Anda di halaman 1dari 177

Perencanaan Pengembangan

Sistem Pembangkit
Menggunakan WASP IV

Agustus 2017

Budi Chaerudin
Arief Sugiyanto
Daftar Isi

1 Overview Perencanaan Sistem Ketenagalistrikan

2 Perencanaan Pengembangan Sistem Pembangkit

3 Karakteristik Beban

4 Karakteristik Pembangkit

5 Konsep Keandalan Pembangkit

6 Konsep Biaya Pembangkitan

7 Analisis Biaya Produksi

8 Optimisasi

9 Penyusunan Neraca Daya

www.pln.co.id | 2
Overview
Perencanaan
01 Sistem
| Ketenagalistrikan
Perencanaan Perluasan Sistem Pembangkit

MW
MW

Optimized Units

Committed Units

Existing Units

Year
Year
Perencanaan Perluasan Sistem Pembangkit

MW
MW

Optimized Units

Committed Units
Existing Units
Existing Units

Year
Year
Perencanaan Perluasan Sistem Pembangkit

MW
MW

Optimized Units

Committed
Committed Units
Units
Existing Units
Existing Units

Year
Year
Perencanaan Perluasan Sistem Pembangkit

MW

Optimized Units

Committed Units

Existing Units

Year
Fungsi Perencanaan Sistem

Fungsi perencanaan sistem menentukan prioritas atas fasilitas-fasilitas baru yang harus
ditambahkan kedalam sistem ketenagalistrikan, dimana studi, atau persiapan, atau
pembangunan nya harus mulai dilakukan saat ini.
Tujuan perencanaan sistem adalah tercapainya tujuan Perusahaan, yaitu: terjaminnya
ketersediaan listrik yang mencukupi dimasa yang akan datang dengan biaya terendah dan
sesuai dengan keterbatasan sumber daya yang dimiliki.
Merencanakan jauh kedepan dengan tujuan agar mengetahui apa yang harus dikerjakan
hari ini.
"Plan is nothing but planning is everything.
Rencana dengan total biaya terendah dianggap sebagai rencana yang optimum (Least-cost
principle), karena diasumsikan benefit dari semua alternative perluasan adalah sama.

www.pln.co.id | 8
Mengapa Diperlukan Perencanaan dalam Penyediaan
Tenaga Listrik?
Karena ada lebih dari satu cara untuk memenuhi demand masa datang:
Ada banyak pilihan sumber energi primer: batubara, gas alam, minyak, panasbumi, EBT
lain.
Ada banyak pilihan teknologi: PLTD, PLTA, PLTG, PLTGU, PLTU dll., masing-masing
mempunyai karakteristik operasi dan biaya kapital & operasi yang berbeda.
Ada banyak pilihan unit size : ratusan kW, MW, puluhan MW, ratusan MW, bahkan 1.000
MW.
Kapan sebaiknya dilakukan penambahan kapasitas? Pertimbangkan lead time
pembangunan proyek.
Atau impor dari wilayah tetangga saja dan membuat interkoneksi?
Karena keandalan dan mutu mempunyai harga
Karena dana investasi terbatas
Karena diinginkan agar harga listrik yang dibayar konsumen serendah mungkin (namun tetap
sustainable). www.pln.co.id | 9
Karakteristik Investasi Infrastruktur Ketenagalistrikan

Terdapat berbagai jenis pembangkit, dengan banyak pilihan unit size serta berbagai jenis
energi primer.
Persiapan dan pembangunan proyek pembangkit sangat lama.
Perlu waktu cukup untuk melakukan Pre FS, Full Feasibility Study, Engineering Design,
AMDAL, perizinan, pendanaan, procurement, konstruksi, testing/ commissioning.
Sangat capital intensive
Sebagai contoh, proyek PLTU batubara 2x1000 MW memerlukan kapital sekitar Rp 30
triliun.
Economic life sangat lama
PLTU batubara diperhitungkan memberi manfaat selama 25 tahun hingga 30 tahun
(bahkan kemudian dapat dilakukan life-time extension).
Time value of money menjadi penting: discounted cash flow analysis menjadi metode
standar.
www.pln.co.id | 10
Ilustrasi Lamanya Pengembangan PLTU Indramayu 2x1000
MW Year
Month
Year (2010) 1st Year (2011) 2nd Year (2012) 3rd Year (2013)
6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
4th Year (2014) 5th Year (2015)

1 Feasibility Study Up to End of September 2010


2 EIA Study Up to End of October 2010
3 Larap Study Up to End of October 2010
4 JICA Appraisal From Nov.20.2010 for 3 weeks
5 Loan Agreement End of March 2011
6 Consultant Selection Selection of Consultant for 7 months
Basic Design &
7 Preparation of Tender Basic Design & Tender Document Preparation for 8 months
Document
8 Prequalification Pre-qualification of EPC Contractor for 5 months
9 Selection of EPC Contractor Selection of EPC Contractor for 8 months
Site Reclamation for 12 months
Construction and Piling Start Boiler Steel Structure
Commissioning Site Preparation for 4 months Construction
10
1st 1,000MW Power Plant

Year 6th Year (2016) 7th Year (2017) 8th Year (2018)
Commencement of Works Power House Steel Structure Header Lifting
Month Period
11 Defect Liability
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

1 Feasibility Study
2 EIA Study
3 Larap Study
4 JICA Appraisal
5 Loan Agreement
6 Consultant Selection
Basic Design &
7 Preparation of Tender
Document
8 Prequalification
9 Selection of EPC Contractor

Construction and Initial Synchronization


Commissioning
10

Power Receiving Initial Firing Completion of 1st 1,000MW Power Plant Construction www.pln.co.id | 11
11 Defect Liability Period DLP for 12 months
Optimal Planning?
The process of power system planning is quite compliex. Mathematically speaking, the
processes of generation and transmission planning are multi-dimensional, not linear and
stochastic.
Illustration 1: The types of power plants that have to be considered in generation planning
for the next 10 20 years is very large, so that the decision making in selecting power plants
becomes difficult.
Illustration 2: Present value of investment + operation costs of power plants is not a linear
function of decision variables.
Illustration 3: input data for generation planning (demand forecast, energy price, EPC cost,
etc) have some uncertainties in them, therefore generation planning is naturally stochastic.
Optimal solution in power system planning may not be optimal as we know the word
optimal usually mean.

www.pln.co.id | 12
Overview Perencanaan Sistem di PLN
Basic questions that have to be answered:
Primary Energy Data
1. New generation capacity:
Hydro Geother Gas Coal
When?
Projection of What capacity?
economic growth
Candidates of RE Candidates of What role in power system? (baseload,
projects Thermal projects
medium, peaking)
Existing generation and Demand What kind of fuel? (type of coal, tyoe of
transmission systems forcast
Optimization of gas, RES)
generation and Economic
transmission capacity Reserve criteria penalty
What technology? (Subcritical, SC,
expansion plan USC, CC, GT, GT)
Where?
Investment plan,
Policy, Financial financial projection &
2. New transmission
constraints funding requirement When?
Role in power system (power
evacuation, supplying demand center,
Economic study (tariff) interconnection, reliability
enhancement)
What capacity? What voltage level?
Investment plan
HVAC? HVDC?
Where?

www.pln.co.id | 13
Horizon Perencanaan Ketenagalistrikan

Perencanaan Jangka Pendek (1 - 5 tahun)


Perencanaan proyek distribusi (1 tahun, kecuali Master Plan distribusi)
Proyek pembangkitan dan transmisi sudah committed dan on-going
Review rencana pembangkitan, transmisi dan gardu induk dan program mendesak
crash program dan sekuriti sistem.
Perencanaan Jangka Menengah (5 - 10 tahun)
Perencanaan proyek-proyek pembangkitan, transmisi dan gardu induk
Perencanaan Jangka Panjang (>10 tahun)
Master Plan, menjadi pedoman untuk perencanaan jangka menengah dan pendek, lebih
bersifat visi dan mungkin dengan skenario.

www.pln.co.id | 14
Lingkup Perencanaan Pengembangan Ketenagalistrikan
National economic development Electricity system planning should be
MAED/
planning and policy made under guidelines of national
National energy policy (30-50 MARKAL
economic development planning and
years)
MARKAL/ national energy policy.
MESSAGE/
National energy
Simple-e Power system planning prepared by
planning (20 years) the national power company should be
within the frame of national planning,
PLN Power Development Plan/RUPTL (10 years) such as National Electricity Master Plan
Simple-e (RUKN).
Electricity demand forecasting
It has to follow some policy directives of
the Government, especially national
WASP-IV &
energy resources planning on various
PROSYM/
primary energy resources, such as
jROS
Generation planning coal, oil, natural gas, hydro power,
geothermal, nuclear and other
renewables.
PSSE/
DIgSILENT
Transmission planning
www.pln.co.id | 15
Penyusunan RUPTL Dikaitkan dengan Kemampuan
Korporasi
Kebijakan umum pengembangan RUKN
Prakiraan pertumbuhan ekonomi dan (20 Tahun)
demand listrik
Indikasi kebutuhan kapasitas
pembangkit, T&D, tanpa rincian
proyek
Potensi energi primer PLN membuat proyeksi keuangan
Kebutuhan investasi
Target rasio elektrifikasi
dengan memasukkan capex proyek-
Prakiraan pertumbuhan demand proyek PLN yang ada dalam RUPTL
RUPTL
listrik
(10 Tahun) Keterbatasan kemampuan korporasi
Rencana pengembangan
pembangkit, T&D, dengan rincian dalam pendanaan investasi menjadi
proyek feedback untuk mereview RUPTL
Proyeksi fuel mix dan kebutuhan RUPTL direview: demand forecast lebih
Feedback
energi primer
Kebutuhan investasi
rendah, jadwal proyek pembangkit dan
Banyak hal antara lain: T&D ditunda untuk menurunkan
Proyeksi keuangan termasuk kebutuhan capex
RJPP
kemampuan pendanaan internal Namun PLN tidak dapat menunda
dan kemampuan meminjam.
(5 Tahun)
proyek-proyek yang telah committed
(umumnya s/d 5 tahun ke depan)
Banyak hal antara lain:
Investasidan kebutuhan/alokasi
tunai untuk proyek pengembangan
sistem kelistrikan dan
rehabilitasi/retrofit/life RKAP
extension/spare.
(1 Tahun)
www.pln.co.id | 16
Siklus Perencanaan di PLN (Penyusunan RUPTL)
Dec Jan Feb March April June July Aug

Lauched to public Demand


forecasting
Endorsment Reality check of Substation
by Minister of execution of projects capacity balance
Energy

Sept Oct Oct - Nov Nov Dec

Generation
planning Writing up
Transmission Final discussion
planning with MEMR

The planning cycle above is only indicative, in reality the timing may vary.

www.pln.co.id | 17
Fase dan Fungsi dalam Aplikasi Project Management
Office (PMO)

www.pln.co.id | 18
Pembagian Tanggung Jawab Penyusunan RUPTL
Sumber-sumber Konsolidasi dan cek konsistensi rencana
RUKN RUPTL
terpercaya lain pengembangan sistem.

Rencana pengembangan pembangkit (neraca daya,


Asumsi dasar dan kebijakan, Workshop neraca energi dan kebutuhan bahan bakar).
proyeksi kebutuhan tenaga listrik Perencanaan Rencana pengembangan transmisi dan distribusi.
(Distribusi, Wilayah, P2B/P3B & Pusat
Workshop
Demand Demand forecast per Wilayah dan per Provinsi
Forecast (Distribusi, Wilayah & Pusat)

Wilayah/
Kegiatan Pokok Pemerintah Pusat P2B/P3BS
Distribusi
Kebijakan umum dan asumsi
Prakiraan Beban
Perencanaan Pembangkitan
Perencanaan Transmisi
Perencanaan Distribusi
Perencanaan GI
Perencanaan Pembangkitan Isolated
www.pln.co.id | 19
Konsolidasi
Proses Perencanaan Sistem untuk Penyusunan RUPTL di
PLN
Prakiraan Beban

Perencanaan Perencanaan
Pembangkit Gardu Induk

Perencanaan Perencanaan
Transmisi Distribusi

Kebutuhan Investasi

Bauran Energi dan


Kebutuhan Bahan
Bakar

www.pln.co.id | 20
Proses Perencanaan Sistem untuk Penyusunan RUPTL di
PLN
- Pembangkit eksisting - Pertumbuhan ekonomi (RPJMN Bappenas,
- Kandidat pembangkit baru, EPC cost RUKN)
- Kebutuhan listrik
- Kriteria reserve margin - Pertumbuhan penduduk (BPS-Bappenas, RUKN)
- Produksi energi
- Penalti ekonomi - Target RE (RUKN)
Wil/Dist - Jumlah pelanggan
- Kurva beban - Power contracted
- Ketersediaan dan harga energi primer Prakiraan Beban - Beban Puncak

- Kapan COD
- Berapa kapasitasnya - Gardu induk eksisting
- Jenis teknologi Pusat/Wil Wil/Dist/P2B/P3B - Kriteria pembebanan
- Peran dalam sistem maksimum 60-80%
Perencanaan Perencanaan
- Jenis bahan bakar Pembangkit Gardu Induk
- Dimana lokasinya - Kapan COD
- PLN atau IPP - Level tegangan (500 kV,
275 kV, 150 kV, 70 kV)
- Transmisi eksisting Wil/P2B/P3B Wil/Dist - Berapa kapasitasnya
- Kriteria keandalan N-1, Perencanaan - Dimana lokasinya
Perencanaan
tegangan, frekuensi Transmisi Distribusi
- Load flow, short circuit and
stability study

