Anda di halaman 1dari 108

Pembahasan

Pediatric
modul 1
UKMPPD Batch IV
Tropic
infeksi
1. E. Diare dengan dehidrasi berat
Keyword
S:bayi laki-laki usia 9 bulan diare sejak 4 hari yang
lalu.diare sebanyak 10-15 x/hari, tidak berlendir, tidak
berdarah. Riwayat minum susu Formula
O: kesadaran letargi , anak terlihat sangat lesu dan tidak
mau minum susu, turgor kembali lambat, mata sangat
cekung, diaper rash (+).
Pemeriksaan penunjang : clinitest (+).
Dignosa kerja : Diare dengan dehidrasi berat
Etiologi : Intoleransi Laktosa (diare tanpa lendir&darah,
diaper rash (+) , clinitest (+) untuk menentukan ada/
tdknya glukosa dalam feses
Derajat Dehidrasi
Derajat Keadaan Rasa
Air Mata Mulut Turgor Urin
Dehidrasi Umum Haus
Tanpa Minum
Baik, CM Normal Basah Normal Normal
dehidrasi spt biasa
Minum Pucat,
Dehidrasi
Rewel, seperti produksi CRT<2s,
ringan- Kering Berkurang
gelisah kehausa kurang turgor
sedang
n lambat
Pucat,
Letargis,
tidak CRT>2s,
Dehidrasi lemah, Sangat
mau tidak ada turgor Tidak ada
berat penurunan kering
minum sangat
kesadaran
lambat
Tatalaksana WHO (5 pilar)
1. REHIDRASI
TANPA DEHIDRASI (PLAN A)
< 2 tahun : 50 sampai 100 ml setiap kali BAB
> 2 tahun: 100 sampai 200 ml setiap BAB
DEHIDRASI RINGAN-SEDANG (PLAN B)
Rehidrasi oralit per oral 3 jam pertama 75 cc/kgBB
Evaluasi status hidrasi setelah 3 jam
- DEHIDRASI BERAT (PLAN C)
2. TERAPI NUTRISI
Pemberian ASI harusdilanjutkan
Beri makan segera setelah anak mampu makan
Jangan memuasakan anak
Kadang-kadang makanan tertentu diperlukan selama diare
Makan lebih banyak untuk mencegah malnutrisi
3. TERAPI MEDIKAMENTOSA
Antibiotik, bila terdapat indikasi (eg. kolera, shigellosis,
amebiasis, giardiasis)
Probiotik
4. ZINC
< 6 bulan: 10 mg
> 6 bulan: 20 mg
Di berikan selama 10 hari
5. EDUKASI
Tanda-tanda dehidrasi, cara membuat ORS, kapan dibawa ke RS,
dsb.

Sumber: Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. WHO. 2008


2. D. Ascaris Lumbricoides
Keyword
S: Seorang anak 5 tahun dibawa ibunya ke puskesmas
dengan keluhan tidak nafsu makan dan perut
membuncit.
O: Anak dengan status gizi buruk
Px tinja:Telur dalamnya terdapat sel dan dinding luar dan
dalamnya tebal,dinding luarnya dilapisi oleh lapisan
albuminoid yang berbentuk seperti renda (khas untuk
Ascariasis)
Dx kerja : Gizi buruk et causa Ascariasis
Ascaris lumbricoides
GEJALA: Pneumonitis with cough
(loofler Syndrom), intestinal blockage,
vomit, abd pain.
INFEKSI: Telur berisi larva
DIAGNOSA : telur dengan dinding 3
lapis:
Albuminoid
Hialine
Viteline
TH/
Albendazole 400mg singgle dose,
Mebendazole 1-3 hari
Pirantel Pamoat 10mg/kgBB
Pilihan lain
Trichuris triciuraTelur bentuk tempayan di
ujungnya ada 2 kutub (double knob)

Necator americanus & A.Duodenale Telur


berdinding tipis & bening.

Oxyuris vermicularis Lonjong


asimetris,lebih datar satu sisi
3. Demam Berdarah Dengue
Keyword
S: Anak usia 7 tahun dibawa ke puskesmas oleh ibunya
dengan keluhan demam yang sudah dialami sejak 4 hari
yang lalu.3 jam yang lalu anaknya mimisan.
O: TD: 100/70 mmHg, N: 102x/menit, RR: 22x/menit, Suhu
39 C
Lab: Hb 11 g/dL,leukosit: 8600/mm3, trombosit: 78000/mm3,
HT: 40% hemokonsentrasi=Tanda kebocoran plasma.
Jawaban : Demam berdarah dengue
Demam Dengue VS DHF

Ingat perbedaan Demam Dengue VS Demam


berdarah Dengue Perbedaanya adalah pada DBD
terjadi kebocoran plasma,dimana salah satu
tandanya adalah kadar HT.
HT menggambarkan viscositas darah dalam
pembuluh darah HT = 3 x HB
Di soal (Hb : 11 g/dl , HT : 44%)
Kriteria diagnosa DBD
1. Demam atau riwayat demam akut, antara 2-7 hari, biasanya bifasik
2. Terdapat minimal satu dari manifestasi perdarahan
Uji torniquet positif (>20 petekie dalam 2,54 cm2)
Petekie, ekimosis, atau purpura
Perdarahan mukosa,saluran cerna,bekas suntikan, atau tempat lain
Hematemesis atau melena
3. Trombositopenia (<100.000/mm3)
4. Terdapat minimal satu tanda-tanda plasma leakage
Hematokrit meningkat >20% dibanding hematokrit rata-rata pada usia,
jenis kelamin, dan populasi yang sama
Hematokrit turun hingga >20% dari hematokrit awal, setelah
pemberian cairan
Terdapat efusi pleura, efusi perikard, asites, dan hipoproteinemia
Pilihan lain
Idiopathic Trombositopenia Purpura (ITP) gejala
Non palpable petechiae, Purpura, Perdarahan
Tanpa di sertai demam, di cetuskan riwayat infeksi
sebelumya.
Tdk ada kebocoran plasma
Malaria: Demam
Morbili: 3 C (Cough,Coriza,Konjungtivitis) Demam dengan
ruam makopapular, koplik spot di mukosa bukal.
Demam typoid : Stepwise fever pattern pola demam
dimana suhu akan turun di pagi tapi tdk sampai normal,dan
sore hari demam meningkat.
4. D. Demam bedarah dengue grade III
Keyword
S: Anak usia 7 tahun dibawa ke puskesmas oleh ibunya
dengan keluhan demam yang sudah dialami sejak 4 hari
yang lalu.3 jam yang lalu anaknya mimisan Ada tanda
perdarahan spontan.
O: TD: 100/70 mmHg, N: 102x/menit, RR: 22x/menit, Suhu
39 C
Lab: Hb 11 g/dL,leukosit: 8600/mm3, trombosit: 78000/mm3,
HT: 40% hemokonsentrasi=Tanda kebocoran plasma.
Jawaban : Demam berdarah dengue grade III
Klasifikasi DBD (WHO) 1997
Derajat DBD diklasifikasikan dalam 4 derajat (pada setiap
derajat sudah ditemukan trombositopenia dan
hemokonsentrasi) berdasarkan klassifikasi WHO 1997:
1. Derajat I : Demam Dengue + RL (+)
2. Derajat II : Demam Dengue + Perdarahan Spontan
3. Derajat III : Kegagalan sirkulasi nadi cepat dan lambat,
tekanan nadi (20mmHg atau kurang) atau hipotensi,
sianosis di sekitar mulut, kulit dingin dan lembab.
4. Derajat IV : Syok berat, nadi tak teraba, tekanan darah
tak terukur.
DBD derajat III & IV Dengue Syok Syndrom (DSS)
Kriteria Klinis WHO 2009

