Anda di halaman 1dari 16

MEMBUMIKAN ISLAM

DI INDONESIA
TRANSFORMASI WAHYU DAN IMPLIKASINYA TERHADAP
CORAK KEBERAGAMAAN

Wahyu difirmankan untuk memperpendek


proses pembacaan terhadap alam. Apabila
manusia diberi kesempatan untuk
membaca dan memahami alam dengan
segenap potensi nalar, rasa, dan jiwa yang
dimilikinya, ia akan membutuhkan waktu
yang lama untuk mencapai jawaban final.
Namun berkat Wahyu, proses yang
panjang dan berliku tersebut dapat
disingkat sedemikian rupa sehingga
manusia tidak perlu bersusah payah untuk
mendapatkan jawaban final kehidupan.
Wahyu Allah yang terbentang dalam alam
geografis dan sosial budaya Arab, akan
ditangkap oleh nabi berkebangsaan Arab dan
dibesarkan dalam tradisi intelektual Arab,
otomatis akan menjadi Wahyu yang
berbahasa Arab lengkap dengan kultur Arab
pada masa wahyu difirmankan. Contohnya
AlQuran sangat dipengaruhi oleh kultur Arab
Nabi Muhammad karena ia diturunkan kepada
Nabi Muhammad yang berkebangsaan Arab.
Namun seiring berjalannya waktu dan ruang,
Wahyu akan menyesuaikan dengan keadaan
budaya pada suatu tempat dan waktu tertentu
sehingga munculnya keberagaman corak
pemahaman agama.
Contoh Implikasi Corak Keberagaman

Pada masa klasik, pembagian Dr-al-Islm dan


Dr al-Harb (al-Kufr) tentunya sangat tepat
dan sesuai dengan kondisi saat dunia masih
dipenuhi dengan konflik antara umat Islam
dengan pemeluk-pemeluk agama lain di
bagian dunia yang lain. Namun, di era
globalisasi, ketika dunia menjadi semakin
mengecil bagaikan sebuah desa kecil, ketika
manusia semakin menyadari arti penting
perdamaian, maka term-term Dr-al-Islm dan
Dr al-Harb (al-Kufr) sudah tidak sesuai lagi,
seperti persatuan masyarakat Indonesia yang
beragam keyakinan melawan penjajah.
Hadits nabi SAW. Mengenai isbal yang
dibenci Allah karena pada zaman nabi
orang-orang sombong memanjangkan
pakaiannya melebihi mata kaki, berbeda
dengan masyarakat zaman sekarang
yang menunjukkan kesombongannya
dengan cara yang berbeda.
ALASAN PERBEDAAN EKSPRESI DAN PRAKTIK
KEBERAGAMAAN

Perbedaan ekspresi dan praktik keberagamaan


terjadi karena dua hal dominan yang
mempengaruhi system kehidupan dan system
social masyarakat yaitu dari Budaya dan
Agama. Suatu ajaran agama harus
menyesuaikan dengan budaya yang berlaku di
suatu tempat agar diterima dengan baik oleh
masyarakat. Indonesia merupakan Negara
dengan kekayaan budaya yang tinggi, tentulah
agama islam sebagai agama asing di
Indonesia harus menyesuaikan dengan
budaya Indonesia yang sangat dihormati dan
dilestarikan sejak lama.
Sejalan dengan itu, muncul pertanyaan,
bagaimana seharusnya kita mampu
memosisikan diri terkait dengan hubungan
agama dan budaya lokal? Hendaknya kita
memosisikan keduanya secara proporsional,
jangan sampai kita hanya mengakui nilai-nilai
agama sebagai satu-satunya konsep yang
mengarahkan perilaku tanpa peduli pada nilai-
nilai budaya lingkungan sekitar. Sebaliknya,
jangan pula kita hanya berpaku pada budaya
dan tradisi tanpa pertimbangan-pertimbangan
yang bersumber dari agama.
SUMBER SUMBER MENGENAI
PRIBUMISASI ISLAM
Sumber Historis

