Anda di halaman 1dari 26

SENSOR KIMIA DAN BIOLOGIS

2 (2-0)

Dyah Iswantini Pradono


1. Pendahuluan
UTS 2. Sensor Fisika
3. Elektroda ion selektif
4. Metode amperometri
5. Biomaterial untuk biosensor

1. Metode imobilisasi
2. Metode membran lemak bilayer
UAS 3. Sensor Kimia optik
4. Contoh-contoh sistem sensor
5. Presentasi makalah
PUSTAKA ACUAN
Taylor RF, Schultz. 1996. Chemical and Biological Sensors.
Bristol dan Philadelphia: Institute of Physics Publishing.

Dermot diamond. 1998. Principles of Chemical and


Biological Sensors. Canada: John Wiley & Sons.
PENDAHULUAN
Definisi Sensor Kimia dan Biologis (Biosensor):
Alat pengukuran yang menggunakan reaksi kimia dan
biologi untuk mendeteksi jumlah analat spesifik atau
proses suatu reaksi.
Biosensor:
Sensor yang menggunakan biomolekul seperti: enzim,
antibodi atau reseptor atau sel sebagai komponen
deteksi.

Komponen deteksi: active surface, transducer, dan


elektronic/ software.

Permukaan aktif biosensor merupakan komponen deteksi


seperti: polymeric layer, biomolekul terimobilisasi.
Komponen dasar sensor
Effector

-polimer, enzim,
Active surface
-Antibodi, reseptror , dsb

-potensiometri, amperometri,
Transducer
-Optik, thermistor, transistor, dsb.

Proses

Output

Kontrol
SEJARAH BIOSENSOR
30 th yang lalu elektroda pH gelas
Tabel. Major sensor transducer technologies
Teknologi Perubahan output Contoh-contoh

Elektronik
Amperometri Arus Enzim polimer, antibodi, whole
cell electrode
Potensiometri Potensial Polimer, elektroda enzim
Capacitance/ impedance Impedance Konduktimeter

Photometric
Light absorption Intensitas cahaya, warna, Laser light scattering
emisi
Fluorescence of Fuorescence Fluorescence polarization
luminescence, polarization,
quenching
Acoustical Amplitudo SAW

Calorimetric
Thermistor temperatur Enzim dan reaktor
Tabel. Perkembangan Sensor Kimia dan Biosensor

Tahun Sensor Kimia dan Biosensor

1916 Laporan I tentang immobilisasi protein


1922 First glass pH electrode
1925 First blood pH electrode
1954 Invention of oxygen electrode
1962 First amperometric biosensor: glucose oxidase-based
enzyme electrode for glucose
1964 Coated piezoelectric quartz crystals as sensor for water,
hidrocarbons, polarmolecules and hydrogen sulfide
1969 First potentiometric biosensors: acrylamide-immobilized
urease on an ammonia electrode to detect urea

First commercial enzyme electrode (for glucose)


1972-74
1975
First microbe-based biosensor
First immunosnsors
1975-76
Surface acoustic wave sensors for gases
1979
Fiber optic pH sensor for in vivo blood gases
1980
Fiber-optic-based biosensor for glucose
1982
Tabel. Perkembangan Sensor Kimia dan Biosensor

Tahun Sensor Kimia dan Biosensor

1983 Molecular level fabrication techniques and theory for


molecular level electronic devices
1986 First tissue-based biosensor: platinum electrode to detect
Amino acids
1987 First receptor-based biosensor
Electrically conductive redox enzyme
Tren penelitian tentang sensor

1. Electoda dan sensor (1980-1994)


2. Ion-selective electrodes (ISEs), optical sensors,
amperometric, biosensor, acoustic, solid-state sensors
3. Sensor potensiometri untuk species yang lebih
kompleks seperti obat dan heparin.

