Anda di halaman 1dari 43

LEMBAGA NEGARA

PENUNJANG
LNI
HTN-FHUI
TEORI LEMBAGA NEGARA (fungsi)
George Jellinek
State as a organization of dignity (gezagsorganisatie) needs the
structure of state organs in maintaining its order and preventing
anarchy.
Jellinek mentions the state should be devided by:
Unmittelbare Organe (State main organs)
Mittelbare Organe (State auxiliary organs)

The state could not exist without state main organs such as the
parliament, presidency and supreme court.
Teori lembaga negara berdasarkan fungsi
(Bagir Manan)
Lembaga Negara yg melaksanakan fungsi negara
secara langsung atau bertindak untuk dan atas nama
negara, spt LK, DPR, dan Kekuasaan Kehakiman.
Lembaga2 yg menjalankan fungsi ini disebut alat
kelengkapan negara

Lembaga negara yg menjalankan fungsi administrasi


negaradan tidak bertindak untuk dan atas nama negara
. Artinya, lembaga ini hanya menjalankan tugas
administratif yg tidak bersifat ketatanegaraan.
Lembaga yg menjalankan fungsi ini disebut lembaga
administratif
Teori lembaga negara berdasarkan fungsi
(Bagir Manan)
Lembaga negara penunjang atau badan penunjang yg
berfungsi untuk menunjang fungsi alat kelengkapan
negara. Lembaga ini disebut sebagai auxiliary
organ/agency
Lembaga Pemerintahan

a. Lembaga Pemerintahan Kementrian (Undang-Undang


Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara)

b. Lembaga Pemerintahan Non Kementrian (LPND


menurut Kepres 103/2001)
Theories of Separation of Powers

John Locke (1632-1704) Baron de Montesquieu (1689-1755):


in Two Treaties on Civil Government, 1690 Introduces Trias politica in L Esprit de Lois, 1748

Executive power Executive power


(law executing)

Legislative power Legislative power


(law making)

Federative power Judicial power


(as a power to defend the territory (law adjudicating)
from hostile force)

Locke includes judicial power in executive power. As a judge, Monstesquieu realizes that judicial power should
stand as an independent branch of government / power,
thus cannot be intervened by any other branches.
TEORI LEMBAGA NEGARA
(hierarki)
Jimly Asshiddiqie (Perkembangan dan Konsolidasi
Lembaga Negara Pasca Reformasi)

Organ Lapis Pertama (Lembaga Tinggi Negara)


Organ Lapis Kedua (Lembaga Negara)
Organ Lapis Ketiga (Lembaga Daerah)
TEORI LEMBAGA NEGARA
(Norma Sumber Legitimasi)
Jimly Asshiddiqie (Perkembangan dan Konsolidasi Lembaga Negara
Pasca Reformasi)
1. Lembaga yang dibentuk berdasarkan UUD yang diatur dan
ditentukan lebih lanjut dalam atau dengan UU, Peraturan
Pemerintah, Peraturan Presiden, dan Keputusan Presiden
2. Lembaga yang dibentuk berdasarkan UU yang diatur dan
ditentukan lebih lanjut dalam atau dengan Peraturan Pemerintah,
Peraturan Presiden, dan Keputusan Presiden
3. Lembaga yang dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah atau
Peraturan Presiden yang ditentukan lebih lanjut dengan
Keputusan Presiden
4. Lembaga yang dibentuk berdasarkan Peraturan Menteri yang
ditentukan lebih lanjut dengan Keputusan Menteri atau keputusan
pejabat di bawah Menteri
TEORI LEMBAGA NEGARA
(Norma Sumber Legitimasi)
Walau kewenangannya diberikan oleh UUD (memiliki
contitutional importance) tapi belum tentu merupakan lembaga
negara utama, karena:

1. Fungsinya hanya bersifat supporting atau auxiliary


terhadap fungsi utama

2. Pemberian kewenangan konstitusional yang eksplisit hanya


dimaksudkan untuk menegaskan kedudukan
konstitusionalnya yang independen

3. Penentuan kewenangan pokoknya dalam UUD hanya


bersifat by implication, bukan dirumuskan secara tegas.
Materi Muatan Konstitusi Tertulis
(Sri Soemantri, Prosedur dan
Sistem Perubahan Konstitusi)

A.A.H. Struycken menyatakan bahwa konstitusi dalam


sebuah dokumen formal berisikan:
Hasil perjuangan politik bangsa di waktu yg lampau
Tingkat-tingkat tertinggi perkembangan
ketatanegaraan bangsa
Pandangan tokoh-tokoh bangsa yang hendak
diwujudkan, baik untuk waktu sekarang maupun
untuk masa yang akan datang
Suatu keinginan dengan mana perkembangan
kehidupan ketatanegaraan bangsa hendak dipimpin
Istilah Lembaga Negara
dalam UUD
KRIS UUDS RI
BAB III BAB II
PERLENGKAPAN REPUBLIK Alat-alat perlengkapan negara
INDONESIA SERIKAT Ketentuan umum
Ketentuan Umum Pasal 44
Alat2-perlengkapan federal Republik Alat-alat perlengkapan Negara ialah:
Indonesia Serikat jalah: a. Presiden dan Wakil Presiden;
a. Presiden; b. Menteri-menteri;
b. Menteri2; c. Dewan Perwakilan Rakjat;
c. Senat; d. Mahkamah Agung;
d. Dewan Perwakilan Rakjat; e. Dewan Pengawas Keuangan.
e. Mahkamah Agung Indonesia;
f. Dewan Pengawas Keuangan.
Teori Delegasi (ED. MARK THATCHER & ALEC
STONEBSWEET, THE POLITICS OF
DELEGATION)
Ada beberapa perdebatan perspektif teoritis mengenai
alasan pemerintah membentuk IRA dan mengapa
pemerintah mendelegasikan kepada mereka serangkaian
kewenangan yang bermacam-macam.
Beberapa dari teori-teori ini sama tuanya dengan kajian
administrasi modern. Hingga lahirnya delegasi secara politis
pada IRA oleh pihak Progresif di USA yang dilandasi oleh
teori Woodrow Wilson dan pemikiran pada jamannya
mengenai pemisahan politik dan administrasi, mengenai
pentingnya keahlian teknis dan mengenai keperluan untuk
menciptakan lembaga negara yang netral dan bebas dari
korupsi
Frank J. Goodnow, Politics and
Administration: A Study in
Government
Ide untuk melindungi administrasi dari pengaruh politik
dalam tingkatan tertentu di Amerika Serikat pada abad
19, terjadi karena reaksi dari digunakannya spoils
system dalam rekruitmen birokrasi federal, dimana
rekruitmen didasarkan kedekatan seseorang pada
partai tertentu. Frank J. Goodnow, yang merupakan
pemikir penting progressive mengemukakan bahwa
spoils system memiliki kelemahan jika dilakukan dalam
administrasi pemerintahan. Frank J. Goodnow
membagi 2 (dua) fungsi penting pemerintahan, yaitu
politics dan administration.
THATCHER & ALEC
STONEBSWEET, THE POLITICS
OF DELEGATION)
Stone Sweet and Thatcher menyarankan logika fungsional delegasi, yaitu:

1. Kebutuhan menyeluruh utk memanfaatkan keahlian

2. Kebutuhan untuk menyekat administrasi dari hukum persaingan usaha dari


kepentingan partai politik

3. Pendelegasian bermaksud untuk merespon kebutuhan dari dunia usaha

4. Pendapat konstitutional, di luar lingkup analisa ekonomi institusional.


Kewenangan-kewenangan untuk bersaing secara mandiri telah dinggap
diberbagai negara sebagai quasi-constitutional importance. Hal tersebut
menjamin sebuah sistem pasar di negara-negara yang sebelumnya sangat
mengendalikan pasar. Hal ini berlaku untuk Jerman, Jepang, dan Korea,
dan negara-negara bekas komunis di Eropa Tengah dan Timur. Lembaga
Persaingan merupakan simbol dari komitmen terhadap kebebasan pasar
(the free market).
JIMLY ASSHIDDIQIE :
Perkembangan lembaga-lembaga negara penunjang
yang ekstra konstitusional akibat pesatnya
perkembangan ekonomi dan perdagangan di tengah
masyarakat demokratis. Misalnya di Amerika Serikat,
terdapat 30 lembaga khusus yang bersifat
independen,seperti Securities and Exchange
Comission; Federal State Comission; Instewrstate
Comission; yang merupakan organ negara khusus
yang independen berfunsi sebagai semi yudisial dan
semilegislatif.
Perkembangan lembaga negara penunjang di
Indonesia (Firmansyah Arifin)
1. Tiadanya kredibilitas lembaga-lembaga negara yang telah ada akibat asumsi
adanya korupsi sistemik, mengakar, dan sulit diberantas

2. Tidak independennya lembaga-lembaga negara yang ada karena satu sama


lain hanya tunduk di bawah pengaruh satu kekuasaan negara atau
kekuasaan lainnya

3. Ketidakmampuan lembaga-lembaga negara yang ada untuk melakukan


tugas-tugas yang urgen dilakukan dalam masa transisi demokrasi karena
persoalan birokrasi dan KKN

4. Pengaruh global dengn pembentukan apa yang dinamakan auiliary organ


state agency atau watchdog institution di banyak negara

5. Tekanan lembaga-lembaga internasional, tidak hanya sebagai prasyarat


memasuki pasar global, tetapi juga untuk membuat demokrsi sebagai satu-
satunya jalan bagi negara yang asalnya berada di bawah kekuasaan otoriter
KRITERIA Independent Regulatory Agencies (ED. MARK
THATCHER & ALEC STONE SWEET,
THE POLITICS OF DELEGATION)
Dibentuk oleh lembaga legislatif, oleh karenanya pejabat yang
dipilih secara langsung (dalam pemilu) adalah sebagai principals.

Secara organisasi terpisah dari pemerintah dan dipimpin oleh


pejabat yang tidak dipilih secara langsung (dalam pemilu)

Diberikan kekuasaan utk membuat regulasi, namun mereka juga


merupakan subyek pengawasan dari politisi yang dipilih secara
langsung (dalam pemilu) dan para hakim.

Semua IRA menghadapi pengawasan berkala dan berkelanjutan


dari pejabat yang dipilih secara langsung (dalam pemilu) terkait
pencalonan, alokasi anggaran tahunan, dan keharusan
memberikan laporanlaporan kepada lembaga legislative.
Hamdan Zoelva,
Bunga rampai pemikiran penataan lembaga non struktural
Di Indonesia, Kementrian Sekretariat Negara membuat
riset (Profil 10 Lembaga Non Struktural, 2013),
mengutip pendapat Hamdan Zoelva sbb: ...Karena itu,
organ konstitusional yang dibentuk di luar UUD lahir
dan tumbuh sesuai kebutuhan penyelenggara fungsi
negara yg demikian dikenal dengan istilah state auiliary
institutions atau orgn negara tambahan, yaitu merujuk
pada selain organ negara utama yg dibentuk
berdasarkan konstitusi. Di Indonesia, organ negara yg
demikian dapat berarti lembaga negara non
departemen atau non kementrian serta lembaga non
struktural.
Hamdan Zoelva
Lembaga Negara Utama
Lembaga Non Struktural=Lembaga Negara Penunjang
Lembaga Pemerintahan Kementrian
Lembaga Pemerintahan Non Kementrian
Profil 10 lembaga non struktural,
Kementrian Sekretariat Negara, 2013
1. Komisi Pengawas Haji Indonesia (UU No. 34 Tahun 2009)

Diangkat dan diberhentika oleh Presiden atas usul Menteri Agama setelah
mendapat pertimbangan DPR