Wil/Dist/P2B/P3B/Pusat Legenda:
- Kapan COD
- Level tegangan (500 kV, Garis Hitam : proses
Kebutuhan Investasi
275 kV, 150 kV, 70 kV) Garis Biru : input
- HVAC/HVDC
- Berapa kapasitasnya Pusat Garis Merah : output
- Jenis konduktor Bauran Energi dan
- Peran dalam sistem Kebutuhan Bahan
(evakuasi daya, Bakar
interkoneksi, keandalan) www.pln.co.id | 21
- Dimana lokasinya
Analisis Ekonomi dalam Perencanaan Sistem [1/2]
Analisis Ekonomi berdasarkan sudut pandang masyarakat/negara. Tujuan analisis adalah
untuk mencari rencana yang terbaik (optimum) dalam pemanfaatan sumber daya (resources)
nasional.
Analisis Finansial berdasarkan sudut pandang perusahaan/investor. Tujuannya analisis
adalah untuk mencari rencana yang penghasilan dapat membayar kembali investasi.
Opportunity cost adalah manfaat/keuntungan/nilai yang dikorbankan untuk memperoleh
sesuatu.
Ekonomi teknik adalah ilmu untuk memilih desain mesin/bangunan/sistem yang paling
ekonomis (paling murah/menguntungkan) dari beberapa alternative lain yang setara atau
memiliki fungsi dan peranan yang sama.
Konsep utama dalam ekonomi teknik adalah time value of money (TVM), yaitu konsep yang
menyatakan bahwa nilai uang adalah fungsi dari waktu.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan nilai uang adalah,
Inflasi/deflasi (menurunnya/naiknya daya beli uang).
Kesempatan (Opportunity) untuk memanfaatkan uang (rate of return).
www.pln.co.id | 22
Analisis Ekonomi dalam Perencanaan Sistem [2/2]
Maka dalam analisis ekonomi teknik, uang-uang yang dikeluarkan atau diterima pada tahun
yang berbeda-beda, tidak dapat dijumlahkan begitu saja. Uang-uang tersebut harus
disetarakan nilainya pada tahun tertentu sebelum dijumlahkan.
Penyetaraan ini dilakukan dengan:
Menghilangkan pengaruh inflasi/deflasi, dengan menggunakan Uang Konstan pada tahun
tertentu (misalnya, Rupiah tahun 2015)
Memperhitungkan nilai opportunity dari uang dengan cara mem-present value-kan biaya-
biaya dimasa depan sebelum dijumlahkan.
Nilai-nilai (Total PV, NPV, RoR dsb) dalam analisis ekonomi teknik, adalah nilai fiktif yang
tidak mempunyai arti fisik atau ekonomi apapun. Nilai-nilai ini hanya digunakan sebagai index
dalam memperbandingkan beberapa alternatif dan memilih yang terbaik.
Pemahaman atas TVM Formulas penting dalam perencanaan dan dapat dipelajari dari
textbooks mengenai ekonomi atau finansial.

www.pln.co.id | 23
Proyek Manakah yang Lebih Menguntungkan?

www.pln.co.id | 24
Proyek Manakah yang Lebih Menguntungkan?

www.pln.co.id | 25
Fundamental Economic Analysis: Time Value of Money
Economic assessment is at the heart of power system planning.
This is also true for any other engineering projects in which we have to select one scheme
out of several feasible investment schemes. Normally we would select the one that is most
economical.
As projects in power industry have very long economic life, we must consider all projects
cash flows along the life of the projects.
The standard method in economic analysis is discounted cash flow. In this method cash
money in the future is discounted to present time.
The time value of money: a sum of money today is more valueable than the same amount
of money in the future, even when inflation is not taken into account.
This is because the present money can generate profit.

www.pln.co.id | 26
Present Value dan Future Value
$4,000 $4,000

$3,500 Interest rate $3,500 Discount rate


$3,000
14% $3,000
14%
$2,500 $2,500

$2,000 $2,000

$1,500 $1,500

$1,000 $1,000

$500 $500

$0 $0
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

The future value of $1000 in 10 years at 14% The present value of $3707 in 10 years at 14%
interest rate : FV(14%;10;1000) = $3,707 discount rate is PV(14%;10;3707) = $1,000
Interest (bunga) adalah uang yang dibayarkan karena penggunaan uang pinjaman
Discount Rate adalah RoR yang diharapkan dari total investasi yang ditanam,
disebut pula sebagai nilai opportunity dari uang yang kita miliki sekarang. www.pln.co.id | 27
PMT: calculate the payment for a loan based on constant
payments.
Example: we borrow $1000 from the bank at 14% interest rate, and we
repay the borrowing in 10 years at same amount. What is the
amount?
$1,200

$1,000

$800

$600

$400

$200

$0
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
-$200

-$400
PMT(14%;10;1000) =
$191,71
www.pln.co.id | 28
Net Present Value
NPV: calculate the present value of a stream of cashflow.
The cash flow can be positive (revenues) or negative (expenses)

$550 $550 $550$550 Discount rate 12%


$450
year 1 ($100)
year 2 ($150)
year 3 ($250)
year 4 ($150)
($50)
($100
($150 ($150 year 5 ($50)
) ($250 ) year 6 $450
)
)
year 7 $550
NPV=? year 8 $550
year 9 $550
year 10 $550
NPV $563,82

NPV=NPV(12%;-$100;-$150;.;$550;$550) = $563,82,-

www.pln.co.id | 29
Analisis Finansial dalam Perencanaan Sistem
Salah satu hasil penting dari analisis finansial adalah proyeksi tarif listrik jangka panjang dan
besarnya beban hutang valas dimasa depan.
Analisis dalam perencanaan menggunakan analisis ekonomi, dari analisis ini diperoleh:
Rencana fisik penambahan fasilitas.
Rencana pemakaian bahan bakar (fisik) dan biaya O&M (fisik, kapasitas dan produksi)
Berdasarkan kedua rencana tersebut, dihitung biaya-biaya yang diperlukan, investasi, bahan
bakar dan O&M, dalam nilai pasar (finansial) sebagai input untuk analisis finansial.
Rencana dengan total biaya terendah dianggap sebagai rencana yang optimum (Least-cost
principle), karena diasumsikan benefit dari semua alternatif perluasan adalah sama.
Untuk memperhitungkan benefit-benefit tambahan, investasi alternatif pembangkit tersebut
dapat dimodifikasi untuk mencerminkan benefit tambahan.

www.pln.co.id | 30
Pendekatan Evaluasi Kelayakan Proyek
1. Project in isolation
- Sederhana dan cepat
- Perbandingan antara proyek yang sejenis
- Statis
- Sebagai seleksi sebelum analisis sistem
- Untuk proyek pada sistem kecil/terisolasi
2. Project in the system
- Analisis memerlukan model dan waktu yang lama
- Penilaian berdasarkan peran proyek dalam sistem
- Dinamis
- Sebagai kelanjutan analisis project in isolation
- Untuk proyek yang berdampak besar pada sistem

www.pln.co.id | 31
Perencanaan
Pengembangan
02 Sistem Pembangkit
|
Evolution of Power System [1/3]

Isolated, inaccessible, remote & small islands


Demand is low (a few hundred kW, a few MW, teens MW)
Early development,
Isolated, Supply options:
Remote, If locally available: micro/mini hydro
inaccessible If demand is sufficient: small scale coal power plant,
coal/biomass gasification as base load
Oil-based diesel plant as peaking or baseload for very small
isolated system
Hybrid with RES such as solar PV, wind, biomass
Power distribution using MV (20 kV) lines within a radius up to 50
kms.
If located on a major island, can be connected to HV grid when
grid extension reach the area

www.pln.co.id | 33
Evolution of Power System [2/3]

Demand is adequately large (50 to 300 MW or 500 MW)


Supply options:
Developed Base load: small scale & medium scale CFPP, natural gas if
areas gas supply available, run-off river hydro if available,
geothermal if available
Peaking: oil, gas (LNG, CNG) gas turbine or gas engine
Other RES if available
HV transmision llines (70 kV, 150 kV) up to 200 kms
Examples: West Kalimantan, Lombok island, Batam island,
Southern Kalimantan, Eastern Kalimantan, Northern Sulawesi

www.pln.co.id | 34
Evolution of Power System [3/3]

Highly interconnected power system


Developed Many hundreds or thousands MW
area
More options for supply:
Baseload: large scale CFPP, large hydro, large geothermal,
large gas plants
Interconnected Medium & load follower: large hydro, gas combined cycle
Peaking: large hydro, pumped storage, gas turbine,
Interconnection between regions using EHV and HV grids
Developed More optimal use of resources
area Ca take benefits of economies of scale
Example: Java, Sumatra, South Sulawesi

www.pln.co.id | 35
Pengertian Sistem Pembangkit

Penyaluran

Distribusi
Unit Pembangkit
Beban

- Sistem adalah sekumpulan sesuatu yang saling mempengaruhi.


- Sistem pembangkit adalah sekumpulan pembangkit yang saling berhubungan sehingga
saling mempengaruhi.
- Beban listrik merupakan bagian dari sistem pembangkit.
- Untuk mempermudah pemahaman permodelan sistem pembangkit, sementara ini
transmisi, gardu induk dan distribusi dianggap di luar sistem

www.pln.co.id | 36
Sifat-sifat Pembangkit dalam Sistem [1/2]
1. Sifat-sifat Probabilistik
Setiap sistem pembangkit memiliki ketidakpastian dalam hal kecukupan kapasitas
pembangkit. Setiap unit pembangkit dalam sistem, mempunyai kemungkinan untuk rusak
setiap saat, sehingga terpaksa keluar sistem, sebagian atau keseluruhan kapasitas. Atau,
ketersediaan pembangkit bersifat probabilistik. Beban pun bersifat probabilistik.
Ini berarti, sistem pembangkit mempunyai masalah keandalan atau reliability. Keandalan
sistem pembangkit, adalah suatu indeks yang memperhitungkan sifat-sifat probabilistik unit-
unit pembangkit dan beban.
Reliability index adalah suatu expected value. Reliability index dijadikan kriteria dalam
perencanaan. Semua alternatif pengembangan, harus memenuhi kriteria keandalan ini,
sebelum dibandingkan dari segi biaya.
Prinsipnya: index keandalan sekarang harus sama atau lebih baik dari yang kemarin atau,
keandalan di masa depan harus sama atau lebih baik dari hari ini.
www.pln.co.id | 37
Sifat-sifat Pembangkit dalam Sistem [2/2]

2. Sifat-sifat Dinamis
Permintaan (demand) tenaga listrik berubah-ubah dari waktu ke waktu. Supply tenaga listrik
harus dapat mengimbangi demand dalam waktu seketika. Maka besarnya daya yang
dibangkitkan pun berubah-ubah dari waktu ke waktu.
3. Sifat-sifat Sistemik
Semua unit-unit pembangkit saling berinteraksi dalam suatu sistem. Pada prinsipnya semua
unit akan 'berkompetisi' dalam memenuhi permintaan energi dan tenaga listrik.
Ketidakandalan dari suatu unit, misalnya, akan menjadi beban bagi unit-unit lainnya dan
akan mempengaruhi pengoperasian unit-unit lainnya.
Hampir semua parameter teknis unit pembangkit akan turut mempengaruhi 'kompetisi' ini.
Misalnya: biaya bahan bakar, lama pemeliharaan, dll. Adanya kompetisi ini adalah untuk
mencapai optimalisasi pengoperasian unit-unit pembangkit.

www.pln.co.id | 38
Produksi Listrik Harus Sama dengan Konsumsi

Produksi listrik harus match dengan konsumsi setiap detik untuk menjaga integrity dari
sistem kelistrikan. Sesuai grid code di Indonesia, frekuensi harus dijaga 50Hz
- Jika MW pembangkit > MW konsumsi,
maka frekuensi akan naik, dan
sebaliknya.
- Jika frekuensi terus menurun,
pembangkit-pembangkit akan collapse.
- Jika frekuensi naik melampaui batas,
pembangkit-pembangkit juga akan
collapse.
- Setiap saat MW pembangkit harus
sama dengan MW konsumsi. Padahal
konsumsi selalu berubah dan tenaga
listrik AC tidak dapat disimpan.
www.pln.co.id | 39
Cost and Risk in Generation Capacity Expansion Planning
Generation capacity expansion planning is a compromise between cost (which should be
lowest) and risk (which should be acceptable).
The objective of generation capacity expansion planning is to produce a plan of new
capacity addition to meet the expected demand growth that yields the lowest total system
cost, but at the same time also maintains a desired level of reliability in any year within the
planning period.
Total system cost is the present worth of all costs related to the production of electricity
within the planning period which comprises all fixed costs and variable costs including fuel
cost.
Reliability of generation system is related to the outages of generating units, both planned
and unplanned/random failures.

www.pln.co.id | 40
Principle of Generation Planning
C1
C2 C3 Year 1: Peak demand is P1 and capacity is C1, so the
R2A
risk is R1
Year 2: demand increases to P2, the risk will increase to
R3A R2A, which exceeds acceptable risk.
Acceptable
risk Therefore capacity addition is needed to C2, and the risk
risk

R1
drop to R2.

