Anda di halaman 1dari 88

MACAM-MACAM SEDIAAN STERIL

MATA KULIAH
TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL
DOSEN PENANGGUNG JAWAB
YUSNITA USMAN, S.Si., M.Si., Apt.
BOBOT (JUMLAH SKS)
1 T, 3 P ( 4 SKS)
SASARAN SUBPOKOK AJARAN
Menjelaskan macam-macam sediaan steril

Menjelaskan anatomi dan wilayah kerja dari semua jenis sediaan


steril

Menjelaskan keuntungan dan kerugiaan dari semua jenis sediaan


steril

Menjelaskan metode-metode yang digunakan dalam sediaan


steril

Memberikan contoh sediaan steril yang ada di pasaran


MACAM-MACAM SEDIAAN STERIL

Radiasi
Injeksi Cairan infus Steril Padat
Farmasetik

Tetes Mata,
Bahan
Suspensi steril Suspensi dan Larutan irigasi
Diagnosis
Salep

Larutan
Ekstrak
Dialisis
Allergenio
Peritonial
SALEP MATA
SEDIAAN
MATA
TETES MATA

SEDIAAN INFUS
STERIL
SEDIAAN
AMPUL
(PARENTERAL)

SEDIAAN
VIAL
HIDUNG
Sediaan Mata
produk steril yang secara
esensial bebas dari partikel
asing, campuran senyawa dan
pengemasannya sesuai untuk
pemakaian dalam mata.
Persyaratan Produk Obat Mata
Untuk pengontrolan produk obat mata, harus :

Steril
Jernih
pH
dapar
tonisitas
preservatif
Additives/bahan tambahan
viskositas
kemasan dan stabilitas
ANATOMI & FISIOLOGI MATA
Mata adalah organ untuk penglihatan terdiri dari
1. Kornea
lensa pertama dalam sistem optikal mata, terdiri dari beberapa
lapis yang penuh dengan saraf sensoris, 75-80 % air
Fungsi : alat atau pintu masuk segala sesuatu dari luar ke dalam
rongga bagian dalam mata, selama bahan tsb. dapat diabsorpsi.
Bagian Organ Mata
2. Cairan mata
campuran kompleks terdiri dari elektrolit, protein,
karbohidrat, enzim (lysozime) dan asam organik. Bahan padat total
1,8 %.
Cairan mata (lakrimal) dikeluarkan oleh kelenjar lakrimal dan
sekresi kelenjar konjuntiva
pH air mata 7,3 7,7
konsentrasi osmotik air mata = larutan NaCl 0,9 %
ANATOMI FIIOLOGI MATA (1)
2

5
Kelopak Mata

3
1
4
ANATOMI FISIOLOGI MATA (2)
ABSORPSI OBAT MATA
Permukaan mata ditutupi oleh lapisan air mata, yang terdiri dari 3 lapisan
film yang berbeda
Absorpsi obat secara normal yang dimasukkan ke dalam bola mata akan
didistribusikan ke dalam lapisan air mata prekorneal dengan aksi
kedipan mata
Bioavailabilitas obat mata umumnya sangat kurang baik dengan cara
topikal. Umumnya obat mata, kurang dari 1% dari dosis pemberian dapat
menembus kornea untuk mencapai ruang bagian dalam
Obat yang dimaksud untuk pengobatan lokal masuk ke dalam cairan yang
bersifat air melalui kornea dengan difusi pasif
Bahan yang bersifat lipoid dan yang larut baik dalam air atau
memiliki kelarutan 2 fase, diabsorpsi baik melalui kornea.
Teori Kinsey
Absorpsi obat melalui kornea :
Obat berupa garam (contoh : Homatropin Bromida) yang
seimbang dengan bentuk basenya dalam lingkungan air mata
akan mengadakan penetrasi bentuk basenya melalui lapisan
epitelium kornea.
Di dalam lapisan substansia propria yang bersifat air base
lemah mengadakan keseimbangan baru dan membentuk ion
garam base tsb.
Kemudian di daerah endotelium, bentuk ion ini mengadakan
keseimbangan lagi sehingga terjadi penetrasi basenya ke dalam
karena endotelium bersifat lipoid.
ABSORPSI OBAT MELALUI KORNEA
(Teori Kinsey)
VISKOSITAS OBAT MATA
UNTUK MEMBUAT KEKENTALAN OBAT MATA
MENYERUPAI KEKENTALAN AIR MATA DIANJURKAN AGAR
OBAT TETES MATA DIBERI PENGENTAL

USP memganjurkan penambahan bahan pengental seperti


- Metil selulose (MC)
- Hidroksimetil selulose (HMC)
- Karboksimetil selulose (CMC)
- Polivinil alkohol (PVA)

Penambahan bahan ionik untuk membantu absorpsi obat

Benzalkonium klorida biasa ditambahkan dalam larutan mata


Karbakhol untuk respons miotik langsung begitu obat terabsorpsi
kornea
SALEP MATA
Salep Mata (Oculenta)
Defenisi
Salep mata adalah sediaan steril yang mengandung bahan kimia yang
terbagi halus dalam basis, yang digunakan pada mata dimana obat
dapat kontak dengan mata dan jaringan tanpa tercuci oleh air mata dan
memerlukan perhatian khusus dalam pembuatannya
Umumnya salep mata dibuat dengan dasar salep :
- petrolatum (vaselin),
- vaselin - minyak mineral, atau
- vaselin - lanolin
Dasar salep mata tidak boleh mengiritasi pada mata dan harus
memberikan kesempatan bahan aktif berdifusi dari dasar salep ke
kelenjar air mata dan harus bebas partikel besar untuk mencegah
iritasi
Dasar Salep Mata
British Pharmacopeia :
- Lanolin anhidrat 10
-Vaselin kuning 90
Cara pembuatan:
Campuran tersebut dilebur bersama-sama, disaring melalui corong
panas menggunakan kertas saring kasar atau kain kasa/flanel, kemudian
disterilkan dengan pemanasan kering pada suhu 1700C minimal 30
menit. Biarkan dingin dan dicampurkan dengan bahan aktif.