Istilah pribumisasi Islam diperkenalkan oleh Gus


Dur (KH Abdurrahman Wahid) sebagai alternatif
dalam upaya pencegahan praktik radikalisme
agama. Penghargaan Gus Dur terhadap
metamorfosis Islam Nusantara yang
menempatkan Islam secara kontekstual sebagai
bagian dari proses budaya. Kalau boleh disadari,
meskipun sedikit terlambat, tempo itu dapat
ditempatkan sebagai cara pandang futuristik Gus
Dur perihal Islam Indonesia ke depan agar tidak
terperangkap dalam radikalisme dan terorisme.
Contoh akulturasi Agama dan Budaya yang
dilakukan walisongo

Wayang sebagai Media Dakwah

Setelah agama Hindhu, Budha dan Islam masuk ke


Jawa, wayang menjadi salah satu alat untuk
menyebarkan agama. Walisongo juga menggunakan
wayang sebagai media dakwah. Karena itulah
kemudian muncul nama lakon dan cerita yang
disesuaikan dengan agama Islam. Seperti Layang
Kalimosodo yang mengajarkan kalimat syahadat,
atau para tokoh Punakawan yang merupakan
penasihan Pandawa dan membawa misi agama
Islam. Jika dibandingkan dengan cerita Pandawa
dari India, maka tidak akan ditemukan lakon-lakon
Punakawan.
Sumber Sosiologi

penduduk pribumi tampaknya tertarik dengan agama baru tersebut


karena beberapa hal, antara lain:
prinsip egalitarian atau kesejajaran manusia pada satu sisi dan
corak sufistik yang mewarnai Islam yang dibawa oleh para dai
imigran tersebut pada sisi yang lain. Ketertarikan tersebut
semakin bertambah ketika ajaran-ajaran moral tersebut telah
disederhanakan dan diformulasikan dalam budaya lokal
sedemikian rupa sehingga tampak sebagai nilai-nilai yang telah
diakrabi bangsa Indonesia kala itu. Ajaran tentang kesamaan
derajat yang dibawa Islam tentu menarik kalangan pribumi,
terutama di kalangan yang selama ini hidup dalam strata atau
kasta rendah yang sering menjadi objek eksploitasi oleh kasta di
atasnya. Pada sisi lain, corak Islam sufistik juga menarik
perhatian penduduk pribumi karena adanya titik-titik persamaan
dengan kepercayaan dan agama mereka.
Islam sufistik yang sarat dengan ajaran moral dan kontemplatif tidak
begitu asing bagi tradisi masyarakat setempat. Itulah sebabnya,
Islam bisa diterima secara damai oleh penduduk pribumi atau
setidaknya bisa hidup berdampingan dengan agama lain selama
berabad-abad.
Teologis dan Fisiologis

Secara teologis, tauhid bukan sekedar pengakuan


atau persaksian bahwa tiada Ilah selain Allah, tapi
pemaknaan terhadap tauhid melampaui dari sekedar
pengakuan atas eksistensinya yang tunggal. Jika
kita tarik pemaknaan tauhid dalam ranah realitas
ciptaan (makhluk), maka tauhid berarti pengakuan
akan pluralitas atas selain Dia (makhluk-Nya). Hanya
Dia yang tunggal, dan selain Dia adalah plural.

