Anda di halaman 1dari 65

SUMBER PEMBIAYAAN (II)

Chris Aditya S.
Nindia Nur A P
Sherly Meilana
Anjak Piutang (Factoring)
Pengertian Anjak Piutang
Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor
84/PMK.012/2006 Tentang Perusahaan Pembiayaan pasal 1
(e) bahwa Anjak Piutang (Factoring) adalah kegiatan
pembiayaan dalam bentuk pembelian piutang dagang
jangka pendek suatu perusahaan berikut pengurusan atas
piutang tersebut
Alasan perusahaan melakukan anjak
piutang
Bisa jadi hal ini merupakan satu-satunya sumber untuk
memperoleh kas. Ketika keadaan kas sudah menipis,
kemampuan perusahaan untuk memperoleh pinjaman
dana akan berkurang, kas yang tipis bisa menjadi
penghalang kemampuan perusahaan untuk membayar
bunga pinjaman.
Waktu dan biaya yang dikeluarkan untuk dikeluarkan
untuk penagihan memakan waktu yang lama dan biaya
yang besar. Lebih mudah bagi perusahaan untuk menjual
piutangnya dan dengan memperoleh kas yang lebih cepat
dan menghemat waktu dan biaya untuk melakukan
penagihan.
Jenis Anjak Piutang Berdasarkan
Penanggung Resiko

Recource Factoring
Without Recourse Factoring
Recourse Factoring
Anjak piutang dengan cara recourse atau disebut juga
with recourse factoring berkaitan dengan risiko debitor
yang tidak mampu memenuhi kewajibannya. Keadaan ini
bagi perusahaan anjak piutang (factor) merupakan
ancaman risiko. Dalam perjanjian with recourse,
klien akan menanggung risiko kredit terhadap piutang
yang dialihkan kepada perusahaan anjak piutang (factor).
Oleh karena itu, perusahaan anjak piutang mengembalikan
tanggung jawab (recourse) pembayaran piutang kepada
klien atas piutang yang tidak tertagih dari customer.
Without Recourse Factoring
Jenis factoring yang meletakkan beban tagihan beserta
seluruh resikonya sepenuhnya pada pihak perusahaan
factor. Jadi jika terjadi kegagalan dalam hal penagihan
piutang, hal tersebut merupakan tanggung jawab
sepenuhnya dari pihak perusahaan factor. Sementara pihak
klien tidak lagi bertanggung jawab.
Manfaat Anjak Piutang Bagi Klien
Menurunkan biaya produksi
Biaya Produksi dapat dipangkas dengan memanfaatkan diskonto dari para
pemasok karena melakukan pembelian tunai
Memberikan fasilitas pembayaran di muka
Mendapatkan kas langsung dari pernjualan dalam bulan berjalan dan tidak
perlu menunggu waktu sampai pembayaran dari konsumen
Meningkatkan daya saing perusahaan klien
Adanya jasa pembiayaan memungkinkan klien melakukan penjualan dengan
cara kredit dan hal ini bisa menarik daya Tarik bagi pembeli dengan dana
terbatas
Menghindari kerugian karena kredit macet
Pengalihan sebagian resiko tidak tertagihnya piutang kepada factor, sangat
menguntungkan bagi kelancaran dan kepastian usaha klien
Mempercepat proses ekonomi
Likuiditas perusahaan akan lebih terjamin dan modal kerja dapat terus
bergulir
Pengaruh Pajak terhadap Pembiayaan
Anjak Piutang
1. Pajak Penghasilan
Berdasarkan Surat Direktur Jendral pajak No. S-78/PJ-
311/1996 tanggal 19 April mengenai Pembebasan Pasal 23
atas penghasilan yang diperoleh Perusahaan Anjak Piutang,
ditegaskan bahwa penghasilan dari perusahaan anjak piutang
yang dilakukan oleh perusahaan pembiayaan baik yang
diterima berupa diskon, service charge dan provisi tidak
dikenakan pemotongan PP Pasal 23 oleh perusahaan yang
membayarkan. Hal ini menunjukkan bahwa klien tidak boleh
memotong pajak penghasilan pasal 23 yang terutang oleh
factor serta bagi klien peraturan ini tidak mempengaruhi
jumlah pajak yang harus dibayarkan.
Pengaruh Pajak terhadap Pembiayaan
Anjak Piutang
2. Pajak Pertambahan Nilai
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan No.
202/KMK.04 /1996 tanggal 18 April 1996 tentang Nilai Lain
dasar Pengenaan Pajak, disebutkan bahwa Penyerahan Jasa
Anjak Piutang terutang pajak pertambahan nilai sebesar
sebesar 10% x 5% x jumlah seluruh imbalan yang diterima
berupa service charge, provisi, dan diskon yang terutang
pada saat penandatanganan perjanjian pembiayaan.Adanya
peraturan tersebut, klien akan membebankan pajak
pertambahan nilai sebagai tambahan biaya, karena sifat pajak
pertambahan nilai dari transaksi anjak piutang tidak dapat
dikreditkan sebagai pajak masukan.
Contoh Kasus
PT ABC Sukses Mandiri telah mendatangani perjanjian anjak piutang
dalam rangka mendapatkan fasilitas anjak piutang financing dari PT
Multi Finance Company dengan syarat dan kondisi sebagai berikut:

