Anda di halaman 1dari 30

Sukses pertanian modern tergantung pada

tersedianya biji berkualitas tinggi dengan potensi


genetik yang baik dan daya kecambah yang teruji,
kecambah dan tumbuh vegetatif yang subur.
Benih ungggul dianjurkan karena meningkatnya
tekanan kebutuhan untuk meningkatkan produksi
bahan makanan di seluruh dunia.
Kebutuhan akan produk-produk biji seperti
minyak, serat, bahan kimia industri, menimbulkan
tambahan permintaan akan varietas-varietas biji
baru.
Fisiologi biji kualitas biji
Embryo bertindak sebagai mata rantai
penghubung antara dua generasi tumbuhan
dan bertanggung jawab dalam
mempertahankan kelestarian genetik suatu
spesies.
Endosperm berfungsi sebagai sumber pertama
bahan makanan untuk tumbuhan embryonik
sampai mencapai keadaan autotrofik.
Kulit biji bertindak sebagai pelindung embryo
terhadap keadaan lingkungan yang kurang
menguntungkan, pada keadaan tertentu ,
diadaptasikan menjadi alat penyebaran biji.
Pada stadia pertama kantong embryo mendapat
nutrisi dari dari sel-sel sekitar jaringan bakal niji
(ovule) pati, lemak, protein dihidrolisis
membentuk gula, asam amino, asam organik dan
zat terlarut metabolik aktif lainnya.
Nukleus zygote yang diploid menerima satu
komplemen khromosome dari induk betina (telur)
dan satu lagi dari induk jantan (sperma)
mengandung semua informasi genetik yang perlu
untuk perkembangan zygote menjadi tumbuhan
dewasa. Pembelahan sel zygote yang pertama
menghasilkan dua sel, yang biasanya berbeda
besarnya. Pembelahan sel-sel ini selanjutnya
berakhir dengan perkembangan embryo dan
diferensiasi sistem jaringan dan organ yang
menjadi ciri tumbuhan itu.`
Jaringan endosperm terdiri dari sel-sel yang
mengandung tiga pasang khromosom (3n), dua dari
induk ibu dan satu dari induk bapak.
Endosperm melakukan fungsi khusus dalam
penyediaan bahan makanan bagi embryo selama masa
pembentukan dan pendewasaan biji dan kemudian
selama masa perkecambahan biji sebelum embryo
berkembang menjadi tumbuhan yang berdiri sendiri.
Pada Angiospermae endosperm umumnya triploid
(3n), perkembangan endosperm biasanya mendahului
perkembangan zygot. Inti endosperm (3n) biasanya
membelah lebih dulu dan membentuk banyak inti
sebelum zygote membelah diri.
Seringkali endosperm berupa nukleus- nukleus bebas tanpa
membentuk bahan dinding sel, sehingga terbentuk
endosperm cair yang mengandung banyak nukleus bebas.
Contoh: air kelapa. Jagung, kacang tanah, walnut, horse
chesnut juga mengandung endosperm cair serupa pada
masa stadium dini dari perkembangan biji.
Pada stadia lanjut dari perkembangan endosperm, dinding
sel terbentuk dan endosperm padat dihasilkan.
Pada tumbuhan dikotil endosperm diserap oleh kotiledon
dari embryo yang sedang berkembang. Persediaan bahan
makanan dalam kotiledon merupakan sumber nutrisi
selama perkecambahan.
Hasil penelitian menunjukkan, bahwa air kelapa dapat
digunakan sebagai sumber hara untuk kultur embryo dan
jaringan serta organ lain.
Selama masa embryogenesis perubahan zygote
disertai oleh serangkaian perubahan pengaturan
dan aktifitas organel-organel seluler. Ribosom,
plastida, mitokhondria, retikulum endoplsmik
diktosom dan dinding sel ikut serta dalam proses-
proses yang berakhir dengnan pembentukan
embryo.
Perubahan-perubahan biokimia mencakup
metabolisme pati, protein, asam nukleik dan
penyusun lainnya.
Untuk mendapatkan gambaran lebih jelas,
ditampilkan hasil penelitian pada jagung.
Perkembangan endosperm mendahu-lui
perkembangan embryo, pada stadia ini endosperm
dalam keadaan nukleus bebas sebagai endosperm cair.
Endosperm padat atau selular terbentuk 4 10 hari
setelah polinasi.
Embryo mulai berkembang 15 18 hari setelah polinasi
pada saat jaringan endosperm tidak bertambah besar
lagi. Perkembangan max. Embryo jagung tercapai kira-
kira 45 hari setelah polinasi.
Endosperm menentukan sebagaian besar berat biji.
Kandungan air endosperm mencapai puncaknya
sekitar 35 hari setelah polinasi dan setelah itu menurun
sampai biji mencapai tingkat dewasa, pada saat ini
kandungan airnya kurang dari 10 %.
Kandungan nitrogen total dari embryo dan endosperm
