Anda di halaman 1dari 44

oleh

Sunardi
Danau

Situ

Kolam
Ekosistem perairan tawar

Sungai

Ekosistem perairan laut Saluran irigasi

Danau
alam/buatan
Ekosistem air tawar terbagi menjadi (Odum, 1971):
Perairan menggenang atau habitat lentik (lentis =
tenang) : danau, kolam, rawa
Perairan mengalir atau habitat lotik (lotic = terbilas) :
mata air, sungai
Fungsi Ekosistem air tawar (Odum, 1971):
Merupakan sumber yang murah dan mudah dicapai
bagi keperluan domestik dan industri
Komponen air tawar merupakan bottle neck dalam
hidrologi
Menurut Niche/relung atau berdasarkan kedudukan
organism dalam rantai makanan, organism akuatik
dapat diklasifikasikan menjadi autotrof, fagotrof dan
sapotrof.
Menurut modus hidupnya organisme air tawar dapat
diklasifikasikan menjadi Benthos,
periphyton/aufwuchs, plankton, nekton, neuston
Ototrof (produsen) : tumbuhan hijau umumnya
spermatofita akuatik dan jasad renik khemosintetik yaitu
fitoplankton contoh Hydrilla verticillata (ganggeng),
Potamogeton sp., Najas indica
Fagototrof (konsumen makro) : primer, sekunder ;
herbivora, predator, parasit, dsb. Jenis-jenis ikan
hertbivora misalnya tawes, ikan koan; jenis ikan predator
atau karnivora misalnya ikan lele, pangasius; parasit pada
ikan misalnya Lernea.
Sapotrof (konsumen renik atau dekomposer) :
disubklasifikasi menurut sifat dari subtrat organik yang
didekomposisi. Berbagai jenis mikroba hidup di perairan
tawar, bakteri nitrifikasi dan ammonifikasi
Benthos yaitu organisme yang hidup di dasar perairan (epifauna dan
infauna)
Perifiton yaitu organisme nabati maupun hewani yang hidup melekat
di batang atau daun vegetasi akuatik atau di permukaan benda:
Epilithic perifiton: Jenis-jenis perifiton yang menempel pada batu
Epipelic perifiton: Jenis perifiton yang menempel pada permukaan
sedimen adalah sering disebut juga microphyto benthos.
Epiphytic perifiton Jenis perifiton yang menempel pada daun atau
batang tumbuhan tenggelam,
Pada kayu epidendritic atau epixyloric perifiton, dan
Jenis perifiton yang menempel pada substrat lain disebut epiholic
atau nereidutic perifiton (Cole, 1983; Umaly, Laurdes dan Cuvin, 1988
dalam Setiyorini, 2002).
Plankton yaitu organisme yang melayang-layang secara pasif dalam air
dan penyebarannya tergantung kepada arus. Plankton terdiri dari
fitoplankton (tumbuhan) dan zooplankton (hewan)
Nekton yaitu organisme yang karena kemampuannya berenang dapat
berpindah tempat dengan aktif, misalnya ikan, reptilian, dan amphibian
Neuston yaitu organisme yang hidup di permukaan air, yaitu serangga
air.
Parameter fisik:
Suhu
Transparansi
Arus
Parameter kimiawi:
DO
Unsur hara/nutrient: N03, NH3, H2S, P04
Alkalinitas
dll
Organisme kurang dapat mentoleransi
perubahan-perubahan suhu
Suhu akan menyebabkan sirkulasi dan
stratifikasi suhu pada suatu danau,
Perbedaan suhu ini akan menyebabkan
pembalikan massa air (overturn),
Massa air dari bawah akan naik ke atas
dengan membawa air yang anoksik
(tanpa oksigen), dan membawa racun
berupa NH3 dan H2S, sehingga
menyebabkan kematian massal ikan.
Yaitu sifat tembus cahaya berhubungan dengan tingkat
kekeruhan (turbiditas) suatu perairan,
Apabila air keruh banyak mengandung lumpur
(sedimentasi tinggi), maka transparensi menjadi kecil,
sehingga sinar matahari yang masuk menjadi sedikit
Hal ini akan mengganggu proses fotosintesis, sehingga
fitoplankton tidak dapat memproduksi O2
Piring Secchi (Secchi Dish), alat ini dapat menentukan
tingkat intensitas cahaya matahari. Apabila intensitas
cahaya matahari tinggal 5 %, fotosintesa masih
berlangsung, dan merupakan batas bawah kemampuan
fitoplankton berfotosintesa.
Arus, sangat penting yang merupakan factor pembatas
utama pada ekosistem air mengalir yaitu sungai,
Alat untuk mengukur arus disebut dengan current
meter
Arus berperanan dalam penyebaran gas, yaitu O2,
apabila ada arus, kandungan O2 di sungai tinggi.
Selain itu juga berperanan dalam penyebaran garam-
garam dan organism kecil misalnya plankton.
Arus merupakan pembeda utama dengan ekosistem air
menggenang, yaitu danau dan kolam.
O2 dihasilkan oleh proses fotosintesis, sedangkan CO2
diperlukan dalam proses fotosisntesis
Tingginya pencemaran bahan organic ke dalam suatu
perairan, akan menyebabkan rendahnya kadar O2
terlarut (Dissolved Oxygen/DO), dan meningkatkan
kadar BOD (Biochemical Oxygen Demand)
Alat pengukur oksigen: DO meter
Kandungan unsur hara dapat masuk kedalam badan air
tawar sungai, kolam, situ dan danau (alam dan buatan),
berupa bersumber dari limbah domestik, limbah pertanian
(pertanian, peternakan, dan perikanan), limbah industri
Zat/bahan yang masuk dari luar kedalam suatu ekosistem
disebut allohtonous, sedangkan yang sudah ada di dalam
ekositem adalah autotonous
Nitrogen (NO3) dan fosfor (PO4). Keduanya sangat penting
bagi pertumbuhan fitoplankton dan tumbuhan akuatik, dan
apabila dalam jumlah yang berlimpah akan menyebabkan
marak algae (algal bloom) dan pertumbuhan massal
tumbuhan air.
TEKANAN-TEKANAN
PADA
LINGKUNGAN AIR
Faktor-faktor penyebab menurunnya / punahnya keanekaan hayati
1. Rusak dan hilangnya habitat: diperkirakan kerusakan habitat tsb
mrp penyebab utama (82%) dari punahnya berbagai jenis burung
di berbagai belahan bumi.
2. Perubahan kualitas habitat
3. Fragmentasi habitat
4. Eksploitasi populasi suatu jenis
5. Perubahan lingkungan biotik

