Anda di halaman 1dari 24

Korupsi Kasus Pencucian Uang oleh

Gayus Tambunan
Disusun Oleh :
1. Arif Ridwan
2. Devi Handika H
3. Dhiya Nabilah
4. Diana Arum Sari
5. Dinda Aulia S

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN JAKARTA II


Jurusan Kesehatan Lingkungan
Tujuan

1. Untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya


korupsi.

2. Untuk mengetahui Strategi dan langkah-langkah


pencegahan yang dapat dilakukan
untuk memberantas korupsi.

3. Untuk mengetahui dampak yang diakibatkan oleh


korupsi.
Kasus
JAKARTA, KOMPAS.com Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana
Korupsi, Jakarta, dijadwalkan membacakan putusan atas perkara dugaan korupsi
dan pencucian uang dengan terdakwa mantan pegawai Direktorat Jenderal
Pajak, Gayus H Tambunan, Kamis (1/3/2/2012) pagi ini.

"Iya, vonis hari ini jam 10.00 jadwalnya," kata salah satu kuasa hukum
Gayus, Dion Pongkor, melalui pesan singkat yang diterima Kompas.com, Kamis.

Sedianya, putusan atas perkara Gayus ini dibacakan majelis hakim


Tipikor pada Senin (20/2/2012) pekan lalu. Namun, karena ketua majelis hakim
Suhartoyo sakit, pembacaan vonis tersebut ditunda. Hari ini, petugas Pengadilan
Tipikor, Amin, memastikan kalau hakim Suhartoyo sehat dan siap membacakan
vonis.
Gayus dituntut hukuman delapan tahun penjara ditambah denda Rp 1
miliar yang dapat diganti kurungan enam bulan. Selaku pegawai Ditjen Pajak, Gayus
dinilai terbukti melakukan empat perbuatan korupsi.

Pertama, menerima uang Rp 925 juta dari Roberto Santonius terkait


kepengurusan gugatan keberatan pajak PT Metropolitan Retailmart dan menerima
3,5 juta dollar AS dari Alif Kuncoro terkait kepengurusan pajak tiga perusahaan
Grup Bakrie, yakni PT Arutmin, PT Kaltim Prima Coal, dan PT Bumi Resource.

Kedua, menerima gratifikasi terkait kepemilikan uang 659.800 dollar AS


dan 9,68 juta dollar Singapura.

Ketiga, melakukan pencucian uang dengan menyimpan uang gratifikasi


tersebut dalam safe deposit box Bank Mandiri Cabang Kelapa Gading.

Keempat, menyuap sejumlah petugas Rumah Tahanan Mako Brimob,


Kelapa Dua, agar dapat keluar-masuk tahanan.
Kronologi Kasus Gayus

Nama yang akhir-akhir ini mencuat karena namanya disebut oleh mantan
Kabareskrim Komjen Susno Duadji memiliki uang sebesar Rp 25 miliar dalam
rekening pribadinya. Hal tersebut sangat mencuri perhatian karena Gayus
Tambunan hanyalah seorang PNS golongan III A yang mempunyai gaji berkisar
antara 1,6-1,9 juta rupiah saja.
Lelaki yang memiliki nama lengkap Gayus Halomoan Tambunan ini bekerja di
kantor pusat pajak dengan menjabat bagian Penelaah Keberatan Direktorat
Jenderal Pajak. Posisi yang sangat strategis, sehingga ia dituduh bermain sebagai
makelar kasus (markus). Kasus pun berlanjut karena di duga banyak pejabat
tinggi Polri yang terlibat dalam kasus Gayus. Gayus dijadikan tersangka oleh Polri
pada November 2009 terkait kepemilikan uang yang mencurigakan di
rekeningnya mencapai Rp 25 miliar. Gayus terindikasi melakukan pidana korupsi,
pencucian uang, dan penggelapan senilai Rp 395 juta.
Namun di persidangan, jaksa hanya menjerat pasal penggelapan