Melaporkan pelaksanaan tugasnya secara tertulis kepada Presiden dan DPR


paling sedikit 1x/tahun

Anggarannya pada DIPA Kementrian Agama


2. Dewan Penerbangan Antariksa Nasional RI (Keppres No. 132 Tahun 1998)

Ketua: Presiden, Wakil: Menristek, Sekretaris: Kepala LAPAN, Anggota:


Menlu, Menhankam, Menperindang, Menhub, Menparsebud, Menteri BPN,
Kepala Beppenas, Kasau

Anggaran LAPAN (LPNK)


Profil 10 lembaga non struktural,
Kementrian sekretariat negara, 2013
3. Dewan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam (Kepres
No. 18 Tahun 2013 )

Ketua merangkap anggota: Gubernur Kepulauan Riau, Wakil Ketua


merangkap anggota: Walikota Batam, Anggota: 1) Kepala Kantor Pelayanan
Utama Bea dan Cukai Batam, Dirjen Bea dan Cukai, Kementrian Keuangan.
2) Kakanwil Dirjen Pajak Riau, Dirjen Bea dan Cukai, Kementrian Keuangan.
3) kakanwil Kemenhukham Prov Riau. 4) Kakanwil BPN Prov. Riau dst

Anggaran Dewan Kawasan dimasukkan dalam Bagian Anggaran 999 Ditjen


Anggara Kementrian Keuangan

4. Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan (PP No. 1 Tahun 2010)

Memberikan pertimbangan kpd Presiden. Dewan melaporkan kinerja kepada


Presiden.

Anggaran kementrian yg menangani urusan kesekretariatan negara


Frank Vibert (The rise of the unelected democracy and
the new separation of powers)

1. Sumber utama dari pengaturan yang mandiri adalah


kebebasan atas kontrol pemerintah dan juga partai politik
dengan cara menekankan implikasi dari keahlian
berdasarkan landasan kriteria dari tujuan-tujuan dasar
sehingga akan menjadi teknis, legal, dan ekonomis
2. Untuk pengaturan ekonomi, kemerdekaan politik juga juga
dapat dilihat sebagai wakil dari kemerdekaan dari pengaruh
pengusaha. Sejak pengusaha dapat juga dimobilisasi
secara masif sebagai tekanan ekonomi dan politik, para
politisi amat rentan dengan lobi-lobi pengusaha.
3. Pengaturan secara sosiologis menekankan pada resiko
dari penawaran, dimana para pembuat kebijakan menjadi
terlalu dekat dengan, dan tergantung pada, yang diatur.
KATEGORI INDEPENDENSI
(Jimly Asshiddiqie)
1. Independensi institusional atau struktural yang tercermin dalam
mekanisme hubungan eksternal antarlembaga negara
2. Independensi fungsional yang tercermin dalam proses
pengambilan keputusan yang dapat berupa kebebasan dalam
menetapkan tujuan atau kebijakan pokok (goal independence)
dan kebebasan dalam menetapkan instrumen kebijakan yang
tidak ditetapkan sendiri (instrument independence)
3. Independensi administratif, yaitu merdeka dalam menentukan
kebijakan administrasi untuk mendukung kedua independensi
sebelumnya yaitu berupa independensi keuangan (merdeka
dalam menentukan anggaran pendukung) dan independensi
personalia (merdeka dalam mengatur dan menentukan
pengangkatan serta pemberhentian personalia kepegawaian
sendiri.
Cabang kekuasaan legislatif
1. Fungsi representasi
2. Fungsi legislasi
3. Fungsi pengawasan
Ombudsman RI
(Hendra Nurtjahyo)
200 negara, hanya 46 negara yang tidak memiliki
ombudsman. Dari negara2 yang memiliki 99 negara
mengatur dalam UUD dan 56 UU (penelitian Hendra
Nurtjahyo)

Dibentuk pertama kali di Swedia pada abad ke XVIII dengan


fungsi pengawasan dan pengaduan oleh Raja Karl XII yang
mengadosi lembaga sejenis setelah berdiam 5 tahun di
Turki pada masa Sultan Ahmad III.