Retensi anjak piutang


adalah bagian dana dari
anjak piutang yang ditahan
oleh factor untuk
menutup kemungkinan
terjadinya penyesuaian
jumlah piutang sebelum
jatuh tempo (misalnya
potongan dan / atau
pengembalian penjualan).
Leasing (Sewa Guna Usaha)
Pengertian Sewa Guna Usaha
Menurut PSAK No. 30 ( 1169/KMK.01/1991 Jo SE-
(Revisi 2007) 10/PJ.42/1994)
menyebutkan bahwa Adalah kegiatan pembiayaan
Sewa (Lease) adalah suatu dalam bentuk penyediaan
perjanjian di mana lessor barang modal baik secara
memberikan hak kepada SGU dengan hak opsi
lessee untuk menggunakan maupun
tanpa hak opsi untuk
suatu aset selama periode digunakan oleh Lessee
waktu yang disepakati. selama jangka waktu
tertentu berdasarkan
pembayaran secara
berkala.
Leese adalah perusahaan Lessor adalah perusahaan
atau perorangan yang pembiayaan atau
menggunakan barang perusahaan sewa guna
modal dengan pembiayaan usaha yang telah
dari lessor. memperoleh ijin usaha
dari Menteri Keuangan
dan melakukan kegiatan
sewa usaha.
2 Jenis Sewa Menurut PSAK No. 30
1. Sewa Pembiayaan (Finance Lease) adalah sewa yang
mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan manfaat
yang terkait dengan kepemilikan suatu aset. Hak milik pada
akhirnya dapat dialihkan, dapat juga tidak dialihkan
2. Sewa Operasi (Operating Lease) adalah sewa yang tidak
mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan manfaat
yang terkait dengan kepemilikan suatu aset
Kegiatan sewa guna usaha digolongkan sebagai sewa
guna usaha dengan hak opsi (finance lease) apabila
memenuhi semua kriteria berikut:
Jumlah pembayaran sewa guna usaha selama masa
sewa guna usaha pertama ditambah dengan nilai sisa
barang modal, harus dapat menutup harga perolehan
barang modal dan keuntungan lessor;
Masa sewa guna usaha ditetapkan sekurang-kurangnya
sebagai berikut:

- 2 (dua) tahun untuk barang modal Golongan I,


- 3 (tiga) tahun untuk barang modal II dan III
- 7 (tujuh) tahun untuk Golongan bangunan.