Untuk mendapatkan konsistensi yang lebih lunak, formula dimodifikasi


sbb :
-Vaselin kuning 80
- Parafin cair 10
- Lanolin anhidrat 10
Syarat-Syarat Salep Mata
Dibuat dari bahan yang disterilkan dan di bawah kondisi yang
benar-benar aseptik dan memenuhi persyaratan dari tes sterilisasi
resmi
Sterilisasi terminal dari salep akhir dalam tube disempurnakan
dengan menggunakan dosis yang sesuai dengan radiasi gamma
Mengandung preservatif, biasanya digunakan klorbutanol,
paraben atau merkuri organik
Salep akhir harus bebas dari partikel besar
Basis yang digunakan tidak mengiritasi mata, membiarkan difusi
obat melalui pencucian sekresi mata dan mempertahankan
aktivitas obat pada jangka waktu tertentu pada kondisi
penyimpanan yang sesuai
Keuntungan dan Kerugian Salep Mata
Keuntungan Kerugian
Waktu kontak yang lebih lama, dimana Salep mata akan
waktu kontak antara obat dengan mengganggu penglihatan
mata, 2 4 kali lebih besar apabila kecuali jika digunakan pada
dipakai salep dibandingkan jika dipakai waktu tidur
larutan garam
Bioavailabilitas obat yang lebih besar
Absorpsi obat dapat ditingkatkan
Tempat kerjanya lebih luas yaitu
bekerja pada kelopak mata, kelenjar
sebasea, konjungtiva, kornea dan iris
Cara Penggunaan Salep Mata
Cuci tangan
Buka tutup dari tube
Dengan satu tangan, tarik kelopak mata bagian bawah perlahan-lahan
Sambil melihat keatas, tekan sejumlah kecil salep kedalam kelopak mata bagian bawah ( -
inci). Hati-hati agar tidak menyentuhkan ujung tube pada mata, kelopak mata, jari, dll
Tutup mata dengan lembut dan putar bola mata kesegala arah pada saat mata ditutup. Kadang-
kadang pengaburan dapat terjadi
Kelopak mata yang tertutup dapat digosok dengan lembut dengan jari untuk mendistribusikan
obat melalui fornix
Tutup kembali tube
Hati-hati untuk mencegah kontaminasi tutup tube saat dibuka
Pada saat tube salep dibuka pertama kali, tekan keluar inci salep dan buang karena mungkin
terlalu kering
Jangan pernah menyentuh ujung tube dengan permukaan apapun
Jika mempunyai lebih dari satu tube untuk salep mata yang sama, buka satu tube saja
Jika menggunakan lebih dari satu jenis salep mata pada waktu yang sama, tunggu sekitar 10
menit sebelum menggunakan salep lainnya
Untuk memperbaiki aliran dari salep, pegang tube dalam tangan selama beberapa menit
sebelum digunakan
Sangat bermanfaat untuk latihan menggunakan salep dengan persis didepan cermin
Cara Pembuatan Salep Mata
1. Apabila bahan aktif mudah larut dalam air dan larutannya
stabil, dapat dilarutkan dalam sedikit mungkin air, kemudian
ditambahkan dasar salep mata lebur yang mampu menyerap
sejumlah air pelarut tsb. Campuran diaduk sampai massa
membeku.
2. Jika bahan aktif tidak mudah larut dalam air atau larutannya
mudah terurai, bahan dimikronisasi (digerus sampai halus) lalu
ditambahkan bahan dasar salep sejumlah sama, diaduk sampai
homogen. Sisa dasar salep ditambahkan sedikit demi sedikit.
Cara Penggunaan Salep Mata
Cuci tangan
Buka tutup dari tube
Dengan satu tangan, tarik kelopak mata bagian bawah perlahan-lahan
Sambil melihat keatas, tekan sejumlah kecil salep kedalam kelopak mata bagian bawah ( -
inci). Hati-hati agar tidak menyentuhkan ujung tube pada mata, kelopak mata, jari, dll
Tutup mata dengan lembut dan putar bola mata kesegala arah pada saat mata ditutup. Kadang-
kadang pengaburan dapat terjadi
Kelopak mata yang tertutup dapat digosok dengan lembut dengan jari untuk mendistribusikan
obat melalui fornix
Tutup kembali tube
Hati-hati untuk mencegah kontaminasi tutup tube saat dibuka
Pada saat tube salep dibuka pertama kali, tekan keluar inci salep dan buang karena mungkin
terlalu kering
Jangan pernah menyentuh ujung tube dengan permukaan apapun
Jika mempunyai lebih dari satu tube untuk salep mata yang sama, buka satu tube saja
Jika menggunakan lebih dari satu jenis salep mata pada waktu yang sama, tunggu sekitar 10
menit sebelum menggunakan salep lainnya
Untuk memperbaiki aliran dari salep, pegang tube dalam tangan selama beberapa menit
sebelum digunakan
Sangat bermanfaat untuk latihan menggunakan salep dengan persis didepan cermin
Cara Memasukkan Salep Mata ke dalam tube
Tempatkan salep pada selembar kertas lilin atau perkamen
Lipat kertas tersebut sehingga sisanya bertemu.
Dengan menempatkan batang pengaduk pada bagian atas lipatan dan
menggulung kertas mengarah ke bagian bawah lipatan, salep dalam kertas
ditekan menjadi bentuk silinder.
Kertas tube kemudian dimasukkan pada bagian belakang yang terbuka besar
dari tube yang dapat dilipat, dan ketika kertas ditarik keluar melalui jari, salep
akan tertahan dan tertinggal di dalam tube.
Pada saat memasukkan salep, penutup dari tube harus dibuka untuk
memungkinkan pengisian yang sempurna.
Tube seharusnya diisi hanya sampai jarak 1 inci dari ujung tube sehingga
memberikan tempat untuk menutup tube.
Penutupan tube dilakukan meratakan dasar salep dengan spatula dan
melipatnya lebih dari dua kali dan menjaganya dengan penjepit khusus tube
salep yang dilakukan dengan sepasang pinset.
TETES MATA
Defenisi Tetes Mata (Collyria)

Tetes mata adalah sediaan steril berupa larutan minyak atau


suspensi yang digunakan pada mata dengan cara meneteskan
pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata atau bola
mata yang dalam pembuatannya harus diperhatikan pH,
stabilitas, tonisitas, sterilitas, viskositas dimana dapat
mengandung bahan-bahan seperti antimikroba (antibiotik),
antiinflamasi seperti kortikosteroid, obat miotik seperti
fisostigmin sulfat, obat midriasis seperti atropin sulfat yang
sterilisasi akhirnya dengan penyaringan atau dengan
autoklaf.
Keuntungan dan Kerugian Tetes Mata
Keuntungan Kerugian
Waktu kontak yang relatif
Lebih stabil daripada salep ( hanya
singkat antara obat dan
sedikit pengaruh sifat fisika)
permukaan yang terabsorsi.
Tidak menganggu penglihatan
Bioavailabilitas tetes mata
ketika digunakan lebih buruk, kebanyakan
obat kurang dari 1-3% dari
dosis yang dapat melewati
kornea.
SyaratTetes Mata (1)
1. Steril

Air mata tidak mengandung antibodi, pertahanan terhadap infeksi yang


dimiliki mata adalah dengan aksi pencucian dengan air mata dan dengan
enzim lisozime yang mampu menghidrolisis polisakarida dari
mikroorganisme.

Yang tidak dipengaruhi oleh enzim lisozime adalah Pseudomonas aeroginosa


yang dapat menyebabkan kerusakan mata.