R2
Year 3: demand increases to P3 risk increase to R3A
capacity need to increase to C3 the risk reduce to
R3, etc
R3
Options of capacity expansion can be exercised by
advancing/ delaying projects, or change capacity
addition.
P1 P2 P3 P4 Peak load Then present worth of system cost is compared to select
one which yields the lowest cost. www.pln.co.id | 41
Operation Planning vs Capacity Planning
Both system planning and operation planning have to ensure that the total generation
capacity is adequate.
However, there are differences between the two:
Static capacity: it is related to the total generation capacity required by a power system
to meet the future demand in the longer term;
Operation capacity: it is related to the actual capacity in shorter term which is required
to meet the demand in real time
Static capacity can be seen as installed capacity that has to be planned and built ahead of
the demand need (a few years earlier).
Static capacity must include reserve for overhaul, outages (unplanned, planned), and
unexpected increase of demand beyond the estimate of demand forecast.

www.pln.co.id | 42
Perencanaan Pengembangan Sistem Pembangkit (WASP
IV)
EXISTING PLANT : VARIABEL/CANDIDATE PLANT
Thermal : OM Cost, Lifetime, Thermal : Construction Cost, OM
Cost, Life time, Eff., Availability, Unit
ENERGY RESOURCES
Efficiency, Availability, Unit size. Gas, hydro, Geothermal,
Hydro : OM Cost, Lifetime, Energy size, Fuel Type
Hydro : Construction Cost, OM Cost, Peat.
Production, Capacity
Life Time, Energy, Capacity

ECONOMIC
PARAMETERS : LOAD DATA
Discount Rate, DATA Prep Load Forecast and
Fuel Price, Load Duration
Energy not served cost Curve

Configuration
Reliability Generation
Criteria
(LOLP, RM)
Production Costing
Objective function = PV (Capital +
Dynamic
O&M + EnS Salvage Value) Programming

Yes No
Optimum Optimal
Multiyear ?
Expansion Plan
www.pln.co.id | 43
Perencanaan Pengembangan Sistem Pembangkit
Perencanaan ini yang menentukan karakteristik dari perencanaan sistem, karena
Perencanaan dengan kurun waktu yang panjang (minimum 10 tahun). Hal ini dikarenakan
lamanya waktu yang diperlukan untuk persiapan dan pembangunan suatu pembangkit
baru.
Perencanaan menghadapi ketidakpastian yang sangat besar, misalnya dalam prakiraan
beban dan harga bahan bakar di masa depan, sehingga perencanaan ini harus selalui
diperbarui setidaknya satu tahun sekali.
Perencanaan pengembangan sistem pembangkit harus menjawab pertanyaan-pertanyaan,
antara lain:
Berapa kapasitas unit-unit pembangkit yang harus ditambahkan ?
Apa jenis-jenis teknologi dan bahan bakar dari unit-unit tersebut (PLTU, PLTGU, PLTN)?
Kapan-kapan saja unit-unit pembangkit ini harus sudah siap beroperasi ?
Penentuan lokasi pembangkit umumnya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan,
Sumber energi, misalkan PLTA, PLTP, PLTU Mulut Tambang.
Lokasi yang ideal untuk pembangkit tersebut, misalkan PLTU Batubara skala besar, PLTN
Pusat beban atau perimbangan beban dan kapasitas pembangkit, misalkan PLTU
Batubara, PLTGU Gas Alam/LNG, PLTG. www.pln.co.id | 44
Keefektifan Sumber Energi Primer
Lokasi: Lokasi sumber energi yang non-transportable (seperti hydro dan low rank coal) umumnya jauh
dari pusat beban sehingga menjadi tidak ekonomis dalam skala kecil .
Harga: Fluktuasi harga energi primer perlu dicermati. Misalnya, batubara dibeli PLN pada tahun 1980-
an dengan harga 45$/ton, kemudian turun menjadi 32$/ton pada tahun 1993 dan menjadi 23 $/ton
pada tahun 2001, namun meningkat menjadi 60$/ton pada tahun 2016.
Biaya investasi untuk pembangkit: Umumnya bila harga energi primernya murah, maka investasi
untuk pembangkitnya mahal dan sebaliknya.
Karakteristik Unit Pembangkitnya: Seperti efisiensi, ramping rate, forced outage rate, maintenance
time etc. Umumnya, untuk energi primer murah, maka pembangkitnya kurang flexible untuk
dioperasikan, cocok hanya sebagai pemikul beban dasar.
Karakteristik sistem ketenagalistrikan:
Kurva Beban, mengindikasikan karakteristik penting yang menunjukkan pola penggunaan tenaga
listrik di suatu sistem.
Existing power plants.

www.pln.co.id | 45
03 Karakteristik Beban
|
Pentingnya Demand Forecast dalam Perencanaan Sistem

Demand forecasting is the start and the base of all generation and transmission planning
processes.
Over-forecasting would cause over investment in generation and transmission:
power plants running on low CF, power plants not running on most efficient operation
point,
excessive debts.
Under-forecasting would cause shortage of capacity and energy:
rotating blackouts,
unreliable & low quality electricity supply, etc,
this would hurt the economy of the country.

www.pln.co.id | 47
Metode Perhitungan Demand Forecast

There are many demand forecasting models, but in general can be classified into 4
categories:
Subjective: done by intuition, or gut feeling
Univariate: solely based on historical data (time series). This is known as naive
projection.
Example: extrapolation trending.
Multivariate: considers casual relationship or explanatory relationship, therefore we
must know if one variable has correlation with another variable.
Example: sales of electricity may depend on income. Regression model (and
econometric) falls in this category, and often called prediction or casual model.
End-use: developed by directly calculating electricity consumption of end-use
appliances like aircon, lighting, fridge, etc.

www.pln.co.id | 48
Klasifikasi Metode Perhitungan Demand Forecast
Forecasting Methods

Subjective
Objective
(judgmental)

Time Series method Causal method


Yt= f (Yt-1, Yt-2, , Yt-k) Yt= f (X1t, X2t, , Xkt)

Example: Example:
sales(t) = f( sales(t-1), sales(t-2), ) sales(t) = f ( price(t), advert(t), ..)

Combination of time series and causal method


Example:
sales(t) = f (sales(t-1), advert(t), advert(t-1), )

www.pln.co.id | 49
Pengembangan Model untuk Demand Forecast

50 www.pln.co.id | 50
Contoh Analisis Regresi Sederhana

www.pln.co.id | 51
Model Demand Forecast di PLN
Ketersediaan data dan proyeksi data tersebut, akan sangat mempengaruhi variabel (driver)
apa saja yang digunakan dalam demand forecast.
PLN menggunakan econometrik model (Simple-e).
In short, PLN assess the correlation between historical demand and drivers (GDP,
population). Then, the model would use the correlation to forecast the future demand by
using the forecast data of GDP and population.
Model menggunakan driver external (PDRB, populasi, target rasio elektrifikasi) dan internal
(penjualan PLN, jumlah pelanggan, MVA). Data eksternal biasanya diperoleh dari RPJMN
(Bappenas), RUKN (KESDM), Kementerian Keuangan, BI, BPS dll.
Proyeksi demand juga mempertimbangkan pelanggan-pelanggan besar yang akan masuk
serta program-program pemerintah (contoh KI dan KEK).
Demand Forecasting dibuat untuk 4 kelompok tarif : Rumah tangga, Publik, Bisnis dan
Industri .

www.pln.co.id | 52
Input untuk Demand Forecast
Driver for Energy
Consumption

External Factors

GDP Population
Internal Factors
Commercial :
1. Construction
Number of Customer 2. Trade, Restaurant & Hotel Electrification
3. Transportation & Ratio
Communication
4. Finance, Rent of Build &
Power Contracted Business Service

Industry :
Availability of Power 1. Mining & Quarrying Inflation
2. Manufacturing Industries
3. Electric, Gas & Water Supply
Losses & Station Use
Household :
Total without Oil & Gas & its
Tariff product

Public :
Services
www.pln.co.id | 53
Karakteristik Beban
Karakteristik beban yang digunakan dalam perencanaan sistem pembangkit (WASP IV):
Kurva lama beban per-periode.
Beban puncak per-periode.
Rasio beban puncak periode terhadap beban puncak tahunan.
Beban puncak tahunan.

www.pln.co.id | 54
Typical Daily Load Curve (Working Day)
14,000

12,000

10,000
Load (MW)

8,000

6,000

4,000

2,000

-
1 4 7 10 13 16 19 22
Time (hours)

www.pln.co.id | 55
Chronological Hourly Loads
16,000

14,000

12,000
Load (MW)

10,000

8,000

6,000
1 25 49 73 97 12 14 16 19 21 24 26 28 31
1 5 9 3 7 1 5 9 3

Tim e (hours)

www.pln.co.id | 56
Load Duration Curve (LDC)

LDC adalah kurva distribusi


frekuensi kumulatif dari beban
sistem.
LDC adalah kurva yang
menggambarkan lamanya beban
berada diatas atau pada suatu
level tertentu.

Probabilitas beban di atas 12.000


MW adalah sebesar = 104/336 =
0,31

www.pln.co.id | 57
Load Duration Curve (LDC)
LDC juga dapat memperlihatkan berapa energi yang harus disediakan pada tingkat
beban tertentu, atau antara level beban tertentu.
Dengan menerapkan metode simulasi probabilistik dapat ditentukan besarnya produksi
masing-masing pembangkit dalam sistem berdasarkan LDC.
Juga menghitung tingkat keandalan dari sistem, yaitu probabilitas beban tidak terpenuhi
(LOLP dan ENS).
Apabila kemiringan kurva LDC landai, maka sistem akan didominasi pembangkit beban
dasar, apabila curam maka sistem membutuhkan pembangkit beban medium dan
puncak yang cukup banyak.

www.pln.co.id | 58
Contoh Kurva Beban Harian
MW
24.000
26000 22.356
23.900 21.443
24000 21.000

22000
1.9652 19.284 18.000
20000
18.474
18000 15.000
16.720
MW

16000
14.227 12.000
14000
12000 9.000

10000 6.000
8000
3.000
6000 13:30
14:30
15:30
16:30
17:30

19:30
20:30
10:30
11:30
12:30

18:30

21:30
22:30
23:30
2:30
3:30
4:30
5:30
6:30
7:30
8:30
9:30
0:30
1:30

12:30

16:30

20:30
0:30

4:30

8:30

10:30

14:30

18:30

22:30
2:30

6:30
1/2 Jam
Hari Kerja 21 Okt 2014 Tahun Baru 2014 HUT RI 17 Ags 2014
PLTA Waduk HSD MFO Batubara CNG
Idul Fitri 28 Juli 2014 Idul Adha 5 Okt 2014 Natal 2014 LNG Gasbumi Gas TOP PLTP PLTA Dasar

www.pln.co.id | 59
Contoh Kurva Beban Harian
PLTD BBM
PLTG/MG/GU CNG/LNG
PLTA Waduk

PLTGU Gas
PLTGU LNG (untuk must
run units)

Tipe Tipikal CF tahunan PLTU Batubara


Pengoperasian [%] PLTP
Beban Dasar 60 80 PLTA ROR
Beban Menengah 40 50 PLTGU Gas (Take or Pay)
Beban Puncak 20 30 PLTN

www.pln.co.id | 60
Karakteristik
04 Pembangkit
|
Alokasi Proyek PLN dan IPP Sesuai Fungsi Pembangkit
Tipe Pembangkit Kegunaan IPP PLN
Peaking Mobile Untuk dapat memenuhi beban yang bersifat temporer. Sebaiknya
Harus di kontrol oleh PLN, karena setiap saat siap dipindahkan, kepemilikan PLN,
dengan alasan aeperti, Antisipasi proyek yang delay, Gangguan karena terkait
pembangkit pada sistem lain, ada pemeliharaan pembangkit, ada dengan
even temporer seperti PON/ASEAN GAMES/MTQ, menggantikan perencanaan PLN
pembangkit sewa diesel.