Dengue tanpa tanda Dengue dengan tanda


Dengue berat (severe
bahaya (without bahaya (with warning
dengue)
warning sign) sign)
Pilihan lain
Demam Dengue:Gejala infeksi dengue,
Hemokonsentrasi (-)
DHF grade I: Demam dengue + RL (+)
DHF grade II: Demam Dengue + Perdarahan Spontan
DHF grade IV: Syok berat, Nadi lemah , tekanan
darah tak terukur
5.E Polio
Keyword
S: Anak 9 tahun keluhan tidak bisa jalan sejak 6 bulan yang
lalu. keluhan dialami pada kaki saja namun menjalar ke
tangan Riwayat trauma saat kecil (-), Riwayat menderita
radang tenggorokan sebelumnya tidak ada diagnosa
defferential GBS)
O:motorik pada keempat ekstremitas= 0, sensoris (+)
Diagnosa: Poliomyelitis
Imunisasi pencegahan : Polio
Poliomielitis
Poliomielitis merupakan penyakit virus dengan penularan cepat dan mengenai
sel anterior masa kelabu medulla spinalis dan inti motorik batang otak dan
akibat kerusakkan tersebut terjadi kelumpuhan dan atrofi otot.
Pemeriksaan fisik neurologis
Otot-otot tubuh terserang paling akhir
Sensorik biasanya normal
Gangguan Reflek tendon dalam biasanya mulai terlihat 3-5 minggu setelah
paralisis, dan menjadi lengkap dalam waktu 12- 15 minggu serta bersifat
permanen.
Gangguan fungsi otonom sesaat, biasanya ditandai denganretensi urin.
Tanda-tanda rangsang mingineal
Gangguan saraf kranial (poliomielitis bulbar).
Dapat mengenai saraf kranial IX dan X atau III.
Bila mengenai retikularis di batang otak maka terdapat ganguan bernafas,
menelan, dan sestem kardiovaskuler
Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan darah biasanya dalam Isolasi virus polio


batas normal. Dapat diperoleh dari asupan
Laju endap darah meningkatkan tenggorak satu minggu
sedikit, lekopenia/lekositosis ringan sebelum dan sesudah
terjadi pada stadium dini. paralisis
Cairan serebrospinalis Dari tinja pada minggu 2-6
Biasanya tekanan serebrospinalis minggu bahkan sampai 12
nermal, cairan liquor jernih; minggu setelah gejala klinis
pleositosis antara 15-500 sel/mm3, Pemeriksaan imunoglobulin
dengan sel limposit yang mempunyai nilai diagnostik, bila
predominan tetapi pada stadium terjadi kenaikan titer antibodi 4x
awal sel PMN lebih dominan. dari imunoglobulin G (IgG) atau
Kadar protein normal pada minggu imunoglobulin M (IgM) yang
ke-1, meningkat pada minggu ke-2 positip.
dan ke-3. Kadar glukosa dan
klorida dalam batas normal.
6.C Plasmodium Vivax
Keyword
Subjektif: Anak laki laki usia 10 tahun keluhan demam
setiap 2 hari sekali (kemungkinan penyebab Malaria
Falcifarum, malaria oval & vivax)
Objektif: TD 100/60, RR 22x/menit, nadi 90x/menit,
Lab : Apusan darah tepi eritrosit membesar, granular,
schuffner dot (+) Khas untuk Plasmodium Vivax dan Oval
Plasmodium Vivax paling banyak di indonesia
Dignosa etiologi : Plasmodium Vivax
Identifikasi pola demam malaria
Malaria dengan pola demam selang tiga hari (tiap 72
jam) malariae (kuartana)
Malaria dengan pola demam selang dua hari (tiap 48
jam) vivax/ovale (tertiana)
Malaria dengan pola demam tidak teratur
falciparum
Ciri khas Plasmodium
P.falsiparum P.vivax P.ovale P.malariae
Malaria
Malaria Malaria
Penyakit falsiparum/tropika/ Malaria ovale
vivax/tersiana malariae/kuartana
tersiana maligna
Vektor Anopheles sp.
Distribusi geografik Seluruh kepulauan Seluruh kepulauan Irian Jaya, Pulau Papua Barat, NTT,
di Indonesia di Indonesia di Indonesia Timor Sumatera Selatan
Hipnozoit - + + -
Daur eritrosit Tiap 48 jam Tiap 48 jam Tiap 48 jam Tiap 72 jam
Eritrosit yang Muda, normosit, Retikulosit, Retikulosit,
Normosit
dihinggapi tua normosit normosit muda
Pembesaran
- ++ + -
eritrosit
Titik-titik di
Maurer Schuffner Schuffner (James) Ziemann
eritrosit
Bulat/oval (1/3 Band/pita,
Bentuk trofozoit Cincin, marginal,
Cincin (1/3 eritrosit) eritrosit) basket/keranjang,
intra eritrosit accole (1/6 eritrosit)
rossete, bulat
Bentuk gametosit Pisang Bulat/lonjong Bulat Bulat
Pigmen warna Hitam Kuning tengguli Tengguli tua Tengguli hitam
Tatalaksana malaria tanpa komplikasi
Endokrin & Metabolik
7. B. Pubertas prekoks tergantung
gonadotropin
Keyword
S: Anak 8 thn, payudara membesar tidak sesuai dengan
usia, terdapat bulu pubis 1 bulan yang lalu
O: Peningkatan hormon LH, pada radiologi terdapat
akselerasi umur tulang
Diagnosa: Pubertas prekoks tergantung gonadotropin
Pubertas Prekoks
Pubertas Prekoks:Muncul tanda pubertas pubertas pada
umur < 8 thn pada wanita & 9 tahun pada laki-laki
Klasifikasi
Pubertas prekoks dependent/ tergantung gonadotropin:
pubertas prekoks yang disebabkan oleh aktivitas prematur
dari poros hipotalamus-hipofisis
Pubertas prekoks independent/ tidak tergantung
gonadotropin: Pubertas prekoks yang disebabkan sekresi
gonadotropin ektopik atau sekresi steroid seks otonom
dan tidak dipengaruhi oleh poros hipotalamus-hipofisis-
gonad
Pada keduanya terdapat akselerasi tulang panjang.
Perbedaanya level LH pada tipe independen normal ,
sedangkan tipe dependen level LH meningkat.
Pilihan Lain

