Anda di halaman 1dari 35

A.

Arti, Keutamaan & Hikmah Safar


B. Ragam Hukum Safar
C. Permasalahan Fiqh dalam Safar
D. Adab Adab Safar / Bepergi
Secara Bahasa : Bepergian / menempuh
jarak perjalanan
Secara Filosofis akar Kata: menampakkan

Ibnu Mundzir :





Keluar bepergian meninggalkan kampung
halaman dengan maksud menuju suatu
tempat dengan jarak tertentu yang
membolehkan seseorang yang bepergian
untuk menqashar sholat




) 12(
Dan Yang menciptakan semua yang
berpasang-pasang dan menjadikan
untukmu kapal dan binatang ternak yang
kamu tunggangi. Supaya kamu duduk di
atas punggungnya kemudian kamu ingat
nikmat Tuhanmu apabila kamu telah duduk
di atasnya; ( QS Zuhruf 12-13)



Hai manusia, sesungguhnya Kami
menciptakan kamu dari seorang laki-laki
dan seorang perempuan dan menjadikan
kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
supaya kamu saling kenal mengenal (
Hujurot 13)






Maka apakah mereka tidak berjalan di muka


bumi, lalu mereka mempunyai hati yang
dengan itu mereka dapat memahami atau
mempunyai telinga yang dengan itu mereka
dapat mendengar? Karena sesungguhnya
bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta,
ialah hati yang di dalam dada (QS Al Hajj 46)

Safar adalah potongan (bagian) dari azab,


yang menahan seorang dari makanan,
minuman dan tidurnya (yang nyaman) (HR
Bukhori dan Muslim).
:"
)(.
ada tiga doa yang tidak diragukan lagi
mustajabnya : doa orang tua pada anaknya,
doa musafir, dan doa orang yang terzalimi
(HR Ahmad)
Melakukan perjalanan ibadah wajib, seperti
haji, jihad atau bernadzar.

















)27 (
Dan berserulah kepada manusia untuk
mengerjakan haji, niscaya mereka akan
datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan
mengendarai unta yang kurus yang datang
dari segenap penjuru yang jauh (al-Hajj 27)
Melakukan perjalanan bernilai kebaikan, seperti
berdakwah, menyambung silaturahmi,
berdagang untuk mencari nafkah, menuntut
ilmu, atau umroh yang sunnah.







Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka
bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah
karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak
supaya kamu beruntung.(QS Jumat 10)
Melakukan perjalanan rekreatif, jalan-jalan,
yang tidak melalaikan dari kewajiban agama



segala suatu selain dzikrullah adalah sia-sia
dan permainan belaka, kecuali empat hal :
bercanda dg istri, melatih kuda, memanah dan
berlatih berenang (HR An-Nasai dan Thobroni)
Makruh : Melakukan perjalanan mubah
secara berlebihan atau melanggar adab dan
etika dalam safar. Misal : bepergian
sendirian
Harom : Melakukan perjalanan dengan
tujuan kemaksiatan atau dengan cara
maksiat, atau ke tujuan yang tidak
dibolehkan syariat. Misal : negeri orang
kafir yang banyak fitnah, daerah wabah
penyakit.
Pendapat Pertama : Hanya safar yang wajib,
sunnah dan mubah saja. Yang makruh dan
haram tidak diperbolehkan.
oleh : Imam Malik, Ahmad dan Syafii
Pendapat Kedua: membolehkan rukhsoh
diambil untuk semua jenis safar /
menempuh perjalanan baik haram
sekalipun. Sesuai dengan keumuman lafadz
Safar dalam Al-Quran.
oleh : Abu Hanifah, Asy-Syaukani, Ibnu
Taimiyah, Adz-Dzohiri
Menqashar dan Jamak Sholat
Tidak berpuasa di siang hari Ramadhan
Tidak terkena kewajiban Shalat Jumat
Mengerjakan Sholat Sunnah di atas
kendaraan
Mengusap Khuf (sepatu), serban dan yang
sejenisnya ketika Thoharoh
Qoshor : Meringkas shalat empat rekaat
(dhuhur, ashar dan isya) menjadi dua
rekaat, ketika melakukan sebuah perjalanan
dengan syarat tertentu.
( :
)An-Nisa 101

( :
( : )
:
( :
) . .
Pendapat Pertama : Lebih utama
menyempurnakan (1 qaul syafii)
Pendapat Kedua: sama saja ( sebagian
Malik)
Pendapat Ketiga : Qashar lebih utama
(pendapat kuat as-syafiI dan riwayat
ahmad)
Pendapat Keempat : wajib Qashar ( Abu
Hanifah dan Malik)
Pendapat Kelima : Qashar Sunnah dan
meninggalkannya makruh
* Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatawa

*
tidak halal seorang wanita yg beriman
kepada Allah dan hari akhir, menempuh
perjalanan sehari semalam, kecuali disertai
mahromnya . (Buhkori & Muslim)
Setengah hari = 1 barid = 4 farshah
Sehari semalam = 4 barid = 16 farshah
1 farshah = 3 mil
Jarak minimal = 48 mil sekitar 80 km
,
.

,
- - . :
, ,
, .

)( Ibnul Qoyyim Al-Jauzi
:

Jabir radhiallahu anhu meriwayatkan, bahwasanya
Rasulullah shallallahu alaihi wa'ala alihi wasallam
tinggal di Tabuk selama dua puluh hari meng-qashar
shalat.[HR Ahmad)
Ibnu Abbas radhiallahu anhuma meriwayatkan,
bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa'ala alihi
wasallam tinggal di Makkah selama sembilan belas
hari meng-qashar shalat.[HR Bukhori
Nafi' rahimahullah meriwayatkan, bahwasanya Ibnu
Umar radhiallahu anhuma tinggal di Azzerbaijan
selama enam bulan meng-qashar shalat.[HR Baihaqi}
Ulama sepakat, selama masih berniat safar
dan belum berniat tinggal maka
diperbolehkan terus menqashar
Apabila berniat mukim, maka selama 4 hari
atau kurang masih boleh mengqashar sholat (
Imam SyafiI, Ahmad, dan Malik)
Pendapat paling lama tentang niat mukim
adalah 20 hari sesuai dengan hadits perang
Tabuk
Jamak : Menggabungkan dua sholat ( Dhuhur
& Ashar, Maghrib & Isya) karena dalam
kondisi perjalanan, atau halangan tertentu
lainnya.
Sholat Jamak di Arafat
Jamak karena Perjalanan
Karena Sakit dan Hujan
Karena halangan / udzur umum







An Nasai-

Berpamitan dan Minta di Doakan
Berwasiat jika diperlukan
Tidak bepergian sendirian
Mengangkat pemimpin Perjalanan
Membaca doa Safar :








Memperbanyak Doa
Berbagi dalam Perjalanan
Segera kembali ketika urusan telah selesai
Tidak kembali ke rumah pada malam hari
Melaksanakan sholat dua rekaat
Mengadakan perjamuan sederhana