Anda di halaman 1dari 43

Cauda Equina Syndrom

Rolan Harabiti, dr
Identitas
Nama : Tn. P
Umur : 12 maret 1973
Alamat : Ngerayun, Ponorogo
Agama : Islam
Pekerjaan : Wiraswasta
Tanggal : 8 oktober 2017
Anamnesa
Keluhan Utama :
Nyeri Punggung
Riwayat penyakit sekarang :
Pasien mengeluh nyeri punggung sejak 1 hari yang lau,
pasien terjatuh dari pohon dengan ketinggian 4 meter,
posisi jatuh posisi duduk, paha kanan tidak bisa
digerakan. Pingsan (-), kepala terbentur (-), Muntah (-),
sesak (-). Pasien ngompol 1 kali, belum BAB.
Anamnesa
Riwayat penyakit dahulu
Riwayat trauma sebelumnya (-)
Riwayat HT dan DM disangkal
Riwayat Penyakit Keluarga
-
Riwayat Sosial
Tidak ada hubungan sosial yang mempengaruhi
keadaan sakit pasien.
Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : Lemah
GCS : 456
Kesadaran : Compos Mentis
Vital Sign :
Tensi : 130/80
HR : 85
Suhu : 37,1 C
RR : 20
SpO2 : 99 %
Status Generalis
Kepala-Leher :
Hematoma (-), vullnus ap
c/a -/-
s/I -/-
Bibir kering (+)
JVP tdk meningkat
Tdk ada pembesaran kelenjar leher
Thorak :
Pulmo :
Inspeksi : Jejas-, Simetris, tidak retraksi dan tidak ada ketinggalan
gerak
Palpasi : Fokal fremitus kanan sama dengan kiri
Perkusi : Sonor seluruh lapang paru
Auskultasi: Suara dasar vesikuler +/+, ST (-/-)
Jantung :
Inspeksi : Ictus cordis tidak nampak
Palpasi : Ictus cordis teraba
Perkusi :
Batas kiri atas SIC II LMC sinistra
Batas kanan atas SIC II LPS dextra
Batas kiri bawah SIC V LMC sinistra
Batas kanan bawah SIC IV LPS dextra
Auskultasi : Bunyi jantung 1-2, reguler, ST (-)
Abdomen
Inspeksi : flat, jejas -.
Auskultasi : Peristaltik menurun
Palpasi : supel
Perkusi : tymphani
Ekstrimitas :
Ekstrimitas atas ka-ki dbn
Ekstrimitas bawah kanan ROM terbatas nyeri
Rectal Toucher
M. Spincter ani mencengkram, reflek mencengkram (-)
Mucosa recti licin, tidak teraba massa
Ampula recti tidak kolaps
Sarung tangan : Darah (-), Feces (+)
Asia Score
Pemeriksaan Penunjang
EKG
Diagnosis
Fraktur kompresi
Penatalaksanaan
Inf RL 20 Tpm
Inj Ceftriaxone 2x1
Inj Ketorolac 3x1
Inj Ranitidine 2x1
Pasang Kateter
Follow up
9 okt 2017
S Nyeri Perut (+), Lemah, BAB (-), Muntah (-), Demam (-)

O KU : Lemah Kesadaran : CM
Tensi : 120/70 Nadi : 98x/menit RR : 20x Suhu : 37,2 c
Status lokalis :

A Cauda equina syndrome

P Inf RL 20 tpm
Inj ceftriaxon 2x1 g
Inj ketorolac 3x1 amp
Inj ranitidine 2x1 amp
Pro CT scan
Follow up
10 okt 2017
S Nyeri Perut (+), Lemah, BAB (-), Muntah (-), Demam (-)

O KU : Lemah Kesadaran : CM
Tensi : 120/70 Nadi : 98x/menit RR : 20x Suhu : 37,2 c
Status lokalis :