Penggolongan jenis barang modal ini mengacu kepada ketentuan dalam Undang -
undang Pajak Penghasilan;
Kegiatan sewa guna usaha digolongkan
sebagai sewa guna usaha tanpa hak opsi
apabila memenuhi semua kriteria berikut:

Jumlah pembayaran sewa guna usaha


selama masa sewa guna usaha pertama
tidak dapat menutupi harga perolehan
barang modal yang disewa guna usahakan
ditambah keuntungan yang diperhitungkan
oleh lessor; Perjanjian sewa guna usaha
tidak membuat ketentuan mengenai opsi
bagi lessee.
Akuntansi Perpajakan Leasing
Di dalam laporan keuangan, ketentuan mengenai aset
leasing diperlakukan sesuai dengan sudut pandang
pelapornya yaitu sudut pandang lessor dan lessee.
Perlakuan akuntansi pajak terhadap atas leasing
disesuaikan dengan jenis sewa yang disepakati (operating
atau capital/finance).
Ilustrasi Operating Lease dan
Capital Lease
Operating Lease- Lessee- (Tanpa Hak
Opsi)
Di dalam laporan keuangan lessee, Ilustrasi operating lease
adanya transaksi operating lease Pada tahun 2016 PT Bina Cita (lessee)
berdampak pada penyajian beban sewa menyewa sebuah mesin produksi dari PT
di dalam Laporan Rugi/Laba. Lesse juga Cipta Karya (lessor) dengan kesepakatan
tidak berhak mencantumkan aset yang bentuk sewa adalah operating lease. Masa
disewanya ke dalam neraca karena manfaat mesin adalah 5 tahun dan PT
secara legal tidak ada peralihan Bina Cita hanya menyewa selama satu
kepemilikan (suatu keuntungan yang tahun saja dengan nilai sewa
akan membuat rasio keuangan lessee Rp24.000.000,- per tahun. Uang sewa
menjadi bagus). Mengingat konsep untuk setahun penuh dibayarkan kepada
operating lease yang sederhana maka PT Cipta Karya pada setiap awal tahun
tidak ada penyajian informasi terkait (Januari 2016).
utang leasing dan beban penyusutan di
dalam Laporan Keuangan lessee Penjelasan dan analisis yang
(Neraca dan Laporan Rugi/Laba). Dari komprehensif mengenai aspek
sisi perpajakan, terkait adanya akuntansi dan perpajakan yang harus
transaksi operating lease ini maka lessee dilakukan oleh PT Bina Cita jika kedua
bertindak sebagai pihak pemotong PPh pihak tetap melakukan pengakuan
Pasal 23 atas sewa. Sehingga nilai sewa pendapatan dan beban untuk setiap
yang dibayarkan lessee kepada lessor bulan di pembukuan masing masing.
adalah nilai bersih yang sudah dipotong
PPh Pasal 23.
Operating Lease- Lessee- (Tanpa Hak
Opsi)
Terhadap ilustrasi diatas, maka dari sisi Sehingga ayat jurnal yang perlu dicatat oleh PT
akuntansi dan perpajakan PT Bina Cita Bina Cita untuk periode Januari 2016 adalah
harus mencatat biaya yang dibayarkan sebagai berikut:
kepada PT Cipta Karya sebagai beban Beban Sewa Rp 2.000.000
sewa. Tetapi disaat yang sama ketika
melakukan pembayaran, maka PT Bina Sewa dibayar dimuka Rp 22.000.000
Cita harus memotong PPh Pasal 23 Kas Rp23.520.000
sebesar 2% dari nilai sewa. PPh Pasal Utang PPh Pasal 23 Rp480.000
23 yang telah dipotong ini akan
menjadi utang yang wajib disetorkan
ke Kas Negara sesuai batas waktu yang
ditentukan. Aspek lain yang harus Ketika PPh Pasal 23 sudah disetor ke Kas
diperhatikan PT Bina Cita adalah Negara maka PT Bina Cipta melakukan
