Anda di halaman 1dari 43

Kelompok 5

Devri Windi Sari


(1413206013)
Dwi Ambika Pristini
(1413206015)
Mutawaqqil Alallah
(1413206028)
STERILISASI
Steril adalah Keadaan dimana suatu zat bebas
dari mikroba hidup, baik patogen / apatogen,
vegetatif / spora

Sterilisasi adalah Usaha menghilangkan semua


bentuk kehidupan, baik patogen / apatogen,
vegetatif / non vegetatif dari suatu objek/material

(Widodo, 2013)
Sterilisasi Gas
Sterilisasi gas adalah cara menghilangkan
mikroorganisme dengan menggunakan gas atau uap
yang membunuh mikroorganisme dan sporanya
(Lachman & Lieberman, 1994)
Digunakan untuk mensterilkan bahan-bahan yang
tidak tahan terhadap pemanasan terutama alat-alat
yang bersifat untuk sekali pakai (disposable) (Maat,
2009)
Mekanisme Aksi Sterilisasi Gas
Aktivitas dari gas untuk membunuh
mikroorganisme berdasarkan atas kekuatan
alkilasi pada gugusan SH ; -COOH ;-NH2
yang terdapat didalam enzime atau protein dan
juga di dalam inti sel.
Yang paling sering digunakan adalah gas
ethyleneoxyde dan formaldehid
(Maat, 2009)
Ethylene oxide

Jenis Gas Formaldehyde

Beta-propiolactone
Sifat EO

RM : C2H4O
BM : 44,50
Titik didih : 10,8C
Mudah meledak
Karsinogen
Toxic
Aktivitas mikrobiologi : bactericidal, fungicidal, virucidal and
sporicidal
Mekanisme Aksi
EO bereaksi pada gugus hidroksil, sulfhidril, karboksil
dan amino

Senyawa aditif hidroksietil

Modifikasi metabolisme mikroba

Denaturasi protein
(Dusseau et al., 2013)
Reaksi Alkilasi

ROH + C2H4O ROCH2CH2OH


RSH + C2H4O RSCH2CH2OH
RCOOH + C2H4O RCOOCH2CH2OH
RNH2 + C2H4O RNHCH2CH2OH

Terjadi pergantian gugus atom hidrogen


dengan gugus alkil, sehingga metabolisme dan
reproduksi sel terganggu
(Dusseau et al., 2013)
Pengkondisian EO
EO dapat dicampur dengan gas pembawa inert
untuk menghindari risiko terbakar dan meledak
Gas pembawa inert:
Chlorofluorocarbon (CFC) Sekarang
Hydrochlorofluorocarbon (HCFC) DILARANG
Carbon dioxide

(Dusseau et al., 2013)


Pengkondisian EO
Konsentrasi campuran: 10% EO dan 90% CO2
Dibuat dalam botol logam yang bertekanan sampai
0,5 kPa (50 bar)
Botol terbuat dari baja khusus menghilangkan
semua faktor yang menjadi sumber polimerisasi
Masa simpan hanya 3 bulan
Jauhkan dari panas agar tidak terjadi polimerisasi
Jika terjadi polimerisasi bentuk fisik polimer akan
mengalami peningkatan densitas. Awalnya berminyak
polimer cepat menjadi padat menghalangi filter
dan katup di dalam alat sterilisasi.
(Dusseau et al., 2013)
Parameter Sterilisasi
Kelembaban
Berperan sebagai katalis reaksi alkilasi
Berkisar 40% 80%
Konsentrasi Gas
400 dan 1000 mg/l
Jika digunakan kadar tinggi Penetrasi lebih cepat
masalah toksisitas lebih besar waktu desorpsi lebih lama
Suhu
Berkisar antara 40 50C
Durasi
Bervariasi, mulai dari 30 menit sampai 10 jam sesuai dengan
keadaan.
(Dusseau et al., 2013)
Cara Kerja
1. Evakuasi chamber
2. Pemanasan awal dan memberi kelembaban dengan
menggunakan suntikan uap pendek
3. Pemaparan gas etilen oksida
4. Pembuangan gas ethilen oksida pada sterilisator
maupun peralatan medis
5. Evakuasi berulang
6. Pengeringan dengan udara segar yang telah disaring
dengan HEPA untuk memulihkan tekanan atmosfer.