Penyebab infeksi oleh mikroorganisme : transplantasi kornea

Pengertian steril bukan parsial artinya jika air yang digunakan air untuk
injeksi steril sedangkan bahan obatnya atau tambahannya tidak steril,
maka hal itu tidak ada gunanya.
SyaratTetes Mata (2)
2. Preservatif (Pengawet)
Penggunaan pengawet pada sediaan obat mata hanya dibolehkan untuk dosis
ganda
Senyawa amonium kwarterner seperti Benzalkonium klorida, efektif
terhadap m.o. gram positif maupun negatif.
Kombinasi dengan 0,01 0,1 % Disodium EDTA akan menambah kepekaan
mikroorganisme terhadap larutan benzalkonium klorida 1:10.000.
Juga kombinasi Benzalkonium klorida 0,02 % dan Neomysin sulfat 0,5 %
Klorbutanol
Konsentrasi yang digunakan adalah 0,5 %, tetapi larutan ini rusak oleh
pemanasan autoklav dan suasana .
Senyawa raksa (II) organik
Fenilmerkuri nitrat digunakan sebagai pengawet, tetapi senyawa ini tidak
tercampurkan dengan halida dan juga kerjanya lambat atau kurang dibanding
dengan pengawet lainnya.
SyaratTetes Mata (3)
3. Tekanan osmotik
Pembuatan sediaan isoosmotik untuk larutan obat mata
berhubungan erat dengan masalah iritasi seperti pada sediaan
injeksi.
Karena kandungan elektrolit dan koloid di dalamnya, cairan mata
memiliki tekanan osmotik yang sama dengan darah dan cairan
jaringan.
Larutan hipertonis relatif lebih dapat diterima dari pada
hipotonis.
SyaratTetes Mata (4)
4. pH dan pendaparan

pH air mata sama dengan pH darah: 7,4 atau antara 7,3 -7,7 dengan demikian
jika obat tetes akan didapar hendaknya menggunakan dapar dengan kapasitas rendah

kapasitas dapar : kekuatan untuk mempertahankan perubahan pH dengan


penambahan asam atau alkali.
Semakin besar daya tahan dapar terhadap perubahan pH semakin kuat
kapasitas dapar

Rentang pH yang dapat diterima oleh mata antara 5,2 - 8,3 (Parrott )
atau 6,0-8,0 (Remingtons Science), toleransi tersebut disebabkan oleh
beberapa faktor:
- yang diteteskan jumlahnya sedikit
- pendaparan oleh mata
- peningkatan produksi air mata

Contoh : Larutan Pilokarpin 1 % dapat diterima oleh mata, jika


konsentrasinya dinaikkan akan meningkat pula iritasinya
SyaratTetes Mata (5)
5. Antioksidan dan Pengkelat

- Natrium bisulfit digunakan pada tetes mata Na. Sulfasetamid


dan Epinefrin bitartrat 2%.

- Na. bisulfit cocok untuk pH sedang, seperti pada penggunaan


garam Na EDTA. Ikatan ligan pada logam berat dapat mencegah
reaksi katalis logam tersebut pada oksidasi oleh udara.
Cara Penggunaan Tetes Mata
1. Cuci tangan
2. Dengan satu tangan, tarik perlahan-lahan kelopak mata bagian bawah
3. Jika penetesnya terpisah, tekan bola karetnya sekali ketika penetes dimasukkan ke dalam botol untuk membawa
larutan ke dalam penetes
4. Tempatkan penetes di atas mata, teteskan obat ke dalam kelopak mata bagian bawah sambil melihat ke atas jangan
menyentuhkan penetes pada mata atau jari.
5. Lepaskan kelopak mata, coba untuk menjaga mata tetap terbuka dan jangan berkedip paling kurang 30 detik
6. Jika penetesnya terpisah, tempatkan kembali pada botol dan tutup rapat
Jika penetesnya terpisah, selalu tempatkan penetes dengan ujung menghadap ke bawah
Jangan pernah menyentuhkan penetes denga permukaan apapun
Jangan mencuci penetes
Ketika penetes diletakkan diatas botol, hindari kontaminasi pada tutup ketika dipindahkan
Ketika penetes adalah permanen dalam botol, ketika dihasilkan oleh industri farmasi uunutk farmasis, peraturan
yang sama digunkahn menghindari kontaminasi
Jangan pernah menggunakan tetes mata yang telah mengalami perubahan warna
Jika anda mempunyai lebih dari satu botol dari tetes yang sama, buka hanya satu botol saja
Jika kamu menggunakan lebih dari satu jenis tetes pada waktu yang sama, tunggu beberapa menit sebelum
menggunkan tetes mata yang lain
Sangat membantu penggunaan obat dengan latihan memakai obat didepan cermin
Setelah penggunaan tetes mata jangan menutup mata terlalu rapat dan tidak berkedip lebih sering dari biasanya
karena dapat menghilangkan obat tempat kerjanya.
SEDIAAN HIDUNG
PENGOBATAN & SEDIAAN HIDUNG
FUNGSI HIDUNG
1. Menyaring udara/debu yang masuk melalui hidung
2. Bagian depan hidung, menahan butiran, partikel debu kasar,
sedang debu halus dan bakteri menempel pada mukosa
hidung
3. Dalam rongga hidung udara dihangatkan sehingga terjadi
derajat kelembaban tertentu
JENIS-JENIS SEDIAAN HIDUNG
Larutan (spray, tetes hidung, collunaria)
Paling banyak sediaan untuk penggunaan lokal untuk rongga hidung adalah larutan
berair.
Salep dan Jelly
Jelli larut air jarang digunakan untuk pengobatan vasokontriktor (Jelly efedrin) atau
anestesi lokal (jelly Pramoxine) paling tinggi dalam kanal nasal ketika aksi
diperpanjang diinginkan. Jelli-jelli ini dibuat dengan komposisi dari tragakan, metil
selulosa, dan bahan-bahan bercampur air. Sediaan basis minyak sebaiknya tidak
digunakan dalam basis umum.
Inhalan
Mentol, eukaliptol, dan timol secara luas digunakan dalam inhaler OTC. Propel
Hexedril, vasokonstriktor menguap adalah bahan aktif yang secara luas digunakan
untuk sediaan hidung (Benzedrex inhaler)
Inhaler hidung bertekanan
Beberapa produk inhaler bertekanan tersedia untuk penggunaan kortikosteroid
untuk membran hidung
CARA PEMBERIAN OBAT HIDUNG

1. Dengan meneteskan pada tiap lubang hidung dengan pipet tetes (Nasal drop,
guttae nasales)

2. Dengan cara disemprotkan


- Atomizer : disemprotkan dalam bentuk tetesan kasar ke dalam lubang
hidung
- Nebulizer: disemprotkan dalam tetesan sangat halus sehingga mampu
berpenetrasi sampai ke paru-paru

3. Dengan cara mencucikan dengan alat nasal douche

4. Dengan cara inhaler. Dihisap-hisap atau dihirup


pH MUKOSA HIDUNG

Keasaman (pH) sekresi hidung, orang dewasa antara 5,5 - 6,5,


sedangkan anak antara 5,0 6,7

Pada pH < 6,5 biasanya tidak ditemukan bakteri, sedang pH > 6,5
mulai ada bakteri

Rhinitis akut akan menyebabkan pergeseran pH ke arah basa, sedangkan


peradangan akut menyebabkan pH ke arah asam.
Pada waktu pilek, pH lendir alkalis. Sebaiknya digunakan dapar fosfat
pH 6,5 ke arah asam untuk mengembalikan kondisi normal hidung

Jika kedinginan pH lendir hidung cenderung meningkat, sebaliknya jika


kepanasan cenderung turun.
ANATOMI FISIOLOGI HIDUNG

Proetz :
kelembaban (moisture) memegang peran utama dalam mekanisme
pertahanan hidung yaitu gerakan cilia yang bergerak mendorong semua
yang melekat dari arah belakang ke depan lubang hidung (nasopharynx).
Epitel bagian respiratori terdiri dari sel cilia yang diantaranya terdapat
sel-sel goblet.