Fixed Fungsi pembangkit memasok beban sistem pada waktu beban Dapat sebagai Sebaiknya
Puncak IPP, jika ada kepemilikan PLN,
Sebagai fungsi pengaturan Sistem (Frekuensi, tegangan, dan Fuel Risk jika tidak ada Fuel
MVAR) Risk

Sebagai fungsi startup dalam kondisi emergency


Sebagai Backup pembangkit pada kondisi tertentu
Follower Berfungsi sebagai medium Load, misalnya PLTGU Gas, PLTA Dapat sebagai Kepemilikan PLN
Bendungan. IPP
Base Berfungsi sebagai beban dasar, umumnya pembangkit berbahan Dapat sebagai Kepemilikan PLN
Bakar Batu bara, Panas Bumi, PLTA Run of River, PLTGU IPP
berbahan bakar Gas

www.pln.co.id | 62
Karakteristik Pembangkit Beban Dasar (Base Load)
Beban dasar merupakan beban minimum yang selalu ada selama 24 jam.
Beban dasar dilayani oleh pembangkit beban dasar (baseload unit).
Baseload unit berukuran sangat besar untuk mengambil manfaat dari economy of scale,
sangat efisien dengan biaya rendah.
Pembangkit baseload sangat lamban dalam merespon perubahan beban.
Waktu start pembangkit baseload seringkali lama, dan kurang efisien jika dioperasikan tidak
pada kapasitas penuh.
Pembangkit baseload beroperasi terus sepanjang tahun, kecuali saat menjalani pemeliharaan
terencana (planned maintenance) atau perbaikan kerusakan atau gangguan.
Pembangkit yang cocok sebagi baseload adalah PLTU batubara (atau nuklir) karena variable
cost-nya rendah dan output-nya stabil. Selain itu panas bumi juga sangat cocok sebagai
baseload.
PLTGU gas dioperasikan pada beban dasar hanya apabila ada penalti take or pay, namun
idealnya sebagai pemikul beban menengah. www.pln.co.id | 63
Karakteristik Pembangkit Beban Menengah (Load

Follower)
Pembangkit ini mengisi kebutuhan antara base load dan peak load.
Disebut juga load follower, karena output-nya harus berubah naik-turun mengikuti
perubahan beban (cyclic operations).
Dari aspek biaya dan fleksibilitas, ukuran mesinnya lebih besar daripada peaker, harganya
juga lebih tinggi, tetapi beroperasi dengan sangat efisien, sehingga biaya totalnya lebih
rendah dari peaker.
Load follower beroperasi selama 30-60% dari waktu total mengikuti variasi beban harian,
mingguan.
Pembangkit jenis ini biasanya dilayani dengan PLTGU berbahan bakar gas yang mempunyai
kecepatan memadai untuk mengikuti kurva beban.

www.pln.co.id | 64
Karakteristik Pembangkit Beban Puncak (Peaker)
Demand tertinggi (peak demand, peak load) dipenuhi oleh pembangkit peaking, atau peaker.
Pembangkit peaking biasanya paling mahal jika dioperasikan, tetapi dapat start dan stop
dengan cepat.
Peaking unit sangat responsif dalam menghadapi perubahan demand yang sangat cepat,
juga dapat berfungsi sebagai spinning reserve, dan dapat dibebani secara cepat dari nol
hingga penuh dalam hitungan menit (ramping rate sangat tinggi).
Peaking units hanya beroperasi beberapa ratus jam dalam setahun.
Karena jam operasi harian hanya sebentar, peaking unit sebaiknya mempunyai fixed cost
rendah, walaupun variable cost-nya tinggi
Jenis pembangkit yang cocok untuk peaking adalah pembangkit yang bahan bakarnya dapat
disimpan, misalnya PLTG/MG/GU (namun harus tersedia storage/CNG untuk menyimpan
gas), PLTA dengan kolam/waduk.

www.pln.co.id | 65
Pemilihan Jenis Pembangkit
Pemilihan jenis pembangkit mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
Sesuai dengan pilihan sumber energi.
Contoh tipe pembangkit: PLTA/PLTM, PLTU Batubara/Gambut, PLTGU Gas Alam/BBM, PLTG
Gas Alam/BBM, PLTD Gas Alam/BBM, PLTP, PLTN
Teknis Ketenagalistrikan:
Karakteristik tipe pembangkit harus sesuai dengan karakteristik beban (dasar, menengah,
puncak).
Unit size harus sesuai kebutuhan sistem namun tetap ekonomis.
Proven technology
Non-teknis Ketenagalistrikan:
Ketersediaan dana investasi.
Ketersediaan/keandalan sumber bahan bakar atau sumber energi, harus menjadi
pertimbangan utama dalam perencanaan pengembangan pembangkit.
Menentukan sumber energi, sebenarnya sudah sama dengan menentukan jenis
pembangkitmya dan jenis pembebanannya.
www.pln.co.id | 66
Kriteria Pengkategorian Kandidat Jenis Pembangkit
Sumber Jenis Pertimbangan
Energi Pembangkit Teknis Non-teknis
- Biaya investasi tinggi
- Unit size besar
Batu bara PLTU Beban Dasar - Biaya bahan bakar rendah
- Kurang fleksibel
- Emisi cukup tinggi
PLTG Beban Puncak - Unit size kecil - Biaya investasi rendah
BBM
PLTD Beban Puncak - Fleksibel - Biaya bahan bakar tinggi
- Unit size besar
Beban
PLTGU - Efisiensi tinggi - Ketersediaan gas alam
Menengah/Puncak
- Fleksibel - Take or pay gas membuat operasi
Gas alam kurang fleksibel
PLTG Beban Puncak
- Unit size kecil - Biaya investasi medium
- Fleksibel - Biaya bahan bakar cukup tinggi
PLTD Beban Puncak

Beban Dasar/ - Unit size besar - Ketersediaan/keandalan sumber energi


PLTA
Menengah/Puncak - Fleksibel - Biaya investasi tinggi
Tenaga air
- Unit size kecil
PLTM Beban Dasar - Biaya investasi tinggi
- Kurang fleksibel
- Unit size kecil
Panas bumi PLTP Beban Dasar - Biaya investasi tinggi
- Kurang fleksibel
- Unit size kecil - Biaya investasi tinggi
Surya PLTS Beban Dasar
- Kurang fleksibel - Ketersediaan/keandalan sumber energi
- Unit size kecil - Biaya investasi tinggi
Angin PLTB Beban Dasar
- Kurang fleksibel - Ketersediaan/keandalan sumber energi
- Biaya investasi tinggi
- Unit size kecil
Nuklir PLTN Beban Dasar - Biaya bahan bakar rendah
- Kurang fleksibel
- Penolakan masyarakat

www.pln.co.id | 67
Relative benefit/impacts fuels choice for power plant

Source: BPPT Indonesia Energy Outlook, 2015 www.pln.co.id | 68


PLNs Perspective on Energy Technologies

Green: R&D, New Development


Blue: Proven in some countries
Red: Proven and commercial
Yellow: Pilot
Grey: Deploy

Source: Roadmap Teknologi PLN www.pln.co.id | 69


Pemilihan Unit Size

Semakin besar unit size suatu pembangkit, maka biaya investasinya (dalam $/kW) akan
semakin murah.
Tetapi semakin besar unit size menuntut cadangan yang semakin besar pula, maka biaya
yang dibutuhkan akan semakin besar.
Unit size juga akan mempengaruhi fleksibilitas pengoperasian.
Idealnya, unit size tidak lebih besar dari 10% beban puncak.
Unit size juga tergantung pada pertumbuhan beban. Untuk sistem kecil yang tumbuh pesat,
unit size bisa sekitar 25% hingga 50% beban puncak.

www.pln.co.id | 70
Karakteristik PLTU

Teknologi: Batubara dihaluskan dan bersama udara dimasukkan dalam boiler dimana
batubara ini menyala. Panas pembakaran diserap oleh air dalam pipa yang dipasang di
dinding boiler. Air menjadi uap, dan uap dipakai untuk memutar turbin menghasilkan listrik.
Start sangat lama, tidak dapat start-stop harian,
Dioperasikan terus menerus dengan output MW yang tinggi sepanjang hari,
Output MW dapat dinaik-turunkan, tetapi lambat, ada batas minimum loading, dan efisiensi
menurun jika dibebani rendah.
Fixed cost tinggi.
Variabel cost rendah.
Pemikul beban dasar (base load)

www.pln.co.id | 71
Karakteristik PLTG
Cara kerja PLTG atau Gas Turbine (GT) mirip teknologi mesin jet.
GT bekerja dengan membakar gas alam yang dicampur udara yang ditekan oleh
kompresor, gas panas hasil pembakaran memutar turbin gas dan generator menghasilkan
listrik.
GT (atau PLTG) dapat di-start dengan cepat.
Output MW dapat dinaik-turunkan dengan cukup cepat (sebagai pemikul beban puncak).
Fixed cost rendah.
Variabel cost sangat tinggi (apalagi kalau memakai LNG atau BBM).

www.pln.co.id | 72
Karakteristik PLTGU
PLTGU atau Combined Cycle dibangun dengan satu atau lebih Gas Turbine (GT).
Panas dari gas buang yang masih sangat panas ditangkap untuk membuat uap oleh HRSG
(Heat Recovery Steam Generator), lalu uap memutar turbin uap (ST) dan generator
menghasilkan listrik.
Efisiensi termal sangat tinggi, sehingga variabel cost rendah (kecuali kalau memakai LNG
apalagi BBM).
GT (atau PLTG) dapat distart dengan cepat, tetapi ST lambat.
Output MW dapat dinaik-turunkan dengan cukup cepat (sebagai load follower), ada batas
minimum loading.
Fixed cost tinggi.
Beban dasar atau beban menengah: pembebanan rata sepanjang hari atau bervariasi
mengikuti demand (load following).
Saat ini sudah ada PLTGU yang bisa dioperasikan start-stop harian sebagai peaker.
www.pln.co.id | 73
Karakteristik PLTA [1/2]

Potensi di Indonesia sangat besar, namun sebagian besar lokasinya jauh dari pusat beban.
Tantangan sosial dan lingkungan yang sangat besar.
Meningkatnya ketertarikan swasta akan PLTM karena feed in tariff.
PLTA tipe run off river (ROR) tidak mempunyai waduk untuk menyimpan air, dioperasikan
terus menerus untuk memanfaatkan tenaga air sungai yang mengalir bebas. Pada musin hujan
akan berproduksi maksimal, tetapi pada musim kering bisa tidak berproduksi.
PLTA ROR dengan kolam harian: menampung air di saat off-peak dan memproduksi listrik di
saat peak.
PLTA tipe reservoir mampu menyimpan air dalam volume yang luar biasa banyak yang dapat
dipakai dalam satu siklus musim. Reservoir menampung air di musim hujan, dan airnya dapat
dipakai utk membangkitkan listrik sepanjang musim kering hingga musim hujan berikutnya.

www.pln.co.id | 74
Karakteristik PLTA [2/2]

PLTA dengan reservoir dapat dioperasikan sebagai peaking (menyediakan kapasitas) atau
sebagai pembangkit base load (menyediakan energi).
Start-stop sangat cepat, ramping rate-nya juga sangat cepat.
Fixed cost tipe ROR: sedang, tipe reservoir: tinggi
Variable cost sangat rendah.

www.pln.co.id | 75
Karakteristik PLTP

PLTP telah beroperasi di Indonesia sejak tahun 80-an.


Potensinya sangat besar, namun pengembangannya sangat lambat, karena sebagian besar
berada di wilayah konservasi.
Sumur mengambil air panas dan uap dari dalam bumi dan masuk ke turbin uap untuk
memutar generator menghasilkan listrik.
Unit size PLTP relatif kecil, yaitu maksimal 55 MW dan 110 MW.
Output MW pembangkit panas bumi sangat stabil, konstan sepanjang hari, cocok untuk
menjadi pembangkit base load, tetapi tidak cocok untuk load follower, apalagi peaker.
Fixed cost dan variable cost tinggi.

www.pln.co.id | 76
Karakteristik Pembangkit Lain

PLTD baru hanya dikembangkan untuk sistem isolated lokasinya sulit dijangkau.
PLTS memanfaatkan tenaga matahari umumnya digunakan di remote area untuk
meningkatkan rasio elektrifikasi. Fixed cost tinggi dan variable cost rendah.
PLTB memanfaatkan tenaga angin sangat tergantung pada kondisi angin di suatu lokasi.
Beberapa potensi PLTB antara lain di Sukabumi, Yogyakarta, Sidrap dan Nusa Tenggara.
Fixed cost tinggi dan variable cost rendah.
PLTN membutuhkan investasi yang sangat tinggi karena standar dan regulasi keselamatan
nuklir yang lebih ketat setelah kecelakaan Fukushima. Fixed cost sangat tinggi dan variable
cost rendah.
Pembangkit renewable lainnya masih sangat kecil dan mahal untuk dikembangkan, sehingga
masih dalam tahap penelitian.

www.pln.co.id | 77
Karakteristik Pembangkit Thermal
Kapasitas (MW).
Tahun mulai beroperasi (existing & committed units).
Umur ekonomis (tahun).
Pembebanan minimum (%).
Heat rates (kCal/kWh).
Harga bahan bakar (USD/10^6kCal).
Fixed O&M Cost (USD/kW-year)
Variable O&M Cost (USD/kWh)
Forced outage rate (%).
Lama perawatan (days/year).

www.pln.co.id | 78
Pembebanan Minimum [%]
Setiap unit pembangkit thermal dibagi atas 2 Block, yaitu:
Base Block, yang menggambarkan pembebanan minimum yg secara ekonomis dan teknis
dimungkinkan.
Top Block, adalah sisa kapasitas yang masih bisa dibebankan.
Misalkan suatu sistem terdiri atas 5 unit pembangkit dengan kapasitas 200 MW. Pada saat
beban minimum sebesar 400 MW, maka:
Secara ekonomi pembebanan yg optimum adalah 2 unit masing2 pada kapasitas
maksimumnya sebesar 200 MW.
Tetapi apa yang akan terjadi kalau salah satu unit trip?
Jadi akan lebih aman bila pada saat itu, misalnya, dioperasikan 4 unit masing2 pada 50%
dari kapasitasnya.

www.pln.co.id | 79
Heat Rates [kCal/kWh]
Heat rates (HR) adalah jumlah energi kalor yg diperlukan untuk memdapatkan 1 kWh.

HR = 860/efisiensi termal

Input data:
HR pada base block
Incremental HR (IncHR)

IncHR= (HRtop x MWtop HRbase x MWbase)/(MWtop - MWbase)

www.pln.co.id | 80
Forced Outage Rate [%] dan Lama Pemeliharaan
[days/year]
Forced Outage Rate [%]
FOR adalah probabilitas mesin akan keluar paksa dari sistem (full atau partial) pada saat ia
dibutuhkan.
Data FOR yang kita miliki data statistik. Tidak ada jaminan statistik = probabilitas apalagi bila
populasinya kecil.
Untuk Planning bisa digunakan data dari report NERC karena populasinya besar.