Pubertas prekoks independen gonadotropin: Perbedaanya


level LH pada tipe independen normal
Delayed puberty: Normal ages for puberty are 8-13 years in
girls (breast budding), and 9-14 years in boys (testicular
enlargement).
Pubertas prekoks parsial
Hipertrofi adrenal kongenital
8. C. Marasmus-Kwashiorkor
Keyword Marasmus
Wajah seperti orang tua (old
S: Anak-anak , Usia 10 tahun. man face)
KU: lemah. kulit terlihat longgar
O: Gizi kurang, badan kurus, Iga gambang
Kulit paha berkeriput
jaringan subkutis sedikit, otot
baggy pant
hipotrofi, edema di dorsum
Kwashiorkor
pedis dan wajah, rambut Edema
kemerahan mudah tercabut. Rambut kemerahan kaya
Diagnosa: Marasmus jagung mudah dicabut
kurang aktif, rewel/cengeng
kwashiorkor crazy pavement dermatosis
Marasmus Kwashiorkor
Campuran Keduanya
Malnutrisi
Ditegakkan berdasarkan tanda dan gejala klinis serta
pengukuran antropometri
Anak di diagnosis gizi buruk jika
BB/TB < -3 SD atau <70% dari median (marasmus)
Edema pada kedua punggung kaki sampai seluruh
tubuh (kwashiorkor: BB/TB >-3SD ) atau
Marasmik-kwashiorkor: BB/TB <-3SD

Sjarif DR. Nutrition management of well infant, children, and adolescents. Scheinfeld NS.
Protein-energy malnutrition. http://emedicine.medscape.com/article/1104623-overview
Marasmus : Defisiensi Energi
Wajah seperti orang tua (old
man face)
kulit terlihat longgar
Iga gambang
Kulit paha berkeriput
Kulit di pantat berkeriput
(baggy pant )
Kwashiorkor : Defisiensi Protein
Edema
Rambut kemerahan kaya
jagung mudah dicabut
kurang aktif, rewel/cengeng
Kelainan kulit berupa bercak
merah muda yg meluas &
berubah warna menjadi
coklat kehitaman dan
terkelupas (crazy pavement
dermatosis)
Marasmus-Kwashiorkor
Gastroenterohepatologi
9.C. IgM anti HAV
Keyword
S: anak 10 tahun keluhan mata kuning sejak 1 hari BAK
berwarna seperti teh pekat.Dua orang teman sekolah
pasien mengalami sakit yang sama. Riwayat transfusi (-)
Riwayat mendapatkan suntikan / mencabut gigi (-)
bukan di tularkan lewat darah (hepatitis B,C) Kemungkinan
di tularkan Fecal oral (Hepatitis A dan E)
O: Sklera ikterik , hepatomegali (+)
Pemeriksa penunjang: IgM anti HAV
Hepatitis Virus A
Virus RNA (Picornavirus)
Kebanyakan kasus pada usia <5 tahun
asimtomatik atau gejala nonspesifik
Rute penyebaran: fekal oral; transmisi
dari orang-orang dengan memakan
makanan atau minuman
terkontaminasi, kontak langsung.
Inkubasi: 2-6 minggu (rata-rata 28 hari)
Gejala bersifat akut:
Demam, malaise, mual, muntah,
anoreksia, gejala abdomen
Ikterus,nyeri abdomen kanan atas

Behrman RE. Nelsons textbook of pediatrics, 19th ed. McGraw-Hill; 2011.