sehubungan dengan pembayaran yang pencatatan sebagai berikut:
dilakukan pada awal tahun sehingga
saat dilakukan pembayaran, PT Bina Utang PPh Pasal 23 Rp480.000
Cita memperoleh hak untuk Kas Rp480.000
memanfaatkan sampai dengan akhir
tahun (Sewa Dibayar Dimuka) sebesar
Rp24.000.000,- atau setara dengan
Rp2.000.000,- per bulan.
Operating Lease- Lessor- (Tanpa Hak
Opsi)
Di dalam Laporan keuangan lessor, transaksi Contoh kasus yang dapat membantu
operational lease terlihat dari adanya akun adalah sebagai contoh kasus
Pendapatan Sewa di dalam Laporan sebelumnya namun analisis dan
Rugi/Laba. Lessor juga masih wajib penjelasan diberikan dari sudut
mencantumkan leased asset sesuai dengan
nilai yang telah disusutkan secara pandang PT Cipta Karya sebagai lessor.
proporsional menurut besaran depresiasi.
Hal ini dikarenakan lessor wajib setiap tahun
menyusutkan leased asset sesuai masa
manfaat aset tersebut. Sehingga di dalam
Laporan Rugi/Laba terdapat proporsi yang
wajar antara pendapatan yang diperoleh
dengan beban penyusutan yang ditimbulkan
(matching concept). Disaat yang sama, lessor
wajib menanggung beban pemeliharaan
leased asset sehingga beban tersebut wajib
dibiayakan di dalam Laporan Rugi/Laba yang
meliputi: biaya penilai (appraisal fee), biaya
perantara (finders fee), dan biaya suku
cadang. Lessor meneriman penghasilan
melalui penyewaan leased asset kepada
lessee dengan tetap memperhatikan adanya
kewajiban untuk dipotong PPh Pasal 23 atas
transaksi tersebut.
Operating Lease- Lessor- (Tanpa Hak
Opsi)
Dari contoh sebelumnya, jika ternyata PT Sehingga ayat jurnal yang disiapkan oleh PT Cipta Karya
Cipta Karya telah menghitung nilai mesin pada Januari 2016 adalah sebagai berikut:
produksi tersebut sebesar Rp120.000.000,-. Kas Rp23.520.000
Maka berikanlah penjelasan dan analisis
yang komprehensif mengenai aspek PPh Psl23 dibayar dimuka Rp480.000
akuntansi dan perpajakan yang harus Pendapatan Sewa Rp2.000.000
dilakukan oleh PT Cipta Karya.
Pendapatan sewa diterima dimuka Rp22.000.000
Secara akuntansi aspek terpenting yang
harus dipahami bahwa ketika bulan Januari
2016 PT Cipta Karya menerima Pada akhir tahun 2016, PT Cipta Karya wajib mencatat
pendapatan yang belum sepenuhnya jurnal penyusutan atas mesin produksi sebesar
menjadi haknya sehingga disebut Rp120.000.000 dibagi secara proporsional untuk 5 tahun
Pendapatan Diterima Dimuka, yaitu yaitu Rp24.000.000,- dengan ayat jurnal sebagai berikut:
pendapatan dari pembayaran sewa untuk Beban Penyusutan-Leased Asset Rp24.000.000
bulan Februari s.d. Desember 2016. Adapun
untuk periode Januari 2016 sudah dapat Akm Beban Penyusutam Rp24.000.000
dicatat sebagai Pendapatan Sewa. Kemudian,
terhadap aliran kas masuk yang diterima PT
Cipta Karya maka PT Cipta Karya harus
mencatatnya sebagai Kas sebesar nilai
bersih setelah dipotong PPh Pasal 23 dan
mencatat pemotongan tersebut sebagai
PPh Pasal 23 Dibayar Dimuka.
Kesimpulan Operating Lease
Jadi dari ilustrasi diatas dapat diketahui bahwa Operating
Lease baik dipandang dari sisi lessee maupun lessor tidak