Lama Pemeliharaan [days/year]


Untuk perencanaan jangka panjang, digunakan angka rata-rata.
Untuk perencanaan jangka pendek, sd 5 tahun ke depan digunakan angka aktual yang
berbeda-beda sesuai jenis pemeliharaannya. Misalkan OH selama 8 minggu, MI 2 minggu
dsb.

www.pln.co.id | 81
Karakteristik Pembangkit Hidro
Karakteristik Pembangkit Hidro
Kapasitas Terpasang (MW).
Inflow Energy per periode (GWh) = Ea, adalah jumlah energi yg masuk dalam satu
periode.
Produksi minimum per period (GWh) = Emin, karena downstream water commitments
Kapasitas tersedia (available), rata-rata per periode (MW).
Kapasitas storage (GWh).

Jenis-jenis Pembangkit Hidro


ROR atau Run-of-river.
Hydro tanpa storage (bendungan) atau bila adapun kapasitas nya kecil (Emin = Ea)
Kapasitas RoR adalah MWB = Emin/Jumlah jam dalam periode.
Tidak memberi kontribusi kapasitas untuk mengisi beban puncak
Hydro dengan storage (dam). (Emin < Ea).
www.pln.co.id | 82
Karakteristik Jenis Pembangkit Hidro

www.pln.co.id | 83
Konsep Keandalan
05 Pembangkit
|
Konsep Keandalan Sistem Pembangkit

Definition: Adequacy of generation capacity to meet peak demand.


Outages of generating units or unexpected demand increase can cause loss of load, as
available capacity < demand.
In general, the situation requires emergency actions, such as asking for help from
neighboring system interconnected with it, brown-out or load curtailment.
The methods which is commonly used to assess reliability of generation system are
probabilistic models.
Availability of power plants is probabilistic in nature, and so is demand. Both probabilistic
systems are then convoluted to calculate the probability of loss of load.
Calculation can be made for all periods of the year (such us weekly) by taking into account
all variations of demand, outages due to planned maintenance, new power plants coming,
older/least efficient plants retired , etc.

www.pln.co.id | 85
Konsep Keandalan Sistem Pembangkit

The reliability indices widely adopted by power utilities in generation planning are:
1. Loss of Load Probability (LOLP)
2. Loss of Load Expectation (LOLE)
3. Expected Energy Not Served (EENS)
4. Reserve Margin

www.pln.co.id | 86
LOLP (Loss Of Load Probability) dan LOLE (Loss Of Load
Expectation)
LOLP (Loss Of Load Probability)
The most simple reliability index, it measures the probability of demand exceeds the available
capacity.
As LOLP only measures probability, it does not give any information on the level of severity of
system situation. For a given value of LOLP, severity of the situation can be small or very large.
LOLP does not provide information on how much energy can be unserved.
LOLP is expressed in per cent, such as 0.274%.

LOLE (Loss Of Load Expectation)


This index measures the number of days in one year when daily peak load is expected to exceed
the available capacity.
LOLE is very similar to LOLP, so that the use of LOLP and LOLE in PLN is often inter-
changeable.
Disadvantage of LOLE is the same as that of LOLP.
LOLE is expressed in days per year, such as 1 day per year.
www.pln.co.id | 87
In power system planning practised in PLN, LOLE (or LOLP) is used as a planning criteria.
EENS (Expected Energy Not Supplied / Served)
EENS measures the expected energy that cannot be supplied at times when demand
exceeds the available capacity.
This index is less popular than LOLP/LOLE, but many people consider this index better
than LOLP/LOLE, because it gives us information on the severity of the situation in power
system.
EENS is measured in MWh.
In PLNs planning process, EENS is taken into account and treated as economic penalty
during the optimization process of system costs.

www.pln.co.id | 88
Reserve Margin

Adequacy of capacity (planned + existing) is often measured by Reserve Margin (RM). RM


reflects the excess capacity of supply to peak demand.
RM does not really reflect the adequacy of supply, because to achieve the same level of
reliability on two different power systems having similar peak load, each power system may
need different capacity.
The things that make it different are load duration curve, unit size of generating unts, number
of generation units, availability of generation units.
The minimum RM that is required for one system to achieve the same LOLP can be different
for another system.
For LOLP = 0.274% (or LOLE 1 day per year), Jawa Bali system requires RM of about 25%.
For the same LOLP, power systems in Sumatera, Kalimantan, and Sulawesi require higher
RM.

www.pln.co.id | 89
Model for Generator Availabiliy dan Unavailability
The model illustrates a generating unit can be in one of 2 states: up
up
(available) or down (unavailable)

Generating units cannot have 100% availability, as random failures and


planned outages will always occur to them.
down Obviously the probability a unit available + probability the unit unavailable is
1.
Full
output Note:

1 In reality, a generating unit can be multi-states: full output, fail, and


1 3 3 partial output
2 Partial output can be due to derating, creating terms like partial
Partial Fail
output availability and equivalent availability.
2

www.pln.co.id | 90
Generator availabiliy for 2-state model

OutageRate Unav


r r f

[down time]
r m T [down time] [up time]

symbol Description
Extected failure rate (f/yr)
Expected repair rate (rep/yr)
m Mean time to failure (MTTF)=1/
r Mean time to repair (MTTR) = 1/
m+r Mean time between failure (MTBF) = 1/f
f Cycle frequency = 1/T
T Cycle time = 1/f

www.pln.co.id | 91
Capacity Outage Probability Table (COPT):
Example for 3 Generators

www.pln.co.id | 92
Capacity Outage Probability Table (COPT):
Example for 4 Generators

Observation:
Higher number of units (at same
total capacity and same units
availability) will produce higher
system reliability

www.pln.co.id | 93
Konsep Biaya
06 Pembangkitan
|
Aspek dalam Keekonomian Pembangkit Listrik

1. Biaya pembangkitan listrik : Total cost = Fixed cost + Variable cost.


Fixed cost: terutama berkaitan dengan investment cost (dan profit ekonomi yang
diminta). Pada short run: O&M tertentu, biaya maintenance yang dikapitalisasi termasuk
long-term maintenance contract untuk turbin, biaya insurance, gaji pegawai adalah
fixed, tidak tergantung produksi kWh.
Variable cost: utamanya biaya bahan bakar, tergantung pada tingkat produksi kWh.
Beberapa jenis O&M juga termasuk variable cost, seperti bahan kimia untuk water
treatment, limestone untuk FGD atau CFB dsb.
Marginal cost: perubahan total cost jika output dinaikkan 1 unit.
2. Investment cost = construction cost + financing cost.
3. Construction cost.
Biasa dinyatakan dalam $/kW dari kapasitas pembangkit.
Biaya konstruksi berbeda-beda tergantung jenis pembangkit yang dibangun.

www.pln.co.id | 95
Structure of Generation Costs

Every type of technology has different cost characteristics, and the role of a generation unit in
power generation mix will be determined by its cost (and technical) characteristics.
Variable fuel cost
Variabl
Variable O&M
e cost
cost
Generatio
(consumables,
n cost
etc)
Fixed O&M cost
Power Fixed Taxes & insurance
generation cost
costs
Fixed investment
Capital
charges: depreciation,
cost
ROI
To compare the economics of different types of generating units, we need technical data
(capacity, thermal efficiency/heat rate, availability/capacity factor) as well as economic data
(project EPC cost, fuel price, discount rate).

www.pln.co.id | 96
Struktur Biaya Investasi Pembangkit

www.pln.co.id | 97
Contoh Sebaran Nilai Kontrak Pembangkit

www.pln.co.id | 98
Contoh Overnight Cost Menurut US Energy Information
Administration

Sumber: Annual
Energy Outlook
2015,
http://www.eia.go
v/forecasts/aeo/a
ssumptions/pdf/ta
ble_8.2.pdf

www.pln.co.id | 99
Financing Cost

Bahkan sebuah proyek PLTU batubara yang tidak besar (kelas 100 MW) mempunyai nilai
proyek yang tinggi, sekitar US$ 80 -120 juta.
Biaya investasi tersebut biasanya didanai dengan kombinasi ekuiti dan pinjaman (loan).
Struktur pendanaan dan cost of money tergantung pada risiko dari proyek, developer,
negara dsb.
Sebuah utility milik negara biasanya mempunyai akses kepada soft loan, sementara sebuah
IPP hanya mempunyai akses ke commercial loan

www.pln.co.id | 100
Screening Curve [1/2]
Screening curve is used to compare the total annual cost of different types of generating
units if they are running at varying output or capacity factor (CF)

www.pln.co.id | 101
Screening Curve [2/2]
r(1+r)n
Levelized Annual = Capital Recovery=
Fixed Charge Factor (1+r)n - 1
Rate

Annual fixed cost: total investment cost (EPC+IDC) + fixed O&M cost which is levelized along
its life
Var cost will depend on production level, or CF
The curve above is used by planners to do preliminary screening of generation technologies
which are competitive for a particular role in power system.

www.pln.co.id | 102
Contoh Penerapan Screening Curve [1/2]
Satuan PLTU PLTGU PLTG
Gas LNG
Kapasitas MW 1.000 750 400
Harga bahan $/mmbtu 3,5 7 12
bakar
Efisiensi % 40 46 33
Investasi $/kW 1.500 850 600
Masa konstruksi Tahun 4 3 2
Umur ekonomi Tahun 30 25 20
Artinya:
PLTG yang beroperasi dengan LNG
adalah termurah dgn CF hingga 10%,
dimana selanjutnya diambil alih oleh
PLTGU hingga CF 55% dan PLTU hingga
CF 100%).
Jika PLTGU Gas tidak ada, maka PLTG
LNG akan feasible secara ekonomi hingga
CF 25% (peaking).
www.pln.co.id | 103
Contoh Penerapan Screening Curve [2/2]
Selection of GT or Gas Engine as a peaker in Lombok
island

NP PLTG vs PLTMG (CNG USD 7,85/mmbtu) Capacity 60 MW


V350
Economic Life 20 yrs
300
Efficiency on site: GT 30%, GE 43%
CNG gas price USD 7,85/mmbtu
250 Discount rate = 12%
200

150
CF Peaker
100
CF 10% CF 20% CF 30% CF 40% CF 50% CF 60% CF 70% CF 80%

PLTG 900 PLTMG 1000 PLTMG 1200 PLTG 700

www.pln.co.id | 104
Screening Curve untuk Alokasi Produksi Energi

Screening curve can also


be used to estimate
allocation of energy
production of generations
according to load
duration curve

www.pln.co.id | 105
What screening curve is NOT for
In generation planning, screening curve is useful to pre-select the types of generation from
long list to short list.
But screening curve does not reflect:
Availability (forced outage, maintenance outage)
Existing capacity
Dispatch factor (minimum loading, spinning reserve)
Reliability criteria
Other factors (load growth, economic trend)

Therefore screening curve is NOT a substitute for real generation planning method.

We must use tools which commonly used by power utilities (those still practice centralized
planning) in making generation expansion planning.

www.pln.co.id | 106
Levelized Cost of Electricity (LCOE)

LCOE, atau disebut juga Levelized Generating Cost (LGC), atau Levelized Busbar Cost,
merupakan pendekatan yang biasa dipakai oleh industri tenaga listrik untuk membandingkan
daya saing keekonomian sebuah pembangkit tenaga listrik dengan pembangkit lainnya.
LCOE menyatakan present value (PV) dari total cost untuk membangun dan mengoperasikan
sebuah pembangkit listrik sepanjang umur ekonominya dan sesuai utilization rate pembangkit
di sistem tenaga listrik (baca: capacity factor/CF).
LCOE merupakan total cost yang dikonversi dalam payment tahunan yang sama, dinyatakan
dalam real money tanpa melihat inflasi,
LCOE merefleksikan overnight EPC cost, fuel cost, fixed & variable O&M cost.
Proyeksi CF tergantung pada kurva beban dan technology mix.

www.pln.co.id | 107
Contoh Perhitungan LCOE

www.pln.co.id | 108
Rentang Nilai LCOE
Parameter-parameter dalam perhitungan LCOE mempunyai rentang nilai (range) yang cukup
lebar, sehingga hasil LCOE mestinya juga bukan single figure.
Contoh, EPC cost sebuah PLTU batubara kelas 600 MW berkisar antara $10001300/kW.
Demikian pula harga batubara yang dapat digunakan bervariasi antara $30 (low rank di mulut
tambang) dan $100 (higher rank di Jawa). Efisiensi PLTU subcritical juga bervariasi antara
34%-36%.
Salah satu upaya untuk menyikapi dan memahami ketidakpastian nilai parameter adalah
dengan membuat analisis sensitivitas.
Atau membuat probabilistic LCOE dengan simulasi Monte Carlo.

