Anda di halaman 1dari 47

Meet The Expert

RHINITIS NON ALERGI


Preseptor : dr. Dolly Irfandy, Sp. THT-KL

Dewi Esti Diantini 1210312084


Mitra Nofembri Yenti 1210312096
Anatomi Hidung

pangkal hidung (bridge)


batang hidung (dorsum nasi)
puncak hidung (hip)
ala nasi
kolumela
lubang hidung (nares anterior)
FISIOLOGI HIDUNG

Fungsi Resprirasi

Fungsi penghidu

Fungsi fonetik

Refleks nasal
KLASIFIKASI RHINITIS
1. INFEKSI
RHINITIS SIMPLEKS

Prodormal : rasa
Selesma, Common panas, kering dan
Infeksi : Rhinovirus
cold, flu gatal di dalam
hidung

Bersin berulang,
hidung tersumbat,
Mukosa hidung
ingus encer, Terapi : Simptomatis
tampak edema
demam, nyeri
kepala
RHINITIS DIFTERI

Gejala : demam,
Infeksi limfadenitis, paralisis
Riwayat imunisasi tidak
Corynebacterium Jarang ditemukan otot pernapasan,
lengkap
diphteriae ingus bercampur
darah

Pseudomembran putih
yang mudah Diagnosis :
berdarah, krusta Pemeriksaan kuman Terapi : ADS, penisilin
coklat di nares anterior dari secret hidung
dan rongga hidung
RHINITIS TUBERKULOSA

Berbentuk noduler
Pemeriksaan :
atau ulkus,
Infeksi tb ekstra Sekret mukopurulen
terutama pada
pulmoner dan krusta, hidung
tulang rawan
tersumbat
septum (perforasi)

Terapi :
Diagnosis : BTA Antituberkulosis dan
obat cuci hidung
RHINITIS JAMUR

Non invasif- Invasif-Hifa jamur di


Invasif atau non
menyerupai rinolit lamina propia-bias
invasif
(gumpalan jamur) perforasi

Pemeriksaan : Sekret
mukopurulen, ulkus
Terapi non invasif : Terapi invasif :
atau perfirasi septum
Mengangkat Antijamur oral atau
disertai jaringan
gumpalan jamur topical, cuci hidung
nekrotik kehitaman
(black eschar)
RHINITIS ATROFI

Infeksi
hidung
kronik

Atrofi
mukosa
dan
tulang
konka
ETIOLOGI

Penyakit
Defisiensi Sinusitis Kelainan
Infeksi Defisiensi Fe kolagen,
vitamin A kronik hormonal
autoimun
Nafas
berbau

Ingus
Hidung kental
tersumbat berwarna
hijau

Manifestasi
Klinis

Sakit
Krusta hijau
kepala

Gangguan
penghidu
Pemeriksaan
Penunjang

Biopsi konka Uji resistensi


Mikrobiologi
media bakteri
Terapi

Konservatif Operatif
Antibiotik Obat cuci hidung BSEF
RHINITIS HIPERTROFI

Hipertrofi mukosa hidung pada konka inferior


Lanjutan rhinitis alergi atau rhinitis
Infeksi bakteri
vasomotor

Inflamasi kronis mukosa hidung

Hipertrofi konka inferior


Mulut kering Nyeri kepala

Sekret
Sumbatan
banyak dan
hidung
mukopurulen
Manifestasi
klinis
Hipertofi
konka

Pemeriks
aan fisik

Permuka
Sekret an
berbenjol
Terapi
Menghindari faktor pencetus

Simptomatis
2. DRUG INDUCED
RHINITIS MEDIKAMENTOSA

Gangguan Pemakaian Sumbatan


respon vasokonstriktor hidung
vasomotor topikal menetap
Gejala
obstruksi
Rebound
dilatation
Vasokonstriksi

Obat topikal
vasokonstriktor
Pasien lebih banyak Kadar agonis alfa
menggunakan adrenergic tinggi di
obat mukosa hidung

Penurunan
sensitivitas reseptor
Toleransi
alfa-adrenergik di
pembuluh darah

Aktivitas tonus
Rebound
simpatis
congestion
menghilang
Kerusakan Silia rusak

mukosa Perubahan ukuran sel goblet


hidung Penenbalan membran basal
Pelebaran pembuluh darah
Edema stroma
Hipersekresi kelenjar mucus
Perubahan pH secret hidung
Penebalan lapisan submucosa
Penebalan lapisan periosteum
Tatalaksana

