Anda di halaman 1dari 24

ETHICAL CLIMATE

AND
ORGANIZATIONAL
INTEGRITY
MEMBANGUN IKLIM ETIKA DAN ORGANISASI
BERINTEGRITAS
Direktur, pemilik dan manajemen senior serta karyawan harus mengerti tentang :
1. Organisasi harus selalu mempertimbangkan kepentingan stakeholder dan share holder
2. Nilai Etika yang sesuai sangat dibutuhkan dalam pengambilan keputusan

Organisasi, Profesi, dan Personal akan membentuk kerangka dalam pengambilan keputusan, sangat vital
untuk organisasi menciptakan lingkungan atau budaya dimana nilai perusahaan yang baik dibuat, dimengerti,
dan dikomitmen untuk semua orang
organizations culture is a cognitive framework, consisting of attitudes, values, behavioral norms, and
expectations shared by organization member ( Schein 1985)
dukungan aktif dari manajemen untuk praktik beretika dan mekanisme untuk mendeteksi dan memeriksa
hasil pekerjaan yang buruk, karena pegawai akan bertindak sesuai dengan tekanan yang dihadapi.

ORGANISASI ETIKA INDIVIDU


Dalam kasus Enron diketahui terjadinya perilaku moral hazard diantaranya
ENRON manipulasi laporan keuangan dengan mencatat keuntungan 600 juta Dollar AS
padahal perusahaan mengalami kerugian. Manipulasi keuntungan disebabkan
keinginan perusahaan agar saham tetap diminati investor

SEARS, Perusahaan meingkatkan kuota minimum dan memberikan target kepada


ROEBUC pegawainya. Jika mereka gagal mencapai target, mereka akan dipindahkan atau
K dikurangi jam kerjanya. Mereka mendapat tekanan untuk melakukan penjualan.

Penggelembungan angka tersebut terjadi karena adanya praktik akuntansi yang


keliru dan manipulasi laporan keuangan oleh pihak manajemen puncak
perusahaan.
Worldcom
Pihak manajemen WorldCom telah melakukan berbagai macam pelanggaran
praktik bisnis yang tidak sehat dan keluar dari prinsip good corporate
governance.
ORGANIZATIONAL CULTURE, INDIVIDUAL/ TEAM OUTCOMES & ORGANIZATIONAL EFFECTIVENESS '

Aspects of individual, team, organizational performance that might benefit from


appropriate development of that culture. The place to start assessment of organizations
culture is with the organizationsstrategic core- philosophy and mission, vision, what it
believes drives its value added, and how it treats its stakeholder
Contoh, Sears, Roebuck & Company pada tahun 1992
Dalam menghadapi penurunan pendapatan, pangsa
pasar yang mengecil dan persaingan yang semakin
ketat manajemen perusahaan berupaya untuk
meningkatkan kinerja dengan memperkenalkan
program sasaran dan insentif yang baru untuk
pegawai
Perusahaan meingkatkan kuota minimum dan
memberikan target kepada pegawainya. Jika mereka
gagal mencapai target, mereka akan dipindahkan atau
dikurangi jam kerjanya. Mereka mendapat tekanan
untuk melakukan penjualan.
Dengan tekanan dan insentif yang baru, sementara
mereka pada dasarnya tidak memiliki peluang untuk
meningkatkan penjualan. Tanpa dukungan aktif dari
manajemen untuk praktik beretika dan ketiadaan
mekanisme untuk mendeteksi dan memeriksa
penjualan yang meragukan dan hasil pekerjaan yang
buruk, pegawai akan bertindak sesuai dengan tekanan
yang dihadapi
Kompetisi dan kineja ekonomi yang sanagat berkontribusi
dalam perilaku tidak etis
Tekanan tersebut dimulai dari posisi pimpinan

Pimpinan dihadapkan pada pemecatan atau pujian


Tekanan untuk melakukan dan rasa takut gagal akan
transmisi ke seluruh organisasi