18
Pencemaran limbah Pencemaran limbah Pencemaran limbah
Domestik (deterjen, Pertanian (pupuk NPK, Industri (logam berat,
bahan organik & inorganik Pestisida dll) POPs, dll

Eutrofikasi/ Ekosistem Penggundulan hutan,


nutrient enrichment Perairan tawar erosi dan sedimentasi

Pertumbuhan massal Pendangkalan dan


gulma air & fitoplankton Transportasi angkutan air
pelebaran sungai
Pencemaran akibat anggapan bahwa sungai dan/ danau
adalah tempat untuk membuang limbah
Contoh: tercemarnya S. Cisadane, Ciliwung, Citarum,
Cimanuk, Bengawan Solo dan S. Brantas
Penyuburan/eutrofikasi akibat peningkatan masukan
nutrient dari limbah domestik, pertanian maupun industri
Pertumbuhan massal gulma air (contoh: eceng
gondok/Eihhcornia crassipes, kayambang/Salvinia
molesta/water fern dan ganggeng/Hydrilla) akibat
eutrofikasi
Pendangkalan akibat erosi, penggundulan hutan pada DAS
Pelebaran sungai akibat aktivitas transportasi kapal besar
1. Pencemaran air: akibat limbah industri (logam berat, limbah
organik), limbah rumah tangga (limbah organik) dan pertanian
(limbah organik, anorganik, pestisida) dll, sehingga kualitas air
menurun
2. Sedimentasi: kerusakan hutan di daerah hulu, debit/kuantitas air
menurun dan banjir
3. Erosi dan abrasi daerah bantaran/sempadan sungai: transportasi,
peternakan, antropogenik
4. Pelebaran dan penyempitan bantaran sungai: transportasi,
antropogenik
1. Konservasi di daerah hulu
2. Reboisasi: hulu, bantaran sungai, dengan tanaman jenis
bambu dan jenis mangrove
3. Master plan/zonasi: hulu tidak diperuntukan untuk
daerah industri tetapi untuk konservasi
4. Perbaikan bantaran sungai: vegetasi, fisik
5. Partisipasi masyarakat
6. Peraturan perundangan:
a. Kerusakan Habitat