Qadhi Hisab atau Qadhi Mazalim melakukan pengawasan


ke kantor-kantor negara dan pasar untuk memastkan bahwa
keadilan ditegakkan di segala lini kehidupan bernegra.
Jenis ombudsman berdasarkan cabang kekuasaan
(Hendra Nurtjahyo)
a. Ombudsman Parlemen: dipilih oleh Parlemen (a.l. Swedia,
Finlandia, Denmark, New Zealand dan Spanyol) atau Kepala
Negara, tapi bertanggung jawab kepada Parlemen (Inggris)
b. Ombudsman Eksekutif: dipilih oleh Kepala Negara dan
bertanggung jawab kepada Kepala Negara (Pakistan, Korsel, dan
Tunisia, sedangkan Prancis, dipilih berdasarkan keputusan
Kabinet dan bertanggung jawab kepada Presiden)
c. Ombudsman Yudisial: kewenangannya terkait dengan ranah
yudisial dan menjadi bagian penting dari bekerjanya lembaga
yudisial dalam struktur ketatanegaraan. Ombudsman Iran
merupakan perangkat kelembagaan yg penting di bawah
Kejaksaan Agung. Ombudsman Filipina memiliki kewenangan
penuntutan, pada kasus korupsi tertentu dapat berperan sebagai
jaksa khusus yang menuntut korupsi
Sejarah Ombudsman RI
Komisi Ombudsman Nasional (KON) diatur dalam
Kepres No. 44 Tahun 2000. Untuk memberantas KKN
serta meningkatkan perlindungan hak masyarakat agar
memperoleh pelayanan publik, keadilan dan
kesejahteraan

ORI diatur dalam UU No. 37 Tahun 2008


OMBUDSMAN (HENDRA NURTJAHYO)

OMBUDSMAN adl pengawas penyelenggaraan


pelayanan publik.
PELAYANAN PUBLIK esensinya adl kegiatan
birokrasi/administrasi yg dilakukan oleh pejabat,
pegawai, pengurus dari kantor
Kementerian/Lembaga/Institusi/ Unit kerja di
lingkungan eksekutif, legislatif, dan judisial
SEHINGGA dpt dipahami bhw ORI mengawasi
seluruh tindakan, putusan, dan peristiwa yang
dilakukan oleh penyelenggara pelayanan publik
PENGAWASAN AKTIF --- melakukan
investigasi

PENGAWASAN PASIF --- menerima laporan


pengaduan masyarakat (keluhan/komplain)

PENGAWASAN TSB BERSIFAT EKSTERNAL


THD institusi/lembaga tingkat pusat maupun
daerah
STATUS NORMATIF REKOMENDASI
OMBUDSMAN REPUBLIK INDONESIA (ORI)
Pasal 38 UU 37/2008

Ombudsman dpt
meminta keterangan
Atasan terlapor
Terlapor dan
Terlapor dan atasan WAJIB
atasannya dan
terlapor WAJIB menyampaikan
melakukan
melaksanakan laporan kpd
pemeriksaan
rekomendasi Ombudsman ttg
lapangan utk
Ombudsman. pelaksanaan
memastikan
rekomendasi
pelaksanaan
rekomendasi
IMUNITAS
Pasal 10 UU
OMBUDSMAN N0. 37/2008
Pasal 10 UU 37/2008

Dalam Rangka Pelaksanaan


Tugas Dan Wewenangnya,
Ombudsman Tidak Dapat
Ditangkap, Ditahan,
Diinterogasi, Dituntut, Atau
Digugat Di Muka Pengadilan.
SUBPOENA POWER
OMBUDSMAN REPUBLIK INDONESIA (ORI)