sama sekali melibatkan konsep bunga dan diperuntukkan
untuk masa sewa yang singkat (masa sewa tidak lebih dari
75% usia manfaat aset yang hendak disewa) dan nilai sewa
tidak melebihi 90% nilai wajar aset tersebut.
Ciri khas utama yang mudah dikenali dari Operating Lease
ini adalah tidak adanya opsi pengalihan kepemilikan aset.
Status kepemilikan tetap yakni menjadi milik lessor sampai
dengan masa sewa berakhir. Aspek akuntansi dan
perpajakan atas jenis sewa ini terbilang sederhana karena
hanya melibatkan perhitungan yang proporsional.
Capital Lease- Lessee- (Dengan Hak Opsi)
Didalam laporan keuangan lessee Dalam rangka menghitung PPh Badan,
Beban Penyusutan- Aset Leasing selama
transaksi capital lease menyebabkan masa sewa tidak diperkenankan dijadikan
kepemilikan aset dari leasing harus sebagai pengurang penghasilan bruto,
dilaporkan di dalam Laporan Posisi pembebanan diperkenankan ketika masa
Keuangan (Neraca). Diiringi dengan sewa telah habis dan Aset Leasing telah
menjadi milik lessee dengan dasar
penyajian nilai utang leasing di sisi penyusutan adalah nilai residu. Hal ini
kewajiban. Ketentuan ini membawa sebagaimana telah diatur di dalam Keputusan
konsekuensi penyajian Beban Menteri Keuangan Nomor KMK-
Penyusutan- Aset Leasing pada Laporan 1169/KMK.01/1991 dan Keputusan Direktur
Jenderal Pajak Nomor KEP-10/PJ.47/1994
Rugi/Laba dan Akumulasi Penyusutan- termasuk pula dalam hal ini Beban Bunga yang
Aset Leasing didalam Neraca. Namun, muncul sehubungan dengan transaksi capital
poin penting yang perlu diperhatikan lease.
adalah bahwa pembebanan Beban Selain itu, terkait adanya transaksi capital lease
Penyusutan- Aset Leasing selama masa ini maka lessee tidak boleh bertindak sebagai
pihak pemotong PPh Pasal 23 atas sewa.
sewa hanya diperkenankan untuk Sehingga nilai sewa yang dibayarkan lessee
kepentingan komersial. kepada lessor adalah nilai bersih tanpa dipotong
PPh Pasal 23.
Capital Lease- Lessee- (Dengan Hak Opsi)
ilustrasi capital lease Sewa dapat dibatalkan, dan
Pada 1 Januari 2012, PT PT Bianglala akan dikenakan
Pelangi menyewakan peralatan penalti yang tidak signifikan.
kepada PT Bianglala. Peralatan PT Bianglala akan
tersebut seharga 2.000.000 mengembalikan peralatan
(Nilai wajar peralatan). kepada PT Pelangi pada akhir
Perjanjian sewa mengandung masa sewa. Present Value
klausul klausul berikut ini: (Nilai Kini) dari pembayaran
sewa minimum (dihitung
Masa Sewa 8 tahun
dengan menggunakan tingkat
Pembayaran tahunan setiap bunga implisit 11.65%)
1/1 sebesar 450.000 adalah Rp1.827.100
Masa manfaat peralatan 10
tahun
Estimasi nilai sisa pada akhir
masa sewa adalah 300.000
Capital Lease- Lessee- (Dengan Hak Opsi)
Dari kasus diatas, untuk
memastikan jenis sewa yang tepat
maka dapat dilakukan sejumlah uji
kriteria sebagai berikut:
Setelah melakukan uji
kriteria, maka dapat
disimpulkan bahwa
transaksi sewa antara PT
Bianglala selaku lessee
dengan PT Pelangi selaku
lessor adalah capital lease.
Capital Lease- Lessee- (Dengan Hak Opsi)
Analisis selanjutnya Pencatatan yang dilakukan lessee
adalah mekanisme harus mengikuti besaran
