Anda di halaman 1dari 36

Adenokarsinoma

Esofagus
Kelompok 7
Rotasi Bedah FKUI
RSKD
Ilustrasi Kasus
Anamnesis (18/10/2017)
Identitas
Nama : Tn. AAS
No. RM : 00-22-93-93
Usia : 25 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Status Pernikahan : Belum Menikah
Alamat : Jl. Kecubung IX No 04 Blok E 14 BBS II, Ciwedus, Cilegon
Pekerjaan : Karyawan swasta
Keluhan Utama
Muntah berat sejak 5 bulan SMRS
Anamnesis (18/10/2017)
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien, 25 tahun, datang dengan keluhan muntah berat sejak 5 bulan SMRS. Muntah
dikatakan lebih dari 10 kali/hari terutama setelah minum atau makan. Muntah
dikatakan berisi makanan yang di konsumsi, tidak ada darah, tidak kehitaman, tidak
hijau. Muntah dikatakan terjadi tidak lama setelah makan tanpa bisa di tahan. Pasien
dikatakan jarang BAB, 1 kali/minggu, berwarna coklat, tidak cair, tidak berdarah atau
kehitaman. Awalnya pasien mengeluhkan kesulitan menelan dan rasa panas di dada
setelah makan, namun lama kelamaan menjadi muntah hebat setiap makan atau
minum. Keluhan demam, batuk pilek, sesak nafas di sangkal. Keluhan lemas, bicara
pelo, pusing, nyeri kepala, kelemahan satu sisi disangkal. Pasien mengatakan menjadi
tidak nafsu makan karena sering muntah dan berat badan pasien turun dari 65 kg
menjadi 31 kg dalam waktu 10 bulan terakhir. BAK dikatakan lancar, berwarna
kuning, tidak ada keluhan.
Anamnesis (18/10/2017)
Riwayat Penyakit Dahulu
Keluhan serupa sebelumnya disangkal.
Riwayat DM, HT disangkal. Riwayat alergi dan asma disangkal.
Riwayat sakit jantung, ginjal, liver, keganasan disangkal.
Pasien pernah terkena TB paru saat umur 2 tahun, dan mengkonsumsi obat selama 6
bulan, dikatakan sembuh.
Pasien belum pernah di operasi atau di rawat sebelumnya.
Riwayat Penyakit Keluarga
Keluhan serupa di keluarga di sangkal
Riwayat DM, HT, dan keganasan pada keluarga disangkal.
Anamnesis (18/10/2017)
Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien belum menikah, pekerjaan sebagai karyawan swasta
Riwayat konsumsi jamu-jamuan, obat anti nyeri yang di beli di warung di sangkal
Riwayat transfusi darah, promiskuitas, IVDU, tatto disangkal
Riwayat merokok, konsumsi alkohol di sangkal
Pembiayaan JKN
Pemeriksaan Fisik (18/10/2017)
Status Generalis
Kesadaran : Compos mentis
Keadaan umum : Tampak sakit berat
Tekanan Darah : 100/60 mmHg
Frekuensi Nadi : 72x/menit
Frekuensi Napas : 20x/menit
SaO2 : 98%
TB : 160 cm
BB : 31 kg
IMT : 12,1 kg/m2 (underweight)
Pemeriksaan Fisik (18/10/2017)
Kepala: Normosefal, tidak ada deformitas. Rambut hitam, persebaran merata, tidak mudah di cabut.
Mata : Konjungtiva tidak pucat, sklera tidak ikterik
Kulit : Turgor baik, tidak sianosis, tidak ikterik, tidak pucat
Leher : KGB dan tiroid tidak teraba, JVP 5-2 cmH2O
Dada : tidak ada venektasi, tidak ada spider naevi
Jantung
Inspeksi: ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : ictus cordis teraba di ICS 5 medial dari linea midklavikula kiri
Perkusi : Batas jantung kanan teraba di ICS 5 linea sternalis kanan
Pinggang jantung teraba di ICS 3 linea parasternalis kiri
Batas jantung kiri teraba di ICS 5 jari medial dari linea miklavikula kiri
Auskultasi: BJ I/II reguler, tidak ada murmur, tidak ada gallop
Pemeriksaan Fisik (18/10/2017)
Paru
Inspeksi: dada simetris statis dinamis, tidak terdapat bantuan otot bantu
nafas, tidak ada barrel chest, tidak ada retraksi sela iga.
Palpalsi: tidak ada emfisema subkutis, ekspansi dada simetris normal,
fremitus simetris normal
Perkusi: Sonor di kedua lapang paru
Batas paru-liver di ICS 5 linea midklavikularis kanan
Batas paru-gaster di ICS 6 linea anterior aksilaris kiri
Auskultasi: vesikuler di kedua lapang paru, tidak ada wheezing, tidak ada ronki
Pemeriksaan Fisik (18/10/2017)
Abdomen
Inspeksi : Datar, tidak ada venektasi, tidak ada caput meduscae
Auskultasi : Bising usus positif normal
Palpasi : Supel, nyeri tekan negatif, hepar lien tidak teraba
Perkusi : Timpani, shifting dullness negatif