Mukus (lendir) hidung merupakan sistem agak kental, pseudoplastik


dan merupakan mukoprotein.
Mukoprotein terdiri atas ikatan polimer dari glukosamin dan atau asam
glukoronat yang terikat pada suatu komponen protein.
Mukus hidung 6 kali kental dari cairan/mukus lambung

Tonsitas lendir hidung sama dengan cairah darah atau NaCl 0,9%
RESPONS CILIA TERHADAP OBAT (1)
Larutan NaCl
- dalam larutan Na Cl 0,9% pada suhu 25 - 300C, cilia tetap aktif
- pada konsentrasi 4 4,5 % semua cilia berhenti, cilia aktif kembali jika membran
dicuci dengan air suling dan digenangi NaCl 0,9 %
- jika konsentrasinya 0,2 0, 3% aktivitas cilia berkurang dan berhenti.

Pengurangan ion Calsium


- Penggunaan senyawa tartrat, sitrat, oksalat dan bahan pengkhelat Ca lainnya akan
menghentikan gerakan cilia

Minyak
Minyak akan lama melekat pada film mukus dan akan mempengaruhi aktivitas normal cilia.
Minyak tidak baik sebagai pembawa pada sediaan hidung karena menimbulkan lipoid
pneumonia

Protargol
Larutan koloid protargol akan mengurangi gerakan cilia
RESPONS CILIA TERHADAP OBAT (2)
Larutan perak dan zink
- larutan AgNO3 0,5 % dan larutan ZnSO4 , menghancurkan cilia

Larutan cocain > 2,5 % dan larutan efedrin HCl > 1 %, menyebabkan paralisis cilia

Kamfer, timol, mentol, eukaliptol dan senyawa eteris lainnya akan menyebabkan
penurunan kecepatan gerak cilia. Jika konsentrasi < 0,1 % dalam bentuk uap (inhaler)
tidak mempengaruhi cilia

Antibiotik (Penicillin Sodium) dalam larutan NaCl isotonis 250 500 unit/ml tidak
merusak cilia, tetapi jika konsentrasinya 5000 unit/ml terjadi penurunan kecepatan
gerakan cilia dengan diselingi penghentian gerakan.
Suspensi Tirotrisina dalam air (1:2000 dan 1:5000) menekan aktivitas cilia

Atropin, dengan pemberian oral menyebabkan kekeringan atau penghentian gerakan


cilia. Pemberian lokal, mereduksi produksi mukus.
RESPONS CILIA TERHADAP OBAT (3)
Cilia (rambut getar) hidung sangat peka terhadap beberapa jenis obat,
misalnya :
1. Obat yang mengandung Efedrin HCl konsentrasi maks. 3 % , jika
lebih besar akan mengerem kerja cilia
2. Larutan Adrenalin 1 % pH 3 juga akan menghentikan kerja cilia
3. Larutan Cocain HCl yang dapat digunakan maksimum 2,5 %
4. Larutan Protargol mengendapkan protein (lendir yang dieksresi di
daerah rambut getar sebagian terdiri dari protein)
5. Parafin cair sebagai pembawa akan menghasilkan suatu lapisan
pada mukosa hidung dan akan mengurangi kerja cilia, sebaiknya
tetes hidung dengan parafin cair dihindari
6. Reaksi alkali, mis. garam sulfat pHnya antara 10 - 11, maka
sebagai pelarut digunakan propilenglikol dan tidak perlu dialkalikan
karena reaksinya sedikit asam (karena sulfa merupakan asam lemah)
ABSORPSI OBAT (Tonndorf)
ABSORPSI OBAT
Absorpsi obat melalui mukus hidung kadang baik atau lebih baik
dari per oral. Rute intra nasal menghasilkan efek langsung ke
vaskular dan mudah pemberiannya
Tonndorf dkk., mengkaji absorpsi hiosin dan atropin dari
selaput lendir manusia dan mengevaluasi dengan cara mengamati
hambatan produksi saliva
Pemberian hiosin dalam bentuk spray, responnya tidak sebaik
dengan tetes hidung. Tetapi jika ditambah Na. Laurilsulfat 0,01 %
sebagai surfaktan, maka responnya sama dengan respon pada tetes
hidung
Absorpsi obat (Tonndorf, dkk)
Kecepatan absorpsi skopolamin 0,65% dengan rute pemberian :
- Kontrol tanpa obat
- Injeksi sub cutan
- Kapsul oral
- Larutan oral
- Tetes hidung

Pada semua pemberian, produksi saliva untuk kontrol signifikan dengan yang
mengandung obat
- sediaan kapsul oral responnya paling lambat kemudian diikuti larutan
oral, karena responnya tergantung pada waktu yang diperlukan untuk
melarutkan kapsul dan serbuk garam alkaloid
- injeksi sub cutan memberikan respon paling cepat sedang tetes
hidung memberikan respon kedua tercepat dari sub cutan
DEFENISI TETES HIDUNG
Tetes hidung atau collunaria merupakan larutan berair atau
berminyak yang dimaksudkan untuk penggunaan topikal atau
daerah nasofaring digunakan dengan cara meneteskan obat ke
dalam rongga hidung, dapat mengandung zat pensuspensi,
pengawet, pendapar, obat-obat vasokonstriksi dan antiseptik.
PERSYARATAN TETES HIDUNG
Isotonis
Tetes hidung harus isoosmotik dengan sekret hidung atau cairan tubuh
lainnya atau NaCl 0,9%. Iritasi mukosa hidung tidak akan terjadi jika
larutan isotonis atau sedikit hipertonis. Namun larutan yang sangat
encer dan sangat pekat akan menyebabkan iritasi mukosa hidung.
Untuk bahan pengisotonis dapat digunakan NaCl atau dekstrose.

Steril
Tetes hidung harus steril dan untuk menjaga kontaminasi dengan
mikroorganisme maka dilakukan penambahan preservatif misalnya :
nipagin atau nipasol, atau kombinasi keduanya. Konsentrasi Nipagin
/nipasol 0,01 0,04% sedang kombinasi nipagin (0,026%) + nipasol
(0,014%).
DAPAR (BUFFER) FOSFAT
Formula Dapar fosfat pH 6,5

- Natrium dihidrogen fosfat 0,65


- Dinatrium hidrogen fosfat 0,54
- Na Cl 0,45
- Benzalkonium klorida 0,01 0,10%
- Aqua dest. q.s ad 100 ml
KESIMPULAN
OBAT (TETES) HIDUNG :
Sebaiknya digunakan pelarut/pembawa air
Jangan menggunakan obat yang cenderung mengerem cilia hidung
pH larutan sebaiknya sekitar 5,5 6,5 dan untuk menstabilkan sebaiknya
ditambah buffer (dapar)
Sebaiknya isotonis
Untuk dapat tinggal lama dalam rongga hidung sebaiknya ditambahkan bahan
untuk menaikkan viskositas agar mendekati sekret lendir hidung
Hendaknya dihindari larutan obat yang bereaksi alkali
Jangan sampai anak-anak (bayi) diberi tetes hidung yang mengandung mentol
karena dapat menyebabkan kejang (kram) pada saluran pernafasan
Harus tetap stabil selama pemakaian oleh pasien
Harus mengandung antibakteri (preservatif) untuk mereduksi pertumbuhan
bakteri selama pemakaian
Beberapa obat simpatomimetik (atropin, hiosin, skopolamin) karena mudah
teroksidasi , perlu penambahan antioksidan dan juga kontrol pH
SEDIAAN
PARENTERAL
DEFENISI SEDIAAN PARENTERAL
Sediaan parenteral
sediaan steril yang diberikan atau disuntikkan melalui beberapa rute
pemberian yaitu intra vena, intramuskuler, subcutan, intradermal, intra
spinal, dsb.