A Cauda equina syndrome

P Inf RL 20 tpm
Inj ceftriaxon 2x1 g
Inj ketorolac 3x1 amp
Inj ranitidine 2x1 amp
Pro CT scan
Follow up
11 okt 2017
S Nyeri Perut (+), Lemah, BAB (-), Muntah (-), Demam (-)

O KU : Lemah Kesadaran : CM
Tensi : 120/70 Nadi : 98x/menit RR : 20x Suhu : 37,2 c
Status lokalis :

A Cauda equina syndrome

P Inf RL 20 tpm
Inj ceftriaxon 2x1 g
Inj ketorolac 3x1 amp
Inj ranitidine 2x1 amp
Pro CT scan
Follow up
12 okt 2017
S Nyeri Perut (+), Lemah, BAB (-), Muntah (-), Demam (-)

O KU : Lemah Kesadaran : CM
Tensi : 120/70 Nadi : 98x/menit RR : 20x Suhu : 37,2 c
Status lokalis :

A Cauda equina syndrome

P Inf RL 20 tpm
Inj ceftriaxon 2x1 g
Inj ketorolac 3x1 amp
Inj ranitidine 2x1 amp
Pro operasi dekompresi laminectomy + stabilisasi posterior
Follow up
13 okt 2017
S Nyeri Perut (+), Lemah, BAB (-), Muntah (-), Demam (-)

O KU : Lemah Kesadaran : CM
Tensi : 120/70 Nadi : 98x/menit RR : 20x Suhu : 37,2 c
Status lokalis :

A Cauda equina syndrome

P Inf RL 20 tpm
Inj ceftriaxon 2x1 g
Inj ketorolac 3x1 amp
Inj ranitidine 2x1 amp
Follow up
14 okt 2017
S Nyeri Perut (+), Lemah, BAB (-), Muntah (-), Demam (-)

O KU : Lemah Kesadaran : CM
Tensi : 120/70 Nadi : 98x/menit RR : 20x Suhu : 37,2 c
Status lokalis :

A Cauda equina syndrome

P Inf RL 20 tpm
Inj ceftriaxon 2x1 g
Inj ketorolac 3x1 amp
Inj ranitidine 2x1 amp
Follow up
15 okt 2017
S Nyeri Perut (+), Lemah, BAB (-), Muntah (-), Demam (-)

O KU : Lemah Kesadaran : CM
Tensi : 120/70 Nadi : 98x/menit RR : 20x Suhu : 37,2 c
Status lokalis :

A Cauda equina syndrome

P Inf RL 20 tpm
Inj ceftriaxon 2x1 g
Inj ketorolac 3x1 amp
Inj ranitidine 2x1 amp
Follow up
16 okt 2017
S Nyeri Perut (+), Lemah, BAB (-), Muntah (-), Demam (-)

O KU : Lemah Kesadaran : CM
Tensi : 120/70 Nadi : 98x/menit RR : 20x Suhu : 37,2 c
Status lokalis :

A Cauda equina syndrome

P Inf RL 20 tpm
Inj ceftriaxon 2x1 g
Inj ketorolac 3x1 amp
Inj ranitidine 2x1 amp
Follow up
17 okt 2017
S Nyeri Perut (+), Lemah, BAB (-), Muntah (-), Demam (-)

O KU : Lemah Kesadaran : CM
Tensi : 120/70 Nadi : 98x/menit RR : 20x Suhu : 37,2 c
Status lokalis :

