Anda di halaman 1dari 18

abdominal Pregnancy

Wardani Sesaria Kleruk


Definisi
kehamilan ektopik yang berimplantasi pada rongga
peritoneum selain kehamilan tuba, ovarium dan
intraligamenter

Epidemiologi
Insidensi kehamilan abdominal adalah 1 dalam
10.000 kelahiran hidup dengan angka kematian
maternal 2% sampai 18% dan kematian perinatal 75%
hingga 95%. Yang lazim ialah
Bahwa janin mati sebelum cukup bulan
( bulan ke-5 atau ke-6) .
Dari kejadian kehamilan abdominal,
sekitar 10% sampai 25% janin hidup,
tetapi 20% sampai 40% dengan
malformasi janin, dan hanya 50% yang
dapat bertahan hidup lebih dari satu
minggu.
Patogenesis
Patogenesis pasti kehamilan abdominal
tidak diketahui
Faktor Risiko
Tumor
Salfingitis
Kegagalan sterilisasi
Riwayat PID
Riwayat Kehamilan Abdominal
sebelumnya
AKDR
PMS
Klasifikasi
Kehamilan abdominal primer
Terjadi bila telur dari awal mengadakan
implantasi dalam rongga perut

Kehamilan abdominal sekunder


Berasal dari kehamilan tuba dan setelah
ruptur baru menjadi kehamilan abdominal
Gejala- gejala
Amenore
Segala tanda-tanda kehamilan ada, tetapi lebih
menderita karena perangsangan peritonium

Sekunder mungkin pasien pernah mengalami sakit


perut yang hebat disertai pusing dan pingsan saat
ruptur tuba

Tumor yang mengandung anak tidak pernah


mengeras ( Braxton hicks).

Pergerakan anak dirasakan nyeri oleh ibu


Bunyi jantung anak lebih jelas terdengar

Bagian anak lebih mudah teraba karena hanya


terpisah oleh dinding perut

Disamping tumor yang mengandung anak, kadang-


kadang dapat diraba benjolan lain, yaitu rahim yang
membesar.
Nasib janin yang mati di
intraabdominal sbb:
Pernanahan

Lithopedion

Adipocere
Diagnosis
Tes oksitosin
USG: tampak kerangka anak yang tinggi letaknya
dan berada dalam letak paksa.
Kuldosentesis
Penatalaksanaan

Kalau diagnosis sudah ditentukan


Operasi + (methrotrexate?)
Pengelolaan plasenta pada kehamilan abdominal
masih dalam perdebatan. Pengangkatan sebagian
plasenta dapat menyebabkan perdarahan yang
tidak terkontrol jika suplai perdarahan tidak dapat
diligasi.
Beberapa pendekatan telah dilaporkan adalah:
1) Tali pusat diligasi sedekat mungkin dengan
plasenta dan ditinggalkan in situ tanpa
pengobatan lanjutan,
2) Ligasi pada suplai pembuluh darah plasenta
dan dan kemudian dilakukan pengangkatan
plasenta beserta organ yang diimplantasi,
seperti dengan histerektomi dan salpingo-
ooforektomi
3) Plasenta ditinggalkan in situ dilanjutkan
dengan pemberian methrotrexate untuk
mempercepat destruksi dan absorbsi jaringan
trofoblas.
Beberapa penulis melaporkan sisa fungsional
plasenta masih terdapat sampai 50 hari
pasca operasi dan menghilang sempurna
sampai dengan 4 bulan pasca operasi.
Plasenta akan diabsorbsi secara perlahan.
Dilaporkan pemeriksaan ultrasonografi serial
sampai dengan 5,5 tahun setelah operasi,
gambaran daerah kecil yang menetap masih
ditunjukkan sebagai gambaran plasenta.
Diagnosis Banding

Diagnosa banding
- Usus buntu (apendisitis akut)
- Peradangan daerah panggul
Terima Kasih