Ekstremitas
Tidak ada edema, CRT<2, akral hangat
Pemeriksaan Penunjang
10/10/17 26/9/17
DPL: 9,8/30.4/3,58/6850/359000 Gastroskopi
PT: 13,1/13,4 Sugestif carcinoma esofagus
APTT: 36,0/28,4
Biopsi: Sediaan biopsi jaringan
SGOT/SGPT: 13/14
esofagus dilapisi oleh epitel
Ur/Cr: 18/0,55 berlapis gepeng, sebagian sudah
eGFR: 192,91 mengalami perubahan menjadi
tumor ganas epitel kelenjar. Sel
tumor tumbuh infiltrasi ke jaringan
ikat.
Kesimpulan: adenokarsinoma
esofagus, berdiferensiasi sedang,
pT1NxMx
Gastroskopi
CXR
Tampak udara di
gaster
CT Scan
Tampak massa pada distal
esofagus esofagogastric junction
dan cardia gaster dengan
infiltrasi ke perigastric fat
curvatura minor. Tampak
limfadenopati peripankreatik
dan paraaorta yang meliputi
arteri mesenterika superior
ukuran 5.6 x 3.5 cm.
Daftar Masalah
1. Adenokarsinoma esofagus, berdiferensiasi sedang, pT1NxMx
2. Anemia
Tinjauan Pustaka
kanker esofagus
Anatomi esofagus
- Esofagus merupakan saluran
menghubungkan dan menyalurkan makanan
dari rongga mulut sampai ke lambung

- Panjang rata-rata esophagus 25 cm

- Di esophagus terdapat empat


penyempitan. Penyempitan yang pertama di
sfingter krikofaringeal,lalu penyempitan pada
persilangan aorta, penyempitan pada
persilangan bronkus kiri, dan penyempitan
pada diafragma(hiatus esophagus).
Secara histologis dinding esofagus terdiri
atas 4 lapis, yaitu:
1. Mukosa
Terbentuk dari epitel berlapis gepeng
bertingkat yang berlanjut ke faring bagian
atas
2. Sub Mukosa
Mengandung sel-sel sekretoris yang
menghasilkan mukus yang dapat
mempermudah jalannya makanan
sewaktu menelan dan melindungi
mukosa dari cedera akibat zat kimia.
3. Muskularis
Otot bagian esofagus, merupakan otot
rangka. Sedangkan otot pada separuh
bagian bawah merupakan otot polos,
bagian yang diantaranya terdiri dari
campuran antara otot rangka dan otot
polos.
4. Lapisan bagian luar (Serosa)
Fisiologi
Fungsi utama esophagus adalah menyalurkan makanan dan minuman
dari rongga mulut sampai ke lambung. Proses ini dimulai dengan
pendorongan makanan oleh lidah ke belakang, penutupan glotis dan
nasofaring serta relaksasi sfingter esophageal.

