Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN RISIKO TRAUMA PADA AN.F DENGAN


GANGGUAN PEMUSATAN PERHATIAN HIPERAKTIVITAS
DI SEKOLAH LUAR BIASA (SLB) ABCD
KUNCUP MAS BANYUMAS

Disusun Oleh:
Ipuk Yayuk Yuliyana
P17420213054

PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN PURWOKERTO


JURUSAN KEPERAWATAN POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES
SEMARANG MEI 2016
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Prevalensi GPPH Menunjukan
Menurut Saputro di dunia 2-5% ciri utama tidak
(2009) anak dengan rasio 3:1, dapat
dengan GPPH di Amerika memusatkan
Serikat 13,2%
sering terluka perhatian.
laki-laki dan
akibat aktivitas 5,6% perempuan.
berlebihan. Di Indonesia
35,2% laki-laki
Penanganan utama
dan 18,3%
perempuan. dengan terapi perilaku
dan farmasi. Untuk
Studi pendahuluan di SLB mengurangi risiko
ABCD Kuncup Mas Banyumas trauma dengan struktur
terdapat 24 pengajar dengan 146
lingkungan,
siswa, 3 anak mengalami
hiperaktif dan pernah mengalami reinforcement,
luka secara fisik. pendekatan kognitif.
1. Jarak dari sekolah sampai jalan raya kecil
50 meter.
2. Sekolah sampai jalan raya besar 200 meter.
3. Terdapat kolam ikan jaraknya dari halaman
Pengkajian di sekolah sampai kolam 12 meter.
lingkungan 4. 3 meter dari kolam terdapat sungai kecil.
5. Terdapat arena bermain di halaman sekolah.
sekolah 6. Lahan parkir sepeda motor bagi guru.
7. Dibelakang kelas terdapat selokan
memanjang mengikuti lebar ruangan dengan
kedalaman 50 cm.
8. Di dalam lingkungan kelas terdapat fasilitas
kelas seperti meja, kursi, papan tulis, kipas
angin, peralatan bermain.
9. Sumber aliran listrik berada di dekat tempat
duduk siswa dan mudah dijangkau siapapun.
Umum Khusus TUJUAN
PENULISAN
Menggambarkan
Menggambarkan pengkajian,
asuhan diagnosis,
keperawatam perencanaan, dan MANFAAT
risiko trauma. tindakan serta PENULISAN
evaluasi.

Menganalisis hasil
pengkajian,
masalah Sebagai
keperawatan, referensi,
perencanaan, sebagai
tindakan, dan
evaluasi. informasi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Teori GPPH
Ketidakmampuan anak untuk
memusatkan perhatiannya pada
sesuatu yang dihadapi
Pengertian Mengganggu perkembangan
anak dalam hal kognitif,
perilaku, sosialisasi,
komunikasi. (Astuti,2014)

Multi faktorial
Penyebab (Sulasminah, 2013)
PATOFISIOLOGI
Menurut Wiguna (2013)
Pengecilan otak pada
lobus prefrontal kanan,
nukleus kaudatus kanan,
globus palidus kanan
serta vermis

Terganggunya fungsi otak

Anak mengalami
kesulitan dalam
menjalankan fungsi
eksekutif
Kesulitan memusatkan perhatian.
Apatis terhadap lawan bicara.
Kriteria

Tidak dapat duduk tenang.
Melakukan aktivitas fisik yang berbahaya
(Mansur & Budiarti, 2014)

Kurang memperhatikan.
Banyak gerakan.
Tanda &

Gelisah, gerakan impulsif, bertindak tanpa pikir.
Tidak mampu mempertahankan perhatiannya pada
Gejala satu tugas.
Tidak memperhatikan & mendengarkan perkataan
orang lain. (Pieter & Lubis, 2010)

Masalah Masalah di sekolah.