saja, dengan alasan uang yang diduga hasil korupsi telah

dikembalikan. Sisa uang Rp 24,6 miliar, atas perintah jaksa,

blokirnya dibuka. Hakim pun memutuskan Gayus divonis 6 bulan

penjara dan masa percobaan setahun. Setelah dilakukan

pemeriksaan, dari uang total Rp 25 miliar, uang sejumlah Rp 395

juta disita, dan sisanya sebesar Rp 24,6 miliar pun hilang entah

kemana dan tidak ada pembahasan lanjut mengenai uang sebesar

itu.
Faktor Penyebab Korupsi

Gayus diduga melakukan korupsi karena faktor hidup yang


konsumtif dan adanya struktur birokrasi yang berpenyakit dari
sejak dulu.

Pihak Yang Terlibat

Seperti yang kita tahu bahwa dalam kasus ini bukan hanya gayus
saja yang bekerja sendiri tetapi ia juga mempunyai jaringan.
Sebelum Gayus Tambunan pergi ke Singapura ia pernah memberi
pengakuan ke Satgas Pemberantasan Mafia Hukum bahwa bukan
hanya dirinya yang bertugas tetapi ada orang lain.
Selain sejumlah petinggi negara yang terlibat istri Gayus (Milana Anggraeni) juga
ditetapkan sebagai tersangka karena ia diketahui menerima dana dari suaminya
(Gayus Tambunan) sebesar 3,6 miliar. Andi kosasih juga menerima dana dari Gayus
tambunan Sebesar Rp 1,9 miliar, masuk ke rekening Gayus Rp 10 miliar dan
tabungan Gayus Rp 1 miliar. Jaksa Agung Muda Pengawasan (Jamwas), Hamzah
Tadja mencurigai adanya itikad tidak baik dari Cirus Sinaga selaku jaksa peneliti
berkas perkara Gayus Tambunan.

Memang ada informasi bahwa Surat Perintah Dimulainya Penyidikan


(SPDP) tersebut diambil sendiri oleh Cirus ke Mabes Polri. Namun, pihaknya belum
bisa memastikan kebenarannya karena masih harus mengkonfirmasikan dengan
pihak Mabes. Cirus sendirilah yang mengantarkan SPDP tersebut langsung kepada
Direktur Prapenuntutan Jampidum saat itu, Poltak Manullang. semestinya SPDP
masuk dari Mabes Polri langsung ke Kabbag TU Jampidum. Setelah itu diproses
untuk diberikan kepada Jampidum supaya ditunjuk jaksanya.
Oleh karena itu, hasil pemeriksaan jajaran Pengawasan
Kejagung menilai ada itikad tidak baik dari jaksa Cirus
dalam menangani perkara Gayus Tambunan. Itu
sebabnya ia dihukum karena ada itikad tidak baik.
Sebelumnya, jaksa Cirus Sinaga dan mantan Direktur
Prapenuntutan Jampidum Poltak Manullang terbukti
tidak cermat dalam menangani kasus Gayus. Keduanya
dikenai sanksi pembebasan dari jabatan struktural.
Pelanggaran Etika Profesi

Dalam hal ini, Gayus sudah melanggar beberapa prinsip dari


etika profesi, antara lain:

1. Prinsip Pertama Tanggung Jawab Profesi

Dalam kasus pengelapan pajak keuangan Negara seorang


Gayus telah melupakan tanggung jawab (tidak bertanggiung
jawab) sebagai profesinya. Sejalan dengan peranan tersebut,
seorang pejabat perpajakan gayus seharusnya mempunyai
tanggung jawab kepada semua pemakai jasa profesional
mereka.
2. Prinsip Kedua Kepentingan Publik

