Anda di halaman 1dari 55

[CHAPTER 4]

Sistem Ventilasi Bawah Tanah


RAHMAT HIDAYAT
D621 15 505

PROGRAM STUDI
TEKNIK PERTAMBANGAN
MINE SYSTEM
A. General Principle

Berikut adalah ilustrasi elemen-elemen yang bekerja dalam satu


sistem ventilasi bawah tanah.
1. Kipas
Kipas utama dalam sistem ventilasi bawah tanah, menghandle
semua udara yang masuk kedalam sistem. Biasanya kipas
diletakkan di permukaan. Penggunaan kipas juga harus
mempertimbangkan besarnya gas-gas yang terdapat pada
sistem ventilasi yang sewaktu-waktu dapat menimbulkan
terjadinya ledakan yang menelan korban jiwa.
2. Stoppings dan Seals
Dalam pengembangan tambang, koneksi penting dibuat antara
saluran masuk dan keluar. Ketika keduanya sudah tidak
digunakan untuk akses dan ventilasi, keduanya harus di blok
dengan stopping untuk menghindari terjadinya short-circuiting
pada aliran udara. Stopping harus dipasang dengan baik, jika
terowongan tambang mengindikasikan banyaknya gas yang
berpotensi mengakibatkan ledakan maka sebaiknya stopping
ditambahkan dengan sealant material untuk memperkecil
kemungkinan hal tersebuut terjadi.
3. Doors dan Airlocks
Pintu ventilasi terletak diantara saluran masuk utama dan keluar
dan umumnya dibuat lebih dari dua pintu ventilasi untuk
membentuk sebuah airlock. Dengan adanya pintu ini, kita dapat
menghindari terjadinya short-circuiting dengan membuka pintu
ventilasi tidak bersamaan. Jarak antara dua pintu yang
berdekatan harus diperhitungkan untuk menghindari hal-hal
yang tidak diinginkan. Pintu ventilasi juga sangat berguna dalam
memecah tekanan dalam sistem ventilasi bawah tanah.
4. Regulator
Regulator terbagi atas dua jenis yaitu regulator pasif yang
berfungsi untuk mengurangi aliran udara dalam nilai yang
diperlukan pada setiap section. Kedua, adalah regulator aktif
yang digunakan untuk meningkatkan aliran udara. Hal ini
berdampak pada penggunaan booster fan dalam meningkatkan
aliran udara di beberapa bagian dari tambang bawah tanah
5. Air Crossing
Dengan adanya air crossing pada suatu sistem ventilasi bawah
tanah akan memudahkan kita dalam mengatur aliran udara pada
sistem tersebut dan juga untuk memastikan udara yang masuk
dan keluar bekerja sesuai dengan yang diinginkan.
MINE SYSTEM
B. Lokasi Kipas Utama
Kebanyakan perusahaan pertambangan di seluruh dunia
menempatkan kipas utamanya di permukaan. Untuk kipas yang
ditempatkan dipermukaan memfasilitasi instalasi, penguji coba,
akses dan maintenance dengan tujuan agar penggunaanya lebih
aman. Penempatan kipas dibawah permukaan memiliki tujuan
agar dapat meminimalisir kebisingan yang ditimbulkan,
permasalahannya adalah dibutuhkan lebih banyak tambahan
pintu, airlocks dan leakage.
1. Kontrol Gas

