Anda di halaman 1dari 22

BEBERAPA CATATAN

TENTANG
ASPEK HUKUM
PERIJINAN

Oleh :
WISANDANA
Konsep Dasar Ketetapan
Sebagai Instrumen Yuridis
Ketetapan (Keputusan Beschikking)
adalah pernyataan kehendak dari organ
pemerintahan untuk menciptakan
hubungan hukum baru, mengubah atau
menghapus hubungan hukum yang ada
Ketetapan adalah keputusan hukum publik
yang bersifat konkrit, individual dan final,
yang didasarkan pada kewenangan hukum
publik
Unsur-unsur Ketetapan :

a. Pernyataan kehendak sepihak


b. Dikeluarkan oleh organ pemerintahan
yang didasarkan pada kewenangan
hukum publik
c. Sifatnya konkrit, individual dan final
d. Dimaksudkan menimbulkan akibat
hukum
Syarat untuk Ketetapan Agar Sah

Ketetapan harus dibuat oleh badan yang


berwenang
Karena ketetapan adalah pernyataan
kehendak, maka pembentukan kehendak
tidak boleh mengandung kekurangan
yuridis atau mengandung paksaan,
kekeliruan atau penipuan
Ketetapan harus diberi bentuk atau
form
Isi atau tujuan ketetapan harus sesuai
dengan isi dan tujuan peraturan
dasarnya.
Ketetapan dapat berupa :

Ijin adalah ketetapan yang ditujukan kepada


suatu objek yang tidak dilarang dan hal yang
tidak diijinkan adalah terbatas.
Dispensasi adalah ketetapan yang ditujukan
kepada suatu yang sebenarnya dilarang
Lisensi adalah ketetapan yang memberikan
ijin usaha terhadap objek yang bukan
termasuk pekerjaan pemerintah
Konsesi adalah ketetapan yang memberikan
ijin terhadap suatu objek yang dikerjakan
bersama antara swasta dan pemerintah
KEPUTUSAN TATA USAHA NEGARA

1. PENETAPAN TERTULIS YANG DIKELUARKAN OLEH BADAN/PEJABAT


TUN
2. BERISI TINDAKAN HUKUM DALAM BIDANG TUN
3. BERDASARKAN PERATURAN PERUNDANGAN YANG BERLAKU
4. BERSIFAT KONKRIT, INDIFIDUAL, FINAL
5. MENIMBULKAN AKIBAT HUKUM BAGI SESEORANG / BADAN HUKUM
PERDATA

TIDAK TERMASUK KEPUTUSAN TUN

KEP TUN YANG MERUPAKAN PERBUATAN HUKUM PERDATA


KEP TUN YANG MERUPAKANPENGATURAN YANG BERSIFAT UMUM
KEP TUN YANG MASIH MEMELUKAN PERSETUJUAN
KEP TUN YANG DIKELUARKAN BERDASRKAN KETENTUAN
KUHP ATAU PERATURANM PERUNDANG-UNDANGAN LAIN YANG BERSIFAT HUKUM
PIDANA DAN KUHAP ATAU PERATURAN YANG BERSIFAT PIDANA
KEP TUN YANG DIKELUARKAN ATAS DASAR HASIL PEMERIKSAAN BADAN PERADILAN
BERDASARKAN KETENTUAN PERUNDANG-UNDANG YANG BERLAKU
KEP TUN MENGENAI TATA USAHA TNI
KEPUTUSAN KOMISI PEMILIHAN UMUM BAIK DI PUSAT MAUPUN DI DAERAH
10/28/2017 6
Diskresi (Freis Ermessen)

Keberadaan peraturan kebijaksanaan


tidak dapat dilepaskan dengan
kewenangan bebas (Vrijebevoegdheid)
dari pemerintah yang sering disebut
dengan istilah Freis Ermessen
Freis Ermessen (Diskresionare) diartikan
sebagai salah satu sarana yang
memberikan ruang bergerak bagi pejabat
atau badan-badan administrasi negara
untuk melakukan tindakan tanpa harus
terikat sepenuhnya pada undang-undang
FREIES ERMESSEN
(DISKRESI)

DALAM RANGKA MENGISI KEKOSONGAN


HUKUM, SEORANG PEJABAT
ADMINISTRASI NEGARA DIBERIKAN
KELELUASAAN OLEH HUKUM
ADMINISTRASI UNTUK MENGELUARKAN
SUATU KEBIJAKAN YANG DIKENAL
DENGAN ISTILAH DISKRESI.