Kontak antara bahan dan gas terjadi pada tekanan


yang lebih rendah dari pada tekanan atmosfir
EO Gas Sterilizer
Kelebihan
Kemampuan penetrasinya yang baik
Kompatibel dengan kebanyakan bahan medis

Kekurangan
Memerlukan waktu lama (4-16 jam)
Mahal
Berbahaya untuk pasien dan pekerja
Mudah terbakar, walaupun sudah dicampur dengan gas inert
Kemungkinan adanya residu toksik di dalam bahan yang
disterilkan, terutama yang mengandung ion klorida
Terbatasnya kemampuan gas untuk berdifusi sampai ke daerah
yang paling dalam dari produk yang disterilkan.
Aplikasi
Banyak yang aplikasikan di RS dan industri,
tetapi tidak sesuai untuk sterilisasi ruangan.
Membebaskan kuman dari alat medisin
(misalnya satu set instrumen infus, instrumen
bedah)
Saringan pembebas kuman (saringan
membran)
Digunakan untuk sterilisasi bahan yang sensitif
terhadap panas dan lembap (perlengkapan
operasi, senyawa enzim, antibiotik)
Sifat Formaldehyde

RM : CH2O
BM : 30,03
Titik didih : 19,1C
Korosif
Toxic
Membahayakan lingkungan
Aktivitas mikrobiologi : bactericidal, fungicidal, virucidal
Faktor-Faktor yang mempengaruhi Aktivitas MO

Konsentrasi gas
Efisiensi inaktivasi meningkat dengan konsentrasi
formaldehid.
Konsentrasi gas formaldehid yang biasa digunakan berkisar
antara 6 dan 50 mg/l sesuai dengan peralatan
Suhu
Inaktivasi mikroba meningkat dengan suhu sampai 70-80 C
Suhu tidak boleh lebih rendah dari 18 C
Kelembaban
Kelembaban relatif harus selalu melebihi 50%
Optimum berkisar antara 80% dan 90%
(Dusseau et al., 2013)
Faktor-Faktor yang mempengaruhi Aktivitas MO

Vakum
Biasanya berkisar antara 5 dan 50 mmHg
Semakin baik vakum yang didapat, semakin
tinggi penetrasi gas ke bahan yang akan
disterilkan.
Sifat bahan
Bahan organik
Mekanisme aksi formaldehid sangat berkurang
oleh bahan organik

(Dusseau et al., 2013)


Mekanisme Aksi
Formaldehide berikatan dengan asam amino pada
protein MO

Transkripsi MO terganggu

Pertmbuhan MO terhambat

(Darmadi, 2008)
Produksi & Penyimpanan
Formaldehid gas tidak tersedia secara komersial.
Karena sifatnya, gas formaldehida tidak bisa
disimpan dalam botol atau wadah.
Penyiapan gas formalin:
Dipanaskan larutan formalin 35-40% Uap
Formaldehida juga bisa diperoleh dengan
sublimasi para-formaldehid.
Pada LTSF larutan formaldehide 34-38%
disuntikkan selama operasi berlangsung
diuapkan sebelum memasuki chamber
Cara Kerja
a. Pre-vacuum Udara dieliminasi dari chamber
b. Pre-pulses of steam penambahan uap
subatmosfir secara berulang untuk menciptakan
ruang panas yang lembab
c. Formaldehyde feeding
d. Sterilization
e. Washing pulses
f. Air pulses
Cara Kerja
Low-Temperature Sterilization
Formaldehyde (LTSF)
Kekurangan
Daya penetrasi rendah
Cenderung mengadakan polimerisasi di permukaan.
Sterilisasi bahan berpori bisa sulit akibat
pembentukan polimer yang menghambat akses
sterilitas lebih lanjut.
Formaldehida menunjukkan korosi yang sangat kuat
pada bahan tertentu
Sulit digunakan dengan produk yang sensitif terhadap
kelembaban tinggi
Kelebian
Jika dibandingkan dengan EO, maka:
Tidak ada resiko meledak
Biaya lebih rendah, karena tidak ada
masalah desorbsi
Waktu pemrosesan lebih singkat
Aplikasi
Digunakan untuk sterilisasi/desinfeksi
beberapa instrumen serta untuk fumigasi
ruangan.
Kebanyakan digunakan untuk alat-alat tertentu
saja, seperti sarung tangan, kateter, dan lain-
lain (darmadi, 2008)
propiolactone
Sifat propiolactone

RM : C3H4O2
BM : 72,06 g/mol
Densitas : 20/4 C 1.149
Titik lebur : 33,4 C
Toxic, Karsinogenik
Aktivitas mikrobiologi : sporicidal fungicidal, virucidal
Masa simpan yang beta-propiolakton yang dimurnikan (99%)
atau kelas komersial (96%) a lebih dari tiga tahun pada suhu
4C. Allen, 1960
propiolactone
Mudah bereaksi dengan senyawa organik yang
mengandung amino, karboksil, sulfhidril, dan
gugus hidroksil
Garam anorganik, asam, atau alkali
mengkatalisis polimerisasi cairan atau bereaksi
dengannya untuk menghasilkan produk baru.

