Anda di halaman 1dari 27

Askep Gadar Kardiopulmonal

Manajemen Kegawatan Aspirasi Benda


Asing, Gas Beracun & Emboli Paru

Disusun oleh :
Kelompok 2
1. Diah Nur Islamiyah
2. Emmy Putri Wahyuni
3. Putry Wulanndary
Definisi Aspirasi Benda Asing

Benda asing didalam suatu organ ialah


benda yang berasal dari luar tubuh atau dari
dalam tubuh, yang dalam keadaan normal
tidak ada.
Pathway Aspirasi Benda Asing
Algoritma Kegawatan
Aspirasi Benda Asing
Penatalaksanaan Kegawatan
Aspirasi Benda Asing

Ketika yang ditemukan adalah tanda-tanda penyum-


batan ringan dan korban dapat batuk, jangan meng-
halangi proses batuk dan usaha bernapas spontan dari
korban. Jika batuk pada korban menjadi tanpa suara,
kesulitan bernapas meningkat, dan disertai suara napas
tidak biasa pada korban, atau jika korban menjadi tidak
sadarkan diri yang merupakan tanda-tanda penyumbatan
berat, segera aktivasi SPGDT. Jika terdapat lebih dari satu
penyelamat, satu penyelamat mengaktivasi SPGDT dan
satu penyelamat lagi membantu korban.
Back Blow
Tepukan di punggung (back blow)
dilakukan dengan memberikan lima kali
tepukan di punggung korban. Berikut cara
melakukan tepukan di punggung (back
blow).
1. Berdiri di belakang korban den sedikit
bergeser kesamping
2. Miringkan korban sedikit ke depan dan
sangga dada korban dengan salah satu
tangan
3. Berikan lima kali tepukan di punggung
bagian atas di antara tulang belikat
menggunakan tangan bagian bawah
Manuver Hentakan
Berikut cara melakukan manuver hentakan
pada perut:
1. Miringkan korban sedikit ke depan dan berdiri di
belakang korban dan letakkan salah satu kaki di
sela kedua kaki korban.
2. Buat kepalan pada satu tangan dengan tangan lain
menggenggam kepalan tangan tersebut. Lingkarka
tubuh korban dengan kedua lengan kita.
3. Letakkan kepalan tangan pada garis tengah tubuh
korban tepat di bawah tulang dada atau di ulu hati
4. Buat gerakan ke dalam dan ke atas secara cepat
dan kuat untuk membantu korban membatukkan
benda yang menyumbat saluran napasnya.
Manuver ini terus diulang hingga korban dapat
kembali bernapas atau hingga korban kehilangan
kesadaran.
Manuver Hentakan pada Dada
[Indikasi Wanita Hamil]

1. Letakkan tangan di bawah ketiak


korban
2. Lingkari dada korban dengan lengan
kita
3. Letakkan bagian ibu jari pada kepalan
di tengah-tengah tulang dada korban
(sama seperti tempat melakukan
penekanan dada pada RJP)
4. Genggam kepalan tangan tersebut
dengan tangan satunya dan hentakan
ke dalam dan ke atas.
Manuver Tepukan Punggung dan
Hentakan Dada [Indikasi Bayi <1 th]
Berikut langkah-langkah manuver
tepukan punggung dan hentakan dada
pada bayi:
1. Posisikan bayi menelungkup seperti
pada dan lakukan tepukan di punggung
dengan menggunakan pangkal telapak
tangan sebanyak lima kali
2. Kemudian, dari posisi menelungkup,
telapak tangan kita yang bebas
menopang bagian belakang kepala bayi
sehingga bayi berada di antara kedua
tangan kita (tangan satu menopang
bagian belakang kepala bayi, dan
satunya menopang mulut dan wajah
bayi)
Manuver Tepukan Punggung dan
Hentakan Dada [Indikasi Bayi <1 th]

3. Lalu, balikan bayi sehingga bayi berada


pada posisi menengadah dengan
telapak tangan yang berada di atas paha
menopang belakang kepala bayi dan
tangan lainnya bebas seperti pada
gambar.
4. Lakukan manuver hentakan pada dada
sebanyak lima kali dengan meng-
gunakan jari tengah yang bebas di
tempat yang sama dilakukan penekanan
dada saat RJP bayi
5. Jika korban tidak sadar, lakukan RJP.
Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
Pemeriksaan Penunjang

Tindakan esofagoskopi

Foto rontgen batu lithium


Tindakan
bronkoskopi
Definisi Keracunan Gas

Gas beracun yang sering terinhalasi


adalah karbon-monoksida. Disamping sejumlah
zat inhalasi dari uap yang berlebihan (seringkali
mematikan), ada banyak peningkatan jumlah
orang yang menderita akibat keracunan
karbonmonoksida sehu-bungan dengan
kesalahan pemakaian gas dirumah.
Karbon monoksida (CO) adalah suatu
gas tidak berwarna, tidak berbau yang dihasilkan
oleh pembakaran tidak sempurna material yang
mengandung zat arang atau bahan organik, baik
dalam alur pengolahan hasil jadi industri, ataupun
proses di alam lingkungan.
Patofisiologi Keracunan Gas CO