Gambar diatas menggambarkan bahwa tekanan udara dibawah


permukaan mengalami penurunan tekanan akibat penghentian
operasi kipas utama dan akan meningkat oleh adanya kipas yang
bekerja.
2. Transportasi
Penggunaan transportasi pada tambang bawah tanah dapat
mengefisiensikan biaya yang dikeluarkan dalam mengambil
bahan galian. Idealnya, penggunaan conveyor, lokomotif atau
berbagai moda transportasi lainnya pada tambang bawah tanah
sangatlah beresiko. Jikalau, penggunaan moda transportasi pada
tambang bawah tanah dirasakan lebih efektif, maka hendaknya
memberlakukan forcing system.
3. Pemeliharaan Kipas
Sebuah kipas yang sudah tidak bekerja optimal akan membawa
debu, uap air dan mungkin saja air dan selalu memiliki
temperatur yang lebih tinggi dari yang biasanya, sehingga
diperlukan pemeliharaan agar kipas selalu beroperasi dalam
keadaan optimal.
4. Performa Kipas
Sebuah forcing fan umumnya menghandle udara yang lebih dingin dan
lebih padat daripada exhausting fan. Ketika udara yang dikompresi
melalui sebuah kipas maka temperaturnya akan meningkat . Jika udara
tidak mengandung cairan, maka akan terjadi perpindahan energi panas
yang tidak signifikan melalui casing kipas dan peningkatan temperatur
dapat ditentukan dengan menggunakan rumus berikut
0.286 1
=
1
Dimana,
: Efisiensi isentropic kipas
T1 : Temperatur absolut pada inlet (K)
P1 : Tekanan Barometric pada inlet (Pa)
: Perubahan Tekanan Absolut (Pa)
Peningkatan temperatur melalui sebuah forcing fan akan terefleksi dari
meningkatnya suhu rata-rata pada saluran masuknya udara.
MINE SYSTEM
C. Infrastruktur dari Rute Ventilasi Utama
1. Daya Tahan Tambang
Biaya operasional dari ventilasi proporsional terhadap jalan
lintasan udara yang disediakan. Daya tahan tambang bergantung
pada ukuran dan jumlah dari lintasan udara dan bagaimana
keteraturan lintasan udara. Beberapa masalah yang harus
dihadapi untuk meningkatkan daya tahan tambang yaitu
stabilitas terowongan, kecepatan udara dan keterbatasan biaya .
2. Kontrol Kebocoran
Efisiensi volumetrik dari suatu tambang dapat ditentukan
dengan menggunakan rumus berikut

= 100%

Dimana Airflow usefully employed adalah jumlah udara yang
mencapai muka kerja.
MINE SYSTEM
C. Infrastruktur dari Rute Ventilasi Utama
1. Daya Tahan Tambang
Biaya operasional dari ventilasi proporsional terhadap jalan
lintasan udara yang disediakan. Daya tahan tambang bergantung
pada ukuran dan jumlah dari lintasan udara dan bagaimana
keteraturan lintasan udara. Beberapa masalah yang harus
dihadapi untuk meningkatkan daya tahan tambang yaitu
stabilitas terowongan, kecepatan udara dan keterbatasan biaya .
2. Kontrol Kebocoran
Efisiensi volumetrik dari suatu tambang dapat ditentukan
dengan menggunakan rumus berikut

= 100%

Dimana Airflow usefully employed adalah jumlah udara yang
mencapai muka kerja.
Persamaan yang digunakan untuk menentukan daya tahan
efektif, yaitu
= /2
Dimana R adalah daya tahan pada stopping tunggal.