Pasar Sensor
Sensor untuk aplikasi kesehatan terbesar

Tantangan penelitian sensor:


Bidang penting yang prlu dikembangkan:
1. Peningkatan jumlah spesies target, mekanisme
transduction
2. Komposisi membran sensor: menggunakan
membran tipis, material polimer
3. Sensor elektroda pH
4. Substrat sensor baru
SENSOR OPTIK

Sensor optik : Suatu sistem yang digunakan untuk


mengukur perubahan sifat-sifat optik suatu zat
yang dinyatakan dalam konsentrasi atau aktivitas
seperti: P02, PCO2 atau pH.
Sensor kimia optik merupakan topik yang populer
keuntungan : murah dan praktis

- Memonitor gas dalam darah: O2, CO2

Oksigen dibawa ke jaringen melalui hemoglobin


dalam sel darah merah, 15-20 % dari jumlah total
tsb dikonsumsi tiap menit oleh manusia.
CO2 ..... Perubahan cepat PCO2 dalam tubuh dapat
mempengaruhi pH tubuh
Sensor O2 dan CO2 sangat diperlukan

Lebih menguntungkan dan lebih stabil dibandingkan
dengan sensor elektrokimia untuk aplikasi in vivo

Oximeter: menggunakan optical fiber dalam


multifunction catheter dan menggunakan sifat-sifat
optik untuk mengukur penjenuhan oksigen seperti:
fraksi hemoglobin dalam darah yang membawa
oksigen.
Intra-arterial Blood Gas (IABG) sensing system:
penggunaan radial artery catheter yang dapat
memonitor tekanan gas dan pH sebagai sensor
dalam arteri.
Sensor optik in vivo yang paling baik:
Fiber optic oximetry catheter
Sensor ini berisi optical fiber yang dapat digunakan
untuk mengirim dan menerima yang dapat
digunakan untuk mengukur spektra yang sensitif
thd oksigen dalam sel darah. Alat ini membawa
cahaya ke darah pada dua atau lebih panjang
gelombang.
Gambar 15.2: spektra absorpsi dari 3 bentuk
hemoglobin. Hb, HbO2 dan HbCO. Sekitar 50 %
hemoglobin dijenuhkan pada 27 mmHg.
Oximeter menggunakan tiga panjang gelombang atau
tiga fiber dapat mengakomodasikan perubahan
yang besar dalam konsentrasi sel hematokrit tetapi
sistem dengan dua panjang gelombang harus
mempertimbangkan nilai hemoglobin dalam darah.
Keberhasilan oximetri secara in vivo
ditunjukkan oleh kemmpuan untuk
menyediakan informasi yang riil dan
kontinyu tentang jumlah oksigen dalam
darah yang masuk dalam paru-paru dan
mudah dikalibrasi dan digunakan.
IABG: menggunakan senyawa kimia yang
spesifik yang dapat menyerang fiber untuk
merespon analat. Sensor pH dari 6.8-7.8,
PO2 4-80 kPa, PCO2 dari 1.3-13 kPa.
Stabilitas sensor in vivo lebih penting
daripada keakuratan pengukuran karena
aktivitas terapeutik biasanya menghasilkan
nilai gas darah yang terbawa dapat
melampaui range normal.
Katheter oximeter memiliki fiper optik
2 m karena fiber high-silica
mempunyai transmisi optik.
polymehylmethacrylate (PMMA)
mempunyai harga paling murah
diantara fiber lainnya, fleksibilitasnya
tinggi, transmisinya lebih baik dalam
range visible.
Fleksibilitas fiber merupakan faktor
penting dalam aplikasi klinik karena
harus menembus kulit. Fiber harus
dapat bergerak lebih bebas keluar
jaringan daripada kedalam.
Terdapat 3 hal penting yang harus
diperhatikan untuk optik fiber yang
diilustrasikan oleh oximeter yaitu:
1. Fiber optik tidak merupakan light
wires yang sempurna , cahaya dapat
dipencarkan karena ketidak murnian
dan dapat diabsorbsi oleh fiber
substance. Sebaliknya, cahaya
eksternal yang mengenai fiber dapat
dipencarkan kedalam bagian dalam
dan menghasilkan hal yang tidak
diharapkan
2. Kontrol distribusi cahaya dalam
fiber sangat penting. Fiber adalah
komponen optik dan distribusi
geometri cahaya dalam fiber
tergantung tidak hanya pada
bagaimana cahaya masuk dalam fiber
tetapi juga tergantung pada
bagaimana cahaya tersebut
dibelokkan dari sumber cahaya ke
detektor.
3. Fiber harus cukup fleksibel untuk
mentoleransi belokan yang berulang
dengan radius fraksi cm.
3 hal tersebut juga dapat diterapkan
dalam sensor IABG.