Di esophagus, makanan turun karena adanya peristaltic dan gaya


gravitasi. Makanan dari esophagus dapat masuk ke lambung karena ada
relaksasi dari sfingter esofagheal inferior. Setelah makanan masuk ke
lambung maka sfingter ini akan kembali ke posisi semula.
Kanker esofagus
Kanker esofagus adalah karsinoma yang berasal dari epitel berlapis gepeng yg
melapisi lumen esofagus. Kanker esofagus dimulai dari lapisan dalam
(mukosa) dan tumbuh hingga ke submukosa dan lapisan otot. Dari kedua
tumor tersebut hampir 95% tumor yang ada di esofagus adalah tumor yang
bersifat ganas.
Kanker esofagus dibagi berdasarkan jenis sel yang terlibat.
Jenis kanker esofagus antara lain:
1. Adenocarcinoma terjadi paling sering pada bagian bawah esofagus.
2. Squamous cell carcinoma sering terjadi di bagian atas dan tengah esofagus.
Biasanya timbul karena factor lingkungan terutama riwayat merokok dan
alcohol.
3. Jenis lainnya, misalnya leiomiosarkoma, fibrosarkoma,atau melanoma
maligna sangat jarang terjadi.
Epidemiologi
Kanker esofagus terbanyak dijumpai antara usia 50-70 tahun.
Perbandingan faktor resiko antara pria dan wanita adalah 3:1. Di Amerika
, squamous cell carcinoma lebih banyak terjadi pada orang kulit hitam
dibanding kulit putih. Pecandu alkohol dan perokok berat meningkatkan
faktor resiko squamous cell carcinoma. Resiko squamous sel karsinoma
juga meningkat pada pasien yang menderita tylosis, achalasia, divertikula
esofagus, dan bulimia.
Sebagian besar adenokarsinoma terjadi karena komplikasi dari metaplasia
barret sindrom karena kronik gastroesofagus refluks. Sehingga
adenocarcinoma banyak terjadi pada 1/3 distal esofagus. obesitas juga
sangat berperan pada adenocarcinoma.
Faktor Resiko
1. Umur.
2. Sex . Kanker esophagus sering pada pria daripada pada wanita.
3. Merokok
4. Pemakaian Alkohol
5. Barrett's Esophagus.
6. Iritasi atau kerusakan yang signifikan pada lapisan esophagus,
seperti menelan cairan alkali atau senyawa-senyawa caustic lain, dapat
meningkatkan risiko terjadinya kanker esophagus.
7. Riwayat Medis.
Pasien-pasien yang pernah menderita kanker kepala dan leher lainya meningkatkan
resiko terjadinya suatu kanker kedua pada area kepala dan leher, termasuk kanker
esophagus.
patofisiologi
Adenokarsinoma esofagus sering terjadi pada bagian tengah dan bagian
bawah esofagus. Peningkatan abnormal mukosa esofageal sering
dihubungkan dengan refluks gastroesofageal kronik. Metaplasia pada
stratifikasi normal epitelium skuamosa bagian distal akan terjadi dan
menghasilkan epitelium glandular yang berisi sel-sel goblet yang disebut
epitel barret. Perubahan genetik pada epitelium meningkatkan kondisi
dysplasia dan secara progresif membentuk adenokarsinoma pada
esophagus.
Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala kanker esofagus antara lain:
- Sulit menelan, nyeri saat menelan, terasa ada benda asing
- Penurunan berat badan
- Nyeri pada dada
- Lelah
- Regurditasi atau muntah
Stadium Kanker Esophagus
Ada empat stadium kanker esophagus yaitu:
1. Stadium I. Kanker ditemukan hanya pada
lapisan-lapisan atas dari sel-sel yang melapisi
esophagus.
2. Stadium II. Kanker melibatkan lapisan-lapisan
yang lebih dalam dari lapisan esophagus, atau ia
telah menyebar ke nodus-nodus limfa yang
berdekatan.
3. Stadium III. Kanker telah menyerang lebih dalam
kedalam dinding esophagus atau telah menyebar
ke jaringan-jaringan atau nodus-nodus limfa dekat
esophagus.
4. Stadium IV.
Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis kanker esofagus dapat ditegakkan dengan anamnesis
dan pemeriksaan penunjang.
1. Laboratorium : Pada pemeriksaan darah rutin didapatkan anemia
dan hipoalbuminemia.
2. endoskopi, bronchoscopy, mediastinoscopy, laparascopy
3. imaging : Barium swallow
Pada uji ini, cairan yang disebut barium di telan. Barium akan
melapisi dinding esofagus. Ketika dilakukan penyinaran (sinar X),
barium akan membentuk esofagus dengan jelas.
Tes ini dapat digunakan untuk melihat apakah ada kelainan pada