Manajemen tekanan udara adalah alat yang sangat kuat untuk


digunakan dalam mengontrol kebocoran, keefektifan, efisiensi
volumetrik dan biaya sistem ventilasi. Hal tersebut sangat
penting untuk tambang yang kemungkinan besar mengalami
kebakaran secara spontan. Idealnya, daya tahan aliran udara
harus didistribusi merata pada saluran masuk dan keluar dari
udara tersebut.
GAMBAR 1
Hubungan Daya tahan Ekuivalen dengan Jumlah Stopping
3. Arah Aliran Udara
Terdapat dua pertimbangan dalam menetapkan arah aliran
udara. Pertama, mempertimbangkan mekanisme transportasi
bahan tambang. Sistem antitropal adalah sistem dimana
pergerakan transportasi batuan dengan arah aliran udara saling
berlawanan. Sistem homotropal adalah pergerakan fragmentasi
batuan dan arah aliran udara bergerak searah.
Pertimbangan kedua dalam menetapkan arah aliran udara
adalah inklinasi dari aliran udara. Sistem ventilasi ascentional
merupakan sistem ventilasi dimana aliran udara bergerak keatas
melalui inclined workings. Sistem ventilasi descentional sangat
baik digunakan dalam sistem penambangan longwall.
4. Escapeways
Jalan keluar darurat sangat vital keberadaannya pada tambang
bawah tanah, dikarenakan tingginya resiko yang ditimbulkan
seperti terjadinya kebakaran secara spontan yang disebabkan
oleh adanya gas-gas yang mudah terbakar dan kemungkinan
terjadinya runtuhan sehingga dengan adanya jalan keluar
darurat memudahkan dalam proses evakuasi pekerja. Dimana
jalan keluar darurat perlu diperjelas dengan adanya simbol-
simbol yang menandakannya pada tambang bawah tanah.
5. Jarak Pergerakan Aliran Udara dan Penggunaan Old
Workings
Rute yang dilalui saluran udara yang masuk dan keluar pada
sistem ventilasi bawah tanah harus ditinjau dari sudut pandang
jarak yang ditempuh dan waktu yang diperlukan hingga
mencapai muka kerja. Semakin besar jarak yang ditempuh oleh
pergerakan aliran udara maka diperlukan pemeliharaan yang
lebih intens karena alasan keamanan.
SISTEM DISTRIK
A. Dasar Desain Sistem Distrik
Tata letak ventilasi bawah tanah menyediakan satu atau lebih
distrik tambang yang terbagi atas dua klasifikasi, yaitu U-Tube
dan Through-flow ventilation. Masingmasing memiliki
konfigurasi fisik yang berbeda tergantung pada tipe tambang
yang diaplikasikan dan disposisi geologi lokal.
Gambar 2 mengilustrasikan cara kerja dari sistem ventilasi U-
Tube dimana udara yang mengalir pada muka kerja , kemudian
kembali dipisahkan dari saluran masuknya udara oleh stopping
dan pintu. Sistem ventilasi U-Tube sangat baik digunakan pada
tambang metode Room and Pillar dan Longwall.
Gambar 3 mengilustrasikan cara kerja sistem ventilasi through-
flow, dimana saluran masuk dan saluran keluarnya udara
dipisahkan secara geografis.
GAMBAR 2
Skema Ventilasi U-Tube
GAMBAR 3
Skema Ventilasi Through-flow
SISTEM DISTRIK
B. Deposit Berlapis
Kebanyakan tambang bawah tanah yang mengekstrak batubara,
evaporit atau deposit mineral yang berbentuk tabular umumnya
menggunakan metode penambangan room and pillar atau
longwall. Pada sub-bagian ini akan dijelaskan model distribusi
aliran udara antara kedua metode tersebut.