Melihat kasus penggelapan pajak yang dilakukan oleh pejabat


perpajakan Gayus jelas tidak menghormati kepercayaan
masyarakat luas(kepercayaan public). Dan semua itu tidak dilakukan
oleh pejabat perpajakan Gayus. Dalam mememuhi tanggung-
jawab profesionalnya, pejabat perpajakan mungkin menghadapi
tekanan yang saling berbenturan dengan pihak-pihak yang
berkepentingan. Dalam mengatasi benturan ini, anggota harus
bertindak dengan penuh integritas, dengan suatu keyakinan bahwa
apabila pejabat memenuhi kewajibannya kepada publik, maka
kepentingan penerima jasa terlayani dengan sebaik-baiknya.
3. Prinsip Ketiga Integritas

Dalam kasus penggelapan pajak oleh pejabat pajak Gayus


tidak ditemukan sama sekali integritas yang tinggi, dalam
hal kejujuran pejabat tersebut telah membohongi public,
dalam hal perilaku pejabat persebut telah melukai hati
public sebagai pembayar pajak.
4. Prinsip Keempat Obyektivitas

Menengok kasus pejabat perpajakan Gayus syarat dengan banyak

kepentingan yang berbenturan dan bertentangan dengan

kewajiban dan etika profesi. Sementara dalam kasus pejabat pajak

Gayus tidak menunjukkan indikasi seperti diatas alias bertentangan

dengan prinsip Obyektifitas yang mana harus bekerja dalam

berbagai kapasitas yang berbeda dan harus menunjukkan

obyektivitas mereka dalam berbagai situasi.


5. Prinsip Kelima - Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional

Dalam masalah pejabat perpajakan Gayus Kompetensi dan kehati-

hatian Profesional tidak ditunjukkan dengan memihak kepada

organisasi dan golongan tertentu untuk memupuk keuntungan

sendiri.

6. Prinsip Keenam Kerahasiaan

Melihat kasus terhadap penyimpangan pajak yang dilakukan pejabat

perpajakan Gayus, seharusnya kerahasiaan itu benar benar

dilakukan untuk dan demi kepentingan pembangunan Negara dan

Bangsa dan bukan untuk melindungi kepentingan golongan tertentu.


7. Prinsip Ketujuh Perilaku Profesional

Setiap anggota harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang

baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi: Hal ini sama

sekali tidak di tunjukkan oleh pejabat perpajakan Gayus dimana prilaku

profesinya jelas jelas merugikan masyarakat bangsa dan Negara.

8. Prinsip Kedelapan - Standar Teknis

Dalam kasus penggelapan pajak oleh pejabat perpajakan Gayus tidak

ditemukan standar teknis dan standar professional dalam melaksanakan

tugas dan tanggung jawabnya yang mana harus sesuai dengan ketentuan yang

berlaku dan tentunya bermuara pada penerimaan pendapatan Negara guna

pembangunan Bangsa sesuai dengan standar dan ketentuan yang berlaku.


Dugaan Yang Dituduhkan Kepada Gayus
1. Mengenai perbuatan mengurangi keberatan pajak PT. Surya Alam Tunggal
dengan total Rp 570.952.000 ,-.

2. Gayus terbukti menerima suap sebesar Rp 925.000.000 ,- dari Roberto


Santonius, konsultan pajak terkait dengan kepengurusan gugatan keberatan
pajak PT. Metropolitan Retailmart.

3. Pencucian uang terkait dengan penyimpanan uang yang disimpan di safe


deposit box Bank Mandiri cabang Kelapa Gading serta beberapa rekening
lainnya.

4. Gayus menyuap sejumlah petugas Rumah Tahanan Brimob Kelapa Dua,


Depok, serta kepala Rutan Iwan Susanto yang jumlahnya sebesar Rp
1.500.000 ,- hingga Rp 4.000.000,.