Secara filosofis, pribumisasi Islam didasari oleh


paradigma sufistik tentang substansi keberagamaan.
Dalam paradigma sufistik, agama memiliki dua
wajah yaitu aspek esoteris (aspek dalam) dan aspek
eksoterik (aspek luar).
Urgensi Pribumisasi Islam
Diantara perbedaan praktik ibadah yang kita temukan di masyarakat ada yang bersifat perbedaan-
variatif (ikhtilaf tanawwu), dalam arti tidak harus salah satunya benar dan yang lain salah, melainkan
kesemuanya boleh jadi benar dan mempunyai dasar. Perbedaan-perbedaan itu sering kali
disebabkan karena perbedaan pemahaman ulama mengenai suatu teks keagamaan. Adapula yang
memang karena Nabi S.A.W. sendiri pernah melakukan beberapa praktik yang berbeda, sebagai
bentuk pemberian keleluasan dan kelapangan bagi umat.
Untuk mengubah praktik yang kita anggap salah, sangat diperlukan kehati-hatian, setiap sikap dan
cara bicara yang bijak, dan pengetahuan yang memadai mengenai persoalan, jangan sampai salah
menimbulkan permusuhan atau perpecahan diantara umat.
Kita tidak perlu terlalu tersibukkan dengan perbedaan yang bersifat furuiyah (hal-hal yang bukan
pokok). Titik-titik persamaan diantara umat jauh lebih banyak daripada perbedaaannya. Dalam sholat,
kita semua masih mengahadap kiblat yang sama, menyembah tuhan yang sama.
Pada kondisi saat dunia mulai mengarah kepada peradaban global dan keterbukaan, maka ajaran
agama perlu kembali dirujuk untuk ditransformasikan nilai-nilai luhurnya sehingga dapat
memunculkan sebuah pemahaman agama dan sikap keberagamaan yang bebas dari fanatisme
sektarian, stereotip radikal, dan spirit saling mengafirkan antara sesama umat seagama, atau antara
umat yang berbeda agama. Apabila kita kembali melihat contoh rasul dengan masyarakat madaninya,
maka kita dapati bahwa potensi-potensi konflik akan dapat dielimininasi dengan mengedepankan
persamaan dalam keragaman. Artinya, Islam mengajarkan bahwa perbedaan itu adalah fitrah (given)
dari Tuhan, tetapi dalam menjalani hidup ini hendaknya kita tidak mempertajam perbedaan tersebut.
Sebaliknya, justru kita harus mencari unsur-unsur persamaan di antara kita. Sebagai ilustrasi, bisa
saja kita berbeda suku bangsa, adat, dan bahasa, tetapi kita harus mengedapankan kesadaran
bahwa ada satu persamaan yang mengikat kita semua, yaitu kesadaran bahwa kita adalah bangsa
Indonesia
Corak Islam Di Indonesia

Corak islam di Jambi


Masyarakat Jambi menerjemahkan aturan-aturan
dari Al-Quran dan Hadits dengan cara yang
sudah dimengerti olehnya. Pengertian itu
berasal dari nilai-nilai yang diajarkan oleh para
pemimpinnya.
Kepemimpinan dalam masyarakat jambi
dikategorikan menjadi 3 macam, yaitu
pemangku syara, pemangku adat, para
pejabat pemerintah. Ketiganya harus kompak,
harmonis, bersatu sebagai suatu system.
Tampaknya hal ini sebagai manifestasi iman,
islam, dan ihsan dalam ajaran islam
Pendekatan penegakan syariat islam di NAD harus mendahulukan pendidikan,
sehingga memperoleh simpati masyarakat.
Corak budaya islam di Indonesia
a. Seni Bangunan
1. Masjid
Dilihat dari segi arsitektuknya, masjid-masjid kuno di Indonesia menampakan gaya
arsitektur asli Indonesia. dengan ciri-ciri sebagai berikut.

Atapnya bertingkat/tumpang dan ada puncaknya (mustaka).


Pondasinya kuat dan agak tinggi.
Ada serambi di depan atau di samping.
Ada kolam/parit di bagian depan atau samping.
Gaya arsitektur bangunan yang mendapat pengaruh Islam ialah sebagai berikut:

hiasan kaligrafi;
kubah;
bentuk masjid.

b. Makam
Makam khususnya untuk para raja bentuknya seperti istana
disamakan dengan orangnya yang dilengkapi dengan keluarga,
pembesar, dan pengiring terdekat. Budaya asli Indonesia
terlihat pada gugusan cungkup yang dikelompokkan menurut
hubungan keluarga. Pengaruh budaya Islam terlihat pada huruf
dan bahasa Arab, misalnya Makam Puteri Suwari di Leran
(Gresik) dan Makam Sendang Dhuwur di atas bukit (Tuban).

c. Seni Rupa dan Aksara


Akulturasi bidang seni rupa terlihat pada seni kaligrafi atau seni
khot, yaitu seni yang memadukan antara seni lukis dan seni ukir
dengan menggunakan huruf Arab yang indah dan penulisannya
bersumber pada ayat-ayat
suci Al Qur'an dan Hadit. Adapun fungsi seni kaligrafi adalah
untuk motif batik, hiasan pada masjid-masjid, keramik, keris,
nisan, hiasan pada mimbar dan sebagainya.