1. Sistem Longwall
Dua pertimbangan utama yang perlu dipertimbangkan saat
memodelkan sistem ventilasi untuk metode longwall adalah
Pertama, pengontrolan metana dan gas-gas lainnya yang
terakumulasi pada areal waste penambangan bawah tanah dan
Kedua, tingginya tingkat hancuran batuan oleh berat mekanik
longwall yang berdampak pada timbulnya debu, gas, panas dan
kelembaban.
GAMBAR 4
Model Ventilasi Bawah Tanah untuk Metode Longwall
Gambar 4A dan 4B menggambarkan penerapan dari prinsip
sistem ventilasi U-Tube pada metode longwall. Untuk Gambar
4A (Advancing System), kebocoran pada beberapa saluran udara
muncul melalui waste area dan dikontrol oleh daya tahan yang
ditawarkan pada bagian pinggir pengangkutan material dan
distribusi resisten serta tekanan udara disekitar distrik. Hal ini
dapat menimbulkan kebakaran yang cenderung spontan dan hal
yang sebaliknya terjadi pada Gambar 4B (Retreating System).
Gambar 4C menunjukkan longwall entri dengan punggung (atau
pemeras) kembali digelar terbuka untuk membatasi pinggiran
gas dengan aman kembali di daerah waste dan, karenanya,
mencegah flushes gas buang ke muka kerja. Sistem diilustrasikan
dalam (c) adalah kombinasi dari U-tube dan through flow
ventilation.
Gambar 4D menggambarkan sistem longwall yang lebih sering
digunakan di negara-negara pertambangan batubara yang
memiliki menerapkan metode room and pillar seperti Amerika
Serikat, Australia atau Afrika Selatan. Dua atau lebih entri
didorong menggunakan ruang dan pilar pertambangan, hal ini
dilakukan agar batas-batas lateral panel longwall mundur. Sekali
lagi, pemeras kembali digunakan untuk mengontrol gas buang.
Gambar 4E, 4F dan 4G menggambarkan klasifikasi sistem untuk
muka longwall dimana membuat gas pada muka longwall sangat
berat. Sistem Y memberikan suplai tambahan udara segar di
akhir kembalinya muka longwall. Hal ini membantu untuk
menjaga konsentrasi gas pada tingkat yang aman sepanjang
punggung saluran kembalinya udara
2. Sistem Room and Pillar
Gambar 5 menunjukkan dua metode ventilasi ruang dan
pengembangan pilar panel; (a) Dua arah atau sistem W di mana
udara masuk melewati satu atau lebih saluran udara sentral
dengan saluran kembali udara pada masing-masing saluran, dan
(b) Sistem searah atau U-tube dengan intake dan kembali di sisi
berlawanan dari panel.
Keuntungan dari sistem dua arah adalah bahwa udara membagi
pada akhir panel dengan masing-masing aliran udara ventilasi
operasional secara berurutan lebih dari setengah panel saja.
Sebaliknya, dalam sistem searah atau U-tube udara mengalir
dalam satu arah saja.
GAMBAR 5
Skema Ventilasi untuk Metode Room and Pillar
Gambar 6 menggambarkan panel room and pillar yang
dilengkapi dengan tambahan exhausting ventilation. Dengan
sistem seperti itu, setiap kipas akan memberikan energi untuk
mengatasi tahanan gesek di dalam saluran. Resistansi efektif
seluruh area muka menjadi nol. Perbedaan tekanan yang lebih
kecil yang diperlukan antara intake dan kembali untuk setiap
aliran udara muka diberikan dan, karenanya, terjadi
pengurangan udara yang cukup signifikan melalui kebocoran.
Daya listrik lebih yang diambil oleh kipas tambahan diimbangi
oleh kipas utama.
Gambar 7 menggambarkan sistem mundur double-Z (melalui
aliran) pada metode penambangan room and pillar. Untuk
sistem ini diperlukan arus volume yang lebih tinggi dengan
tekanan kipas yang lebih rendah dari sistem mundur double-Z
pada metode longwall.
GAMBAR 6
U-tube room and pillar development with auxiliary fans
GAMBAR 7
Retreating room and pillar district using a through-flow ventilation system
SISTEM DISTRIK
C. Deposit Badan Bijih
Badan bijih Logam jarang ditemukan dengan geometri deposit
yang sederhana melainkan sangat kompleks. Zona mineralisasi
muncul secara alami dalam bentuk yang bervariasi dari vena
berliku-liku ke deposit yang berukuran lebih besar berbentuk
tidak teratur, halus, dan distribusi serta konsentrasi logam
sangat bervariasi. Oleh karena itu, sistem ventilasi untuk deposit
logam jauh lebih kompleks jika dibandingkan dengan deposit
yang sejajar atau berlapis seperti batubara.
Gambar 8 menggambarkan strategi ventilasi tambang dengan
deposit logam yang banyak meskipun, sekali lagi, geometri yang
sebenarnya akan bervariasi. Udara bergerak dengan cara melalui
aliran dari shaft downcast atau jalan, melewati berbagai level,
sublevel dan stopes terhadap saluran kembalinya, ramp atau
upcast shaft. Aliran udara di masing-masing tingkat dikendalikan
oleh regulator atau fan booster. Pergerakan udara dari tingkat ke
tingkat, baik melalui stopes atau kebocoran melalui bijih atau
melewati old workings cenderung ascentional untuk
memanfaatkan efek ventilasi alami dan untuk menghindari
induksi termal dan resirkulasi yang tidak terkendali.
GAMBAR 8
Section showing the principle of through-flow ventilation
applied across the levels of a metal mine.
Gambar 9 sampai 11 menggambarkan guiding principles untuk