Karyawan pada akhirnya memiliki rasa takut untk menolak

Tergoda melakukan tindakan yang tidak etis karena


ketakutan dan keserakahan

Melakukan hal hal fiktif yang tidak beretika

Lebih dari sekedar sistem control yang lemah, tetapi lebih


ke sistem nilai yang menempatkan kesuksesan ekonomu
diatas segalanya

Penyebab budaya tidak etis dalam organisasi adalah


kurangnya kepemimpinan moral

Pada akhirnya, tidak ada sistem control yang akan


menahan pilihan yang dibuat oleh orang orang yang
kehilangan prinsip moral
COMPLIANCE BASED ETHIC VS INTEGRITY BASED
ETHIC
Etika berbasis kepatuhan vs etika berbasis integritas :
Program Compliance merupakan prinsip etika yang pengaturannya berasal dari
pemerintah sebagai akibat meningkatnya pelanggaran etika yang dilakukan oleh
perusahaan. Program Compliance merupakan sebuah prinsip etika yang berdasarkan
peraturan-peraturan tertentu (rules based). Program Compliance biasanya
menekankan pada pencegahan tindakan yang melawan hokum, melalui peningkatan
pemantauan dan pengawasan serta dengan memberikan hukuman bagi pelanggar.
Program Integritas merupakan sebuah prinsip etika yang menekankan pada
konsistensi moral, keutuhan secara personal, kejujuran. Dalam organisasi pendekatan
organisasi yang berintegrasi lebih luas, lebih dalam dan lebih sulit dari program
compliance. Dikatakan lebih luas karena pendekatan ini berupaya untuk
memungkinkan terciptanya perilaku yang bertanggung jawab. Lebih dalam karena
mencakup ethos dan system operasi dari organisasi dan anggota-anggotanya, dan
lebih sulit karena membutuhkan upaya secara aktif untuk mendefinisikan tanggung
COMPLIANCE BASED ETHIC VS INTEGRITY BASED
ETHIC
Perbedaan antara etika berbasis kepatuhan
dengan etika berbasis integritas dijelaskan oleh
Robin Singh seorang konsultan Deloitte pada
laman Quora sbb :
While driving on a freeway, a motorist
reduces speed only at time when approaching
a camera or radar area to ensure he/she is
compliant and does not receive any fines.
(Compliance based approach).
On the other hand, when an area is not
monitored with speeding cameras (i.e.
Compliance rules), but it depends on the
integrity of the motorist whether to follow
speed limit or not. (Integrity based approach).
KETERBATASAN COMPLIANCE BASED ETHIC
Perusahaan multinasional menghadapi perbedaan hokum dan aturan pada masing-
masing negara. Walaupun keterbatasan ini sebetulnya dapat diatasi dengan
menetapkan standar yang tertinggi.
Program compliance terlalu menekankan kepada pemberian ancama deteksi dan
hukuman untuk mendorong perilaku yang menaatin hokum. Pendekatan ini
mengasumsikan bahwa manusia bersifat self interest yang lebih memperhatikan
untung rugi pada suatu pilihan daripada pertimbangan moral. Padahal tidak semua
manusia bersifat self interest. Sebagian merasa memiliki kewajian untuk menaati
hokum.
Keterbasan utama dari progam compliance adalah program ini cenderung untuk tidak
mendorong terciptanya imajinasi moral atau komitmen. Hukum tidak dimaksudkan
untuk menginspirasi manusia untuk melakukan hal terbaik atau melakukan perbedaan.
Manajer yang mendefinisikan etika sebagai kepatuhan hokum secara implisit
mendukung suatu tingkat moral yang rata-rata (mediocre).
PERBEDAAN KARAKTERISTIK PROGRAM
COMPLIANCE DAN INTEGRITAS
Karakteristik Program Compliance Program Integritas
Etika Sesuai dan taat dengan standar yang Mengelola sendiri sesuai dengan standar
diterapkan dari luar organisasi yang dipilih
Tujuan Mencegah terjadinya tindakan melawan Mendorong tindakan-tindakan yang
hokum bertanggungjawab
Kepemimpinan Dipimpin oleh ahli hokum Dipimpin oleh manajemen dengan bantuan
ahli hokum, spesialias SDM dan lain-lain
Metode Pendidikan, pengurangan kewenangan, Pendidikan, kepemimpinan, akuntanbilitas,
auditing dan pengawasan, pemberian system organisasi dan proses pengambilan
hukuman keputusan, auditing dan pengawasan,
pemberian hukuman
Asumsi Perilaku Otonom/individualis yang didorong Sosial, yang dipandu oleh kepentingan diri
oleh kepentingan diri sendiri yang sendiri yang bersifat material, nilai-nilia-,
bersifat material kesempurnaan dan rekan sejawat
PERBEDAAN IMPLEMENTASI PROGRAM
COMPLIANCE INTEGRITAS