meningkat sepanjang perkembangan biji.
Sintesis protein dalam endosperm diduga
berlangsung dalam dua fase:
Bersamaan terjadinya dengan tumbuh endosperm yang
cepat dan menggambarkan adanya pembentukan sel-sel
baru. Baik RNA maupun RNA juga meningkat pada fase
ini.
Kenaikan protein, DNA dan RNA umumnya terdapat
pada sel-sel yang sedang membelah diri. Konsentrasi
DNA yang tetap pada hari ke tiga puluh menunjukkan
bahwa tidak ada lagi pembentukan sel-sel baru.
Sintesis protein yang dimulai sekitar 35 hari setelah
polinasi, baik pada embryo maupun pada endosperm.
Sintesis protein pada embryo disertai peningkatan DNA
dan RNA pembentukan sel-sel baru. Kenaikan terbesar
jumlah protein terjadi dalam endosperm. Dalam fase ini
konsentrasi RNA menurun, Sedang kandungan DNA
tetap.
Pati mungkin dibentuk sekitar 20 hari setelah
polinasi, disertai penurunan kadar gula yang larut
dalam endosperm.
Dalam endosperm hanya terdapat sedikit lemak.
Kemingkinan lemak dibentuk terus menerus
dalam embryo sepanjang masa perkembangan dan
pendewasan biji.
Inositol, suatu gula alkohol siklik, diubah menjadi
fitin selama masa pendewasaan. Sewaktu biji yang
menjelang matang mengalami dehi-drasi, ion-ion
kalsium, magnesium, kalium dan fosfat bereaksi
dengan inositol membentuk fitin. Pada jagung fitin
terdapat dalam jaringan aleuron.
Pada saat matang, biji mungkin hanya mengandun
g air kuarang dari 10 %. Kehilangan air banyak
terjadi pada struktur yang membentuk kulit biji.
Air juga banyak hilang dari endosperm dan
kotiledon.
Biji kering dapat bertahan pada lingkungan yang
(umumnya) tidak mendukung tumbuh : suhu
rendah, kekeringan, keelebihan air, api, dan
banyak bahan beracun.
Untuk mempertahankan daya hidup biji, kadar air
harus dipertahankan pada tingkat yang rendah.
Kebanyakan biji dikeringkan secara buatan sampai
kadar air 5 % atau kurang. Biji yang kering dapat
disimpan di bawah titik beku selama jangka waktu
tertentu dan tetap dapat mempertahankan daya
kecambahnya.
Proses perkecambahan biji dapat dilihat dari
dua segi, yaitu : secara fisiologi dan morfologi.
Proses fisiologis meliputi urut-urutan sebagai
berikut :
Penyerapan air
Pencernaan
Pengangkutan makanan
Asimilasi
Respirasi
Pertumbuhan
Penyerapan air :
Penyerapan air oleh kulit biji dengan imbibisi dan osmose
tidak memeerlukan tenaga. Masuknya air ke dalam biji
mengakibatkan kulit biji menjadi lunak, shg bersifat
permeabel terhadap O2 dan CO2, akhirnya embrio,
endosperm/ kotiledon menjadi membengkak.
Faktor-faktor yg berpengaruh terhadap imbibisi :
Temperatur
Kelembaban lingkungan
Permeabilitas kulit biji
Susunan kimia di dalam biji
Lamanya biji dalam kondisi lembab (tidak terlindungi)
Proses penyerapan air ke dalam biji terdiri atas tiga tahap,
yaitu :
Tahap penyerapan air (imbibisi) secara cepat
Penyerapan air secara lambat
Meningkatnya penyerapan air sebagai akibat tumbuhnya akar
semaian (bibit)
Pencernaan :
Proses perombakan senyawa-senyawa bermolekul
besar kompleks menjadi molekul lebih kecil,larut
dalam air dan dapat diangkut.
Proses pencernaan berlangsung dengan bantuan
enzim. Enzim di dalam biji menjadi aktif setelah
terjadi penyerapan air. Pada biji jagung, enzim
banyak terdapat pada lapisan terluar scutellum
atau pada lapisan aleuron.
Enzim yg berperan yaitu :
Enzim amylase, enzim yg merombak pati menjadi
glukose
Enzim lipase, enzim yg merombak lemak menadi gliserol
dan asam lemak
Enzim protease, enzim yg merombak protein menjadi
asam amino
Perombakan pati :
Pati (amylose + amylopectin) dirombak oleh -
amylase dan -amylase.
-amylase sudah ada di dalam biji, sedangkan -amylase
tidak terdapat di dalam biji kering.
-amylase baru terbentuk pada saat permulaan
perkecambahan, karena pengaruh gibberelin (GA). GA
sudah ada sejak semula di dalam batang embrio
(Embryonic Axis = EA), atau terbentuk pada awal
perkecambahan. GA keluar dari EA ke
scutellum/aleuron setelah 6 jam perkecambahan untuk
membentuk
-amylase, kemudian -amylase bergerak ke
endosperm/kotiledon. GA merupakan hormon kunci
perkecambahan.
-amylase
Amylose Glukose (larut)
Pati
Amylopectin Dextrin (tak larut)
-amylase
-amylase

