Anda di halaman 1dari 14

Kelompok 10:

1. Firadika Indah
2. Sri Fitri Yenni
3. Jumadi
4. George Ngabang
Definisi
Penyakit Graves (goiter difusa toksika) merupakan penyebab
tersering hipertiroidisme adalah suatu penyakit autoimun yang
biasanya ditandai oleh produksi autoantibodi yang memiliki
kerja mirip TSH pada kelenjar tiroid. Penderita penyakit
Graves memiliki gejala-gejala khas dari hipertiroidisme dan
gejala tambahan khusus yaitu pembesaran kelenjar
tiroid/struma difus, oftamopati (eksoftalmus/ mata menonjol)
dan kadang-kadang dengan dermopati.
Etiologi

Penyakit Graves merupakan salah satu penyakit


otoimun, dimana penyebabnya sampai sekarang
belum diketahui dengan pasti. Penyakit ini
mempunyai predisposisi genetik yang kuat, dimana
15% penderita mempunyai hubungan keluarga yang
erat dengan penderita penyakit yang sama.
Patofisiologi

Pada penyakit Graves, limfosit T mengalami perangsangan


terhadap antigen yang berada didalam kelenjar tiroid yang
selanjutnya akan merangsang limfosit B untuk mensintesis
antibodi terhadap antigen tersebut. Antibodi yang disintesis
akan bereaksi dengan reseptor TSH didalam membran sel
tiroid sehingga akan merangsang pertumbuhan dan fungsi sel
tiroid, dikenal dengan TSH-R antibody. Adanya antibodi
didalam sirkulasi darah mempunyai korelasi yang erat dengan
aktivitas dan kekambuhan penyakit.
Lanjutan

Sampai saat ini dikenal ada 3 autoantigen utama terhadap kelenjar


tiroid yaitu tiroglobulin (Tg), thyroidal peroxidase (TPO) dan
reseptor TSH (TSH-R). Disamping itu terdapat pula suatu protein
dengan BM 64 kiloDalton pada permukaan membran sel tiroid dan
sel-sel orbita yang diduga berperan dalam proses terjadinya
perubahan kandungan orbita dan kelenjar tiroid penderita penyakit
Graves.
Sel-sel tiroid mempunyai kemampuan bereaksi dengan antigen
diatas dan bila terangsang oleh pengaruh sitokin (seperti interferon
gamma) akan mengekspresikan molekul-molekul permukaan sel
kelas II (MHC kelas II, seperti DR4) untuk mempresentasikan
antigen pada limfosit T.
Manifestasi Klinis

Pasien mengeluh lelah, gemetar, tidak tahan panas, keringat semakin


banyak bila panas, kulit lembab, berat badan menurun walaupun nafsu
makan meningkat, palpitasi, takikardi, diare dan kelemahan srta atrofi otot.
Perubahan pada mata (oftalmopati Graves) , menurut the American Thyroid
Association diklasifikasikan sebagai berikut (dikenal dengan singkatan
NOSPECS) :
Kelas Uraian
0 Tidak ada gejala dan tanda
1 Hanya ada tanda tanpa gejala
2 Perubahan jaringan lunak orbita
3 Proptosis (dapat dideteksi dengan Hertel exphthalmometer)
4 Keterlibatan otot-otot ekstra ocular
5 Perubahan pada kornea (keratitis)
6 Kebutaan (kerusakan nervus opticus)
Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Lab
Autoantibodi tiroid , TgAb dan TPO Ab dapat dijumpai baik
pada penyakit Graves maupun tiroiditis Hashimoto , namun
TSH-R Ab (stim) lebih spesifik pada penyakit Graves.
Pemeriksaan ini berguna pada pasien dalam keadaan apathetic
hyperthyroid atau pada eksoftamos unilateral tanpa tanda-
tanda klinis dan laboratorium yang jelas. Untuk dapat
memahami hasil-hasil laboratorium pada penyakit Graves dan
hipertiroidisme umumnya, perlu mengetahui mekanisme
umpan balik pada hubungan (axis) antara kelenjar hipofisis
dan kelenjar tiroid
Penatalaksanaan

Faktor utama yang berperan dalam patogenesis terjadinya


sindrom penyakit Graves adalah proses autoimun, namun
penatalaksanaannya terutama ditujukan untuk mengontrol
keadaan hipertiroidisme. Sampai saat ini dikenal ada tiga jenis
pengobatan terhadap hipertiroidisme akibat penyakit Graves,
yaitu: Obat anti tiroid, Pembedahan dan Terapi Yodium
Radioaktif.
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

Pengkajian
- Aktivitas/istirahat
- Sirkulasi
- Eliminasi
- Integritas ego
- Makanan/cairan
- Neosensori
- Nyeri / kenyamanan
- Pernafasan
- Keamanan
- Seksualitas
Diagnosa Keperawatan
Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan
frekuensi jantung
Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan status
hipermetabolik
Diare berhubungan dengan bising usus hiperaktif
Intervensi Keperawatan
a. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan frekuensi jantung
Tujuan :Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam,
diharapkan pasien dapat mempertahankan curah jantung yang
adekuat sesuai dengan kebutuhan tubuh.
kriteria hasil :Tanda vital stabil, denyut nadi perifer normal, pengisisan
kapiler normal, status mental baik, tidak ada disritmia.
Intervensi :
1. Pantau tekanan darah pada posisi baring, duduk dan berdiri jika
memungkinkan.
R: Hipotensi umum atau ortostatik dapat terjadi sebagai akibat
vasodilatasi perifer yang berlebihan dan penurunan volume
sirkulasi. Besarnya tekanan nadi merupakan refleksi kompensasi dari
peningkatan isi sekuncup dan penurunan tahanan sistem pembuluh
darah.
2. Periksa/teliti kemungkinan adanya nyeri dada atau angina yang
dikeluhkan pasien.
R : Merupakan tanda adanya peningkatan kebutuhan oksigen oleh otot
jantung atau iskemia.
Lanjutan..

3. Mengkaji nadi atau denyut jantung saat pasien tidur.


R : Memberikan hasil pengkajian yang lebih akurat terhadap
adanya takikardia.
4. Berikan cairan iv sesuai indikasi.
R : Pemberian cairan melalui iv dengan cepat perlu untuk
memperbaiki volume sirkulasi tetapi harus diimbangi
dengan perhatian terhadap tanda gagal jantung/kebutuhan
terhadap pemberian zat inotropik.
b. Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan status
hipermetabolik
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24
jam diharapkan kekurangan volume cairan dapat
dicegah
Kriteria Hasil:Tidak mengalami haus yang tidak normal,
memmbran mukosa lembab
Intervensi:
1. Pantau frekuensi kehilangann cairan pasien.
R: sebagai data dasar intuk melakukan intervensi selanjutnya
2. Kaji adanya rasa haus, kelelahan, nadi cepat, turgor kulit jelek,
membrane mukosa kering
R: untuk mengindikasikan berlanjutnya hipovolemik dan
mempengaruhi kebutuhan volume pengganti.
3. Berikan perawatan mulut secara teratur.
R: Membantu menurunkan rasa tidak nyaman dan
mempertahankan membrane mukosa dari kerusakan
4. Kolaborasi berikan cairan 0,9 % NaCl (normal salin)
R: sebagai cairan pengganti untuk mengatasi kekurangan
cairan dan Natrium