pencatatan komersial angsuran setiap tahun yang
(penting dipahami dihitung sebagai berikut:
bahwa dalam Present Value of minimum lease
ketentuan perpajakan payments : Rp1.827.100
atau fiskal, lessee tidak
diperkenankan
mengakui beban
penyusutan atas Aset
Leasing dan Beban
Bunga) yang harus
dilakukan lessee pada
laporan keuangannya.
Capital Lease- Lessee- (Dengan Hak Opsi)
Jurnal yang dicatat oleh PT Bianglala
(lessee) untuk tahun 2012 s.d. tahun
2015 adalah sebagai berikut:
Capital Lease- Lessee- (Dengan Hak Opsi)
Jurnal yang dicatat oleh PT Bianglala
(lessee) untuk tahun 2012 s.d. tahun
2015 adalah sebagai berikut:
Capital Lease- Lessor- (Dengan Hak Opsi)
Di dalam laporan keuangan transaksi capital lease terlihat dengan adanya akun
Pendapatan Sewa dan Pendapatan Bunga. Sama halnya seperti pada sudut pandang
lessee, pada Capital Lease, Lessor juga masih wajib mencantumkan leased asset
sesuai dengan nilai yang telah disusutkan secara proporsional menurut besaran
depresiasi. Hal ini dikarenakan lessor wajib setiap tahun menyusutkan leased asset
sesuai masa manfaat aset tersebut. Sehingga di dalam Laporan Rugi/Laba terdapat
proporsi yang wajar antara pendapatan yang diperoleh dengan beban penyusutan
yang ditimbulkan (matching concept).
Disaat yang sama, lessor wajib menanggung beban pemeliharaan leased asset
sehingga beban tersebut wajib dibiayakan di dalam Laporan Rugi/Laba yang
meliputi: biaya penilai (appraisal fee), biaya perantara (finders fee), dan biaya suku
cadang. Bila dianalisis, maka terdapat dua pembebanan biaya penyusutan aset pada
Capital Lease yakni oleh lessor dan lessee. Dari sisi perpajakan hal ini
menyebabkan terkoreksinya (negatif) potensi PPh akhir tahun (PPh Pasal 25/29)
yang harus ditanggung keduanya. Sehingga ketentuan perpajakan hanya
memperkenankan pembebanan biaya penyusutan oleh lessor dan adapun lessee
hanya diperkenankan melakukan hal tersebut jika hak opsi dimanfaatkan dan aset
beralih kepemilikan dengan dasar penyusutan sebesar nilai sisanya.
Capital Lease- Lessor- (Dengan Hak Opsi)
Contoh kasus yang dapat mewakili
sudut pandang ini adalah sebagaimana
pada kasus PT Pelangi sebagai lessor :
Capital Lease- Lessor- (Dengan Hak Opsi)
Contoh kasus yang dapat mewakili
sudut pandang ini adalah sebagaimana
pada kasus PT Pelangi sebagai lessor :
Kesimpulan Capital Lease
Dari jurnal diatas dapat terlihat bahwa aspek akuntansi
yang perlu diperhatikan pihak lessor adalah adanya
pengakuan pendapatan atas penghasilan berupa
pendapatan sewa dan pendapatan bunga. Keduanya
dicantumkan di dalam Laporan Rugi/ Laba sebagai
pendapatan operasional untuk pendapatan sewa
sedangkan untuk pendapatan bunga merupakan
pendapatan lainnya. Selain itu, lessor diperkenankan
membebankan biaya penyusutan yang dihitung dengan
metode garis lurus sebagai pengurang pendapatan. Dari
penjelasan diatas dapat terlihat pula bahwa tidak aspek
transaksi PPh Pasal 23 atas sewa dengan mekanisme
capital lease.
Contoh Jurnal Penyusutan
Operating Lease (SGU Tanpa Hak Opsi)
Jurnal Lessee
Beban Sewa xxx
Sewa Dibayar Dimuka xxx
Kas xxx
Utang PPh Pasal 23 xxx

