Anda di halaman 1dari 20

Kesehatan dan keselamatan kerja

penyakit akibat kerja (Bisinosis)


Avelia Iliq
102009131
A5
avelftcb@gmail.com
Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Krida Wacana
Skenario 1
Seorang laki-laki 40 tahun, datang ke Poliklinik dengan keluhan
timbul rasa berat di dada dan napas pendek, sejak setahun yang
lalu.
Catatan tambahan: Rasa berat di dada dan nafas pendek disertai
juga demam dan nyeri otot pada setiap hari pertama kembali
bekerja dari setiap libur panjang ataupun sehabis libur akhir
pekan. Pasien bekerja di pabrik garmen sejak setahun yang lalu.
1. Diagnosis Klinis
Anamnesis
Identitas Pasien: Laki-laki 40 tahun
Keluhan Utama: Rasa berat di dada dan napas pendek,sejak
setahun yang lalu.
Keluhan Penyerta: Disertai juga demam dan nyeri otot pada
setiap hari pertama kembali bekerja dari setiap libur panjang
ataupun sehabis libur akhir pekan.
Riwayat Pekerjaan: Pasien bekerja di pabrik garmen sejak
setahun yang lalu.
Pemeriksaan Fisik
Inspeksi: Bentuk dada, Sifat pernapasan, Frek napas. (napas
pendek)
Palpasi: nyeri +/-,
Perkusi
Auskultasi
Pemeriksaan Penunjang

X-ray dada
Tes Spirometri
Diagnosis Banding
Bronkitis Kronis Tb Paru

Etiologi Rokok Mycobacterium tuberculosis


Infeksi
Polusi
Keturunan
Faktor sosial ekonomi

Gejala Klinis Batuk produktif Demam


Sesak napas Batuk/batuk berdarah
Kadang terdengar mengi Sesak napas
Nyeri dada
Malaise (e.g: nyeri otot)
2. Pajanan yang dialami
Secara umum pajanan yg dialami oleh pekerja pabrik garmen yaitu
secara langsung terpapar debu kapas
Selain itu perlu diketahui juga berapa lama pasien bekerja di
pabrik garmen tersebut, lalu apakah memakai Alat Pelindung Diri
(APD) seperti masker. Hal hal tersebut dapat menjadi factor
meningkatnya resiko terpajan debu kapas yang akhirnya
mengakibatkan penyakit Bisinosis
3. Hubungan pajanan dengan penyakit
Debu kapas yang dihisap oleh tenaga kerja dapat menyebabkan
gangguan fungsi paru ditandai dengan menurunnya fungsi paru.
Pengambilan sampel sebanyak 31 orang wanita yang bekerja sebagai
pembuat kasur. Dari analisa bivariat diketahui bahwa ada hubungan
yang kuat antara kadar debu kapas dengan penurunan fungsi paru
dan juga ada hubungan yang sedang antara lama pemaparan dengan
penurunan fungsi paru.
Sedangkan dari analisa multivariat diketahui ada hubungan yg kuat
antara kadar debu & lama pemaparan dgn penurunan fungsi paru.
4. Jumlah pajanan cukup besar dapat
mengakibatkan penyakit
Patofisiologi: Debu masuk ke dalam saluan napas, timbul reaksi
mekanisme pertahanan nonspesifik berupa batuk, bersin, gangguan
transport mukosilier dan fagositosis oleh makrofag. Otot polos di
sekitar jalan napas dapat terangsang sehingga menimbulkan
penyempitan. Keadaan ini terjadi biasanya bila kadar debu melebihi
nilai ambang batas.
Epidemiologi: bissinosis telah diakui sebagai risiko pekerjaan bagi
pekerja tekstil. Lebih dari 800.000 pekerja di industri kapas, rami,
dan tali terkena partikel udara yang dapat menyebabkan bissinosis di
tempat kerja. Hanya pekerja di pabrik yang memproduksi benang
atau kain yang memiliki risiko signifikan kematian dari penyakit ini.
Lanjutan..
Observasi tempat/lingkungan kerja
o Pada penyakit bissinosis dapat dilihat bagaimana pekerja
pabrik garmen mendapatkan pajanan berupa debu kapas
yang terhirup/terhisap selama durasi jam bekerja.
o Akumulasi pajanan tersebut dapat mengakibatkan
terganggunya sistem pernapasan, gejala akut yang sering
terjadi yaitu sesak nafas, berat di dada, demam terutama
pada hari pertama kerja.
Lanjutan..