tiga metode stoping. Dalam sebagian besar kasus, di mana
kontrol pergerakan vertikal udara diperlukan, sistem aliran udara
stope bekerja secara ascentional melalui aliran ventilasi.
Meskipun kipas tambahan dan saluran mungkin diperlukan di
masing-masing drawpoints. Setiap upaya harus dilakukan untuk
memanfaatkan sistem ventilasi tambang untuk
mempertahankan terus menerus aliran udara melalui
infrastruktur utama stope. Seri ventilasi antara stopes harus
diminimalkan agar asap hasil peledakan dapat dibersihkan
dengan cepat dan efisien.
Gambar 11 untuk operasi blok caving menggambarkan
pedoman lain. Dimanapun praktis, masing-masing tingkat atau
sublevel dari stope harus disediakan dengan sendiri melalui-
aliran udara antara poros, ventilation raises atau ramp.
Sementara jalur kebocoran vertikal harus diperhitungkan selama
perencanaan, menjaga sirkuit diidentifikasi pada setiap tingkat
memfasilitasi desain sistem, ventilasi pengelolaan dan
pengendalian dalam keadaan darurat.
GAMBAR 9
Simple ventilation system for shrinkage or cut-and-fill stopes.
GAMBAR 10
Ventilation system for sub-level open stopes
GAMBAR 11
Typical ventilation system for a block caving operation.
SISTEM TAMBAHAN
A. Garis Brattices dan Sistem Saluran
Penggunaan garis brattices diperkenalkan dalam kaitannya
dengan metode room and pillar di mana garis brattices paling
sering digunakan. Hal ini menunjukkan bahwa kelemahan utama
dari garis brattices adalah resistensinya akan menambah
jaringan ventilasi tambang pada titik paling sensitif (inbye), yang
mengakibatkan terjadinya peningkatan kebocoran di seluruh
sistem. Resistensi ini tergantung pada jarak garis brattice dari sisi
terdekat dari saluran udara, dan kondisi jalan aliran udara pada
bagian belakang brattice tersebut.
Gambar 12 menunjukkan garis brattices digunakan dalam mode (a)
forcing dan (b) exhausting. Penahan api brattice disematkan antara
atap dan lantai, dan didukung oleh kerangka kerja di beberapa titik,
seperempat sampai sepertiga dari lebar jalan udara dari sisi terdekat.
Hal ini memungkinkan akses oleh penambang dan peralatan lainnya
tidak terbatas. Keuntungan dari garis brattice adalah bahwa biaya
modal yang rendah untuk jangka pendek, tidak memerlukan daya dan
tidak menimbulkan kebisingan.
Gambar 13 menunjukkan sistem memaksa sesuai dan melelahkan
menggunakan kipas tambahan dan ducting. Dalam kebanyakan kasus,
in-line kipas aksial digunakan meskipun kipas sentrifugal lebih senyap
dan memberikan tekanan yang lebih tinggi untuk headings yang lebih
panjang. Keuntungan dari sebuah kipas tambahan dan saluran adalah
memberikan efek ventilasi yang lebih positif dan dikendalikan di muka,
menyebabkan tidak ada tambahan resistensi terhadap sistem ventilasi
tambang maupun kebocoran konsekuensial seluruh jaringan.
GAMBAR 12
Line brattices used for auxiliary ventilation
GAMBAR 13
Fan and duct systems of auxiliary ventilation
SISTEM TAMBAHAN
B. Forcing, Exhausting dan Sistem Overlap
Gambar 12 dan 13 mengilustrasikan forcing dan exhausting
sebagai sistem ventilasi tambahan untuk garis brattices dan
masing-masing sistem kipas/saluran. Pilihan antara forcing dan
exhausting tergantung pada polutan, debu, gas atau panas.
Kerugian sistem forcing adalah bahwasanya debu dapat
terdistribusi masuk ke udara yang menuju ke muka kerja.
Namun, hal itu dapat diantisipasi dengan memasang filter debu
pada sistem aliran udara. Keuntungan sistem forcing adalah
mencegah pembentukan lapisan metana pada atap ventilasi.
Sedangkan, keuntungan sistem Exhausting adalah mencegah
terjadinya resirkulasi yang tidak terkendali.
Gabungan antara forcing dan exhausting disebut dengan sistem
overlap yang mana hanya mengambil keuntungan dari kedua
sistem tersebut
GAMBAR 14
Overlap systems of auxiliary ventilation
SISTEM TAMBAHAN
C. Penggerak Udara
Kipas jet , kadang-kadang dikenal sebagai ductless, pusaran atau
kipas induksi adalah unit berdiri bebas yang menghasilkan
kecepatan relatif tinggi gerai aliran udara. Jet udara
menghasilkan dua efek. Pertama, jangkauan dan integritas
pusaran udara tergantung pada kecepatan di outlet fan, ukuran
pos. Kedua, efek induksi terjadi pada batas luar kerucut yang
memperluas udara yang diproyeksikan.
Sebuah aliran udara juga dapat dihasilkan oleh semprotan
udara. Inersia dari gerakan tetesan udara ditransmisikan ke
udara dengan drag kental dan induksi turbulen. Semprotan
udara dapat digunakan sangat efektif untuk mengontrol
pergerakan lokal udara di sekitar dan bergantung pada bentuk,
kecepatan dan kehalusan semprot.
PENGONTROLAN RESIRKULASI PARSIAL
A. Latar Belakang dan Prinsip-prinsip Pengontrolan
Resirkulasi Parsial
Penelitian yang terkait dengan pengontrolan resirkulasi parsial
dilakukan pertama kali oleh Leach, Slack dan Bakke pada tahun
1960. Mereka berpendapat bahwa konsentrasi tubuh gas,C,
yang meninggalkan wilayah ventilasi dari tambang diketahui
dengan persamaan