Jurnal Lessor
Kas xxx
PPh Psl 23 Dibayar Dimuka xxx
Pendapatan Sewa xxx
Pendapatan Sewa Diterima Dimuka xxx
Beban Penyusutan Mesin xxx
Ak. Beban Penyusutan Mesin xxx
Capital / Financial Lease (Dengan Hak
Opsi)
Jurnal Lessee
Aset Leasing xxx
Utang Leasing xxx
Utang Leasing xxx
Kas xxx
(Pembayaran angsuran)

Beban Penyusutan Mesin xxx


Ak. Beban Penyusutan Mesin xxx

Utang Bunga xxx


Utang Leasing xxx
Kas xxx
Capital / Financial Lease (Dengan Hak
Opsi)
Jurnal Lessor
Piutang Leasing xxx
Aset Leasing xxx
Kas xxx
Pendapatan Sewa xxx
(Pembayaran angsuran)

Beban Penyusutan Mesin xxx


Ak. Beban Penyusutan Mesin xxx

Kas xxx
Pendapatan Bunga xxx
Pendapatan Sewa xxx
Contoh kasus leasing
Dalam rangka meningkatkan produksinya, PT ABC
merencanakan menambah sebuah mesin dengan harga
Rp 1.000.000.000. PT ABC sedang mempertimbangkan
untuk membeli langsung atau menggunakan sewa guna
usaha dengan hak opsi. Dengan diketahui tingkat suku
bunga sebagai berikut:

Bunga pinjaman : 20% (digunakan sebagai


tingkat diskon)
Bunga sewa guna usaha : 22%
Umur aset : 4 tahun
Guna Usaha dengan Hak Opsi atau membeli
mesin baru ?
Pengadaan Mesin Melalui Sewa Guna usaha
dengan Hak Opsi
Setelah melakukan perhitungan biaya angsuran
pengadaan mesin melalui sewa guna usaha dengan hak
opsi yang menggunakan tingkat suku bunga 22% dan
tingkat diskon 20% selama 4 tahun atau 48 bulan, maka
didapat hasil berikut:
Penyusutan Mesin yang di Beli dan di sewa guna
usahakan dengan hak opsi dengan tingkat diskon 20%.
Nilai aset : Rp100.000.000
Metode penyusutan : saldo menurun
Umur Aset : 8 tahun
Pengadaan Mesin Melalui Pembelian
Beban Penyusutan dan Nilai Tunainya
Nilai Aset : Rp 1.000.000.000
Umur mesin : 8 tahun
Metode Penyusutan : Saldo menurun
Tingkat diskon : 20%
Hybrid Financial Instruments

Dapat didefinisikan sebagai intrumen keuangan yang


memiliki karakteristik ekonomi yang tidak konsisten, baik
secara parsial maupun secara keseluruhan terhadap
bentuk legalnya. Sementara itu, OECD mendefinisikan
hybrid financial instrument sebagai intrumen keuangan yang
diklasifikasikan berbeda diantara negara negara yang
terlibat dalam transaksi intrumen tersebut.
Pada dasarnya, sumber pembiayaan perusahaan secara garis besar
terdiri dari 4 hal, yaitu:
Pendanaan internal, misalnya dengan menahan laba
Pendanaan melalui modal (equity financing) dan distribusi laba
(distributing dividend)
Pendanaan melalui utang (debt financing)
Anjak piutang (factoring) dan leasing
Namun, walaupun demikian, ada kalanya untuk meningkatkan
pembiayaan, suatu perusahaan perlu menggunakan lebih dari satu
sumber pembiayaan, sehingga perhitungan akuntansi dan pajaknya
merupakan gabungan dari jenis pembiayaan yang dipilih.
Salah satu instrumen keuangan yang saat ini banyak digunakan oleh
perusahaan dalam melakukan investasi adalah hybrid financial instruments. Dari
sisi pertimbangan komersial, inovasi instrumen keuangan dengan menggunakan
hybrid financial instruments akan memberikan keuntungan bagi perusahaan saat
menghadapi risiko investasi yang besar. Inovasi instrumen keuangan dalam
hybrid financial instruments dapat dilihat dari karakteristiknya yang
mencampurkan karakteristik instrumen utang dan juga karakteristik instrumen
modal.