Hoffman & Warshowsky, 1958


Sterilisasi dengan propiolactone
Dengan pemaparan gas -propiolakton pada benda
yang akan di sterilkan
Beta-propiolaktona membutuhkan kelembaban relatif
75% atau lebih tinggi untuk membunuh cepat dan
relatif tidak efektif pada kelembaban rendah.
Konsentrasi kesetimbangan beta-propiolaktona dalam
fasa uap pada 25 C dan 760 mmHg adalah 13,2 mg per
liter
Pada penelitian Hoffman dan Warshowsky (1958)
konsentrasi BPL sekitar delapan kali cukup untuk
membunuh 90% spora dalam dua menit pada RH 75-
85% dan 25-29 C.

Allen, 1960
Kelebian
Metode kimia sterilisasi yang sederhana, cepat,
dan murah
Kira-kira 25 kali lebih aktif sebagai
desinfektan fase-uap dari formaldehid dan
sekitar 4.000 kali lebih aktif daripada etilen
oksida ketika masing-masing zat digunakan
dalam kondisi keefektifan maksimum (allen,
1960).
Aplikasi
Sterilisasi enzim (tripsin & pancreatin)
Sterilisasi ruangan Sterilisasi plasma darah
Mampu mensterilkan jaringan yang telah
terinfeksi
Misal: mensterilkan jaringan limpa yang
terinfeksi leukemia

(Logrippo et al., 1957; Hartman et al., 1958; Stokes, 1971; Ma'at, 2009)
Validasi Metode Sterilisasi Gas
Menurut World Health Organization (2016)
indikator biologi yang dapat digunakan untuk
validasi metode sterilisasi gas adalah Bacillus
subtilis atau Bacillus stearothermophilus, yang
mana D-value atau pengurangan 90% populasi
mikroba adalah 1,5 2 menit pada 121C,
dengan menggunakan sekitar 106 spora per
indikator.
Kekurangan Sterilisasi Gas
Pembungkus plastik harus dibiarkan terbuka, baru
ditutup setelah selesai penyeterilan sehingga
kemungkinan terkontaminasi kembali cukup besar.
Kontrol terhadap kelembapan biasanya sangat kritis,
dengan demikian pelaksanaanya tidak begitu mudah
Waktu steriisasi umumnya panjang
Biaya sterilisasi umumnya lebih mahal dibandingkan
denagn sterilisasi cara panas

(Ma'at, 2009)
Kelebian Sterilisasi Gas
Bahan yang disterilkan tidak rusak selama
proses sterilisasi
Perubahan kimia maupun fisika dari bahan
yang disterilakan sangat jarang terjadi, karena
seluruh proses dikerjakan pada suhu yang
rendah
Penetrasi gas ke dalam bahan-bahan yang
porus umumnya sangat baik, kecuali jika
menggunakan formaldehide

(Ma'at, 2009)
Daftar Pustaka
Depkes RI, 1995. Farmakope Indonesia. IV ed. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Dusseau, J.-Y., Duroselle, P. & Freney, J., 2013. Russell, Hugo & Ayliffes: Principles and
Practice of Disinfection, Preservation and Sterilization. In Gaseous Sterilization. 5th
ed. France: Blackwell Publishing Ltd.
Hartman et al., 1958. Preparation And Sterilization Of Blood Plasma. Ajcp. 24. 339 348
Hoffman & Warshowsky, 1958. Beta-Propiolactone Vapor as a Disinfectant. U. S. Army
Chemical Corps. 6. 358 362
Lachman & Lieberman, 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri. III ed. Jakarta: UI Press.
Logrippo et al. 1957. Procedure for Bone Sterilization with Beta-Propiolactone. Journal of
Bone & Joint Surgery. American volume
Ma'at, S., 2009. Sterilisasi dan Disinfeksi. Surabaya: Airlangga University Press.
Stokes. 1971. Beta-propiolactone as an agent for enzyme sterilization. J. clin. Path. 24. pp:
658-660
Voigt, R., 1984. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. 5th ed. Yogyakarta: UGM Press.
WHO, 2016. The International Pharmacopoeia. In Methods of sterilization. 6th ed. World
Health Organization.

Anda mungkin juga menyukai