Implementasi Program Compliance Program Integritas
Standar Hukum pidana dan UU terkait dengan Nilai-nilai dan aspirasi organisas,
kegiatan organisasi perusahaan kewajiban social, termasuk kewajiban taat
hokum
Staffing Ahli hokum Pimpinan dan manajer
Kegiatan Mengembangkan standar compliance, Menjalankan organisasi berdasarkan nilai-
pelatihan dan komunikasi, pelaporan nilai dan standar, pelatihan dan
pelanggaran, investigasi, audit dan komunikasi, pengintegrasian nilai-nilai ke
ketaatan, penegakan standar dalam system organisasi, memberikan
bimbingan dan pelatihan, menilai kinerja
berbasis nilai-nilai, identifikasi dan
pemecahan masalh, mengawasi ketaatan
Pendidikan Sistem dan standar compliance Pengambilan keputusan dan nilai-nilai
organisasi, system dan standar compliance
PROGRAM INTEGRITAS YANG EFEKTIF
Nilai dan komitmen yang masuk akal dan secara jelas dikomunikasikan. Nilai dan
komitmen ini mencerminkan kewajiban organisasi dan aspirasi yang dimiliki secara
luas yang menyentuh seluruh anggota organisasi.
Pimpinan organisasi secara pribadi memiliki komitmen, dapat dipercaya, dan bersedia
untuk melakukan tindakan atas nilai-nilai yang mereka pegang.
Nilai-nilai yang digunakan terintegrasi dalam proses pengambilan keputusan
manajemen dan tercermin dalam kegiatan-kegiatan penting organisasi: penyusunan
rencana, penetapan sasaran, pencarian kesempatan, alokasi sumber daya,
pengumpulan dan komunikasi informasi, pengukuran kinerja, dan pengembangan
SDM.
Sistem dan struktur organisasi mendukung dan menguatkan nilai-nilai organisasi.
Sistem pelaporan dibuat untuk memungkinkan dilakukannya check and balance untuk
mendukung pertimbangan yang objektif dfalam pengambilan keputusan.
Seluruh manajer memiliki ketrampilan pengambilan keputusan, pengetahuan dan
kompetensi yang dibutuhkan untuk membuat keputusan yang berbasis etika setiap
harinya. Berpikir dan memiliki kesadaran etika harus menjadi bagian dari
perlengkapan mental seorang manajer.
DAMPAK ORGANISASI YANG BERINTEGRASI
TERHADAP AKUNTAN PROFRESIONAL
Konsep organisasi berintegritas dapat membantun akuntan professional dalam dua hal.
Pertama, untuk akuntan professional yang mengembangakan kantor sendiri, maka
pendekatan integritas akan membantu akuntan professional dalam menghidupkan dan
menjaga etika akuntan professional yang akan memudahkan akuntan professional
dalam menjalankan profesinya. Selain itu, akuntan professional dapat melakukan
penilaian terhadap integritas organisasi dari kliennya dalam menilai risiko yang dihadapi.
Kedua, untuk akuntan professional yang bekerja di dalam organisasi, penilaian terhadap
integritas organisasi merupakan langkah pertama dalam pemilihan organisasi tempat
bekerja. Akuntan professional harus memilih tempat bekerja yang mendorong
terciptanya dan terjaganya etika akuntan professional. Akuntan professional harus
menghindari tempat bekerja yang berpotensi untuk menciptakan konflik-konflik etika dan
mendorong akuntan untuk mengorbankan etika profesionalnya.
FACTORS SHOULD BE OWNED/BUILT BY A PROFESSIONAL
ACCOUNTANT FOR NOT TO ENGAGE IN UNETHICAL ACTIONS OR
DECISIONS
Factors : a fact or situation that influence the result of something.
Agar dapat terhindar dari sebuah kegiatan yang tidak beretika, pada dasarnya seorang akuntan
professional harus memegang teguh 5 prinsip utama akuntan, yaitu:
1. Integritas : Setiap praktisi harus jujur dan berterus terang dalam menjalin hubungan
professional dan hubungan bisnis.
2. Objektivitas : Tidak dipengaruhi pendapat dan pertimbangan peribadi atau pihak lain, dan
tidak dipengaruhi kepentingan pribadi dan pihak lain dalam mengambil putusan professional
atau bisnis
3. Memiliki kompetensi dan kehati-hatian professional : selalu memelihara dan meningkatkan
kompetensi dan ketrampilan professional pada tingkat yang dibutuhkan.
4. Kerahasiaan : Menghargai kerahasiaan informasi yang diperoleh sebagai hasil dari hubungan
professional dan bisnis.
5. Perilaku professional : Mematuhi hokum dan peraturan yang relevan dan menghindari semua
tindakan yang dapat merusak nama baik dan reputasi profesi.
CORPORATE
ETHICAL
GOVERNANCE &
ACCOUNTABILITY
GOVERNANCE STRUCTURES & RELATIONSHIPS