Ombudsman dapat
memanggil Terlapor dan
saksi untuk dimintai
keterangannya. Apabila
Terlapor dan saksi telah
dipanggil tiga kali berturut-
turut tidak memenuhi
panggilan dengan alasan
yang sah, Ombudsman
dapat meminta bantuan
Kepolisian Negara Republik
Indonesia untuk
menghadirkan yang
bersangkutan secara paksa
(subpoena power).
( Pasal 31 UU 37/2008)
KEKUASAAN YUDIKATIF
MEMERIKSA, MENGADILI, DAN MEMUTUS
PERKARA
Berbicara tentang korupsi di lembaga peradilan Indonesia, maka dapat ditilik dari praktik korupsi
peradilan sejak jaman orde lama. Selama Orde Lama di bawah Presiden Sukarno, intervensi
eksekutif untuk kepentingan politik penguasa secara sistimatis mulai dijalankan. Peradilan mulai
kehilangan independensinya. Hal ini berlangsung hingga saat ini. Luasnya KKN dan kesulitan
memberantasnya yang berakibat buruknya kinerja peradilan kita, juga disebabkan beberapa faktor
lainnya selain faktor hilangnya atau lemahnya independensi hakim dan faktor tidak cukupnya gaji
hakim. Faktor-faktor lain itu adalah antara lain:
1.Tidak jelasnya mekanisme internal control yang berkaitan dengan akuntabilitas hakim dari sisi
kualitas putusan-putusan yang dibikinnya dan pengaruhnya terhadap kemajuan jenjang karirnya.
Faktor kedekatan dan kemampuan lobi sering lebih menentukan dalam kemulusan pedalaman
karir seorang hakim ketimbang kemampuan akademik dan kejujurannya.

2.Rancu atau tidak jelasnya tanggung jawab pidana hakim bila diduga melakukan tindak pidana.
Keberadaan majelis kehormatan hakim (MKH) yang kerjanya tidak transparan oleh masyarakat
luas sering dipersepsikan sekedar mekanisme untuk menutupi kesalahan hakim agar tidak sampai
menjalani proses pidana sesuai KUHAP dan sesuai kesamaan kedudukan semua warganegara di
depan hukum.

3.Sejumlah pengaduan mengenai hakim bahkan panitera kepada penyidik polisi tidak jelas
mekanismenya. Polisi kesulitan menghadirkan paksa hakim; untuk menangkap hakim harus atas
perintah Jaksa Agung setelah mendapat persetujuan Ketua Mahakamah Agung.

1.Tidak ada kesungguhan dan niat yang kuat pada pihak-pihak yang terkait untuk menyidik kasus-
kasus korupsi di lembaga peradilan atau lembaga penegak hukum lainnya, terutama misalnya bila
itu diduga dilakukan oleh pejabat-pejabat di instansi kepolisian atau kejaksaan sendiri. Ada
semacam budaya atau gentleman's agreement untuk saling menenggang rasa atau pura-pura
tidak melihat dosa masing-masing...

Sumber: Trimoelja. Soerjadi, Korupsi di Lembaga Peradilan


http://siteresources.worldbank.org/INTINDONESIA/Resources/CGI03/00-CGI-Oct17-18-00/3moelja.pdf
Statistik Perilaku Korupsi
KPK
Berdasarkan Global Corruption Barometer yang dilakukan Transparansi
Internasional, 2013, kepolisian, pengadilan dan partai politik di Indonesia
dinilai sebagai lembaga paling korup pada urutan tiga teratas. Global
Corruption Barometer melakukan survei terhadap 114.000 orang pada
107 negara yang menunjukkan bagaimana korupsi tersebar di wilayah
tersebut.

Survei yang digelar Juli itu menanyakan pandangan warga terhadap


korupsi sekaligus bagaimana pemerintah menyetop tindakan tersebut.

Khusus Indonesia, survei itu menemukan 91% responden menilai


kepolisian korup disusul oleh parlemen yakni 89% responden dan
pengadilan sebesar 86%. Lembaga lainnya adalah partai politik (86%),
pejabat publik (79%), bisnis (54%), sistem pendidikan (49%), pelayanan
kesehatan (47%), militer (41%), lembaga keagamaan (31%), lembaga sipil
(27%), dan media (19%).