www.pln.co.id | 109
Contoh Analisis Sensitivitas LCOE

cent cent

www.pln.co.id | 110
Contoh Perhitungan LCOE Probabilistik

www.pln.co.id | 111
Contoh Sebaran Nilai LCOE Menurut IEA

www.pln.co.id | 112
Analisis Biaya
07 Produksi
|
Simulasi Probabilistik
Analisis Biaya Produksi dalam WASP dilakukan dengan menggunakan metode Simulasi
Probabilistik.
Simulasi Probabilistik adalah simulasi pengoperasian sistem ketenagalistrikan dalam periode
tertentu secara probabilistik untuk menghitung biaya dan keandalan operasi.
Output analisis biaya produksi antara lain:
Menghitung expected value dari energi yang diproduksi setiap unit pembangkit untuk
setiap periode.
Menghitung biaya produksi per unit pembangkit berdasarkan expected value tsb diatas.
Menghitung system reliability parameters yaitu Loss-of-Load Probability (LOLP) dan
Energy-Not-Served (ENS).
Informasi yang dibutuhkan untuk analisis biaya produksi:
Memakai Load Duration Curves (LDCs) untuk merepresentasikan beban sistem
sehingga perhitungan menjadi cepat dan efisien.
Memakai Loading Order (LO) untuk merepresen-tasikan dispatch unit-unit (unit
commitment):
Memakai metode probabilistik untuk mere-presentasikan the random forced outages of
generating units www.pln.co.id | 114
Contoh LDC, LO dan Forced Outage

Kombinasikan ke tiga
# 6: HSD # 7: Emergency Import hal tersebut diatas
untuk

MW
MW

# 5: Peaking Hydro # 5 Peaking Hydro merepresentasikan


interaksi antara beban
Loading Order

# 4: MFO # 6: HSD sistem dengan outages


of generating units.
# 3: N. Gas # 4: MFO Kombinasi ini
menghasilkan apa yang
# 2: Coal # 3: N. Gas disebut equivalent load
duration curves
# 1: ROR # 1: ROR (ELDCs).
Jam Jam

www.pln.co.id | 115
Metode Baleriaux-Booth
Teknik khusus untuk meperhitungkan outage probabilities dalam system load curve.
The capacity on forced outage is treated as additional load that must be served by other units.
The resulting curve is called the equivalent load duration curve -ELDC.
ELDC represents the original system loads combined with the effect of forced outage
capacities.
Points on the ELDC are calculated using the formula:

Ln(x) = pnLn-1(x) + qnLn-1(x-Cn)


where
Ln(x) = probability that load is greater or equal x
qn = probability that unit n is on forced outage
pn = probability that unit n is in operation
pn + qn = 1
Cn = capacity of the nth generating unit
www.pln.co.id | 116
Inverted Load Duration Curve [1/3]

www.pln.co.id | 117
Inverted Load Duration Curve [2/3]
Daily Load Curve Load Duration Inverted
(Chronological) Curve (LDC) Normalized LDC

Load (MW) Load (MW) Time

1000 1000 1,0

500 500

0 0
0
0 24 0 24 0 1,0
hour Number of hours Peak Load (fraction)

www.pln.co.id | 118
Inverted Load Duration Curve [3/3]
Every point (x, t) on the F(x)
T LDC curve shows load x occurs
duration

for a duration of t hours


t (x, t)
If the total capacity of all
power plants is C, then the
tL = LOLP duration when load C is tL.
tL
EENS

0 x C xmax x
(system load)
tL is LOLP, and the area shown above is EENS
If C > xmax , does it mean the power system will never fail to meet
demand? Or EENS = 0?
The answer is yes if all power plants have absolute reliability! But
what if random failures occur on them ?
www.pln.co.id | 119
Ilustrasi
Misalkan pd sebuah sistem kelistrikan terdapat 2 unit pembangkit sbb:
# 1: 100 MW dengan FOR = 50%
# 2: 200 MW dengan FOR = 40 %
Loading Order : #1 , #2
jam

24
L0 (x) =LDC

100 200 300 400 MW

www.pln.co.id | 120
Ilustrasi
Misalkan ke 2 unit pembangkit 100% andal
# 1: berproduksi =100 x 24 = 2,400 MWh
# 2: berproduksi =100 x 24/2 = 1,200 MWh
jam

24 L0 (x)

# 1 # 2

100 200 300 400 MW

www.pln.co.id | 121
Ilustrasi
Misalkan # 1 on forced outage dan #2 100% andal
# 1: berproduksi = 0 MWh
# 2: berproduksi =100 x 24 + 100 x 24/2 = 3,600 MWh
jam

24

# 2

100 200 300 400 MW

www.pln.co.id | 122
Ilustrasi
Kondisi ini bisa pula di gambarkan sbb:
jam

L0 (x-100)

24

# 2 # 2

100 200 300 400 MW

www.pln.co.id | 123
Ilustrasi
Untuk mengetahui efek ketidakandalan #1 pada #2, maka kedua LDC (L0 (x) dan L0 (x-100))
dikombinasikan dengan memperhitungkan probabilitas #1 outage sehingga didapat ELDC.
Equivalent LDC is the most important concept in probabilisttic production costing. It
integrates the random outage of generating unit with random load model.
jam

L0 (x) L0 (x-100)
24 ELDC = L1 (x)

# 2

100 200 300 400 MW

www.pln.co.id | 124
Ilustrasi
L1(x) = p1L0(x) + q1L0(x-C1)
L1(x=100) = 0.5L0(x) + 0.5L0(x-100)= 24
L1(x=200) = 0.5L0(x) + 0.5L0(x-100)= 12
L1(x=300) = 0.5L0(x) + 0.5L0(x-100)= 0
jam

L0 (x) L0 (x-100)
24 ELDC = L1 (x)

#1 # 2

100 200 300 400 MW

www.pln.co.id | 125
Ilustrasi
Dengan ada nya FOR pada kedua unit, maka expected production:
#1: E 1 = 0.5 *100* 24 =1,200 MWh
#2: E 2 = 0.6 * 200*24/2 = 1,440 MWh
jam

L0 (x) L0 (x-100)
24 ELDC = L1 (x)

#1 # 2

100 200 300 400 MW

www.pln.co.id | 126
Ilustrasi
Misalkan # 1 dan # 2 on forced outage
# 1: berproduksi = 0 MWh
# 2: berproduksi = 0 MWh
jam

L0 (x) L1 (x-200)
24
L1 (x)

100 200 300 400 500 MW

www.pln.co.id | 127
Ilustrasi
L2(x) = p2L1(x) + q2L1(x-C2)
L2(x=100) = 0.6L1(x) + 0.4L1(x-200)= 24
L2(x=300) = 0.6L1(x) + 0.4L1(x-200)= 9.6
L2(x=500) = 0.6L1(x) + 0.4L1(x-200)= 0.0
jam

L0 (x) L1 (x-200)
24
L1 (x)

L2 (x)
#1 #2

100 200 300 400 500


MW

www.pln.co.id | 128
jam
Ilustrasi

L0 (x)

24 L0 (x)

L1 (x)

L2 (x)
#1
#2

100 200 300 400 500 MW


Maka:
Produksi #1 = (1 - FOR1)* Luas L0(0) s/d L0(100) = 1200 GWh
Produksi #2 = (1 - FOR2)* Luas L1(100) s/d L1(300) = 1440 GWh
ENS = Luas L2(300) s/d L2(500) = 960 GWh
www.pln.co.id | 129
Ilustrasi
LOLP = 9.6 / 24 = 0.4
ENS= Demand - E 1 - E 2 = 3,600 -1,200 - 1,440
ENS= 960 MWh
jam

24

L2 (x)
9.6

ENS

100 200 300 400 500 MW

www.pln.co.id | 130
Ilustrasi
Misalkan pd sebuah sistem kelistrikan terdapat 3 unit pembangkit
sbb:
# 1, 2: 2 x 50 MW dengan FOR = 50%
# 3: 200 MW dengan FOR = 50 %
Loading Order : #1, #2, #3
LDC :
Load Duration
0 24
50 24
100 24
150 12
200 0
www.pln.co.id | 131
Ilustrasi

D L0(D) q x L0(D-50) L1(D)

0 24 12 24
50 24 12 24
100 24 12 24
150 12 12 18
200 0 6 6
250 0 0 0

www.pln.co.id | 132
Ilustrasi

D L1(D) q x L1(D-50) L2(D)

0 24 12 24
50 24 12 24
100 24 12 24
150 18 12 21
200 6 9 12
250 0 3 3

www.pln.co.id | 133
Ilustrasi
D L2(D) q x L2(D-200) L3(D)
0 24 12 24
50 24 12 24
100 24 12 24
150 21 12 22.5
200 12 12 18
250 3 12 13.5
300 0 12 12
350 0 10.5 10.5
400 0 6 6
450 0 1.5 1.5
500 0 0 0

www.pln.co.id | 134
Ilustrasi
D L0(D) L1(D) L2(D) L3(D)
0 24 24 24 24
50 24 24 24 24
100 24 24 24 24
150 12 18 21 22.5
200 0 6 12 18
250 0 0 3 13.5
300 0 0 0 12
350 0 0 0 10.5
400 0 0 0 6
450 0 0 0 1.5
500 0 0 0 0

www.pln.co.id | 135
Konsep Equivalent LDC
MW
UNRELIABLE

ENS
CAPACITY

EQUIVALENT LDC
INSTALLED
CAPACITY

PEAK LOAD

BASIC/ORIGINAL LDC MINIMUM


LOAD

Time (fraction)
LOLP (probabilitas)

www.pln.co.id | 136
Biaya Produksi Probabilistik
Process the load data to form original LDC
Formulate Original LDC

Determine merit order of generating units to share


load based on heat rate, ordered from lowest to
Determine Loading Order highest.
Production simulation would start from base load
unit with lowest heat rate
I =1, n

Calculate energy ouput with units operating


Calculate power output of according to merit order and calculated by using
generator i ELDC f(x): Xi


E = T f(I - 1) (x) dx
Xi-1

Calculate Equivalent LDC Revise ELDC to get new ELDC with unit i commited.

Calculate EENS, LOLP, fuel


consumption, fuel cost
www.pln.co.id | 137
Probabilistic Production Costing Involving Hydro Power
Characteristcs of hydro power:
1. Consumes no fuel. Generation cost has nothing to do with its ouput
2. Its energy is given by hydrological conditions and reservoir management, should be
treated as a given quantity.
3. Quick start and shut down, suitable for sharing peak load on the load curve

As the energy is given, its merit order cannot be determined beforehand like themal units.

To fully benefit from hydro units, the following two principles are important:
1. Fully utilize hydro energy to generate electricity, and discharge water as little as possible
2. Share the load in peak load section, so that thermal units with expensive fuel cost can
be replaced.

www.pln.co.id | 138
Probabilistic Production Costing Involving Hydro Power
Original LDC
Hydro unit sharing the peak load

This area = energy of hydro unit = EA


This area occupies a section on peak
load

H
CH (capacity of hydro unit)
Derived by
shifting the LDC to Now draw lines BE and AF
the left by CH
F Area OCGFH is shared by thermal units.
The load shared But area ACG = area BDE, so the load shared by thermal units
by thermal units
E are OAFH plus BDE.
G
This is the same with saying the hydro unit shares the load
ABEF (area ABEF=EA).
O A B C D The effect is the same whether the hydro unit shares ABEF or
CH CH GCDF.
www.pln.co.id | 139
Probabilistic Production Costing Involving Hydro Power
T

D If we have a hydro unit having


C energy EA, what is the optimal

D position of the unit in electricity
C production?

x
0 A B A B E
Area of ABCD = area ABCD = EA

If the unit is running at lower capacity (AB), then its position will be shifted to the left in order to tap its
full energy.
This means the thermal unit which is supposed to share the load at that position will have to shift to the
right.
However, the thermal unit on the left side of the merit order has lower fuel cost, while on the right side
of the order has more expensive fuel cost. In effect, shifting the hydro unit to the left is not a good idea.
It is better off for a hydro unit to run at highest capacity than at reduced capacity.
www.pln.co.id | 140
08 OPTIMISASI
Struktur WASP Input Data

Menyusun konfigurasi unit-unit tambahan sehingga,


Kriteria Keandalan bersama pembangkit yang telah ada, beban & dalam
batas2 kriteria keandalan

Simulasikan pengoperasian sistem pembangkit untuk


Praktek masing2 konfigurasi dan hitung biaya operasi dan
pengoperasian sistem
keandalan.

Dari kumpulan konfigurasi2 tsb, cari jalur yang


Data& Para-meter
memenuhi kriteria keandalan dan optimum dengan
ekonomi
dynamic programming.

Renca Perluasan yg Optimum


PT.PLN (PERSERO)
DYNAMIC PROGRAMMING
Dynamic programming adalah tehnik optimisasi
berdasarkan Richard Bellman's Principle of Optimality,
yaitu:
Given an optimal trajectory TAC from A to C, the portion TBC of
that trajectory from any intermediate point B to point C must be
the optimal trajectory from point B to C.
DYNAMIC PROGRAMMING
Dynamic programming is well suited for optimizing sequential
decision processes such as in long-term generation
expansion planning
In DP, an Objective Function or performance criteria must
be defined upon which the alternative decisions are
evaluated.
To find the optimal path, the principal of optimality is applied
to find the optimal trajectory to every State in each Stage.
DYNAMIC PROGRAMMING
Dalam WASP, algoritma dynamic programming dipakai utuk
mencari rencana perluasan (expansion plan) yang:
Memenuhi standar keandalan (reliability), dan
memberikan minimum discounted cash flow dari biaya-biaya
selama masa periode studi.