Masalah di rumah.
yang akan Masalah berbicara.
Timbul Masalah fisik. (Fadhli, 2010)
Penanganan menurut Videbeck (2008)

Memastikan Meningkat- Penyuluhan


dan
keamanan kan Menyederhana Mengatur dukungan
anak & performa -kan perintah rutinitas kepada klien/
orang lain peran keluarga
B. Konsep Teori Risiko Trauma pada
GPPH
Bahan korosif,
bahan listrik,
Faktor bermain dengan
Risiko objek yang
trauma: eksternal berbahaya, jarak
berdekatan dengan
anak rentan jalur kendaraan
terhadap
cedera Gangguan
jaringan emosional,
yang tidak Faktor gangguan fungsi
disengaja internal
kognitif, gangguan
keseimbangan,
gangguan
penglihatan.
C. Pengelolaan Risiko Trauma pada GPPH

Modifikasi lingkungan.
Struktur
lingkungan

Pujian.
Hadiah bersifat materil.
Reinforce
ment
Untuk mengendalikan pikiran dan emosi yeng lebih
positif.
Pendekatan Terapi permainan.
kognitif
D. Konsep Asuhan Keperawatan Risiko Trauma pada
GPPH
1. Menurut Doenges, Townsend, Moorhouse (2006) pengkajian
risiko trauma pada anak GPPH meliputi:

Aktivitas Pengajaran
Integritas Interaksi Pemeriksaan
atau Ego Hygiene Neurosensori atau
Diagnostik
Sosial Pembelajaran
Istirahat
2. Perumusan
Masalah

Menurut Herdman dan Kamitsuru


(2015) perumusan masalah pada asuhan
keperawatan yang akan dilakukan
adalah risiko trauma berhubungan
dengan hiperaktivitas.
Tujuan : setelah dilakukan
tindakan keperawatan selama
proses keperawatan diharapkan
klien terbebas dari risiko
trauma.
NOC :
a. Knowledge: personal safety
3. Rencana b. Safety behaviour: fall
prevention
Keperawatan
c. Safety behaviour: fall
occurance
d. Safety behaviour: physical
injury
e. Tissue integrity: skin and
mucous membrane
NIC : environmental
management safety
Kriteria hasil dan skala dalam perencanaan risiko trauma pada anak
GPPH
Skala
No Kriteria Hasil
Awal Tujuan
1. Pasien terbebas dari trauma 1 5
fisik
2. Dapat mendeteksi risiko 1 5
3. Perilaku pencegahan jatuh 1 5
4. Dapat memproteksi terhadap 1 5
kekerasan
4.Implementasi

Kegiatan yang dilakukan


berdasarkan rencana keperawatan
yang telah dibuat. Kegiatan
tersebut bertujuan untuk mencapai
kriteria hasil yang optimal.
5. Evaluasi

Kriteria hasil dan skala dalam evaluasi risiko trauma pada anak GPPH
Skala
No Kriteria Hasil
Awal Tujuan Akhir
1. Pasien terbebas dari trauma 1 5 5
fisik
2. Dapat mendeteksi risiko 1 5 5
3. Perilaku pencegahan jatuh 1 5 5
4. Dapat memproteksi terhadap 1 5 5
kekerasan
BAB III METODA
Metoda deskriptif
METODA

An. F umur 8 tahun


SAMPEL menggunakan teknik sampling
convenience sampling method

SLB ABCD Kuncup Mas


LOKASI Banyumas

TEKNIK Wawancara, studi literatur,


PENGUMPULAN lembar data siswa,
observasi
DATA
Analisa data dimulai dari
tinjauan pustaka yang kemudian
HASIL ANALISIS dikelompokan berdasarkan
masalah yang dialami
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. HASIL
Anak usia 9 tahun, jenis kelamin laki-laki.
Alamat di Wlahar Kulon Patikraja, Banyumas.
BIODATA
Ayah bernama Tn. S berusia 39 tahun, ibu bernama Ny. S berusia 33 tahun.
ANAK Pendidikan terakhir Tn. S SMP, Ny. S SMA. Tn. S bekerja sebagai buruh, Ny. S
merupakan ibu rumah tangga.
An. F didiagnosis mengalami hiperaktif.
An. F sangat aktif, tidak bisa duduk dengan tenang, selalu berlarian, terkadang
suka memanjat, sering mengganggu temannya.
Pengkajian di lingkungan rumah anak didapatkan letak barang-barang rapi,
namun lingkungan sekitar rumah anak dapat membahayakan keselamatan
Pengkajian anak.
Jarak dari rumah ke selokan 6 meter, dengan kedalaman selokan 50 cm,
jarak dari rumah ke jalan raya 7 meter, jarak dari rumah ke sungai besar di
seberang jalan 300 meter, jarak dari rumah ke sungai kecil belakang rumah
500 meter.