Parenteral
Asal kata (bhs.Yunani) :
- par/para = disamping
- enteron = usus
Parenteral berarti pemberian obat yang tidak melalui usus. Dengan
pengertian ini tentu termasuk cara pemberian melalui mata, hidung,
telinga, urethra, vagina dan kulit.
SEDIAAN PARENTERAL
Injectio = injeksi (obat suntik) berarti memasukkan ke dalam,
sedangkan infusio = infus berarti penuangan ke dalam

Obat suntik 100 ml = sediaan parenteral volume kecil,


sedangkan > 100 ml = sediaan parenteral volume besar (dengan
pemberian intra vena)

Persyaratan sediaan parenteral harus steril, bebas partikel dan


diusahakan bebas pirogen.
Faktor-faktorYang Mempengaruhi Distribusi
Obat Secara Parenteral
Kelarutan Obat
Obat-obat harus larut secara sempurna agar dapat melewati hambatan jaringan dan masuk ke dalam
sistem sirkulasi. Ada 2 tipe kelarutan yang penting yaitu
1. kelarutan dalam pembawa dari bentuk sediaan
2. kelarutan dalam cairan tubuh.
Koefesien Partisi Obat
Obat dengan kelarutan lemak yang rendah, memiliki koefisien partisi yang rendah pula. Sehingga
kecepatan absorpi obat ke dalam aliran darah dari tempat yang diinjeksikan lebih lambat
Kecepatan Aliran Darah Pada Daerah Yang Disuntikkan
Aliran darah yang lebih besar dalam jaringan kapiler dari tempat yang diinjeksikan, maka akan
semakin tinggi kecepatan absorpsi dari obat.
Injeksi ke dalam otot lateral paha atau bokong dihubungkan dengan absorpsi obat yang lebih lambat
dan rendah (karena vaskular yang kurang dan bahan lemak lebih tinggi) daripada injeksi dalam otot.
Faktor-faktor yang meningkatkan aliran darah, seperti latihan, meningkatkan absorpsi obat setelah
injeksi intramuscular atau subkutan.
Sebaliknya, faktor-faktor yang dapat mengurangi aliran darah, seperti obat vasokonstriksi seperti
epinefrin, jika diberikan secara concurrently pada daerah yang diinjeksikan mengurangi kecepatan
absorpsi obat.
Faktor-faktorYang Mempengaruhi Distribusi
Obat Secara Parenteral (Lanjutan)
Degradasi Obat Pada Daerah Yang Diinjeksikan
Distribusi dari bahan aktif obat secara biologis berkurang jika obat dimetabolisme
atau dalam cara lain didegradasi pada daerah terinjeksi.
Ukuran Partikel Dari Obat
Ukuran partikel obat yang tersuspensi mempengaruhi kecepatan disolusinya dalam
bentuk sediaan. Semakin besar ukuran partikel maka kecepatan disolusi obat akan
lebih lambat.
Bahan tambahan
Bahan-bahan yang ditambahkan untuk formulasi sediaan obat untuk dapat
disuspensikan kembali (seperti derivate selulosa), untuk melarutkan (seperti gliserin)
dan untuk peningkatan kestabilan (antioksidan) yang secara potensial dapat
mempengaruhi distribusi obat dari daerah pemberian.
OBAT SUNTIK (Injeksi)
Definisi (Farmakope Indonesia Ed. III & IV) :
Sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi, serbuk yang harus
dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan,
yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau
melalui kulit atau selaput lendir.
Injeksi dibuat dengan melarutkan, mengemulsikan atau
mensuspensikan sejumlah obat ke dalam sejumlah pelarut dan
disiapkan dalam wadah takaran tunggal atau ganda.
Keuntungan Pemberian Parenteral
1. Obat memiliki onset (mula kerja ) yang cepat
2. Efek obat dapat diramalkan dengan pasti
3. Bioavailabilitas sempurna atau hampir sempurna
4. Kerusakan obat dalam tractus gastro-intestinal (per oral) dapat
dihindarkan misalnya : insulin
5. Obat dapat diberikan kepada penderita yang sakit keras atau
yang sedang dalam keadaan koma
Kelemahan Pemberian Parenteral
Rasa nyeri pada saat disuntik, apalagi kalau harus diberikan
berulang kali
Memberikan efek psikologis pada penderita yang takut disuntik
Kekeliruan pemberian obat atau dosis, hampir tidak mungkin
diperbaiki. Bahaya ini lebih besar lagi jika obat tsb. diberikan
secara intra vena dimana obat-obat tersebut mengikuti aliran
darah.
Pemberian ini hanya dapat dilakukan oleh dokter atau tenaga
medis yang berkompeten
Harganya relatif mahal dibanding dengan sediaan obat lainnya.
Tujuan Pemberian Parenteral
Tujuan pengobatan secara parenteral :
1. Diagnostik
Inj. Histamin fosfat (fungsi lambung), Inj. Evans Blue (untuk
pengukuran volume darah), Inj. Oleum Iodatum
(rountgenografi), dsb.