10.D Cotrimoksazol
Keyword
Subjektif : laki-laki berusia 9 tahun mengeluh diare sejak 2
minggu yang lalu dan semakin memberat hingga mencapai
9 x/hari,d isertai lendir dan darah, demam dan nyeri perut
(+)
Objektif : nadi 90 x/menit, nafas 26 x/menit, suhu 390C
Anak dengan keluhan Diare berdarah dan berlendir harus di
curigai disentri basiler (Shigelosis)
Th/ : Cotrimoksazol
Syndrom Disentri
Bakteri (Disentri basiler)
Shigella, penyebab disentri yang terpenting dan tersering
(60% kasus disentri yang dirujuk serta hampir semua
kasus disentri yang berat dan mengancam jiwa disebabkan
oleh Shigella.
Escherichia coli enteroinvasif(EIEC)
Salmonella
Campylobacter jejuni, terutama pada bayi
Amoeba (Disentri amoeba)
Disebabkan Entamoeba hystolitica, lebih sering pada anak
usia > 5 tahun
Pendekatan Klinis
DISENTRI BASILER DISENTRI AMOEBA
Diare mendadak yang disertai Diare disertai darah dan lendir
darah dan lendir dalam tinja dalam tinja.
Frekwensi > 10x/har Frekuensi BAB umumnya lebih
Panas tinggi (39,5 -40 C), sedikit daripada disentri basiler
kelihatan toksik. (10x/hari)
Muntah-muntah, Anoreksia. Sakit perut hebat (kolik)
Sakit kram di perut dan sakit di
anus saat BAB Gejala konstitusional biasanya
tidak ada (panas hanya ditemukan
pada 1/3 kasus).
Tatalaksana
Anak dengan disentri harus dicurigai menderita shigellosis.
Pilihan utama untuk Shigelosis (menurut anjuran WHO):
Kotrimoksazol (trimetoprim 10mg/kbBB/hari dan
sulfametoksazol 50mg/kgBB/hari) dibagi dalam 2 dosis,
selama 5 hari.
Alternatif yang dapat diberikan: Ampisilin
100mg/kgBB/hari/4 dosis, Cefixime 8mg/kgBB/hari/2
dosis, Ceftriaxone 50mg/kgBB/hari, Asam nalidiksat
55mg/kgBB/hari/4 dosis.
Terapi antiamebik diberikan dengan indikasi:
Ditemukan trofozoit Entamoeba hystolistica tinja.
Pengobatan : Metronidazol 30-50mg/kgBB/hari dibagi
dalam 3 dosis selama 5 hari.
HEMATOLOGI
11.C Thalasemia
Keyword
Anemia Hipokrom mikrositer ( MCV < 80 fl)
Hepatosplenomegali
Apusan darah tepi : mikrositik hipokrom, jumlah eritrosit di
bawah normal, retikuloblastosis,normoblast (+), anisositosis,
poikilositosis
DD : FETHAL CIDERA KRONIK Def Fe, Thalasemia, Sideroblastic,
Infeksi kronik.
Sel target merupakan sel patognomonik yang ditemukan pada
keadaan hemolisis sehingga diagnsosis pada pasien ini adalah
thalassemia.
Hemolisis pada thalassemia terjadi akibat presipitasi rantai
hemoglobin Ikterik
Thalasemia
Definisi: Penyakit genetik dgn Manifestasi Klinis
supresi produksi hemoglobin Terjadi pada anak-anak
karena defek pada sintesis rantai riwayat keluarga (+)
globin Pucat kronik
Diturunkan secara autosomal Ikterik bilirubin indirek
resesif ( dari ayah ke ibu)
Gangguan pertumbuhan
Klasifikasi tulang
Secara Rantai Hb : Hepatosplenomegali
Thalassemia Alfa &
Thalassemia Beta Perubahan bentuk wajah:
facies cooley
Secara Klinis : Thalasemia
Mayor & Thalasemia
Minor/Asimtomatis
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan darah
Darah rutin : Hb , MCV , MCH
, MCHC , Rt
Apusan darah tepi
Hipokrom-mikrositer
Anisositosis,poikilositosis,sel
target
Howell-Jelly body,basophilic
Elektroforesis HB Gold standar
HbF , HbA2 n/ , Tidak
ditemukan HbA
Foto RO : Hair on and Apperance
Pilihan Lain

Anemia hemolitik : MCV 80-95 fl Normokrom normositer


Anemia defisiensi Besi : MCV < 80 fl, Anemia mikrositik
hipokrom Serum Iron , Feritin, TIBC , Sel pencil.
Anemia vitamin B12: MCV > 100 fl , Anemia makrositik

MCV: rata-rata volume eritrosit (femtoliter


m3)
MCH: rata-rata massa hemoglobin per
eritrosit (pikogram)
MCHC: rata-rata hemoglobin pada sel-sel
darah merah dengan volume tertentu (g/dl)
RDW: koefisien variasi volume sel darah
merah.
12.D Hitung Jumlah platelet
Keyword
S: Anak 5 tahun muncul bintik-bintik merah di tangan yang
tidak nyeri dan tidak gatal, Riwayat demam (-) ,Riwayat
keluhan yg sama sebelumnya (-), Riwayat keluarga (-)
untuk menyingkirkan Hemofili , Von Wildebrand Disease
Riwayat pemakaian AB (-) bukan suatu proses alergi
O: bintik-bintik merah di tangan tidak gatal (ptekie)
Kemungkinan diagnosa pada pasien ini adalah ITP
Pemeriksaan yg tepat pada kasus adalah: Hidung jumlah
trombosit
Immune Trombositopenia Purpura
Trombositopeni dengan sumsum Pemeriksaan Lab
tulang yang normal dan tidak Trombositopeni
adanya penyebab trombositopeni Sumsum tulang:
lainnya. megakariosit normal atau
Klasifikasi meningkat.
Akut : pada anak-anak infeksi Uji koagulasi normal,
akut dan akan mengalami
bleeding time bertambah,
PT dan PTT normal.
resolusi spontan dalam dua
bulan
Tes untuk autoantibodi
tidak tersedia secara luas
Kronik : pada dewasa Diagnosis ITP hanya
Etiologi: IgG autoantibodi dilakukan sesudah
terhadap permukaan trombosit. penyebab defisiensi
trombosit lainnya telah
PF: Nonpalpable petechiae, dieksklusi.
Purpura, Perdarahan , Limpa
tidak teraba.
Ginjal-Hipertensi
13. A Sindrom Nefrotik
Keyword
S: 5 tahun mengalami bengkak pada kelopak matanya
sejak 1 minggu ini,bengkak dirasakan terutama pada pagi
hari dan menghilang sore hari pengaruh gravitasi
O: Bengkak pada kelopak mata, wajah, perut,dan kedua
tungkai Edema +
Labortarorium:ureum 20 mg/dl, kreatinin 0,8 mg/dL,
proteinuria (+3)
Diagnosa mengarah pada : Sindrom Nefrotik
Sindrom Nefrotik
Kriteria Diagnosa
1. Proteinuria masif (>40 mg/m2/jam
atau dipstik 2+)
2. Hipoalbuminemia (<2,5 g/dL),
3. Edema
4. Hiperkolesterolemia >200 mg/dl
Patogenesis
Terjadi akibat kegagalan/gangguan
filtrasi di glomerulus yang kemudian
menyebabkan terjadinya albumin
leakage
Edema terjadi karena albumin
berkurang sehingga tekanan onkotik
menurun
Tatalaksana