Amylose ) Maltose + Glukose


Amylopetin )
Maltase

Glukose
Perombakan protein :
Protein mungkin tidak digunakan dalam
respirasi, tetapi digunakan untuk menyusun
protoplasma atau protein baru dan
membentuk enzim -amylase. Protein yg
dirombak adalah protein yg tidak aktif.
Skema perombakannya sbb:
Protease

Protein Peptida + Asam Amino

Peptidase

Asam amino
Perombakan Lemak :
Lemak dirombak oleh enzim lipase menjadi
senyawa sederhana sebagai bahan abku
respirasi , seperti halnya pati.
Skema perombakannya sbb:
Lemak Lipase
+
As. Lemak Glycerol
(tidak larut)
(larut)

-Oksidasi

Respirasi
Acetil CoA

Krebs
Pengangkutan makanan :
Makanan cadangan yg telah dicerna diangkut dari
tempat penyimpanan ke titik tumbuh pada EA,
yaitu Plumule dan Radicle. Proses pengangkutan ini
secara difusi-osmose (tidak diperlukan tenaga)

Asimilasi (pembangunan kembali) :


Protein yg telah dirombak menjadi asam amino,
diangkut ke titik tumbuh dan disusun kembali
menjadi protein baru. Demikian juga dengan zat-
zat yg lain. Proses pembentukan kembali
senyawa-senyawa yg lebih komplek itu
dibutuhkan tenaga yg berasal dari respirasi
Respirasi :
Respirasi pada biji = respirasi yg terjadi pada
bagian-bagian yg lain.

C6H12 O6 + 6O2 6H20 + 6CO2 + Energi

Respirasi pada perkecambahan paling aktif


terjadi terutama saat radicle menembus kulit
biji.
Pertumbuhan :
Karena kulit biji telah pecah (lunak + mengem-
bang), suplai air cukup, makanan sudah
tercerna, suplai O2 untuk respirasi cukup, maka
embrio tumbuh dengan giat.
Pertumbuhan ini memerlukan tenaga.