Risiko trauma berhubungan dengan hiperaktivitas


Perumusan
Masalah
Lanjutan...
NOC : perilaku keamanan pribadi.
Kriteria hasil: (1) anak terbebas dari trauma (dari skala 1 ke 5); (2) dapat
mendeteksi risiko (dari skala 1 ke 5); (3) perilaku pencegahan jatuh (dari skala
Perencanaan 1 ke 5); (4) dapat memproteksi terhadap kekerasan (dari skala 1 ke 5).
NIC : manajemen keamanan lingkungan.

Sediakan lingkungan yang aman bagi anak


Identifikasi kebutuhan keamanan anak, sesuai dengan kondisi fisik dan
fungsi kognitif anak; menghindarkan lingkungan yang berbahaya.
Perencanaan
Menganjurkan keluarga untuk memahami anak.

Mengontrol lingkungan dari kebisingan.


Memindahkan barang-barang yang dapat membahayakan.
Perencanaan Berikan penjelasan pada anak dan keluarga adanya perubahan status
kesehatan dan penyebab penyakit.
Lanjutan...
Pelaksanaan tindakan keperawatan dilakukan
mulai tanggal 15 April-27 April 2016.
Membina hubungan saling percaya ,
menyediakan dan menghindarkan anak dari
Pelaksanaan lingkungan yang berbahaya di dalam kelas,
mengajarkan anak untuk mengucapkan 1 kata
sederhana, mengawasi anak di luar kelas,
mengajarkan anak mengancingkan pakaian.

Menganjurkan untuk makan sambil duduk.


Mengontrol lingkungan dari kebisingan seperti
menyuruh anak dan teman-temannya untuk
duduk dengan tenang dan tidak berjalan-
Peaksanaan jalan.
Menjauhkan anak dari perkelahian antar
sesama teman.
Membimbing anak untuk menyelesaikan tugas
dari guru.
Lanjutan...

Anak terbebas dari trauma, penulis memutuskan


untuk mempertahankan intervensi berupa
sediakan lingkungan yang aman bagi anak saat
Evaluasi bermain di sekolah maupun di lingkungan rumah,
menghindarkan lingkungan yang berbahaya ketika
berada di sekolah maupun di rumah,
memindahkan barang-barang yang dapat
membahayakan baik benda tajam, tumpul, benda
yang mudah terbakar yang ada di sekitar anak
B. Pembahasan
No. Variabel Keterangan Pembahasan
1. Biodata Hasil An. F berusia 9 tahun dan berjenis kelamin laki-laki.
Anak Pendidikan terakhir Tn. S SMP sedangkan pendidikan terakhir Ny. S yaitu
SMA.
Tn.S bekerja sebagai buruh dan Ny. S bekerja sebagai ibu rumah tangga.
An. F didiagnosa mengalami hiperaktif.

Pendapat Yang dapat mempengaruhi risiko trauma pada anak antara lain umur, jenis
Penulis kelamin, pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, dan diagnosis anak
dengan GPPH.

Teori yang Menurut Muallifah (2009) dalam Setyowati & Kasanah (2012) menyatakan
Mendukung sifat dan sikap anak sangat dipengaruhi oleh pola asuh orang tua, bagaimana
orang tua menanamkan dan mendidik anak.

Kesimpulan Tingkat pendidikan orang tua mempengaruhi pola asuh pada anak dan
diagnosa medis hiperaktivitas/GPPH dapat menambah risiko pada anak
untuk mengalami trauma.