A Cauda equina syndrome

P Inf RL 20 tpm
Inj ceftriaxon 2x1 g
Inj ketorolac 3x1 amp
Inj ranitidine 2x1 amp
Pembahasan
Defenisi
Adalah kondisi neurologis yang serius di mana terjadi
kerusakan pada cauda equina akibat pemadatan atau
penyempitan yang simultan dari radik saraf
lumbosacral multipel dibawah konus medullaris,
sehingga menyebabkan hilangnya fungsi pleksus
lumbal secara akut dari bagian bawah conus
medullaris berupa gangguan neuromuscular dan
gejala-gejala urogenital.
anatomi
Ruas-ruas tulang belakang disebut juga tulang
belakang disusun oleh 33 buah tulang dengan bentuk
tidak beraturan. ke 33 buah tulang tersebut terbagai
atas 5 bagian yaitu:
Tujuh ruas pertama disebut tulang leher. Ruas
pertama dari tulang leher disebut tulang atlas, dan
ruas kedua berupa tulang pemutar atau poros.
Dua belas ruas berikutnya membentuk tulang
punggung. Ruas-ruas tulang punggung pada bagian
kiri dan kanannya merupakan tempat melekatnya
tulang rusuk.
Lima ruas berikutnya merupakan tulang pinggang.
Ukuran tulang pinggang lebih besar dibandingkan
tulang punggung. Ruas-ruas tulang pinggang
menahan sebagian besar berat tubuh dan banyak
melekat otot-otot.
Lima ruas tulang kelangkangan (sacrum), yang
menyatu, berbentuk segitiga terletak dibawah ruas-
ruas tulang pinggang.
Bagian bawah ruas tulang belakang disebut tulang
ekor (coccyx), tersusun atas 3 sampai dengan 5
ruas tulang belakang yang menyatu.
Columna vertebralis membentuk saluran untuk spinal cord
yang merupakan struktur sangat sensitif dan penting karena
menghubungkan otak dengan sistem saraf perifer.
Di antara vertebra terdapat discus intervertebralis yang
berfungsi mengabsorbsi pergerakan berat. Vertebra bersama
diskus intervertebralis membentuk columna yang elastis.
Columna vertebralis lumbal terdiri dari 5 buah vertebra
lumbal yang menyangga sebagian besar berat badan.
Walaupun strukturnya lebih tebal karena berfungsi
menyangga sebagian besar berat badan, tidak menjamin
vertebra lumbalis tersebut dapat terhindar dari kerusakan.
Foramen vertebra adalah cincin tipis tulang vertebra yang terdiri dari bagian corpus,
pediculus, dan lamina.
Setiap segmen tulang belakang memiliki karakter yang berbeda. Foramen vertebra
dari kumpulan tiap level vertebra akan membentuk canalis vertebralis, ruang
dimana medulla spinalis berada.
Antara tulang vertebra dihubungkan oleh diskus intervertebralis dan facet joint.
Diskus intervertebralis berada di antara corpus vertebra, berupa sebuah massa
fibrous yang berfungsi sebagai bantalan absorber. Diskus ini tetap berada di
tempatnya karena disokong oleh ligamen-ligamen.Fungsi ini melindungi vertebra,
otak dan struktur lainnya. Adanya diskus intervertebralis juga memungkinkan
gerakan fleksi dan ekstensi.
Diskus intervertebralis terdiri dari dua komponen yang berbeda: annulus fibrosus di
bagian luar dan nucleus pulposus, massa gelatin di bagian dalam. Mereka tertambat
pada vertebra di bagian atas dan bagian bawah oleh cartilage end plates. Pada
diskus normal, air merupakan komponen penting dari nucleus. Namun, seiring
dengan bertambahnya usia, kandungan air dalam diskus berkurang dan
menyebabkan degenerasi diskus. Medula spinalis pada orang dewasa berakhir pada
level vertebra antara L1 dan L2 dengan sekumpulan berkas akar saraf lumbal dan
sacral dalam kanalis spinalis yang membentuk cauda equina di bawah medulla
spinalis. Akar-akar saraf itu kemudian terpisah dan keluar dari kanalis spinalis