- sumber-sumber kerusakan habitat adalah pembangunan


pantai, pencemaran, sedimentasi, penangkapan ikan tak
terkendali
- Penangkapan ikan tak terkendali dan penangkapan ikan yang
merusak diperkirakan mengancam terumbu karang masing-
masing 64 dan 56 %
- Konversi mangrove menjadi kolam-kolam budidaya secara tak
terkendali sebagai faktor utama kerusakan mangrove selama
dekade terakhir
b. Pencemaran laut
- pencemaran berasal dari sumber-sumber daratan dalam bentuk
limbah yang tidak diolah, air larian pertanian dan akuakultur,
buangan industri dan perubahan habitat
- Spesies-spesies organisme yang sensitif mati

- Pengkayaan nutrien dari limbah dapat menyebabkan blooming


algae. Blooming algae seringkali toksik dan menimbulkan
masalah.
c. Penangkapan berlebihan
- Penggunaan teknologi baru lebih cenderung mendekati pantai,
sehingga meningkatkan tekanan terhadap sumber daya
perikanan
- Beberapa indikasi penurunan SD pantai:
- penurunan laju tangkapan
- penurunan dalam panjang ikan yang ditangkap
- peningkatan komponen ikan yang tak diinginkan
- hilangnya beberapa ikan komersial tertentu
- penurunan pendapatan (income)
- kompetisi yang tinggi dan konflik antara nelayan

Karakteristik ini adalah gejala adanya penangkapan


berlebihan (overfishing), penurunan stok ikan-ikan
tertentu dan melampaui kapasitas (overcapacity).
e. Perdagangan spesies yang terancam punah

Perdagangan ini dapat dikelompokkan ke dalam


Beberapa sektor:

Perdagangan akuarium laut yang melibatkan substrat karang,


karang hidup, ikan dan invertebrata
Perdagangan ikan makanan hidup yang melibatkan ikan
karang hidup, tiram, lobster, udang dan siput
Perdagangan makanan ikan kering dan obat-obatan yang
menjual cucumber laut kering, ikan, hiu, kura-kura laut, kuda
laut dan invertebrata lainnya, dan
Perdagangan suvenir dan permata yang melibatkan karang
kering, karang berharga, kura-kura laut, bintang laut dan
invertebrata laut.
f. Perubahan iklim dan naiknya permukaan laut
- Meningkatnya emisi GRK dan aerosol, pembakaran bahan bakar fosil,
perubahan tataguna lahan dan tutupan lahan secara ekstrim,
mempengaruhi iklim seperti temperatur dan curah hujan
- Pada gilirannya, peningkatan permukaan laut, banjir dan gangguan
cuaca ekstrim diduga akan menyebabkan bencana
- Beberapa resiko utama akibat adanya perubahan iklim di Asia yang
diidentifikasi IPCC:

1. Delta sungai yang dihuni dan daerah dataran rendah


dapat terendam air oleh meningkatnya permukaan laut,
misalnya Kota Jakarta
2. Kejadian-kejadian iklim ekstrim seperti kemarau
panjang dan banjir akan lebih parah
3. Siklon tropis akan lebih banyak
4. Akan lebih banyak insiden yang berkaitan dengan
panas dan penyakit infeksi
5. Ancaman terhadap biodiversitas akan lebih diperparah
SIFAT MUDAH RUSAKNYA EKOSISTEM PERAIRAN TERGANTUNG
KEPADA:
SIFAT FISIK DAN KIMIAWI PERAIRAN
KONSENTRASI DAN JUMLAH MASUKAN BAHAN KIMIA YANG MASUK
KE DALAM EKOSISTEM PERAIRAN
LAMANYA BAHAN KIMIA DI DALAM EKOSISTEM DAN JENIS BAHAN
KIMIA
Mekanisme:
A. Secara langsung:
1. Mematikan/membunuh organisme sec langsung: senyawa racun, limbah
panas
2. Mengganggu fisiologi, reproduksi, histologi: senyawa karsinogen, mutagen,
toxican, teratogen, radioaktif, dll
3. Mengkontaminasi (akumulasi): senyawa non-degradable (pestisida, logam
berat)
4. Introduksi spesies asing (alien species): jenis kompetitor, predator

B. Secara Tak langsung


1. Mengubah karakteristik kimia air (pH, DO, salinitas, NO3, PO4, kesadahan,
dll)
2. Menambahkan senyawa toksik atau senyawa asing (xenobiotik): surfactant,
radioaktif, oil, pestisida, dll
3. Mengubah kualitas fisik (habitat): pelumpuran, mengubah substrat,
kerusakan habitat, mengubah arus, fragmentasi habitat
PANDUAN PRAKIRAAN
DAN
ANALISIS DAMPAK
Kualitas air :
Karakteristik/sifat-sifat air yang ditentukan oleh
parameter fisik, kimiawi dan biologis dan
radioaktivitas

Baku Mutu Kualitas Air :


Batas kadar yang diperbolehkan bagi zat atau bahan
terdapat dalam air, namun air tetap berfungsi sesuai
dengan peruntukkannya
PP No.82 Tahun 2001 tentang pengelolaan kualitas air
dan pengendalian pencemaran air.
Pembagian klasifikasi dan kriteria mutu air menjadi
empat kelas air (1, 2, 3 dan 4) :
1. Kelasi I : Air baku air minum
2. Kelas II : Prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan
ikan air tawar, peternakan, mengairi pertanaman
3. Kelas III : Pembudidayaan ikan air tawar
4. Kelas IV : Mengairi pertanaman dan atau peruntukan lain
yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan
kegunaan tersebut
Tentang Pengawasan Air Minum
Tentang Pengawasan Pencemaran Air dan Badan Air yang
Berhubungan dengan Kesehatan
Tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air Pemandian Umum
Tentang Kualitas Air Tanah
Tentang Pencegahan dan Penanggulangan Pencemaran Lingkungan
Sebagai Akibat dari Usaha Industri
Sebagai contoh beberapa daerah tingkat I (propinsi) di
Indonesia telah memiliki baku mutu air antara lain DKI
Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan
Kalimantan Timur, termasuk juga baku mutu air limbah
Pembangunan Industri

Persiapan Operasional

Pembebasan Lahan Pencemaran air

sungai, danau, laut

Kenaikan Penurunan Penggusura Konstruksi


kepadatan produksi n penduduk prasarana dan
penduduk hasil kompleks industri
pertanian
Kenaikan tekanan
penduduk Kenaikan air larian

Kerusakan hutan Urbanisasi

Kenaikan air Kenaikan laju Erosi gen Kenaikan produksi


erosi limbah di kota
larian
Pengelolaan lingkungan hidup dilakukan melalui upaya
terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan, dengan
memelihara kelangsungan daya dukung dan daya tampung
lingkungan hidup

UURI NO. 7/2004 (SUMBER DAYA AIR):


Sumber daya air dilakukan pengelolaan secara
menyeluruh, keterpaduan dan berwawasan lingkungan
hidup
Pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air
diselenggarakan secara terpadu dengan pendekatan
ekosistem. keterpaduan tersebut dilakukan pada tahap
perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi.
Kriteria mutu air berdasarkan kelas (i, ii, iii, dan iv).