permukaan dinding esofagus. Tes barium biasanya menjadi pilihan
utama untuk melihat penyebab disfagia.
CT Scan
CT Scan penting untuk menilai ukuran tumor dan membantu
dalam menentukan penyebaran dari kanker esofagus. CT Scan
dapat menunjukkan lokasi dimana kanker esofagus berada dan
dapat membantu dalam menentukan apakah pembedahan
merupakan tatalaksana terbaik untuk kanker esofagus.
Penatalaksanaan
Penanganan kanker esophagus bergantung dari stadium dan letak tumor. Tumor yang
belum menembus lapisan mukosa, dapat dilakukan reseksi mukosa secara endoskopik.
Untuk tumor yang sudah menembus lapisan mukosa atau lapisan lain yang lebih dalam tapi
belum mengenai organ sekitar dapat dilakukan pembedahan. Pengobatan paliatif pada
penderita kemoterapi.
Pembedahan, reseksi karsinoma esophagus diikuti dengan rekontruksi. Rekontruksi dapat
dilakukan dengan mengadakan anastomosis antara esophagus proksimal dan pipa yang
dibuat dari lambung, sebagai kolon atau yeyunum. Rekontruksi yang paling sering dibuat
ialah rekontruksi lambung-pipa. Pembedahan paling sering dilakukan melalui insisi
laparotomy dan torakotomi kanan.
Bila tumor tidak dapat direkseksi lagi, dipasangkan tabung secara endoskopik menembus
tumor agar penderita bisa makan dan minum. Gastrostomy dilakukan bila pemasangan
tabung tidak bisa dilakukan.
Esophagectomy
Operasi untuk menghilangkan beberapa atau sebagian besar
esophagus disebut esophagectomy . Seringkali sebagian dari
lambung akan ikut diambil. Bagian atas dari esofagus kemudian
dihubungkan dengan bagian yang tersisa dari lambung . Bagian
dari lambung ditarik sampai ke dada atau leher menjadi
esofagus baru. Banyaknya esophagus yang diambil tergantung
pada stage tumor dan di mana letak tumor tersebut
Prognosis
Biasanya prognosis pada pasien ca esophagus cukup jelek,
karena kebanyakan pasien terlambat menyadari penyakitnya,
sehingga saat ditemukan pasien sudah berada pada stadium
yang tinggi. Hal ini disebabkan karena gejala dysphagia dimulai
saat ca esophagusnya sudah berkembang cukup baik.
KESIMPULAN
Dari paparan referat ini dapat disimpulkan bahwa kanker esofagus
merupakan keganasan yang terjadi pada esofagus. Keganasan yang paling
sering menyerang adalah jenis squamous cell carsinoma dan
adenocarsinoma. Sedangkan jenis lainnya leomiosarkoma, fibrosarkoma,
atau melanoma malignum sangat jarang terjadi.
Penyebab kanker esofagus belum diketahui dengan pasti akan tetapi para
peneliti percaya bahwa beberapa faktor resiko seperti merokok dan
alkohol, dapat menyebabkan kanker esofagus dengan cara merusak DNA
sel yang melapisi bagian dalam esofagus, akibatnya DNA sel tersebut
menjadi abnormal. Iritasi yang berlangsung lama pada dinding esofagus,
seperti yang terjadi pada GERD, Barretts esophagus dan akhalasia dapat
memicu terjadinya kanker.
Kanker esofagus ditegakkan berdasarkan gejala klinis yang dialami
pasien, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium dan penunjang
lainnya. Dari gejala klinis, hal yang paling sering menjadi keluhan
pasien adalah disfagia (sulit menelan), dan penurunan berat badan.
Kadang pasien juga merasakan benjolan pada tenggorokan dan rasa
nyeri saat menelan. nyeri pada dada, regurgitasi makanan yang tak
tercerna dengan bau nafas dan akhirnya cegukan serta perdarahan.
Pada pemeriksaan darah rutin didapatkan diantaranya anemia dan
hipoalbuminemia. Dari pemeriksaan penunjang lainnya seperti
barium swallow, dapat terlihat gambaran yang khas pada sebagian
besar kasus di mana akan terlihat tumor dengan permukaan yang
erosif dan kasar pada bagian esofagus yang terkena. Pemeriksaan
endoskopi dan biopsi sangat penting untuk mendiagnosis karsinoma
esofagus, terutama untuk membedakan antara squamous cell
carcinoma dan adenokarsinoma.
Tinjauan pustaka
1. pat price and karol sikora, treatment of cancer, 6th ed, london: 2015, chapter 8 ; hal
181 - 196
2. franco cavalli et.al , text book of medical oncology, 4th ed , spain; 2009, chapter 9;
hal 158 183
3. netter FH, atlas of human anatomy, 3rd ed ; USA; 2003,