Objective Function:

L(x) =S [Cj - Sj + FCj + OMCj + ENSCj]


SALVAGE VALUE
Investment Cost = IC

PV SV Salvage Value
PV IC

Lama Studi
Reference date for
discounting
Umur Ekonomis
Objective Function

discounting
Reference date for
Investment Cost1

t=1 Operating Cost1

Investment Cost2
t=2

Operating Cost2
T

Investment CostT
t=T

Operating CostT

Salvage Value
ILUSTRASI
Nama State Konfigurasi

Objective function s/d state E


E 678
Biaya investasi 1,1
87 B

Nama State dari tahun


sebelumnya yang memberikan
objective function E terendah

Biaya Produksi State E


ILUSTRASI
G
0,3
D
0,2
B
H
0,1
1,2
A E
0,0 1,1

C I
1,0 2,1

F
2,0
J
3,0

Base Year Base Year +1 Base Year +2 Base Year +3


ILUSTRASI
G
0,3
D
210
0,2
B 150 H
0,1
1,2
A 80
E 170
0,0 1,1

C 90 I
1,0 2,1

40 95
F
2,0
J
60
3,0
80

Base Year Base Year +1 Base Year +2 Base Year +3


ILUSTRASI
G
0,3
D
210
0,2
B 150 H
0,1
1,2
A 80
E 170
0,0 1,1

C 90 I
1,0 2,1

40 95
F
2,0
Path dipertahankan J
60
3,0
Path dibuang/ illegal
80

Base Year Base Year +1 Base Year +2 Base Year +3


ILUSTRASI
G
0,3
D
210
0,2
B 150 H
0,1
1,2
A 80
E 170
0,0 1,1

C 90 I
2,1
1,0
40 95
F
2,0
J
60
3,0
80

Base Year Base Year +1 Base Year +2 Base Year +3


ILUSTRASI
G
0,3
D
210
0,2
B 150 H
0,1
1,2
A 80
E 170
0,0 1,1

C 90 I
1,0 2,1

40 95
F
2,0 J
60 3,0
80

Base Year Base Year +1 Base Year +2 Base Year +3


ILUSTRASI
G
0,3
D
210
0,2
280
B 150 H
0,1
1,2
A 80 A
E 170
0,0 1,1
340 90 I
C
1,0 2,1

40 A 95
F
2,0
J
60
3,0
80

Base Year Base Year +1 Base Year +2 Base Year +3


ILUSTRASI
G
590 0,3
D
210
0,2
280
B 150 B H
0,1
1,2
A 80 A
E 170
0,0 1,1
340 90 I
C
1,0 2,1

40 A 95
F
2,0
J
60
3,0
80

Base Year Base Year +1 Base Year +2 Base Year +3


ILUSTRASI
G
590 0,3
D
210
0,2
280
B 150 B H
0,1
1,2
A 80 A 590
E 170
0,0 1,1
340 90 C I
C
1,0 2,1

40 A 95
F
2,0
J
60
3,0
80

Base Year Base Year +1 Base Year +2 Base Year +3


ILUSTRASI
G
590 0,3
D
210
0,2
280
B 150 B H
0,1
1,2
A 80 A 590
E 170
0,0 1,1
340 90 C
C I
1,0 2,1
40 A 640 95
F
2,0
J
60 C
3,0
80

Base Year Base Year +1 Base Year +2 Base Year +3


ILUSTRASI
G
590 0,3
D
210
0,2
280
B 150 B 905
H
0,1
1,2
A 80 A 590
E 170 E
0,0 1,1
340 90 C
C I
1,0 2,1
40 A 640 95
F
2,0
J
60 C
3,0
80

Base Year Base Year +1 Base Year +2 Base Year +3


ILUSTRASI
945
G
590 0,3
D
210 D
0,2
280
B 150 B 905
H
0,1
1,2
A 80 A 590
E 170 E
0,0 1,1
340 90 C 895
C I
1,0 2,1
40 A 640 95 E
F
2,0
J 920
60 C
3,0
80 F

Base Year Base Year +1 Base Year +2 Base Year +3


ILUSTRASI
G
0,3
D
210 D
0,2
B 150 B H
0,1
1,2
A 80 A 590
E 170 E
0,0 1,1
340 90 C
C I 895
1,0 2,1
40 A F 95 E
2,0
J
60 C
3,0
80 F

Base Year Base Year +1 Base Year +2 Base Year +3


ILUSTRASI
Optimum Solution:
Year Konfigurasi Obj. Function
Base Year 0 0 0
Base Year +1 1 0 340
Base Year +2 1 1 590
Base Year +3 2 1 895
Penyusunan Neraca
09 Daya
|
Reserve Margin: Model Probabilistik dari PLN

Kriteria reserve margin


PLN adalah sebesar
35% untuk sistem
Jawa-Bali dan 40%
untuk luar Jawa-Bali,
dengan
memperhitungkan
keterlambatan proyek.

www.pln.co.id | 163
Reserve Margin: Benchmark dari Negara Lain

www.pln.co.id | 164
Reserve Margin: Bottom Up Deterministic Method
(McKinsey)

Dari ketiga metode


tersebut, McKinsey
mengambil kesimpulan
bahwa kriteria reserve
margin yang tepat untuk
PLN adalah sebesar
35%, sesuai dengan
kriteria yang digunakan
oleh PLN selama ini.

www.pln.co.id | 165
Kebijakan Reserve Margin yang Tinggi

PLN mempunyai kebijakan untuk membolehkan rencana reserve margin yang tinggi melebihi
kebutuhan yang wajar dengan pertimbangan sebagai berikut:
Pada beberapa daerah yang merupakan sumber utama energi primer nasional maupun
yang memiliki potensi mineral yang signifikan namun telah lama kekurangan pasokan
tenaga listrik, yaitu Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan. Kebijakan ini diambil dengan
pertimbangan pelaksanaan proyek-proyek pembangkit di Kalimantan, Sulawesi dan
Sumatera seringkali mengalami keterlambatan, pembangkit eksisting telah mengalami
derating yang cukup besar dan adanya keyakinan bahwa tersedianya tenaga listrik yang
banyak di Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan akan memicu tumbuhnya kebutuhan listrik
yang jauh lebih cepat .
Apabila terdapat penugasan dari Pemerintah untuk mempercepat pembangunan
pembangkit.
Untuk mengantisipasi adanya kemungkinan keterlambatan penyelesaian pembangunan
pembangkit.
www.pln.co.id | 166
Grafik Neraca Daya Sistem Jawa-Bali

Tabel Neraca Daya


pada slide berikut
menggunakan
standar sesuai
Rancangan
Peraturan Menteri
tentang Tata Cara
Penyusunan RUPTL

www.pln.co.id | 167
Neraca Daya Sistem Jawa-Bali [1/4]
Satuan/
Uraian 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026
Jenis
1. KEBUTUHAN
a. Penjualan GWh 173,960 187,028 200,630 215,617 231,607 248,195 266,007 285,029 305,235 326,568
b. Pertumbuhan Penjualan % 6.8 7.5 7.3 7.5 7.4 7.2 7.2 7.2 7.1 7.0
c. Produksi GWh 192,627 206,973 222,719 244,712 265,806 285,201 304,933 326,082 347,898 370,054
d. Faktor Beban % 78.7 78.9 79.1 79.9 80.6 80.6 80.7 80.8 81.0 81.0
e. Beban Puncak Neto MW 26,646 28,558 30,653 33,330 35,722 38,242 40,908 43,743 46,755 49,919
f. Total Kebutuhan Daya MW 34,640 37,125 39,849 43,329 46,438 49,715 53,181 56,865 60,781 64,895

2. PASOKAN EKSISTING
a. Total Kapasitas Terpasang MW 35,517 35,517 33,890 33,890 33,890 33,890 33,890 33,890 33,890 33,890
b. Total Daya Mampu Neto (DMN) MW 33,055 33,055 31,664 31,664 31,664 31,664 31,664 31,664 31,664 31,664
1) PLN MW 26,186 26,186 24,795 24,795 24,795 24,795 24,795 24,795 24,795 24,795
2) IPP MW 6,869 6,869 6,869 6,869 6,869 6,869 6,869 6,869 6,869 6,869
3) Sewa MW - - - - - - - - - -
4) Pembelian Excess Power MW - - - - - - - - - -
5) Impor MW - - - - - - - - - -
6) Retired dan Mothballed MW (164) - (1,391) - - - - - - -

3. TAM BAHAN PASOKAN (DM N)


a. On Going and Committed
1) PLN MW 150 1,400 625 - 1,520 520 1,060 1,000 - -
Indramayu #4 (FTP2) PLTU - - - - 1,000 - - - - -
Lontar Exp #4 PLTU - - 315 - - - - - - -
Jawa-6 (FTP2) PLTU - - - - - - 1,000 1,000 - -
Jatigede (FTP2) PLTA - - 110 - - - - - - -
Upper Cisokan PS (FTP2) PLTA - - - - 520 520 - - - -
Grati Blok 3 PLTGU 150 300 - - - - - - - -
Jawa-2 PLTGU - 600 200 - - - - - - -
Muara Karang PLTGU - 500 - - - - - - - -
Tangkuban Perahu-Ciater (FTP2) PLTP - - - - - - 60 - - -
www.pln.co.id | 168
Tabel Neraca Daya menggunakan standar sesuai Rancangan Peraturan Menteri tentang Tata Cara Penyusunan RUPTL
Neraca Daya Sistem Jawa-Bali [2/4]
Satuan/
Uraian 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026
Jenis

2) IPP MW 655 - 7,317 1,950 175 385 110 550 355 2,000
Banten PLTU 625 - - - - - - - - -
Jawa Tengah (PPP) PLTU - - 950 950 - - - - - -
Jawa-1 (FTP2) PLTU - - 1,000 - - - - - - -
Jawa-3 (FTP2) PLTU - - 1,320 - - - - - - -
Jawa-4 (FTP2) PLTU - - 1,000 1,000 - - - - - -
Jawa-5 (FTP2) PLTU - - - - - - - - - 2,000
Jawa-7 - Bojonegara PLTU - - 2,000 - - - - - - -
Jawa-8 - Cilacap PLTU - - 1,000 - - - - - - -
Rajamandala PLTA - - 47 - - - - - - -
Patuha (FTP2) PLTP - - - - - 55 55 - - -
Kamojang-5 (FTP2) PLTP - - - - - - - - - -
Karaha Bodas (FTP2) PLTP 30 - - - - - 55 - - -
Ijen (FTP2) PLTP - - - - 55 55 - - - -
Iyang Argopuro (FTP2) PLTP - - - - - - - - 55 -
Wilis/Ngebel (FTP2) PLTP - - - - 55 - - 110 - -
Cibuni (FTP2) PLTP - - - - 10 - - - - -
Cisolok - Cisukarame (FTP2) PLTP - - - - - - - - 50 -
Ungaran (FTP2) PLTP - - - - - - - 55 - -
Wayang Windu (FTP2) PLTP - - - - - 110 - 110 - -
Dieng (FTP2) PLTP - - - - 55 55 - - - -
Tampomas (FTP2) PLTP - - - - - - - - 45 -
Baturaden (FTP2) PLTP - - - - - - - 220 - -
Guci (FTP2) PLTP - - - - - - - 55 - -
Rawa Dano (FTP2) PLTP - - - - - 110 - - - -
Umbul Telomoyo (FTP2) PLTP - - - - - - - - 55 -
Gunung Ciremai (FTP2) PLTP - - - - - - - - 110 -
Gunung Endut (FTP2) PLTP - - - - - - - - 40 -

3) Impor MW
www.pln.co.id | 169
Jumlah On Going and Committed MW 805 1,400 7,942 1,950 1,695 905 1,170 1,550 355 2,000
Neraca Daya Sistem Jawa-Bali [3/4]
Satuan/
Uraian 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026
Jenis

b. Rencana Tambahan
1) PLN - 100 800 - - - - - - -
Muara Tawar Add-on Blok 2,3,4 PLTGU - - 650 - - - - - - -
Grati Add-on Blok 2 PLTGU - - 150 - - - - - - -
Senayan PLTMG - 100 - - - - - - - -

2) IPP 31 46 1,848 78 157 252 - 95 719 -


Jawa-1 PLTGU - - 1,600 - - - - - - -
Karangkates #4-5 PLTA - - - - - 100 - - - -
Kesamben PLTA - - - - - 37 - - - -
PLTM Tersebar PLTM 31 45 33 68 157 50 - - 54 -
PLTBm Tersebar PLTBm - 1 50 - - - - - - -
PLTSa Tersebar PLTSa - - 155 - - - - - - -
Bedugul PLTP - - - 10 - - - - 55 -
Gunung Galunggung PLTP - - - - - - - - 110 -
Gunung Lawu PLTP - - - - - 55 - 55 - -
Arjuno Welirang PLTP - - - - - - - - 185 -
Gede Pangrango PLTP - - - - - - - - 85 -
Songgoriti PLTP - - - - - - - - 35 -
Gunung Wilis PLTP - - - - - - - - 20 -
Gunung Pandan PLTP - - - - - - - - 60 -
Candradimuka PLTP - - - - - - - 40 - -
Dieng PLTP - - - - - - - - 55 -
Dieng Binary PLTP - - - - - 10 - - - -
Dieng Small Scale PLTP - - 10 - - - - - - -
Mangunan-Wanayasa PLTP - - - - - - - - 40 -
Masigit PLTP - - - - - - - - 20 -