2.Terapi
Obat-obat antihistamin, antibiotik, kardio-vaskuler, hormon-
hormon, anaestetik, serum, toksoid, vaksin, vitamin, dll.
Rute Pemberian Injeksi
I. Rute sub cutan (s.c., subktis)
Jaringan subkutan : jaringan yang berlapis terdiri dari serat kolagen, elastin yang
tersebar di dalam senyawa kental, terutama terdiri dari asam hialuronat. Aliran
darah debit rendah (1 ml /g / menit)
Cara penyuntikan di bawah kulit atau lapisan lemak. Cara ini digunakan untuk
pemberian obat seperti vaksin, insulin, skopolamin, epinefrin, dll.
Onset of action obat berupa larutan dalam air lebih cepat dari pada sediaan
suspensi
Volume pemberian injeksi s.c. biasanya maksimal 2 ml
Jarum suntik yang digunakan panjangnya - 1 inch
Cara pemberian s.c. lebih lambat dibandingkan cara i.m. atau i.v. tetapi cara ini
dapat digunakan untuk pemberian larutan elektrolit atau infus i.v. , cara ini
disebut hipodermoklisis . Cara tersebut dapat digunakan untuk pemberian
dengan volume 250 ml 1 liter.
Sediaan yang diberikan melalui cara s.c. harus mendekati kondisi faal dalam hal
pH (isohidris) dan tonisitas (isotonis)
Contoh : - Inj. Neutral Insulin 40 iu/ml
- Inj. Fondaparinux Sodium 2,5 mg/0,5 ml
Rute Intra muskuler (i.m)
Jaringan intramuskular terbentuk dari otot bergaris yang mempunyai banyak
vaskularisasi. Aliran darah tergantung dari posisi otot di tempat penyuntikan
Intra muskuler yaitu cara penyuntikan di antara jaringan otot atau di bawah lapisan
sub kutis
Penyuntikan dapat di daerah pinggul atau lengan bagian atas
Kecepatan absorpsinya adalah kedua sesudah intra vena
Volume injeksi 1- 3 ml atau maksimal 10 ml
Jarum suntik yang digunakan 1 1 inch.
Bentuk sediaan yang dapat diberikan dengan i.m adalah larutan, emulsi tipe m/a atau
a/m, suspensi dalam minyak atau suspensi baru dari pouder steril
Onset bervariasi tergantung besar kecilnya partikel obat. Pemberian i.m.
memberikan efek depot atau lepas lambat, puncak dalam darah setelah 1 2 jam.
Faktor yang mempengaruhi absorpsi obat dari jaringan otot : reologi produk,
konsentrasi dan ukuran partikel obat dalam pembawa, bahan pembawa, volume
injeksi, tonisitas produk, dan bentuk fisik produk.
Persyaratan pH dibuat antara 3 5, jika dalam bentuk suspensi ukuran partikel <
50
Contoh : - Inj. Penicillin G 3.000.000 unit
- Inj. Antitetanus 10.000 atau 20.0000 unit
Rute Intra vena (i.v.)
Pemberian langsung ke dalam pembuluh darah vena
Larutan dalam volume kecil (< 5 ml) sebaiknya isotonis dan isohidris,
sedangkan volume besar (infus) harus isotonis dan isohidris
Tidak ada fase absorpsi,obat langsung masuk ke dalam vena, onset of action segera
Cara pemberian ini kerja obat cepat, sehingga pemberian antidotum mungkin
terlambat
Volume pemberian mulai 1 100 ml dan untuk infus > 100 ml. Pada pemberian
dengan volume 10 ml atau lebih harus bebas pirogen
Kecepatan penyuntikan untuk volume 5 ml diberikan 1 ml/10 detik, sedang untuk
volume > 5 ml kecepatannya 1 ml/20 detik
Obat yang diberikan harus berada dalam bentuk larutan dalam air, bila bentuk emulsi
maka partikel minyak tidak boleh lebih besar dari ukuran partikel eritrosit. Sediaaan
suspensi tidak dianjurkan
Sediaan yang diberikan diusahakan isotonis dan pH sesuai dengan keadaan fisiologis
Zat aktif tidak boleh merangsang pembuluh darah sehingga menyebabkan hemolisa
seperti saponin, nitrit dan nitrobenzol
Contoh : - Infus Sodium chloride 0,9 %
- Infus Ringer Lactate
Rute Parenteral Lainnya
Intraspinal dan intratekal: disuntikkan ke dalam sumsum tulang belakang
larutan harus isotonis dan isohidris
bila digunakan sebagai anestesi, larutan hipertonis / hiperbarik
contoh : Inj. Xylocain heavy 0,5% 2 ml
Intraperitoneal : disuntikkan ke dalam rongga perut dengan kateter
larutan harus hipertonis
zat aktif diabsorpsi dengan cepat
volume yang diberikan dalam jumlah besar (1 atau 2 lilter)
bisa sebagai cuci darah dengan cara CPAD (Continous Ambulatory Peritoneal
Dialysis), contoh : Infus Dianeal 1,5 % , 2,5 % / 2 liter.
Intraartikular: disuntikkan ke dalam sendi
larutan harus isotonis dan isohidris
contoh : Inj, Kenacort A 10 mg/ml vial 5 ml. (IA)
Intradermal: disuntikkan ke dalam kulit
larutan sebaiknya nisotonis dan isohidris
volume penyuntikan kecil, antara 0,1 hingga 0,2 ml
biasa sebagai diagnostik Mantoux tes atau tes alergi
contoh : tes alergi antibiotik 1 ml,
Inj. Kenacort A 10 mg/ml, vial 5 ml (ID)
Intrasisternal : disuntikkan ke dalam saluran sumsum tulang belakang pada dasar otak
Intracardial : disuntikkan langsung ke dalam jantung
Rute Pemberian Injeksi
KARAKTERISTIK SEDIAAN STERIL
Syarat umum :
steril
bebas pirogen
stabil

Khusus untuk beberapa produk steril :


Jernih
pH dan dapar
tonisitas
viskositas
Kesterilan
Persyaratan steril berlaku untuk semua sediaan parenteral,
pengobatan mata dan alat kesehatan yang berkaitan dengan cara
pemberian tsb. di atas, bebas dari mikroorganisme hidup
merupakan jaminan terhadap keabsahan proses sterilisasi yang
digunakan dan pengemasan serta tehnik aseptik yang digunakan
merupakan jaminan peniadaan mikroorganisme secara kontinyu.
Partikel

Sumber partikel :
senyawa selulose, serat kapas, gelas, karet, logam, plastik, bahan kimia
terlarut, karat, tanah diatomae, ketombe, dl

Pengaruh sediaan secara biologis


bahan gelas sebagai ampul dapat membebaskan patikel gelas ke dalam
larutan pada saat dibuka
Pengujian pada kelinci menunjukkan adanya emboli pada paru-paru yang
diberi injeksi volume besar intravena (Ahli Patologi dari Australia)
Pemberian intra vena volume besar pada pasien geriatri harus diperhatikan
karena ada kemungkinan terjadi penyumbatan di daerah pulmonari
Sumber Partikel di Dalam Sediaan

Sumber partikel dalam produk/sediaan :


Larutan itu sendiri dan bahan kimia
Proses fabrikasi (lingkungan, alat dan personil)
Komposisi kemasan dan kandungannya
Alat kesehatan yang digunakan (syringe, infus set)
Manipulasi (pembuatan produk)
Penyaringan dan Pengamatan Partikel
KETERANGAN
1 : botol infus berisi larutan
2 & 3 : filter dgn membran
berdiameter pori 0,8
4 : erlenmeyer isap untuk
penampung filtrat
5 : pompa vakum
6 : partikel diatas slide
7 : mikroskop
Metode di atas digunakan untuk menghitung dan menentukan ukuran
partikel dengan manual, tetapi tidak akurat dan lama.
SEDIAAN INFUS PARENTERAL
Larutan parenteral untuk intravena, dikemas dalam wadah 100
ml atau lebih
Juga diberikan dalam bentuk cairan irigasi atau dialisis
Diberikan dalam dosis tunggal dalam wadah gelas atau plastik
Persyaratan sediaan harus steril, bebas pirogen, bebas partikel
dan tidak boleh mengandung bakterisida (untuk mencegah
toksisistas, karena dengan volume besar maka bakterisidanya juga
akan bertambah)
Larutan Volume Besar Intravena
Farmakope Indonesia Edisi III: Larutan parenteral volume besar intravena (i.v cairan
infus, infundibula) yaitu sediaan steril berupa larutan atau emulsi, bebas pirogen dan sedapat
mungkin dibuat isotoni terhadap darah, disuntikkan langsung ke dalam vena dalam volume
relatif besar
Emulsi intravena dibuat dengan air sebagai fase luar, diameter fase dalam (minyak) tidak lebih
dari 5 mikron (m)
Volume netto infus (RPS) : volume dilebihkan 3% gunanya untuk mengeluarkan udara yang
ada dalam infus set dan memenuhi label claim yang tercantum dalam wadah (nilai nominal)
Larutan i.v harus jernih dan mengandung bahan yang dapat diterima dalam sistem sirkulasi,
seperti etilalkohol, asam amino, dekstrose, elektrolit dan vitamin
Larutan dekstrose 5% biasanya dibuat pada rentang pH 3,5 6,5
Menurut penelitian :
Dekstrose pH asam atau sediaan lain yang bersifat asam dapat mengiritasi vena dan
menyebabkan phlebitis
Larutan Na.Bikarbonat 1% 20 ml dapat ditambahkan untuk menetralkan keasaman pada infus
I.v. dekstrose 1000 ml
Pada peningkatan pH akan menyebabkan dekstrose mengalami karamelisasi menjadi berwarna
gelap
Metode Pemberian Infus (1,2)
Volume kecil intravena disposable syringe