Diet: Restriksi protein khususnya jika sudah terdapat


penurunan fungsi ginjal, Diet rendah kolesterol
Edema: Diuretics (loop diuretik)
Hyperlipidemia: statin
Kortikosteroid
Batasan
Remisi : Proteinuria negatif atau trace (proteinuria < 4 mg/m2 LPB/jam) 3
hari berturut-turut dalam 1 minggu
Relaps : Proteinuria 2+ (proteinuria 40 mg/m2 LPB/jam) 3 hari
berturut-turut dalam 1 minggu
Relaps jarang : relaps < dari 2 kali dalam 6 bulan pertama setelah
respons awal atau < dari 4 kali per tahun pengamatan
Relaps sering (frequent relaps) : relaps terjadi 2 kali dalam 6 bulan
pertama setelah respons awal atau 4 kali dalam periode 1 tahun
Dependen steroid : relaps 2 kali berturut turut saat dosis steroid
diturunkan atau dalam 14 hari setelah pengobatan dihentikan.
Resisten steroid : tidak terjadi remisi pada pengobatan prednison dosis
penuh (full dose) selama 4 minggu
Sensitif steroid: remisi terjadi pada pemberian prednison dosis penuh
selama 4 minggu
14.E ASTO
Keyword
S: Pasien 11 tahun keluhan wajah sembab.Riwayat demam,
batuk,& nyeri tenggorok (+) 1 minggu yang lalu.
O : TD 140/90 mmHg ,edema di wajah dan kaki, nyeri ketok
CVA
Lab: Ureum dan kreatinin darah meningkat, Urinalisis:
proteinuria, leukosituria, eritrosit 4-5/LPB.
Kemungkinan diagnosa adalah: Sindrom Nefritik Akut
Pemeriksaan penunjang untuk mendudkung diagnosa
adalah : ASTO (anti streptociline titer O)
Sindrom Nefritik
Pendekatan Klinis Gejala dan tanda
Hematuria Proteinuria < 3,5 g/hari,
Hematuria, Azotemia, Red
Edema blood cast, Oliguria &
Hipertensi Hipertensi (PHAROH)
Pemeriksaan Penunjang
Penurunan fungsi ginjal
ASTO (meningkat) & C3
Yang sering dibahas adalah (menurun), adanya torak
reaksi kompleks imun pasca- eritrosit, hematuria &
infeksi streptokokus proteinuria
(GNAPS) Riwayat ISPA/ Tatalaksana : Diet restriksi
protein,rendah garam , AB: Gol
infeksi kulit pioderma Penicilin,Simtomatik : Edema
GNAPS: Istilah histopatologi (loop diuretik), Hipertensi (ACE-I/
ARB)
SNA: Istilah Klinis
15. A Streptokokus hemoliticus
Keyword
Subjektif : 11 tahun diantar berobat dengan keluhan bengkak di
wajah dan kelopak mata terutama setelah bangun tidur. Kencing
seperti cucian daging Riwayat sakit tenggorok (+)
Objektif: TD 140/90 mmHg.
Diagnosa mengarah pada Glomerulonefritis akut pasca
streptococcus (GNAPS) deposisi kompleks imun (Rx
hipersensitifitas tipe 3) pada GBM dan atau mesangium sehingga
terjadi reaksi inflamasi.
GNAPS merupakan salah satu sindrom nefritik yang ditandai oleh
timbulnya hematuria, edema, hipertensi dan penurunan fungsi
ginjal
Jawaban: A. Streptokokus hemolitikus.
Kardiologi
16. C. Streptococcus group A
Keyword
S: 8 tahun mengalami demam sejak 2 hari yang
lalu.Demam bersamaan dengan nyeri dan panas pada
sendi lutut kanan.Riwayat ISPA (+)
O:suhu 38,20C dan murmur (+)
Diagnosa penyakit: penyakit jantung Rhematik
Merupakan komplikasi dari infeksi Steptococuss B hemolitik
group A
17.A Mitral Stenosis
Keyword
O: Seorang anak usia 8 tahun. Keluhan sesak
disertai demam .Anak sering mengalami sakit
tenggorokan.
PF : murmur diastolik rumbling rumbling di apeks
jantung .
Diagnosanya: Penyakit jantung koroner
Penyebab keluhan:
Rheumatic Fever
Kriteria Mayor Kriteria Minor
Poliartitis Demam
Erytema marginatum Poliatralgia
Chorea EKG : Interval P-R memanjang
Nodul Subcutan Lab : CRP ,LED , Leukositosis
Karditis

2 MAYOR atau Bukti Infeksi Streptococcus :


1 MAYOR + 2 MINOR ASTO & Biakan(+)

Sumber: http://reference.medscape.com/calculator/jones-criteria-diagnosis-rheumatic
Rheumatic heart Disease VS Rheumatic Fever

Required Criteria
Evidence of antecedent Strep infection: ASO / Strep
antibodies / Strep group A throat culture / Recent scarlet,
fever / anti-deoxyribonuclease B / anti-hyaluronidase
In some cases rheumatic fever causes longterm damage to the
heart and its valves. This is called rheumatic heart disease

sumber: https://www.chop.edu/service/cardiac-center/heart-conditions/rheumatic-fever.html
Murmur Sistolik
Systolic ejection murmur
Stenosis aorta: Terdengar paling baik di area aorta
(ICS 2-3) menjalar ke arah leher
Stenosis pulmonal: Paling baik di ICS 2-3 kiri,
penjalaran bisa ke arah leher atau bahu kiri, tidak
seluas stenosis aorta
Murmur Sistolik
Holosistolik murmur
Regurgitasi mitral: Terdengar paling baik di apex
menjalar ke axilla kiri
Regurgitasi trikuspid: Terdengar paling balik di
linea sternalis kiri bawah, menjalar ke kanan
sternum
VSD: Paling baik di ICS 4-6, tidak ada penjalaran ke
axilla
Late systolic murmur
Regurgitasi oleh prolaps mitral
Murmur Diastolik
Early diastolik
Regurgitasi aorta: Di linea sternal kiri ICS 3-4
Regurgitasi pulmonal: Di area pulmonal
Mid to late diastolik
Stenosis mitral: Di apex
Stenosis trikuspid: Di bawah sternum, dekat
prosesus xifoideus
Murmur Kontinu
Pada Patent Ductus Arteriosus
KELAINAN KATUB JANTUNG