3) Unallocated - 500 2,450 - 400 2,000 450 2,850 5,528 800


Jawa-3 PLTGU - - 800 - - - - - - www.pln.co.id
- | 170
Jawa-4 PLTGU - - - - - - - 800 800 -
Neraca Daya Sistem Jawa-Bali [4/4]
Satuan/
Uraian 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026
Jenis
Jawa-5 PLTGU - - - - - - - 800 800 -
Jawa-6 PLTGU - - - - - - - - 800 800
Jawa-7 PLTGU - - - - - - - 800 800 -
Jawa-Bali 1 PLTGU/MG - 500 200 - - - - - - -
Jawa-Bali 2 PLTGU/MG - - 500 - - - - - - -
Jawa-Bali 3 PLTGU/MG - - 500 - - - - - - -
Jawa-Bali 4 PLTGU/MG - - 450 - - - - - - -
Matenggeng PS PLTA - - - - - - 450 450 - -
Maung PLTA - - - - - - - - 350 -
Cimandiri-3 PLTA - - - - - - - - 238 -
Cikaso-3 PLTA - - - - - - - - 53 -
Cipasang PLTA - - - - - - - - 400 -
Rawalo-1 PLTA - - - - - - - - 10 -
Cibuni-3 PLTA - - - - - - - - 172 -
Cibuni-4 PLTA - - - - - - - - 105 -
Grindulu PS PLTA - - - - - - - - 1,000 -
Jawa-9 PLTU - - - - - 1,000 - - - -
Jawa-10 PLTU - - - - - 1,000 - - - -
Madura PLTU/GU - - - - 400 - - - - -

4) Impor MW

Jumlah Rencana Tambahan MW 31 646 5,098 78 557 2,252 450 2,945 6,247 800

4. REKAPITULASI
a. Total Pasokan Eksisting (DMN) MW 33,055 33,055 31,664 31,664 31,664 31,664 31,664 31,664 31,664 31,664
b. Total Tambahan Pasokan (DMN) MW 836 2,046 13,040 2,028 2,252 3,157 1,620 4,495 6,602 2,800
c. Total DMN Sistem MW 33,891 35,937 47,586 49,614 51,865 55,022 56,642 61,137 67,740www.pln.co.id
70,540 | 171
Neraca Daya Isolated Menggunakan Metode Deterministik
Dalam penyusunan neraca daya tidak selalu memperhitungkan reserve margin, misalnya
pada sistem isolated yang mempunyai kriteria keandalan cadangan N-1 (satu pembangkit
terbesar), atau bahkan N-2 (dua pembangkit terbesar)
Uraian Satuan 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024
Kebutuhan Energi MWh 3,354 3,553 7,758 8,100 8,443 8,788 9,135 9,484 9,835 10,188
Pertumbuhan % 6.4 5.92 118.35 4.41 4.24 4.09 3.95 3.82 3.70 3.6
Produksi Energi MWh 3,587 3,780 8,209 8,567 8,925 9,285 9,647 10,013 10,381 10,752
Faktor Beban % 20.6 21.0 33.0 33.5 34.0 34.5 35.0 35.5 36.0 36.5
Beban Puncak KW 1,990 2,055 2,840 2,919 2,997 3,072 3,146 3,220 3,292 3,363

Kapasitas Terpasang kW 2,000 2,000 - - - - - - - -


Pembangkit IP kW
PLTD PEMDA kW 2,000 2,000

Tambahan Pembangkit
PLTMG CNG IP kW 4,000
PLTMG CNG Baru kW 2,000
Total Tambahan kW - - 4,000 - - 2,000 - - - -

Jumlah Kapasitas kW 2,000 2,000 4,000 4,000 4,000 6,000 6,000 6,000 6,000 6,000
Unit Terbesar kW 500 500 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000
Cadangan N-1 kW (490) (555) 160 81 3 1,928 1,854 1,780 1,708 1,637
Reserve Margin % 0.5 (2.7) 40.9 37.0 33.5 95.3 90.7 86.3 82.3 78.4

Catatan: pencantuman reserve margin hanya sebagai www.pln.co.id | 172


Hasil Simulasi
WASP Studi
10 Masterplan
| Sumatera
Hasil Simulasi WASP Studi Masterplan Sumatera
Cost (1000 $) Obj. Function LOLP PLTU PLTU PLTU PLTGU PLTGU PLTG
Year PLTN
Construction Salvage Operation E.N.S. Total (Cummulative) (%) Sub Cr. Super USCr. 250 500 250
2016 0 0 2648753 291 2649044 2649044 0.001 0 0 0 0 0 0 0
2017 0 0 2578169 335 2578504 5227548 0.001 0 0 0 0 0 0 0
2018 1034835 42456 1866669 644 2859692 8087239 0.049 0 0 1 0 1 0 0
2019 192900 3881 1529086 615 1718720 9805959 0.046 0 0 1 0 2 0 0
2020 0 0 1471708 472 1472181 11278140 0.011 0 0 1 0 2 0 0
2021 0 0 1454882 458 1455340 12733480 0.015 0 0 1 0 2 0 0
2022 144929 6798 1557754 2290 1698174 14431654 0.256 0 0 1 0 3 0 0
2023 642551 54391 1455863 1340 2045363 16477017 0.15 0 0 2 0 4 0 0
2024 464362 47842 1342577 559 1759655 18236672 0.044 0 0 3 0 4 0 0
2025 844294 97593 1280667 627 2027996 20264668 0.057 0 0 5 0 4 0 0
2026 767540 99326 1233817 877 1902908 22167576 0.102 0 0 7 0 4 0 0
2027 896984 129712 1168348 730 1936350 24103926 0.08 0 1 9 0 4 0 0
2028 779786 121245 1122659 638 1781838 25885764 0.065 0 1 11 0 4 1 0
2029 576664 103639 1122601 1695 1597322 27483086 0.269 0 1 13 0 4 1 0
2030 1260673 252074 1204243 201 2213042 29696128 0.132 0 1 14 2 4 1 0
2031 930470 206756 1138463 48 1862224 31558352 0.102 0 1 16 3 4 1 0
2032 845881 208668 1087419 4 1724636 33282988 0.085 0 1 18 4 4 1 0
2033 662365 178781 1061576 85 1545244 34828232 0.117 0 1 19 5 4 2 0
2034 587329 171688 1041964 47 1457652 36285884 0.112 0 1 19 6 4 5 0
2035 930034 312323 989731 434 1607876 37893760 0.212 0 1 19 9 4 5 0
2036 699369 256741 964764 208 1407600 39301360 0.165 0 1 19 11 4 7 0
2037 502956 201331 957555 204 1259384 40560744 0.174 0 1 19 12 4 11 0
2038 719233 326441 929065 136 1321992 41882736 0.165 0 1 19 15 4 11 1
2039 599511 299154 911820 11 1212188 43094924 0.135 0 2 21 16 4 13 1
2040 629525 346767 894802 0 1177560 44272484 0.128 0 2 22 18 4 15 4
2041 556905 339360 878534 0 1096080 45368564 0.109 0 2 23 20 4 17 6
2042 581843 391974 859035 0 1048904 46417468 0.084 0 2 23 23 4 19 8
2043 495073 367942 845176 0 972308 47389776 0.081 0 2 24 25 4 22 10
2044 558416 458681 825045 0 924780 48314556 0.065 0 2 25 28 4 25 10
2045 585804 531190 823804 1018 879436 49193992 0.109 0 2 26 32 5 26 10

www.pln.co.id | 174
Hasil Simulasi WASP Sistem Sumbagut

Cost (1000 $) Obj. Function LOLP PLTU PLTU PLTU PLTGU PLTGU PLTG
Year PLTN
Construction Salvage Operation E.N.S. Total (Cummulative) (%) Sub Cr. Super USCr. 250 500 250
2016 0 0 1474985 127 1475112 1475112 0.007 0 0 0 0 0 0 0
2017 0 0 1247575 401 1247976 2723089 0.067 0 0 0 0 0 0 0
2018 848760 10836 543798 753 1382475 4105564 0.114 0 0 0 0 4 0 0
2019 0 0 465709 153 465863 4571426 0.004 0 0 0 0 4 0 0
2020 0 0 429849 132 429982 5001408 0.001 0 0 0 0 4 0 0
2021 0 0 432360 136 432497 5433904 0.002 0 0 0 0 4 0 0
2022 0 0 458687 209 458896 5892800 0.022 0 0 0 0 4 0 0
2023 291679 26720 451182 249 716391 6609191 0.032 0 1 0 0 4 0 0
2024 0 0 393991 111 394102 7003293 0.002 0 1 0 0 4 0 0
2025 241057 27864 391949 117 605260 7608552 0.003 0 2 0 0 4 0 0
2026 176001 17053 398997 381 558326 8166878 0.084 0 2 0 0 4 1 0
2027 199221 28809 401274 802 572488 8739366 0.205 0 3 0 0 4 1 0
2028 326565 48127 395105 397 673939 9413305 0.088 0 4 0 0 4 2 0
2029 132232 19713 402722 917 516158 9929463 0.235 0 4 0 0 4 3 0
2030 411956 82371 430536 283 760403 10689866 0.129 0 5 1 0 4 3 0
2031 238435 52982 419088 481 605022 11294888 0.199 0 5 2 0 4 3 0
2032 179577 42727 415483 656 552989 11847877 0.271 0 6 2 0 5 3 0
2033 224910 61538 407477 602 571450 12419327 0.272 0 8 2 0 5 3 0
2034 209131 62636 399863 545 546904 12966231 0.267 0 8 3 0 5 3 1
2035 255792 85900 386573 377 556842 13523073 0.212 0 9 4 0 5 3 1
2036 232538 86425 375481 316 521910 14044983 0.197 0 10 5 0 5 3 1
2037 211398 86903 365679 349 490523 14535506 0.224 0 11 6 0 5 3 1
2038 178434 79947 358365 347 457199 14992705 0.238 0 11 7 0 5 4 1
2039 180835 89514 351640 174 443135 15435840 0.161 0 11 8 0 5 5 2
2040 337218 186469 335664 151 486563 15922403 0.157 0 11 11 0 5 5 4
2041 227547 139340 324290 153 412650 16335053 0.159 0 12 11 1 5 5 4
2042 187151 126147 315314 128 376446 16711499 0.147 0 12 11 2 5 5 6
2043 145614 107923 309689 83 347463 17058962 0.127 0 12 12 2 5 7 6
2044 132377 108464 304043 76 328032 17386994 0.132 0 12 13 2 5 9 6
2045 188362 170852 300355 473 318338 17705332 0.207 0 12 16 2 5 9 6

www.pln.co.id |
Hasil Simulasi WASP Sistem Sumbagsel
Cost (1000 $) Obj. Function LOLP PLTU PLTU PLTU PLTGU PLTGU PLTG
Year PLTN
Construction Salvage Operation E.N.S. Total (Cummulative) (%) Sub Cr. Super USCr. 250 500 250
2016 0 0 2008648 1701 2010349 2010349 0.466 0 0 0 0 0 0 0
2017 0 0 1823854 229 1824083 3834432 0.032 0 0 0 0 0 0 0
2018 275620 3518 1538685 392 1811179 5645611 0.066 0 0 0 0 0 0 2
2019 0 0 1232952 560 1233513 6879123 0.103 0 0 0 0 0 0 2
2020 388771 24573 1022708 236 1387142 8266265 0.003 0 1 0 0 0 0 2
2021 618438 44396 1004242 267 1578550 9844815 0.01 0 1 1 0 0 0 2
2022 562216 45666 980266 369 1497184 11341999 0.03 0 1 2 0 0 0 2
2023 511106 46821 899966 255 1364505 12706504 0.01 0 1 3 0 0 0 2
2024 730178 75228 843742 231 1498922 14205426 0.006 0 2 4 0 0 0 2
2025 422401 48825 824588 259 1198424 15403850 0.013 0 2 5 0 0 0 2
2026 384001 49692 843750 688 1178747 16582597 0.104 0 2 6 0 0 0 2
2027 509093 68507 808085 584 1249255 17831852 0.087 0 2 7 0 0 1 2
2028 399085 61823 791519 863 1129644 18961496 0.152 0 2 8 0 1 1 2
2029 577012 103701 767497 962 1241770 20203266 0.182 0 2 10 0 1 1 2
2030 532456 98391 822245 606 1256916 21460182 0.231 0 2 11 0 5 1 2
2031 422647 88563 806565 656 1141304 22601486 0.262 0 2 12 0 8 1 2
2032 512190 123554 774744 654 1164034 23765520 0.253 0 2 12 1 8 2 2
2033 377686 98439 758641 447 1038334 24803854 0.213 0 2 13 1 8 4 2
2034 520332 157784 729568 508 1092624 25896478 0.233 0 2 14 2 8 4 2
2035 702145 233764 695129 447 1163956 27060434 0.215 0 2 14 4 8 4 5
2036 563954 209599 666942 317 1021614 28082048 0.184 0 2 14 6 8 4 5
2037 379717 153383 655283 299 881916 28963964 0.189 0 2 14 7 8 6 5
2038 477748 217115 634389 190 895212 29859176 0.164 0 2 16 8 8 6 5
2039 343048 170023 626306 55 799386 30658562 0.125 0 2 18 8 8 8 6
2040 532655 294656 605273 3 843274 31501836 0.108 0 2 19 10 8 9 6
2041 396342 242034 590757 0 745066 32246902 0.09 0 2 19 12 8 9 9
2042 415899 280917 573888 0 708870 32955772 0.086 0 2 20 14 8 9 10
2043 303032 225186 564513 1 642360 33598132 0.108 0 2 21 15 8 11 11
2044 381597 313544 549647 0 617700 34215832 0.093 0 2 22 17 9 12 11
2045 297483 269431 559948 787 588788 34804620 0.222 0 2 23 18 9 16 11

www.pln.co.id |
Email:
budi.chaerudin@gmail.com
arief.sugiyanto@pln.co.id