Anda di halaman 1dari 25

TB PARU PADA ANAK

Disusun oleh:
Nusrini Rahma Nasir
111 2016 2023

Pembibmbing:
dr. Hj. Sriwati Palaguna, Sp.A, MARS
Pendahuluan
O Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular
yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis.
Umumnya TB menyerang paru-paru, sehingga
disebut dengan TB paru.
O Tuberkulosis anak mempunyai permasalahan khusus
yang berbeda dengan orang dewasa. Pada TB anak,
permasalahan yang dihadapi adalah masalah
diagnosis, pengobatan, pencegahan serta TB
dengan keadaan khusus
Definisi

O Tuberkulosis (TB) adalah penyakit akibat infeksi


kuman Mycobacterium tuberculosis yang bersifat
sistemik sehingga dapat mengenai hampir semua
organ tubuh dengan lokasi terbanyak di paru yang
biasanya merupakan lokasi infeksi primer
Epidemiologi
O Di negara berkembang, TB pada anak < 15 tahun
adalah 15 % dari seluruh kasus TB, sedangkan di
negara maju, lebih rendah yaitu 5 % - 7 %. Laporan
mengenai TB anak di Indonesia jarang didapatkan,
diperkirakan jumlah kasus TB anak adalah 5%-6% dari
total kasus TB
Faktor Resiko
O Risiko Infeksi Tuberkulosis
1. Anak yang terpajan dengan orang dewasa dengan TB
aktif (kontak TB positif)
2. Daerah endemis
3. Kemiskinan
4. Lingkungan yang tidak sehat (higiene dan sanitasi
tidak baik)
5. Tempat penampungan umum, yang banyak terdapat
pasien TB dewasa aktif.
Cont...
O Risiko Sakit Tuberkulosis
1. Usia < 5 tahun mempunyai risiko lebih besar
mengalami progresi infeksi menjadi sakit TB.
2. Infeksi baru yang ditandai dengan adanya konversi uji
tuberkulin (dari negatif menjadi positif) dalam satu
tahun terakhir.
3. Malnutrisi
4. Keadaan imunokompromais
5. Diabetes melitus
6. Gagal ginjal kronik.
Cara Penularan
O Sumber penularan adalah pasien TB paru BTA positif,
baik dewasa maupun anak.
O Anak yang terkena TB tidak selalu menularkan pada
orang di sekitarnya
O Faktor risiko penularan TB pada anak tergantung dari
tingkat penularan, lama pajanan, daya tahan pada anak.
Pasien TB dengan BTA positif memberikan kemungkinan
risiko penularan lebih besar daripada pasien TB dengan
BTA negatif.
O Pasien TB dengan BTA negatif masih memiliki
kemungkinan menularkan penyakit TB.
Anamnesis
O Gejala umum tidak khas
O Berat badan turun tanpa sebab atau tidak naik dengan
adekuat atau tidak naik dalam 1 bulan terakhir setelah
perbaikan gizi.
O Demam > 2 minggu. Demam tidak tinggi.