INGAT JURUS INI APLICATED


Tentukan Bunyi Murmurnya
MISAS Tentukan Lokasinya
Mitral Insufisiensi , Stenosis
Aorta Murmur Sistol

MSAID
Mitral Stenosis , Aorta
Insufisiensi Murmur
Diastol
18.A Ventricular Septal Defect (VSD)
Keyword
S: Seorang anak laki-laki berusia 4 tahun dibawa ibunya ke
dokter dengan keluhan sesak nafas saat beraktivitas.
Keluhan lain berupa batuk, mudah lelah, dan berat badan
sulit naik.
O:BB 12 kg, pasien tidak tampak sianosis dan terdengar
bising murmur pansistolik di sela iga 3-4 linea parasternalis
sinistra.
Clinical Key : Asianosis, Bising pansiltolik kasar garis sternal
bawah
Diagnosa: Ventrikular Septal defect (VSD)
PJB - Klasifikasi

Darah kaya O2 bocor, Penyakit Jantung Bawaan (PJB) Darah yg kaya O2 tercampur
beban jantung bertambah dgb darah yg miskin O2

Asianotik Sianotik

aliran Aliran darah aliran


L-R Shunt Tanpa L-R Shunt
darah ke paru ke paru N darah ke paru
PDA AS TGA dgn VSD TGA tanpa PS ToF
ASD PS Truncus Arteriosus Atresia Pulmoner
VSD CoA TAPVD Atresia Trikuspid
Pilihan lain

Atrial septal Defect (ASD): Asianotik, Auskultasi: Fixed


Spliting S2
Tetralogy of Fallot
Siantotik, 4 kelaianan (VSD,Overiding Aorta,Stenosis
pulmonal,Hipertropi ventrikel kanan.
Auskultasi: Murmur ejeksi sistol pada garis sternal kiri atas
Transposition of the Great Artery (TGA)
VSD with Eissenmeyer Syndrome: VSD Shunt R L
Sianotik
Pulmonologi
19. A. Bronkiolitis
Keyword
S: bayi perempuan berusia 1 bulan dibawa keluhan sesak
nafas riwayat panas, batuk, dan ingusan.
O: nadi 142 x/menit,RR: 58 x/menit sianosis, retraksi
subkostal dan intercostal,, auskultasi: ekspirasi memanjang
di kedua hemitoraks, suara bronkial, ronki halus di kedua
lapang paru
Pada anak usia <2 tahun bila ditemukan bunyi wheezing perlu
dipikirkan diagnosis banding berupa bronkiolitis.
Jawaban: Bronkiolitis
Bronkiolitis
Definisi Diagnosis
Inflamasi bronkiolus akut PF: demam, dyspnea
akibat infeksi virus (umumnya (expiratory effort), ekspirasi
RSV, parainfluenza, memanjang, mengi,
adenovirus) hipersonor (air trapping)
Umumnya pada anak usia <2 PP: foto dada AP-lateral (air
tahun, paling sering anak usia trapping), AGD: hiperkarbia,
6 bulan asidosis
Gejala Klinis metabolik/respiratorik
Diawali dengan demam Tata laksana:
subfebris dan AURI Oksigen
Kemudian terjadi batuk, Bronkodilator (hanya kalau
sesak, dan mengi menghasilkan perbaikan)
Jarang menjadi berat Antibiotik (hanya kalau ada
bukti infeksi bakterial)
Pilihan lain
Bronkopneumonia: Demam, menggigil, >380C, Batuk
dahak mukoid atau purulen ,Sesak napas, Nyeri dada,
Auskultasi : Bronkovesikuler-bronkial, ronki basah halus-
kasar)
Sindrom Croup: Batuk menggonggong (barking cough,
Stridor,demam Suara serak , Retraksi intercostal
Pertusis: Batuk paroksismal diikuti whoop saat inspirasi
disertai muntah, perdarahan subkonjungtiva,Riwayat
imunisasi (-)
Asma: sesak nafas kronik residif setelah terpapar
alergen,riwayat atopi (+),Whezing (+)
20. C Tuberculin
Keyword
S: Seorang anak laki-laki 11 tahun datang ke unit
darurat dengan keluhan sesak, keringat dingin dan
batuk.
Untuk mendiagnosa Tb pada anak harus dengan
sistem scoring TB.
Pemeriksaan penunjang : Tes mantoux/ tuberculin
test
Sistem Skoring Tb pada anak
Pemeriksaan Penununjang

Tes Tuberculin
Cara : Suntikan 0,1 ml PPD RT-23 /
PPD S 5 TU IC di bagian volar bawah.
Dibaca stlh 48-72 jam, ukur indurasi
yg timbul Prinsip Hypersensitivitas Hasil Positif (+) Hasil (-)
tipe IV
Infeksi TB Tidak ada
Interprestasi alamiah infeksi TB
10 mm : (+) Positif TB
5 9 mm : Meragukan Dalam masa
Imunisasi BCG inkubasi infeksi
0 4 mm : (-) Negatif TB
5 mm : (+) pada Infeksi Anergi
imunokompromies mikobaterium
atipik
Profilaksis & Pengobatan

Kemoprofilaksis primer Class Contact Infection Disease Management


Diberikan untuk mencegah 0 - - - -
infeksi I + - - 1st proph.
Diberikan pada anak dengan
II + + - 2nd proph.
kontak TB (+) tetapi uji
tuberkulin (-),klinis (-) III + + + OAT thera.