=

Besarnya nilai C tidak bergantung pada flowpaths dari udara.
PENGONTROLAN RESIRKULASI UDARA
B. Pengontrolan Resirkulasi pada Headings

Gambar 15 menunjukkan dua contoh dari sistem pembuangan utama


yang dikonfigurasi untuk controlled recirculation. Dalam kedua kasus
tersebut, aliran udara Qt (m3/s) tersedia di terbuka cross-cut lalu dan
berisi aliran gas dari Gi (m3/s). Sebuah aliran udara dari Qh melewati
atas pos dimana emisi gas dari Gh ditambahkan.
+
=

+
=

(+)
=

(+)
= + Gh

+
= = +

Dimana, Cg adalah konsentrasi fraksi gas dan G adalah arus gas
Dalam sistem non-sirkulasi konvensional, aliran udara yang
dibawa ke heading seringkali dibatasi tidak lebih dari setengah
dari yang tersedia di bukaan cross-cut lalu, sehingga Qh = 0,5Q.
+3
=

Resirkulasi dimulai ketika Qh = Qi, maka
+2
, =

Sebuah analisis yang sama untuk konsentrasi debu, Cd , pada sistem
yang ditampilkan pada Gambar 15 tetapi tidak terdapat penyaring
debu sehingga memberikan ekspresi analog dengan gas.
+
= +

+
=

Persamaan diatas bergantung pada derajat resirkulasi.

