIK
DESKRIFTIF 1.Juga menjelaskan mengapa
1.Hanya menjelaskan keadaan (why) suatu masalah
suatau masalah kesehatan kesehatan timbul dimasyarakat
(who,where,when) 2.Pemgumpulan,pengolahan,
2.Pengumpulan,pengolahan, penyajian dan interpretasi
penyajian dan interpretasi data data dilakukan terhadap dua
hanya pada satu kelompok kelompok masyarakat (klp
masyarakat saja terpapar dan klp kontrol )
3.Tidak bertjua untuk 3.Bertujuan membuktikan
memuktikan hipotesa suatu hipotesa (sebab-akibat)
PENEMUAN MASALAH KESEHATAN MASYARAKAT
Masalah kesehatan meliputi :
- frekwensi atau jumlah masalah kesehatan
- Penyebaran masalah kesehatan (who.where,when)

melalui upaya pengumpulan,pengolahan,penyajian dan interpretasi data

Data yang sempurna :


-reliable,comprehensive,up to date.

SUMBER DATA
1. Catatan dan laporan peristiwa kehidupan (vital record/vital satistik
adm pemerintahan)
2. Catatan dan laporan penyakit sarana kesehatan
3. Catatan dan laporan instansi khusus(perusahaan asuransi,kepolisian dll)
4. Hasil sensus penduduk
5. Hasil survey khusus
a. Survey insiden penyakit
b. Survey prevalen penyakit
6. Penjaringan kasus (screening)
7. Pencarian kasus (case finding)
a. Active case finding
b. Pasive case finding
8. Survailen (surveillance)
Pengamatan terhadap suatu masalah kesehatan yang dilakukan secara
terus menerus terutama keadaan wabah
a. Active surveillance
b. Pasive surveillance
PENERAPAN EPIDEMIOLOGI
A. Disease Surveillance
Monitoring terhadap pola kejadian penyakit dalam populasi disebut
surveillance pengumpulan data.
Pemanfaatan data surveillance :
1. Membantu identifikasi wabah penyakit.
2. Sebagai pedoman dengan memperkirakan kelompok populasi yang
paling banyak terserang,juga penyebab yang paling mungkin.
3. Dapat digunakan menyusun strategi pengawasan/penanggulangan
atau pecegahan penyebaran penyakit.
4. Dapat untuk mengukur dampak dari suatu upaya pencegahan dan
penanggulangan.
5. Sebagai informasi yang dibutuhkan untuk menentukan kebutuhan
pelayanan kesehatan.
. Searching for Causes
- Sumber informasi diperoleh dari interview,penelaahan laporan dan
dari pemeriksaan laboratorium.
- Dicari hubungan dari data yang diperoleh dengan kejadian penyakit :
- Apakah hanya kejadian kebetulan (coincidence)
- Apakah non- causal linkages
- Apakah cause and effect relationship

RISK FACTORS
melalui : - Case control study
- Cohort - study
C.Diagnostic testing
- Bertujuan memperoleh bukti objectif ada atau tidak adanya penyakit
pada fase asymptomatic dari perjalanan alamiah penyakit. Test ini
disebut Screening.
- Beberapa terminologi dalam diagnostic testing :
- False positive - Specificity
- False negative - Sensitivity
- Contoh:
- A test with a very low percentage of false positive results is
said to have HIGH SPECIFICITY
- A test with a very low percentage of false negative results is
said as having HIGH SENSITIVITY.
D.Determining the Natural history of a disease
- Beberapa cara yang digunakan :
- Case fatality
- Survival time and median survival time
F.TESTING NEW TREATMENTS
- Semua jenis obat baru/prosedur pengobatan baru harus melaluitest
pengujian dan membuktikan efektifitasnya sebelum di ijinkan untuk
dipergunakan untuk pelayanan klinik.
- Pendekatan standart yang digunakan untuk menilai efektivitas
pengobatan adalah : RANDOMIZED CONTROLLED CLINICAL TRIAL.
REFERANSI :
Bustan, MN (1997). Pengantar Epidemiologi. Rineka Cipta, Jakarta.

Guyton, AC (2000). Fisiologi Kedokteran. Penerbit EGC, Jakarta.

Wirawan, DN (2000). Epidemiologi Dasar Bagian IKK-IKP, FK Udayana,


Denpasar.