Obat: INH 5-10 mg/kgBB/hari


selama 6 bulan Kontak dinilai dengan adanya kontak
Kemoprofilaksis sekunder dengan pasien TB di sekitar lingkungan
Diberikan untuk mencegah sakit Infeksi dinilai dengan uji Mantoux
TB Disease dinilai dengan TB scoring
menurut WHO
Diberikan pada kontak TB (+),
uji mantoux konversi (+),tetapi
klinis (-), Ro (-)
Obat : INH 5-10 mg/kgBB/hari
selama 6-9 bulan
21. Kortikosteroid Nebu + Teofilin
+Nebu 2 Agonis
Keyword
Anak 7 tahun, diagnosa asma.
menggunakan nebu salbutamol setiap hari, terutama
setelah olahraga serangan setiap hari
ketika malam hari pasien suka batuk dan terbangun pada
pada malam hari.
Diagnosa mengarah pada Asma persisten sedang
Th/ : Kortikosteroid di tambah Nebu B agonis & Teofilin
Klasifikasi Asma anak
Parameter Klinis Asma Episodik jarang Asma episodik sering Asma Persisten

Frekwensi serangan < 1 x / bulan > 1X / bulan Sering

Lama Serangan < 1 minggu > 1 minggu Hampir sepanjang


tahun tdk ada remisi

Diantara serangan Tanpa Gejala Sering ada gejala Gejala siang & malam

Tidur dan aktifitas Tdk terganggu Sering terganggu Sangat terganggu

Px fisik di luar serangan Normal Mungkin terganggu Tdk pernah normal

Obat Pengendali Tdk perlu Perlu (steroid) Perlu (steroid)


Uji Faal Paru PEF/FEV 1 > 80 % PEF/FEV 1 60 - 80 % PEF/FEV 1 < 60%
Variabilitas 20-30 %

Variabelitas Faal paru > 15 % < 30 % < 50 %


(bila ada serangan)
Tatalaksana jangka panjang
Perinatologi
22.C Stenosis Pilorus
Keyword
S: Bayi perempuan berusia 3 minggu dibawa ibunya ke
puskesmas dengan keluhan selalu muntah satu jam setelah
diberi ASI. Riwayat kelaian kehamilan& persalinan (-)
Bayi dengan keluhan muntah biasanya muncul 30 menit -1
jam setelahbayi minum susu.Setelah muntah bayi menyusu
lagi dengan kuat Diagnosa mengarah ke Hipertropi stenosis
pilolorus
Hipertropi Pilorus Stenosis
Gejala: muntah menyemprot,
seperti kopi dapat terjadi
perlukaan karena gastritis
akibat sering,muntah, 30-60
menit setelah intake
Pemeriksaan fisik : Teraba
masa di pada daerah
epigastrium atau pada
hipokondrium kiri
Foto RO: One Buble
Barium Enema: String Sign
Pilihan lain

Atresia ani Atresia esofagus


Mekonium tidak keluar dalam Curiga AE: Ibu polihidramnion
> 24-48 jam Bayi liur banyak dan sering
Perut kembung lama- tersedak saat minum
kelamaan muntah jika disusui TIPE atresia esofagus
Inspeksi daerah anus tersering: Atresia esofagus +
TIDAK ADA anus fistula distal transesofageal
Atresia duodenum (+86%)
Muntah hijau , muntah terus Hernia kongenital Dyspnea,
menerus beberapa jam Cyanosis, Apparent dextrocardia
seteah lahir, RO: Double
buble
23.
Keyword:
Bayi perempuan usia 5 bulan keluhan suara nafas
berbunyi bila diposisikan dalam keadaan
berbaring.
Sering tersedak bila disusui ada gangguan
makan.
Diagnosa:
24. E Menambah ASI yang diberikan
Keyword
S: laki-laki baru lahir 3 hari dibawa ibunya ke puskesmas
dengan keluhan kuning.mendapatkan ASI
O: bayi 3200 gram, aktif, ikterik dan kuning sampai dada
Lab: golongan darah O dan ibunya golongan B, bilirubin total
11 g/dL dan bilirubin direk 1,8 g/dL
Pasien kemungkinan mengalami Breast feeding joundice
Tatalaksana : Menambah ASI yang diberikan
DD Ikterik Neonatorum
Ikterus fisiologis
Timbul setelah 24 jam, berlangsung kurang dari 7-
14 hari,
Terutama terdiri dari bilirubin indirek,
Kadar tertinggi bilirubin total kurang dari 15 mg%
Bilirubin direk kurang dari 2mg%,
dan tidak ada keadaan patologis lain.
Ikterik pada 24 jam pertama
Dapat disebabkan erythroblastosis fetalis, perdarahan
tersembunyi, sepsis, atau infeksi intrauterine,
termasuk sifilis, rubella, sitomegalo, rubella, dan
toxoplasmosis kongenital
Ikterik yang muncul pada hari ke-2 atau ke-3
Umumnya fisiologis, Crigler-Najjar syndrome dan
breast feeding ikterik, sepsis bakteri atau infeksi
saluran kemih, maupun infeksi lainnya seperti sifilis,
toksoplasmosis, sitomegalovirus, atau enterovirus.
Ikterik yang muncul sesudah satu minggu
breast milk ikterik, septicemia, atresia congenital,
hepatitis, galaktosemi, hipotiroidisme, anemia
hemolitik kongenital (spherocytosis), anemia
hemolitik akibat obat.
Ikterik yang persisten selama satu bulan
kondisi hyperalimentation-associated cholestasis,
hepatitis, cytomegalic inclusion disease, syphilis,
toxoplasmosis, familial nonhemolytic icterus, atresia
bilier, atau galaktosemia. Ikterik fisiologis dapat
berlangsung beberapa minggu pada kondisi hipotiroid
atau stenosis pilori
Ikterik ec ASI