O Batuk lama > 3 minggu (tidak pernah reda atau makin
parah)
O Anoreksia
O Malaise
O Diare persisten > 2 minggu.
Gejala Klinis terkait organ
O Tuberkulosis Vertebra: Gibbus, kifosis, parapresis, atau
paraplegia.
O Tuberkulosis koksae dan Tuberkulosis genu: Jalan
pincang, nyeri pada pangkal paha atau lutut.
O Tuberkulosis kelenjar: pembesaran kelenjar getah
beniing multiple, diameter > 1cm, kenyal, tidak nyeri,
dan kadang saling melekat atau konfluens.
O Skrofuloderma: ulkus desertai jembatan kulit antar tepi
ulkus (skin bridge)
O Meningitis : kaku kuduk dan tanda rangsang meningeal.
Pemeriksaan Penunjang
O Uji tuberkulin
O Foto toraks antero-posterior (AP) dan lateral kanan.
O Pemeriksaan mikrobiologik dari bahan bilasan lambung
atau sputum, untuk mencari basil tahan asam (BTA)
pada pemeriksaan langsung dan Mycobacterium
tuberculosis dari biakan,
O Biopsi kelenjar, kulit, atau jaringan lain yang dicurigai
TB.
O Funduskopi perlu dilakukan pada TB milier dan
Meningitis TB.
O Catatan :
O Diagnosis dengan sistem skoring ditegakkan oleh dokter.
O Jika dijumpai skrofuloderma, pasien dapat langsung
didiagnosis tuberkulosis.
O Berat badan dinilai saat pasien datang (moment
opname).
O Foto rontgen toraks bukan alat diagnostik utama pada
TB anak.
O Semua anak dengan reaksi cepat BCG harus dievaluasi
dengan sistem skoring TB anak.
O Anak didiagnosis TB jika jumlah skor 6 (skor maksimal
13)
O Pasien usia balita yang mendapat skor 5, dirujuk ke RS
untuk evaluasi lebih lanjut.
Terapi
O Terapi TB terdiri dari dua fase, yaitu :
O Fase intensif : 3-5 OAT selama 2 bulan awal
O Fase lanjutan dengan paduan 2 OAT (INH-rifampisin)
hingga 6-12 bulan.
O Pada anak, obat TB diberikan secara harian (daily) baik
pada fase intensif maupun fase lanjutan.
O TB paru : INH, rifampisin, dan pirazinamid selama 2
bulan fase intensif, dilanjutkan INH dan rifampisin
hingga genap 6 bulan terapi (2HRZ-4HR).
O TB paru berat (milier, destroyed lung) dan TB ekstra paru
: 4-5 OAT selama 2 bulan fase intensif, dilanjutkan
dengan INH dan rifampisin hingga genap 9-12 bulan
terapi.
O TB kelenjar superfisial : terapinya sama dengan TB paru.
O TB milier dan efusi pleura TB diberikan prednison 1-2
mg/kgBB/hari selama 2 minggu, kemudian dosis
diturunkan bertahap (tappering off) selama 2 minggu,
sehingga total waktu pemberian 1 bulan.
Obat Sediaan Dosis Dosis maksimal Efek samping