Volume besar dengan beberapa cara :


1. Cara kontinyu
- infus intravena diberikan langsung dari wadah kemasan
- cairan infus encer diteteskan perlahan langsung ke vena

2. Cara berselang (tidak kontinyu)


- Obat diberikan dengan selang waktu tertentu, ada 3
kemungkinan :
Botol mini diberikan dulu seperti pemberian infus
Kemudian disuntik i.v ke jarum dan semprit suntikan atau
dimasukkan ke botol tadi lewat samping
Dengan volume besar tetapi dikontrol volumenya
Metode Pemberian Infus (3)
3. Cara piggyback
prinsipnya : untuk mengencerkan infus obat
tersedia dalam wadah gelas volume kecil 250 atau wadah plastik 50 -
100 ml
berisi larutan NaCl fisiologis atau dekstrose yang dipasang
dibelakang infus
aliran infus dan piggyback hampir sama karena fungsi larutan
pengencer adalah untuk mengurangi iritasi pada pemakaian.
Metode Pemberian Infus (4)
4. Menyuntikkan langsung lewat infus set
Disuntikkan cepat langsung ke vena atau melalui infus set sesingkat
mungkin
Obat diencerkan oleh pembawa (tujuan pengenceran sama dengan
piggyback)
Obat yang direkomendasikan sbb :

INJEKSI KONSENTRASI KECEPATAN /WAKTU


Valium 5 mg/ml Tidak kurang 3 mg/menit
Keflin 100 mg/ml Tidak kurang 200 mg/menit
Ancef 100 mg/ml Tidak kurang 200 mg/menit
Aminofilin 500 mg/ml perlahan-lahan
Dilantin 50 mg/ml Tidak kurang 1 menit
Diazoxide 15 mg/ml Dalam 20 30 detik
Kecepatan Alir Infus intravena
Faktor-faktor yang diperhatikan dalam mengatur kecepatan alir infus :
- kondisi pasien,
- bobot badan,
- usia, dan
- komposisi cairan

Infus intravena isotonis, seperti NaCl 0,9%, dekstrose 5%, Ringers Laktat,
kecepatan alirnya 1 liter/8 jam atau 125 ml/jam berarti 2 ml/menit

Infus (larutan) hipertonis seperti hyperalimentation, kecepatan aliran tidak


lebih 1 liter tiap 8 jam atau 3 liter tiap 24 jam

Kecuali untuk kasus tertentu seperti kehilangan cairan darah, shock atau
pemberian anaestesi, kecepatan alir dapat diberikan 1 liter tiap 1 jam atau
11 ml/menit
Kecepatan Alir Infus intravena
KVO (keep vein open),
pemberian secara lambat sesuai intravena gravitasi dengan
kecepatan 10 ml jam, jika terlalu cepat dapat shock
protein hidrolisat harus diberikan secara lambat

Kecepatan pemberian dipilih sbb:


1000 ml tiap 8 jam
1000 ml pada 50 ml per jam
30 tetes per menit
KVO dengan dekstrose 5%
ALIRAN GRAVITASI INFUS
Wadah dengan infus setnya terletak 1 meter di atas pasien
(3 feets)

Aliran belum dimulai hingga teramati udara dari infus set


masuk ke dalam wadah/botol dan infus set terpenuhi cairan
infus

Diatur tetesannya, misalnya 10 tetes/ml atau 1000 ml selama


480 menit
Cara Penentuan Kecepatan Alir Infus
Misal : Infus set memberikan tetesan 10 tetes per ml dan volume infus 1000
ml, diinfuskan selama 8 jam (480 menit), maka :
1000
untuk per menit = -------- = 2,08 ml/menit
480
= 2,08 x 10 tetes/ml
= 20,8 ~ 21 tetes/menit

Jika 50 ml/jam diinfuskan, berarti


50
= ------ = 0,83 ml/menit
60
= 0,83 ml/menit x 10 tetes/ml
= 8,3 ~ 8 tetes/menit

Spesifikasi tersebut harus dicantumkan pada kemasan infus set


Kombinasi Parenteral dengan Obat/Sediaan obat
Pemberian infus jarang diberikan sendiri sebagai pembawa, tetapi
biasa dikombinasikan dengan sediaan parenteral yang
mengandung obat
Penambahan obat lain ke dalam cairan infus perlu diperhatikan
masalah kestabilan dan tak tercampurkannya
Selain inkompatibilitas, juga masalah presipitan yang dapat
mengiritasi vena
Inkompatibilitas intravena
Inkompatibilitas farmakologis
jika 2 atau 3 jenis obat diberikan bersamaan sehingga menyebabkan antagonis atau memberikan
aksi sinergis
antagonis mis : kloramfenikol + penisilin
penisilin + kortison
sinergis mis : ion kalsium + digoxin

Inkompatibilitas fisis
terjadi perubahan penampakan larutan seperti perubahan warna, kekeruhan atau endapan,
terbentuk gas, dll
garam kalsium mengendap dengan Natrium bikarbonat
Garam asam seperti Dramamin-HCl akan mengendap dalam pH alkali

Inkompatibilitas kimiawi
terjadi degradasi, hidrolisis, oksidasi-reduksi atau reaksi kompleks
perubahan suasana asam-basa sediaan/larutan