Sensor gas darah optik fiber yang paling


baik adalah oximetric catheter dan
banyak penelitian untuk melengkapi
metode penentuan gas darah/pH
secara in vivo. Investasi d bidang ini
melebihi US $ 100 juta
CONTOH-CONTOH SISTEM SENSOR

1. Sensor kimia berbasis polimer


2. Sensor elektrokimia
3. Kombinasi FIA (Flow Injection
Analysis) dengan biosensor
Sensor kimia berbasis polimer
Sensor terdiri dari dua bagian yaitu transducer
yang dapat mengubah sinyal kimia menjadi
sinyal elektronik, secara kimiawi lapisan yang
selektif akan berinteraksi langsung dengan
sampel. Transducer biasanya tidak mempunyai
seletivitas, range dinamik atau sensitivitas
yang diperlukan oleh beberapa aplikasi
pengukuran.
Seperti kamera, memerlukan lensa yang
berbeda, maka transducer juga memerlukan
material yang selektif dalam pembentukan
coating, membran, atau elektrolit untuk
mengukur spesi yang berbeda dalam aplikasi
yang berbeda.
Kunci keberhasilan pengembangan sensor
adalah material yang cocok untuk
digunakan sebagai lapisan selektif. Polimer
sering digunakan untuk lapisan selektif
kimiawi untuk beberapa tipe sensor kimia,
gas dan biosensor.
Peran polimer dalam sensor kimia, gas
dan biosensor
Beberapa polimer yang digunakan dalam
sensor kimia dan biosensor:
Nafion untuk sensor oksigen, polietilen glikol
untu CO2 , polivinil alkohol untuk sensor
glukosa, poliakrilamid untuk sensor O2, CO2
dan pH (lihat tabel 13.1)
1. Polymeric electrolyte
Cairan elektrolit mengandung spesies ionik
yang dapat bermigrasi melalui larutan dan
mengalirkan arus listrik
Terdapat dua tipe elektrolit polimer
berdasarkan mekanisme konduksi.
1. Polielektrolit yang mengandung kation dan
anion.
2. Elektrolit polimer yang tidak mempunyai
muatan di sepanjang rantai. Polimer
berperan sebagai pelarut untuk ion
elektrolit yang dapat bergerak melalui
matriks polimer sebanyak dalam elektrolit
cairan.
2. Hydrogels
Sebenarnya merupakan tipe ketiga elektrolit
polimer, tetapi dalam hidrogel , pelarut
untuk ion adalah air, dan polimer yang larut
dalam air dapat meningkatkan viskositas
larutan. Elektrolit hydrogel terbentuk bila
polimer yang terlarut melakukan cross-
linked kedalam matriks tiga dimensi yang
dapat mengisi sampai 98 % dari volumenya
oleh air.
3. Membran gas-permeable
Polimer sering digunakan sebagai membran
permeabel terhadap gas untuk sensor gas
terlarut dan pengukuran gas atmosfer.
Tipe membran gas-permeble adalah hidrofobik
dan mempunyai kecepatan transport gas yang
relatif tinggi terhadap species lain.
4. Diffusion barriers
Diffusion barrier dapat digunakan jika molekul
analat mempunyai konsentrasi tinggi yang
dapat mengganggu sensor. Diffusion barrier ini
dapat mereduksi fluks analat dalam sensor.
Dalam sensor glukosa secara in vivo biasanya
terjadi diffusion barrier karena bila konsentrasi
glukosa lebih tinggi daripada konsentrasi
oksigen dapat menyebabkan oksigen
merupakan reagen yang terbatas dalam
proses oksidasi glukosa.
5. Matriks immobilisasi
Matriks yang cocok untuk immobilisasi reagen
biologis khususnya enzim merupakan area
yang cukup aktif dalam riset biosensor.
Aktivitas enzim ditentukan oleh struktur tiga
dimensi dan tergantung pada lingkungan
dimana enzim berada, sensitivitasnya
tergantung pada matriks immobilisasi yang
terpilih
Enzim akan menjaga konformasi tiga dimensi
yang tepat bila berada dalam lingkungan
yang menyerupai native environment dan
larutannya mendekati pH normal dan
mengandung konsentrasi garam yang
cukup.
SENSOR ELEKTROKIMIA