Pertumbuhan radicle menjadi suatu sistem


perakaran dan plumulae menjadi sistem
batang, tidak termasuk ke dalam pertumbuhan
dan perkembangan.
Proses perkecambahan morfologis
Secara morfologis sulit ditentukan kapan
perkecambahan berakhir dan mulai pertumbuhan.
Secara morfologis proses perkecam-bahan
merupakan proses tahapan segera setelah proses
pengangkutan makanan dan respirasi, meliputi :
pembelahan dan pemanjangan sel. Dan lebih dikaitkan
dengan pertumbuhan EA yg dapat dilihat dari
keluarnya radicle dan plumulae dari kulit biji.
Dormansi Biji
Benih dorman adalah benih yg hidup, tetapi tidak
berkecambah walaupun diletakkan pada lingkungan yg sesuai
untuk perkecambahan.
Lamanya benih\biji mengalami dormansi dapat beberapa hari,
semusim, beberapa tahun, tergantung jenis tanamannya.
Peranan Dormansi :
Keuntungan dormansi, yaitu benih dapat terhindar dari
kemusnahan karena ganasnya alam.
Hal ini dapat terjadi karena :
Dormansi dapat membatasi kapan biji dapat berkecambah.
Misalnya tanaman gurun hanya akan berkecambah pada
permulaan musim hujan, biji apel harus melalui musim
dingin untuk dapat berkecambah.
Penentuan tempat dimana biji itu harus berkecambah.
Misalnya jenis teki-tekian akan berkecambah bila
mendapatkan genangan air.
Faktor lingkungan yg mengatur dormansi:
Suhu
Cahaya
Air

Tipe-tipe dormansi :
1. Dormansi fisik, disebabkan oleh :
Impermeabilitas kulit biji terhadap air, karena kulit biji
yg keras
Resistensi mekanis kulit biji terhadap pertumbuhan
embrio
Permeabilitas kulit biji rendah terhadap gas
2. Dormansi fisiologi, terjadi karena :
Embrio tidak/belum masak
After ripening (After ripening adalah perubah-an kondisi
fisiologis benih selama penyimpanan yg meng-ubah benih
menjadi mampu berkecambah).
Apabila embrio sempurna, lingkungan mendukung, namun
benih tidak bisa berkecambah, maka mungkin karena benih
itu memerlukan jangka waktu simpan tertentu.
3. Dormansi sekunder :
Benih yg dalam keadaan normal (mampu berkecambah),
tetapi karena dikenakan suatu keadaan
lingkungan yg tidak menguntung-kan, maka
kemampuan untuk berkecambah menjadi hilang.
4. Dormansi yg disebabkan oleh hambatan metabolis
pada embrio.
Cara mematahkan dormansi :
Ada berbagai cara untuk mematahkan dormansi biji,
antara lain :
Perlakuan mekanis (untuk biji yg keras)
Skarifikasi: mengikir, menggosok dsb.
Tekanan, supaya biji menjadi pecah
Perlakuan kimia
Biji direndam dalam larutan asam kuat (asam sulfat, as.
nitrat dsb) dengan konsentrasi pekat, agar kulit biji
menjadi lunak.
Perendaman dalam air panas
Perendaman di dalam air panas akan
memudahkan penyerapan air.
Perlakuan suhu
Banyak benih perlu diperlakukan dengan
temperatur/suhu tertentu agar dapat berkecambah.
Perlakuan suhu meliputi :
Stratifikasi : perlakuan dengan suhu rendah dan lembab.
Vernalisasi : perlakuan dengan suhu rendah.
Stratifikasi dan vernalisasi bertujuan untuk menghilangkan zat
penghambat perkecambahan, yaitu ABA
Perlakuan dengan suhu rendah dan tinggi :
Beberapa benih dapat dipatahkan dormansinya dengan suhu
rendah dan tinggi secara bergantian. Namun perlu diperhatikan
bahwa perbedaan pergan- tian suhu tidak boleh lebih dari 20o C.
Perlakuan cahaya
Cahaya mempengaruhi persentase perkecambahan dan laju
perkecam-bahan. Pengaruh cahaya ditentukan oleh intensitas
dan lama pencahayaan (panjang hari)