Jika, sistem yang ditampilkan memiliki penyaring debu maka,


+ +
=
(+ )
+(1)
=
+
Dimana, Cd adalah konsentrasi fraksi debu dan D adalah arus debu
GAMBAR 15
Controlled recirculation systems for headings
PENGONTROLAN RESIRKULASI UDARA
C. Sistem Distrik

1. Posisi Kipas
Gambar 16 menunjukkan skema sederhana yang menggambarkan tiga
konfigurasi dari lokasi kipas dalam sistem resirkulasi distrik. Dalam
setiap kasus, saluran ventilasi pusat ditampilkan sebagai Qm dengan
Qc lewat dari saluran intake di resirkulasi cross-cut, untuk memberikan
aliran udara yang disempurnakan Qm + Qc. Rasio F = Qc / (Qm + Qc)
dikenal sebagai fraksi resirkulasi . Kipas yang menciptakan resirkulasi
menimbulkan tekanan Pr sedangkan perbedaan tekanan diterapkan
diseluruh outbye yang berakhir untuk tiga sistem yang ditampilkan
adalah Po1 , Po2 dan Po3.
1 = 2 + ( + )2
= 2 + ( + )2
2 = 2 2
3 = 2 + ( + )2
GAMBAR 16
Schematics of district recirculation systems
2. Tingkat Polusi
Untuk mengetahui tingkat polusi yang terjadi pada suatu
tambang bawah tanah yaitu dengan persamaan
1
1 = 1 + ( + )

1
= +

Terdapat banyak faktor yang dapat mempengaruhi adanya polusi
pada tambang bawah tanah diantaranya adalah faktor iklim,
radiasi dari peralatan yang digunakan saat produksi, dan lain
sebagainya.
REPOSITORI BAWAH TANAH
A. Jenis-jenis Repositori
Ruang penyimpanan (Repositori) bawah tanah sangat diperlukan
bukan hanya pada industri Pertambangan melainkan juga pada
industri lainnya seperti sipil. Namun, perlu diketahui dalam
membangun sebuah repositori bawah tanah perlu untuk
diperhatikan faktor-faktor seperti kondisi geologi, stabilitas,
serta faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi ruang bawah
tanah.
REPOSITORI BAWAH TANAH
B. Sirkuit Ventilasi Pada Repositori Limbah
Nuklir
Gambar 17 menggambarkan struktur utama ventilasi tingkat
tinggi dari sebuah repositori limbah nuklir. Sketsa ini bersifat
konseptual secara alami dan tidak dimaksudkan untuk mewakili
semua model saluran udara. Bahan limbah yang berbahaya
harus segera diangkut melalui poros yang relevan dan saluran
udara ke ruangan yang dipilih sebagai emplacement. Dengan
demikian, aktivitas ini dikenal sebagai aktivitas emplacement.
Untuk alasan keamanan lingkungan, sirkuit ventilasi untuk
kegiatan pertambangan dan emplasemen dalam repositori
limbah nuklir harus disimpan terpisah.
GAMBAR 17
Example of primary ventilation circuits for an underground nuclear waste repository.
REPOSITORI BAWAH TANAH
C. Fitur Keamanan Tambahan
Dalam kasus repositori bawah tanah, pengamanan desain
dimulai dengan pemeriksaan luas kesesuaian formasi geologi
untuk bertindak sebagai media penahanan alami. Ini akan
melibatkan sifat fisik dan kimia batuan, kehadiran dan tingkat
migrasi alami air tanah dan probabilitas dari aktivitas seismik.
Faktor lain yang mempengaruhi pilihan site termasuk kepadatan
penduduk dan penerimaan publik transportasi permukaan
limbah berbahaya ke site.
Sebagai tambahan dari pengawasan, sebaiknya dilakukan
pengontrolan terus menerus terhadap kualitas atmosfer di
seluruh rute ventilasi utama dari repositori limbah nuklir, setiap
kipas, sekat dan regulator harus dimonitor untuk memastikan
bahwa mereka beroperasi dalam batas-batas yang direncanakan
serta perbedaan tekanan yang dipertahankan selalu dalam
keadaan yang diinginkan.
TERIMA KASIH