10/28/2017 8
TOLAK UKUR DISKRESI

ADANYA KEBEBASAN ATAU KELELUASAAN


ADMINISTRASI NEGARA UNTUK BERTINDAK
ATAS INISIATIF SENDIRI
UNTUK MENYELESAIKAN PERSOALAN YANG
MENDESAK DAN BELUM ADA ATURAN HUKUMNYA
HARUS DAPAT DIPERTANGGUNG-JAWABKAN
(TIDAK BOLEH DIBUAT DENGAN SEWENANG-
WENANG)

10/28/2017 9
Konsep Dasar Perijinan

Ijin adalah perangkat hukum administrasi


yang digunakan pemerintah untuk
mengendalikan warganya agar berjalan
dengan teratur dan untuk tujuan ini
diperlukan perangkat administrasi
Ijin pada prinsipnya memuat larangan,
persetujuan yang merupakan dasar
pengecualian
Perijinan Lingkungan
Dalam UU-PPLH, ijin merupakan instrumen
pengendalian dalam perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia
Untuk mempertegas perijinan merupakan
salah satu instrumen pengendalian dalam
perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup, maka ketentuan perijinan dalam UU-
PPLH di tempatkan pada bab
pengendalian bagian kedua, yakni
pencegahan maksudnya agar tidak terjadi
pencemaran dan / kerusakan lingkungan
hidup
Instrumen Pencegahan Pencemaran dan/atau
Kerusakan Lingkungan Hidup (UU 32/2009)
KLHS a Instrumen
h
ekonomi LH
Tata ruang b
i PUU berbasis LH
Baku mutu LH c
Anggaran
Kriteria baku j berbasis LH
kerusakan LH d
k Analisis risiko LH
AMDAL e
l Audit LH
UKL-UPL f
Perijinan g Lingkungan m Instrumen lain
sesuai kebutuhan

Amdal bukan sebagai alat serbaguna yang dapat menyelesaikan segala persoalan
lingkungan hidup. Efektivitas amdal sangat ditentukan oleh pengembangan berbagai
instrument lingkungan hidup lainnya
Sumber: Pasal 14 UU 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Pengertian

Ijin lingkungan adalah ijin yang wajib


dimiliki setiap orang yang melakukan usaha
dan/atau kegiatan yang wajib amdal atau
UKL-UPL dalam rangka perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup sebagai
prasyarat untuk memperoleh ijin usaha
dan/atau kegiatan.
Perijinan Lingkungan

Perijinan lingkungan:
ijin lingkungan: diterbitkan sebagai
prasyarat untuk memperoleh ijin
usaha dan/atau kegiatan
ijin perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup (PPLH): diterbitkan
sebagai persyaratan ijin lingkungan
dalam rangka perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup
Ijin Lingkungan

Semua ijin lingkungan diterbitkan sebagai


persyaratan bagi usaha dan/atau kegiatan
ijin lingkungan diterbitkan sebelum
diterbitkannya ijin usaha
ijin lingkungan diterbitkan pada tahap
perencanaan
Ijin PPLH
Ijin PPLH diterbitkan pada tahap operasional.
Ijin PPLH, antara lain:
pembuangan air limbah ke air atau sumber
air;
pemanfaatan air limbah untuk aplikasi ke
tanah
penyimpanan sementara limbah B3;
pengumpulan limbah B3;
pemanfaatan limbah B3;
dsb.
Ijin Lingkungan dan Pidana

Melakukan usaha dan/atau kegiatan tanpa


memiliki ijin lingkungan dipidana min 1
(satu) tahun dan maks 3 (tiga) tahun dan
denda min Rp. 1 milyar dan maks Rp. 3
milyar
Pejabat pemberi ijin lingkungan yang
menerbitkan ijin lingkungan tanpa
dilengkapi Amdal atau UKL-UPL dipidana
maks 3 tahun dan denda maks Rp 3 milyar
Ijin Lingkungan dan Pidana

Pejabat pemberi ijin usaha dan/atau


kegiatan yang menerbitkan ijin usaha
dan/atau kegiatan tanpa dilengkapi ijin
lingkungan dipidana maks 3 tahun dan denda
maks Rp. 3 milyar
KRIMINALISASI BIROKRASI (1)

ADA PERBUATAN YANG SEBELUMNYA


MERUPAKAN PERBUATAN BIAS YANG
SAH/LEGAL/TIDAK MELANGGAR HUKUM
ADA PROSES BERUPA KEBIJAKAN
HUKUM/PEMERINTAH
KEBIJAKAN TERSEBUT MENETAPKAN
PERBUATAN YANG SEBELUMNYA
SAH/LEGAL/TIDAK MELANGGAR HUKUM
MENJADI SEBUAH PERBUATAN HUKUM
YANG MELANGGAR/PERBUATAN
PIDANA/TINDAK PIDANA

10/28/2017 19
KRIMINALISASI BIROKRASI
(2)
KECENDERUNGAN UNDANG-UNDANG
YANG SEBELUMNYA DIADAKAN UNTUK
KEPERLUAN BIROKRASI
PEMERINTAHAN YANG BERCORAK
ADMINISTRATIF, KEMUDIAN
DIRUMUSKAN UNTUK DITEGAKKAN
DENGAN BANTUAN HUKUM PIDANA
HUKUM PIDANA DIDAYAGUNAKAN
UNTUK MEMBANTU MENEGAKKAN
HUKUM ADMINISTRATIF
10/28/2017 20
KRIMINALISASI BIROKRASI
(3)
UU NO.24 TAHUN 2007 TENTANG
PENANGGULANGAN BENCANA
UU NO.26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN
RUANG
UU NO.14 TAHUN 2008 TENTANG
KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK
UU NO.25 TAHUN 2009 TENTANG PELAYANAN
PUBLIK
UU NO.32 TAHUN 2009 TENTANG
PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN
LINGKUNGAN HIDUP
10/28/2017 21
TERIMA KASIH