Gas CO masuk ke paru-paru inhalasi, mengalir ke alveoli, terus


masuk ke aliran darah. Gas CO dengan segera mengikat hemoglobin di
tempat yang sama dengan tempat oksigen mengikat hemoglobin, untuk
membentuk karboksi hemoglobin (COHb). Ikatan COHb bersifat dapat
pulih/reversible.
Mekanisme kerja gas CO di dalam darah:
a. Segera bersaing dengan oksigen untuk mengikat hemoglobin.
Kekuatan ikatannya 200-300 kali lebih kuat dibandingkan oksigen.
Akibatnya, oksigen terdesak dan lepas dari hemoglobin sehingga
pasokan oksigen oleh darah ke jaringan tubuh berkurang, timbul
hipoksia jaringan.
b. COHb mencampuri interaksi protein heme, menyebabkan kurva
penguraian HbO2 bergeser kekiri (Haldane effect). Akibatnya terjadi
pengurangan pelepasan oksigen dari darah ke jaringan tubuh.
Manifestasi Klinis Keracunan Gas CO
Penatalaksanaan Keracunan Gas CO

Perawatan Sebelum Tiba di Rumah Sakit


Memindahkan pasien dari paparan gas CO dan memberikan terapi
oksigen dengan masker nonrebreathing adalah hal yang penting.
Intubasi diperlukan pada pasien dengan penurunan kesadaran dan
untuk proteksi jalan nafas.

Perawatan di unit gawat darurat


Pemberian oksigen 100% dilanjutkan sampai pasien tidak
menunjukkan gejala dan tanda keracunan dan kadar HbCO turun
dibawah 10%. Pada pasien yang mengalami gangguan jantung dan
paru sebaiknya kadar HbCO dibawah 2%. Lamanya durasi pemberian
oksigen berdasarkan waktu-paruh HbCO dengan pemberian oksigen
100% yaitu 30 - 90 menit.
Algoritma
Manajemen
Keracunan
Gas CO
Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
Definisi Emboli Paru

Emboli paru merupakan oklusi atau penyumbatan


bagian pembuluh darah paru-paru oleh embolus.
Embolus ialah suatu benda asing yang tersangkut pada
suatu tempat dalam sirkulasi darah. Benda tersebut
terbawa oleh darah yang berasal dari suatu tempat lain
dalam sirkulasi darah. Proses timbulnya embolus
disebut embolisme. Sebenarnya, hampir 99% emboli
berasal dari trombus. Bahan lainnya adah tumor, gas,
lemak, sumsum tulang, cairan amnion, dan trombus
septik (Somatri, Irman. 2007).
Manifestasi Klinis Emboli Paru

1. Dispnea, nyeri dada pleuritik, ketakutan, dan batuk.


2. Sepertiga pasien paru juga akan mengalami trombosis vena
dalam diekstremitas bawahnya.
3. Jika pasien mengalami nyeri dada dan pemendekan napas di
ruang rawat atau bangsal , sebaiknya segera dilakukan
serangkaian teks non spesifik, yaitu gas darah arteri pada udara
ruangan, elektrokardiogram (EKG), dan foto polos dada.
4. Setiap pasien yang gas darah arteri udara ruangan dengan PaO2
nya kurang dari 70 mmHg dianggap mengalami embolis paru.
5. Pasien sebaiknya diberikan oksigen beraliran tinggi dengan
sunkup muka.
Pathway Emboli Paru
Intervensi
Kegawatdaruratan & Monitoring

1. Oksigen nasal diberikan dengan segera untuk menghilangkan


hipoksemia, distress pernafasan, dan sianosis.
2. Infus intravena dimulai dengan membuat rute untuk obat atau
cairan yang akan diperlukan.
3. Dilakukan angiografi paru, tindakan-tindakan hemodinamik,
penentuan gas darah arteri, dan pemindaian perfusi paru.
4. Jika klien menderita akibat embolisme massif dan hipotensif, perlu
dipasang kateter indwelling untuk memantau output urine.
5. Hipotensi diatasi dengan infus lambat dobutamin (mempunyai
efek mendilatasi pembuluh pulmonal dan bronkhi) atau dopamin.
6. Hasil EKG dipantau secara kontinu untuk mengetahui gagal
ventrikel kanan yang dapat terjadi secara mendadak.
7. Glikosida digitalis, diuretic intravena, dan agen antidirtimia
diberikan bila dibutuhkan.
Intervensi
Kegawatdaruratan & Monitoring

8. Darah diambil untuk pemeriksaan elektrolit serum, nitrogen urea


darah (BUN), hitung darah lengkap, dan hematokrit.
9. Morfin intravena dosis kecil diberikan untuk menghilangkan
kecemasan klien, menyingkirkan ketidaknyama di dada, untuk
memperbaiki toleransi selang endotrakhea, dan memudahkan
adaptasi terhadap ventilator mekanik.
(Asih, 2003).
Penatalaksanaan Medis
Kegawatdaruratan

1. Tirah baring
2. Terapi oksigen
3. Analgesik
4. Farmakoterapi:
1. Agen trombolitik seperti steptokinase (Kabikinase, Streptase),
alteplase (Activase t-PA), atau urokinase (Abbokinase)
2. Antikoagulan seperti heparin, dikumoral atau warfarin
natrium.
5. Pembedahan
Embolektomi paru mungkin didindikasikan dalam kondisi jika klien
mengalami hipotensi persisten, syok, dan gawat napas, jika tekanan arteri
pulmonal sangat tinggi, dan jika angiogram menunjukkan obstruksi
bagian besar pembuluh darah paru. Embolektomi pulmonal
membutuhkan torakotomi dengan teknik bypass jantung paru (Muttaqin,
2008).
Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
Terima kasih