Pustaka : 1. Remingtons Pharmaceutical Sciences


2. Sterile Dosage Form (Turco)
KLASIFIKASI SEDIAAN INFUS (1,2)
Penggolongan Sediaan Infus Berdasarkan komposisi dan kegunaannya :
1. Larutan Elektrolit
a. Cairan Fisiologis
Tubuh manusia mengandung 60% air, 40% mengandung ion-ion K , Mg,
sulfat, fosfat, protein serta senyawa organik asam fosfat (ATP),
heksosa, monofosfat dll.
b. Fungsi Larutan Elektrolit
Secara klinis, untuk mengatasi perbedaan ion atau penyimpangan jumlah
normal elektrolit dalam darah
- Asidosis : kondisi plasma darah yang terlampau asam akibat adanya iom
klorida berlebih
- Alkalosis : kondisi plasma darah yang terlampau basa akibat adanya ion Na,
K dan Ca dalam darah
Contoh : Infus Asering (Otsuka)
2. Infus Karbohidrat
Sediaan Infus berisi larutan glukosa atau dekstrosa yang cocok untuk donor kalori.
Digunakan untuk memenuhi kebutuhan glikogen otot rangka, hipoglikemia dll
Contoh : Larutan Manitol 15-20% digunakan untuk menguji fungsi ginjal
KLASIFIKASI SEDIAAN INFUS
3. Larutan Kombinasi Elektrolit dan Karbohidrat
Contoh : Infus KA-EN 4 B paed (Otsuka)
4. Larutan Irigasi
Sediaan larutan steril dalam jumlah besar (3 liter).
Persyaratan larutan irigasi : Isotonik, steril, tidak diabsorpsi,
bukan larutan elektrolit, tidak mengalami metabolisme, cepat
dieksresi dan mempunyai tekanan osmotik diuretik.
Contoh : Larutan Glysine 1,5% - 3 liter
Larutan asam asetat 0,25% dalam 1 3 liter
KLASIFIKASI SEDIAAN INFUS
5. Larutan Dialisis Peritoneal
Merupakan sediaan larutan steril dalam jumlah besar (2 liter).
Larutan tidak disuntikkan ke vena, tetapi dibiarkan mengalir ke
dalam ruang peritoneal.
Tujuan penggunaan larutan tsb. Untuk menghilangkan senyawa-
senyawa toksik yang secara normal diekskresikan ginjal.
Syarat : hiprtonis, steril dan dapat menyerap toksin dalam ruang
perotoneal
KLASIFIKASI SEDIAAN INFUS
6. Larutan Plasma Expander atau Penambah Darah
Suatu sediaan larutan steril yang digunakan untuk menggantikan
plasma darah yang hilang akibat pendarahan, luka bakar, operasi,
dll.
o Whole Blood (darah lengkap manusia) : darah yang telah diambil
dari donor manusia, yang dipilih dengan pencegahan pendahuluan
aseptik yang ketat. Darah ditambah ion sitrat atau heparin sebagai
antikoagulan.
o Human Albumin : sediaan steril albumin serum yang di dapar
dengan melakukan fraksinasi darah dari donor manusia sehat. Tidak
kurang dari 96% protein harus berupa albumin.
Contoh : Infus Human Albumin 20%
KLASIFIKASI SEDIAAN INFUS
o Plasma Protein : larutan steril yang terpilih dari plasma darah donor manusia dewasa. Plasma
mengandung 5 g protein per 100 ml.
Contoh : Infus Plasmanate 5% - 100 ml

o Larutan Gelatin
Merupakan hasil hidrolisa kolagen, yaitu senyawa polipeptida. Sebagai cairan pengganti darah digunakan
larutan gelatin 5% isotonik dengan NaCl.
Contoh : Infus Haemacel 3,5%

o Larutan Dekstran
Suatu senyawa polisakarida dengan satuan glukosa sebagai satuan monomer, yang terikat secara glikosidik
pada posisi 1,6.
Contoh : Infus Otsutran 70 (Otsuka)

o Larutan Protein (Asam Amino)


Larutan protein diinfuskan ke dalam tubuh yang mengalami kekurangan protein. Umumnya larutan terdiri
atas 8 asam amino esensial (L-isoleusin, L-lisine, L-metionin, L-fenilalanin, L-trionin, L-triptopan dan L-
valin).
Contoh : Infus Aminofusin L (Primer)
KLASIFIKASI SEDIAAN INFUS
o Plasma Protein : larutan steril yang terpilih dari plasma darah donor manusia
dewasa. Plasma mengandung 5 g protein per 100 ml.
Contoh : Infus Plasmanate 5% - 100 ml
o Larutan Gelatin
Merupakan hasil hidrolisa kolagen, yaitu senyawa polipeptida. Sebagai cairan
pengganti darah digunakan larutan gelatin 5% isotonik dengan NaCl.
Contoh : Infus Haemacel 3,5%
o Larutan Dekstran
Suatu senyawa polisakarida dengan satuan glukosa sebagai satuan monomer, yang
terikat secara glikosidik pada posisi 1,6.
Contoh : Infus Otsutran 70 (Otsuka)
o Larutan Protein (Asam Amino)
Larutan protein diinfuskan ke dalam tubuh yang mengalami kekurangan protein.
Umumnya larutan terdiri atas 8 asam amino esensial (L-isoleusin, L-lisine, L-
metionin, L-fenilalanin, L-trionin, L-triptopan dan L-valin).
Contoh : Infus Aminofusin L (Primer)
DEFENISI AMPUL
Prescript : 193
Ampul adalah wadah gelas silindris dosis tunggal dengan sebuah
leher jepit yang rusak sekali pakai. Tersedia pada ukuran range
0,5-100ml. ampul tidak bisa disimpan setelah dibuka.
Lachman : 1354
Ampul dimaksudkan untuk sebagai wadah yang kedap udara
untuk suatu dosis tunggal obat sempurna menghalangi tiap
perubahan antara isi ampul yang disegel dengan lingkungannya.
Jadi, ampul adalah wadah gelas berdinding tipis dan selindris yang
merupakan dosis tunggal dengan kapasitas 0,5-100 ml yang hanya
digunakan sekali pakai untuk tujuan parenteral dan disegel dengan
pemanasan dan tidak bisa disimpan setelah dibuka.
PENYEGELAN AMPUL
Ampul dapat ditutup dengan melelehkan bagian gelas dari leher
ampul sehingga membentuk segel penutup atau segel tarik. Segel
penutup dibuat dengan melelehkan sebagian gelas pada bagian
atau leher dari suatu ampul yang berputar di daerah ujungnya
kemudian menarik ujungnya hingga membentuk kapiler kecil
yang dapat diputar sebelum bagian yang meleleh tersebut
ditutup.
PENGISIAN AMPUL
Cairan
Pengisian wadah volume kecil dapat dilakukan dengan sebuah alat semprot
hipodermik dan jarum suntik, cairan ditarik dengan alat semprot dan diletakkan
melalui jarum suntik kedalam wadah sampai dibawah leher ampul. Jarum harus
dikeluarkan dari ampul tanpa terjadi penetesan larutan pada dinding ampul.
Padatan
Beberapa padatan steril dibagi kembali dalam wadah dengan cara menimbang secara
sendiri-sendiri. Skop biasanya digunakan untuk membantu dalam memperkirakan
jumlah yang dibutuhkan, tapi jumlah yang diisi pada wadah akhir ditimbang pada
neraca. Cara ini prosesnya lambat, ketika padatan diperoleh dalam bentuk granula
sehingga aliran lebih mudah. Metode pengisian lain dapat digunakan, pada umumnya
ini meliputi ukuran dan volume, material granular yang telah dikalibrasi dengan
massa berat yang diinginkan pada mesin, sebuah lubang teratur dalam lingkungan
roda diisi dengan vakum dan isinya ditarik oleh vakum hingga lubang terbalik
dibagian atas wadah. Bahan padat kemudian dimasukkan ke dalam wadah melalui
penggunaan udara steril.

Anda mungkin juga menyukai