Anda di halaman 1dari 28

Demam tifoid

Nurani a
1310211134
Definisi
Demam Tifoid
suatu penyakit infeksi sistemik akut yang
disebabkan oleh bakteri gram negatif
Salmonella enterica serovar typhi (S. typhi) &
S. paratyphi
ETIOLOGI
Salmonella Typhi / Salmonella
paratyphi
Bentuk : Batang
Sifat : gram negatif
Tidak membentuk spora, motil,
berkapsul dan empunyai
flagella
Dapat hidup bbrp minggu
dialam bebas
Mati dg pemanasan (suhu 60)
EPIDEMIOLOGI
Demam tifoid dapat menginfeksi semua orang dan
tidak ada perbedaan yang nyata antara insiden pada
laki-laki dan perempuan. Insiden pasien demam tifoid
dengan usia 12 30 tahun 70 80 %, usia 31 40
tahun 10 20 %, usia > 40 tahun 5 10 %.
Di Indonesia, insidens demam tifoid banyak dijumpai
pada populasi yang berusia 3-19 tahun. Selain itu,
demam tifoid di Indonesia juga berkaitan dengan
rumah tangga, yaitu adanya anggota keluarga dengan
riwayat terkena demam tifoid, tidak adanya sabun
untuk mencuci tangan, menggunakan piring yang sama
untuk makan, dan tidak tersedianya tempat buang air
besar dalam rumah
faktor yang mempengaruhi
a. Faktor Host
Manusia adalah sebagai reservoir bagi kuman Salmonella thypi. Terjadinya penularan
Salmonella thypi sebagian besar melalui makanan/minuman yang tercemar oleh
kuman yang berasal dari penderita atau carrier yang biasanya keluar bersama dengan
tinja atau urine. Dapat juga terjadi trasmisi transplasental dari seorang ibu hamil yang
berada dalam bakterimia kepada bayinya.
b. Faktor Agent
Demam tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella thypi. Jumlah kuman yang dapat
menimbulkan infeksi adalah sebanyak 105 109 kuman yang tertelan melalui
makanan dan minuman yang terkontaminasi. Semakin besar jumlah Salmonella thypi
yang tertelan, maka semakin pendek masa inkubasi penyakit demam tifoid.
c. Faktor Environment
Demam tifoid merupakan penyakit infeksi yang dijumpai secara luas di daerah tropis
terutama di daerah dengan kualitas sumber air yang tidak memadai dengan standar
hygiene dan sanitasi yang rendah. Beberapa hal yang mempercepat terjadinya
penyebaran demam tifoid adalah urbanisasi, kepadatan penduduk, sumber air minum
dan standart hygiene industri pengolahan makanan yang masih rendah.
Gejala Klinis
Setelah Masa inkubasi = 10-14 hari
Gejala klinis