melalui foramina intervertebrale yang sesuai. Cauda equina terlindung dalam ruang
subarakhnoid hingga setinggi vertebra sakralis II. Nyeri dan gejala lain dapat timbul
bila diskus yang rusak menekan ke dalam kanalis spinalis atau radiks saraf.
etiologi
Stenosis lumbalis
Penyempitan ujung dari canalis spinalis dapat berasal
dari perkembangan abnormal atau proses degeneratif.
Kasus-kasus berat dari spondylolistesis dan Paget
disease dapat menjadi cauda equina sindrom akibat
inflamasi jangka panjang.
Trauma tulang belakang (termasuk patah tulang)
Terjadinya fraktur yang menyebabkan subluxatio dapat
menimbulkan kompresi dari cauda equina.
Trauma tembus dapat menyebabkan kerusakan atau
kompresi dari cauda equina.
Manipulasi spinal menimbulkan subluxatio yang
menyebabkan cauda equina sindrom.
Hernia nukleus pulposus (penyebab 2-6 % kasus CES)
90% dari herniasi diskus lumbal terjadi antara L4-L5 atau L5-S1.
Laki-laki usia 40 sampai 50 tahun cenderung banyak menderita cauda equina
sindrom sebagai akibat dari herniasi diskus.
Kebanyakan kasus dari cauda equina sindrom berasal dari herniasi diskus yaitu
masuknya partikel besar membentuk tonjolan material diskus, yang diperkirakan
sekitar satu per tiga dari diameter canalis.
Neoplasma (termasuk metastasis, astrocytoma, neurofibroma, meningioma dan 20 %
dari semua tumor tulang belakang mempengaruhi daerah ini).
Cauda equina sindrom dapat disebabkan oleh neoplasma spinal primer atau
metastase yang biasanya berasal dari prostat pada laki-laki.
96 % Dari cauda equina sindrom berasal dari perkembangan neoplasma spinal yang
segera ditandai dengan gejala nyeri yang berat.
Penemuan terakhir termasuk kelemahan ekstermitas bawah berasal dari keterlibatan
dari radik ventral.
Pasien biasanya menunjukkan gejala hipotonus dan hiporeflek.
Kehilangan sensorik dan disfungsi spinchter sering ditemukan.
Infeksi Spinal / abses (misal: tuberkulosis, herpes simplex virus,
meningitis, sifilis meningovaskular, cytomegalovirus,
schistosomiasis)
Kondisi infeksi dapat menyebabkan deformitas dari radik saraf
dan korda spinalis.
MRI dapat menunjukkan gambaran abnormal berupa
penekanan pada radik saraf ke satu sisi dari saccus dura.
Gejala-gejala umumnya termasuk nyeri punggung berat dan
kelemahan gerakan motorik yang cepat dan progresif.
Idiopatik (misalnya pada anestesi spinal). sindrom ini dapat
terjadi sebagai komplikasi dari prosedur atau agen anestesi
(misal: lidokain hiperbarik, tetrakain).
Mekanisme Cedera

Kompresi pada cauda equina maupun conus medullaris


menyebabkan terjadinya kongesti dan dilatasi vena
intraradikular dan infiltrasi sel-sel inflamasi sehingga
dihasilkan serotonin. Normalnya, serotonin memiliki
efek vasodilatasi pada saraf yang sehat, namun
kompresi kronik pada saraf menyebabkan munculnya
efek vasokonstriksi dari serotonin, sehingga
menyebabkan demyelinisasi.
Edema medula spinalis yang timbul segera setelah
trauma mengganggu aliran darah kapiler dan vena
Gangguan sirkulasi atau sistem arteri spinalis anterior
dan posterior akibat kompresi tulang
patofisiologi
gejala
Gejala sindrom cauda equina meliputi :
Nyeri punggung bawah (low back pain)
Unilateral atau bilateral sciatica
Saddle dan perineum hypoesthesia atau anestesi
Gangguan fungsi usus dan kandung kemih
Defisit motorik dan sensorik ekstremitas bawah
Berkurang atau tidak ada refleks tungkai bawah
TERIMA KASIH