Pemakaian Alat Pelindung Diri (APD)


o Umumnya di pabrik garmen/tekstil, para pekerja
diwajibkan memakai APD untuk menghindari pajanan
berupa debu kapas seperti masker.
o Bissinosis dapat terjadi jika pabrik tidak memberikan masker
atau juga akibat kelalaian para pekerja yang tidak memakai
masker. Pemakaian masker pada pekerja pabrik garmen
dapat menurunkan resiko terkena penyakit bissinosis
5. Faktor individu
Status kesehatan fisik :
Apakah ada penyakit alergi yang diderita?
Bagaimana gizi pasien? Serta pola makannya?
Adakah kebiasaan berolah raga?
Status kesehatan mental
Kebersihan perorangan
6. Faktor lain di luar pekerjaan
Penyebab lain tidak selalu dapat digunakan untuk menyingkirkan
penyebab di tempat kerja.
Hobi : kegiatan seseorang dapat mempengaruhi keadaan
kesehatannya. Contoh : berolahraga
Kebiasaan : merokok, minum beralkohol, tidur telat
Pajanan di rumah
Pajanan pada pekerjaan sambilan
7. Diagnosis Okupasi
Dari uraian di atas dapat dimengerti bahwa untuk menegakkan
diagnosis Penyakit Akibat Kerja diperlukan pengetahuan yang
spesifik, tersedianya berbagai informasi yang didapat baik dari
pemeriksaan klinis pasien, pemeriksaan lingkungan di tempat
kerja (bila memungkinkan) dan data epidemiologis. Hasilnya
diagnosis akibat kerja yang didapatkan adalah penyakit yang
diakibatkan karena pekerjaan Bronkitis et causa Byssinosis.
Penatalaksanaan
Medikamentosa
Obat bronkodilator, biasanya akan memperbaiki gejala.
Obat Beta 2 Agonis, Disodium chormoglycate, dan anti histamine.
Kortikosteroid diresepkan dalam kasus yang lebih parah.
Nebulizers, mungkin jika kondisi menjadi jangka panjang.Terapi oksigen
diperlukan jika tingkat oksigen darah yang rendah.

Non medikamentosa
Penyuluhan & pengetahuan kepada pekerja mengenai bahaya dari debu-
debu organic serta tentang penggunaan APD yang benar.
Memberi kebijakan untuk pindah bagian kerja selain di pemintalan &
penenunan, atau pindah shift kerja bila itu berpengaruh pada pasien
Rehabilitasi (jika perlu)
Pencegahan

Primer
Penyuluhan kepada pekerja tentang bahaya dari debu dan pajanan
lain di pabrik tempat mereka bekerja
Memberi dan memfasilitasi para pekerja pabrik dengan (APD)
seperti masker, sarung tangan dan sebagainya
Mengadakan acara senam/olahraga secara teratur untuk pekerja
pabrik dan staff
Meningkatkan gizi para pekerja dengan membuat kantin sendiri
dengan makanan yang sehat dan bervariasi
Lanjuta..
Sekunder
Subsitusi dgn bahan lain yg lebih aman bagi kesehatan pekerja
Penurunan kadar debu di udara tempat kerja, misal memakai exhaust fan
Ventilasi yang baik, baik umum maupun local
o Ventilasi umum: mengalirkan udara ke dalam melalui pintu & jendela
o Ventilasi local: pompa ke luar setempat dgn menghisap debu dari sumber
debu yg dihasilkan & mengurangi sedapat mungkin debu didaerah pekerja.
Tersier
Pemeriksaan kesehatan pra-kerja untuk tidak menerima pekerja dgn sakit
paru untuk ditempatkan pada tempat yg penuh debu.
Pemeriksaan berkala untuk menemukan penderita silikosis sedini untuk
pencegah
Prognosis

Gejala biasanya membaik setelah menghentikan paparan


debu. Paparan terus dapat menyebabkan fungsi paru-paru
berkurang.
Kesimpulan
Debu industri di tempat kerja dapat menimbulkan kelainan dan
penyakit paru.
Berbagai faktor berperan pada mekanisme timbulnya penyakit,
diantaranya adalah jenis, konsentrasi, sifat kimia debu, lama
paparan dan faktor individu pekerja.
Untuk menegakkan diagnosis penyakit paru akibat debu industri
perlu dilakukan anamnesis yang teliti mengenai riwayat pekerjaan,
identifikasi debu di tempat kerja, dan pemeriksaan penunjang
seperti uji faal paru dan pemeriksaan radiologis.
Terima Kasih