Gejala Klinis bervariasi dari ringan, sedang sampai berat


dan dapat berakhir dengan kematian
Minggu I
Demam (meningkat perlahan2
terutama di sore hari)
Nyeri kepala
Anoreksia
Obstipasi
Atau diare
Mual muntah
Rasa tidak enak diperut
Epistaksis
Batuk dll
Minggu II
Gejala-gejala lebih jelas
Demam
Bradikardi relatif
Lidah berselaput
Hepatosplenomegali
Meteorismus
Gangguan mental: somnolen, stupor,
koma, delirium atau psikosis
Roseola (jarang ditemukan pada orang
indonesia)
Gejala Lain
Rose spot dapat dijumpai pada penderita tifoid, yaitu suatu ruam
makulopapular yang berwarna merah dengan ukuran 2 sampai 4
um seringkali dijumpai pada daerah abdomen, toraks, ekstremitas
dan punggung pada orang kulit putih, jarang terjadi pada anak
Indonesia.
Berikut Tabel 1. Skala penilaian klinis demam tifoid menurut Nelwan
RHH.
DASAR DIAGNOSA
Anamnesis
demam 8 hari, lebih tinggi pd sore dan malam hari
Pemeriksaan fisik
Tifoid tongue, bradikardi relatif, sefalgia, malaise,
mual, muntah, gangguan motilitas sal. Cerna,
anoreksia, hepatosplenomegali
Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan rutin
Darah perifer lengkap: paling sering leukopeni,
dapat normal atau leukositosis
Anemia ringan
Trombositopenia
LED meningkat
SGOT dan SGPT meningkat
Uji Widal
Deteksi antibodi dasarnya rx silang
antara antigen S.typhi dengan
antibodi aglutinin
Aglutinin O = badan kuman, H=
flagel kuman, Vi = simpai kuman
Uji tubex
Uji semikuantitatif kolorimetrik yang cepat
(menit)
Mendeteksi antibodi anti-S.typhi 09
Dapat mendeteksi penyakit secara dini (hari ke 4-
5)
Sensitifitas dan spesifisitas kuat
typhidot
Mendeteksi antibodi IgM dan IgG pada
membran luar S typhi
Hasil positif dapat ditemukan 2-3 hari
Sensitifitas dan spesifitas baik
Reinfeksi igG meningkat IgM sulit dideteksi
Kultur darah
Hasil biakan positif memastikan
demam tifoid
Hasil negatif tidak menyingkirkan
Dipengaruhi oleh:
Pemberian antibiiotik
Volume darah kurang
Darah mesti langsung dimasukkan ke dalam media
empedu
Riwayat vaksinasi
Pengambilan darah lebih dari 1 minggu aglutinin
meningkat
TATALAKSANA
Istirahat dan perawatan
Diet dan terapi penunjang
Pemberian anti mikroba
Diet dan terapi suportif
Dulu diet bubur saring bubur
kasar nasi (tergantung tingkat
kesembuhan)
Beberapa penelitian: pemberian
makan padat dan lauk, rendah serat
aman
KloramfenikolAntibiotika
Di Ina pilihan utama
Dosis 4 X 500 mg s/d 7 hari bebas
demam
Penurunan demam rata2 setelah 5 hari
Tiamfenikol
Dosis hampir sama dengan kloramfenikol
Penurunan demam rata2 setelah 5 hari
Supresi sumbsum tulang lebih rendah
Kloramfenikol merupakan antibiotik lini pertama terapi
demam tifoid yang bersifat bakteriostatik namun pada
konsentrasi tinggi dapat bersifat bakterisid terhadap
kuman- kuman tertentu serta berspektrum luas.Dapat
digunakan untuk terapi bakteri gram positif maupun
negatif.Kloramfenikol terikat pada ribosom subunit 50s
serta menghambat sintesa bakteri sehingga ikatan peptida
tidak terbentuk pada proses sintesis protein kuman.
Dosis untuk terapi demam tifoid pada anak 50-100
mg/kgBB/hari dibagi dalam 3-4 dosis.Lama terapi 8-10 hari
setelah suhu tubuh kembali normal atau 5-7 hari setelah
suhu turun.Sedangkan dosis terapi untuk bayi 25-50
mg/kgBB
Kotrimoksazol
Efektifias obat hampir sama dengan
kloramfenikol
Dosis dewasa 2 x 2 tablet (2 x 960
mg)
Diberikan 2 minggu
Ampisilin dan amoksisilin
Kemampuan menurunkan demam
lebih rendah
Dosis 50-150 mg/kg/hari
Diberikan selama 2 minggu
Lini kedua
1. Seftriakson
Seftriakson merupakan terapi lini kedua pada kasus
demam tifoid dimana bakteri Salmonella Typhi sudah
resisten terhadap berbagai obat. Antibiotik ini memiliki
sifat bakterisid dan memiliki mekanisme kerja sama
seperti antibiotik betalaktam lainnya, yaitu
menghambat sintesis dinding sel mikroba, yang
dihambat ialah reaksi transpeptidase dalam rangkaian
reaksi pembentukan dinding sel.
Dosis terapi intravena untuk anak 50-100 mg/kg/jam
dalam 2 dosis, sedangkan untuk bayi dosis tunggal 50
mg/kg/jam
2. cefixime
Akhir-akhir ini, sefiksim oral sering digunakan sebagai alternatif.
Indikasi pemberian sefiksim adalah jika terdapat penurunan
jumlah leukosit hingga < 2000/l atau dijumpai resistensi
terhadap S. typhi.1
3. Kuinolon
Efikasi obat golongan ini terhadap demam tifoid cukup baik.
Fluorokuinolon memiliki angka kesembuhan mendekati 100 %
dalam kesembuhan klinis dan bakteriologis disamping
kemudahan pemberian secara oral. Hanya saja, pemberian
obatini tidak dianjurkan untuk anak. Hal ini disebabkan adanya
pengaruh buruk penggunaan kuinolon terhadap pertumbuhan
kartilago. 1,10
4. Asitromisin
Beberapa penelitian menunjukkan adanya penurunan demam
pada hari ke 4. Antibiotik ini diberikan selama 5 7 hari.10
Kombinasi antimikroba
Di Indikasikan pada tifoid toksik,
peritonitis, perforasi, syok septik
atau penyakit yang pernah
ditemukan dua macam organisme
dalam kultur darah selain salmonella
Kortikosteroid
Diindikasikan pada tifoid toksik atau
demam tifoid yang mengalami syok
septik
Obat yang aman untuk Wanita hamil

Ampisilin
Amoksisilin
Sefriakson
Komplikasi tifoid
Intestinal
Perdarahan intestinal
Perforasi usus
Ekstraintestinal
Hematologi KID
Hepatitis tifosa
Pankreatitis tifosa
Miokarditis
Manifestasi neuropsikiatrik (tifoid toksik)