Utang Modal

Dana akan dikembalikan dalam jangka waktu Dana hanya akan dikembalikan pada saat
yang telah ditetapkan
likuidasi

Imbalan dari utang harus tetap dibayar Imbalan dari penyertaan modal tergantung
meskipun penerima utang dalam keadaan dari performa usaha penerima modal
merugi
Dalam keadaan likuidasi, pemberi utang Hak pemberi mdoal (pemegang saham) atas
(kreditor) memiliki hak prioritas atas aset asset merupakan hak tagih terakhir setelah
kreditor
Pemberi utang (kreditor) tidak memiliki Pemberi modal (pemegang saham) memiliki
kontrol atas perusahaan
kontrol atas perusahaan
Contoh hybrid financial instruments
Saham preferen
Shareholder loan
Participation bonds
Convertible bonds
Warrant bonds
Dalam aspek pajaknya, hybrid financial instrument seringkali digunakan dalam
perencanaan pajak pada tingkat internasional karena terdapat perbedaan dalam
pengklasifikasian dan perlakuan pajak di beberapa negara yang mengakibatkan peluang
tax arbitrage meningkat. Hybrid financial instruments sering digunakan untuk tujuan
penghindaran pajak (tax avoidance) melalui profit shifting yang mengakibatkan dasar
pengenaan pajak dalam negeri suatu negara bisa terkikis (Base Erosion Effect). Isu ini
membuat OECD membahas secara mendetail dalam laporannya yang berjudul
Addressing BEPS (Base Erosion Profit Sharing). Dalam laporan tersebut, OECD
memaparkan bagaimana BEPS menjadi ancaman serius terhadap penerimaan,
kedaulatan, dan keadilan dalam sistem perpajakan. Hal ini menandakan bahwa isu BEPS
ini tidak hanya dihadapi oleh negara-negara berkembang saja, melainkan juga negara-
negara maju yang merupakan negara asal dari perusahaan multinasional.
Tujuan perpajakan yang dapat dicapai dengan
menggunakan instrumen keuangan hibrid dalam
perencanaan pajak adalah sebagai berikut:

a. Memperoleh pengurangan ganda (double dipping) atas


pembayaran bunga
Perusahaan yang memungkinkan pembebanan bunga
b.
pada suatu negara dan tidak dikenakan pajak di negara
lainnya
Mengatasi tax avoidence rule dengan struktur
c.
pembiayaan yang menghindari permasalahan thin-
capitalization rule atau aturan back-to-back loan
Menghindari atau mengurangi tarif pemotongan pajak
d.
penghasilan dan pajak atas laba pengalihan harta
Menunda penerimaan penghasilan atau mendapatkan
e.
pengurangan pajak secara dini
Suatu instrumen keuangan hybrid yang bertujuan
memanfaatkan perbedaan sistem perpajakan di antara
dua negara dan tidak memiliki tujuan komersial yang
bonafide mengakibatkan dasar pengenaan pajak dalam
negeri suatu negara bisa terkikis sehingga hal ini
dianggap sebagai bentuk penghindaran pajak yang
menjadi ancaman serius berbagai negara dan saat ini
berupaya diatasi melalui reformasi pajak
Saat ini, Indonesia belum memiliki ketentuan pencegahan
penghindaran pajak baik secara khusus maupun umum
yang dapat menangkal praktik penghindaran pajak melalui
penggunaan instrumen keuangan hybrid. Walaupun
otoritas pajak Indonesia memiliki wewenang untuk
merekarakterisasi transkasi utang sebagai modal, namun
dengan tidak adanya peraturan yang dapat digunakan
sebagai batasan antara utang dan modal menjadi kendala
bagi kepastian hukum menjustifikasi wewenang otoritas
pajak tersebut.