Keterbatasan Tingkat pendidikan yang rendah dapat mempengaruhi pola asuh


pada anak dengan GPPH

Implikasi Memberikan informasi dan pendidikan kesehatan berkaitan dengan


pola asuh pada anak dengan GPHH.
No. Variabel Keterangan Pembahasan
2. Pengkajian Hasil Lingkungan sekitar rumah dapat membahayakan
keselamatan anak.
Beralamat di Wlahar Kulon RT 05 RW 01 Patikraja
Banyumas memiliki jarak dari rumah ke rumah ke jalan raya
7 meter, jarak dari rumah ke sungai besar di seberang
jalan 300, jarak dari rumah ke selokan 6 meter, dengan
kedalaman selokan 50 cm, jarak dari rumah ke sungai kecil
belakang rumah 500 meter.
Pendapat Letak rumah yang kurang aman yaitu berada di dekat jalur
Penulis kendaraan dapat mengakibatkan risiko terjadinya kecelakaan.
Teori yang Faktor risiko eksternal pada risiko trauma dengan anak yang
Mendukung mengalami GPPH yaitu bermain dengan objek yang berbahaya,
jarak yang berdekatan dengan jalur kendaraan (seperti, jalan
mobil dan rel kereta api) (Herdman, 2015).
Kesimpulan Perilaku anak dengan GPPH yang tidak terkendali, tidak bisa
diam dengan letak rumah yang berdekatan dengan jalur
kendaraan dapat mengakibatkan terjadinya risiko trauma.
Keterbatasan Anak sangat aktif, tidak bisa duduk dengan tenang, anak juga
mengalami hambatan dalam berkomunikasi sehingga dalam
menjalin hubungan saling percaya cukup sulit.
Implikasi Mengawasi anak saat bermain, belajar; memberikan pendidikan
kesehatan tentang pencegahan trauma kepada orang tua.
No. Variabel Keterangan Pembahasan
3. Perumusan Hasil Masalah keperawatan utama yaitu risiko trauma
Masalah berhubungan hiperaktivitas.
Pendapat Dalam merumuskan masalah risiko trauma pada anak
Penulis dengan GPPH sudah sesuai dengan teori yang ada.

Teori yang Menurut Herdman (2015) tentang risiko trauma


Mendukung adalah rentan terhadap cedera jaringan yang tidak
disengaja (seperti, luka, terbakar, fraktur), yang dapat
mengganggu kesehatan.
Kesimpulan Masalah risiko trauma berhubungan dengan
hiperaktivitas merupakan pemaparan dari data-data
maladaptif yang ditemukan yang dapat menimbulkan
masalah.
Keterbatasan Dari data-data yang ditemukan penulis hanya
menerapkan satu diagnosa yang dibahas secara
prioritas dan rinci.
Implikasi Sebaiknya semua masalah yang ditemukan pada anak
saat pengkajian harus dijadikan sebagai rumusan
masalah tidak hanya satu diagnosa.
No. Variabel Keterangan Pembahasan

4. Perencanaa Hasil Tujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 7x24 jam
n diharapkan anak terhindar dari risiko trauma.
NOC (Nursing Outcomes Classification) : perilaku keamanan pribadi.
Intervensi diagnosa berdasarkan NIC (Nursing Intervention
Classification), yaitu: manajemen keamanan lingkungan.
Pendapat Menurut pendapat penulis, dalam merencanakan tindakan keperawatan
Penulis telah terlaksanan dan mengacu pada teori.
Teori yang Identifikasi kebutuhan keamanan anak berdasarkan tingkat fungsi
Mendukung fisik, kognitif, dan riwayat perilaku sebelumnya.
Identifikasi bahaya kemanan di lingkungan.
Modifikasi lingkungan untuk meminimalkan bahaya dan risiko.
Berikan materi pendidikan kesehatan yang berhubungan dengan
strategi pencegahan (Wilkinson dan Ahern, 2011).
Kesimpulan Ada beberapa rencana tindakan yang tidak terlaksana, yaitu mengatur
rutinitas sehari-hari, meliputi: tetapkan jadwal sehar-hari, minimalkan
perubahan; pasang slide rail tempat tidur; sediakan tempat tidur yang
nyaman dan bersih.
Keterbatasan Tidak dapat menerapkan semua rencana tindakan keperawatan.
Implikasi Membuat jadwal aktivitas sehari-hari bagi anak.
Meminimalkan perubahan.
Apabila anak berada di rumah sakit sebaiknya perawat memasang
slide rail tempat tidur untuk mencegah terjadinya trauma.
Selain itu juga dengan menyediakan tempat tidur yang nyaman dan
bersih.
No. Variabel Keterangan Pembahasan

5. Pelaksanaan Hasil Pengkajian kepada guru dan orang tua anak tentang sikap anak.
Menyediakan lingkungan yang aman bagi anak di kelas dengan meminta anak
untuk duduk di depan kelas.
Mendampingi dan mengawasi anak di sekolah, mengontrol lingkungan dari
kebisingan.
Menjauhkan anak dari perkelahian antar sesama teman.