5. Gayus memberikan keterangan palsu kepada Penyidik perihal uang sebesar


Rp 24.600.000.000 didalam rekening tabungannya.
Potensi Kerugian Yang Ditanggung Oleh Negara

Korupsi yang dilakukan oleh Gayus Tambunan


mengakibatkan negara harus menanggung kerugian
sebesar Rp 645,99 Milyar dan US $ 21,1 juta dan dua
wajib pihak yang terkait dengan sunset policy dengan
potensi kerugian sebesar Rp 339 Milyar.
Pasal Serta Jeratan Hukum Yang Menjerat Kasus Gayus
Tambunan

1. Pasal 18 UU No.31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi


(TIPIKOR), dimana Gayus Tambunan diduga memperkaya diri sendiri dan merugikan
keuangan negara sebesar RP 570.952.000 ,-, terkait penanganan keberatan pajak PT.
Surya Alam Tunggal Sidoarjo.

2. Pasal 5 ayat 1a No.31 Tahun 1999 tentang tindak pidana korupsi, dimana Gayus
Tambunan dituding melakukan penyuapan sebesar $ 760.000 terhadap penyidik
Mabes Polri M Arafat Enanie, Sri Sumartini, dan Mardiyani.

3. Pasal 6 ayat 1a No.31 Tahun 1999 tentang tindak pidana korupsi karena Gayus
diketahui memberikan uang sebesar US $ 40.000 kepada Hakim Muhtadi Asnus, Ketua
Majelis Hakim yang menangani perkara Gayus di Pengadilan Negeri Tangerang.

4. Pasal 22 No.31 Tahun 1999 mengenai Undang undang tidak pidana korupsi, dimana
gayus didakwa telah dengan sengaja memberi keterangan yang tidak benar untuk
kepentingan penyidikan.
Keputusan Sidang Akhir Kasus
Gayus Tambunan

Keputusan sidang akhir terdakwa kasus


penggelapan pajak Gayus Tambunan oleh Hakim
Pengadilan Negeri Jakarta adalah hukuman sebesar
8 tahun penjara dan denda sebesar Rp
300.000.000., dengan ketentuan apabila denda
tidak dapat dibayarkan maka akan ada penggantian
berupa pidana kurungan selama 3 bulan.
Cara Pencegahan Dan Strategi Pemberantasan Korupsi

1. Pembentukan Lembaga Anti Korupsi. Yaitu membentuk lembaga

independen yang khusus menangani korupsi.

2. Pencegahan Korupsi di Sektor Publik

3. Pencegahan Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat

4. Pengembangan dan Pembuatan Berbagai Instrumen Hukum

yang Mendukung Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi

5. Pemantauan dan Evaluasi


Dampak Korupsi

Dampak dari kasus Gayus Tambunan adalah:


Merugikan negara
Merugikan institusi
Merugikan diri sendiri dan keluarga
Merugikan masyarakat
Kesimpulan

Kasus Gayus Tambunan merupakan kasus pencucian uang dan


penggelapan pajak yang telah merugikan negara sebesar Rp 645,99
Milyar dan US $ 21,1 juta. Keputusan sidang akhir terdakwa kasus
penggelapan pajak Gayus Tambunan oleh Hakim Pengadilan Negeri
Jakarta adalah hukuman sebesar 8 tahun penjara dan denda sebesar
Rp 300.000.000 ,- dengan ketentuan apabila denda tidak dapat
dibayarkan maka akan ada penggantian berupa pidana kurungan
selama 3 bulan.
Saran
1. Perketatlah hukum yang ada di Indonesia , sehingga para
koruptor/ bakal koruptor akan jera dan tak akan melakukan
korupsi yang merugikan

2. Sikap untuk menghindari korupsi seharusnya ditanamkan sejak


dini. Dan pencegahan korupsi dapat dimulai dari hal yang kecil

3. Seharusnya pemerintah lebih tegas terhadap terpidana korupsi.

4. Hendaknya setiap masyarakat dan pemerintah yang melihat

adanya tindakan korupsi melapor kepada aprat berwajib agar

kasus tersebut segera dapat ditangani.


THANKS

Anda mungkin juga menyukai