BREAST FEEDING JAUNDICE BREASTMILK JAUNDICE


Timbul pada hari ke-2 / ke-3 Kadar bilirubin meningkat pada
4 7 hari / lebih
Penyebab: Asupan ASI kurang
Dapat berlangsung 3-12 minggu
Tatalaksana: Teruskan ASI
tanpa penyebab ikterus lainny
Penyebab: Menurunnya
kemampuan hati
mengkonjugasi bilirubi indirek
Tata laksana:penghentian ASI
sementara
25.B. Sifilis
Keyword
seorang anak ditemukan gambaran gigi
Hutchinson
Kondisi ini merupakan manifestasi dari infeksi
Sifilis kongenital
Sifilis Kongenital
Sifilis Kongenital adalah suatu infeksi yang disebabkan oleh
bakteri Treponema pallidum, yang ditularkan dari ibu kepada janin di
dalam kandungannya.
Gejala yang bisa ditemukan pada bayi baru lahir:
gagal berkembang
hidung datar (saddle nose),
ruam makulopapuler berwarna tembaga
Hidrosepalus
Gejala pada bayi yang lebih besar dan anak-anak:
kelainan pada tulang kering (saber shins)
gigi Hutchinson (gigi berbintik-bintik dan berbentuk seperti baji)
pembentukan jaringan parut pada luka di mulut, kelamin dan anus (ragade)
keterbelakangan mental
gangguan pendengaran atau tuli
Kondiloma lata
26.D. 1 tahun sampai 2 tahun
Keyword
Bayi 2 bulan bulan dibawa ke dokter karena ibunya
mengatakan pada bayi tersebut hanya teraba satu
benjolan di scrotumnya.
Hasil pemeriksaan oleh dokter di dapatkan undesensus
testis.
Tatalaksana
Usia 4-6 bulan: Mulai dapat dilakukan Orchipexy Pada
prinsipnya, operasi dapat dilakukan sedini mungkin namun
karena 80% membaik sendiri sblm usia 1 th mk jwbn
dipilih 1-2 th.
Terapi hormon HCG ( 10x dalam 5 mgg)
Criptokismus
Kelainan kongenital paling sering Apabila disertai hipospadia
pada genitalia pria singkirkan dx intersex: analisis
Pada kasus langka dapat terjadi kromosom, cek kadar 17-
pada dewasa muda hydroxylase progesterone,
Dapat unilateral (2/3) & bilateral testosterone, LH, and follicular-
(1/3) stimulating hormone (FSH); bila
bilateral lakukan USG abdomen
Insidens 3% bayi aterm dan 30% utk mencari uterus
bayi prematur Apabila Anorchia konfirmasi dgn:
80% kasus membaik pada usia 1 cek kadar LH, FSH, testosteron
tahun (paling sering dalam usia 3 Penatalaksanaan
bulan pertama)
Usia 4-6 bulan: Mulai dapat
Normalnya, testis turun pada dilakukan Orchipexy Pada
masa gestasi 8-14 minggu prinsipnya, operasi dapat dilakukan
sedini mungkin namun karena 80%
membaik sendiri sblm usia 1 thn
Terapi hormon HCG : (10x dalam 5
mgg)
27. B Sepsis Neonatorum
Keyword
S:Bayi baru lahir 6 jam yang lalu, tapi sampai saat ini tidak
mau minum ASI, merintih, letargi, riwayat ibu KPD 19 jam
yang laluresiko sepsis
O: bayi lahir di bidan BB 2700 gram, usia gestasi 36 minggu
Bayi premature, RR 30 kali/menit, leukosit 2500/ul,
suhu 35,80C mengarah ke kriteria sepsis
Diagnosa: Sepsis neonatorum
Kecurigaan Sepsis
Bayi umur sampai dengan usia 3 hari
Riwayat ibu dengan infeksi rahim, demam dengan kecurigaan infeksi
berat, atau ketuban pecah dini
Bayi memiliki 2/lebih kategori A 3 atau lebih kategori B
Pada Bayi usia > 3 hari
Bayi memiliki 2 atau lebih temuan Kategori A atau 3 atau lebih temuan
Kategori B
28. B. Meningitis Tuberculosa
Keyword
S: Anak perempuan usia 7 tahun dibawa ke IGD
dengan penurunan kesadaran, kesadaran somnolen,
kejang tonik , Riwayat demam tdk terlalu
tinggimengarah ke infeksi, BB tidak naik-naik
salah satu gejala infeksi Tb pada anak
O: Kaku kuduk tanda rangsang meningeal
Lab : limfosit 85% (meningkat), protein 150 mg/dl
(meningkat), glukosa 15 mg/dl (menurun) mengarah
ke meningitis TB
Wajib kita bedakan
Meningitis
Demam, sakit kepala, Tanda Rangsang Meningeal
(+) , bisa terjadi penurunan kesadaran (kejang
bersifat fokal).
Etiologi : bakteri, viral, TB
Ensefalitis
Demam, sakit kepala, Tanda Rangsang Meningeal
(-) penurunan kesadaran (kejang bersifat umum)
Etiologi : viral (paling sering Herpes
SimpleksVirus).
Diagnosa Differenrial
Analisa LCS pada infeksi SSP
29. C Status epileptikus
Keywords
Kejang seluruh tubuh dan
sudah berlangsung 10 menit.
Sebelumnya anak tersebut
kejang dua kali dan diantara
kejang tidak sadar.
Riwayat demam (-) bukan
kejang demam
Kejang berulang >30 menit dan
tidak sadarkan diri secara penuh
di antara episode kejang disebut
sebagai status epileptikus.
Jawaban: Status epileptikus
30. B. Diazepam 10 mg IV
Keyword Pada pasien yang telah terpasang
Anak usia 4 tahun kejang baru akses iv, maka pilihannya adalah
sampai di UGD asumsi Diazepam IV
BELUM TERPASANG IV LINE Menghitung BB secara kasar: 2n+8
pasien kemudian SADAR (n=usia)
SUDAH TERPASANG IV LINE Dosis : (asumsikan BB >10 kg)=
Tatalaksana kejang demam diazepam sup 10 mg
ABC
Diazepam supositoria di
rumah atau bila belum
terpasang akses iv
Diazepam iv 0.3-0.5mg/kg bb
Fenitoin iv 20 mg/kg
dilarutkan dalam NaCl 0.9%
Fenobarbital iv 15-20 mg/kg

Sumber : Panduan pelayanan medis neurologi RSCM


Algoritma Penatalaksanaan Saat Kejang
1 Kejang
Kejang (+)
4 Diazepam IV
Dosis 0.3-0.5 mg/kgBB
2 Diazepam rektal Diberikan dengan kecepatan 0.5-1mg/menit
0.5 mg/kgBB atau (3-5 menit)
BB< 10kg: 5mg (hati hati dapat terjadi depresi napas)
BB> 10kg: 10mg
Evaluasi 5 menit
Evaluasi 5 menit

3 Kejang (+) di RS/ IV line (-) Kejang (+)


Diazepam Rektal Fenitoin Bolus IV
5
Dosis 10-20 mg/kgBB/kali
Diberikan dengan kecepatan 1mg/kgBB/menit

Evaluasi 5 menit

6 Kejang (+)
Transfer ke ICU/ PICU