Peraturan menteri pekerjaan umum no. 63/1993 (garis


sempadan sungai, daerah manfaat sungai, daerah penguasaan
sungai dan bekas sungai):

di kanan dan kiri bantara sungai masing-masing


selebar 50 m harus dihijaukan dengan vegetasi dan
tidak boleh ada bangunan.
Dimulai sejak tahun 1989, di Jawa Barat 2005 meliputi
daerah pengaliran Sungai Ciujung, Cisadane, Cileungsi,
Ciliwung dan Citarum.
Program ini dalam rangka pengendalian pencemaran air.
Program ini merupakan program nasional, pelaksanaan
kegiatan operasionalnya dilakukan oleh masing-masing
pemda ybs dan pembinaannya oleh masing-masing
instansi.
KUALITAS AIR: KARAKTERISTIK/SIFAT-SIFAT AIR YANG TERDIRI
DARI PARAMETER FISIK, KIMIAWI DAN BIOLOGIS
BAKU MUTU KUALITAS AIR: BATAS KADAR YANG DIPERBOLEHKAN
BAGI ZAT ATAU BAHAN PENCEMAR TERDAPAT DALAM AIR, NAMUN
AIR TETAP BERFUNGSI SESUAI DENGAN PERUNTUKANNYA.
BAKU MUTU KUALITAS AIR: MERUPAKAN PERATURAN PERUNDANG-
UNDANGAN YANG DITETAPKAN OLEH PEMERINTAH YANG
MENCANTUMKAN PEMBATASAN KONSENTRASI BERBAGAI
PARAMETER KUALITAS AIR
BAKU MUTU KUALITAS AIR DI INDONESIA: TINGKAT NASIONAL,
SEKTORAL DAN LOKAL (REGIONAL)
Membandingkan dengan baku mutu yang ada baik
parameter biologi, fisik, dan kimiawi
Baku mutu yang diatur oleh Peraturan Pemerintah,
Keputusan Menteri, Gubernur, peraturan yang berlaku
internasional
Penelitian para peneliti/pakar
Menentukan status mutu ekosistem perairan
Derajat Indeks DO BOD TSS NH3-N
Pencemaran diversitas (mg/L) (mg/L) (mg/L) (mg/L)
komunitas

Belum >2 >6,5 <3,0 <20 >0,5


tercemar

Tercemar 1,6-2,0 4,5-6,5 3,0-4,9 20-49 0,5-0,9


ringan

Tercemar 1,5-1,0 2,0-4,4 5,0-15 50-100 1,0-3,0


sedang

Tercemar <1,0 <2,0 >25 >100 >3,0


berat
METODE STORET (US-EPA, 1977)
KEPMEN KLH NO. 115/2003, TENTANG PEDOMAN
PENENTUAN STATUS MUTU AIR
KLASIFIKASI MUTU AIR TERDIRI DARI 4 KELAS:
1. KELAS A: BAIK SEKALI, SKOR=0, MEMENUHI BAKU
MUTU
2. KELAS B: BAIK, SKOR= -1 S/D -10, CEMAR RINGAN
3. KELAS C: SEDANG, SKOR= -11 S/D -30, CEMAR SEDANG
4. KELAS D: BURUK, SKOR > -31, CEMAR BERAT
Bahan Derajat Tahap saprobik Indeks saprobik
pencemaran pencemaran

Banyak Senyawa Sangat tinggi Polisaprobik -3 s/d -2


organik Poli/-mesosaprobik -2 s/d -1,5

Agak tinggi -meso/polisaprobik -1,5 s/d -1


-mesosaprobik -1 s/d -0,5

Sedang /-mesosaprobik -0,5 s/d 0


/-mesosaprobik 0 s/d + 0,5

Senyawa organik Ringan/ -mesosaprobik +0,5 s/d +1


dan anorganik rendah -meso/ +1 s/d +1,5
oligosaprobik
Sedikit senyawa Sangat ringan Oligo/-mesosaprobik +1,5 s/d +2
organik dan Oligosaprobik +2 s/d +3
anorganik
Pertimbangan Dalam Prakiraan/Evaluasi
a. Kelangkaan relatif
b. Perubahan status
c. Endemisitas
d. Periferalitas
e. Spesialisasi habitat
f. Kelangkaan habitat
g. Kepekaan terhadap gangguan manusia
h. Nilai ilmiah
i. Nilai estetika