Hentikan pemakaian obat tetes atau semprot vasokonstriktor hidung

Kortikosteroid oral dosis tinggi jangka pendek

Dekongestan oral
3. RHINITIS GUSTATORY (FOOD)
RHINITIS GUSTATORY

Klinis : Rhinorrea, tidak


Rhinitis yang terjadi Berhubungan
ada masalah
setelah memakan dengan makanan
pengecapan atau
makanan cair atau yang panas dan atau
penghidu, tidak ada
makanan padat pedas
gejala hidung lainnya
Makanan pedas dan panas mengandung capsaicin

Stimulasi saraf sensoris aferen di mukosa mulut dan orofaring

Stimulasi saraf parasimpatis eferen di mukosa hidung, terutama kelenjar submukosa

Rhinorrhea
Anamnesis

Diagnosis

Stimulasi
ujung lidah
Skin test
dengan
lemon
Terapi
Menghindari makanan pencetus

Antikolinergik
4. OCCUPATIONAL RHINITIS
OCCUPATIONAL RHINITIS

Inflamasi pada
hidung disebabkan Tidak terstimulasi saat
OR alergi dan OR non
oleh pajanan partikel berada di luar
alergi
di lingkungan lingkungan pekerjaan
pekerjaan

OR non alergi :
OR alergi : Reaksi
Nonimunologi, bahan
hipersenstivitas
iritan
Bahan iritan :
debu, asap,
Pajanan uap, dll
komponen
OR non alergi iritan berulang
dengan
konsentrasi
tinggi
Tatalaksana

Menghindari factor pencetus


6. IDIOPATIK
RINITIS VASOMOTOR
Sinonim : - vasomotor instability

- Vasomotor catarrh

- Non spesific allergic

rhinitis (scott-brown)

Definisi :

suatu gangguan fisiologik lapisan mukosa hidung yg disebabkan bertambahnya aktivitas


parasimpatis

Istilah rinitis kurang tepat krn lebih cenderung memberi pengertian peradangan drpd suatu ggn
fungsi

Mirip perenial nasal allergy 37


ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI

PATOFISIOLOGI

NEUROGENIK
NEUROPEPTIDA Pada keadaan normal terdapat keseimbangan

NITRIK OKSIDA simpatis & parasimpatis

TRAUMA
Pada rinitis vasomotor, terjadi peningkatan
aktivitas rangsangan saraf parasimpatis yang
berakibat ke dilatasi pembuluh darah
meningkat, permeabilitas kapiler meningkat
Gambaran klinik :
- dibedakan obstruksi nasi (alternating)

- Rinore (umumnya mukous/sereous)

- Post nasal dripping

- Bersin-bersin jarang

- Tidak gatal

- Laboratorium (Ig E normal, eosinofil normal)

- Skin prick test(-),

- Gejala dapat lebih buruk pd pagi hari (saat bangun tidur)


Terapi

Hindari faktor predisposisi

- Anjuran byk olah raga di udara terbuka

Simptomatik :

- pseudoefedrin

- Fenilpropanolamin

- Antihistamin

- Kortikosteroid nasal spray (bethametasone diproprionate)

- Vidian neurektomi
7. NARES
NARES (Non Allergic Rhinitis with
Eosinophilia Syndrome)

Sel eusinofilia
Tes tusuk kulit negatif
Lebih banyak terjadi pada dewasa di banding anak
Hidung tersumbat persisten
Bersin
Gejala
Rinorea dan hidung gatal klinik
Hiposmia
Riwayat atopi (-)
8. RHINITIS HORMONAL
Adalah Rhinitis akibat ketidakseimbangan
hormon.

hamil menstruasi

Pemakain
pubertas eksogen
estrogen
Patofisiologi

asam hialuronic,
Estrogen sekresi kelenjer, Gejala rhinitis
mukus
Tatalaksana

Irigasi nasal

Dekongestan oral

Antihistamin

Perawatan diri dan lingkungan


TERIMA KASIH

Beri Nilai