Sumber: http://www.ti.or.id
Berdasarkan Survey Nasional mengenai Korupsi di Indonesia, 2012 (Kemitraan)

Sektor polisi lalu lintas, otoritas bea cukai dan peradilan digolongkan sebagai lembaga-lembaga yang paling korup.

Korupsi dalam Sistem Hukum

Sistem hukum Indonesia secara umum tidak dipandang positif. Badan judikatif dan kejaksaan Indonesia juga dianggap sebagai
lembaga publik yang paling korup. Survey mengungkapkan bahwa para hakim dan jaksa termasuk institusi atau individu yang
terkorup di Indonesia hanya sedikit lebih baik dibandingkan polisi lalulintas dan aparat beacukai.

Di antara responden, kelompok perusahaan mempunyai pendapat yang miring terhadap pengadilan dibandingkan dua kelompok
lain yang terlihat dari persentase yang lebih tinggi (lebih dari 10%) dari kelompok ini yang menganggap pengadilan merupakan
lembaga yang yang tidak bisa dipercaya. Kelompok ini juga menganggap pengadilan berat sebelah kepada yang kaya dan
berkuasa (48%), lebih tinggi dari opini rumah tangga yang lebih terbagi rata (34% untuk orang kaya dan berkuasa dibandingkan
39% untuk semua orang). Perbedaan opini ini dapat dijelaskan oleh kenyataan bahwa bisnis lebih banyak mempunyai pengalaman
nyata (empiris) dengan pengadilan (27%) dibandingkan rumah tangga rata-rata (7%). Pandangan negatif dari kalangan bisnis
terhadap sistem hukum dapat dilihat lebih lanjut dari jumlah pembayaran uang sogokan. Kelompok bisnis membayar secara
proporsional lebih banyak uang suap, antara Rp 1 hingga 5 juta, sedangkan mayoritas dari rumah tangga membayar kurang dari Rp
1 juta.
Pasal 24A Perubahan Ketiga UUD 1945
(1) Mahkamah Agung berwenang mengadili pada tingkat
kasasi, menguji peraturan perundang-undangan di bawah
undang-undang terhadap undang-undang, dan mempunyai
wewenang lainnya yang diberikan oleh undang-undang.
(2) Hakim agung harus memiliki integritas dan kepribadian
yang tidak tercela, adil, profesional, dan berpengalaman di
bidang hukum.
(3) Calon hakim agung diusulkan Komisi Yudisial kepada
Dewan Perwakilan Rakyat untuk mendapatkan persetujuan
dan selanjutnya ditetapkan sebagai hakim agung oleh
Presiden.
Komisi Yudisial
Pasal 24B Perubahan Ketiga UUD 1945
(1) Komisi Yudisial bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan
pengangkatan hakim agung dan mempunyai wewenang lain dalam
rangka menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat,
serta perilaku hakim.
(2) Anggota Komisi Yudisial harus mempunyai pengetahuan dan
pengalaman di bidang hukum serta memiliki integritas dan
kepribadian yang tidak tercela.
(3) Anggota Komisi Yudisial diangkat dan diberhentikan oleh Presiden
dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.
(4) Susunan, kedudukan, dan keanggotaan Komisi Yudisial diatur
dengan undang- undang.
Komisi Yudisial
UU Nomor 18 Tahun 2011
Kekuasaan Presiden
Kekuasaan di bidang Pemerintahan
Kekuasaan di bidang Perundang-undangan
Kekuasaan di bidang Yustisial
Kekuasaan di bidang Hubungan Luar Negeri
Penyelenggara Pemilu
Pendekatan Pemerintah: Eropa Barat
Pendekatan Pengawasan atau Hukum: Rumania dan
Pakistan

Pendekatan Mandiri
Pendekatan Multi-Partai
Komisi Pemilihan Umum
Pasal 22E UUD 1945
UU No. 12 Tahun 2003 tentang Pemilu: pengawas
sekaligus sebagai pelaksana

Calon anggota KPU diusulkan Presiden untuk


mendapatkan persetujuan DPR

Anggaran bersumber dari APBN