Pendapat Selain melakukan pendampingan kepada anak juga dengan memberikan terapi
Penulis permainan kepada anak. Terapi permainan dilakukan untuk menyalurkan energi
anak yang berlebihan dalam hal ini perilaku impulsif.

Teori yang Erlinta dan Budiani (2012) menyampaikan bahwa pada dasarnya seorang anak
Mendukung membutuhkan bimbingan pada perilakunya, maka dibutuhkan suatu permainan
yang berfokus pada kegiatan gerak motorik.
Kesimpulan Masalah risiko trauma tidak hanya didasarkan pada satu teori saja, tetapi juga
berdasarkan kesepakatan bersama dengan orang tua anak, sehingga masalah
trauma tidak terjadi.
Keterbatasan Tidak dapat memantau anak secara sepenuhnya.
Implikasi Mempertahankan tindakan yang sudah disepakati dengan keluarga atau orang
tua.
Memonitor atau memantau perilaku anak.
Mendampingi anak baik saat belajar, bermain, dan dalam berbagai aktivitas
anak, sehingga anak tidak terjadi trauma yang bisa menimbulkan masalah bagi
anak.
No. Variabel Keterangan Pembahasan

6. Evaluasi Hasil Indikator yang tercapai adalah 1 (tidak ada gangguan) dikarenakan dalam masalah
risiko trauma anak mampu terbebas dari risiko trauma.

Pendapat Penatalaksanaan diintervensi keperawatan tetap dipertahankan yaitu menyediakan


Penulis lingkungan yang aman bagi anak, menghindarkan lingkungan yang berbahaya, dan
memindahkan barang-barang yang dapat membahayakan bagi anak.

Teori yang Menurut Nurarif & Kusuma (2015), indikator atau kriteria hasil untuk menilai anak
Mendukung terbebas dari risiko trauma yaitu anak terbebas dari trauma, anak dapat mendeteksi
risiko, perilaku pencegahan jatuh, anak dapat memproteksi terhadap kekerasan.

Kesimpulan Masalah trauma tidak terjadi.


Keterbatasan Mempertahankan masalah yang sudah terselesaikan tanpa adanya
pantauan.
Implikasi Membebaskan anak dari trauma dengan menghindarkan anak dari
bahaya.
Anak dapat mendeteksi atau mengetahui terjadinya risiko.
Anak dapat mencegah terjadinya jatuh.
Anak dapat memproteksi atau melindungi diri terhadap kekerasan
dengan menghindarkan anak dari perkelahian.
BAB V

SIMPULAN
A. SIMPULAN B. SARAN
1. An. F memiliki perilaku
susah dikendalikan; tidak Kepada orang tua
dapat duduk tenang; tidak anak dengan GPPH
dapat diam; berlarian; khususnya untuk
berjalan-jalan di dalam kelas.
tetap memberikan
2. Masalah keperawatan pada pengawasan kepada
An. F adalah resiko trauma
berhubungan dengan anak, menyediakan
hiperaktivitas. lingkungan yang
aman bagi anak dan
3. sediakan lingkungan dapat
yang aman anak, menghindarkan
identifikasi kebutuhan anak dari bahaya.
keamanan anak,
menganjurkan keluarga
untuk memahami anak.

4.Implementasin melakukan asuhan


keperawatan sesuai masalah dan
rencana tindakan. An. F terbebas
dari masalah risiko trauma.
5. Penulis sudah menggambarkan
masalah keperawatan dari
pengkajian sampai evaluasi yang
sudah dibahas dan diterapkan
dalam pengelolaan kasus.