mg/kgBB

Isoniazid (INH/H) Tablet 100 dan 300 5-15 300 mg Peningkatan transaminase,

mg; sirup 10 mg/ml hepatitis, neuritis perifer

hipersensitivitas

Rifampisin (RIF/R) Kapsul/tablet 10-15 600 mg Urin/sekresi warna kuning

150,300,450,600 mg, mual-muntah, hepatitis, flu-like

sirup 20 mg/ml reaction.

Pirazinamid Tablet 500 mg 25-35 2g Hepatotoksisitas,

(PZA/P) hipersensitivitas

Etambutol (EMB/E) Tablet 500 mg 15-20 2,5 g Neuritis optikal (reversibel),

gangguan visus, gangguan

warna, gangguan saluran cerna


Dosis Kombinasi Pada TB Anak
Berat badan 2 bulan 4 bulan

(kg) RHZ (75/50/150) (RH(75/50)

5-9 1 tablet 1 tablet

10-14 2 tablet 2 tablet

15-19 3 tablet 3 tablet

20-32 4 tablet 4 tablet


O Keterangan :R : Rifampisin, H: Isoniasid, Z: Pirazinamid
O Bayi di bawah 5 kg, pemberian OAT secara terpisah,
tidak dalam bentuk kombinasi tetap, dan sebaiknya
dirujuk ke RS tipe C atau lebih tinggi.
O Anak dengan BB 15-19 kg dapat diberikan 3 tablet.
O Anak dengan BB 33 kg dosisnya sama dengan dosis
dewasa.
O Tablet obat harus diberikan secara utuh.
O Obat dapat diberikan dengan cara ditelan utuh,
dikunyah, atau dimasukkan air dalam sendok.
Pemberian Profilaksis
O Profilaksis primer
O Profilaksis sekunder
O Dosis INH 5-10 mg/kgBB/hari
Pemantauan
O Pengobatan TB berlangsung lama, minimal 6 bulan, tidak
boleh terputus, dan harus kontrol teratur tiap bulan.
O Obat rifampisin dapat menyebabkan cairan tubuh (air
seni, air mata, keringat, ludah) berwarna merah.
O Secara umum obat sebaiknya diminum dalam keadaan
perut kosong yaitu 1 jam sebelum makan/minum susu,
atau 2 jam setelah makan. Khusus untuk rifampisin
harus diminum dalam keadaan perut kosong.
O Bila timbul keluhan kuning pada mata, mual, dan
muntah, segera periksa ke dokter walau belum
waktunya.
Pencegahan
O Imunisasi BCG hingga saat ini masih dilakukan, walau
oleh sebagian kalangan efektivitasnya diragukan.
Diharapkan dalam waktu dekat sudah ditemukan
vaksin TB yang lebih efektif.
O Asupan gizi yang baik akan meningkatkan daya tahan
anak terhadap risiko infeksi dan sakit TB
Kesimpulan
O Tuberkulosis (TB) adalah penyakit akibat infeksi kuman
Mycobacterium tuberculosis yang bersifat sistemik
sehingga dapat mengenai hampir semua organ tubuh
dengan lokasi terbanyak di paru yang biasanya merupakan
lokasi infeksi primer.
O Laporan mengenai TB anak di Indonesia jarang didapatkan,
diperkirakan jumlah kasus TB anak adalah 5%-6% dari
total kasus TB.
O Faktor risiko yang pertama adalah usia. Anak berusia < 5
tahun mempunyai risiko lebih besar mengalami progresi
infeksi menjadi sakit TB karena imunitas selularnya belum
berkembang sempurna (imatur)..
O Faktor risiko berikutnya adalah infeksi baru yang ditandai
dengan adanya konversi uji tuberkulin (dari negatif
menjadi positif) dalam satu tahun terakhir. Faktor risiko
lainnya adalah malnutrisi, keadaan imunokompromais,
diabetes melitus dan gagal ginjal kronik
O - Sumber penularan adalah pasien TB paru BTA positif,
baik dewasa maupun anak.
O -Anak yang terkena TB tidak selalu menularkan pada
orang di sekitarnya , kecuali anak tersebut BTA positif
atau menderita adult type B.
O - Faktor risiko penularan TB pada anak tergantung dari
tingkat penularan, lama pajanan, daya tahan pada anak.
Pasien TB dengan BTA positif memberikan
kemungkinan risiko penularan lebih besar daripada
pasien TB dengan BTA negatif.
O - Pasien TB dengan BTA negatif masih memiliki
kemungkinan menularkan penyakit TB.
Daftar Pustaka
O Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FK UNHAS. Standar Pelayanan Medis
Kesehatan Anak. Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK UNHAS. 2013. Hal
40-46.
O Kelompok Kerja TB Anak. Diagnosis dan Tatalaksana Tuberkulosis Anak.
Departemen Kesehatan-IDAI. 2008. Hal 1-15.
O Cissy B. Kartasasmita. Epidemiologi Tuberkulosis. Jurnal Sari Pediatri
Volume 11. 2009.
O Rahajoe. N. N. Petunjuk Teknis Manajemen TB Anak. Jakarta : Kementrian
Kesehatan RI. 2013.
O World Health Organization. Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit.
Jakarta : WHO Indonesia. 2009.
O Pudjiaji, Antonius H, dkk (ed). Pedoman Peyanan Medis Ikatan Dokter Anak
Edisi II. Jakarta : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2011. Hal
325-328.
O Cahyono, Lusi, dkk (ed). Vaksinasi. Yogyakarta : Kanisus. 2010. Hal 51-52.
O Rusmil. K. Imunisasi
.http://idai.or.id/publicarticles/klinik/imunisasi/melengkapi-mengejar-
imunisasi-bagian-ii.html (Akses pada tanggal 30 Maret 2017).