Shareholders Stakeholders

Board of Directors

Governance Committee Compensation Committee

Auditor
External Audit Committee
and Senior
internal
Management
CEO, CFO
Whistleblow
er Program
DIRECTORS FUNCTIONAL
RESPONSIBILITIES
Safeguard the interests of the companys shareholders
Review overall business strategy, and in some jurisdictions take stakeholder interests into account
Select and compensate the Companys senior executives
Evaluate internal controls and external auditor, and recommend the companys outside auditor for election by the
shareholders
Oversee the Companys financial statements, and recommend them to the board for transmission to the shareholders
Monitor overall company performance
Ensure :
- An effective system of internal controls and internal audit
- An effective whistleblower system reporting to the audit committee
- Effectiveness of the companys risk management program
- Efficacy of the Companys ethical corporate culture
DIRECTORS BEHAVIORAL
EXPECTATIONS
Fiduciary Duties :
- Acting in the best interest of the Company (shareholder and stakeholder)
- Loyalty to be demonstrated by independent judgment
- Actions to be in good faith, obedient to the interests of all
- Actions demonstrate due care, diligence, and skill (i.e. Financial literacy)
Conflicts :
- Require disclosure, and actions to manage effectively
Liability Issues :
- Business Judgment Rule
- Oppression remedy
- Personal liability for Tort Claims
ACCOUNTABILITY TO
SHAREHOLDER OR STAKEHOLDER ?

Increasing capacity of non- Sensitivity of non-shareholder stakeholders

shareholder stakeholders Eliminate short term governance & accountability

Redesigned the Focus on public interest not only on the shareholders interest
Fiduciary obligations of boards of directors
governance model by SOX

The duty of obedience


Three types of fiduciary
The duty of loyalty
obligations
The duty of care
MAP OF CORPORATE STAKEHOLDER ACCOUNTABILITY
GOVERNANCE FOR BROAD STAKEHOLDER
ACCOUNTABILITY
Stakeholder-accountability oriented governance process (SAOG)

Shareholders + Other Stakeholders

Lawy
ers
External
Board of directors
Auditors

Whistle blower,
FR
Ethics Accounting,
Corporate Culture
Officer Internal control
IDENTIFYING ORGANIZATIONAL VALUES-THE
FOUNDATION OF BEHAVIOR & INTEGRITY

(
Shareholders + Other Stakeholders

Integrate into
Asses &
Identify all
stakeholders
Rank All
corporate
value system
Board of
Interest
and actions Directors

Corporate Culture

Motivati
Actions
on Beliefs Values
INFOSYS
INFOSYS

Beri Nilai